Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Alasan shalat jenazah tidak rukuk dan sujud

Deskripsi masalah:

Setiap terdengar kata-kata shalat tetap terbayang bagaimana aktivitas yang dilakukan dalam shalat mulai dari takbiratul ihram, rukuk ,sujud dan sebagainya. Namun aktivitas ini tidak diperdapatkan pada shalat jenazah sebagaimana dimaklumi bersama.

Pertanyaan :

Apakah alasannya shalat jenazah tidak ada rukuk dan sujud sebagaimana shalat-shalat lainnya?

Jawaban :

Alasan yang tertera dalam kitab Hasyiatul jamal 'alal manhaj karya syaikhul islam Zakaria Al anshari : Berkata Al-hafidh Ibnu hajar dalam kitab Fathul bari "Dalam shalat jenazah tidak diperdapatkan ruku' dan sujud supaya tidak terlintas di pikiran sebagian orang awam (jahil) bahwa shalat jenazah itu ibadat bagi mayat maka tersesatlah mereka"

-Kitab Hasyiah jamal 'ala manhaj Hal 169 Juz 2 syamela

قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري وإنما لم يكن فيها ركوع ولا سجود لئلا يتوهم بعض الجهلة أنها عبادة للميت فيضل بذلك اهـ. بحروفه.


Imam Hasan Albashri pimpinan kalangan zuhud

Beliau wafat di Bashra Iraq pada tahun 110 Hijriyah. Jenazah beliau dishalati dan dimakamkan setelah pelaksanaan salat Jumat. Tepatnya beliau wafat pada hari Kamis menjelang malam. Sedangkan pada hari Rabu malamnya, sebagian auliya (para wali Allah), menyaksikan pintu-pintu langit terbuka, dan terdengar suara memanggil: Ketahuilah, bahwa Hasan Albashri akan menghadap Allah, dan Allah telah ridla kepadanya. Riwayat ini diberitakan oleh Imam Alhkhani. Imam Hasan Albashri terkenal sebagai pemimpin kalangan zuhhad atau para ahli zuhud yang menjauhi kehidupan dunia, kalangan ahli ibadah, kalangan ulama, dan kalangan sastrawan Arab. Tatkala Imam Hasan Albashri mendengar bahwa Hajjaj bin Yusuf, hulubalangnya Yazid bin Muawiyah membunuh shahabat Said bin Jubair, maka Imam Hasan Albashri berdoa: Wahai Dzat yang dapat melemahkan pelaku kedurjanaan, balaslah Hajjaj! Maka tidak selang tiga hari, terjadilah pembusukan pada badan Hajjaj bin Yusuf dan keluar ulat dari tubuhnya, lantas mati. Sayyidina Hasan Albashri termasuk kekasih Allah yang mendapat banyak keistimewaan, antara lain Allah melipat bumi untuk beliau, artinya jarak yang jauh menjadi sangat dekat tatkala beliau mendatanginya. Seringkali para ulama Makkah menemukan beliau shalat di Masjidil Haram, padahal beliau menetap di Bashra Iraq yang jaraknya ribuan kilo meter. Peristiwa semacam itu bukanlah di saat beliau menjalankan ibadah umrah. Tentu saja, kejadian semacam ini adalah salah satu bentuk keramat Imam Hasan Albashri yang diberkan oleh Allah. Karena beliau adalah salah satu dari para auliya kekasih-kekasih Allah. Jika para Nabi diberi mu`jizat oleh Allah berupa suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya, contohnya mu`jizat Nabi Musa yang mampu membelah lautan hanya menggunakan sebuah tongkat, dan Nabi Sulaiman dapat memahami serta dapat berbicara dengan semua jenis binatang, sedangkan Nabi Muhammad SAW diberi kemapunan untuk menjawab ucapan salam dari pepohonan dan bebatuan, maka para wali Allah sebagai pengganti dan pewais para Nabi, juga diberi kelebihan oleh Allah berupa keramat, yaitu kemampuan lebih di luar kebiasaan manusia pada umumnya. Seperti halnya kemampuan lebih yang diberikan oleh Allah kepada Imam Hasan Albashri. Nabi SAW telah menyiratkan masalah ini dalam sabda beliau SAW yang artinya: Para Ulama dari kalangan ummatku, kedudukannya seperti para Nabi di kalangan Bani Israel. Mudah-mudahan kita dapat menjadi salah satu dari para ulama yang sekaligus sebagai auliya kekasih-kekasih Allah, atau jika belum mampu, maka semoga kita dapat berkhidmat kepada para ulama, jika belum mampu, mudah-mudahan kita dapat selalu mengikuti petunjuk para ulama, jika belum mampu maka setidaknya dapat menghormati para ulama, jika belum mampu, maka jangan sampai kita menyakiti para ulama, jika belum mampu, maka sekali-kali janganlah melawan para ulama apalagi sampai memusuhi mereka. Karena para ulama itu adalah pewaris para Nabi. 

Referensi: kitab Jami`u Karamatil Auliya karangan Syaikh Yusuf Annabhan

Fatwa Imam Ramli, Hukum Membaca Fatihah Setelah Shalat

Salah satu amaliyah yang lazim kita temukan di kalangan masyarakat adalah seringanya membaca surat al-Fatihah dalam berbagai ibadat dan acara. Diantaranya selesai berdoa setelah shalat, baik dibaca bersama-sama maupun sendirian. Lalu apakah amalan demikian punya landasan dalam syarat? dan bagaimana jawaban para ulama terhadap masalah ini.
Ternyata masalah ini sudah pernah di tanyakan dahulu kepada seorang ulama besar di Mesir yang diakui keilmuannya sehingga di gelari dengan asy-Syafii Shaghir, yaitu Imam Syams Ramli anak dari Imam Ramli Kabir. Lalu bagaimana jawaban beliau, berikut nash jawaban beliau beserta terjemahannya yang kami ambil dari kitab Fatwa beliau yang di cetak bersamaan dengan Fatawa Kubra Fiqhiyah Imam Ibu Hajar al-Haitami.

(سُئِلَ) عَنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ عَقِبَ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ هَلْ لَهَا أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ أَمْ هِيَ مُحْدَثَةٌ لَمْ تُعْهَدْ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ، وَإِذَا قُلْتُمْ مُحْدَثَةٌ فَهَلْ هِيَ حَسَنَةٌ أَوْ قَبِيحَةٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ الْكَرَاهَةِ هَلْ يُثَابُ قَائِلُهَا أَمْ لَا؟
(فَأَجَابَ) بِأَنَّ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ عَقِبَ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ أَصْلًا فِي السُّنَّةِ، وَالْمَعْنَى فِيهِ ظَاهِرٌ لِكَثْرَةِ فَضَائِلِهَا، وَقَدْ قَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «فَاتِحَةُ الْكِتَابِ مُعَلَّقَةٌ فِي الْعَرْشِ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ» وَفِيهَا مِنْ الصِّفَاتِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا حَتَّى قَالُوا إنَّ جَمِيعَ الْقُرْآنِ فِيهَا وَهِيَ خَمْسٌ وَعِشْرُونَ كَلِمَةً تَضَمَّنَتْ عُلُومَ الْقُرْآنِ لِاشْتِمَالِهَا عَلَى الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَوْصَافِ كَمَالِهِ وَجَمَالِهِ وَعَلَى الْأَمْرِ بِالْعِبَادَاتِ وَالْإِخْلَاصِ فِيهَا وَالِاعْتِرَافِ بِالْعَجْزِ عَنْ الْقِيَامِ بِشَيْءٍ مِنْهَا إلَّا بِإِعَانَتِهِ - تَعَالَى، وَعَلَى الِابْتِهَالِ إلَيْهِ فِي الْهِدَايَةِ إلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَعَلَى بَيَانِ عَاقِبَةِ الْجَاحِدِينَ، وَمِنْ شَرَفِهَا أَنَّ اللَّهَ - تَعَالَى - قَسَمَهَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ عَبْدِهِ وَلَا تَصِحُّ الْقِرَاءَةُ فِي الصَّلَاةِ إلَّا بِهَا وَلَا يَلْحَقُ عَمَلٌ بِثَوَابِهَا وَبِهَذَا الْمَعْنَى صَارَتْ أُمَّ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَأَيْضًا فَلِكَثْرَةِ أَسْمَائِهَا، وَكَثْرَةُ الْأَسْمَاءِ تَدُلُّ عَلَى شَرَفِ الْمُسَمَّى، وَلِأَنَّ مِنْ أَسْمَائِهَا أَنَّهَا سُورَةُ الدُّعَاءِ وَسُورَةُ الْمُنَاجَاةِ وَسُورَةُ التَّفْوِيضِ وَأَنَّهَا الرَّاقِيَةُ وَأَنَّهَا الشِّفَاءُ وَالشَّافِيَةُ لِقَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «إنَّهَا لِكُلِّ دَاءٍ» وَقَالُوا إذَا عَلَّلْت أَوْ شَكَيْت فَعَلَيْك بِالْفَاتِحَةِ فَإِنَّهَا تَشْفِي
(فتاوى الرملي ج1 ص 161)

Pertanyaan :

Imam Ramli Rahimahullah, ditanyakan tentang membaca surat al-fatihah yang mengiringi doa setelah shalat, apakah memiliki dalil dari sunnah? atau ia merupakan satu amalan yang baru yang tidak ada dasarnya pada masa dahulu? Dan jika ia merupakan amalan baru apakah ia tergolong ke dalam amal yang baik atau amal keji (tercela)? dan apabila ia tergolong ke dalam urusan yang makruh apakah dianjurkan untuk bertaubat kepada orang yang membacanya?

Jawaban :

Sesungguhnya membaca fatihah yang mengiringi doa setelah shalat memiliki landsan dalam sunnah, sedangkan alasannya sangat jelas karena fatihah memiliki fadhilah yang amat banyak. Rasulullah SAW. bersabda: "Surat al-Fatihah Kitab tergantung di Arasy, tidak ada hijab dengan Allah."
Dan di dalamnya terkandung beberapa sifat yang tidak ada dalam surat yang lain, sehingga para ulama berpendapat bahwa seluruh kandungan al Quran tercantum dalam surat al Fatihah. Surat al-Fatihah terdiri dari 25 kalimat yang mengandung seluruh ilmu al Quran, karena dalam al-Fatihah mencakupi sanjungan dan pujian kepada Allah Azza wa Jalla dengan segala sifat kesempurnaan dan keindahan-Nya, al fatihah juga mengandung perintah untuk beribadah serta ikhlas dalam beribadah, dan pengakuan dengan lemah dalam melaksanakan ibadah kecuali dengan pertolongan Allah, dan al-Fatihah juga mengandung permohonan kepada Allah dalam memperoleh petunjuk ke jalan yang benar dan lurus, dan juga mencakupi konsekuwensi terhadap orang-orang yang mengingkarinya.
Sebagian dari kemuliaan surat al-Fatihah yaitu sesungguhnya Allah SWT. membagi al Fatihah di antaraNYa dan hamba-Nya,dan hanya sah shalat dengan adanya pembacaan al-Fatihah dan tidak ada satu amalan yang sebanding dengan fahala Fatihah, dengan alasan inilah al-Fatihah disebut sebagai Ummul Quran, dan juga karena banyaknya nama sebutan baginya juga menjadi satu alasan kemuliaanny karena banyaknya nama menunjuki kepada mulianya sesuatu,dan karena sebagian dari nama-nama surat al Fatihah yaitu : surat doa, surat munajah (curhatan), surat tafwidh (berserah diri), dan al Fatihah juga bisa digunakan untuk meruqyah, serta bisa menjadi sebagai obat. Karena Rasulullah SAW. bersabda : "al Fatihah menjadi obat bagi segala penyakit." Dan para ulama pun berkata : "bila engkau sakit atau mengaduh/mengeluh engkau mesti membaca Fatihah, karena ia bisa menyembuhkannya."

ilmu mawarist: Anak Laki Laki

Anak laki laki adalah orang yang paling istimewa dalam menerima warisan, ia tidak terhalang oleh seorangpun dan dapat menghalangi banyak orang, dan juga ia bersatu sebagai ashabah, orang yang mengambil seluruh sisa harta, jika seseorang wafat, lalu ia meninggalkan seorang anak laki laki, maka ia mengambil seluruh harta, jika anak laki laki yg ditinggalkan lebih dari satu, maka harta dibagi rata diantara mereka, jika setelah wafat harta tak kunjung dibagi, lalu salah seorang dari anak laki laki tersebut wafat juga, maka ia tetap berhak mendapat harta warisan, meskipun ia telah wafat ketika pembagian harta, karena yang ditinjau adalah keberadaan pewaris ketika meninggal mayat, bukan ketika pembian harta, beda halnya dengan kasus jika si anak laki laki lebih duluan meninggal dari ayahnya, maka ia dan keturunannya tidak mendapatkan harta dari ayah samasekali, hal ini dalam istilah adat aceh disebut dengan istilah patah tutu, istilah ini hakikatnya adalah terhalangnya cucu laki laki karena adanya anak laki laki.

Referensi: Kanzurraghibin Juz 3 Hal 141 Cet Dar Fikr

فَصْلٌ الْأَبُ وَالِابْنُ وَالزَّوْجُ لَا يَحْجُبُهُمْ أَحَدٌ عَنْ الْإِرْثِ (وَابْنُ الِابْنِ) وَإِنْ سَفَلَ (لَا يَحْجُبُهُ) مِنْ جِهَةِ الْعَصَبَةِ (إلَّا الِابْنَ أَوْ ابْنَ ابْنٍ أَقْرَبَ مِنْهُ) وَيَحْجُبُهُ أَصْحَابُ فُرُوضٍ مُسْتَغْرِقَةٍ، كَأَبَوَيْنِ وَبِنْتَيْنِ أَخْذًا مِمَّا سَيَأْتِي أَنَّهَا تَحْجُبُ كُلَّ عَصَبَةٍ



KISAH SAAT LAHIRNYA IMAM SYAFI'I


 .

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja