Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Pendapat Qadim Imam Syafi'i yang Lebih Kuat dari Jadid

beramal dengan pendapat qadim wajibPada dasarnya, setelah ada pendapat jadid kita tidak boleh beramal atau berpegang dengan pendapat qadim. Kecuali pada tempat-tempat yang telah di Tashih oleh para Mujtahid sesudah Imam Syafi'i kepada boleh beramal dengan pendapat qadim tersebut, maka hukum beramal dengan pendapat qadim adalah boleh bahkan wajib.

Berikut ini kami nukil pendapat-pendapat qadim yang telah ditashih dan wajib beramal dengannya.
  1. Pendapat qadim tidak wajib menjauhi najis dari air banyak (dua kulah). Pendapat jadid wajib menjahui dari najis pada air dua kulah.
  2. Pendapat qadim tidak bernajis air yang mengalir bila jatuh najis kecuali berubah. Pendapat jadid akan bernajis air tersebut walau tidak berubah
  3. Pendapat qadim tidak batal wudhuk dengan sebab menyentuh mahram. Pendapat jadid akan batal wudhuk dengan sebab menyuntuh mahram.
  4. Pendapat qadim haram makan kulit bangkai yang telah disamak. Pendapat jadil halal makan kulit bangkai yang disamak
  5. Pendapat qadim disunatkan taswib (baca: ashshalatu khairum minan naum) pada azan subuh. Pendapat jadid tidak disunatkan.
  6. Pendapat qadim Panjang waktu magrib hingga terbenam syafa’ merah. Pendapat jadid waktu magrib Cuma kadar untuk bersuci, menutup aurat, azan, iqamah dan shalat lima rakaat.
  7. Pendapat qadim sunat mendahului isya pada awal waktu. Pendapat jadid sunat mentakhirkan shalat isya pada akhir waktu.
  8. Pendapat qadim tidak disunatkan membaca surat pada 2 rakaat yang akhir (rakaat dua dan tiga). Pendapat jadid disunatkan membaca surat pada 2 rakaat yang terakhir.
  9. Pendapat qadim sunat jihar membaca amin bagi makmum pada shalat jahriyah. Pendapat jadid tidak disunatkan jihar.
  10. Pendapat qadim Sunat membuat garis di depan orang shalat jika tiada syahas (seperti dinding). Pendapat jadid tidak sunat membuat garis di depan orang shalat.
  11. Pendapat qadim boleh mengikuti munfarid (orang yang shalat sendirian) pada pertengahan shalat. Pendapat jadid tidak boleh boleh demikian.
  12. Pendapat qadim makruh memotong kuku mayat. Pendapat jadid tidak makruh kecuali bagi orang ihram.
  13. Pendapat qadim tidak disyaratkan sampai haul bagi wajib zakat pada barang tambang jahilillyah (rikaz). Pendapat jadid disyaratkan demikian.
  14. Pendapat qadim wali wajib megganti puasa wajib mayat. Pendapat jadid tidak wajib digantikan.
  15. Pendapat qadim boleh mensyaratkan tahahul dari ihram jika sakit. Pendapat jadid tidak boleh.
  16. Pendapat qadim Boleh bagi syarik (orang yang mempunyai hak bersama) untuk merehab barang yang rusak. Pendapat jadid tidak boleh dan cukup dengan ganti rugi.
  17. Pendapat qadim Mahar (mahar kawin) yang rusak harus diganti dhammatul yad (ganti yang ditetapkan syara') artinya kalau barang tersebut misil termasuk misil (bisa ditimbang, ditakar) wajib diganti barang sejenisnya dan kalau mutakawam (dihargakan) wajib dihargakan dengan harga yang stantar. Pendapat jadid digantikan dengan dhammatul a'di (yang disebutkan dalam akad)
  18. Pendapat qadim Sayid wajid dihad karena berzina dengan budak perempuannya yang masih mahramnya. Pendapat jadid tidak wajib dihad. Wallahua'lam.

(Bughyah Mustarsyidin, Hal. 8.   Sayid Abdurrahman bin Husain Lahir 1250 H, wafat 1320 H )


Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

5 komentar untuk Pendapat Qadim Imam Syafi'i yang Lebih Kuat dari Jadid

This comment has been removed by the author.

Assalamualaikum tgk...
Bacut lon ingin tanyong tentang masalah pendapat awal dan baru imam syafiei...

Bila na ureng beramal dengan pendapat jadid di wateuh ek jeut atou tertolak...????

menurut lon hanjet karena jadid tersebut ke geupariksa dhaif oleh nawawi

IMAM NAWAWI adalah MUJtahid tarjih

wa`alaikum salam

Pendapat jadid tersebut sudah di anggap dhaif oleh para ulama, mengamalkan pendapat dhaif ada ketentuannya tersendiri yaitu hanya untuk amalan pribadi, bukan untuk di fatwakan kepada orang lain atau memutuskan hukum dan dengan syarat pendapat tersebut tidak terlalu dhaif.
Sebenarnya pendapat qadim yang di kuatkan tersebut masih bisa di golongkan kepada pendapat jadid.