Poligami, Haruskah Suami Minta Izin Pada Istrinya?

Saat Berpoligami, Haruskah Seorang Suami Minta Izin Pada Istrinya
Saat Berpoligami, Haruskah Seorang Suami Minta Izin Pada Istrinya?
Ini merupakan satu polemik tersendiri bagi pasangan suami istri. Seorang istri biasanya tidak akan rela berbagi suami dengan perempuan lain. Ini wajar mengingat rasa cemburu dari seorang perempuan.

Poligami merupakan permasalahan umat yang tidak pernah selesai, selalu saja terjadi pro dan kontra hingga sekarang, sebagian ada yang menolaknya dengan dalih kesetiaan cinta, ada juga yang mendukungnya karena ingin punya istri tiga, ada pula yang netral tidak mempedulikannya, namun bagaimanakah aturan poligami menurut hukum islam? Ada sebagian kalangan mengatakan bahwa suami hanya boleh berpoligami setelah adanya restu dan izin dari istri pertama. Benarkan demikian?

Dalam mazhab Syafii, terdapat dua ketentuan penting untuk seorang suami boleh melakukan poligami, yaitu:
  1. Dapat berlaku adil diantara istri-istrinya. Pengertian adil disini adalah adil yang sanggup dilakukan oleh seorang suami dalam kapasitasnya sebagai manusia, yaitu adil dalam masalah belanja, nafakah dan giliran bermalam, jika seseorang memberikan belanja lima puluh ribu perhari kepada istri pertama, maka ia juga harus memberikan nilai yang sama kepada istri yang kedua, demikian juga jika ia bermalam selama seminggu dirumah istri pertama, hal yang sama juga ia lakukan pada istri yang kedua, Inilah yang dimaksud adil dalam hal poligami, bukanlah adil yang dimaksud adalah adil dalam hal cinta, kasih sayang dan kekecenderungan hatinya, Tidak masalah jika seorang suami lebih mencintai istri pertamanya dari istri kedua. Yang demikian tidak akan membuat suami tidak adil.
  2. Mampu dalam hal nafakah. Nafakah atau biaya ketika atau sesudah nikah merupakan hal yang harus dipenuhi oleh suami ketika ingin melanjutkan pernikahan, karena semua biaya hidup istri adalah tanggung jawab suami setelah terjadinya ijab kabul antara suami dan wali. Namun demikian, nafakah yang dimaksud disini adalah kebutuhan pokok istri menurut status sosialnya,

Nah...! dari dua poin di atas bisa disimpulkan jika seorang suami tidak wajib meminta izin istri pertamanya untuk berpoligami dengan catatan ia memenuhi dua syarat di atas, dapat berlaku adil dan adanya nafakah pernikahan. Bahkan ia boleh saja berpoligami tanpa sepengetahuan istrinya, karena seorang laki laki boleh menikahi sampai dengan empat istri selama ia bisa berlaku adil antara mereka.

Namun perlu diketahui, dua hal diatas bukanlah syarat untuk sah poligami. Maka pernikahannya dengan istri keduanya tetap sah walaupun ia tidak mampu bersikap adil dan tidak memiliki nafakah, hanya saja ia berdosa dengan sebab tidak adil. Karena dua hal diatas adalah kewajiban suami, artinya bila ia tidak adil maka ia akan berdosa dan bila ia tidak mampu memberi nafakah lahir maka istrinya boleh saja menfasakhnya.

Sama halnya dengan suami yang hanya memiliki satu istri. Ia wajib bergaul dengannya dengan baik dan memberikan nafakah. Namun bukan berarti bila ia tidak punya nafakah, serta tidak mampu bergaul dengan baik dengan istrinya maka nikahnya tidak sah.

Referensi: Fiqh islami wa adillatuhu hal 6670 juz 9 cet dar fikr:

قيود إباحة التعدد:
اشترطت الشريعة لإباحة التعدد شرطين جوهريين هما:

1 - توفير العدل بين الزوجات: أي العدل الذي يستطيعه الإنسان، ويقدر عليه، وهو التسوية بين الزوجات في النواحي المادية من نفقة وحسن معاشرة ومبيت، لقوله تعالى: {فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة، أو ما ملكت أيمانكم، ذلك أدنى ألا تعولوا} [النساء:3/ 4] فإنه تعالى أمر بالاقتصار على واحدة إذا خاف الإنسان الجور ومجافاة العدل بين الزوجات.
وليس المراد بالعدل ـ كما بان في أحكام الزواج الصحيح ـ هو التسوية في العاطفة والمحبة والميل القلبي، فهوغير مراد؛ لأنه غير مستطاع ولا مقدور لأحد، والشرع إنما يكلف بما هو مقدور للإنسان، فلا تكليف بالأمور الجبلِّية الفطرية التي لا تخضع للإرادة مثل الحب والبغض.
ولكن خشية سيطرة الحب على القلب أمر متوقع، لذا حذر منه الشرع في الآية الكريمة: {ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء، ولو حرصتم، فلا تميلوا كل الميل، فتذروها كالمعلقة} [النساء:129/ 4] وهو كله لتأكيد شرط العدل، وعدم الوقوع في جور النساء، بترك الواحدة كالمعلقة، فلا هي زوجة تتمتع بحقوق الزوجية، ولا هي مطلقة. والعاقل: من قدَّر الأمور قبل وقوعها، وحسب للاحتمالات والظروف حسابها، والآية تنبيه على خطر البواعث والعواطف الداخلية، وليست كما زعم بعضهم لتقرير أن العدل غير مستطاع، فلا يجوز التعدد، لاستحالة تحقق شرط إباحته.

2 - القدرة على الإنفاق: لا يحل شرعاً الإقدام على الزواج، سواء من واحدة أو من أكثر إلا بتوافر القدرة على مؤن الزواج وتكاليفه، والاستمرار في أداء النفقة الواجبة للزوجة على الزوج، لقوله صلّى الله عليه وسلم: «يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج ... » والباءة: مؤنة النكاح.
حكمة تعدد الزوجات:
إن نظام وحدة الزوجة هو الأفضل وهو الغالب وهو الأصل شرعاً، وأما تعدد الزوجات فهو أمر نادر استثنائي وخلاف الأصل، لا يلجأ إليه إلا عند الحاجة الملحة، ولم توجبه الشريعة على أحد، بل ولم ترغب فيه، وإنما أباحته الشريعة لأسباب عامة وخاصة.

Posting Komentar

3 Komentar

  1. assalamu'alaikum... tgk sy mau tanya bagaimana kalo istri 1 memiliki anak dan istri k 2 tdk memiliki anak, apakah nafakah yg diterima sama besar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alaikum salam
      Pada dasarnya, nafakah yang diberikan adalah masing2 untuk istri dan anak, jadi bila kita punya dua istri dengan jumlah anak yng berbeda, maka jumlah nafakahh yang kita bawa pulang untuk dua rumah kita tentu akan berbeda menurut jumlah anak di rumah tersebut..

      Hapus
  2. Ya, tetapi faktanya, izin/kerelaan dr istri sangat menentukan harmonis atau tdk nya poligami. Maka perlu adanya tarbiyah dr suami kpd istri sebelum poligami. Jangan hanya main nikah saja diam2, tanpa ada ilmunya.

    BalasHapus