Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Download Kitab Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islamy/ السلفية مرحلة زمنية مباركة لا مذهب اسلاميkarangan Syeikh Raadhan al-Buthy

Salah satu kitab al-Marhum asy-Syahid Syeikh Ramadhan al-Buthy adalah Kitab Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islamy/ السلفية مرحلة زمنية مباركة لا مذهب اسلامي. Kitab ini menjadi hantaman bagi kaum yang saat ini sering mendengungkan diri mereka sebagai pengikut manhaj salaf. Mungkin karena inilah, membuat kaum wahaby salafi sangat membenci beliau, dan menulis kata-kata yang benci untuk di dengar ketika Syeikh Ramadhan Buthy syahid. Cacian dari mereka keluar dari kaum salafi yang hanya ikut-ikutan sampai ke tokoh-tokoh utama mereka, seperti yang di lakukan oleh Abdur Rahman as-Sudais, Imam Mesjid Haram sebagaimana di tuliskan dalam sebuah website Arab.
Bagi yang ingin memiliki file pdf kitab ini silahkan DOWNLOAD DI SINI.

syarat, rukun dan sunat-sunat Wudhu'

Wudhuk, persyaratan, rukun dan sunat-sunatnya.
Wudhu' secara bahasa bermakna hasan (kebagusan) sedangkan secara istilah syara` adalah memakai air pada anggota tertentu dengan beberapa ketentuan tertentu. Tujuan dari wudhuk adalah untuk menghilangkan hadats kecil yang merupakan persyaratan pada beberapa ibadat seperti shalat, thawaf dan menyentuh al-quran.

Syarat Wudhuk sama dengan syarat pada mandi wajib yaitu:

1.Menggunakan air muthlaq
Air mutlak merupakan satu persyarat dalam setiap bersuci. Maksud air mutlaq adalah yang belum dipakai (ghairu mustakmal) untuk menghilangkan hadas dan najis. Ini berlaku bila air tersebut tidak mencapai ukuran dua qullah (216 liter, penjelasan kadar air dua qullah) sedangkan air yang telah mencapai dua kulah maka kemutlakan air tersebut tidak akan hilang kecuali terjadi perubahan pada rasa, warna atau bau karena bercampur dengan benda yang suci. Air yang tidak mencapai dua qullah akan dihukumi najis bila terkena najis walaupun sedikit dan tidak mengalami perubahan, sedangkan air yang mencapai dua kulan hanya akan dihukumi bernajis bila terjadi perubahan pada salah satu dari tiga sifat air tersebut.

2. Mengalirkan air pada anggota wudhuk
Dalam membasahi anggota wudhuk disyaratkan harus mengalirkan air, tidak boleh hanya dengan mengusapkan air saja kecuali pada membasuh kepala

3. Tidak ada sesuatu pada anggota wudhuk yang bisa mengubah sifat air sehingga tidak bisa lagi dikatakan  sebagai air mutlaq
4. Tidak ada sesuatu yang menjadi penghalang air pada anggota wudhuk misalnya cat yang telah kering
5. Bagi orang yang selalu dalam keadaan berhadats (daim hadats, seperti penderita beser) disyaratkan untuk mengambil wudhuk ketika telah masuk waktu shalat
perlu digaris bawahi bagi orang yang selalu berhadats, satu wudhuk hanya untuk satu shalat fardhu sedangkan shalat sunnat, maka boleh lebih dari satu.

Rukun Wudhuk.
Fardhu /rukun Wudhuk 6 :
1. Niat ketika membasuh wajah
Niat untuk wudhuk boleh dengan niat sebagai fardhu wudhuk, niat untuk menghilangkan hadats ataupun dengan niat berwudhuk untuk membolehkan shalat atau hal-hal yang membutuhkan wudhuk seperti menyentuh al-quran, thawaf dll. 

2. Membasuh permukaan wajah.
Batasan wajah yang wajib dibasuh adalah dari bagian atas hingga ke tempat yang biasanya tumbuh rambut, bagian bawah hingga di bawah penghujung tulang dagu, sedangkan ukuran lebar hingga ke telinga. 
3. Mencuci kedua tangan hingga siku-siku.
4. Membasuh sebagian kepala.
5. Mencuci kedua kaki hingga tumit.
6. Tertib, yaitu mendahulukan yang lebih awal seperti urutan yang tersebut diatas.

Sunnat-sunat dalam berwudhuk :
Setiap amalan ibadah ada beberapa hal-hal yang sunat dilaksanakan sebagai penyempurna bagi ibadat tersebut. Demikian juga dalam wudhuk, ada beberapa hal yang sunat dilakukan antara lain:

1. Membaca Bismillah pada awal wudhuk
2. Mencuci kedua tangan hingga pergelangan
3. Gosok gigi
4. Berkumur-kumur
5. Istinsyaq (memasukkan air ke hidung kemudian mengeluarkannya)
6. Membasuh seluruh bagian kepala
7. Membasuh kedua telinga setelah membasuh kepala
8. Menggosok tangan pada anggota wudhuk setelah mengalirkan air
9. Menyela-nyela jenggot yang lebat
10. Menyela-nyela jari jemari tangan dan kaki
11. Memperlebar basuhan pada muka hingga mencapai permukaan kepala,telinga dan leher (ghurrah)
12. Memperlebar basuhan pada ketika membasuh tangan dan kaki hingga melewati siku dan mencapai betis (tahjil)
Kedua perbuatan ini (no. 11 dan 12) berfaedah akan menambah cahaya angoota wudhuk kelak di hari akhirat, karena salah satu hal yang membedakan umat muslim dengan yang lainnya adalah adanya cahaya bagi kaum muslim pada bekasan wudhuknya, maka dengan dengan memperlebar tempat basuhan pada muka, tangan dan kaki maka akan semakin memperbanyak cahaya di akhirat kelak sebagaimana di sebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.
13. Membasuh/menyapu semua anggota sebanyak 3 kali
14. Mendahulukan anggota kanan dari pada anggota kiri
15. Beriringan (muallat), maksudnya dalam membasuh anggota wudhuk tersebut dilakukan secara beriringan
16. Menjaga supaya benar-benar sampai air pada beberapa anggota yang sering tidak merata air yaitu pada tumit dan ujung mata
17. Menghadap kiblat
18. Tidak berbicara tanpa hajat
19. Tidak menyelap air pada anggota wudhuk dengan seumpama kain
20. Membaca dua syahadat dan doa sesudah wudhuk. Doa setelah wudhuk ada dalam postingan sebelumnya.
21. Minum dari kelebihan wadhuk (air wudhuk), karena air bekasan wudhuk mengandung obat untuk penyakit apapun sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits

Pemutarbalikan fakta oleh penulis buku "Hadiah Pahala Amalan Rekayasa" terhadap Tafsir Ruhul Bayan

Buku Hadiah Pahala Amalan Rekayasa karangan AliwariPada tulisan sebelumnya kami menjanjikan akan menampakkan beberapa contoh pemutarbalikan fakta atas nash-nash para ulama yang dilakukan oleh Bapak Aliwari dalam bukunya Hadiah Pahala Amalan Rekayasa. Maka kali ini kami mencoba memperlihatkan salah satu contoh kasus pembohongan Bapak Aliwari atas nama para ulama yang ia lakukan dalam bukunya tersebut. Kitab yang kami pilih kali ini adalah kitab Tafsir Ruhul Bayan.

Tafsir Ruh al-Bayan adalah karangan seorang ulama tasawuf ahli Thariqat Khalwatiyah Ismail Haqqy bin Musthafa al-Istanbuly al-Hanafy al-Khalwaty (w. 1127 H/1715 M). Bapak Aliwari dalam bukunya Hadiah Pahala Amalan Rekayasa membawakan nash Tafsir Imam al Haqqi ketika menafsirkan ayat 39 surat an-Najmu dalam bukunya pada halaman 121. Kecurangan bapak Aliwari kembali terjadi disini, dimana ia hanya mengutip setengah nash Imam a-Haqqy dan menutup mata terhadap penjelasan Imam al-Haqqy selanjutnya. Aliwari hanya mengutip perkataan Imam al-Haqqy: (1)
والمعنى وانه اى الشأن ليس للانسان فى الآخرة الا سعيه فى الدنيا من العمل والنية اى كما لايؤآخذ احد بذنب الغير لايثاب بفعله

arti ayat tersebut bahwa seseorang tidak bisa sama sekali mendapat pahala di akhirat kecuali hanya semata-mata pahala amal dan niat yang telah ia lakukan sendiri semasa ia hidup didunia dan juga berarti bahwa bila seseorang tidak bisa sama sekali di azab (di akhirat) dengan sebab dosa orang lain maka diapun juga tidak bisa di beri pahala dengan amal orang lain (Tafsir al-Haqqy 14:343) {di sini tersirat asa keadilan mutlak Allah swt dan asas kesempatan beramal dan berniat sendiri}

demikian penjelasan bapak Aliwari pada halaman 121-122.

lalu benarkan kesimpulan yang diambil oleh Aliwari bahwa Imam al-Haqqy sependapat denganya dalam masalah ini?
Mari kita buktikan dengan membuka kitab Tafsir Imam al-Haqqy, Tafsir Ruhul Bayan.

Kalau kita melihat kedepan sedikit lagi maka akan sangat jelas bagaimana pandangan Imam al-Haqqy. Imam al-Haqqy melanjut:(2)

وظاهر الآية يدل على انه لاينفع احدا عمل احد
Secara dhahir ayat ini menunjuki bahwa tidak bermanfaat terhadap seseorang dengan amalan orang lain.

Imam al-Haqqy mengatakan, kalau melihat secara sepintas memang benar seolah-oleh bahwa memang tidak ada sama sekali manfaat dari amalan orang lain, namun ini bukanlah makna yang dimaksud dari ayat tersebut. Selanjutnya Imam al-Haqqy membawakan beberapa pendapat para ulama tentang penafsiran ayat tersebut, mulai dari pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, pendapat yang menyatakan ayat tersebut mansukh, pendapat Ikrimah, pendapat Rabi` bin Anas ra yang mengatakan bahwa orang mukmin bisa mendapat pahala dari amalan sendiri dan amalan orang lain, kemudian Imam al-Haqqy menguatkan pendapat tersebut dengan membawakan beberapa hadist. Kemudian Imam al-Haqqy mengambil kesimpulan: (3)
والحاصل ما كان من السعى فمن طريق العدل والمجازاة وما كان من غير السعى فمن طريق الفضل والتضعيف فكرامة الله تعالى اوسع واعظم من ذلك

Kesimpulan; pahala yang berasal dari amalan sendiri maka merupakan dari jalan keadilan dan balasan (Allah) sedangkan balasan yang berasal dari bukan amalannya maka dari jalan karunia Allah dan dilipat gandakan (balasan), karena kemurahan Allah ta`ala lebih luas dan lebih besar dari demikian.

Maksud dari penjelasan Imam al-Haqqy adalah, kalau melihat kepada keadilan Allah, maka manusia hanya dipastikan mendapat balasan amalannya sendiri, namun Allah adalah maha pemurah dan karunia Allah sangat besar. Maka jika melihat dari karunia Allah maka bisa saja Allah memberikan seorang mukmin mengambil manfaat dari amalan saudaranya tanpa mengurangi sedikitpun amalan saudaranya tersebut.

Selanjutnya Imam al-Haqqy membawakan pendapat Ibnu Taimiyah tentang ijmak para ulama tentang manfaat dari amalan orang lain disertai dengan beberapa contoh manfaat dari amalan orang lain (Insya Allah pendapat Ibnu Taimiyah tentang hal ini akan kami sajikan secara khsusus).

Pada akhirnya Imam al-Haqqy berkata:(4)

ونظائر ذلك كثرة لاتحصى والآيات الدالة على مضاعفة الثواب كثيرة ايضا فلا بد من توجيه قوله تعالى { وان ليس للانسان الا ماسعى } فانه لاشتماله على النفى والاستثناء يدل على ان الانسان لاينتفع الا بعمل نفسه ولايجزى على عمله الا بقدر سعيه ولايزداد وهو يخالف الاقوال الواردة فى انتفاعه بعمل غيره وفى مضاعفة ثواب اعماله ولا يصح أن يؤول بما يخالف صريح الكتاب والسنة واجماع الامة

Contoh-contoh serupa (mengambil manfaat dari amalan orang lain) sangat banyak dan tidak terhingga. Ayat-ayat al-quran yang menunjuki bahwa adanya dilipatkan pahala sangat banyak, maka tidak boleh tidak diluruskan makna firman Allah “bahwa tiada bagi manusia kecuali hasil usahanya sendiri”, ayat tersebut mengandung nafi dan istisna yang menunjuki bahwa manusia tidak mengambil manfaat kecuali dari amalannya sendiri dan tidak akan mendapat balasan kecuali dengan kadar amalannya sendiri dan tidak bisa bertambah. Hal tersebut menentang dengan pendapat (para ulama) tentang adanya manfaat dengan amalan orang lain dan adanya dilipatgandakan pahala amalannya. Dan tidak sah bahwa diartikan (ayat ini) dengan penafsiran yang menentang dengan sharih kitab (al-quran) sunah dan ijmak para ulama.

Maksudnya; Imam al-Haqqy mengakui bahwa kalau melihat sepintas bahwa ayat an-Najmu 39 terdapat istisna (الا ) dan nafi yang kalimat ليس maka menunjuki adanya hashar, sehingga secara sepintas akan terpahami seperti pemahaman Aliwary, bahwa manusia hanya dapat mengambil manfaat dari amalannya saja, namun kesimpulan yang demikian menentang dengan pendapat para ulama yang mengatakan bahwa adanya manfaat dari amalan muslim yang lain, bahkan pemahaman tersebut juga menentang dengan al-quran dan hadist-hadits Rasulullah yang menyimpulkan adanya manfaat dari amalan orang lain.
Selanjutnya Imam Haqqy menerangkan jawaban para ulama tentang hal ini:(5)

فأجابوا عنه بوجوه منها انه منسوخ ومنها انه فى حق الكافر ومنها انه بالنسبة الى العدل لا الفضل وقد ذكرت ومنها ان الانسان انما ينتفع بعمل غيره اذا نوى الغير أن يعمل له حيث صار بمنزلة الوكيل عنه القائم مقامه شرعا فكان سعى الغير بذلك كأنه سعيه وايضا ان سعى الغير انما لم ينفعه اذا لم يوجد له سعى قط فاذا وجد له سعى بان يكون مؤمنا صالحا كان سعى الغير تابعا لسعيه فكأنه سعى بنفسه

Para ulama memberikan jawaban dengan beberapa jawaban: antara lain; ayat tersebut mansukh, ayat tersebut berlaku untuk kaum kafir, hal tersebut hanya dari tinjauan keadilan Allah bukan dari tinjauan karuniaNya dan hal ini telah saya sebutkan, manusia hanya sanya bisa mengambil manfaatt dengan amalan orang lain apabila orang lain tersebut telah meniatkannya baginya seolah-olah ia telah menjadi wakil yang berada pada posisinya pada hukum syara`. Maka amalan orang lain dengan sebab demikian (telah diniatkan) bagaikan amalannya sendiri, dan lagi amalan orang lain tidak akan memberi manfaat apabila ia tidak memiliki usaha samasekali. Apabila ia telah memiliki amal yaitu ia seorang yang beriman dan shalih maka amalan orang lain bisa mengikuti amalannya maka seolah-olah itu amalannya sendiri…
Kemudian Imam al-Haqqy kembali menyimpulkan:(6)

والحاصل انه لما كان مناط منفعة كل ماذكر من الفوائد عمله الذى هو الايمان والصالح ولم يكن لشىء منه نفع مابدونهما جعل النافع نفس عمله وان كان بانضمام غيره اليه وفى اول باب الحج عن الغير من الهداية الانسان له أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة او صوما او صدقة اوغيرها عند اهل السنة والجماعة

Dan kesimpulannya, manakala sebab bermanfaat semua yang telah disebutkan adalah amalannya sendiri yaitu beriman dan amal shalih, dan semua itu (amalan orang lain) tidak akan bermanfaat baginya tanpa keduanya(iman dan amal shalih) niscaya dijadikanlah di bermanfaat adalah amalannya sendiri walaupun sebenarnya dengan adanya tambahan amalan orang lain. Disebutkan dalam awal bab haji `an al-ghair min al-hidayah: boleh bagi manusia menjadikan pahala amalannya bagi orang lain baik berupa shalat, puasa, shadaqah dan amalan yang lain menurut pandangan Ahlus sunnah wal jamaah.

Sebenarnya masih panjang uraian Imam al-Haqqy tentang hadiah pahala amalan, tetapi kami rasa cukup disini kami sebutkan bagaimana sebenarnya pandangan Imam al-Haqqy tentang hadiah pahala,sebagai bantahan terhadap kesimpulan Bapak Aliwari dalam bukunya Hadiah Pahala Amalan Rekayasa. Maka sudah cukup menjadi bukti yang nyata bahwa bapak Aliwary telah berdusta atas nama Imam al-Haqqy, dimana ia menulis dalam bukunya seolah-olah bahwa Imam al-Haqqy sependapat dengan pandangannya bahwa hadiah pahala sama sekali tidak ada.
  1. Tafsir Ruh al-Bayan, Ismail Haqqy bin Musthafa al-Istanbuly al-Hanafy, jilid 9 hal 247 Cet. Dar fikr
  2. Tafsir Ruh al-Bayan,...jilid 9 hal 247 Cet. Dar fikr
  3. Tafsir Ruh al-Bayan,...jilid 9 hal 248 Cet. Dar fikr
  4. Tafsir Ruh al-Bayan,...jilid 9 hal 249 Cet. Dar fikr
  5. Tafsir Ruh al-Bayan,...jilid 9 hal 249 Cet. Dar fikr
  6. Tafsir Ruh al-Bayan,...jilid 9 hal 249 Cet. Dar fikr

Rekayasa penulis buku Hadiah pahala amalan rekayasa

Rekayasa Bapak Aliwari dalam Buku Hadiah Pahala Amalan RekayasaBeberapa waktu yang lalu sebagian masyarakat pecinta pesantren dikejutkan dengan kehadiran buku yang memvonis sesat amalan yang telah lumrah mereka amalkan, yaitu hadiah pahala. Buku tersebut berjudul HADIAH PAHALA AMALAN REKAYASA, karangan Bapak Muhammad Ali Wari. Buku tersebut dipuji oleh salah seorang guru besar usul fiqih yang ikut memberikan kata pengantar, Prof. Dr. Alyasa` Abu Bakar, MA. yang tak lain adalah murid dari penulis semenjak bangku MIN.

Sekitar setahun yang lalu, ketika diadakan maulid di salah satu Dayah di kawasan kabupaten Pidie Jaya, ada yang mengusulkan supaya dilakukan pembedahan terhadap buku tersebut dalam acara mubahatsah yang diadakan pada malam hari, namun kami melihat tanggapan yang sangat lemah dari seorang guru kami, beliau tampak tidak tertarik sama sekali membahas isi buku tersebut, padahal beliau adalah orang yang sangat aktif membahas masalah yang musykil, rupanya bagi beliau tidak ada kemusykilan sedikitpun untuk menjawab argument yang dibawakan penulis buku tersebut. Pada saat itu kami belum melihat dan membaca isi bukunya.

Pada awal tahun ini, kami mendapatkan buku itu dari salah seorang guru di LPI Mudi mesra yang kuliah pasca sajrana di IAIN ar-Raniry, Banda Aceh. Salah seorang dosen beliau, membagikan buku tersebut secara gratis serta menyampaikan pesan supaya buku tersebut dibaca-baca oleh kalangan santri di Dayah. Pada cetakan buku yang ada pada kami, ada lembaran tambahan untuk Bab II hal 52. Dalam lampiran tambahan itu, Bapak Aliwari mengutip hadist dari kitab hadist rujukan utama kaum Syiah, al-Kafi yang dikarang oleh tokoh panutan Syiah, Muhammad bin Ya`qub al-Kulainy (w. 329 H). Setelah membaca dan mempelajari isi buku tersebut dan merujuk kepada referensinya maka kami mendapatkan jawaban mengapa guru kami tidak berminat samasekali membahas dan bermubahatsah tentang isi buku itu.

Saat kita membaca buku ini, kita akan mendapati sajian intelektual islami dimana Bapak Aliwari membawakan ayat al-Quran, al-Hadits, dan nash-nash para ulama terutama ulama tafsir. Hal ini tentu akan membuat pembaca mendapat pandangan baru tentang amalan hadiah pahala dan merasa bahwa inilah sebuah kebenaran karena berlandaskan ayat al-quran, hadist dan pendapat para ulama. Namun demikian, karena keuniversalannya ayat dan hadits bahkan qaul ulama, sejalankan pendapat Bapak Aliwari atau ada perbedaan penafsirannya dengan ulama-ulama yang mu`tabar.

Inilah pertanyaan yang timbul saat kami membaca buku beliau. Kami merasakan seolah-olah bapak Aliwari terkurung dalam sebuah ideology sehingga aliran tulisan beliau mengalir bak air irigasi yang sudah tertentu arah tujuannya, bukan seperti sungai yang mengalir menurut kehendaknya. Artinya dalil-dalil yang beliau sampaikan beliau arahkan kepada sebuah kesimpulan, bukan menarik sebuah kesimpulan dari dalil-dali tersebut. Karenanya keilmiyahan buku ini perlu kita teliti dengan seksama, sebab sangat tidak logis jika memotong meteran karena kayu yang kependekan.

Maka dalam tulisan singkat ini, kami ingin memaparkan sedikit hasil pengamatan kami terhadap buku HADIAH PAHALA AMALAN REKAYASA,  Yang akan kami paparkan di sini hanyalah sebagian kecil contoh-contoh kontroversial Bapak Aliwari terutama dalam hal mengkatagorikan para ulama besar dalam satu golongan tertentu. Sedangkan problema yang ditimbulkan oleh Bapak Aliwari dalam memahami nash al-Quran dan hadist serta nash-nash para ulama dan keterasingan Bapak Aliwari dalam penempatan qaedah-qaedah tertentu, tidak kami sebutkan disini.

Penting juga untuk diketahui bahwa pada bab 2 Bapak Aliwari membuat judul besar  HADIAH PAHALA KONTRA AL-QURAN DAN HADITS. Kemudian pada poin A, Bapak Aliwari membuat sub judul dengan “Dalil hadiah pahala dan Over dosa menentang al-quran.
Sepengetahuan kami saat ini, tidak ada pihak yang menyatakan bahwa over dosa ini ada dalam islam, baik di Aceh maupun di luar daerah. Kalangan ulama Ahlus sunnah hanya mengakui adanya hadiah pahala sedangkan over dosa tidak ada sama sekali.

Ketika Bapak Aliwari membawakan ayat al-quran dari hal 23-46 sebanyak 102 ayat al-quran, ada 26 ayat al-quran yang hanya berhubungan dengan masalah over dosa. Maka ketika Bapak Aliwari menggabungkan dalil ayat al-quran untuk kedua masalah tersebut akan terbanyang dalam benak pembaca yang awam bahwa ada lebih seratus ayat al-quran yang menyatakan tidak adanya hadiah pahala. Sedangkan untuk masalah over dosa, pikiran pembaca tidak akan tertuju kepada hal tersebut karena memang umumnya pembaca sudah mengakui bahwa over dosa itu tidak ada. Disini terlihat kepiawaian Bapak Aliwari dalam menggiring pembaca dari kalangan masyarakat awam.

Berikut ini beberapa analisa Bapak Aliwari yang kami telusuri, kami sebutkan sedikit sebagai contoh saja:

1. Salah menisbahkan perkataan
Pada halaman 54, Bapak Aliwari mengatakan:
Atas dasar ibadah palsu itu pulalah, kata Imam Syafii, Maka Rasulullah SAW dan semua shahabatnya tidak pernah sama sekali menghadiahkan pahala bacaan…
Ini sebenarnya bukanlah perkataan Imam Syafii, ini hanya perkataan Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau setelah mengatakan bahwa atas dasar ayat an-Najmu 39 Imam Syafii berijtihad bahwa hadiah bacaan tidak sampai kepada orang meninggal. Khusus untuk masalah shadaqah untuk mayat Ibnu Katsir dengan terang mengakui sampai pahalanya untuk mayat dan beliau sendiri mengatakan hal tersebut merupakan ijmak para ulama.
Lagi pula maksud Imam Syafii tersebut adalah adalah tidak sampai pahala bacaan al-quran apabila tidak diiringin dengan doa atau bukan dihadapan mayat sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitamy.

2. Berdusta atas nama para ulama
Dalam bab ke tiga Bapak Aliwari menyebutkan sederetan nama para mufassir dengan disertai sebagian nash kitab tafsir. Namun amat disayangkan Bapak Aliwari hanya mengutip sebagian nash kitab tafsir tetapi tidak menuliskan nash yang kadang-kadang terletak tepat didepan nash yang beliau sebutkan. Dari nash yang tidak disebutkan itu, dengan sangat jelas dan terang akan kita dapati bahwa para mufassir tersebut mengakui adanya hadiah pahala.

Para mufassir seperti Dr. Wahbah Zuhaily, Imam Jalaluddin al-Mahally, Abu Hafash Sirajuddin Umar bin Ali bin Adil al-Hanbaly ad-Dimsyaqy (w. 775 H) pengarang tafsir al-Lubab, Abu Qasim Mahmud bin Amr az-Zamakhsyary (367-538 H/1074-1143 M) pengarang kitab al-Kisyaf, Abdullah Abu Barakat an-Nasafi (w. 710 H/1310 M) pengarang tafsir Madarik at-Tanzil wa Haqaiq at-Ta`wil, Abu Su`ud Muhammad bin Muhammad bin Musthafa al-Imady (898-982 H/1493-1573) pengarang Tafsir Irsyadul `aqal as-Salim ila Mazaya al-Kitab al-Karim, Imam as-Sayuthy pengarang Tafsir al-Jalalain dan al-Mantsur, Imam asy-Syanqithy (1907-1973 M/1393-1325 H) pengarang kitab Adha` al-Bayan fi Idhah al-quran bi al-quran, Abu Tsana` syihabuddin al-Alusi (1217-1270H/1802-1854 M) pengarang kitab Ruhul Ma`any, Imam Muhammad bin Umar bin Hasan Fakhruddin ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M) pengarang tafsir Mafatihul Ghaib, Syeikh Jamaluddin bin Muhammad Sa`id al-Qasimy (1283-1332 H/1866-1914 M), Imam Ismail Haqqy bin Musthafa al-Istanbuly al-Hanafy al-Khalwaty (w.1127 H/1715 M) pengarang kitab Ruh al-Bayan, Imam Syamsuddin Khatib Muhammad bin Ahmad asy-Syarbainy (w. 977 H/1570 M) , Imam al-Qurthuby, Ibnu Ajibah, dan Syeikh Thanthawy Jauhary merupakan orang yang tegas menyatakan bahwa adanya manfaat dari amalan orang lain baik dari amalan berupa shadaqah, haji, membaca al-quran dll sebagaimana mereka tulis dengan jelas dalam karya-karya mereka. Nama-nama mufassir diatas hanya beberapa kitab tafsir yang sempat kami periksa, selain itu masih banyak kitab tafsir yang lain yang disebutkan Bapak Aliwari dalam bukunya yang belum sempat kami periksa.

Oleh Bapak Aliwari para ulama tersebut dimasukkan dalam golongan yang mendukung pendapatnya bahwa tidak ada hadiah pahala sama sekali dengan membawakan sebagian nash kitab mereka dan tidak menuliskan penjelasan mereka yang lebar panjang setelahnya yang terdapat dalam halaman berikutnya bahkan kadang-kadang penjelasan tersebut mereka uraikan tepat setelah nash yang hanya diambil oleh Bapak Aliwari.

Untuk contoh cukup kami bawakan satu kitab tafsir yang disebutkan oleh Bapak Aliwari, sedangkan yang lain akan kami paparkan pada kesempatan yang lain;
Pada halaman 112, Bapak Aliwari membawakan nash kitab Daf`ul Idhah Idhtirab`an Ayatil Quran karangan Imam asy-Syanqithy:
وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى} هذه الآية الكريمة تدل على أنه لا ينتفع أحد بعمل غير

Bapak Aliwari tidak melanjutkan penjelasan Imam asy-Syanqithy selanjutnya yaitu ketika menjawab ta`arudh/kontradiksi antara ayat ini dengan ayat-ayat dan hadist yang lain. Beliau memberi tiga jawaban, salah satunya adalah:
الأول - إن الآية إنما دلت على نفي ملك الإنسان لغير سعيه ولم تدل على نفي انتفاعه بسعي غيره لأنه لم يقل وأن لن ينتفع الإنسان إلا بما سعى. وإنما قال وأن ليس للإنسان. وبين الأمرين فرق ظاهر لأن سعي الغير ملك لساعيه إن شاء بذله لغيره فانتفع به ذلك الغير وإن شاء أبقاه لنفسه وقد أجمع العلماء على انتفاع الميت بالصلاة عليه والدعاء له والحج عنه ونحو ذلك مما ثبت الانتفاع بعمل الغير فيه.

Pertama; ayat ini hanya menunjuki kepada tidak ada kepemilikan bagi selain pelaku amalannya, dan sama sekali tidak menunjuki bahwa tidak ada manfaat dengan amalan orang lain karena Allah tidak menyebutkan “tidak bermanfaat bagi manusia kecuali amalannya sendiri”. Allah hanya menyebutkan “tidak ada bagi insan…” antara kedua lafadh ini ada perbedaan yang nyata, karena usaha orang lain adalah miliknya sendiri jika ia menghendaki ia bisa saja memberikan kepada orang lain maka orang lain bisa saja mendapatkan manfaatnya dan jika ia menghendaki bisa saja ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Para ulama telah ijmak bahwa bisa bermanfaat untuk mayat dengan shalat, doa, haji baginya, dan hal-hal yang lain yang ada dalilnya yang dapat memberi manfaat dengan amal orang lain.

Kasus seperti diatas sangat banyak ditemukan dalam buku Bapak Aliwari. Kalau disebutkan contoh-contoh yang lain, akan penuhlah halaman majalah ini. Insya Allah akan kami terangkan dalam buku khusus untuk menanggapi buku Bapak Aliwari. Maka kalau sang professor dalam kata pengantarnya menyatakan bahagia dan gembira atas hasil karya gurunya yang sudah sepuh, kami malah merasa heran, mengapa Bapak Aliwari yang dalam usia yang sudah sepuh, masih berani memutar balik fakta dan data atas nama para ulama-ulama besar. Tidakkah ia takut akan azab Allah terhadap orang-orang yang menyembunyikan kebenaran, terlebih lagi atas nama para kekasihNya.

3. Bapak Aliwari juga mengikutsertakan nama para ulama Mazhab Syafii seperti Imam Syafii, Imam Nawawy, Imam Ramly, Imam Qalyuby, Imam Ibnu Hajar Haitamy, Imam ad-Dimyathy (Sayyid Abi Bakar Syatha), dan ulama mazhab Syafii yang lain.
Disini Bapak Aliwari membawakan pernyataan para ulama Mazhab Syafii tentang yang melarang dan mengharamkan kenduri kematian.

Disini Bapak Aliwari kembali berusaha menyeret pemikiran pembaca, semua para ulama Syafiiyah tersebut adalah ulama yang mengakui adanya hadiah pahala. Seperti kata Imam Sayyid Abi Bakar asy-Syatha tentang sampai pahala shadaqah dalam kitab Hasyiah i`anah hal 245 jilid 2 cet. Haramain yang mengutip isi kitab Busyra Karim bahwa sepatutnya hal tersebut (adanya manfaat dari amalan orang lain) tidak diperselisihkan keabsahannya. Para ulama tersebut hanya terjadi perbedaan pendapat pada beberapa masalah ibadat apakah boleh dihadiahkan pahala atau tidak, namun secara umum mereka sepakat adanya bentuk amalan yang dapat diambil manfaatnya oleh orang yang telah meninggal seperti masalah haji, doa dan shadaqah.

Perlu diketahui bahwa yang disebutkan oleh para ulama syafiiyah tersebut adalah masalah berkumpul di rumah kematian bukan masalah hadiah pahala. Dua masalah ini sangat jauh berbeda dan tidak saling melazimi. Berkumpul bisa terjadi tanpa adanya kegiatan menghadiahkan pahala, dan menghadiahkan pahala amalan bisa saja dilakukan tanpa berkumpul. Lagi pula berkumpul yang dimaksudkan oleh ulama mazhab Syafii tersebut adalah berkumpul dalam keadaan tertentu yang dapat menimbulkan kegundahan di hati keluarga bukan mutlak berkumpul, sangat ganjil bila pada hari kematian, agama melarang yang namanya berkumpul yang berarti harus duduk secara sendiri-sendiri tidak boleh berkumpul.
Penambahan nama-nama para ulama Syafiiyah tersebut tampaknya bertujuan menarik kalangan awam untuk menguatkan pandangan saudara Aliwari.

4. Pada halaman 20, Bapak Aliwari menyinggung bahwa Ibnu Taimiyah menyatakan lebih 20 jenis manfaat amal shaleh yang dapat dimanfaatkan dari amalan shaleh orang lain.
Bapak Aliwari tidak menyebutkan secara detil 20 jenis amalan yang Ibnu Taimiyah sebutkan itu. Akhirnya beliau menyimpulkan bahwa manfaat amal shaleh berupa pahala hanya semata-mata berguna untuk yang mengamalkannya saja.
Namun, benarkan diantara 21 contoh yang Ibnu Taimiyah sebutkan tidak ada manfaat yang berupa pahala? Ketika kita periksa ke 21 amalan tersebut maka kita akan mendapati bahwa Ibnu Taimiyah berkata, diantaranya;
(No. 8) Orang yang telah meninggal menerima manfaat dengan shadaqah dan pemerdekaan budak untuknya berdasarkan keterangan jelas dari sunnah dan ijmak.
(No. 9) Haji yang wajib akan terlepas dari tanggungan mayit dengan sebab dikerjakan oleh walinya untuk mayat tersebut.
(No. 10) Haji dan puasa yang wajib dengan bernazar akan terlepas dari mayit dengan dikerjakan pekerjaan orang lain.

Tiga contoh yang dibawakan Ibnu Tamiyah ini merupakan manfaat berupa pahala amalan orang lain. Berarti dalam hal ini Ibnu Taimiyah sejalan dengan keyakinan ulama Ahlussunnah yang mengakui adanya manfaat pahala dari amalan orang lain. Bahkan murid beliau, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dalam kitabnya ar-Ruh menguraikan panjang lebar tentang adanya manfaat pahala dari amalan orang lain.
Kalau seandainya Bapak Aliwari berpendapat “tidak ada hadiah pahala” kemudian beliau menguatkan pendapatnya dengan mengutip pendapat tokoh-tokoh seperti Rasyid Redha, Ibnu Bazz, Lajnah Daimah lil Buhuts Arab Saudy, dan yang sepaham dengan mereka tanpa berusaha memasukkan nama-nama para ulama seperti Imam Syafii, Imam Nawawy, Imam as-Sayuthy kedalam golongan mereka, maka kita menganggapnya jujur dalam menulis walaupun salah dalam memilih dan memahami nash al-quran dan hadits.

Namun, kalau hanya menyandarkan pendapatnya kepada tokoh-tokoh diatas tentu saja pandangannya sulit untuk laku dimasyarakat, karena itulah ia berusaha memasukkan nama-nama ulama besar yang disepakati sebagai panutan umat kedalam golongan orang-orang yang sependapat dengannya.

Setelah kami menelaah buku karangan Bapak Aliwari maka dapat kami simpulkan:
  1. Bapak Aliwari tampaknya mengalami kegagalan interpretasi terhadap literatur karya ulama klasik. Hal ini dibuktikan oleh ketidakmampuannya untuk mengkompromikan pendapat-pendapat para ulama yang tampaknya kontradiktif.
  2. Penulis buku tersebut sangat objektif, artinya ia tidak merasa sungkan untuk memutarbalikan fakta dan data karena telah terlebih dahulu meyakini ideology yang ia anut.
  3. Apa yang dilakukan penulis buku tersebut dengan membuang sebagian data agar sampai kepada tujuannya merupakan kebohongan ilmiyah dan ketidakjujuran akademik, sehingga patut dipertanyakan etika intelektualitasnya dan juga intelektualitas orang-orang yang memberikan apresiasi kepadanya.
Sekian tulisan singkat kami tentang buku tersebut. Sebenarnya kalau ingin menguraikan kebohongan buku tersebut akan menghabiskan lembaran yang banyak apalagi uraian tentang kesalahan pemahamannya terhadap nash-nash agama.

Semoga Allah selalu menjaga kita dari fitnah kelompok yang tidak menghargai para ulama salaf/terdahulu, dan hanya fanatic kepada panutan mereka terutama dalam hal menuduh dan memvonis kaum muslim yang lain sebagai ahli bid`ah, syirik serta sebagai pelaku amalan sesat dan rekayasa. Amiin.

Tulisan salah satu anggota LBM pesantren MUDI mesra di Majalah UMDAH Edisi 4 tahun 2013 yang sebelumnya juga telah di pots di website santri dayah.

Insya Allah bukti-bukti pemutarbalikan fakta atas nash-nash para ulama akan kami tambahkan dalam postingan-postingan kedepan.

Download Kitab Muhadharat fi Fiqh al-Islam al-Muqaran karangan Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthy محاضرات في الفقه المقارن

Donwload Kitab Muhadharat fi Fiqh al-Islam al-Muqaran karangan Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthy محاضرات في الفقه المقارن

محاضرات في الفقه المقارن

Nama Syeikh Sa`id Ramadhan al-Buthy (1929-2013 M) tetap melekat dalam hati para pelajar Ahlus sunnah, apalagi beliau berpulang ke hadiratNya sebagai syuhada. Beliau banyak meninggalkan karangan yang menjadi kenang-kenangan dan amal jariyah beliau untuk kaum muslimin Ahlus sunnah wal jama`ah. Salah satu kitab beliau yang bernilai tinggi adalah Muhadharat fi al-Fiqh al-Muqaran. Dalam kitab ini beliau menerangkan beberapa hal yang berkenaan dengan perbedaan pendapat para ulama dalam satu masalah. 
Dalam kitab ini Syeikh Buthy menerangkan sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat dikalalangan para fuqaha`. Beberapa masalah yang beliau angkat adalah efek jauh satu derah dalam kewajiban ibadat puasa, masalah tabyit dan ta`yin niat dalam puasa, alasan haram riba dan efeknya, luzum wakaf, syarat ja`i pada akad secara umum dan akad nikah, masalah thalaq tiga sekaligus, tanah yang ditaklukkan oleh kaum muslim, hukuman dengan pengambilan denda berupa harta, pemutusan hukum dengan saksi dan sumpah, pemutusan hukum dengan saksi non muslim dan beberapa hal yang lain. Setiap selalu beliau bawakan beberapa pendapat yang ada kemudian di ikuti dengan dalil dari setiap kelompok, kemudian beliau memunaqasyahkan semua dalil-dalil tersebut. Seperti dalam masalah thalak beliau urai dengan panjang lebar bagaimana dalil pendapat jumhur, Ibnu Taimiyah, Syiah, `Atha` dan pada akhirnya beliau menyimpulkan bahwa yang kuat adalah mazhab jumhur bahwa thalaq tiga sekaligus tetap jatuh tiga dengan dalil-dalil yang kuat.

Bagi yang ingin memiliki file pdf kitab tersebut silahkan DOWNLOAD

Jawaban Tentang Puasa Bulan Rajab

Jawaban Tentang Puasa Bulan RajabSaat ini kita sedang berada di bulan Rajab, salah satu bulan haram yang merupakan bulan yang mendapat kemuliaan dalam agama. Dalam bulan Rajab lumrahnya umat Islam memperbanyak ibadat kepada Allah apabalagi dua bulan lagi bulan suci Ramadhan akan segera tiba. Salah satu ibadat yang ramai dilakukan oleh kaum muslim adalah berpuasa. Namun saat ini sebagaimana amalan umat Islam yang lain, oleh sebagian kalangan yang menganggap diri mereka sebagai pengikut ulama terdahulu yang paling benar sering menyebarkan dakwah mereka bahwa puasa Rajab adalah perbuatan bid`ah.
Oleh karena itu kami mengutip sebuah tulisan dari page Abu Mudi yang menjawab tentang masalah kedudukan hukum puasa di bulan Rajab.
Puasa bulan Rajab
Sebelumnya perlu diketahui bahwa puasa sunat dapat dilaksanakan kapan saja kecuali dalam waktu-waktu yang diharamkan untuk berpuasa seperti hari raya dan hari tasyriq.

Imam Nawawi mengatakan dalam syarah Muslim:

في هذه الاحاديث أنه يستحب أن لا يخلى شهرا من صيام وفيها أن صوم النفل غير مختص بزمان معين بل كل السنة صالحة له الا 
رمضان والعيد والتشريق

Dari semua hadits-hadits ini dipahami bahwa disunatkan untuk tidak mengosongkan satu bulan pun dari puasa dan juga dipahami bahwa puasa sunat tidak terkhusus dengan satu waktu tertentu bahkan puasa seluruh setahun patut untuk puasa sunat kecuali bulan Ramadhan, hari raya dan hari tasyriq. (lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim jilid 4 hal 295 Kairo, Dar Hadits th1994)

Berkenaan dengan beberapa hadits bulan Rajab, Imam As-Sayuthy pernah di tanyakan sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Hawi lil Fatawy :

مسألة : …في في حديث أنس قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( إن في الجنة نهراً يقال له رجب ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل من صام يوماً من رجب سقاه الله من ذلك النهر ) ...وحديث ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ، ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ، ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات ) هل هذه الأحاديث موضوعة … ؟
الجواب : ليست هذه الأحاديث بموضوعة بل هي من قسم الضعيف الذي تجوز روايته في الفضائل أما الحديث الأول فأخرجه أبو الشيخ بن حيان في كتاب الصيام والأصبهاني وابن شاهين كلاهما في الترغيب والبيهقي وغيرهم قال الحافظ إبن حجر : وليس في اسناده من ينظر في حاله سوى منصور بن زائدة الأسدي …
وأما الحديث الثالث فأخرجه البيهقي في فضائل الأوقات وغيره وله طرق وشواهد ضعيفة لا تثبت إلا أنه يرتقي عن كونه موضوعاً

Masalah:
Tentang hadits riwayat Anas Rasulullah berkata: “sesungguhnya di dalam surga ada sebuah sungai yang disebut dengan Rajab, airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpausa pada bulan Rajab niscaya Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut…

Dan hadist Ibnu Abbas, Rasulullah berkata : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Rajab sehari niscaya seperti puasa sebulan. Barangsiapa yang berpuasa tujuh dari di bulan Rajab niscaya di kuncikan baginya tujuh pintu neraka Jahim. Barangsiapa berpuasa selama delapan hari niscaya dibukakan baginya delapan pintu surga. Barangsiapa berpuasa dalam bulan Rajab selama sepuluh hari niscaya digantikan keburukannya dengan kebaikan.

Apakah semua hadist ini maudhu`…?
Jawab:
Hadits-hadits ini bukanlah hadist maudhu` tetapi merupakan bahagian dari hadist dhaif yang boleh diriwayatkan pada fadhail a`mal (keutamaan beramal).

Hadist pertama di riwayatkan oleh Abu Syeikh bin Hayyan dalam kitab ash-Shiyam dan diriwayatkan oleh al-Ashbihany dan Ibnu Syahin dalam kitab Targhib dan juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dan lainya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalany berkata tidak ada pada sanadnya perawi yang perlu ditinjau keadaannya selain Manshur bin Zaidah al-Asady.

Adapun hadits yang ketiga maka diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dalam kitab Fadhail Auqat dan kitab yang lain. Hadits ini juga memiliki thariq dan syahid (pendukung) yang dhaif yang tidak stubut tetapi jauh dari keadaanya sebagai hadits maudhu` (hadits palsu). (Imam as-Sayuthy, Hawi lil Fatawy jilid 1 hal 339 Beirut, Dar Kutub Ilmiyah th 2000)

Pertanyaan serupa dengan jawaban serupa juga pernah ditanyakan kepada Imam Ibnu Hajar sebagaimana dituliskan dalam kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 86 Cet. Dar Fikr

Imam Baihaqy dalam kitab Fadhail al-Auqat beliau menerangkan beberapa hadits tentang kelebihan bulan Rajab pada bab Fi Fadh Syahr Rajab hal 19 Cet. Dar Kutub Ilmiyah dan juga dalam kitab Syu`ab al-Iman pada Fash Takhsish Syahr Rajab bi zikr)

Dalam satu hadits shahih riwayat Imam Muslim:
حدثنا أبو بكر بن أبى شيبة حدثنا عبد الله بن نمير ح وحدثنا ابن نمير حدثنا أبى حدثنا عثمان بن حكيم الأنصارى قال سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب - ونحن يومئذ فى رجب - فقال سمعت ابن عباس - رضى الله عنهما - يقول كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم.

Telah menceritakan kepada kami Abubakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair (dalam riwayat lain), telah menceritakan kepada kami oleh Ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim al-Anshari ia berkata, saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab, saya telah mendengar Ibnu Abbas Ra. Berkata: “Dulu Rasulullah Saw. pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.” (H.R. Imam Muslim)

Hadits ini juga diriwayatkan dari thariq yang lain (lihat Shahih Muslim bab Shiyam Nabi fi Ghair Ramadhan)

Imam Nawawi menerangkan dalam kitab Syarah Shahih Muslim :

قوله ( سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب فقال سمعت بن عباس يقول كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم ) الظاهر أن مراد سعيد بن جبير بهذا الاستدلال أنه لا نهى عنه ولا ندب فيه لعينه بل له حكم باقي الشهور ولم يثبت في صوم رجب نهى ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه وفي سنن أبي داود أن رسول الله صلى الله عليه و سلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها والله أعلم

Yang dhahir bahwa maksud sa`id bin jibrin dengan istidlal ini adalah tidak ada larangan tentang puasa Rajab dan tidak ada perintah sunat bagi khusus puasa Rajab tetapi berlaku hukum puasa bulan yang lain dan tidak ada larangan tentang puasa Rajab dan tidak pula perintah sunat secara khusus tetapi asal hukum puasa adalah sunat. Dalam Sunan Abi Daud “Bahwa Rasulullah memerintahkan puasa pada bulan-bulan haram sedangkan bulan Rajab termasuk salah satu bulan haram. (lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim jilid 4 hal 295 Kairo, Dar Hadits th1994)

Imam as-Sayuthy dalam Syarah Shahih Muslim setelah mengutip perkataan Imam Nawawi ketika mengomentari hadits sa`id bin jibrin tersebut menuliskan:

قلت وروى البيهقي في شعب الإيمان عن أبي قلابة قال في الجنة قصر لصوام رجب وقال هذا أصح ما ورد في صوم رجب قال وابو قلابة من التابعين ومثله لا يقول ذلك إلا عن بلاغ ممن فوقه عمن يأتيه الوحي

Saya berkata: dan diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dalam kitab Syu`ab al-Iman dari Abi Qalabah beliau berkata “dalam surga ada sebuah istana yang disediakan bagi orang berpuasa Rajab. Beliau berkata: Abi Qalabah adalah seorang tabi`in. Orang seperti beliau tidak akan mengatakan hal demikian kecuali diambil dari seseorang di atas beliau yang mengambilnya dari orang yang diberi wahyu (Rasulullah SAW) (lihat Imam Sayuthy Syarah Muslim jilid 3 hal 238, Saudi Arabia, Dar Ibn Affan th 1996)

Dari uraian Imam as-Sayuthy tersebut dapat dipahami bahwa diantara semua hadits tentang kelebihan Rajab secara khusus yang paling shahih hanyalah hadits riwayat Imam Baihaqy tersebut. Walaupun hadits tersebut adalah hadits mauquf kepada Abi Qulabah namun beliau adalah seorang tabi`in. Para tabi`in merupakan generasi yang penuh barakah sebagaimana Rasulullah sebutkan sendiri dalam sebuah hadits. Mereka tidak akan meriwayatkan sebuah hadits kecuali pernah mendengarnya dari orang-orang yang terpercaya yang mengambilnya dari Rasulullah.

Imam Ibnu Hajara al-Haitamy pernah ditanyakan tentang seorang faqih yang memfatwakan dan melarang manusia untuk berpuasa Rajab dan mengatakan bahwa semua hadits tentang puasa Rajab adalah hadits maudhu`. Imam Ibnu Hajar menjawabnya dengan uraian yang panjang yang ditulis dalam kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 53 Cet. Dar Fikr.

kesimpulan dari jawaban Ibnu Hajar adalah:
  1. Perbuatan faqih tersebut melarang manusia untuk berpuasa Rajab merupakan kebodohannya dan berbicara dengan sembarangan dalam syariat serta wajib terhadap penguasa untuk mencegahnya dan bahkan menghukumnya (ta`zir) sehingga ia meninggalkan perbuatannya melarang manusia untuk berpuasa di bulan Rajab.
  2. Berdasarkan dari hadits-hadits Rasulullah, puasa Rajab juga disunatkan karena bulan Rajab termasuk dalam bulan yang diperintahkan untuk berpuasa secara umum dan juga termasuk dalam bulan haram yang diperintah untuk berpuasa sebagaimana disebutkan dalam hadist.
  3. banyak juga hadits yang menerangkan kelebihan puasa Rajab secara khusus seeprti yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqy (dalam kitab Fadhail Auqat dan Syu`ab al-Iman) walaupun hadits tersebut dhaif namun para ulama ijmak bahwasanya hadits dhaif boleh diamalkan pada fadhail a`mal dan puasa Rajab termasuk dalam fadhail a`mal.
  4. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy mengakui benar bahwa banyak juga hadits maudhu` yang diriwayatkan tentang kelebihan puasa Rajab, namun para ulama dalam mengatakan sunat berpuasa Rajab bukan beradasarkan hadits tersebut namun berdasarkan hadist sunat berpuasa dalam setiap bulan dan dalam bulan haram dan hadits-hadits dhaif yang masih bisa diamalkan.
  5. Tidak ada orang yang mengingkari kebolehan beramal dengan hadits dhaif pada fadhail a`mal kecuali orang yang jahil dan maghrur (tertipu).
Dalam fatwa tersebut Imam Ibnu Hajar juga mengutip fatwa Imam `Izzuddin bin Abdissalam yang ditanyakan tentang sebagian ahli hadits yang melarang munusia berpuasa pada bulan Rajab dan membesarkan bulan Rajab. Imam Izzuddin menjawab bahwa orang yang melarang puasa Rajab dalah orang yang jahil dengan hukum syara`.

Imam Mawardi dalam kitab beliau Hawy Kabir jilid 3 hal 474 Cet. Dar Kutub Ilmiyah thn 1999:

فصل : ومن ذلك شهر رجب فضل الصيام فيه ، روي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه سئل : أي الصوم أفضل بعد شهر رمضان ؟ فقال : " شهر الله الأصم " وروي الأصب . قال أبو عبيد : يعني رجبا ؛ لأن الله تعالى يصب فيه الرحمة صبا ، وسمي أصم ؛ لأن الله تعالى حرم فيه القتال ، فلا يسمع فيه سفك دم ، ولا حركة سلاح وروى عكرمة عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " صيام أول يوم من رجب كفارة ثلاث سنين ، وصيام اليوم الثاني كفارة سنتين ، وصيام اليوم الثالث كفارة سنة ثم كل يوم كفارة شهر " .

Fashl; sebagian dari demikian (kelebihan puasa dalam bulan selain Ramadhan) adalah bulan Rajab. Kelebihan puasa dalam bulan Rajab diriwayatkan dari Rasulullah bahwasanya beliau ditanyakan : “apa puasa yang lebih afdhal setelah Ramadhan ? beliau menjawab “bulan Allah Asham. Dalam riwayat yang lain al-Ashab. Abu `Ubaid berkata “maksudnya bulan Rajab”. Karena Allah ta`ala menuangkan rahmat pada bulan Rajab. Dan dinamakan dengan bulan Asham karena Allah ta`ala mengharamkan berperang pada bulan tersebut maka tidak terdengar adanya pertumpahan darah dan gerakan senjata pada bulan tersebut. Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah berkata “puasa awal dari bulan Rajab menghapuskan dosa tiga tahun dan puasa hari kedua menghapuskan dosa dua tahun dan puasa hari ketiga menghapuskan dosa setahun dan puasa tiap hari menghapuskan dosa sebulan.

Khusus tentang kelebihan awal malam bulan Rajab Imam Syafii meriwayatkan :

وبلغنا أنه كان يقال إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان

Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan do`a dikabulkan pada lima malam; pada malam jum`at, malam hari raya Adha, malam hari raya fihtri, awal malam bulan Rajab dan malam nisfu Sya`ban (Imam Syafii, al-Umm jilid 1 hal 254 Cet. Dar Fikr th 2009)

Dari uraian panjang diatas dapatlah kita simpulkan:
  1. Tidak ada satu dalilpun yang melarang untuk berpuasa sunat pada bulan Rajab.
  2.  Ada beberapa hadist yang menerangkan kelebihan puasa sunat di bulan Rajab, namun umumnya hadits hadif namun masih boleh diriwayatkan serta diamalkan pada fadhail a`mal (keutamaan beramal)
  3. Kesunnahan puasa dibulanRajab juga masuk dalam sunat berpuasa dalam setiap bulan dan juga sunat berpuasa pada bulan haram
  4. Orang yang melarang manusia untuk berpuasa di bulan Rajab adalah orang yang jahil dan tertipu dalam agama.
Wallhu A`lam bish shawab.
Samalanga, LPI MUDI MESRA
03 Rajab 1434 H/13 Mei 2013

Nash Ibarat kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 53 Cet. Dar Fikr, karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitamy

وسئل رضي الله عنه قال في طهارة القلوب لعلام الغيوب شهر رجب شهر الحرث فاتجروا رحمكم الله في رجب فإنه موسم التجارة واعمروا أوقاتكم فيه فهو أوان العمارة روي أنه من صام من رجب سبعة أيام أغلقت عنه أبواب جهنم ومن صام منه عشرة أيام لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه وإن في الجنة قصرا الدنيا فيه كمفحص القطاة لا يدخله إلا صوام رجب وقال وهب بن منبه جميع أنهار الجنة تزور زمزم في رجب تعظيما لهذا الشهر قال وقرأت في بعض كتب الله تعالى من استغفر الله تعالى في رجب بالغداة والعشي يرفع يديه ويقول اللهم اغفر لي وارحمني وتب علي سبعين مرة لم تمس النار جلده أبدا ثم قال بعد ذلك بأوراق كثيرة وفي الحديث من فاته ورده فصلاه قبل الظهر فكأنما صلاه في وقته ا هـ وقد ورد علينا جوابكم الشريف في هذه المسألة وهو جواب شاف وقد حصل به النفع لي ولمن سمعه لكن الفقيه الذي ذكرت لكم في السؤال ينهى الناس عن صومه ويقول أحاديث صوم رجب موضوعة وقد قال النووي الحديث الموضوع لا يعمل به وقد اتفق الحفاظ على أنه موضوع اهـ فالمسؤول منكم زجر هذا الناهي حتى يترك النهي ويفتي بالحق واذكروا لنا ما يحضركم من كلام الأئمة أثابكم الله الجنة
فأجاب رضي الله عنه بأني قدمت لكم في ذلك ما فيه كفاية وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه الشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى وكأن هذا الجاهل يغتر بما روي من أن جهنم تسعر من الحول إلى الحول لصوام رجب وما درى هذا الجاهل المغرور أن هذا حديث باطل كذب لا تحل روايته كما ذكره الشيخ أبو عمرو بن الصلاح وناهيك به حفظا للسنة وجلالة في العلوم ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام فإنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى لما جاء في الأحاديث الصحيحة من الترغيب في الصوم مثل قوله صلى الله عليه وسلم يقول الله كل عمل ابن آدم له إلا الصوم وقوله صلى الله عليه وسلم لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك وقوله إن أفضل الصيام صيام أخي داود كان يصوم يوما ويفطر يوما وكان داود يصوم من غير تقييد بما عدا رجب من الشهور ومن عظم رجب بجهة غير ما كانت الجاهلية يعظمونه به فليس مقتديا بهم وليس كل ما فعلوه منهيا عن فعله إلا إذا نهت الشريعة عنه أو دلت القواعد على تركه ولا يترك الحق لكون أهل الباطل فعلوه والذي ينهى عن صومه جاهل معروف بالجهل ولا يحل لمسلم أن يقلده في دينه إذ لا يجوز التقليد إلا لمن اشتهر بالمعرفة بأحكام الله تعالى وبمآخذها والذي يضاف إليه ذلك بعيد عن معرفة دين الله تعالى فلا يقلد فيه ومن قلده غر بدينه ا هـ جوابه فتأمل كلام هذا الإمام تجده مطابقا لهذا الجاهل الذي ينهى أهل ناحيتكم عن صوم رجب ومنطبقا عليه على أن هذا أحقر من أن يذكر فلا يقصد بمثل كلام ابن عبد السلام لأنه إنما عنى بذلك بعض المنسوبين إلى العلم ممن زل قلمه وطغى فهمه فقصد هو وابن الصلاح الرد عليه وأشار إلى أنه يكفي في فضل صوم رجب ما ورد من الأحاديث الدالة على فضل مطلق الصوم وخصوصه في الأشهر الحرم أي كحديث أبي داود وابن ماجه وغيرهما عن الباهلي أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت يا رسول الله أنا الرجل الذي أتيتك عام الأول قال فما لي أرى جسمك ناحلا قال يا رسول الله ما أكلت طعاما بالنهار ما أكلته إلا بالليل قال من أمرك أن تعذب نفسك قلت يا رسول الله إني أقوى قال صم شهر الصبر وثلاثة أيام بعده وصم الأشهر الحرم وفي رواية صم شهر الصبر ويوما من كل شهر قال زدني فإن لي قوة قال صم يومين قال زدني فإن لي قوة قال صم ثلاثة أيام بعده وصم من الحرم واترك صم من الحرم واترك وقال بأصبعه الثلاث يضمها ثم يرسلها قال العلماء وإنما أمره بالترك لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث فأما من لا يشق عليه فصوم جميعها فضيلة فتأمل أمره صلى الله عليه وسلم بصوم الأشهر الحرم في الرواية الأولى وبالصوم منها في الرواية الثانية تجده نصا في الأمر بصوم رجب أو بالصوم منه لأنه من الأشهر الحرم بل هو من أفضلها فقول هذا الجاهل إن أحاديث صوم رجب موضوعة إن أراد به ما يشمل الأحاديث الدالة على صومه عموما وخصوصا فكذب منه وبهتان فليتب عن ذلك وإلا عزر عليه التعزير البليغ نعم روي في فضل صومه أحاديث كثيرة موضوعة وأئمتنا وغيرهم لم يعولوا في ندب صومه عليها حاشاهم من ذلك وإنما عولوا على ما قدمته وغيره ومنه ما رواه البيهقي في الشعب عن أنس يرفعه أن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر وروي عن عبد الله بن سعيد عن أبيه يرفعه من صام يوما من رجب كان كصيام سنة ومن صام سبعة أيام غلقت عنه أبواب جهنم ومن صام ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة ومن صام عشرة أيام لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه ومن صام خمسة عشر يوما نادى مناد من السماء قد غفر لك ما سلف فاستأنف العمل وقد بدلت سيئاتك حسنات ومن زاد زاده الله ثم نقل عن شيخه الحاكم أن الحديث الأول موقوف على أبي قلابة وهو من التابعين فمثله لا يقوله إلا عن بلاغ عمن قوله مما يأتيه الوحي ثم روي عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يصم بعد رمضان إلا رجب وشعبان ثم قال إسناده ضعيف ا هـ وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا ولا شك أن صوم رجب من فضائل
الأعمال فيكتفى فيه بالأحاديث الضعيفة ونحوها ولا ينكر ذلك إلا جاهل مغرور وروى الأزدي في الضعفاء من حديث السنن من صام ثلاثة أيام من شهر حرام الخميس والجمعة والسبت كتب الله له عبادة سبعمائة عام وللحليمي في صوم رجب كلام محتمل فلا تغتر به فإن الأصحاب على خلاف ما قد يوهمه كلامه والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Download Kitab al-Ibtihaj fi Bayan Isthlihah al-Minhaj (الابتهاج فى بيان اصطلاح المنهاج)

Beberapa waktu yang lalu kami telah mempostkan download kitab Sullam Muta`llim yang menerangkan istilah-istilah Imam an-Nawawi dalam kitab beliau yang terkenal, Minhaj ath-Thalibin. Karena kemasyhuran kitab al-Minhaj, maka banyak para ulama yang menerangkan tentang istilah-istilah Imam Nawawi yang ada dalam kitab Minhaj. Keterangan secara ringkas tentang istilah tersebut Imam Nawawi sebutkan dalam muqaddimah kitab Minhaj tersebut. Para ulama yang mensyarah kitab Minhaj banyak yang membahas muqaddimah tersebut dengan panjang lebar seperti yang dilakukan oleh Imam Jalal al-Mahally dalam Syarah Minhaj beliau yang bernama Kanz ar-Raghibin, Imam Ramli dalam syarah Minhaj beliau yang bernama Nihayatul Muhtaj, Imam Khatib Syarbainy dalam kitab syarah Minaj beliau Mugny Muhtaj dan Imam Ibnu Hajar al-Haitamy dalam syarah Minhaj beliau Tuhfatul Muhtaj. Ke empat kitab tersebut merupakan empat syarah Minhaj ath-Thalibin yang paling popular hingga saat ini.

Diantara kitab yang dikarang secara khusus untuk menerangkan istilah minhaj tersebut selain dari Sullam Muta`allim adalah Kitab al-Ibtihaj fi Bayan Isthlihah al-Minhaj karangan as-Sayyid al-Allamah al-Imam Ahmad bin Abi Bakar bin Smith al-Alawy al-Hadhramy asy-Syafii (1277-1343 H). Kitab ini di cetak pada awal kitab Najmul Wahhaj bersamaan dengan kitab Sullam Muta`allim oleh percetakan Dar Minhaj. Bagi yang ingin memiliki file pdf kitab tersebut silahkan download di sini.

Ta`jil/menyegerakan membayar Zakat padi sebelum sampai nisab

hukum menyegerakan membayar Zakat padi sebelum sampai nisab

Seorang petani biasa menghasilkan panen 2 kali dalam setahun, kadang-kadang pada saat panen perama kadang-kadang hasil yang diperoleh tidak mencapai nisab. Namun besar kemungkinan bila digabung dengan panen ke depan akan mencapai nisabnya.

Pertanyaan:
Bila setelah panen pertama ia langsung membayar zakat padahal hasilnya tidak mencapai kadar nisab, sahkah pembayaran zakat padi tersebut ?

Jawaban;
tidak sah

Penjelasan:
Dalam zakat zuru` (tanaman padi dan sejenisnya) bila dalam setahun (12 bulan) terjadi dua kali panen maka hasil keduanya harus digabungkan dalam hal nisab. Maka bila dalam panen pertama dan kedua tidak mencapai nisab namun bila hasil panen keduanya digabung akan mencapai nisab, maka wajib dikeluarkan zakat.

Dalam pembayaran zakat dikenal istilah ta`jil/menyegerakan membayar zakat maksudnya membayar zakat pada saat belum sampai masa wajib membayarnya. Namun hal ini bukan dibolehkan secara mutlak, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk sah menyegerakan membayar zakat.

Salah satu syarat tersebut adalah padi tersebut harus telah mencapai nisab. Maka bila pada panen kali pertama tidak mencapai nisab berarti belum wajib zakat saat itu, dan bila dikeluarkan zakat tidak sah sebagai zakat walaupun kenyataannya pada saat panen kali kedua hasil gabungan 2 kali panen tersebut mencapai nisab.

Not.
Nisab padi adalah 10 ushuq, 10 ushuq adalah 1.200 bambu atau 7,5 Gunca/1282,576 kg (berdasarkan bahwa berat 1 bambu padi adalah 1,069 kg)

Referensi ;
1. Kitab Fathul Mu`in jilid 2 hal 185 cet. Haramain



و ) جاز للمالك دون الولي ( تعجيلها ) أي الزكاة ( قبل ) تمام ( حول ) لا قبل تمام نصاب في غير التجارة

2. Kitab Syarqawi `Ala Tahrir jilid 1 hal 383 cet. Haramain



ففي تعجيل زكاة الزروع والثمار تفصيل ان كان ذلك قبل وقت وجوب الإستقرار بأن كان قبل اشتداد الحب وبدو صلاح الثمر امتنع وان كان بعد ذلك وقبل وجوب الأداء بأن كان بعد اللإشتداد وبدو الصلاح وقبل الجفاف والتصفية جاز فيخرج من القديم الذي عنده

3. Kitab Nihayatuz Zain Hal 178 cet. Toha Putra


و) جاز لمالك النصاب (تعجيلها) أي الزكاة في المال الحولي (قبل) تمام (حول) فيما انعقد حوله ووجد النصاب فيه لأنه صلى الله عليه وسلم أرخص في التعجيل للعباس رواه أبو داود والحاكم ولأنه وجب بسببين فجاز تقديمه على أحدهما كتقديم الكفارة على الحنث ومحل جواز التعجيل في غير الولي أما هو فلا يجوز له التعجيل عن موليه سواء الفطرة وغيرها
نعم إن عجل من ماله جاز ولا يرجع به على الصبي وإن نوى الرجوع لأنه إنما يرجع عليه فيما يصرفه عنه عند الاحتياج ولا يصح تعجيل الزكاة على ملك النصاب في زكاة عينية كأن ملك مائة درهم فعجل خمسة دراهم لتكون زكاة إذا تم النصاب وحال الحول عليه واتفق ذلك فلا يجزئه إذ لم يوجد سبب وجوبها لعدم المال الزكوي فأشبه أداء الثمن قبل البيع والدية قبل القتل والكفارة قبل اليمين
وخرج بالزكاة العينية زكاة التجارة فيجوز التعجيل فيها بناء على ما مر من أن النصاب فيها معتبر بآخر الحول فلو اشترى عرضا قيمته مائة فعجل زكاة مائتين مثلا أو قيمته مائتان فعجل زكاة أربعمائة وحال الحول وهو يساوي ذلك أجزأه وكأنهم اغتفروا له التردد في النية إذ الأصل عدم الزيادة لضرورة التعجيل وإلا لم يجز تعجيل أصلا لأنه لا يدري ما حاله عند آخر الحول


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja