Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

KISAH BAL’AM BIN BA’URA SEORANG ULAMA DUNIA

Bal’am salah satu ulama muslim Bani Israil yang hidup dalam kalangan orang kafir. Kelebihan yang Allah berikan kepadanya antara lain bisa melihat arasy sedang ia berada di bumi. Ia salah satu orang  yang mustajabah doa. Apapun yang diminta dengan begitu cepat terpenuhi. Dalam majlis pengajiannya disediakan dua belas ribu tempat tinta bagi murid-muridnya yang menulis ilmu beliau akan tetapi dipenghujung kehidupan terbujuk dengan harta benda dunia, akhirnya mendapat azab di dunia yaitu ditarik lidah keluar sampai ke dadanya. Berikut kisah yang diutarakan Ibnu Abbas. Suatu hari Nabi Musa hendak memerangi kaum Jabarin, beliau telah sampai dan  menempati bumi kan’anin salah satu kawasan Syam, datang Bal’am menemui nabi Musa as.

Setelah Kaum Jabarin mengetahui kekuatan nabi Musa. Mereka mengadu kepada Bal’am: wahai Bal’am ! Musa itu orang kuat, tentaranya banyak. Kedatangannya ke negeri ini untuk mengusir dan membunuh kami kemudian menyerahkan negeri kami kepada Bani Israil. Anda itu kan orang yang mustajabah doa maka berdoalah kepada tuhan-Mu agar menolak mereka dari kami. Bal’am menjawab: celaka kalian, Musa itu nabi Allah, dijaga para malaikat dan orang-orang beriman. Bagaimana mungkin saya berdoa memudharatkan mereka. Saya diilhami Allah akan ilmu yang tidak diberikan kepada kalian. Jika saya lakukan itu, maka dunia dan akhiratku hilang. Permintaan Jabarin ditolak Bal’am. Akan tetapi, mereka bersikeras dan mendesak Bal’am untuk berdoa. Saya tidak berdoa sebelum melihat dalam tidurku  apa yang diperintah Allah buatku. Pada malam itu, Bal’am bermimpi yang isinya: wahai Bal’am jangan kamu berdoa untuk memudharat orang beriman.

Keesokan harinya menyampaikan isi mimpinya kepada kaum Jabarin: “saya telah meminta kepada tuhanku apa yang kalian ingin.  akan tetapi, ditolak. kemudian untuk memuluskan niat mereka kepada Bal’am, diberikan Bal’am berupa hadiah yang menggiurkan. Ternyata hadiah itu diterimanya. Setelah itu Kaum Jabarin kembali menemui Bal’am. Kata Bal’am kepada mereka: “hingga saya diperintah, saya telah meminta kepada tuhanku tetapi tidak diperintahkan aku dengan apa-apa. Kata mereka: Jika tuhan menbencimu berdoa, sungguh ia telah melarang kamu sebagaimana telah dilarang pada kali pertama. Senantiasa mereka bertazarruk kepada Bal’am sehingga mereka memfitnahnya.

Setelah terfitnah, Bal’am menaiki seekor keledai menuju ke gunung Husban untuk melihat laskar Bani Israil dengan  menaiki seekor keledai. tidak jauh keledai itu berjalan tiba-tiba menderum. Bal’am turun memukul kendaraannya itu. Keledai itu berjalan lagi.  tidak lama kemudian kembali menderum. Bal’am turun lagi untuk memukul keledainya dan seperti itu terjadi beberapa kali. Allah mengizinkan keledai berbicara. Ucapan keledai jadi hujjah. “Celaka kamu hai Bal’am kemana kamu pergi. Apakah kamu tidak melihat malaikat dihapanku sedang menolak saya kebelakang?  Celaka kamu, kamu berjalan kepada nabiyullah dan orang beriman lalu kamu berdoa mudharat atas mereka. Bal’am tidak menggubris. Allah memuluskan keledai itu berjalan hingga sampai puncak gunung husban. Di situ Bal’am berdoa mudharat kepada nabi Musa. Tatkala berdoa dengan keburukan, Allah memalingkan lisannya kepada kaumnya. Ketika berdoa kebaikan kepada kaumnya  Allah memalingkan kepada kaum Bani Israil.

kaumnya berkata: hai Bal’am apakah kamu tau apa yang telah kamu lakukan? Kamu berdoa manfaat kepada mereka dan mudharat kepada kami. Jawabnya: ini tidak aku kuasai tapi ini Allah yang mengusai. Saat itu, lidahnya menjulur keluar sampai ke dada seperti lidah anjing. Sekarang saya telah hilang dunia dan akhirat dan yang tinggal hanyalah tipuan. Akan saya beri tau kalian cara mengalahkan tentara nabi musa: pilihlah wanita-wanita cantik diantara kalian, hiasi mereka dan berikan kepada mereka barang-barang dagang kemudian suruh mereka berjualan di tenda-tenda laskar Bani Israil. Intruksikan mereka agar tidak menegah laki-laki yang merayu mereka. Jika laskar Musa berzina dengan wanita kita itu sudah cukup. Perintah itu mereka lakukan. tatkala wanita-wanita itu memasuki laskar, melintas seorang wanita kan’anin  dihadapan pembesar Bani Israil dan ia pimpinan suku syama’un bin ya’qub. Melihat wanita cantik itu tiba –tiba berdiri sambil memegang tangan wanita itu karena terpesona dengan kecantikannya kemudian menghadap nabi Musa seraya berkata: saya menduga, anda akan berkata: ini haram atasmu. Jawab beliau: ya itu haram buat mu maka jangan hampiri. Katanya: demi Allah kami tidak patuh kepadmu. Kemudian dia membawa masuk wanita itu kedalam sebuah kemah maka terjadilah perzinaan. dihari itu, mereka ditimpakan penyakit ta’un Maka matilah mereka sebanyak tujuh puluh ribu orang.

Kejadian yang dialami Bal’am, Allah utarakan dalam alquran surat al-‘Araf:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ .(175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176)

Artinya: dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah kami berikan ayat-ayat kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang yang sesat (175). Dan sekiranya kami menghendaki niscaya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya pula. Demikian perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir(176).

Referensi: Hasyiah Shawi ‘ala Tafsir Jalalain, Juz.II, hal 132.

Usaha Hamba Tidak Berpengaruh Tanpa Qudrah dan Iradah ALLAH


Tulisan ini hadir ke hadapan para pengunjung setia website Lajnah Bahtsul Masail MUDI, karena mengingat fenomena yang terjadi dikalangan masyarakat kita saat ini bahwa ada sebahagian kalangan yang meyakini bahwa manusia memiliki otoritas mutlak untuk mengubah nasib mereka sendiri tanpa butuh kepada pertolongan allah SWT, atau mereka beranggapan bahwa qudrah dan iradah Allah tidak berlaku dalam penentuan nasib seseorang. Mereka menjadikan surat al-ra’du : 11 sebagai dalil yang memperkuat statemen mereka.

Tato Wajibkah Untuk Dihilangkan ?


Deskripsi   :

Dalam fiqh Tato dikatakan dengan (الْوَشْمُ) yang diartikan menusuk jarum didalam kulit sehingga keluarnya darah yang membeku di dalam kulit sehingga  nampak seumpama warna biru atau hijau, ulama menghukum memakainya adalah haram.

Tato model sekarang ada 2 macam :
  1. Permanen, adalah tato yang tintanya di dalam kulit,model ini sulit untuk menghilangkanya dan sah untuk wuzuk/junub karena sampai air di bagian kulit.
  2. Non permanen adalah tato yang tintanya ada diluar kulit mudah untuk menghilangkanya, model ini tidak sah berwudhu' atau mandi junub karena tidak sampai air ke kulit

Hukum membuat keduanya haram.

Pertanyaan : 

Bagaimana hukum orang yang menato pada anggota wudhu' atau pada keseluruhan badanya  apakah sah wudhu' atau mandi junubnya ?  Dan wajibkah menghilangkannya jika ia telah bertaubat ?

Jawaban   :

Sah wudhu' dan mandi junubnya, serta berdosa menato pada tubuhnya, sedangkan yang wajib ketika ia bertaubat adalah menghilangkan tato bila tiada mudharat, karena perbuatan tersebut tidak boleh.
Namun bila mudharat yang timbul adalah suatu yang membolehkan tayamum jika menghilangkannya maka tidak wajib untuk dihilangkan.

Penjelasan  :

Tato adalah darah di dalam kulit yang nampak berwarna biru dan hijau  dengan sebab menusuk jarum kedalam kulit. Pada permasalahan tato dapat di tafsilkan sebagai berikut :

  • Bila dilakukan oleh orang yang mukallaf dengan pilihannya tanpa ada paksaan,mengetahui akan haram dengan tiada keperluaan pada menatonya dan kuasa untuk menghilangkannya maka wajib dihilang,bila susah menghilangkannya maka tidak wajib.
  • Bila  ia melakukannya  pada masa kecilnya atau dasar paksaan orang lain ,tidak mengetahui akan haram atau karena keperluan dan dikhawatirkan akan menimbul bahaya (Yang membolehkan tayamum) maka tidak wajib dihilangkan dan sah sembahyang dan imam.


Referensi 
Bujairimi alaa al-Khathib Juz IV hal. 55

 ( الْوَشْمُ ) وَهُوَ غَرْزُ الْإِبْرَةِ فِي الْجِلْدِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ عَلَيْهِ نَحْوَ نِيلَةٍ لِيَخْضَرَّ أَوْ يَزْرَقَّ ا هـ ا ج .قَوْلُهُ : ( فَفِيهِ التَّفْصِيلُ الْمَذْكُورُ  وَهُوَ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مُكَلَّفٌ مُخْتَارٌ عَالِمٌ بِالتَّحْرِيمِ بِلَا حَاجَةٍ وَقَدْرَ عَلَى إزَالَتِهِ لَزِمَتْهُ ، وَإِلَّا فَلَا .فَإِذَا فُعِلَ بِهِ فِي صِغَرِهِ أَوْ فَعَلَهُ مُكْرَهًا أَوْ جَاهِلًا بِالتَّحْرِيمِ أَوْ لِحَاجَةٍ وَخَافَ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ فَلَا تَلْزَمُهُ إزَالَتُهُ وَصَحَّتْ صَلَاتُهُ وَإِمَامَتُهُ ، وَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَ الْوَشْمَ بِرِضَاهُ فِي حَالِ تَكْلِيفِهِ ، وَلَمْ يَخَفْ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ مَنَعَ ارْتِفَاعَ الْحَدَثِ عَنْ مَحَلِّهِ لِتَنَجُّسِهِ وَإِلَّا عُذِرَ فِي بَقَائِهِ مُطْلَقًا وَحَيْثُ لَمْ يُعْذَرْ فِيهِ وَلَاقَى مَاءً قَلِيلًا أَوْ مَائِعًا أَوْ رَطْبَا نَجَّسَهُ ، كَذَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ شَرْحُ م ر .

kitab Qurratul 'Ain bifatawaa Ismail Zain hal. 49
سؤال . ماقولكم فيمن غرز فى أعضاء وضوءه او فى سائر بدنه بالإبرة مثلا ووضع محله نحو حبر للتلوين والتصوير فإذا التحم بعد ذلك فهل يصح وضوؤه وكذلك غسله اولا ؟ الجواب : نعم يصح وضوؤه وغسله مع كونه إثما بذلك الفعل يجب عليه التوبة وإزالته ان لم يؤد الى ضرر لأنه نوع من الوشم ففعله غير جائز ولكن الوضوء والغسل معه صحيحان للضرورة لأنه داخل الجلد ملتحم عليه فلا يمنع صحة الوضوء والغسل لكونه داخل البشرة والصلاة معه صحيحة للضرورة.
Hasyiah Ia'anatu at-Thalibiin Juz I hal.107 (Haramain)

( تتمة ) تجب إزالة الوشم وهو غرز الجلد بالإبرة إلى أن يدمى ثم يذر عليه نحو نيلة فيخضر لحمله نجاسة هذا إن لم يخف محذورا من محذورات التيمم السابقة في بابه أما إذا خاف فلا تلزمه الإزالة مطلقا 
وقال البجيرمي إن فعله حال عدم التكليف كحالة الصغر والجنون لا يجب عليه إزالته مطلقا وإن فعله حال التكليف فإن كان لحاجة لم تجب الإزالة مطلقا وإلا فإن خاف من إزالته محذور تيمم لم تجب وإلا وجبت ومتى وجبت عليه إزالته لا يعفى عنه ولا تصح صلاته معه 
ثم قال وأما حكم كي الحمصة فحاصله أنه إن قام غيرها مقامها في مداواة الجرح لم يعف عنها ولا تصح الصلاة مع حملها وإن لم يقم غيرها مقامها صحت الصلاة ولا يضر انتفاخها وعظمها في المحل ما دامت الحاجة قائمة وبعد انتهاء الحاجة يجب نزعها 
فإن ترك ذلك من غير عذر ضر ولا تصح صلاته 















Hal - Hal Yang Disunnahkan Berwudhu'


  1. Hendak membaca Al-Quran, namun jika sampai menyentuhnya wajib  berwudhu'
  2. Hendak mendengarkan riwayat hadis
  3. Belajar ilmu agama
  4. Hendak masuk mesjid
  5. Hendak berzikir
  6. Hendak melakukan sa’i
  7. Hendak Wuquf dipadang Arafah
  8. Menziarahi nabi Muhammad saw
  9. Hendak berkhutbah selain khutbah jumat, seperti khutbah hari raya
  10. Hendak tidur
  11. Henak azan atau iqamah
  12. Hendak memandikan jenazah
  13. Hendak makan
  14. Hendak melakukan jimak
  15. Setelah muntah
  16. Setelah mnyentuh bulu kemaluan
  17. Setelah menyentuh dua pelir
  18. Karena menyentuh pangkal paha
  19. Karena menyentuh gadis kecil (belum balig), amrad, dan orang berpenyakit lepra atau kusta
  20. Karena menyentuh orang yahudi
  21. Karena ingin melakukan bekam
  22. Setelah Melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat
  23. Karena berbicara yang haram seperti mengupat,fitnah dan mencela
  24. Seletah tertawa terbahak-bahak
  25. Setelah marah
  26. Setelah membawa atau menyentuh mayat
  27. Setelah memotong kuku atau kumis
  28. Setelah mencukur rambut



Referensi :

Fathul Mu’in Juz 1 Hal 62-63 (Haramain)

يندب الوضوء من مس نحو العانة وباطن الألية والأنثيين وشعر نبت فوق ذكر وأصل فخذ ولمس صغيرة وأمرد وأبرص ويهودي ومن نحو فصد ونظر بشهوة ولو إلى محرم وتلفظ بمعصية وغضب وحمل ميت ومسه وقص ظفر وشارب وحلق رأسه 

Hasyiah Ia'natut Thalibin Juz 1 Hal 62 (Haramain)

ويندب للمرء الوضوء فخذ لدي مواضع تأتي وهي ذات تعدد قراءة قرآن سماع رواية ودرس لعلم والدخول لمسجد وذكر وسعي مع وقوف معرف زيارة خير العالمين محمد وبعضهم عد القبور جميعها وخطبة غير الجمعة اضمم لما بدي ونوم وتأذين وغسل جنابة إقامة أيضا والعبادة فاعدد وإن جنبا يختار أكلا ونومه وشربا وعودا للجماع المجدد ومن بعد فصد أو حجامة حاجم وقيء وحمل الميت واللمس باليد له أو لخنثى أو لمس لفرجه ومس ولمس فيه خلف كأمرد وأكل جزور غيبة ونميمة وفحش وقذف قول زور مجرد وقهقهة تأتي المصلي وقصنا لشاربنا والكذب والغضب الردي


Status Anak Dari Orang Tua Beda Agama

Deskripsi Masalah:

Di dalam ayat Al-Qura’an Al-Baqarah ayat 221 Allah SWT menegaskan bahwa tidak boleh mengawini orang-orang yang berlainan agama dalam artian tidak sah seorang laki-laki yang muslim untuk menikahi wanita dari agama musyrik begitu pula tidak sah wanita muslimah menikahi dengan laki-laki non muslim,hal ini di khususkan kepada selain kafir kitabi.
Adapun terhadap kafir kitabi maka Allah menghalalkan menikah dengan mereka, dengan dalil  Allah ta'ala berfirman:

اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم إذا ءاتيتموهن أجورهن محصنين غير مسافحين ولا متخذي أخدان ومن يكفر بالإيمان فقد حبط عمله وهو في الآخرة من الخاسرين (سورة المائدة: 5)

Maknanya: "Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi ". (Q.S. Al Maidah:5).

Pernikahan dengan perempuan Ahli Kitab ini juga pernah di lakukan oleh para sahabat Nabi SAW, di antaranya: Utsman ibn 'Affan menikah dengan Ibnatul Farafishah al Kalabiyyah, seorang nasrani kemudian masuk Islam. Thalhah ibn Ubaidillah menikahi perempuan dari Bani Kulayb nasrani atau yahudi. Hudzaifah ibn al Yaman menikahi seorang perempuan yahudi. (Semua diriwayatkan oleh al Bayhaqi dengan sanad yang sahih)

Namun Ahlul Kitab pada masa sekarang ini sungguh jauh lebih berbeda dengan Ahlul kitab yang ada pada  masa Nabi SAW. Semua Ahlul Kitab masa sekarang sudah jelas-jelas musyrik atau menyekutukan Allah dengan mengatakan babwa  Uzair itu anak Allah (menurut Yahudi) dan Isa itu anak Allah (menurut Nasrani).

Intinya pada masa sekarang seorang yang muslim/muslimah menikahi dengan orang yang kafir secara umumnya tidak sah,melainkan ada ditempat-tempat khusus yang memang masih ada kafir kitabi yang Asli seperti pada masanya Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan:

Bagaimanakah status anak yang lahir daripada orang tua yang berbeda agama (orang muslim menikahi dengan yang non muslim) menurut perspektif ulama syafi’iah ?

Jawaban:

Anak yang lahir dari orang tua yang berlainan agama (islam dan bukan islam) maka di hukumi kepada orang islam, hal ini telah di jelaskan dalam (kitab ia’natutthalibin juz 1 hal 93) :   

ويتبع في الدين أعلاهما فلو تولد بين مسلم وكافرة فهو مسلم لأن الإسلام يعلو ولا يعلى عليه. إعانة الطالبين ١/٩3

Dalam Hasyiah Al-Bajuri jilid 1 hal 38
يتبع الفرع فى انتساب ابا5* و الام فى الرق و الحرية * و الزكاة و الدين الاعلى

و اللذى اشد في جزاء وادية * و اخس الاصلين رجسا و ذبحا * و نكاحا و الاكل و الاضحية 

Seuntai Kisah Dari Sosok Asma Binti Abu Bakar

Asma binti Abu Bakar, adalah kakak perempuan se-ayah Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Ra, Ia lebih tua sepuluh tahun dari Aisyah, dan ia juga merupakan perawi hadist Rasulullah SAW, Sebanyak 56 hadist ia rawi, delapan belas di antaranya diriwayatkan kembali oleh Imam Bukhari, selebihnya diriwayatkan oleh perawi perawi hadist yang lain, Ia menikah dengan Zubair bin Awwam di kota Mekkah, kemudian Zubair menceraikannya di Madinah, lama setelah mereka mengarungi rumah tangganya, dan memiliki buah hati yang bernama Abdullah, Asma memiliki umur yang panjang, ia meninggal di mekkah tahun 73 H. walau demikian, di usianya yang tidak lagi muda, melebihi seratus tahun, namun giginya tidak tanggal, demikian pula ingatannya tidaklah hilang. Abdullah merupakan seseorang yang sangat alim, sebagian dari kepandaiannya yaitu ketika kanak kanak ia bertemu dengan Umar ibn Khattab, bersama dengan kanak kanak yang lain, mereka lari dari Sayyidina Umar hingga tinggallah Abdullah seorang diri, Umar bertanya kepadanya, kenapa engkau tidak lari wahai Abdullah ? ia menjawab, wahai amirul Mukminin ! aku tidak memiliki rasa ragu sehingga takut kepadamu, dan jika aku menyebabkan sempit jalanmu, aku akan melapangkannya, ia juga merupakan bayi yang pertama dalam islam yang lahir dari golongan muhajirin di Madinah dua puluh bulan setelah hijrah, Ia dilahirkan di Quba, dan Rasul mengunyah kurma untuknya, sehingga makanan pertama yang masuk ke mulutnya adalah kurma dan liur rasulullah saw, ia seorang yang gemar berpuasa, shalat malam, dan menyambung silaturrahim, ia juga memanjangkan sujudnya sehingga burung menyangkanya sebongkah tembok sehingga hinggap di atasnya, ia pernah meminum darah bekam Rasulullah tatkala ia menyuruhnya membuangnya, lalu rasulullah berkata kepadanya:

ويل لك وويل للناس

celaka bagimu dan bagi manusia, kamu kelak akan dibunuh, dan celakalah manusia karena telah membunuhmu, kemudian ia hidup dan meninggal dunia dibunuh oleh seorang musuh allah bernama Lujaj.

Referensi: Hasyiyah Ala Muhtashar Abi Jamarah Hal 32 Cet Maktabah Imaratullah Surabaya




donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja