Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Download Kitab Tuhfatul Ikhwan Fi Qiraah al-mi'ad Rajab wa Sya'ban

Salah satu kitab yang menjadi rujukan para ulama ketika membahasa seputar bulan Rajab dan Sya'ban adalah kitab Tuhfatul Ikhwan Fi Qiraah al-mi'ad Rajab wa Sya'ban karangan Imam Syihabuddin Ahmad al-Hijazi al-Fasyani (wafat 987 H). Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliky dalam kitab beliau Maza fi Sya'ban juga mengutip dari kitab ini.
Isi kitab ini antara lain menerangkan Kelibahan Basmalah, kelebihan bulan Rajab, isra` dan mi`raj, kelebihan shalat fardhu, kelebihan shalat jamaah, kelebihan bulan Sya'ban, Fadhilah Nisfu Sya'ban, Fadhilah Taqwa, kelebihan bulan Ramadhan, kelebihan malam Qadar, kelebihan zakat fithrah, hakikat kematian, tanda-tanda kiamat, dan beberapa masalah sekitar hari kebangkitan.

Sedikit tentang biografi pengarang.
Nama beliau Imam Syihabuddin Ahmad al-Hijazi al-Fasyani. Beliau sempat berguru kepada Imam Syamsu Ramli, pengarang Nihayatul Muhtaj, Imam Khatib Syarbaini pengarang kitab Mughni Muhtaj.

Karangan beliau yang lain adalah :
  1. Kitab Majalis Sunniyah, syarah Arba'in Nawawiyah. Kitab ini merupakan salah satu kitab kurikulum di dayah-dayah di Aceh.
  2. Tuhfatul Habib Fi Syarh Ghayah Taqrib
  3. Tuhfatul Ikhawan fi ilm al-Farh wa al-Ahzan
  4. Qaladah Jauhariyah fi Syarh Nadham Ajurrumiyah
  5. al-Ibtihaj fi Syarh Nadham Faraidh al-Minhaj
  6. Ghayah Muram fi Bayan al-Mukaffirat
  7. Mawahib ash-Shamad fi Hall al-fadh az-Zubad
Sebelumnya kami pernah mencari file kitab ini di internet, namun yang kami dapatkan hanyalah file naskah tua yang banyak tulisannya sudah kabur. Alhamdulillah, sekarang sudah ada file pdfnya yang lumanyan bagus.

Bagi yang menginginkan file kitab ini silahkan di DOWNLOAD DI SINI


Tips Khusyu' dalam Shalat

Tips Khusyu' dalam ShalatKhusyu’ adalah fokus hati hanya kepada apa yang sedang dilakukan, tidak membayangkan dalam hatinya selain dari apa yang sedang dikerjakan, dan disunatkan khusyu’ dalam setiap gerakan shalat. Namun khusyu’ sangat sulit untuk diimplementasikan, terutama dalam shalat. Nah, karena itulah  kami menawarkan beberapa tips agar shalat kita bisa khusyu’ sehingga shalat kita mendapat nilai yang sempurna di sisi Allah SWT, Insya Allah...


Tips Khusyu' dalam Shalat :
  1. Membayangkan bahwasanya kita sedang berhadapan dengan zat yang sangat mulia yaitu Allah  SWT.
  2. Membayangkan bahwasanya kita sedang bermunajah (berdialog) dengan Allah SWT.
  3. Menghayati makna dari setiap bacaan shalat.
  4. Membaca bacaan shalat secara tartil (pelan-pelan).
  5. Memanjangkan ruku’ dan sujud.
  6. Pandangan selalu tertuju pada tempat sujud meskipun melakukan shalat di depan ka’bah atau di tempat yang gelap, kecuali di saat mengangkat jari telunjuk ketika membaca tasyahhud, maka pandangan ketika itu difokuskan kepada jari telunjuk tersebut.

Demikianlah beberapa Tips agar shalat kita bisa lebih Khusyu', semoga bermanfaat, wallahua'lam.

Sumber: Hasyiah I’anat al-Thalibin.

Bangkai Ikan Dan Belalang Tidak Membatalkan Shalat

Tulisan ini perlu kami terbitkan, mengingat ada sebahagian orang yang menganggap bahwa semua bangkai, termasuk bangkai ikan dan belalang adalah najis. Sehingga ada yang bertanya bagaimana jika di saat kita shalat, terdapat bangkai ikan atau belalang di pakaian kita. Apakah shalat kita batal?

Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, kami berinisiatif untuk menerbitkan tulisan ini.
Perlu kita ketahui bahwa tidak semua bangkai itu najis. Bangkai manusia,ikan dan belalang bukan najis. Hal ini senada dengan apa yang telah di uraikan oleh syeikh jalaluddin al-mahally dalam kitabnya kanz al-raghibin:
وميتة السمك والجراد طاهرة لحل تناولها، وكذا ميتة الآدمي في الأظهر، لقوله تعالى {ولقد كرمنا بني آدم} [الإسراء: 70]

“Dan bangkai ikan dan belalang itu suci karna halal mempergunakannya. Begitu pula dengan bangkai manusia berdasarkan pada pendapat yang kuat. Karna firman Allah : “ Dan sungguh telah kami muliakan manusia” (al-isra: 70)”


Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawy juga berkomentar dalam kitab beliau majmu’ syarah al-muhazzab, juz. 1, hal. 216 (dar al-fikr) :
وَأَمَّا قَوْلُهُ كُلُّ حَيَوَانٍ نَجِسَ بِالْمَوْتِ فَاحْتِرَازٌ مِمَّا لَا يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ بَلْ يَبْقَى طَاهِرًا وَذَلِكَ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ ذَكَرَهَا صَاحِبُ الْحَاوِي السَّمَكُ
وَالْجَرَادُ وَالْجَنِينُ بَعْدَ ذَكَاةِ أُمِّهِ وَالصَّيْدُ إذَا قَتَلَهُ الْكَلْبُ أَوْ السَّهْمُ بِشَرْطِهِ وَالْخَامِسُ الْآدَمِيُّ عَلَى أَصَحِّ الْقَوْلَيْنِ فَهَذِهِ مَيْتَاتٌ طَاهِرٌ لَحْمُهَا وَجِلْدُهَا

“Dan katanya (imam syairazy) :”dan tiap-tiap hewan yang najis karena mati”. Perkataan imam syairazy tersebut tidak termasuk hewan-hewan yang tidak bernajis dengan sebab mati, tetapi mereka tetap suci. Terdapat lima jenis hewan sebagaimana disebutkan oleh pengarang kitab hawy, yaitu: ikan,belalang, janin hewan setelah menyembelih induknya, binatang buruan yang dibunuh oleh anjing pemburu atau mati karna panah dengan syarat-syarat tertentu, dan yang terakhir bangkai manusia berdasarkan pendapat kuat. Maka semua hewan-hewan yang tersebut diatas adalah suci, baik daging dan kulitnya.

Adapun jika dalam perut ikan dan belalang tersebut terdapat najis, maka dapat membatalkan shalat. sebagaimana tersebut dalam kitab fathul mu'in, juz. 1, hal. 106, cet. al-haramain;
ولا تصح صلاة من حمل مستجمرا أو حيوانا بمنفذه نجس أو مذكى غسل مذبحه دون جوفه أو ميتا طاهرا كآدمى وسمك لم يغسل باطنه أو بيضة مذرة فى باطنها دم ، ولا صلاة قابض طرف متصل بنجس وإن لم يتحرك بحركته
"Dan tidak sah shalat orang yang membawa orang yang istijmar (istinja dengan menggunakan batu), atau (membawa) hewan yang pada manfadz (dubur) nya itu ada najis, atau (membawa binatang) yang disembelih yang dicuci (leher) tempat sembelihnya dan tidak (dicuci) rongga (perut) nya, atau (membawa) bangkai yang suci seperti manusia dan ikan yang tidak dicuci (bagian dalam) perutnya, atau (membawa) telur mandul yang didalamnya ada darah.
Dan (tidak sah) shalat orang yang memegang ujung (tali) yang bersambung dengan najis sekalipun (ujung tali tersebut) tidak bergerak-gerak dengan sebab orang tersebut bergerak-gerak”

Namun yang membatalkan shalat bukanlah bangkai ikan atau belalang, tetapi najis yang ada dalam perutnya yang tidak dimaafkan.

Dan pula, hukum najis yang tidak dimaafkan tersebut tidak berlaku secara mutlak. akan tetapi hanya berlaku pada ikan dan belalang yang besar (menurut 'urf -kebanyakan orang-). sementara ikan dan belalang yang kecil, maka dimaafkan dan tidak dapat membatalkan shalat walaupun belum dibersihkan isi perutnya, hal ini disebabkan karena sukar untuk membersihkannya. sebagaimana dinyatakan oleh imam Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitab fatawa al-fiqhiyyah al-kubra, juz. 1, hal. 167, cet. Darul fikri;
وَأَمَّا ما ذَكَرَهُ السَّائِلُ من جَوَازِ أَكْلِ رَوْثِ الْجَرَادِ وَنَحْوِهِ معه فَهُوَ ما مَشَى عليه الشَّيْخَانِ في صِغَارِ السَّمَكِ وَأَلْحَقَ بِهِ في الرَّوْضَةِ الْجَرَادَ وهو الْمُعْتَمَدُ خِلَافًا لِمَا يُوهِمُهُ كَلَامُ الْقَمُولِيِّ وَغَيْرِهِ فَلَا يَتَنَجَّسُ الْفَمُ وَلَا يَجِبُ غَسْلُهُ لِلصَّلَاةِ وَلَا لِغَيْرِهَا
"Dan adapun pernyataan dari penanya yang menyatakan boleh memakan kotoran belalang dan seumpamanya sekalian dengan belalangnya itu merupakan pendapat syaikhani (imam nawawy dan imam rafi'i) pada masalah ikan kecil. Dan dalam kitab Raudhah, imam nawawy mengqiyaskan hukum tersebut kepada belalang, dan itulah pendapat yang kuat. namun, pendapat tersebut berbeda dengan apa yang terfaham dari perkataan al-qamuly dan lainnya. maka mulut tidak bernajis (dengan sebab memakan kotoran ikan atau belalang kecil) dan tidak wajib mencuci mulut untuk mengerjakan shalat dan tidak pula wajib untuk selain shalat.

dari matan tersebut, bisa kita fahami bahwa tidak mengapa membawa bangkai ikan dan belalang yang kecil dalam shalat, walaupun belum dibersihkan isi perutnya.

Jadi, dari uraian di atas dapat kita ambil beberapa kesimpulan:
1. Bangkai ikan dan bangkai belalang yang besar yang sudah dibersihkan segala najis yang ada dalam perutnya, maka ia suci . Jika terdapat pada pakaian orang yang sedang melaksanakan shalat, tidak dapat membatalkan shalat.
2. Bangkai ikan dan bangkai belalang yang besar yang belum dibersihkan segala najis yang ada dalam perutnya, maka tidak boleh di bawa dalam shalat, karena isi perutnya masih bernajis.
3. Bangkai ikan dan bangkai belalang yang kecil walaupun isi perutnya belum dibersihkan, maka ia dimaafkan, karna sukar untuk membersihkannya. dan tidak dapat membatalkan shalat.

Wallahu a’lam.

Sejarah Penamaan Kitab ISAGHUJI (Ilmu Mantiq)

Sejarah Penamaan Kitab ISAGHUJI (Ilmu Mantiq)
Kitab Isaghuji adalah sebuah kitab mukhtasar ilmu mantiq yang dikarang oleh Al-alamah Atsiruddin Al-abahri dan dalam kitab ini dibahas 5 pembahasan yang menjadi ringkasan dari uraian panjang kitab-kitab mantiq lainnya :
  1. Pembahasan Lafadz
  2. Pembahasan Kulli 5
  3. Pembahasan Tasawwur
  4. Pembahasan Qazhiyah
  5. Pembahasan Qiyas

Kemudian kitab ini disyarah oleh Syaikhul islam Abu Zakariya Al-anshari dan syarah ini diberi hasyiah oleh Syaikh Hafni,
perlu diketahui bahwa ada perbedaan pendapat Ulama tentang asal kata dan makna ISAGHUJI, ada yang mengatakan bahwa ISAGHUJI adalah bahasa Yunani yang artinya Kulli 5, ada juga yang mengatakan bahwa kata ISAGHUJI tersusun dari tiga suku kata dari bahasa Yunani yang pertama ISA artinya engkau, kedua AGHU artinya saya dan yang ketiga AKI artinya disana, yang arti susunannya menjadi saya, engkau, disana membahas Kulli 5, kemudian Ulama Mantiq mengubah cara bacanya dengan mengganti huruf KAF pada AKI dengan huruf JIM sehingga dibaca AJI lalu membuang huruf HAMZAH pada AJI dan AGHU sehingga dibaca GHU dan JI maka jadilah susunannya ISAGHUJI kemudian Ulama Mantiq menjadikan ISAGHUJI untuk sebuah nama bagi Kulli 5,
dan ada juga yang mengatakan ISAGHUJI adalah nama seorang hakim yang mencetuskan Kulli 5 dan menyusunnya sehingga dinamakan kepada Kulli 5 dengan nama pencetusnya,
pendapat lain mengatakan bahwa ISAGHUJI adalah nama seorang murid yang mempelajari Kulli 5, setelah hakim mencetuskan Kulli 5 lalu menitipkannya kepada seseorang yang bernama ISAGHUJI, disaat hakim pergi safir (bepergian), maka si Isaghuji mempelajari Kulli 5 tersebut sendirian namun tidak mampu untuk memahaminya, kemudian setelah hakim kembali dari safar, Isaghuji kemballi belajar Kulli 5 dengan bimbingan hakim, sehingga dinamakan kepada Kulli 5 dengan nama orang yang mempelajarinya, ada yang mengatakan bahwa nama hakim yang mencetuskan Kulli 5 adalah IRASATU / IRASATATALIS (Aristoteles),
dan ada juga yang mengatakan makna ISAGHUJI adalah MADKHAL BI ALMANTIQ (tempat yang dimasuki dengan ilmu mantiq).

Kesimpulannya, Para Ulama berselisih paham tentang makna ISAGHUJI, ada yang mengatakan kalau yang demikian adalah nama kulli 5 dan adapula yang mengatakan Nama orang yang mencetus kulli 5, dan adapula yang mengatakan kalau ISAGHUJI adalah nama orang mempelajari kulli 5. Wallahua'lam.

Sumber : Hasyiah Hafni 'ala Syarh Isaghuji Hal 9.

Shalat Sunat Rawatib

Shalat Sunat Rawatib

Rawatib merupakan nama bagi shalat sunat yang dilakukan sebelum atau sesudah sembahyang fardhu lima waktu. Shalat sunat rawatib yang dilakukan sebelum shalat fardhu sering disebut dengan shalat sunat qabliah, sedangkan yang dilakukan setelah shalat fardhu disebut dengan shalat sunat ba’diah. Hikmah dari shalat rawatib ini adalah untuk menyempurnakan kekurangan pada shalat fardhu. Shalat rawatib qabliyah sebagai persiapan untuk shalat fardhu sedangkan shalat rawatib ba`diyah sebanyai penutup kekurangan yang terjadi ketika melakukan shalat fardhu.
Di antara sembahyang fardhu, ada yang disunatkan melakukan rawatib qabliah saja, ada juga yang hanya ba’diyah saja dan ada pula yang disunatkan melakukan dua-duanya.
Metode pelaksanaan sunat rawatib ini sama persis seperti sembahyang fardhu lima waktu. Hanya saja, pada niatnya saja yang berbeda, yaitu dengan meniatkan sunat qabliah atau sunat ba’diyah.
Kemudian waktu untuk melakukan sunat qabliyah tiba dengan masuknya waktu shalat fardhu. Sedangkan sunat ba’diyah waktunya tiba setelah melakukan shalat fardhu. Batas waktu untuk melakukan dua shalat ini sama, yaitu dengan berakhirnya waktu untuk melakukan shalat fardhu.

Adapun jumlah rakaat dari keseluruhan sembahyang fardhu adalah sebanyak dua puluh dua rakaat, baik sunat yang muakad (sunat yang dikuatkan) atau ghairu muakad sama dengan jumlah rakaat dari keseluruhan sembahyang fardhu lima waktu. Berikut dua puluh rakaat dari keseluruhan sembahyang sunat rawatib:

1. Empat raka’at sebelum shalat dhuhur dan Empat raka’at sesudah dhuhur

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

مَن حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الْظُهْرِ وَأَرْبَعِ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللهُ عَلى النَّارِ.رواه الترمذي

Artinya: Siapa saja saja yang memelihara empat raka’at sebelum dan sesudah dhuhur, maka Allah SWT mngharamkannya dari api neraka. (H.R Turmizi)

Shalat jumat sama halnya dengan shalat dhuhur, maka sunat empat rakaat sebelum dan empat rakaat setelahnya.

2. Empat raka’at sebelum shalat ashar

Sebagaimana sabda Nabi SAW:


قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Artinya: Berkata Rasulullah SAW “ Allah SWT memberi rahmat kepada seseorang yang melakukan shalat empat raka’at sebelum ashar.


3. Dua rakaat sebelum magrib

Sabda nabi Saw :

صَلٌّوْ قَبْلَ صَلاَةَ اْلمغْرِبِ

Shalatlah dua rakaat sebelum shalat magrib

Dua raka’at sesudah magrib

Rasulullah SAW memberi kabar gembira dengan sabdanya:

مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ رَكَعَتَيْن ِقَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ كُتِبَتْ صَلَاتُهُ فِيْ عِلِّيَّيْنَ

Artinya: siapa saja yang melakukan duan rakaat sembahyang sesudah magrib sebelum dia berbicara shalatnya ditulis dalam syurga I’lliyin.

Pada dua raka’at ini sunat untuk membacakan surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas.

4. Dua raka’at sebelum dan sesudah isya

Nabi Saw bersabda :

 عن محمد بن المنكدر قال: صَلَيْتُ مَعَ النَّبِيِّ - صَلَّى الله عليه وسلم - رَكَعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ

Artinya: Muhammad bin al-Munkadar berkata: ‘saya melakukan dua raka’at sembahyang beserta Nabi SAW sesudah I’sya. (H.R. Imam Bukhari dan Muslim)

5. Dua raka’at sebelum shalat subuh (sunat fajar)

 Nabi Saw Bersabda:

 رَكَعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الْدُنْيَا وَمَا فِيْهَا

Artinya: Dua raka’at fajar itu lebih baik daripada dunia serta seisinya. (H.R. Imam Muslim)

Pada dua rakaat fajar sunat membaca surat al-Kafirun dan al-Ikhlas. Ada juga hadis yang menganjurkan kita untuk membaca surat Alam Nasyrah dan surat al-Fil dengan khasiatnya untuk menghilangkan penyakit buasir (ambien). Bahkan, Imam al-Ghazali dalam kitabnya Wasailil al-Hajat mengatakan, barang siapa yang membaca surat Alam Nasyrah dan al-Fill maka musuh tidak akan bisa mengganggunya, “ini terbukti”, ujar beliau.

Adapun sunat yang muakad dari keseluruhannya adalah dua rakaat sebelum dan sesudah dhuhur, dua rakaat seseudah magrib dan isya, dan dua rakaat sebelum subuh, wallahua’lam.

Sumber :
 Beberapa kitab Fiqh Syafiiyyah.

Kriteria Memilih Teman

Kriteria Memilih Teman
"Berteman jangan suka milih-milih." Kata-kata itu tepat untuk orang yang sombong yang hanya mau bergaul dengan orang yang ia pikir selevel dengan dia. Tapi sejatinya kata-kata itu tidak sepenuhnya benar. Kita juga harus menyeleksi teman bergaul. Karena salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seseoarang adalah pertemanan. Sebenarnya, sangat mudah mengetahui seperti apa seorang. Cukup dengan melihat bersama siapa saja dia sering bergaul, seperti itulah cerminan dirinya. Kenyataan ini telah dipaparkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ
Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin

Faqeh Abu Lais memberikan beberapa kriteria-kriteria model teman  dalam  kehidupan, sehingga kita bisa memebedakan mana yang mampu memberi cahaya di saat kegelapan? mana yang menjadi selimut dalam kedinginan? mana yang menjadi kendaraan untuk ditumpangi? mana yang bisa dijadi kanminuman untuk melepaskan dahaga? dijadikan  pohon yang rindang tempat berteduh?  sehingga perjalanan ini terasa indah dan mudah untuk diarungi. Mengutip perkataan Abu Lais,  "Barang siapa yang duduk dengan delapan golongan, maka Allah akan melebihkan Delapan perkara kepadanya, berikut rinciannya ":

1.

مَنْ جَلَسَ مَعَ الْأَغْنِيَاءِ زَادَهُ اللَّهُ حُبَّ الدُّنْيَا وَالرَّغْبَةَ فِيهَا

Siapa saja yang bergaul dengan orang kaya maka Allah menambahkan baginya cinta dunia dan gemar padanya dunia

2.

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُقَرَاءِ حَصَلَ لَهُ الشُّكْرُ وَالرِّضَا بِقِسْمَةِ اللَّهِ

Siapa saja yang bergaul dengan orang miskin atau faqir maka Allah menggahasilkan baginya rasa syukur dan merestui dengan apa saja yang telah diberikan oleh Nya.

3.

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ السُّلْطَانِ زَادَهُ اللَّهُ الْقَسْوَةَ وَالْكِبْرَ

Siapa saja yang bergaul dengan para pemimpin atau penguasa maka Allah akan menambahkan baginya keras hati dan ketakuburan

4.

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ النِّسَاءِ زَادَهُ اللَّهُ الْجَهْلَ وَالشَّهْوَةَ

Siapa saja yang bergaul dengan wanita tentunya Allah menambahkan baginya kebodohan dan syahwat.

5.

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصِّبْيَانِ ازْدَادَ مِنْ اللَّهْوِ

Siapa saja yang bergaul dengan anak-anak maka Allah membuatnya menyukai permainan.

6.

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْفُسَّاقِ ازْدَادَ مِنْ الْجَرَاءَةِ عَلَى الذُّنُوبِ وَتَسْوِيفِ التَّوْبَةِ أَيْ تَأْخِيرِهَا

Siapa saja yang bergaul dengan orang fasek (pendosa) maka Allah menambahkan baginya keberanian dalam berbuat dosa dan menta’khirkan (menunda) taubat

7.

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الصَّالِحِينَ ازْدَادَ رَغْبَةً فِي الطَّاعَاتِ

Siapa saja yang bergaul bersama para shalihin, Allah akan membuatnya gemar pada keta’atan.

8.

وَمَنْ جَلَسَ مَعَ الْعُلَمَاءِ ازْدَادَ فِي الْعِلْمِ وَالْوَرَع

Siapa saja yang bergaul dengan para Ulama maka Allah akan menambahkan baginya ilmu dan taqwa.


Kelebihan Duduk di Majlis Ilmu
.

منْ جَلَسَ عِنْدَ الْعَالِمِ وَلَا يَقْدِرُ أَنْ يَحْفَظَ مِنْ ذَلِكَ الْعِلْمِ شَيْئًا فَلَهُ سَبْعُ كَرَامَاتٍ: أَوَّلُهَا: يَنَالُ فَضْلَ الْمُتَعَلِّمِينَ، وَالثَّانِي: مَا دَامَ جَالِسًا عِنْدَهُ كَانَ مَحْبُوسًا عَنْ الذُّنُوبِ، وَالثَّالِثُ: إذَا خَرَجَ مِنْ مَنْزِلِهِ طَلَبًا لِلْعِلْمِ نَزَلَتْ الرَّحْمَةُ عَلَيْهِ، وَالرَّابِعُ: إذَا جَلَسَ فِي حَلْقَةِ الْعِلْمِ فَإِذَا نَزَلَتْ الرَّحْمَةُ عَلَيْهِمْ حَصَلَ لَهُ مِنْهَا نَصِيبٌ، وَالْخَامِسُ: مَا دَامَ فِي الِاسْتِمَاعِ يُكْتَبُ لَهُ طَاعَةً، وَالسَّادِسُ: إذَا اسْتَمَعَ وَلَمْ يَفْهَمْ ضَاقَ قَلْبُهُ لِحِرْمَانِهِ عَنْ إدْرَاكِ الْعِلْمِ فَيَصِيرُ ذَلِكَ الْغَمُّ وَسِيلَةً إلَى حَضْرَةِ اللَّهِ لِقَوْلِهِ: " أَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ " أَيْ جَابِرُهُمْ وَنَاصِرُهُمْ لِأَجْلِي، وَالسَّابِعُ: يَرَى إعْزَازَ الْمُسْلِمِينَ لِلْعَالِمِ وَإِذْلَالَهُمْ لِلْفَاسِقِ، فَيُرَدُّ قَلْبُهُ عَنْ الْفِسْقِ وَيَمِيلُ طَبْعُهُ إلَى الْعِلْمِ، وَلِهَذَا أَمَرَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاء

Siapa saja yang duduk bersama orang berilmu walaupun ia tidak mampu memahami atau mengambil sedikitpun ilmu tetapi Allah tetap akan memberikan kepadanya “tujuh” keistimewaan.
  1. Ia mendapatkan gelar mutaalimin (patut diketahui gelar ini tidak akan Allah sematkan kepada siapa saja).
  2. Selama ia duduk bersamanya maka ia akan terhindar dari dosa.
  3. Allah telah melimpahkan rahmat kepadanya saat ia mulai keluar dari rumahnya.
  4. Ketika ia duduk dalam majlis ilmu, ia juga mendapatkan bagian dari rahmat yang diturunkan kepada mereka yang berilmu.
  5. Selama ia mendengar ilmu maka ia termasuk mengajarkan perbuatan taat.
  6. Ketika ia mendengar ilmu dan tidak bisa memahaminya maka ia jadi gundah gelisah karena tidak memahaminya yang dengan kegelisahan tersebut dapat membuat ia sampai kepada Allah, karena firman Allah: Aku bersama mereka yang gundah gelisah artinya membantu dan mendukung mereka.
  7. Mereka akan melihat keagungan muslimin karena ilmu dan kehinaan orang fasik maka hatinya akan membenci mereka yang fasik dan mencintai ilmu serta orang muslim. Karena itulah Nabi menganjurkan kita untuk selalu bersama mereka yang berilmu.


Sumber :
Tuhfatul Habib 'ala Syarhi Khatib, Hasyiyah Bujairimi 'Ala Khatib.

Perubahan air yang tidak terlihat, kadang kala menjadi penyebab bagi ikan enggan untuk berada didalamnya, maka marilah kita duduk rapi di hadapan halaman mawar indah, bersama orang yang berilmu sambil kita menunggu keindahan mawar menjadi bagian kehidupan kita. Permata ilmu yang terus bersinar dibawah langit dunia akan selalu memberi warna cerah pada setiap rerumputan yang tumbuh walau dipadang pasir gurun tak berair.

Pilihan dengan siapa hari ini kita berteman berperan penting untuk kesuksesan kita di Dunia dan Akhirat...!!!wallahua'lam.

Bagaimanakah Kriteria Umum Bala yang Dimaafkan pada Masalah Najis?

Dalam kehidupan sehari hari, kita sering menjumpai mesjid atau meunasah/surau yang dipenuhi dengan najis seperti kotoran cecak atau burung, terutama pada bagian pinggir mesjid dan tangga. Bagaimanakah hukum najis tersebut ? apahkah sah shalat orang yang menginjaknya, atau najis tersebut harus dihindari sebisa mungkin !


Ada beberapa syarat agar najis umum bala tersebut dimaafkan, yaitu :

1. Seseorang yang menginjak atau shalat diatas najis disyaratkan najis harus kering demikian pula kaki orang yang menginjaknya. Jika salah satunya basah, baik kaki ataupun najis, maka najis tersebut tidak dimaafkan.
2. Tidak ada tempat atau jalan masuk lain yang bersih dari najis, jika ia shalat di atas najis, sedangkan  ada tempat lain yang bersih dari najis, maka shalatnya tidak sah.
3. Tidak sengaja menginjaknya, namun demikian, juga tidak dibebankan untuk menghindarinya, karena yang ditinjau disini adalah tidak sengaja menginjak, jika terinjak maka tidak masalah. Dan jika di dalam shalat ternyata ia telah menginjak najis, maka ia harus menghindar ke sisi lain yang sunyi dari najis, dan jika ternyata tidak ada tempat lain yang bersih dari najis, maka shalatnya dinyatakan tidak sah menurut syaikhuna Ibnu hajar.

Referensi

 فرع : يحرم تنجيس بدنه أو ثوبه في غير الصلاة بغير حاجة، ويعفى عن ذرق طير في فراش أو أرض، إن عمت البلوى به بشرط عدم رطوبته في أحد الجانبين، وعدم مكان خال منه، وعدم تعمد وطئه ولا يلزمه التحفظ في مشيه، ولا جلوسه ولا سجوده، فإن تبين أنه واقف مثلا عليها، وجب التحول حالا فإن لم يجد مكانا خاليا منها، بطلت صلاته. قاله شيخنا فراجعه

Kitab qulyubi hal 204 juz 1.




Doa Istighfar Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram. Dalam bulan haram kita di tuntut untuk memperbanyak amalan.
Di antara amalan di bulan Rajab adalah puasa. Puasa dalam bulan rajab bukanlah perkara bid’ah sebagaimana di dakwakan oleh kaum wahabi sesat. Jawaban terhadap dakwaan mereka sudah kami posting dalam tulisan kami di Jawaban Tentang Puasa Rajab.
Selain berdoa, dalam bulan rajab bisa di perbanyak amalan doa-doa yang biasa di amalkan oleh para ulama. Di antara doa yang doa Istighfar Rajab yang di himpunkan oleh Sayyid Hasan bin Abdullah Ba’alawi. Beliau berkata, istighfar ini mengandung banyak kelebihan. Doa istighfar tersebut adalah :


وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا)، وَأَتُوْبُ إلَى اللهِ مِمَّا يَكْرَهُ اللهُ قَوْلًا وَفِعْلًا، وَخَاطِرًا، وَبَاطِنًا وَظَاهِرُا، أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لَا إلَهَ إلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأتُوْبُ إلَيْهِ، اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. أَسْتَغْفِرُ اللهَ ذَا الْجَلَاِل وَالْإْكرَامِ مِنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ وَالْآثَامِ. أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِذُنُوْبِي كُلِّهَا، سِرِّهَا وَجَهْرِهَا، وَصَغِيْرِهَا وَكَبِيْرِهَا، وَقَدِيْمِهَا وَجَدِيْدِهَا، وَأوَّلِهَا وَآخِرِهَا، وَظَاهِرِهَا وَبَاطِنِهَا، وَأتُوْبُ إلَيْهِ. اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْ ذَنْبٍ تُبْتُ إلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عُدْتُ فِيْهِ، وأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا أرَدْتُ بِهِ وَجْهَكَ الْكَرِيْمَ فَخَالَطَهُ مَا لَيْسَ لَكَ فِيْهِ رِضًا، وأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا وَعَدْتُكَ بِهِ مِنْ نَفْسِي ثُمَّ أَخْلَفْتُكَ فِيْهِ، وأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا دَعَانِي إلَيْهِ الْهَوَي مِنْ قِبَلِ الرُّخَصِ مِمَّا اشْتَبَهَ عَلَيَّ وَهُوَ عِنْدَكَ حَرَامٌ، وأَسْتَغْفِرُكَ يَا مَنْ لَا إلَهَ إلَّا أنْتَ، يَا عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ مِنْ كُلِّ سَيِّئَةٍ عَمِلْتُهَا فِي بَيَاضِ النَّهَارِ وَسَوَادِ الْلَيْلِ فِي مَلَاءٍ وَخَلَاءٍ وَسِرٍّ وَعَلَانِيَّةٍ وَأنْتَ نَاظِرٌ إلَيَّ إذَا ارْتَكَبْتُهَا، وَأتَيْتُ بِهَا مِنَ الْعِصْيَانِ، فَأتُوْبُ إلَيْكَ يَاحَلِيْمُ يَا كَرِيْمُ يَارَحِيْمُ. وأَسْتَغْفِرُكَ مِنَ الْنَعَمِ اَلَّتِي أنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ فَتَقَوَّيْتُ بِهَا عَلَى مَعْصِيَّتِكَ وأَسْتَغْفِرُكَ مِنْ الذُّنُوْبِ الَّتِي لَا يَعْرِفُهَا أحَدٌ غُيْرُكَ، وَلَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا أحَدٌ سِوَاكَ وَلا َيَسَعُهَا إلَّا حِلْمُكَ وَلَا يُنْجِيْنِي مِنْهَا إلَّا عَفْوُكَ، وَأسْتَغْفِرُكَ لِكُلِّ يَمِيْنٍ سَلَفَتْ مِنِّي فَحَنِثْتُ فِيْهَا وَأنَا عِنْدَكَ مؤَاخَذٌ بِهَا. وأَسْتَغْفِرُكَ يَا مَنْ لَا إلَهَ إلَّا أنْتَ سُبْحَانَكَ إنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي اْلمُؤْمِنِيْنَ. وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ. رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وأَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ فَرِيْضَةٍ أوْجَبْتَهَا عَلَيَّ فِي آنَاءِ اللَّيْلِ وَأطْرَافِ النَّهَارِ فَتَرَكْتُهَا خَطَأً أَوْ عَمْدًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ تَهَاوُنًا أَوْ جَهْلًا وَأنَا مُعَاقِبٌ بِهَا. وأَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ سُنَّةٍ مِنْ سُنَنِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرَكْتُهَا غَفْلَةً أَوْ سَهْوًا أَوْ نِسْيَانًا أَوْ تَهَاوُنًا أَوْ جَهْلًا أَوْ قِلَّةَ مُبَالَاةٍ بِهَا. وأَسْتَغْفِرُكَ يَا مَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ، سُبْحَانَكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، لَكَ الْمَلِكُ وَلَكَ الْحَمْدُ، وَأنْتَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، وَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. يَا جَابِرَ كُلِّ كَسِيْرٍ، وَيَا مُؤْنِسَ كُلِّ وَحِيْدٍ، وَيَا صَاحِبَ كُلِّ غَرِيْبٍ، وَيَا مُيَسِّرَ كُلِّ عَسِيْرٍ، يَا مَنْ لَا يَحْتَاجُ إِلَى الْبَيَانِ وَالْتَفْسِيْرِ، وَأَنْتَ عَلَى مَا تَشَاءُ قَدِيْرٌ،
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ، وَبِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي اْلأَرْوَاحِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى تُرْبَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي التُّرَابِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى قَبْرِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْقُبُوْرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى صُوْرَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الصُّوَرِ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى اسْمِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي اْلأسْمَاءِ، { لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ، فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ }، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.


Di perbanyak juga istighfar yang warid dari Rasulullah yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dari Saidina Syaddad bin Uwais (no. 6306). Istighfar ini di baca padi dan petang sebanyak 3 kali.


اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Sumber;

Syeikh Abdul Hamid Qudus, Kanz Najah was surur fi ad'iyah al-ma`tsurah allati tasyrah shudhur, hal 142-147 Dar sababil

Berikut doanya dalam versi gambar yang juga kami ambil dari file kitab Kanz Najah;



Batal Whudu' karena keluar Angin dari Qubul


Dalam literatur kajian ilmu fiqh, disebutkan bahwa terdapat beberapa hal yang dapat meruntuhkan wudhuk, salah satunya adalah keluar sesuatu daripada salah satu dua jalan (qubul/dubur). Dari pernyataan di atas, timbul satu Pertanyaan: apakah angin yang keluar dari qubul (vagina/penis) dapat membatalkan wudhuk?
Jawab:

berdasarkan keumuman lafadz “sesuatu”, maka apa saja yang keluar dari salah satu dua jalan (qubul/dubur) dapat membatalkan wudhuk, termasuk angin.

1. Minhajul qawim, juz. 1, hal. 36 (dar kutub ilmiyyah)
فصل: في نواقض الوضوء
"نواقض الوضوء" أي ما ينتهي به "أربعة" لا غير "الأول: الخارج من أحد السبيلين" يعني خروج شيء من قبله أو دبره على أي 
 صفة كان ولو نحو عود ودودة أخرجت رأسها وإن رجعت وريح ولو من قبل

“ Fasal: pada menyatakan segala hal yang dapat meruntuhka wudhu.

Hal yang dapat meruntuhkan wudhu (artinya: hilang wudhuk dengan sebabnya) ada empat perkara. Pertama, sesuatu yang keluar daripada salah satu dua jalan, maksudnya keluar sesuatu dari qubul atau duburnya dengan sifat apa saja. Walaupun seumpama kayu, ulat yang keluar kepalanya dan masuk lagi, dan angin walaupun dari qubul.

2. hasyiyah bujairimi 'ala khatib, juz. 1, hal. 208

فإن تحقق خروج الريح من القبل انتقض وضوءه، فقد صرح إمامنا في الأم بأن خروج الريح من القبل ناقض وأجمع عليه الأصحاب. اهـ
 .
“Maka jika pasti keluar angin dari qubul (kemaluan), runtuhlah wudhu nya. Maka sungguh imam kita (syafi’ie) telah memeperjelas dalam kitab al-um bahwa keluarnya angin dari qubul dapat membatalkan wudhu. Dan telah datang ijma para shahabat (murid imam syaf’ie) mengenai hal tersebut”.



Rukun Shalat yang ke 12 dan 13

Rukun Shalat yang ke 12 dan 13Rukun Shalat yang ke 12 dan 13 adalah Membaca Salam yang Pertama dan Tertib

Membaca Salam yang Pertama

Rukun shalat yang ke dua belas adalah membaca salam yang pertama. Adapun membaca salam yang kedua hukumnya sunat dan terkadang hukum membaca salam yang kedua ada yang diharamkan jika setelah salam yang pertama terjadi hal-hal yang bertentangan dengan shalat, seperti berhadas, berpaling dari kiblat, terbuka aurat dan sebagainya.
Keharaman ini dikarenakan salam yang kedua merupakan salah satu yang menyempurnakan shalat meskipun ia bukan bagian dari shalat itu sendiri.
Bacaan salam sekurang-kurangnya yaitu :
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ

Dibolehkan juga membaca salam dengan lafadh:  عَلَيْكُمُ السَّلَام  namun hukumnya makruh. Adapun bacaan salam yang paling sempurna adalah:  اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Ada beberapa ketentuan yang mesti diperhatikan ketika membaca salam, yaitu:
  1. Bacaan salam mesti di ma’rifahkan dengan ال, artinya tidak boleh dibaca dengan tanwin seperti: سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ
  2. Dibaca dengan kaf khithab dan mim jama’ (كُمْ), artinya tidak boleh dibaca dengan:
    اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ , اَلسَّلاَمُ عَلَيْهِ dan semacamnya.
  3. Bacaan salam bisa didengar oleh telinganya sendiri.
  4. Kalimatnya dibaca secara beriringan.
  5. Dibaca dalam posisi duduk serta dadanya menghadap kiblat.
  6. Bacaan salamnya tidak boleh hanya dimaksudkan untuk I’lam (memberitahu).
  7. Dibaca dalam bahasa Arab.
  8. Tidak menambahkan sesuatu yang dapat mengubahkan makna salam.
  9. Tidak mengurangi sedikitpun dari bacaan salam yang sudah ditentukan

Tertib

Rukun shalat yang ke tiga belas atau yang terakhir adalah tertib, yaitu melakukan segala rukun shalat yang sudah disebutkan secara urutan yang telah ditetapkan. Sehingga jika ada rukun fi’ly yang didahulukan secara sengaja dari yang semestinya maka salatnya batal. Berbeda halnya jika yang didahulukan adalah rukun qauly selain salam maka salatnya tetap sah dan bacaannya itu tidak diperhitungkan.

Referensi : Tuhfat al-Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitamy, Juz II hal 94 Cet. Dar Ihya, Beirut
Nihayat al-Zain, Muhammad bin Umar, hal 73, Cet. Dar al-Fikr Beirut

Pembagian Hadits Dari Aspek Penyandaran Berita





Yang di maksud dengan penyandaran berita adalah berita yg ada di dalam hadis itu disandarkan kepada siapa saja, apakah kepada nabi atau kepada Allah swt. Dari sisi ini maka Hadis terbagi kepada Nabawi dan Qudsi.

1. Hadis nabawi.

Hadits Nabawi adalah ucapan nabi, perbuatan, persetujuan, ataupun sifatnya. Pada hadis Nabawi, sumber berita adalah nabi, maka disebut hadis Nabawi. Beliau tidak menyandarkan pemberitaan itu kepada Allah, walaupun hakikatnya Nabi tidak pernah mengucapkan sesuatu atau melakukannya kecuali bersumber dari wahyu yang di datang dari Allah. Fungsi wahyu yang ada pada hadis Nabawi umumnya adalah memberikan penjelasan terhadap wahyu yang lain yaitu kandungan Al-Qur an. Penjelasan tersebut bisa merupakan wahyu yang langsung diterima oleh Nabi, dan bisa juga hasil ijtihad Nabi yang selalu dikawal oleh wahyu, karena ijtihad Nabi tidak pernah salah.

2. Hadis Qudsi

Hadis Qudsi adalah ucapan Nabi yang di sandarkan kepada Allah swt. dari segi yang ucapan tersebut berasal dari nabi maka dinamakan hadis, namun karena ucapan itu disandarkan  Nabi kepada Allah maka dinamakan Qudsi, karena makna Qudus Zat yang Maha Suci.

Demikianlah, pembahagian Hadis berdasarkan penisbatan sacara itlaq, maksudnya tanpa melihat kepada  sumber keluarnya Hadis tersebut, apakah dari Rasulullah SAW. atau Allah SWT. wallahua'lam.

Pengertian Kalam dalam Ilmu Nahu

Kalam Ilmu Nahu
Imam ash-Shanhaji dalam kitabnya Mendefenisikan kalam sebagai berikut :

الكلام هو اللفظ المركب المفيد بالوضع

Kalam adalah lafadh yang murakkab yang berfaedah dengan wadha’ (kasad)

Berikut uraian tentang kalam Imam Shanhaji tersebut;

1. اللفظ secara etimologi menurut bahasa, lafadh adalah membuang. Seperti perkataan orang Arab;
أكلت التمرة ولفظت بالنواة
Sedangkan secara terminologi adalah suara yang terdiri dari sebagian huruf hijaiyah, baik secara pada hakikat seperti lafadh زيد , memang terdiri dari huruf hijaiyah yaitu za , ya dan dal atau terdiri dari huruf hijaiyah secara hukum saja sepeti dhamer mustatir pada fi’il amar yang mufrad seperti قم, maka قم itu pada hukum kalimat yang dilafadhkan pada hakikat.

2. المركب artinya yang tersusun minimal dari dua kalimat atau lebih dengan susunan tarkib isnadi, baik tarkib secara hakikat ataupun pada hukum tarkib saja. Contoh yang tersusun secara hakikat قام زيد, memang tersusun dari lafadh قام dan زيد atau hanya pada hukum tarkib saja seperti lafadh زيد yang menjadi jawaban dari pertanyaan من الجائى (siapa yang datang?) di jawab زيد saja. Asal tarkibnya adalah الجائى زيد

3 المفيد, artinya yang faedah dengan isnad, yaitu telah menghasilkan satu berita sehingga bila mutakallim berhenti, pendengar telah ada satu kesimpulan dan tidak menanti kalimat selanjutnya. Beda halnya bila, kita hanya mengucapkan غلام زيد (anak si zaid), pendengar akan menunggu dan bertanya-tanya, ada apa dengan anak si zaid!

4. بالوضع artinya wadha’ arabi.

الوضع العربي هو جعل اللفظ دليلا على المعنى

Wadha’ Arabi adalah menjadikan lafadh yang menunjuki kepada satu makna.

Penjelasannya, kalam itu merupakan sebagian dari wadha’ arabi sebagaimana yang telah diutarakan oleh sebagian ulama. Mayoritas pensyarah kitab Ajurrumiyah berkata; maksud بالوضع disini adalah qasad, artinya mutakallim mengqasad memberi faedah kepada orang yang mendengar. Khilafiyah ini terbina atas khilaf pada masalah dalalah kalam apakah wadh’iah ataupun ‘aqliah. Pendapat yang ashah (kuat) adalah dalalah kalam itu ‘aqliah, karena siapa yang mengetahui makna zaid misalnya, dan tahu makna qaimun, dan mendengar kata-kata زيد قائم dengan ‘irabnya yang terkhusus maka ia paham dengan mudah makna kalam ini.

Empat ketentuan di atas adalah untuk kalam dalam istilah nahu.

Maka keluar dengan ketentuan pertama (lafadh) tulisan, isyarah, dan seumpamanya. Semuanya tidak di namakan kalam, tetapi hanya sebagai daal kepada kalam (yang menunjuki kepada kalam).

Keluar dengan ketentuan yang kedua yaitu murakkab, mufrad seperti lafadh زيد dan juga murakkab yang bukan murakab isnadi, sepeti murakkab idhafi, contohnya lafadh عبد الله dan murakkab majzi, contoh بعلبك, dan murakab isnadi yang telah di jadikan sebagai nama (‘alam) seperti تأبط شرا laqab untuk seseorang, dan زيد قائم yang di jadikan sebagai nama sesuatu.

keluar dengan ketentuan yang ketiga, yaitu المفيد; kalam yang tidak menghasilkan satu pemahaman seperti jumlah shilat, sifat, hal, khabar, jumlah syarat, qasam saja, dan jumlah jawab saja.

Maka contoh; ان قام زيد (jika berdirilah si zaid) tidak dinamakan dengan kalam karena tidak menghasilan satu pemahaman, namun satu susuan yang terdiri dari fiel, isem dan huruf seperti contoh di atas dinamakan dengan kalim.

Keluar dengan yang keempat, yaitu wadha’ (qasad), lafadh yang tidak di sengaja seperti kalam yang keluar dari mulut orang tidur, lupa, dan pemabuk, maka tidak di namakan sebaga kalam.

wallahua’lam.

Sumber;

Beberapa syarah dan hasyiah kitab Ajurrumiyah

Rukun Shalat Ke Sepuluh dan Sebelas Duduk Tasyahud Akhir dan Shalawat

Duduk Tasyahud Akhir
kaki saat duduk tawarruk

Duduk Tasyahud Akhir

Rukun shalat yang ke sepuluh adalah duduk tasyahud akhir. Duduk ini dilakukan setelah sujud yang kedua dari rakaat yang terakhir dalam tiap-tiap sembahyang serta sesudahnya diiringi dengan salam. Pada dasarnya, metode duduk tasyahud boleh dilakukan dengan metode apa saja asalkan pada u’ruf dianggap sebagai duduk. Namun karena didasari sembahyang merupakan salah satu tanda pengabdian seorang hamba kepada sang Khaliqnya yang sangat dituntut untuk memilihara adab, maka duduk yang dianjurkan pada tasyahud akhir adalah dengan metode tawarruk. Duduk tawarruk bisa dipraktek dengan cara bertumpu di atas pangkal paha (pantat) kiri yang ditempelkan pada tempat duduknya sambil kaki kirinya dikeluarkan sebelah kanan yang berposisi dibawah kaki kanan yang telah dilipatkan seperti terlihat dalam gambar.

Ada beberapa hal yang sunat dilakukan ketika duduk tawaruk, yaitu:
  1. Ujung kaki kanan menempel pada bumi sambil mengarah kekiblat.
  2. Ujung jari tangan diletakkan sejajar dengan lutut sambil terbuka rapat dan mengarah kekiblat.
  3. Kemudian tangan kanan digenggam kecuali jari telunjuk.
  4. Ketika membaca kata “illallaah”, jari telunjuk diangkat sedikit dengan kasad dalam hati bahwa Tuhan yang disembah hanyalah satu agar selaras antara hati, perbuatan serta perkataannya.
  5. Telunjuk tetap diangkat hingga selesai salam kedua menurut satu pendapat atau hingga selesai salam yang pertama menurut pendapat yang lain.
  6. Yang lebih baik ibu jari ditempelkan pada pangkal telunjuk.
  7. Sunat untuk mengarahkan pandangan pada jari telunjuk walaupun tertutup dengan baju misalnya.

Gambar keadaan telunjuk saat mengucapkan kalimat syahadat hingga selesai shalat.
telunjuk saat mengucapkan kalimat syahadat
tekunjuk saat mengucap "illallah"

  • Duduk tawarruk tidak hanya disunatkan pada tasyahud akhir tiap-tiap sembahyang, tapi juga disunatkan pada beberapa tempat yang lain, seperti duduk mengiringi sujud tilawah dan sujud syukur.
  • Duduk tasyahud akhir yang diiringi dengan sujud sahwi tidak disunatkan duduk dalam posisi tawaruk.
  • Makruh hukumnya menggerakkan telunjuk ketika membaca tasyahud

Shalawat Pada Tasyahud Akhir

Pada ketika duduk tasyahud akhir setelah membaca tasyahud, syari’at mewajibkan kita untuk membaca shalawat kepada Nabi SAW. Shalawat merupakan rukun yang kesebelas dari tiga belas rukun yang ada dalam sembahyang.

Lafaz shalawat sekurang-kurangnya adalah:
ااَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
Artinya: Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad.

Disunatkan membaca shalawat kepada al(keluarga) Nabi SAW yaitu sekurang-kurangnya dengan menambahkan lafaz “ آله ” sesudah lafaz sekurang-kurang shalawat diatas.

Adapun lafaz shalawat yang lebih sempurna bisa dibacakan seperti dibawah ini:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكَتْ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد

Artinya: Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana rahmat yang telah Engkau curahkan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau berkati Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dalam alam semesta, sungguh engkau yang dipuji dan maha mulia.

Selain salawat kepada Nabi SAW serta keluarganya, ketika duduk tasyahud akhir juga dianjurkan bagi orang yang mumfarid (orang yang melaksanakan shalat sendirian) dan imam ma’mum mahsurin agar menambahkan do’a-do’a yang lain, baik berdoa yang berkenaan dengan perkara akhirat maupun masalah dunia, baik doa yang ma`tsurah maupun bukan. Anjuran ini hanya khusus pada tasyahud akhir.
 Do’a ma’stur dari Nabi SAW adalah do’a yang diwajibkan oleh sebagian ulama, yaitu:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Artinya: Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, azab neraka, fitnah hidup dan mati dan dari fitnah dajjal.

Selanjutnya:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ، وَما أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤخِّرُ لاَ اله إِلاَّ أَنْتَ. اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْت نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِك وَارْحَمْنِي إنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: Ya Allah ampunilah bagiku dosa yang telah aku kerjakan, dosa yang akan datang, dosa yang ku rahasiakan dan yang ku nampakkan serta perbuatanku yang melampaui batas. Engkau yang lebih mengetahui dariku dan engkau yang mendahului dan engkau yang terakhir. Tiada Tuhan kecuali Engkau . Ya Allah sesungguhnya aku telah mendhalimi diriku dengan kedhaliman yang banyak. Tiada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau, maka ampunilah aku dengan keampunan yang ada disisi-Mu. Dan kasihanilah aku, sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi maha mengasihi.

NOTE:
  • Pada lafaz shalawat dianjurkan untuk menambahkan kata سيدنا.
  • Makruh membaca shalawat sesudah doa-doa tasyahud.

Referensi
I’anatut al-Thalibin, h. 173, j.I, cet. al-Haramain.

Tata Cara Shalat Istikharah

Istikharah
Istikharah bermakna meminta kebaikan. Shalat istikharah adalah shalat yang di lakukan untuk memohon petunjuk dari Allah tentang hal yang harus di tempuh ketika terjadi keraguan untuk melakukan satu perkara.

Landasan shalat istikharah adalah hadits riwayat Imam Bukhari :

كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يعلمنا الاستخارة في الأمور كلها كما يعلمنا السورة من القرآن يقول إذا هم أحدكم بالأمر فليركع ركعتين من غير الفريضة، ثم ليقل اللهم إني أستخيرك بعلمك وأستقدرك بقدرتك وأسألك من فضلك العظيم فإنك تقدر ولا أقدر وتعلم ولا أعلم وأنت علام الغيوب اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري، أو قال عاجل أمري وآجله فاقدره لي ويسره لي، ثم بارك لي فيه، اللهم وإن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري، أو قال عاجل أمري وآجله فاصرفه عني واصرفني عنه واقدر لي الخير حيث كان، ثم أرضني به وفي رواية، ثم رضني به ويسمي حاجته

Artinya: Adalah Rasulullah SAW mengajarkan kami shalat istikharah pada semua perkara sebagaimana beliau mengajarkan kami satu surat dari al-Quran. Beliau berkata “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa …(membaca doa istikharah)..(H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda :

مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ كَثْرَة اسْتِخَارةُ الله - تَعَالَى - وَرِضَاؤُهُ بِمَا قَضَى الله - تَعَالَى - لَهُ ، وَمِنْ شَقَاوَةِ ابْنِ آدَمَ تَرْكُهُ اسْتِخَارَة الله - تَعَالَى - وَسَخَطُهُ بِمَا قَضَى الله – تَعَالَى

Artinya: sebagian dari tanda kebahagian anak Adam adalah melakukan istikharah kepada Allah dan ridha dengan ketentuan Allah baginya, dan sebagian tanda celaka anak Adam adalah meninggalkan istikharah kepada Allah dan murka kepada ketentuan Allah baginya (H. R. Imam Turmizi)

shalat istikharah tidak di tuntut dalam memilih untuk melakukan hal wajib dan sunat dan juga untuk meninggalkan hal yang haram dan makruh. Shalat isktikharah hanya di lakukan untuk memilih dalam hal-hal yang mubah atau hal sunat yang timbul keraguan mana yang lebih baik di kerjakan dahulu atau hal wajib yang mukhaiyar seperti apakah melaksanakan ibadah haji tahun ini atau tahun depan. [1]
Setelah shalat istikharah dengan izin Allah akan terbuka hatinya untuk memilih salah satu dengan kemantapan hati. Namun bila belum juga ada kemantapan hatinya maka di lanjutkan shalat istikharahnya sampai beberapa kali minimal di ulangi doa saja, sebaiknya sampai tujuh kali. Kemudian silahkan memilih perkara yang lebih awal tergores dalam hati kita (bukan harus dapat isyarat lewat mimpi), Insya Allah hal tersebut adalah yang baik. Kalaupun hatinya juga tidak mantap kepada salah satu perkara maka pilihlah satu satu perkara yang telah di cita-citakan tersebut dengan bertawakal kepada Allah. Insya Allah dengan barakah shalat istikharah, pilihan tersebut merupakan perbuatan yang baik. [2] Jika memang yang jadi pilihannya tadi dipersulit, maka berarti pilihan tersebut tidak baik untuknya. Namun jika memang pilihannya tadi adalah baik untuknya, pasti akan Allah mudahkan.
Yang lebih utama shalat istikharah di lakukan secara khusus dengan niat istikharah kemudian di lanjutkan dengan doa istikharah. Minimal shalat istikharah dua rakaat dan di laksanakan kapan saja asalkan bukan dalam waktu makruh shalat.

Imam Nawawi mengatakan bahwa shalat sunat istikharah ini juga bisa hasil dengan melaksanakan shalat sunat yang lain, misalnya shalat sunat rawatib, shalat tahiyyatul mesjid, ataupun shalat sunat lainnya dengan di sertai niat istikharah. [3]

Bila shalat istikharah secara khusus, pada rakaat pertama di baca al-Kafirun dan pada rakaat ke dua di baca surat al-ikhlash.[4] Menurut sebagian ulama sunat di baca dalam rakaat pertama ayat 68-71 surat al-Qashash ;

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (68) وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (69) وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (70)

sedangkan dalam rakaat kedua sunat di baca surat al-Ahzab ayat 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

kedua ayat di atas sesuai dengan keadaan shalat istikharah. [5]

Doa shalat istikharah

Doa shalat istikharah di baca setelah shalat atau di baca dalam shalat pada sujud yang terakhir atau setelah tasyahud [6] yaitu sebagaimana dalam hadits di atas :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

Artinya: “Ya Allah, aku memohon petunjuk kepadaMu dengan ilmuMu dan aku memohon ketentuan daripadaMu dengan kekuasaanMu dan aku memohon daripadaMu akan limpah kurniaanMu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa sedangkan aku tidak berkuasa dan Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui dan Engkaulah Yang Maha Mengetahu segala perkara yang ghaib. Ya Allah, seandainya dalam ilmuMu bahwa urusan ini (sebutkan..) adalah baik bagiku pada agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku, takdirkanlah ia bagiku dan permudahkanlah serta berkatlah bagiku padanya dan seandainya seandainya dalam ilmuMu bahwa urusan ini (sebutkan..) mendatangkan keburukan bagiku pada agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku, jauhkanlah aku daripadanya dan takdirkanlah yang terbaik bagiku kemudian ridhailah aku dengannya”

kemudian setelah doa tersebut, di sebutkan hajatnya.

=====================================================
  1. Sulaiman Bujairimi, Hasyiah Bujairimi ‘ala Khatib jilid 1 hal 428 Dar Fikr
  2. Nawawi a-Bantani, Nihayatuz Zain hal 106 Dar Fikr
  3. Zakaria al-Anshari, Asnal Mathalib syarhm Raudh Thalib jilid 1 hal 205 Dar Kitab Islamy, asy-Syarqawi, Hasyiah Syarqawi ‘ala Tahrir jiloid 1 hal 300 Dar Fikr
  4. Nawawi al-Bantani, Nihayatuz Zain hal 180 Dar Fikr
  5. Zakaria al-Anshari, Asnal Mathalib jilid 1 hal 207 Dar Kitab Islamy
  6. asy-Syarqawi, Hasyiah Syarqawi ‘ala Tahrir jiloid 1 hal 300 Dar Fikr

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja