Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Kedudukan Imam Nawawy dan Imam Rafii dalam Mazhab syafii

Dalam Mazhab Syafii tidak dapat lepas dari peran dua ulama besar yang mencapai derajat Mujtahid Fatwa/tarjih, yaitu Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. yang kedua Imam Syeikh Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul Karim Abu Qasim ar-Rafii al-Qazwainy. Beliau lahir tahun 557 H/1162M dan wafat tahun 623 H/1226 M. Dalam istilah para ulama Syafi`iyyah, untuk kedua ulama besar tersebut digelari dengan Syaikhani (dua sang guru).

Imam Nawawy dan Imam Rafii memiliki kedudukan yang istimewa dalam mazhab Syafii. Para ulama sesudah beliau sepakat untuk menerima pendapat beliau. Ibnu Hajar al-Haitamy dalam muqaddimah Tuhfah mengatakan “bahwa para masyayikh senantiasa berwasiat dan menaqal/mengutip dari guru-guru mereka dan mereka juga mendengarnya dari guru-guru mereka bahwa yang mu`tamad dalam mazhab pendapat yang disepakati oleh Imam Nawawy dan Imam Rafii selama tidak sepakat ulama mutaakhirin bahwa pendapat keduanya adalah sahw/lupa”.

Bahkan Imam Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Syarah `Ubab juga mengingatkan supaya jangan tertipu dengan debatan beberapa ulama mutaakhirun terhadap kalam Syaikhany (Imam Nawawi dan Imam Rafii) walaupun mereka membawakan nash imam Syafii, kalam aktsarin atau lainnya, hal ini karena Imam Nawaway dan Imam Rafii lebih banyak mengetahui tentang nash-nash Imam Syafii dan kalam para ashhab dari para orang-orang yang mengi`tiardh keduanya, selain itu Syaikhany tidak akan menyalahi nash Imam Syafii dan kalam ashahb kecuali ada sebab-sebab yang memang menghendaki demikian.

Salah satu contohnya kita lihat dalam masalah irtifa`/lebih tinggi tempat makmum dari imam. Menurut Syaikhany, hal ini makruh hukumnya, hal ini beliau sebutkan secara umum tidak dikaitkan kemakruhan tersebut hanya berlaku dimesjid atau bukan. Kemudian datanglah sebagian ulama mutaakhirin yang mengi`tiradh kalam syaikhany dengan mengatakan bahwa Imam Syafii telah men-nash dalam kitab Umm bahwa kemakruhan tersebut hanya berlaku pada selain mesjid. Hal ini juga diikuti oleh beberapa ulama mutakhirin lainnya.

Syeikh Sulaiman Kurdy mengatakan; saya sempat lebih cenderung kepada pendapat beberapa ulama mutakhirin tersebut sampai beberapa masa, sehingga saya akhirnya menemukan nash imam Syafii yang lain yang menjelaskan secara shareh bahwa mahruh hukumnya lebih tinggi makmum dari Imam (atau sebaliknya) karena ini dimakruhkan shalat Imam dalam Ka`bah sedangkan makmum berada diluar ka`bah, dan Imam Syafii memberikan alasan karena imam lebih tinggi tempatnya dari makmum.

Nah dapat kita lihat ketika para ulama mutaakhirin mengi`tiradh syaikhany dengan membawakan nash imam Syafii, namun kenyataannya pengetahuan Syaikhany tentang nash Imam Syafii lebih luas, Syaikhany mengetahui bahwa Imam Syafii pada masalah tersebut memiliki dua pendapat dan syaikhany lebih memilih pendapat yang lebih sesuai dengan qiyas yaitu makruh juga salah satu imam atau makmum lebih tinggi karena akan mencedrai mutaba`ah yang memang dituntut dalam shalat jamaah.

Mukhalafah antara kitab-kitab Imam Nawawy

Imam nawawi memiliki kitab yang banyak, dalam perjalanan ilmiyah seseorang adalah hal yang wajar bila terjadi hal-hal yang dapat mengubah pandangannya yang telah terdahulu, maka sangat mungkin pendapat seorang ulama dalam kitabnya terdahulu akan berbeda dengan pendapat beliau dalam kitab beliau yang dikarang kemudian. Hal ini juga terjadi pada Imam Nawawy. Bila terjadi pebedaan pandangan dalam beberapa kitab Imam Nawawi maka yang lebih didahulukan adalah :
1. Kitab tahqiq.
2. Majmuk syarah Muhazzab
3. Tanqih
4. Kitab mukhatashar beliau seperti Raudhatuth Thalibin
5. Minhajuth Thalibin dan seperti kitab fatwa Imam Nawawi
6. Syarah Muslim
7. Tasheh Tanbih dan kitab nukat Tanbih yang merupakan kitab-kitab yang merupakan karya beliau yang awal.

Ketentuan ini hanya belaku secara kebiasaannya, pada hakikatnya yang wajib dilakukan ketika adanya pertentangan diantara kitab-kitab beliau adalah memeriksa kalam para ulama-ulama muta`akhirun yang mu`tamad dan mengikuti pendapat yang ditarjih oleh mereka.

Referensi:
Imam Ali as-Syaliaty, `Awaid Diniyah fi Talkhish Fawaid Madaniyah, hal 55

Doa ketika memakai pakaian baru

Doa ketika memakai pakaian baru

Ketika memakai pakaian baru, selain membaca doa yang disunatkan dibaca ketika memakai pakaian, juga disunatkan membaca doa tambahan yang lain sebagai tanda syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kemudahan rizki kepada hambaNya.

Beberapa doa yang dibacakan oleh Rasulullah ketika memakai baju baru adalah:

اَللّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ أنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ أسْألُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

Ya Allah hanya bagimu segala pujian. Engkau telah memakaikannya (pakain baru ini) untukku. Aku minta padaMu kebaikannya dan kebaikan yang diciptakan untuknya. Dan saku berlindung dengan Mu dari keburukannya dan keburukan yang diciptakan untuknya.

Doa tersebut diwayatkan oleh Imam at-Turmizi dalam hadist yang shahih.

Dalam hadits yang lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Turmizi, Rasulullah SAW mengatakan barang siapa membaca doa dibawah ini ketika memakai baju baru dan kemudian bersadaqah dengan bajunya yang telah usang niscaya ia akan ada dalam pemeliharan Allah dan akan hidup dan mati di jalan Allah.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي كَسَانِي مَا أُوَارِي بِهِ عَوْرَتِي وَأَتَجَمَّلُ بِهِ فِي حَيَاتِي

Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan aku pakaian untuk menutupi auratku, dan aku bisa berhias dengannya dalam hidupku.

Referensi:

Kitab al-Azkar, Imam Nawawi hal 27 Cet. Dar Tauzi` wan nasyr islamiyah thn 2002

Doa ketika memakai baju

Doa ketika memakai bajuYang pertama sekali adalah membaca basmalah, karena membaca basmalah disunatkan pada setiap perbuatan yang baik.

Kemudian diikuti dengan membaca doa dibawah ini sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis:

اَللّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا هُوَلَهُ وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا هُوَ لَهُ

Ya Allah, saya meminta kebaikannya dan kebaikan baginya dan saya berlindung dengan Mu dari keburukannya dan keburukan baginya.

Dalam satu hadist riwayat Mu`az tersebit bahwa siapa yang membaca doa dibawah ini ketika memakai bajui, maka akan Allah ampunkan dosanya:

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّة

Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan saya pakaian ini dan memberi rizki kepada saya pakaian ini tanpa daya dan upaya dariku.

Referensi:
Kitab al-Azkar, Imam Nawawi hal 37 Cet. Dar Tauzi` wan nasyr islamiyah thn 2002

Shalawat Ibrahimiyyah

Shalawat Ibrahimiyyah

salah satu lafadh shalawat yang terkenal adalah shalawat yang dikenal dengan Nama Shalawat Ibrahimiyah. Lafadh shalawat tersebut yaitu:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ 
بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِى العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ 

Artinya : Ya Allah , berilah kasih saying kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi kasih sayangmMu kepada junjungan kita Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati junjungan kita nabi Ibrahim dan kelurganya diantara makhluk makhlukmu, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. 

Shalawat ini adalah lafadh shalawat yang paling afdhal baik dari diantara shalawat yang warid dari Nabi maupun yang bukan. Karena inilah, shalawat ini yang dipilih dalam shalat karena hadits yang meriwayatkan shalat ini disepakati oleh para ulama ahli hadist sebagai hadits shahih.
 Shalawat ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 405), Imam Turmizi (no. 3220) Imam Nasai (1208) Ibnu Hibban (no. 1965) dll Sebagian para ulama mengatakan : “barang siapa membacanya 100 kali maka akan bermimpi dengan Rasulullah SAW”.
 Dalam shalawat ini, hanya selain nama Nabi Muhammad, hanya disebutkan nama Nabi Ibrahim as beserta keluarga beliau. Ini tak lain karena dalam al-quran sendiri, doa rahmat dan sejahtra yang disebutkan secara bersamaan hanya kepada Nabii Ibrahim as, yaitu dalam al-quran surat Hud ayat 73 :

 رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ 
 “…Rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait (keluarga Nabi Ibrahim)! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."

Referensi: 
  1. Afdhal Shalawat, Syeikh Yusuf an-Nabhany. Cet. Dar Kutub Islamiyah 
  2. Jamik Hadist, Imam as-Sayuthy 
  3. Hasyiah i`anatuth Thalibin. Jilid 1 cet. Haramain

Hukum alat musik

Alat musik telah ada sejak dahulu bahkan menurut satu riwayat `ud (kecapi) itu diciptakan oleh anak nabi Adam yang bernama Malik bin Adam . Oleh karena itu pembahasan tentang alat musik bukanlah hal yang baru. Para ulama semenjak dahulu telah menerangkan hukum beberapa alat-alat musik yang ada pada masa mereka. Di bawah ini kami sajikan beberapa jenis alat musik beserta tanggapan para ulama tentang hukumnya.

Daff/Duff (Rebana )

Dalam mazhab Syafii terjadi khilaf para ulama tentang hukum menggunakan rebana.
HUKUM ALAT MUSIK
Daff dengan Jalajil
  1. Menurut pendapat yang mu`tamad hukumnya mubah baik pada acara perkawinan, khitan ataupun acara lainnya. tetapi yang lebih baik meninggalkannya.
  2. Haram hukumnya pada selain acara perkawinan dan khitan. Ini adalah pendapat Al Baghwy didalam kitab Tahzib, Abu Ishaq Asy Syirazi didalam Al Muhazzab, Ibnu Abi `Ashrun dan ulama lainnya.
  3. Mubah pada perkawinan dan khitan, sedangkan pada selain keduanya makruh. Ini adalah pendapat Abu Thayyib di dalam kitab Ta`liqnya.
  4. Menurut pendapat ulama mutakhirin disunatkan pada acara perkawinan dan khitan. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Al Baghwy dalam kitab syarah sunnahnya.

Didalam Fatawy Abi Al Laisty As Samarqandy Al Hanafy disebutkan bahwa memukul rebana pada selain perkawinan dan khitan hukumnya khilaf para ulama:
  1. Makruh
  2. Mubah mutlaq. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Haramain dan Imam Ghazaly.
  3. Mubah pada perkawinan, hari raya, kedatangan orang dari tempat yang jauh dan setiap kegembiraan. Ini adalah pendapat Imam Ghazaly didalam Ihya, Al Qurthuby Al Maliky didalam Kasyful Qina`
Para ulama yang mengatakan sunat menggunakan rebana pada acara perkawinan dan khitan berpegang kepada satu hadis yang diriwayatkan oleh At Turmuzi.

فصل ما بين الحلال و الحرم الضرب بالدف
Artinya
"pemisah antara halal dan haram adalah memukul rebana"

Dan satu hadis yang diriwaytkan oleh Ibn Hibban:
أنه صلى الله عليه وسلم لما رجع إلى المدينة من بعض مغازيه جاءته جارية سوداء فقالت يا رسول الله إني نذرت إن ردك الله سالما أن أضرب بين يديك بالدف وأتغنى فقال لها إن كنت نذرت فأوف بنذرك رواهما ابن حبان وغيره

Artinya:
Sesungguhnya Rasulullah SAW manakala kembali dari satu peperangan, datanglah hamba sahaya hitam dan berkata Ya Rasulullah Saya bernazar jika Allah mengembalikan kamu dengan selamat, maka aku akan memukul rebana dan bernyanyi, Rasulullah berkata kepadanya jika kamu telah bernazar maka sempurnakanlah nazarmu.(H.R Ibnu Hibban)

Ibnu Hibban telah menggapgap shaheh kedua hadis tersebut.
Selain berdasarkan hadis tersebut ada juga hadis lainnya tetapi sanadnya dhaif:

إعلنوا بالنكاح واضربوا عليه بالغزبل (الدف 

Para ulama yang berpendapat mubah mengatakan bahwa amar pada hadis tersebut mengandung makna ibahah karena pada dasarnya rebana tersebut termasuk kedalam katagori lahwi yang tercela. Selain itu didalam satu riwayat disebutkan Abu Bakar ra menamai rebana dihadapan Rasulullah dengan "nyanyian iblis" sedangkan Rasullah tidak mengingkarinya.

Para ulama juga berselisih pendapat bila rebana tersebut memakai "jalajil"(kericingan dipinggir rebana). Menurut pendapat yang Ashah dibolehkan.

Gendrang

HUKUM ALAT MUSIK
Thabul kubah (darbikah) 
Syaikhani (Imam Nawawy dan Imam Rafii) dan ulama lainnya mengatakan: tidak diharamkan memukul gendrang kecuali kubah (dinamakan juga dengan darbikah) yaitu gendrang yang panjang dan dua tepinya lebih luas dari tengahnya. Tetapi ibnu Hajar mengatakan bahwa pada masa beliau salah satu ujungnya lebih besar, sedangkan ujungnya yang lain lebih kecil dan tidak tertutup. Alasan diharamkan thabul kubah adalah karena ia merupakan alat yang sering digunakan oleh kaum mukhannisin (kaum yang menyerupakan dirinya dengan wanita, waria) Maka menggunakannya akan dikatakan menyerupakan diri dengan kaum fasiq. Padahal hal ini sangat dilarang sebagimana dalam satu hadis Rasulullah berkata:

من تشبه بقوم فهو منهم . رواه أبو داود 
Artinya :
Barangsiapa menyerupakan dirinya dengan satu kaum maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut.

Sebagian ulama mengharamkan genderang (thabul) tanpa mengaitkan dengan thabul kubah kecuali daff (rebana). Ini adalah pendapat Qadhi Husain, Al Bandanijy, Al Hulaimy, Abu Ishaq Asy Syirazy, Ar Rauyani, Al Baghwy, Al Khawarijmy, Al Imrany dan beberapa ulama lainnya. Walaupun demikian mereka membolehkan thabul (genderang) yang dipakai pada hari raya, peperangan dan rombongan jamaah haji. Sedangkan sebagian ulama lainnya mengatakan yang diharamkan adalah thabul lahwy. Sedangkan Syaikhani (Imam Nawawy dan Imam Rafii) dan beberapa ulama lainnya mengatakan tidak diharamkan thabul kecuali kubah. Mengenai perbedaan ini Ibnu Ruf`ah mengatakan bahwa para ashhab (ulama yang hidup pada priode 400 tahun hijriyah) telah menjelaskan bahwa dibolehkan gendrang peperangan. Maka Alif lam yang ada pada kalimat thabul pada kalam ulama yang mengharamkan thabul adalah alim lam `Ahdi, yang dimaksud dengan thabul disitu adalah thabul yang dipergunakan oleh kuam mukhannisin (waria). Demikian juga yang dijelaskan oleh Al Mawardi. Maka antara pendapat yang mengaharamkan seluruh thabul kecuali rebana dan pendapat yang membolehkan seluruh thabul kecuali kubah tidaklah terjadi pertentangan. Karena yang dimaksud dengan thabul pada pendapat pertama adalah thabul lahwi yang tak lain adalah kubah dengan dalil mereka sepakat membolehkan gendrang peperangan.

Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa keharaman kubah merupakan ijmak para ulama. Syaikh Abi Muhammad Al Juwainy mengatakan bahwa para ulama telah sepakat ( ijmak;konsesus ) mengharamkan kubah karena ada hadis yang mencela orang orang yang memukul dan mendengar kubah. Ulama lain yang menaqal ijmak ini adalah Al Qurthuby, beliau mengatakan " tidak diperselisihkan tentang keharaman mendengarnya dan tidak pernah saya dengar para ulama salaf dan khalaf yang yang diterima pendapatnya yang membolehkannya ( kubah)"

Adapun beberapa hadis Nabi yang melarang kubah antara lain:

- Hadis riwayat Abi Daud
عن عبد الله بن عمرو أن نبى الله -صلى الله عليه وسلم- نهى عن الخمر والميسر والكوبة والغبيراء

Artinya:
Dari Abdullah bin Umar "bahwasanya Nabi Saw melarang khamar, judi, kubah dan `ubaira`(sejenis minuman keras dari jagung).

- Hadis riwayat Ad Dalamy
أمرت بهدم الطبل والمزمار
Artinya:
Aku diperintahkan untuk menghancurkan thabul( gendrang) dan mizmar(Seruling).

- Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dan Baihaqi dari Ibnu Abbas ra

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الله عز وجل حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة

Artinya:
bahwasanya Rasulullah Saw berkata:Allah azza wajalla telah mengharamkan kepada kamu khamar, judi, dan kubah.

Al Baihaqy dalam sunan Kubranya menerangkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Sufyan dari Ali bin Bazimah. Sufyan bertanya kepada Ali :"Apa yang dimaksud dengan kubah? Ali bin Bazimah menjawab " Thabul". Karena ini merupakan tafsir dari perawi maka tafsir kubah dengan thabul lebih didahulukan dengan tafsir lainnya yang mengatakan bahwa makna kubah adalah nard (dadu). Dengan ini terjawablah apa yang disebutkan oleh Imam Az Zabidy didalam syarah Ihya, Ittihaf Sadah Al Muttaqin (hal 592 juzuk 7cet. Darul Kutub Ilmiyah thn 2005) - sebagai dalil bagi orang orang yang membolehkan kubah- "manakala ikhtilaflah para ahli loghat tentang makna kubah, maka gugurlah keabsahan berhujjah dengan hadis-hadis yang menyebutkan kubah".


Autar dan Mi`zaf (gitar dan jenis alat musik bersenar)

HUKUM ALAT MUSIK
`Ud/Kecapi
Para ulama telah sepakat mengharamkan seluruh jenis autar dan mi`zaf (alat musik petik) seperti thanbur,`ud (sejenis kecapi; lute), shanj yang bersenar, rubab, kaminjah (biola), santhir, darbij dan lainnya. Ibnu hajar mengatakan "bila ada orang yang mengatakan bahwa pada masalah ini terjadi khilaf diantara para ulama maka ia telah tersalah dan telah dikuasai oleh hawa nafsunya sehingga membuatnya buta dan tuli"

Diantara para ulama yang menaqal ijmak ulama tentang haramnya alat musik ini adalah Abu Abbas Al Qurthuby, Abu Fattah Salim bin Ayyub Ar Razy. Al Qurthuby mengatakan "Adapun ma`azif, Autar (alat musik petik), dan kubah tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama tentang keharaman mendengarnya dan tidak pernah saya dengar para ulama salaf atau khalaf yang membolehkannya".

HUKUM ALAT MUSIKAda sebagian orang yang menolak ijmak tersebut dengan membawa dalil perkataan Al Mawardi di dalam Al- Hawi bahwa para ulama mengkhususkan `ud (kecapi) dengan hukum mubah dibandingkan dengan autar lainnya karena ia bisa menghilangkan kegundahan dan menambah kegembiraan dan juga bisa menjadi penyembuh dari penyakit. Selain itu ibnu Thahir menghikayahkan ijmak para ulama Madinah dan pendapat Abi Ishaq Asy Syirazy yang menbolehkannya bahkan Ibnu Thahir juga mengatakan bahwa Abu Ishaq Asy Syirazi juga mendengarkan ud (kecapi). Ia ( Ibnu Thahir) berkata "ini adalah yang masyhur dalam mazhabnya (Abu Ishaq) dan tak ada seorang ulama pun yang semasa dengan beliau yang mengingkarinya".
Ibnu Hajar Al Haitamy mengatakan bahwa penolakan ijmak ini adalah suatu yang bathil dengan beberapa alasan"
- Al Mawardy menyebutkan pendapat tersebut didalam kitabnya Al Hawy tak lain karena ingin menolaknya, karena beliau berkata sesudah itu

هذا لا وجه له
(pendapat ini tidak memiliki dasar )

Argumen yang menbolehkannya, karena ia bisa menyembuhkan penyakit, maka hal ini tertolak dengan dua alasan:
  1. Bila memang dibolehkan karena menjadi obat, maka semestinya dikaitkan kebolehannya kepada orang yang sedang sakit yang bisa terbantu hanya dengan alat tersebut.
  2. Bila memang dibolehkan karena dharurah, maka tidak sepatutnya pendapat tersebut disebut sebagai wajh( yang menunjuki pendapat tersebut tidak kuat) tetapi di jazamkan kepada boleh sebagaimana halnya berobat dengan benda najis. Al Hulaimy menjazamkan bahwa alat musik bila bisa bermanfaat menyembuhkan orang sakit maka terhadapnya dibolehkan untuk mendengarnya. Tetapi hal ini harus berdasarkan kesaksian dua orang dokter yang adil bahwa penyakitnya hanya bisa disembuhkan dengan mendengarkan alat musik tersebut.

Adapun ijmak ulama Madinah yang dinaqal oleh Ibnu Thahir, ini merupakan dusta dan khurafat dari Ibnu Thahir bahkan Ibnu thahir termasuk orang yang meriwayatkan hadis – hadis maudhu`. Al Azra`i berkata: " ini adalah kecerobohan Ibnu Thahir. Di Madinah hal ini hanya dilakukan oleh orang – orang bodoh dan bathil.

Demikian juga perkataannya yang mengatakan bahwa Abu Ishaq Asy Syirazy membolehkan dan juga mendengarnya, juga merupakan dusta belaka. Karena Abu Ishaq sendiri didalam kitab Al Muhazzab mengqatha` diharamkan `ud (kecapi).

Abu Qasim Ad Daula`i mengarang satu kitab yang khusus menerangkan keharaman `ud (kecapi) dilengkapi dengan dalil yang panjang.
Adapun hadis hadis yang melarang menggunakan autar dan mi`zaf antara lain:
- Hadis riwayat Bukhary.
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
Artinya:
Akan ada diantara ummatku kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar dan ma`azif.
Imam Syarbainy menyebutkan didalam kitabnya, Mughni Muhtaj: "berkatalah Al Jauhary dan yang lainnya'' Al Ma`azif adalah alat lahwi, termasuk kedalamnya rubab dan jank (chang)".

Dalam qamus mu`jam fuqaha` disebutkan arti ma`azif adalah alat musik yang memiliki senar seperti ud (kecapi), kaman (violin) dan lainnya (musical instruments)

Ibnu Hazm berkata:" hadis ini munqathi`(terputus sanadnya), " bahkan Ibnu Hazm menghukumi maudhu` kepada hadis yang berkenaan dengan alat musik.
Ini merupakan dakwaan yang salah karena Imam Bukhary telah menyebutkan hadis tersebut ditempat yang lain dengan sanad yang muttasil dan para Imam-Imam telah menerangkan bahwa satu hadis yang disebut oleh Imam Bukhary dalam bentuk ta`liq (putus pada awal sanadnya) tetapi beliau sebut dengan sighat jazam maka hadis tersebut shahih dan bisa dijadikan dalil bahkan hadis tersebut juga masyhur dari selain Bukhary Bukhary.

- Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal:

إِنَّ الله عَزَّ وَجَلَّ بَعَثَنِي رَحْمَةً وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ ، وَأَمَرَنِي أَنْ أَمْحَقَ الْمَزَامِيرَ وَالْكَبَارَات وَالْمَعَازِفَ وَالأَوْثَانَ الَّتِي كَانَتْ تُعْبَدُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ

Artinya :
Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi sekalian alam dan memerintahkan aku untuk menghapus mazamir (segala jenis seruling), kabarat (sejenis gitar), ma`azif dan patung yang disembah pada masa jahiliyah.

- Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya, Ibnu Jarir, Ath Thabrany dan Ibnu Mardawaih.

إن إبليس لما نزل إلى الأرض قال يا رب أنزلتنى إلى الأرض وجعلتنى رجيما فاجعل لى بيتا قال الحمام قال فاجعل لى مجلسا قال الأسواق ومجامع الطرق قال فاجعل لى طعاما قال ما لم يذكر اسم الله عليه قال اجعل لى شرابا قال كل مسكر قال اجعل لى مؤذنا قال المزامير قال اجعل لى قرآنا قال الشعر قال اجعل لى كتابا قال الوشم قال اجعل لى حديثا قال الكذب قال اجعل لى رسولا قال الكهانة قال اجعل لى مصايد قال النساء (ابن أبى الدنيا فى مكايد الشيطان ، وابن جرير ، والطبرانى ، وابن مردويه عن أبى أمامة

Artinya:
Ketika diturunkan kebumi Iblis berkata:Ya tuhanku Engkau turunkan aku kebumi dan Engkau jadikan aku terkutuk, maka jadikanlah untukku rumah. Allah menjawab: kamar mandi. Maka jadikan untukku majlis. Allah menjawab: pasar dan tempat berkumpul di jalanan, maka jadikanlah untukku makanan, Allah menjawab: makanan yang tidak disebutkan nama Allah, maka jadikanlah untukku minuman, Allah menjawab: semua minuman yang memabukkan, maka jadikanlah untukku azan, Allah menjawab: Semua seruling, maka jadikanlah untukku qur-an, Allah menjawab: nyanyian. maka jadikanlah untukku kitab, Allah menjawab: tato, Maka jadikanlah untukku hadis, Allah menjawab dusta, jadikanlah untukku rasul, Allah menjawab: dukun, jadikanlah untukku perangkap, Allah menjawab: wanita.

Mizmar (Seruling; jenis alat musik tiup)

Menurut Al Kalaby, orang yang pertama sekali menciptakan seruling adalah Bani Israel. Para ulama telah sepakat (ijmak) mengharamkan seluruh jenis seruling, kecuali yara` yang dinamai juga dengan syabaabah (seruling tanpa mulut) . Menurut pendapat yang kuat ia juga diharamkan sama dengan jenis seruling lainnya. Ibnu Abi Asharun mengatakan : pendapat yang benar adalah haram, bahkan ia (syababah) lebih layak untuk diharamkan dibandingkan seruling lainnya yang telah disepakati keharamannya, karena suaranya lebih kuat dan ia merupakan syiar pemabuk dan orang – orang fasik. Para ulama membolehkan nafir (terompet) yang dipergunakan rombongan jamaah haji.
Kaum Dhahiriyah dan Ibnu Thahir membolehkan seruling. Selain itu mereka juga menolak adanya nash yang melarangnya dan menganggap dhaif hadis-hadis yang berkenaan dengan alat tersebut. Para ulama menolak pernyataan tersebut karena karena keharaman alat musik memiliki dalil yangkuat berupa Al qur-an, Hadis, qiyas (analogi) bahkan ijmak(konsesus)

Imam Nawawy dan Rafii mengatakan: Mizmar `iraqi (seruling yang memiliki mulut dan biasanya dipergunakan bersama autar) dan alat yang dipergunakan bersama autar haram tanpa khilaf"
Imam Jamalul islam Ibnu Bizry mengatakan: "Syababah adalah seruling dan ia haram berdasarkan nas. Dan wajiblah mengingkarinya dan tidak diperbolehkan mendegarnya"
Al Qurthuby berkata: ia lebih tinggi dari seruling (lainnya), semua alasan diharamkan seruling juga ada padanya bahkan lebih, maka ia lebih aula (utama)untuk diharamkan".
Dasar terjadi khilaf pada syababah adalah sebuah hadis dari Nafi`yang diriwayatkan oleh Abi Daud:

عن نافع أنه قال: (سمع ابن عمر رضي الله عنهما مزماراً, قال: فوضع أصبعيه على أذنيه، ونأى عن الطريق، وقال لي: يا نافع ! هل تسمع شيئاً؟ قال: فقلت: لا، قال: فرفع أصبعيه من أذنيه، وقال: كنت مع النبي صلى الله عليه وسلم فسمع مثل هذا فصنع مثل هذا.

Artinya:
Dari Naf`,ia berkata: Ibnu Umar mendengar mizmar. Ia(Nafi`) berkata: maka ia (Ibnu Umar) meletakkan dua jarinya pada telinganya dan berpaling dari jalan. Ia (Ibnu Umar) berkata kepadaku: apakah masih kamu dengar sesuatu? Aku menjawab: tidak. Maka ia (ibnu Umar) mengangkat dua jarinya dari dua telinganya dan berkata: adalah aku bersama Nabi saw, maka beliau mendengar suara seperti ini, maka beliau berbuat seperti ini (menutup telinga).


Para ulama yang membolehkannya, berpegang kepada tindakan Nabi SAW yang tidak menganjurkan Ibnu Umar untuk menutup telinganya dan tidak melarang pengembala yang membunyikan seruling tersebut. Maka dapatlah dipahami bahwa Nabi saw berbuat demikian karena membencinya atau karena beliau sedang dalam keadaan berzikir.

Alasan tersebut ditolak oleh para ulama lainnya dengan beberapa alasan:

  1. Rasulullah tidak memerintahkan Ibnu Umar untuk mengikuti beliau karena beliau telah mengetahi bahwa perbuatan beliau menjadi dalil maka pada saat beliau berbuat sesuatu pasti akan langsung diikuti oleh para shahabat.
  2. Yang dilarang adalah istima`(mendengar secara sengaja), sedangkan bila terdengar tanpa kasad maka hal ini tidak mengapa. Maka Ibnu Umar pada ketika itu hanya mendengar tanpa adanya perhatian dan qasad.

Kesimpulannya seluruh jenis seluring diharamkan walaupun yang terbuat dari jenis tanaman kecuali terompet yang dipergunakan para rombongan jamaah haji.

Shanj/ Shuffaqatain (Cymbals)

HUKUM ALAT MUSIK
Shanj/Cymbals
Dinamakan juga dengan Shuffaqatain (Cymbals), yaitu alat musik yang berbentuk bulat lingkaran, cara memainkanya dengan memukulkan salah satunya kepada yang lain.

Menurut pendapat yang kaut sebaimana disebutkan oleh Syaikhani, Qadhi Husain, Abu Ishaq Asy Syirazy dan lain-lain haram karena ia termasuk kebiasaan kaum mukhannisin (waria). Sedangkan Imam Haramain masih mentawaquf hukum mempergunakannya dengan alasan tidak ada hadis yang menerangkan hal tersebut. Hal ini dijawab oleh ulama lain bahwa ia diqiyaskan kepada thabbul kubbah.

Demikian juga diharamkan Shaj yaitu dua bilah kayu yang dipukulkan satu sama lainnya.


Adapun ayat Al qur-an yang menjadi pegangan para ulama dalam mengharamkan beberapa alat musik yaitu :

1. surat Al Luqman ayat 5
ومن الناس من يشترى لهو الحديث
Ibnu Abbas dan Hasan menafsirkan ayat tersebut dengan Al Malahy (alat musik)

2. surat Al Isra ayat 63
واستفزز من استطعت منهم بصوتك
Al Mujahid menafsirkan ayat tersebut dengan ghina`(nyanyian), dan mazamir (seruling).


Dari beberapa urain diatas dapatlah kita pahami beberapa alasan diharamkan beberapa alat musik antara lain karena ;
- Mendorong untuk melakukan hal hal yang haram seperti minum minuman keras, berjoget
- Karena merupakan adat kebiasaan dan syiar orang-orang fasiq maka menggunakannya akan menjadikan seseorang serupa dengan mereka.

Hal tersebut bisa kita lihat pada zaman ini, musik mampu mendorong seseorang untuk bergojet ria dan mengkonsumsi narkoba, selain itu alat musik sangat dekat dengan kefasikan. Para anggota band sangat identik dengan narkoba dan pergaulan bebas, kenyakan badan mereka dipenuhi oleh tato. Karena itu menggunakan alat musik akan menyebabkan seseorang tasyabuh (serupa) dengan kaum fasiq, karena alasan inilah, sehingga dilaranglah alat musik.

Ada juga sebagian orang yang mengatakan bahwa sebagian kaum shufi membolehkan mendengar alat musik karena bisa menambah semangat untuk berzikir, ini merupakan kesesatan mereka.

Maka dapatlah kita perhatikan bahwa diantara alat musik ada yang sudah disepakati hukumnya dan ada pula yang masih diperselisihkan. Adapun yang sudah disepakati keharamannya antara lain:
- Authar (jenis alat musik petik)
- Mizmar (jenis alat musik tiuup) kecuali Syababah
- Thabul Kubbah (sejenis dendrang)

Yang ijmak kepada boleh antara lain:
- Thabul (alat musik pukul) selain kubah, termasuk kedalamnya beduk, gendrang perang, rombongan jamaah haji dll

Adapun yang khilaf tetapi menurut yang kuat dibolehkan adalah Duff(rebana)

Yang khilaf tetapi yang kuat tidak dibolehkan antara lain:
- Syababah
- Shanj tanpa senar.

Adapun alat musik modern bisa kita ketahui hukumnya dengan membandingkan dengan alat- alat musik yang telah disebutkan oleh para ulama dahulu. Bila pada alat tersebut terdapat ilat diharamkan alat musik yang lain maka sudah pasti bisa kita hukumi juga haram.

Tulisan salah satu anggota LBM MUDI Mesra. Tulisan ini sudah pernah di post sebelumnya di blog pribadinya dan FB

Referensi
1.Ibnu Hajar Al Haitamy, Kaffur ria`. cetakan Maktabah Al Hakikat. Tahun 2005
2..............................Tuhfahtul Muhtaj. CD Maktabah Syamilah
3. Az Zabidy, Ittihaf Sadatul Muttaqin, cetakan Darul Kutub Ilmiah tahun
4. Sulaiman Jamal, Hasyiah Jamal ala syarah Manhaj, CD Maktabah Syamilah
5. Al Qalyuby, Hasyiah Al Qulyuby, cetakan Darul Fikri th 2005.
6. Ibnu Hajar Al Asqalany, Fathul Bary CD Maktabah Syamilah
7. Ramly, Nihayahtul Muhtaj, CD Maktabah Syamilah
8. Khatib Syarbainy, Mughby Muhtaj, CD Maktabah Syamilah
9. Syekh Sulaiman Bujairimy, Hasyiah Bujairimi, CD Maktabah Syamilah



Download Kitab Kaff ar-Ri`a` `an Muharramati al-Lahwi was Sima`

 Kitab Kaff ar-Ri`a` `an Muharramati al-Lahwi was Sima`Nama Imam Ibnu Hajar al-Haitamy (899-974 H) yang nama lengkap beliau Syeikhul Islam Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitamy, tentu saja tidak asing lagi dikalangan para pelajar Mazhab Syafii, beliau bersama Syamsuddin Muhammad bin Abi Abbas Ahmad bin Hamzah Syihabuddin Ramly yang lebih dikenal dengan Imam Ramli Saghir (w.1004 H), merupakan rujukan dan pegangan utama dari kalangan ulama muta`khirin Mazhab Syafii. Hampir semua kitab fiqh yang dikarang oleh ulama Mazhab Syafii setelah masa keduanya merujuk kepada keduanya, terutama kepada Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar dan Nihayatul Muhtaj karangan Imam Ramli. Kitab-kitab Mazhab Safii seperti Hasyiah I`anatuth Thalibin, Hasyiah Bujairimy, Hasyiah al-Bajury, Bughyatul Mustarsyidin, Hasyiah Syarqawy, Hasyiah at-Tarmasi dll tidak terlepas dari pandangan dua ulama besar tersebut.

Imam Ibnu Hajar al-Haitamy memiliki banyak karangan dalam berbagai bidang ilmu. Salah satu karya beliau adalah kitab Kaff ar-Ri`a` `an Muharramati al-Lahwi was sima`. Dari namanya saja sudah dapat diketahui apa isi kitab ini. Yaitu membahas masalah mendengar lagu dan hukum alat music. Kitab ini terdiri dari dua bab. Pada bab pertama, Imam Ibnu Hajar al-Haitamy menerangkan hukum mendengarkan nyanyian baik disertai alat music atau tidak. pada bab kedua, Imam Ibnu Hajar menerangkan hukum alat music yang ada pada masa beliau seperti gitar, seruling, kecapi, rebana, simbal dll. Selain itu, pada bab kedua juga diterangkan hukum beberapa permainan seperti catur, gulat dll.

Kesimpulannya, kitab ini sangat menarik untuk dikaji oleh para pelajar Mazhab Syafii, apalagi kitab ini merupakan karangan seorang Imam yang besar yang dikenal sebagai seoarang ahli tahqiq dan tadqiq. Karena itu, demi mengharap barakah dari mushannif, maka kami ikut berpartisipasi dalam menyebarkan kitab tersebut. Nah bagi yang berminat dengan kitab tersebut silahkan download dibawah ini dengan dua pilihan file yang kami miliki, format PDF dan box yang merupakan format kitab dalam sofware Maktabah Syamilah.

كف الرعاع عن محرمات اللهو والسماع (PDF)

كف الرعاع عن محرمات اللهو والسماع (BOX)


Kewajiban Memahami Rukun Khutbah Jum`at

Kewajiban Memahami Rukun Khutbah Jum`atShalat jumat merupakan salah satu kewajiban yang dipundakkan terhadap kaum laki-laki. Salah satu ketentuan dalam shalat jumat adalah adanya khutbah jumat. Khutbah jumat harus didengar oleh sekurang-kurangnya 40 jamaah ahli jumat. Salah satu ketentuan khutbah jumat adalah harus dalam bahasa arab walaupun para jamaah tidak mengerti bahasa arab sama sekali. Ada sebuah persepsi bahwa para jamaah jumat disyaratkan memahami rukun khutbah atau setidaknya mengetahui yang mana saja yang termasuk dalam rukun khutbah ketika dibaca oleh khatib walaupun mereka tidak mengerti arti dari rukun yang tersebut minimal ia mengetahu bahwa yang dibacakan oleh khatib sekarang adalah hamd, atau shalawat dan lain-lain. Hal ini tentu saja menjadi satu problem, mengingat kebanyakan masyarakat kita yang awam tidak mengerti dan tidak tahu yang mana saja yang termasuk dalam rukun khutbah.

Pertanyaan:
Bagaimanakah sebenarnya persyaratan ahli jumat, apakah disyaratkan untuk sah shalat jumat para jamaah harus mampu memahami khutbah dan mampu membedakan mana saja yang termasuk dalam rukun dan sunat pada khutbah yang dibawakan oleh khatib?

Jawab:
Bagi para jama’ah yang merupakan masyarakat awam tidak disyaratkan harus mampu membedakan rukun dan sunat tetapi hanya disyaratkan mendengarkan khutbah yang dibaca oleh khatib (secara bil fi`ly menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy ra dan secara bil quwwah menurut Imam Jamal Ramly ra) meskipun mereka tidak mengetahui yang mana rukun dan sunat dan juga tidak mengetahui apakah yang sedang dibaca oleh khatib tersebut hamd/puji, shalawat, wasiat, ayat ataupun doa.

Sedangkan untuk selain kalangan awam tidak dibenarkan baginya tidak mengetahui mana yang rukun dan yang sunat.

Penjabaran
Salah satu khususiyat (keistimewaan) shalat jum`at adalah diwajibkan dua khutbah jum`at. Rukun khutbah jum`at ada 5:
1. Hamd/pujian.
2. Shalawat
3. Ayat al-Quran.
4. Washiat taqwa.
5. Do`a bagi kaum muslimin.

Kelima rukun dua rukun khutbah juma`t tersebut wajib dalam bahasa arab dan didengar oleh minimal 40 jamaah jum`at. Hanya saja terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar dengan Imam Ramli tentang ketentuan mendengar dua rukun khutbah. Menurut Imam Ibnu Hajar harus bil fi`ly artinya para jamaah harus nyata mendengarnya. Sedangkan menurut Imam Ramli dipadai dengan mendengar bil quwwah artinya artinya mungkin untuk di dengar kalau seandainya tidak ada mani`/penghalang untuk mendengar dua rukun khutbah. Maka dalam kasus khutbah jumat ditengah suara bising apabila bising tersebut menegah para jamaah untuk mendengar dua rukun khutbah maka menurut Imam Ibnu Hajar tidak sah sedangkan menurut Imam Ramli sah.

Masalah lain selain mendengar dua rukun khutbah apakah para jamaah disyaratkan mampu memahami isi khutbah? Dan membedakan mana saja yang termasuk dalam rukun dua khutbah atau tidak disyaratkan sama sekali.

Pada dasarnya ketika syara` (Allah SWT) mewajibkan sesuatu kepada mukallaf maka si mukhatab haruslah orang yang mampu mengetahui bahwa ia sedang ditaklif oleh syara`. Atas dasar inilah sehingga orang-orang yang tidak mungkin mengetahui dirinya sedang ditaklif seperti orang gila, orang lupa(sahy), orang pingsan dan anak-anak maka tidak termasuk dalam mukhatab dengan amar/perintah syara`. Sehingga terhadap mereka tidak dibebankan hukum syar`y.

Selain itu si mukhatab harus juga mengetahui apa yang dikhitabkan terhadapnya (mukhatab bih) agar ia bisa melakukannya dengan maksud menjunjung khitab/perintah syara` (imtitsal). Atas dasar ini maka setiap mukallaf harus mengetahui mana yang wajib atau sunat dari setiap ibadah yang ia lakukan. Imam Jamal ar-Ramli dalam kitab Nihayah pada ketika mensyarah kalam Imam an-Nawawi pada syarat-syarat wudhuk menerangkan alasan mengapa mengetahui wudhuk adalah wajib, bagaimana kaifiyat wudhuk, serta membedakan antara wajib dan sunat tidak termasuk dalam hitungan syarat wuduk. Imam Ramli menjelaskan hal dekimian karena beberapa syarat tersebut tidak hanya terkhusus pada wudhuk saja namun juga berlaku pada seluruh ibadah. Kemudian Imam Jamal Ramli mengatakan:

.فلو جهل كون أصل الصلاة أو صلاته التي شرع فيها أو الوضوء أو الطواف أو الصوم أو نحو ذلك فرضا أو علم أن فيها فرائض وسننا ولم يميز بينهما لم يصح ما فعله لتركه معرفة التمييز المخاطب بها

“kalau tidak diketahui shalat atau shalat yang sedang dikerjakan, atau wudhuk, thawaf, puasa atau ibadah lain adalah fardhu atau ia mengetahui bahwa dalam shalat tersebut ada yang fardhu dan ada yang sunat namun ia tidak mempu membedakan diantara keduanya maka tidak sah ibadah yang ia kerjakan karena ia tidak mengetahui mukhatab bih.”< Namun, walaupun demikian dalam menerangkan syarat-syarat shalat para ulama menerima fatwa Imam Ghazali pada bab shalat yang membedakan antara kalangan awam dengan ilmuan tentang persyaratan harus mampu membedakan mana yang wajib dan yang sunat dalam shalat dengan ketentuan tidak sampai meniatkan wajib menjadi sunat. Fatwa Imam Ghazali ini juga diberlukan pada bab selain shalat, seperti khutbah jum`at, maka pada khutbah jum`at juga berlaku rincian antara kalangan alim dan awam. Terhadap kalangan alim diwajibkan untuk mengetahui hal-hal yang wajib dan sunat sedangkan kalangan awam dimaafkan untuk tidak mampu membedakan antara wajib dan sunat tapi dengan persyaratan tidak sampai meyakini sunat terhadap perbuatan wajib. Referensi:

1. Bujairimy `ala khatib jilid 2 hal 202

قوله: (فعلم) أي من اشتراط الإسماع لأنه لا يتحقق إلا بالسماع. اهـ. حلبي.
قوله: (وإن لم يفهموا معناهما) مثل القوم الخطيب لا يشترط فيه معرفة أركانهما، كمن يؤم القوم ولا يعرف معنى الفاتحة خلافا لما بحثه الزركشي من اشتراط ذلك في حقه اهـ شرح م ر أج.

2. Mughny al-Muhtaj jilid hal 429 Cet. Dar Makrifah thn 1997

 و ) الخامس ( إسماع أربعين كاملين ) أي أن يرفع صوته بأركانها بحيث يسمعها عدد من تنعقد بهم الجمعة ؛ لأن مقصودها وعظهم وهو لا يحصل إلا بذلك ، فعلم أنه يشترط الإسماع والسماع وإن لم يفهموا معناها كما مر كالعامي يقرأ الفاتحة في الصلاة ولا يفهم معناها فلا يكفي الإسرار كالأذان ولا إسماع دون من تنعقد بهم الجمعة
فقوله : كغيره أربعين : أي بالإمام فلو كانوا صما أو بعضهم لم تصح كبعدهم وقضية كلامهم أنه يشترط في الخطيب إذا كان من الأربعين أن يسمع نفسه حتى لو كان أصم لم يكف وهو كما قال الإسنوي بعيد بل لا معنى له لأن الشخص يعرف ما يقول وإن لم يسمعه ولا معنى لأمره بالإنصات لنفسه ولا يشترط أن يعرف الخطيب معنى أركان الخطبة خلافا للزركشي كمن يؤم القوم ولا يعرف معنى الفاتحة

3. Hasyiah Syarwany jilid 2 hal 450 Cet. Dar Firk, Hasyiah Syibra Malasy `ala Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal 317 Cet. Dar Kutub Ilmiyah dan Hasyiah Jamal jilid 2 hal 18 Cet. Dar

 فرع ) هل يشترط في الخطبة تمييز فروضها من سننها فيه ما في الصلاة في العامي وغيره من التفصيل المقرر عن فتاوى الغزالي وغيره سم على المنهج .

4. Bughyatul Mustarsyidin hal 82 Cet. Haramain

مسألة : ك) : لا يشترط فهم أركان الخطبة للمستمعين بل ولا للخطيب نفسه خلافاً للقاضي ، كما لا يشترط فهم أركان الصلاة ولا تمييز فروضها من سننها اهـ.
قلت : بل ولا يشترط معرفة الخطيب أركان الخطبة من سننها كما في فتاوى (م ر) كالصلاة ، لكن يشترط إسماع الأربعين أركان الخطبة في آن واحد فيما يظهر ، حتى لو سمع بعض الأربعين بعضها وانصرف وجاء غيرهم فأعاد عليهم لم يكف ، قاله ع ش.

5. Fathul Jawad Syarah Al Irsyad jilid 1 hal 304 Cet. Dar Kutub Ilmiyah

فالشرط الاسماع والسماع بالفعل وان لم يفهموه وذكر الاسماع ايضا لازم للسماع بالفعل والخطيب يفهم ما يقول فيكفي سماع تسعة وثلاثين غيره ولا يشرط معرفة الخطيب معنى اركانهما خلافا للزركاشى

6. Syarah Bafadhal hal 64 cet. Haramain

وفائدة الخطبة بها وان لم يعرفها القوم العلم بالوعظ من حيث الجملة اذ الشرط سماعها لا فهم معناها.....

7. Asnal Mathalib jilid 1 hal 257 Cet.Dar Kitab Islamy

وأجاب القاضي عن سؤال ما فائدة الخطبة بالعربية إذا لم يعرفها القوم بأن فائدتها العلم بالوعظ من حيث الجملة ويوافقه ما سيأتي فيما إذا سمعوا الخطبة ولم يفهموا معناها أنها تصح

8. Hasyiah Syarwani jilid 2 hal 491 cet. Dar Fikr

(يفهم ما يقول) لعل الاولى يعلم ما يقول أي الالفاظ لما تقدم أنه لا يشترط فهمه خلافا للقاضي سم وقوله الاولى يعلم إلخ أي كما في النهاية والمغني

9. Hasyiah Syarwany `ala Tuhfatul Muhtaj jilid 2 hal 109 Cet. Dar Firk

قوله: (ولا يرد الخ) عبارة النهاية وإنما لم يعد من شروطها أيضا الاسلام والتمييز والعلم بفرضيتها وبكيفيتها وتمييز فرائضها من سننها لانها غير مختصة بالصلاة فلو جهل كون أصل الصلاة أو صلاته التي شرع فيها أو الوضوء أو الطواف أو الصوم أو نحو ذلك فرضا أو علم أن فيها فرائض وسننا ولم يميز بينهما لم يصح ما فعله لتركه معرفة التمييز المخاطب به وأفتى حجة الاسلام الغزالي بأن من لم يميز من العامة فرض الصلاة من سننها صحت صلاته أي وسائر عباداته بشرط أن لا يقصد بفرض نفلا وكلام المصنف في مجموعه يشعر برجحانه والمراد بالعامي من لم يحصل من الفقه شيئا يهتدي به إلى الباقي ويستفاد من كلامه أي المجموع أن المراد به هنا من لم يميز فرائض صلاته من سننها وأن العالم من يميز ذلك وأنه لا يغتفر في حقه ما يغتفر في حق العامي اهــــ، وكذا في المغني إلا قوله: والمراد الخ

10. Nihayah Muhtaj jilid 1 hal 155 Cet. Dar Kutub Ilmiyah

وأن يعرف كيفيته بأن لا يقصد بفرض معين نفلا
 قوله : وأن يعرف كيفيته ) أي الوضوء ، ويأتي هذا الشرط في كل ما يعتبر فيه النية وقصره على الوضوء لكون الكلام فيه ( قوله : بأن لا يقصد إلخ ) هذا يشكل بصحة الاقتداء بالمخالف ، فإن ما يأتي به مراعيا فيه للخلاف كالبسملة في الفاتحة يعتقد سنيته .وأجاب الشارح عنه في باب صلاة الجماعة بما حاصله أنه اغتفر ذلك محافظة على كثرة الجماعة فليراجع ثم ، وظاهره ولو غير عامي ، لكن قيد في نظيره من الصلاة بالعامي .
وعبارته في باب شروط الصلاة : وأفتى حجة الإسلام الغزالي بأن من لم يميز من العامة فرض الصلاة من سننها صحت صلاته : أي وسائر عباداته بشرط أن لا يقصد بفرض نفلا ، وكلام المصنف في مجموعه يشعر برجحانه ، والمراد بعامي من لم يحصل من الفقه شيئا يهتدي به إلى الباقي ، ويستفاد من كلامه أن المراد هنا من لم يميز فرائض صلاته من سننها ، وأن العالم من يميز ذلك ا هـ

11. Nihayah Muhtaj jilid 2 hal 4 Cet. Dar Kutub Ilmiyah

وإنما لم يعد من شروطها أيضا الإسلام والتمييز والعلم بفرضيتها وبكيفيتها وتمييز فرائضها من سننها لأنها غير مختصة بالصلاة .فلو جهل كون أصل الصلاة أو صلاته التي شرع فيها أو الوضوء أو الطواف أو الصوم أو نحو ذلك فرضا أو علم أن فيها فرائض وسننا ولم يميز بينهما لم يصح ما فعله لتركه معرفة التمييز المخاطب بها .
وأفتى حجة الإسلام الغزالي بأن من لم يميز من العامة فرض الصلاة من سننها صحت صلاته أي وسائر عباداته بشرط أن لا يقصد بفرض نفلا وكلام المصنف في مجموعه يشعر برجحانه والمراد بالعامي من لم يحصل من الفقه شيئا يهتدي به إلى الباقي ويستفاد من كلامه أن المراد به هنا من لم يميز فرائض صلاته من سننها وأن العالم من يميز ذلك ، وأنه لا يغتفر في حقه ما يغتفر في حق العامي ؛ وقد علم أيضا أن من اعتقد فرضية جميع أفعالها تصح صلاته لأنه ليس فيه أكثر من أدائه سنة باعتقاد الفرض وهو غير ضار .

12. Ghayatul Bayan hal 98 Cet. Dar Makrifah

و ثالثها التمييز - وفي هذا البيت من أنواع البديع الجناس التام المماثل وهو أن يتفق اللفظان من نوع واحد في أنواع الحروف وأعدادها وهيئاتها وترتيبها ومنه قوله تعالى ويوم تقوم الساعة يقسم المجرمون ما لبثوا غير ساعة - للفرض من نفل لمن يشتغل بالفقه وهو غير العامي فلو اعتقد أن جميع أفعالها سنة أو بعضها فرض وبعضها سنة ولم يميز لم تصح صلاته قطعا والفرض لا ينوى به التنفل اي من العامي الذي لا يميز فرائض الصلاة من سننها بأن يعتقد أن جميع افعالها فرض أو بعضها فرض وبعضها سنة ولم يقصد التنفل بما هو فرض فقد قال الغزالي في فتاويه العامي الذي لا يميز فرائض صلاته من سننها تصح صلاته بشرط أن لا يقصد التنفل بما هو فرض فإن نوى النفل بفرض لم يحتسب به فلو غفل عن التفصيل فنيه الجملة في الابتداء كافية حكاه عنه النووي في الروضة وغيرها وقال وهو الصحيح الذي يقتضيه ظاهرا أحوال الصحابة فمن بعدهم ولم ينقل انه عليه الصلاة والسلام ألزم الأعراب ذلك ولا أمر بإعادة صلاة من لم يعلم ذلك

13. Ghayatut Talkhish hal 89 Cet. Haramain

مسألة): تصح صلاة العامي الذي لا يميز فرائض الصلاة من سننها بشرط أن لا يقصد التنفل بما هو فرض، كما صححه في المجموع عن فتاوى الغزالي، نعم هو مأثور بترك التعلم، إذ معرفة ذلك من فروض الأعيان، قلت: وافقه (م ر) وجزم ابن حجر بالصحة حتى من العالم

14. Fatawy Imam Ghazaly hal 27 cet. ISTAC Kuala Lumpur Tahun 1996

مسألة : اذا لم يعرف فرائض الصلاة من سننها فان كانت صلاته تصح فقد يؤدى فرضا بنية النفل فان كان ذلك يصير كما اذا جلس فى الرابعة فظن انها الجلسة الاولى فما الحكم فيه اذا سلم من اثنين فطن انه سلم من اربع ثم صلى اثنتين معتقدا انهما سنة ؟
الجواب : العامي الذي لا يميز بين الفرائض و السنن تصح صلاته ولكن بشرط أن ينفك عن قصد التنفل بما هو فرض فإن قصد عند الفرض ان يتنفل به لم يعتد به وان غفل عن التفصيل فنيه الجملة في الابتداء كافية للاعتداد

15. Fatawa Imam Ramli jilid 1 hal 139 ditepi Kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah Ibnu Hajar al-Haitamy Cet. Dar Fikr

 سئل ) ما المراد بقولهم في شروط الصلاة يشترط العلم بفرائضها وسنتها إلا في حق غير العامي وما المراد بالعامي ؟
 فأجاب ) بأنهم قد قالوا : إن من شروط الصلاة العلم بكيفيتها فلو اعتقد كل أفعالها فرضا فالأصح الصحة أو سنة فلا أو البعض ولم يميزه فكذا عند القاضي حسين وغيره وكلام النووي في تحقيقه يشعر برجحانه لكن قطع القفال بالصحة للعامي وأفتى به الغزالي بشرط أن لا يقصد التنفل بفرض ورجحه النووي في مجموعه وقال في الزوائد : إنه الظاهر ا هـ والمراد بالعامي من لم يحصل من الفقه شيئا يهتدي به إلى الباقي ولهذا قال حجة الإسلام الرملي في فتاويه : العامي الذي لا يميز فرائض الصلاة من سننها فتصح صلاته بشرط أن لا يقصد التنفل بما هو فرض فإن نوى التنفل به لم يعتد به فإذا غفل عن التفصيل فنية الجملة في الابتداء كافية ا هـ فأفاد كلامه أن العامي هو الذي لا يميز فرائض الصلاة من سننها وأن العالم هو الذي يميزها منها وأنه لا يغتفر في حقه ما اغتفر في حق العامي


Lafadh salam pada shalat janazah

shalat janazahTatacara pelaksanaan shalat janazaah sedikit berbeda dengan shalat lainnya. Shalat janazah dilakukan tanpa ruku` dan sujud. Namun layaknya seperti shalat biasanya tetap dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Namun pada lafadh salam ada yang membedakan salam shalat janazah dengan salam shalat biasa. Lafadh salam pada shalat biasa tanpa lafadh wa baratuh, sedangkan untuk lafadh salam pada shalat janazah ada yang menambahkan membaca wa barakatuh.

Pertanyaan:
Bagaimanakah tata cara pengucapan salam pada shalat janazah yang sempurna, apakah disunatkan menambahkan wa barakatuh atau tidak?

Jawab:
Ada dua pendapat para ulama dalam hal ini:
1. Bacaan salam yang sempuran sama dengan salam pada shalat biasa. Yang disunatkan dan sempurna sama seperti shalat biasa lainnya, yaitu :
السلام عليكم ورحمة الله
As salam alaikum warahmatullhi.

tanpa penambahan lafadh wa baratuh, ini adalah pendapat yang mu`tamad (kuat).

2. Menurut pendapat dhaif disunatkan menambahkan wa abaratuh

Referensi:
1. Hasyiah al-Bajuri jlid 1 hal 158 Cet. Haramain
2. Hasyiah al-Bajuri jlid 1 hal 158 Cet. Haramain
3. Tuhfatul Muhtaj dan Hasyiah Syarwani dan `Ubady jilid 2 hal 92 Dar Fikr
4. Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal 473 Cet. Dar Fikr

Nash Kitab Mu`tabarah.
1. Hasyiah al-Bajuri jlid 1 hal 158 Cet. Haramain

(قوله وأكمله السلام عليكم ورحمة الله) ولا يندب هنا وبركاته على المعتمد وكذا فى صلاة الجنازة على المعتمد أيضا وحكى السبكى فيها ثلاثة اوجه اشهرها لاتسن ثانيها تسن ثالثها تسن فى الاولى دون الثانية

2. Hasyiah al-Bajuri jlid 1 hal 158 Cet. Haramain
الرابعة ) والسلام هنا كالسلام فى صلاة غير الجنازة فى كيفيته وعدده لكن يستحب زيادة ورحمة الله وبركاته
قوله لكن يستحب زيادة ورحمة الله وبركاته) استدراك على الكيفية وظاهره ان قوله ورحمة الله لا يسن في غير صلاة الجنازة وليس كذالك بل يسن فيها وفى غيرها وما أفاده من سن وبركاته هنا ضعيف والمعتمد أنها لا تسن هنا كما لا تسن فى سائر الصلوات

3. Tuhfatul Muhtaj dan Hasyiah Syarwani dan `Ubady jilid 2 hal 92 Dar Fikr

وأكمله السلام) ويسن أن لا يمد لفظه للخبر الصحيح فيه (عليكم ورحمة الله) لأنه المأثور دون وبركاته إلا في الجنازة واعترض بأن فيه أحاديث صحيحة
حاشية الشرواني على التحفة
قوله إلا في الجنازة) كذا قيل ويؤخذ من قول المصنف في الجنائز كغيرها عدم زيادة وبركاته فيها أيضا سم على حج اهـ ع ش عبارة البصري قوله دون وبركاته كذا في النهاية والمغني ولم يستثنيا صلاة الجنازة بل صرحا في بابها بعدم الاستثناء اهـ.(قوله بأن فيه) أي في نقل وبركاته

حاشية ابن قاسم العبادي على التحفة
قوله إلا في الجنازة) كذا قيل ويؤخذ من قول المصنف في الجنائز كغيرها عدم زيادة وبركاته فيها أيضا

4. Nihayatul Muhtaj jilid 2 hal 473 Cet. Dar Fikr

الثالث) من الأركان (السلام) بعد تمام تكبيراتها وقدمه ذكرا مع تأخره رتبة اقتفاء بالأصحاب في تقديمهم ما يقل عليه الكلام تقريبا على الأفهام وهو فيها (كغيرها) أي كسلام غيرها من الصلوات في كيفيته وتعدده، ويؤخذ منه عدم استحباب زيادة: وبركاته، وهو كذلك خلافا لمن استحبها، وأنه يلتفت في السلام ولا يقتصر على تسليمة واحدة يجعلها تلقاء وجهه، وإن قال في المجموع إنه الأشهر.
قوله: ويؤخذ منه عدم استحباب زيادة: وبركاته) أي ولو على القبر أو على غائب

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja