Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Download Kitab al-Kasyif ash-Shaghir 'an Aqaid Ibn Taimiyah

Aqidah Ibnu TaimiyahSalah satu tokoh zaman ini yang gigih mempertahankan aqidah Ahlus sunnah wal Jamaah adalah DR. Sa’id Faudah yang di gelari Saif sunnah (pedang sunnah, selain giat mengajarkan aqidah Ahlus sunnah baik lewat pengajian langsung maupun lewat media internet, beliau juga banyak menulis kitab-kitab yang berkaitan dengan aqidah. Salah satu karangan beliau yang telah kami upload sebelumnya adalah Naqdh Risalah Tadmiriyah, sebuah kitab yang menolak karangan Ibnu Taimiyah, Risalah Tadmiriyah.

Kali ini kami akan mempostingkan sebuah karya beliau yang lain juga berkenaan dengan aqidah Ibnu Taimiyah yang beliau beri nama al-Kasyif ash-shaghir ‘an aqidah Ibn Taimiyah. Kitab ini terdiri atas 504 halaman yang di cetak oleh percetakaan Dar ar-Razi, Oman, Jordania, cetakan pertama tahun 2000.
Dalam kitab ini, Syeikh Said Faudah hanya memperlihatkan bagaimana aqidah Ibnu Taimiyah sesungguhnya yang beliau ambil langsung dari kalam Ibnu Taimiyah sendiri. Maka kitab ini sangat penting di miliki untuk melihat bagaimana aqidah Ibnu Taimiyah sesungguhnya sebagaimana hasil penelitian Syeikh Sa’id Faudah

ٍBagi yang berminat memiliki file pdf kitab ini, silahkan download disini atau bisa langsung ke archive

Download Kitab ittihaf al-Kainat bi Bayan Mazhab as-Salaf wa al-Khalaf fi al-Mutasyabihat

ittihaf al-Kainat bi Bayan Mazhab as-Salaf wa al-Khalaf fi al-MutasyabihatSalah satu permasalahan aqidah yang gencar di bicarakan saat ini adalah masalah sifat-sifat allah pada nash-nash mutasyabihat. Kaum mujassimah sangat gencar
mengkampanyekan supaya nash-nash tersebut tetap di artikan secara dhahirnya walaupun melazimi kepada tasbih dan tajsim (keyakinan Allah berjisim). Dalam hal ini keyakinan Ahlus sunnah wal Jamaah sangat jelas yaitu tafwidh setelah tafsir ijmali dan takwil sebagaimana yang telah kami uraikan dalam tulisan kami sebelumnya.
Untuk menanggapi masalah pemahaman tentang nash mutasyabihat ini para ulama telah banyak memberikan penjelasan dalam kitab-kitab mereka, baik kitab yang di karang khusus membicarakan masalah mutasyabihat maupun kitab yang pembahasannya lebih umum.
Syeikh Mahmud Khatab
Syeikh Mahmud Khatab

Salah satu kitab yang khusus membahas seputar tentang takwil dan tafwidh nash mutasybihat adalah kitab ittihaf al-Kainat bi Bayan Mazhab as-Salaf wa al-Khalaf fi al-Mutasyabihat karangan seorang ulama besar Ustad Kabir Syeikh Mahmud Muhammad Khatab as-Subki (w. 1352 H). Dalam kitab ini Syeikh Mahmud Khatab menolak pemahaman kaum mujassimah yang mengatakan Allah di berada di atas langit duduk di atas Arasy. Pada pembahasan istiwa’ dan yad tidak kurang dari dua puluh penjelasan ulama besar yang beliau bawakan. Demikian juga pada masalah fauqiyah (Allah di atas) tak kurang dari 30 penjelasan para ulama terdahulu yang beliau bawakan.

Nah bagi yang ingin mendownload kitab ini silahkan, KLIK DI SINI dalam format pdf.

Rukun-rukun shalat

Rukun-rukun shalat
salah satu kewajiban yang Allah pundakkan kepada kita umat Islam adalah shalat sehari semalam lima waktu. Kewajiban shalat merupakan satu hal yang telah dharuri dan di ketahui semua kaum muslim, karena itu bila ada orang yang mengingkari kewajiban shalat lima waktu maka ia dihukumi sebagai kafir.
Kali ini, pihak LBM akan membahas seputar sifat-sifat shalat, bagaimana kaifiyat rukun-rukun shalat baik hal wajib maupun sunatnya dengan berlandaskan fiqh Mazhab Imam Syafii. pembahasan ini akan berlanjut sampai beberapa tulisan. Untuk pertama kali kami akan tuliskan rukun-rukun shalat secara umum.

Rukun shalat ada 13 :
  1. Niat
  2. Takbir ihram
  3. Berdiri betul bagi yang mampu
  4. Membaca Fatihah
  5. Ruku’
  6. I’tidal
  7. Sujud
  8. Duduk di antara dua sujud
  9. Membaca doa tasyahud Akhir
  10. Duduk Tasyahud Akhir
  11. Membaca shalawat
  12. Salam
  13. Tertib.
Sebagian ulama menambahkan dalam rukun shalat "tuma’ninah" pada ruku’, sujud, i’tidal, dan duduk di antara dua sujud, sehingga jumlah rukun shalat menjadi empat belas. Namun para ulama yang menuliskan rukun shalat sebanyak tiga belas, menggolongkan tuma’ninah kedalam syarat dalam beberapa rukun tersebut.
Selain itu, sebagian ulama juga menambahkan rukun shalat "niat keluar dari shalat". Namun menurut pendapat yang kuat hal ini tidaklah wajib tetapi hanya di sunatkan.

Penjelasan setiap rukun-rukunnya yang lebih detail Insya Allah akan kami sajikan satu persatu dalam tulisan berikutnya dengan disertai referensi kitab mu'tabarah. Amiin Ya Allah.

Hukum Tahlilan

Tahlilan dalam Islam
Salah satu hal yang lazim di kerjakan oleh umat Islam Ahlus sunnah di Indonesia adalah melakukan tahlilan dalam beberapa hari setelah kematian dan juga di sertai dengan menyediakan makanan sebagai shadaqah. Namun belakangan ini muncul kalangan yang dengan cepat dan mudahnya memvonis amalan kaum muslimin tersebut sebagai amalan bid`ah dan sesat dengan membawakan argument-argument yang sering kali mempengaruhi kalangan awam. Atas dasar itu, maka kami mencoba menerangkan sedikit landasan hukum tahlilan yang telah di amalkan oleh para ulama semenjak dahulu.

Tahlilan adalah berasal dari kata tahlil yang artinya membaca laailaha illaha. Tahlilan dalam uruf nusantara di maksudkan kepada pembacaan kalimat laailaha illah, shalawat kepada Nabi SAW, dan beberapa surat pendek terutama surat al-ikhash yang kemudian di akhiri dengan doa hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal. Di namakan tahlilan karena pembacaan laailaha illallah yang dominan. Selain juga di namakan dengan shamadiyah karena pembacaan surat al-ikhlash yang juga dominan. Umumnya setelah hari kematian di lakukan tahlilan sampai 7 hari secara beramai-ramai menurut adat di daerah masing-masing. Kadang kala setelah acara tahlilan tuan rumah menyediakan makanan ala kadar menurut kemampuan dan adat daerah masing-masing.

Nah, bagaimanakah hukum tahlilan setelah hari kematian?
Tujuan dari pelaksanaan tahlilan adalah menghadiahkan pahala bacaan bagi mayat. Menghadiahkan pahala al-quran bagi mayat merupakan salah satu hal yang memiliki landasan yang kuat dalam agama.
Menurut Imam al-Syafi’i dalam satu ‘ibarat, pahala bacaan al-Qur`an tidak bermanfaat bagi si mayat. Sementara pada ‘ibarat yang lain, Imam al-Syafi’i berfatwa bahwa disunatkan bagi peziarah kubur untuk membaca al-Qur`an. Rangkaian fatwa ini disepakati sendiri oleh para ashab Imam al-Syafii sebagaimana penejelasan Imam Nawawi dalam kitabnya, Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz. V, hal. 311, cet. Dar al-Fikr :
Murid senior Imam al-Syafi’i, al-Za`farany (w. 260 H) berkata :

سألت الشافعى رحمه الله عن قراءة عند القبر فقال لا بأس به

"Saya pernah bertanya kepada Imam al-Syafi’i tentang membaca (al-Qur`an) di samping kubur. Beliau menjawab “tidak mengapa". (Syarh al-Shudur, Imam al-Sayuthi, hal. 311, cet. Dar al-Madani, 1985).

Nah, kedua pendapat Imam al-Syafi’i tersebut harus diperhatikan dengan baik untuk menghindari menyalahkan salah satu pendapat. Karenanya, para ulama memahami perkataan Imam al-Syafi’i yang mengatakan bahwa qiraah tidak bermanfaat bagi mayat hanyalah bila al-Qur`an dibacakan bukan di hadapan mayat atau tidak diiringi oleh doa setelahnya karena bila al-Quran dibacakan di hadapan mayat, Imam al-Syafi’i berpendapat hukumnya sunat sebagaimana penjelasan Imam al-Nawawi sebelumnya. Sedangkan bila qiraah yang diiringi doa setelahnya, para ulama telah ijma’ bahwa doa tersebut bermanfaat bagi si mayat.
Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsir surat an-Najmu ayat 39 :

فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما ومنصوص من الشارع عليهما
Maka adapun masalah doa dan shadaqah maka hal itu ijmak ulama sampai pahalanya dan keduanya telah dinashkan (diterangkan) dari syara`. (lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal 268 cet. Dar Fikr thn 1997)

Bahkan dengan adanya pembacaan al-Qur`an sebelum berdoa akan menjadikan doa tersebut semakin besar kemungkinan untuk diterima.
Sedangkan Imam mujtahid lainnya (Imam al-Hanafi, al-Maliki dan al-Hanbali) berpendapat bahwa pahala bacaan al-Qur`an sampai pahalanya dan bermanfaat kepada si mayat. Pendapat ini diikuti pula oleh ulama madzhab al-Syafi’i seperti Imam al-Subki. (lihat Hasyiyah I`anat al-Thalibin, Juz. III, hal. 221, cet. al-Haramain).

Dari uraian tersebut dapatlah dipahami bahwa hukum melakukan tahlilan adalah :
  1. Apabila dibacakan di hadapan mayat atau diiringi dengan doa setelahnya, maka para ulama termasuk Imam al-Syafi’i dan Imam madzhab lain sepakat bahwa pahalanya bisa sampai kepada si mayat.
  2. Apabila bukan di hadapan mayat atau tidak diiringi dengan doa setelahnya, maka menurut Imam al-Syafi’i tidak sampai pahalanya. Sementara menurut tiga Imam madzhab lainnya bahkan juga sebagian besar ulama Madzhab al-Syafii adalah pahalanya sampai kepada si mayat.

Yang di amalkan oleh masyarakat kita saat ini umumnya adanya doa setelah membaca tahlil dan ayat al-quran, sehingga amalan pembacaan tahlilan setelah hari kematian yang di amalkan oleh masyarakat kita umumnya merupakan amalan yang bermanfaat bagi mayat sesuai dengan ijmak para ulama. Sesuai juga dengan pendapat Imam Syafii sendiri yang telah kami uraikan sebelumnya. Lihat juga penjelasan ulama zaman ini, syeikh Wahbah Zuhaily dan Syeikh Ali Jum'ah.

Sedangkan masalah menyediakan makanan dan berkumpul bersama dalam majelis makanan tersebut bukanlah satu masalah hal yang lazim dengan tahlilan, karena tahlilan bisa terjadi tanpa adanya penyediaan makanan dan penyediaan makanan juga bisa terjadi tanpa adanya tahlilan. Maka uaraian dalil hukum menyediakan makanan di hari kematian akan kami bahas dalam tulisan tersendiri kedepan. Namun untuk kesimpulan jawabannya bisa di baca fatwa Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan syeikh Ismail Zain.

Download kitab Afdhal Shalawat karangan Syeikh Yusuf an-Nabhani

أفضل الصلوات على سيد السادات صلى الله عليه وسلم لفضيلة الشيج الجليل العلامة لسيدي يوسف بن إسماعيل النبهاني رحمه الله تعالى

Kitab Afdhal Shalawatshalawat merupakan salah satu ibadah yang memiliki pahala yang besar. karena itu banyak para ulama yang mengarang kitab-kitab yang berisi kumpulan berbagai jenis shalawat kepada Rasulullah baik yang warid dari beliau sendiri, dari para shahabat, tabi’in maupun jenis-jenis shalawat karangan para ulama shalihin. Shalawat karangan para ulama bukanlah jenis shalawat yang tidak boleh di baca, karena bacaan shalawat bukanlah jenis zikir yang harus sama persis sebagaimana yang warid.
salah satu kitab yang berisi kumpulan shalawat adalah kitab Afdhal shalawat ‘ala Sayyid as-Sadat yang di karang oleh Syeikh Yusuf an-Nabhani, seorang ulama yang banyak mengarang kitab berkenaan tentang shalawat kepada Rasulullah dan juga di kenal seorang ulama yang banyak membungkam kesesatan kaum wahabi.
Kitab berisi berbagai macam jenis shalawat dengan di sertai sedikit keterangan riwayat shalawat tersebut baik shalawat dari Rasulullah maupun dari para ulama.
Nah bagi yang ingin memiliki file kitab tersebut silahkan download di bawah ini dalam format pdf dan exe.



Shalat Taraweh 20 Rakaat

Shalat Taraweh 20 Rakaat
Salah satu syiar Islam di bulan Ramadhan yang penuh berkah dan mempunyai keutamaan di sisi Allah SWT adalah shalat tarawih. Shalat tarawih ini dilakukan pada malam hari di bulan Ramadhan yang dilaksanakan setelah shalat ‘isya dan sebelum shalat witir. Shalat tarawih ini hukumnya sunat muakkad bagi laki-laki dan perempuan. Disunatkan pula melakukannya secara berjamaah.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul fatwa baru menyangkut jumlah bilangan rakaat shalat tarawih. Padahal, sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat muslim di negeri ini bahwa shalat tarawih dilaksanakan sebanyak dua puluh rakaat.

Fatwa baru tersebut menyatakan bahwa bilangan shalat tarawih yang sesuai dengan sunnah Nabi Muhamad SAW hanya delapan rakaat dengan empat kali salam ataupun dua kali salam. Dan bahkan ada yang menyatakan bahwa "shalat teraweh 8 rakaat berarti mengikuti Rasulullah sedangkan shalat taraweh 20 rakaat mengikut Saidina Umar, pilih mana? Rasulullah atau Saidina Umar?
Fatwa baru seperti ini telah membuat resah umat Islam di negeri kita karena mengindikasikan bahwa pelaksanaan shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat adalah suatu amalan bid’ah yang menyesatkan.
Pada akhirnya, fatwa baru ini hanya menimbulkan perpecahan dan merusak tatanan ukhuwah islamiah dalam kalangan umat Islam.

Oleh karena itu tidak ada salahnya bila kita mencoba untuk sedikit menelisik secara arif dan bijaksana bagaimana sebenarnya kesimpulan para salafush-shalih tentang jumlah bilangan rakaat shalat tarawih ini.

Ibnu Manzhur dalam Lisanul-Arab mengutarakan bahwa kata "al-tarawih" merupakan bentuk jamak dari kata "al-tarwihah", yang berarti satu kali istirahat. Penamaan shalat tersebut dengan tarawih dikarenakan para jamaahnya beristirahat sesudah tiap-tiap empat rakaat. Dalam suatu hadits disebutkan shalat tarawih karena mereka beristirahat di antara dua kali salam.

Berpijak dari dasar penamaan tersebut, jelaslah bahwa sesungguhnya bilangan shalat tarawih terlebih banyak dari delapan rakaat. Hal ini disebabkan istirahat dilakukan sesudah tiap-tiap empat rakaat. Karena kata “al-tarawih” berbentuk jamak, maka minimal istirahatnya dilakukan tiga kali sehingga paling sedikit jumlah bilangan rakaatnya adalah dua belas rakaat, bukan delapan rakaat.

Ada dua riwayat hadist yang menjadi pokok permasalahan ini. Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah :

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج فلم نزل فيه حتى أصبحنا ثم دخلنا فقلنا يا رسول الله اجتمعنا البارحة في المسجد ورجونا أن تصلي بنا فقال إني خشيت أن يكتب عليكم

“Dari Jabir bin Abdullah berkata: ”Kami melakukan shalat bersama Nabi SAW di bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat dan melakukan witir. Pada malam berikutnya kami berkumpul di mesjid dan mengharapkan Nabi SAW keluar bersama kami. Namun Nabi SAW tidak kunjung keluar hingga tiba waktu Shubuh. Ketika Rasulullah SAW tiba kami berkata : Wahai Rasulullah, kami semalam berkumpul di mesjid dan berharap Engkau keluar melakukan shalat bersama kami. Nabi SAW menjawab: “Sesungguhnya saya khawatir shalat ini akan diwajibkan atas kalian”. (HR. Imam al-Thabrani)

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah :

عن أبي سلمة بن عبد الرحمن أنه سأل عائشة كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان قالت ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا فقالت عائشة فقلت يا رسول الله أتنام قبل أن توتر فقال يا عائشة إن عيني تنامان ولا ينام قلبي

"Dari Abi Salamah bin Abd al-Rahman, beliau bertanya kepada ‘Aisyah tentang bagaimana tata cara shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. ‘Aisyah berkata : “Rasulullah SAW tidak pernah menambahi, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian Beliau shalat empat rakaat dan jangan kamu tanyakan baik dan panjangnya. Kemudian Beliau shalat tiga rakaat.” ‘Aisyah kemudian berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah :”Apakah engkau tidur sebelum melakukan shalat witir?” Beliau menjawab : “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur tapi hatiku tidak tidur". (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Kedua riwayat inilah yang menjadi landasan utama “fatwa” baru yang menyebutkan bahwa jumlah bilangan shalat tarawih adalah delapan rakaat. Akan tetapi, kesimpulan ini terkesan sangat tergesa-gesa dan sama sekali tidak memperhatikan perilaku para sahabat Nabi saw sendiri dan pandangan para ulama besar Islam.

Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Sunan al-Kubra meriwayatkan :
عن السائب بن يزيد قال : كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضى الله عنه فى شهر رمضان بعشرين ركعة

Dari al-Saib ibn Yazid al-Shahabi, ia berkata : Para sahabat mendirikan shalat tarawih pada bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat.

Dalam thariq yang lain Imam al-Baihaqi meriwayatkan :
عن عطاء بن السائب عن أبى عبد الرحمن السلمى عن على رضى الله عنه قال : دعا القراء فى رمضان فأمر منهم رجلا يصلى بالناس عشرين ركعة

"Diriwayatkan dari ‘Itha’ ibn al-Saib dari Abi ‘Abd al-Rahman al-Salmi dari ‘Ali, ia berkata : “Panggillah orang-orang yang bagus bacaannya dan perintahkan salah seorang dari mereka untuk melakukan shalat bersama para jamaah pada bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat".
Imam Malik dalam kitab al-Muwatha’ meriwayatkan :
عن يزيد بن رومان أنه قال كان الناس يقومون في زمان عمر بن الخطاب في رمضان بثلاث وعشرين ركعة

"Dari Yazīd ibn Rauman, ia berkata :”Sesungguhnya orang-orang pada masa ‘Umar bin al-Khathab mendirikan Ramadhan dengan 23 rakaat".

Secara tekstual, riwayat-riwayat tersebut meriwayatkan pelaksanaan shalat tarawih yang terjadi pada masa sahabat Nabi SAW, yaitu pada masa ‘Umar bin Khathab dan ‘Ali bin Abi Thalib. Segala sesuatu baik berbentuk perkataan, perbuatan dan seumpamanya yang disandarkan kepada sahabat dinamakan dengan hadits mauquf. Sebagian ulama fikih menamakan hadis mauquf dengan atsar, sedangkan hadis marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi SAW) dinamakan khabar. Adapun para Muhaditsin sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam al-Nawawī menggunakan istilah khabar kepada hadis mauquf dan hadis marfu’.
Perlu diketahui bahwa sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat tidak selamanya dianggap hadits mauquf. Apa yang disandarkan kepada para sahabat tersebut baru dikatakan hadis mauquf bila berhubungan dengan perkara yang bersumber dari pendapat seseorang dan berkemungkinan untuk dilakukan ijtihad. Namun bila perkara tersebut tidak termasuk masalah-masalah yang dihasilkan dari ijtihad maka hadits tersebut digolongkan sebagai hadis marfu’.

Masalah shalat tarawih termasuk jumlah rakaatnya tidak termasuk perkara ijtihadiyyah dan bukan juga masalah yang bersumber dari perkataan dan pendapat pribadi seseorang. Akan tetapi, para sahabat mengetahui hal itu hanya dari Nabi SAW. Sekiranya hal ini merupakan masalah ijtihadiyyah atau pun masalah yang bersumber dari pendapat seseorang, tentulah para sahabat akan berbeda-beda pengamalannya dalam melakukan shalat tarawih sebagaimana lazimnya terdapat perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam masalah-masalah ijtihadiyyah.

Oleh karena itu, riwayat tentang jumlah bilangan rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh sahabat sebanyak dua puluh rakaat tersebut, kendati hal itu mauquf kepada para sahabat, namun statusnya sama dengan hadis marfu’, yaitu hadis yang bersumber dari Nabi SAW. Apabila berstatus sebagai hadis marfu’, maka ia memiliki kekuatan sebagai sumber hukum sebagaimana halnya hadis-hadis marfu’ yang lain.
Dalil selanjutnya adalah ijma’ (konsensus) para sahabat Nabi SAW. Ijma’ mengenai jumlah rakaat shalat tarawih ini dapat dipahami dari tidak ada satu orang pun di antara para sahabat yang memprotes, menyalahkan, dan menganggap pelaksanaan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat pada masa ‘Umar bin Khathab dan ‘Ali bin Abi Thalib bertentangan dengan yang dikerjakan oleh Nabi SAW. Padahal pada saat itu ‘Aisyah, Abu Hurairah, ‘Utsman ibn ‘Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash dan para sahabat senior lainnya masih hidup. Sekiranya jumlah bilangan shalat tarawih dua puluh rakaat ini bertentangan dengan sunnah Nabi SAW, tentunya para sahabat sudah melakukan protes besar-besaran terhadap Umar bin Khathab.
Pendapat shalat tarawih dua puluh rakaat juga merupakan ijma’ para ulama empat mazhab muktabar, baik al-Hanafiyyah, al-Malikiyyah, al-Syafi’iyyah atau al-Hanbaliyyah.

Imam al-Syafi’i dalam kitab al-Umm mengungkapkan :
ورأيتهم بالمدينة يقومون بتسع وثلاثين وأحب إلى عشرون لانه روى عن عمر وكذلك يقومون بمكة ويوترون بثلاث

"Saya melihat orang-orang di Madinah melakukan shalat tarawih sebanyak tiga puluh enam rakaat. Namun yang lebih saya sukai adalah sejumlah dua puluh rakaat karena hal itu diriwayatkan dari Umar. Demikianlah pelaksanaan tarawih dilakukan oleh orang-orang di Mekah dan mereka melakukan witir sebanyak tiga rakaat".

Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ‘Ala Syarh al-Muhadzdzab mengatakan :
مذهبنا أنها عشرون ركعة بعشر تسليمات غير الوتر وذلك خمس ترويحات والترويحة أربع ركعات بتسليمتين هذا مذهبنا وبه قال أبو حنيفة وأصحابه وأحمد وداود وغيرهم ونقله القاضى عياض عن جمهور العلماء وحكى أن الاسود بن مزيد كان يقوم بأربعين ركعة ويوتر بسبع وقال مالك التراويح تسع ترويحات وهى ستة وثلاثون ركعة غير الوتر واحتج بأن أهل المدينة يفعلونها هكذا

"Dalam mazhab kita (al-Syafi’i), shalat tarawih berjumlah dua puluh rakaat dengan sepuluh kali salam dan hal ini tidak termasuk witir, dan demikian lima kali istirahat, dan sekali istirahat pada tiap-tiap empat raka’at dengan dua kali salam, ini bedasarkan mazhab kita (al-syafi,i), Ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah serta pengikutnya, pendapat Imam Ahmad, Imam Daud, dan Imam Mujtahid lainnya. Al-Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan pendapat itu dari mayoritas ulama. Dan di hikayatkan bahwa al-aswadbin mazid shalat ia dengan empat puluh raka’atdan witir ia tujuh raka’at. Menurut Imam Malik shalat tarawih itu Sembilan kali istirahat, yakni tiga puluh enam rakaat selain witir. Landasan hukum mazhab al-Maliki adalah mengikuti perbuatan penduduk Madinah".

Imam al-Syarbaini dalam kitab Mughni al-Muhtaj mengatakan :
وهي عشرون ركعة بعشر تسليمات في كل ليلة من رمضان لما روى البيهقي بإسناد صحيح أنهم كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة وروى مالك في الموطأ بثلاث وعشرين وجمع البيهقي بينهما بأنهم كانوا يوترون بثلاث

"Shalat tarawih berjumlah dua puluh rakaat dengan sepuluh kali salam yang dilakukan pada setiap malam di bulan Ramadhan. Hal ini dilandasi pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan isnad yang shahiẖ yaitu “sesungguhnya mereka (Sahabat Nabi) mendirikan tarawih pada masa Umar sebanyak dua puluh rakaat” dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha’ dengan dua puluh tiga rakaat. Dan Imam al-Baihaqi mengkompromikan dua dalil ini dengan beranggapan bahwa mereka melakukan witir sebanyak tiga rakaat".

Di sini ditambahkan pandangan para fuqaha` dari mazhab al-Hanafiyyah, al-Malikiyyah dan al-Hanbaliyyah.

1. Imam Sarkhasy dari kalangan fuqaha` Hanafiyah mengatakan dalam kitab al-mabsuth:
انها عشرون ركعة سوى الوتر عندنا

Shalat taraweh adalah 20 rakaat selain witir menurut mazhab kita (mazhab hanafi)

Penjelasan serupa juga di terangkan oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiah Radd al-Mukhtar bahkan beliau mengatakan ini merupakan pendapat jumhur ulama dan yang di amalkan kaum muslim di timur dan barat.

2. Pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliky juga serupa dengan pendapat jumhur yaitu dua puluh rakaat sebagaimana di terangkan oleh ulama Mazhab Maliky Syeikh Ahmad ad-Dardir dalam kitab Syarah Shaghir. Imam an-Nafrawy dalam kitab al-Fawakih ad-Dawany menerangkan bahwa para ulama salaf pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz melaksanakan taraweh sebanyak 36 rakaat selain witir. Beliau mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang di pilih oleh Imam Malik dalam kitab al-Mudawwanah dan di amalkan oleh ulama Madinah. Namun para pengikut Imam Malik lebih menguatkan 20 rakaat sebagaimana di lakukan pada masa shahabat pada Khalifah Umar bin Khatab dan diamalkan oleh umat Islam sepanjang masa.

3. Fuqaha` Mazhab Hanbali juga menyebutkan bahwa pendapat yang di pilih menurut Imam Ahmad adalah dua puluh rakaat sebagaimana di jelaskan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Mughni Ibnu Qudamah.
Memang, terdapat sedikit perbedaan dengan Imam Malik yang menetapkan shalat tarawih sebanyak tiga puluh enam rakaat karena beliau lebih mengutamakan amalan orang Madinah. Namun hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau menafikan bilangan shalat tarawih yang berjumlah dua puluh rakaat. Indikasinya adalah perkataan Imam Malik sendiri dalam kitabnya, al-Muwatha’, yang meriwayatkan bahwa pelaksanaan bilangan shalat tarawih pada masa ‘Umar bin Khathab adalah dua puluh rakaat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.

Imam Ibnu Ḫajar al-Haitami dalam kitab Tuhfat al-Muhtaj mengatakan :
ولهم فقط لشرفهم بجواره صلى الله عليه وسلم ست وثلاثون جبرا لهم بزيادة ستة عشر في مقابلة طواف أهل مكة أربعة أسباع بين كل ترويحة من العشرين سبع ، وابتداء حدوث ذلك كان أواخر القرن الأول ثم اشتهر ولم ينكر فكان بمنزلة الإجماع السكوتي

"Hanya bagi mereka (penduduk Madinah) karena kemuliaannya dengan sebab berdekatan dengan Nabi SAW yang dibolehkan melakukan shalat tarawih sebanyak tiga puluh enam rakaat dengan penambahan enam belas rakaat sebagai pengimbang terhadap thawaf yang dilakukan penduduk Mekkah di mana di antara setiap dua tarwihah dilakukan sejumlah tujuh kali thawaf. Hal itu baru terjadi pada akhir abad pertama hijriah, kemudian hal itu menjadi masyhur dan tidak ada yang mengingkari. Dengan demikian hal ini berada pada kedudukan al-ijma’ al-sukuti".

Dengan melihat beberapa pandangan para ulama tersebut, maka keliru bila ada yang mengatakan bahwa shalat tarawih dalam mazhab al-Syafi’i tidak berorientasi pada angka tertentu. Hal ini dapat dipahami karena penambahan shalat tarawih sejumlah tiga puluh enam rakaat hanya dibenarkan kepada penduduk Madinah. Sedangkan bagi selain penduduk Madinah shalat tarawih berjumlah dua puluh rakaat. Adanya al-ijma’ al-sukuti tentang penambahan menjadi tiga puluh enam rakaat bagi penduduk Madinah tersebut hanyalah dari segi kebolehannya saja, bukan dari segi adanya tuntutan dan anjuran.

Sebagaimana disebutkan dalam keterangan tersebut, penambahan shalat tarawih menjadi tiga puluh enam rakaat hanya diberikan kepada penduduk Madinah karena mereka mendapat kemuliaan dan keistimewaan dengan berkat hijrah Nabi SAW dan menjadi tempat pemakaman Nabi SAW. Adapun bagi selain penduduk Madinah, penambahan seperti itu tidak dibolehkan. Penduduk Madinah yang dimaksudkan di sini adalah orang-orang yang berada di Madinah pada saat melakukan shalat.

Imam al-Qulyubi dalam Hasyiat al-Qulyubi mengungkapkan :
والمراد بهم من وجد فيها أو في مزارعها ونحوها في ذلك الوقت , وإن لم يكن مقيما بها والعبرة في قضائها بوقت الأداء فمن فاتته وهو في المدينة فله قضاؤها ولو في غير المدينة ستا وثلاثين , أو وهو في غير المدينة قضاها ولو في المدينة عشرين

"Yang dimaksudkan dengan penduduk Madinah adalah orang-orang yang berada di Madinah, di perkebunannya dan seumpamanya pada waktu pelaksanaan tarawih sekalipun ia tidak bermukim di sana. Hal yang menjadi tolak ukur untuk qadha’ adalah keberadaan seseorang pada waktu yang ditetapkan. Maka orang-orang yang tidak sempat melakukan tarawih saat berada di Madinah boleh meng-qadha-nya sebanyak tiga puluh enam rakaat walaupun di luar Madinah. Sedangkan orang-orang yang tidak sempat melakukan tarawih saat berada di luar Madinah mesti melakukan qadha sebanyak dua puluh rakaat walaupun di Madinah".

Dari uraian ini dapat diketahui bahwa penduduk Madinah juga mengakui dan tidak menyalahi shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat, hanya saja mereka menambahnya untuk mengimbangi kelebihan yang diperoleh oleh penduduk Mekkah yang berkesempatan melakukan thawaf di celah-celah tarwihah.
Menyangkut dengan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah, para ulama tidak menjadikannya sebagai dalil ketentuan bilangan shalat tarawih, tetapi hanya menjadikannya sebagai dalil kesunnahan shalat tarawih dan berjamaah.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah, pada akhir haditsnya beliau menanyakan tentang shalat witir kepada Nabi SAW. Begitu juga dalam riwayat Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Khuzaimah, pada akhir haditsnya, Nabi SAW menyatakan “...Sesungguhnya saya khawatir Allah akan mewajibkan shalat witir”. Hal ini mengindikasikan bahwa hadits-hadits ini berada dalam konteks pembicaraan shalat witir.

Selanjutnya, dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah tersebut juga terdapat pernyataan “tidak juga pada selain Ramadhan”. Dari pernyataan ini juga dapat dipahami bahwa Nabi SAW melaksanakan shalat yang jumlah bilangan rakaatnya sebelas tersebut sepanjang tahun, bukan hanya terkhusus pada bulan Ramadhan saja yang tentunya memperjelas bahwa yang dimaksud dalam riwayat tersebut bukanlah shalat tarawih karena shalat tarawih hanya ada pada bulan Ramadhan.

Akhirnya, kita dapat meyakini bahwa hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah meskipun dipastikan kesahihannya, namun hadits ini bukanlah dalil shalat tarawih dan tidak dapat dijadikan sebagai pendukung bagi hadis riwayat Jabir bin ‘Abdullah tentang shalat tarawih.

Sementara itu, hadits yyang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah tersebut juga tidak bisa dijadikan sebagai dalil dalam penetapan jumlah rakaat tarawih karena hadits ini terdapat beberapa kemungkinan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh al-Sinuri dalam kitab Kasyf al-Tabarih fi Bayani Shalat al-Tarawih :
و أما حديث جابر رضي الله عنه فإن كانت القصة واحدة فقد احتمل أن جابرا ممن جاء في الليلة الثانية، فلذا اقتصر على وصف ليلتين كذا قاله الزرقاني في شرح الموطاء، واحتمل أن جابرا رضي الله عنه جاء إلى المسجد ولم يبق من صلاته صلى الله عليه وسلم إلاّ ثمان ركعات، فأخبر عما أدركه ورآه، مع أنه لم ينف الزائد عليها، بل ولو نفاه أيضا لم تقم به الحجة لذلك الإحتمال كما نفى أنس رضي الله عنه رفْعَه صلى الله عليه وسلم يديه في الدعاء إلا في الإستسقاء، مع أن غيره روى عنه صلى الله عليه وسلم رفع اليدين في غير الإستسقاء

"Adapun mengenai hadits Jabir, bila memang kisah itu satu, maka kemungkinan Jabir termasuk orang-orang yang hanya datang pada malam kedua. Oleh karena itu pada hadits tersebut Jabir hanya mengisahkan kisah dua malam. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam al-Zarqani dalam kitab Syarh al-Muwatha’. Kemungkinan juga Jabir datang terlambat ke mesjid dan ia hanya mendapati shalat sebanyak delapan rakaat, maka ia hanya memberitakan apa yang ia lihat. Meski demikian, bukan berarti Jabir menafikan rakaat tambahan yang lebih dari delapan rakaat. Bahkan seandainya Jabir menafikan pun tidak berpengaruh apa-apa dalam hal istidlal (pengambilan dalil) karena terdapat beberapa kemungkinan tadi sebagaimana Anas menafikan Nabi SAW mengangkat tangan pada selain shalat istisqa’, sementara sahabat yang lain meriwayatkan bahwa Nabi SAW mengangkat tangan dalam berdoa pada selain shalat istisqa’".

Setelah melihat beberapa kemungkinan tersebut, maka hadits riwayat Jabir bin ‘Abdullah ini tidak bisa juga dijadikan pedoman dalam hal istidlal (pengambilan dalil) jumlah bilangan shalat tarawih. Hal ini sesuai dengan sebuah qaedah Imam Syafii yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari dalam kitab Ghayatul Wushul:
وقائع الأحوال إذا تطرق إليها الاحتمال كساها ثوب الإجمال وأسقط بها الاستدلال

"Ketentuan (nash) tentang suatu peristiwa apabila mengandung beberapa kemungkinan akan termasuk kategori mujmal (global) dan tidak dapat digunakan sebagai dalil".

Berdasarkan kaidah tersebut, hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah ini dapat dipastikan gugur dari segi pengambilan dalil untuk menetapkan jumlah rakaat shalat tarawih. Kalaupun hadis ini sahih, maka hadits ini hanya dapat dijadikan sebagai dalil tentang disunatkannya berjamaah pada shalat tarawih.

Pandangan para ulama ini sangat sejalan dengan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW karena mereka mengikuti para sahabat. Sungguh keliru bila kita beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh para sahabat merupakan perkara bid’ah atau menyalahi sunnah Rasulullah SAW. Hal ini sama saja dengan beranggapan bahwa Nabi SAW adalah seorang pendusta dan memerintahkan untuk mengikuti suatu kemungkaran karena di dalam beberapa hadis beliau mengagungkan sahabatnya seperti ‘Umar bin Khathab, menyuruh kita mengikutinya, dan membenarkan pendapatnya.

DR. Wahbah Zuhaili dalam opininya pada surat kabar mingguan The Moeslem World edisi 12–19 Februari 1996 mengatakan, orang-orang yang menyangka bahwa shalat tarawih hanya delapan rakaat merupakan sunnah dan melebihi darinya adalah bid’ah, maka sesungguhnya ia telah menganggap sesat para sahabat dan menyalahi perintah Rasulullah SAW dengan cara yang tidak ia sangka. Hal senada juga diungkapkan oleh Mufti Mesir, DR. ‘Ali Jum’ah dalam kitabnya, al-Bayan Li Ma Yasyghil al-Adzhan. Beliau mengatakan bahwa sebagian kelompok yang berpendapat bahwa jumlah bilangan shalat tarawih hanya delapan rakaat disebabkan mereka salah memahami sunnah al-nabawiyyah dan tidak mampu menghimpun seluruh hadits-hadits Nabi SAW.

Pelaksanaan shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat juga menjadi tata cara pelaksanaan tarawih yang dilakukan di Mesjid al-Haram di Mekkah al-Mukarramah dan di Mesjid al-Nabawi di Madinah al-Munawwarah.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa pendapat jumlah bilangan rakaat shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat adalah pendapat yang disetujui oleh seluruh sahabat Nabi SAW dan juga para ulama besar Islam dari lintas mazhab fikih. Karenanya, bilamana ada di antara umat Islam meyakini jumlah rakaat shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat ini merupakan perkara bid’ah dan menyesatkan, maka ia dianggap fasiq disebabkan keyakinannya tersebut bertentangan dengan ijma’ khafi.

Dapat dipahami pula bahwa sebenarnya permasalahan jumlah bilangan rakaat shalat tarawih sebenarnya sudah jelas, barangkali hanya ulah sebagian kalangan saja yang semakin sibuk mengurusi masalah furu’iyyah, meninggalkan masalah pokok yang seharusnya diberi perhatian yang lebih besar dan terkesan mencari sensasi dengan pelaksanaan yang berbeda dari mayoritas umat Islam lainnya serta menyalahi dengan apa yang telah disepakati oleh sahabat dan para ulama sehingga membuat hal ini semakin mengemuka. Wallahua’lam Bish-Shawab!

Jangan lewatkan membaca:
rukun, syarat dan hal yang membatalkan puasa
Melaksanakan shalat sunat taraweh bila shalat wajib ada yang tertinggal

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja