Enam Perkara yang Tersembunyi pada Enam Perkara yang Lain




     Syekh Ahmad dalam kitabnya pernah mengutip Kalam dari seorang pemimpin Islam sekaligus Khalifah yang kedua Umar bin Khatab, Amirul mukminin yang terkenal tegas, pemberani namun hatinya lembut, jangankan manusia syaitan pun takut padanya.

 

Umar yang digelar dengan al-Faruq pernah berkata " Allah menyembunyikan enam perkara pada enam perkara yang lain".


Pertama, Allah menyembunyikan ridhanya pada ketaatan dan kebaikan hamba supaya seorang hamba bersungguh - sungguh dalam melaksanakan setiap perintah dan anjuran kebaikan, harap harap terdapat ridha Allah taala  pada salah satu ketaatan yang dilakukan tersebut sementara kita tidak tau kebaikan mana yang mengantarkan kita kepada ridhaNya. Serta tidak boleh bagi kita untuk meremehkan suatu kebaikan yang terkadang terlihat kecil, mungkin saja pada kebaikan tersebut Allah menaruh keridhaannya. Sangat banyak kisah para pendahulu yang meraih ridha Allah pada hal hal yang terlihat  kecil seperti kisah seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing, Imam Ghazali yang meraih ridha Allah karena membiarkan lalat mengisap tintanya ketika ia mengarang kitab, padahal kealimannya, ibadahnya luar biasa, namun bukan dengan hal tersebut ia meraih ridha Allah dan masih banyak kisah- kisah lainnya.


Kedua, Allah menyembunyikan marahnya pada perbuatan maksiat hamba, supaya hamba menjauhi semua maksiat yang dilarangnya, harap -harap Allah tidak murka dan marah pada kita dikarenakan kita menjauhi semua maksiat yang mungkin marah Allah  tersebut terdapat pada salah satunya maksiat yang kita kerjakan dan kita tidak boleh  menganggap sepele pada maksiat yang terlihat kecil karena mungkin saja disitu terdapat murka Allah taala.


Ketiga, Allah menyembunyikan lailatul qadarnya  pada  bulan Ramadhan supaya manusia bersungguh-sungguh menghidupkan        seluruh bulan Ramadhan dengan ibadah lebih -lebih pada malam harinya harap-harap ada satu malam dari sekalian malam tersebut yang berbetulan dengan Lailatul qadar karena beribadah pada satu malam tersebut lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan delapan puluh tiga tahun empat bulan. 

Pahala salat sunat yang dikerjakan pada bulan ramadhan sama dengan pahala salat fardu pada bulan lainnya. An Nakh'i Pernah mengatakan bahwa salat satu rakaat pada bulan Ramadhan lebih baik dari pada seribu rakaat pada selain Ramadhan. Satu bacaan tasbih pada bulan Ramadhan lebih baik daripada seribu tasbih pada bulan selain Ramadhan. dan banyak kelebihan- kelebihan lainnya. Maka dari itu tingkatkanlah ketakwaan kepada Allah dalam bulan Ramadhan karena kebaikan dan pahala dilipatgandakan yang kelebihan ini tidak terdapat pada bulan lainnya serta keburukan juga dilipatgandakan dosanya sebagaimana kebaikan yang dilipatgandakan pahalanya.


Keempat, Allah menyembunyikan aulianya ( para wali) diantara para manusia supaya kita tidak saling menghina sesama manusia siapapun itu  karena ditakutkan yang kita hina adalah waliyullah dan  dianjurkan pula meminta doa kepada sesama manusia

 karena diantara para manusia tersebut terdapat waliyullah.


Kelima, Allah menyembunyikan ajalnya hamba pada umurnya hamba supaya manusia setiap saat mempersiapkan diri untuk kematian dengan selalu  beribadah karena kita tidak tau kapan kita akan meninggal.


Keenam, Allah menyembunyikan salat yang utama pada  seluruh salat yang lima supaya manusia mengerjakan semuanya dan Allah menyembunyikan  namanya yang agung pada setiap nama namanya supaya manusia bersungguh-sungguh ketika berdoa dengan segala asmanya dengan  harapan terdapat satu namanya Allah yang menjadi sebab  terkabulnya doa. Allah juga menyembunyikan waktu  mustajabahnya pada hari jumat supaya manusia bersungguh-sungguh berdoa pada hari Jumat tersebut harap -harap doanya hamba tersebut berbetulan dengan waktu mustajabah pada hari itu.


Referensi Nasaihul I'bad' hlm. 68-69, cet. DKI


(و) المقالة الرابعة: (قال عمر رضي الله عنه) : (إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى كَتَمَ سنة) من الخصال (في سنة) من الأشياء: (كَتَمَ الرِّضَا فِي طَاعَة من الطاعات ليجتهد الناس في جميع الطاعات رجاء أن يصادفوها، فلا يجوز لنا أن نحقر طاعة ولو صغيرة جدا، لأنه ربما كان رضاه تعالى فيها. (وَكَتَمَ الْغَضَبَ فِي مَعْصِيَة) من المعاصي ليجتنبها الناس خشية الوقوع فيه، فلا يجوز لشخص أن يحقر معصية وإن دقت جدا، لأنه لا يعلم أنه قد يكون فيها غضبه تعالى. (وَكَتَمَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي شَهْرِ رمضان) ليجتهد الناس في إحياء جميع شهر رمضان بالعبادة، فإن أجر النفل كأجر الفرض في غيره  قال النخعي ركعة فيه أفضل من ألف ركعة في غيره، وتسبيحة فيه أفضل من ألف تسبيحة في غيره، وليجتهدوا في إحياء لياليه رجاء أن يصادفوا ليلة القدر، فإنها خير من ألف شهر وهي ثلاث وثمانون سنة وأربعة أشهر. فاتقوا الله في شهر رمضان، فإن الحسنات تضاعف فيه ما لا تضاعف فيما سواه وكذلك السيئات. (وَكَتَمَ أَوْلِيَاءَهُ فِيمَا بَيْنَ النَّاسِ) كي لا يحتقروا أحدًا منهم وكي يطلبوا الدعاء منهم رجاء أن يصادفوا الولى، فلا يجوز لشخص أن يحقر أحدًا من الناس، لأنه لا يدري ربما هو من أوليائه تعالى. وكتمَ المَوْتَ في العُمْر ) فينبغى حينئذ لكل أحد أن يستعد للموت في كل وقت بالعبادات، فربما يفجأه الموت. (وَكَتَمَ الصَّلاةَ الْوُسْطَى ) أي الفضلي في الصلوات) أي الخمس ليتحرى الناس جميعها. وأخفى الله اسمه الأعظم في جميع أسمائه، ليجتهد الناس في الدعاء بجميعها حَيْثُ لَا تَحْتَسِبُ رجاء أن يصادفوه. وأخفى ساعة الإجابة في يوم الجمعة، ليجتهد الناس بالدعاء فيه،

Posting Komentar

0 Komentar