Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Sembilan Pembahasan Penting Lafaz Waba'du (وبعد)

Sembilan Pembahasan Penting Pada Lafaz وبعد
(Versi kitab sawi dardir hal.5 dan kitab Hasyiah Al- Bajuri juz I hal.7)

1. Tentang و (waw) pada وبعد
2. Tentang ketetapan وبعد
3. Tentang makna وبعد
4. Tentang I’rab وبعد
5. Tentang amil pada وبعد
6. Tentang asal dari وبعد
7. Tentang hukum mengucapkan وبعد
8. Tentang orang yang pertama mengucapkan وبعد
9. Tentang huruf ف setelah وبعد

Pembahasan 

1. Adapun و (waw) pada lafaz وبعد adalah sebagai ataf dengan kalimat sebelumnya berupa ataf jumlah dengan jumlah, dan waw tersebut pengganti dari lafaz امَاsedangkan امَا pengganti dari lafaz مهما .

2. Adapun fungsi lafaz وبعد adalah untuk memindahkan suatu pembahasan dari pembahasan yang lain atau dari suatu maksud kepada maksud yang lain , maka tidak ditempatkan lafaz وبعد pada dua pembahsan yang sama serta tidak sebutkan lafaz وبعد pada awal pembahasan ataupun pada akhir pembahasan tetapi disebutkan lafal وبعد diantara dua pembahasan yang berbeda.

3. Adapun makna بعد (sesudah) adalah lawan kata dari قبل (sebelum) berupa zaraf zaman(nama waktu), zaraf makan(nama tempat)
• Jika menunjuki kepada nama waktu, bermakna waktu melafazkan kalimat setelah بعد setelah kalimat yang sebelumnya.
• Jika menunjuki kepada nama tempat bermakna lafaz setelahnya بعد setelah lafaz sebelumnya.

4. Adapun I’rab بعد ada empat macam :
• a.Dibinakan keapada dhammah
• b.Majrur dengan min (من) yang jar
• c.Nasab yang dharfiyah
• d.Nasab dengan tanwin

5. Adapun amil dari وبعد :
• jika wawnya berfaedah ataf maka ditakdirkan اقول dan semisalnya.
• jika waw adalah pengganti dari امَا yang digantikan dari مهما maka وبعد sebgai mutaalak syarat (rangkaian syarat), dan mutaalak jazak (rangkaian jawab).

6. Adapun asal dari وبعد adalah ا ما pengganti dari lafaz مهما yang diambil dari kalimat مهما يكن من شيئ ما تقدم

7. Adapun hukum mengucapkan lafaz وبعد adalah sunat kerena mengikuti nabi Muhammad saw. kerena beliau telah mengucapkan lafaz اما بعد pada khutbahnya

8. Adapun yang pertama mengucapkannya terjadi perbedaan antara para ulama, yaitu :
• Nabi Daud as
• Qish bin Sa’adah
• Sabhan bin Wail
• Ka’ab bin Luai
• Yu’rab bin Qatan

9. Adapun ف setelahnya وبعد adalah sebagai jawab dari lafaz yang telah dibuang yaitu مهما يكن من شيئ ما تقدم

Referensi : kitab shawi dardir hal.5 dan kitab Hasyiah Al- Bajuri juz I hal.7.

Untuk pembahasan yang lebih lengkap tentang kajian lafaz وبعد , Silahkan download Kitab Ihraz as-Sa`d bi injaz al-Wa`d bi Masail Amma Ba'du.disini

Wallahu A'lam Bisshawab.

Hukum Air Liur Yang Keluar Ketika Tidur

LbmMudi- Salah satu hal yang tergolong dalam najis adalah muntah. Muntah merupakan cairan yang bercampur dengan isi perut yang keluar pada waktu tertentu. Berbeda halnya dengan air liur, cairan yang terdapat dalam mulut berfungsi untuk membantu melunakkan makanan yang dihukum ke dalam salah satu benda suci.

Terkait dengan penjelasan tersebut, bagaimanakah dalam pandangan fiqih tentang air liur yang meleleh ketika tidur, apakah najis sama seperti muntah karena ada kemungkinan bersumber dari perut atau malah suci karena sesuai dengan hukum umum air liur?

Para ulama menjelaskan bahwa air liur yang meleleh ketika tidur hukumnya suci walaupun kuning dan berbau tak sedap selama tidak pasti air itu keluar dari mai’ddah (perut). Kata-kata “selama tidak pasti air itu keluar dari mai’ddah (perut)” terbenar dalam dua penjelesan. Pertama, telah pasti air itu keluar dari tempat lain yang bukan ma’iddah.

Kedua, dia ragu apakah keluarnya dari ma’iddah ataupun dari tempat yang lain, tapi pada kasus ini yang lebih ihtiyad (mengambil yang pasti) membersihkanya. Bila telah diyakini bersumber dari iddah maka air yang meleleh ketika tidur hukumnya adalah najis. Namun demikan walaupun telah dihukumi najis, bila keluarnya telah menjadi hal yang sering terjadi pada seseorang agama memberi kemudahan kepadanya, artinya air liur yang telah pasti keluar dari mai’ddah dianggap najis yang dimaafkan.

Syeh Zainuddin al-Malibari dalam kitabnya Fath al-Mu’in mengatakan:

وماء سائل من فم نائم، ولو نتنا أو أصفر، ما لم يتحقق أنه من معدة، إلا ممن ابتلي به فيعفى عنه وإن كثر.

Kesimpulan:
  1. Bila telah yakin keluarnya bukan dari ma’iddah, maka hukumnya suci.
  2. Ragu-ragu apakah dari ma’iddah atau bukan, hukumnya suci. Namun yang lebih ihtiyaz menyucikannya.
  3. Yakin dari ma’iddah maka hukumnya najis dan dima’afkan bila telah sering terjadi.


Referensi: Kitab Fath al-Mu’in dalam Hasyiah I'anah al-Thalibin Juz. 1 Hal. 85.



Anda Hobi Mengupat Kafir? Ini Hukumnya!

mengupat muslim
LbmMudi- Imam Ghazali ra pernah ditanyakan tentang hukum mengupat kafir, maka beliau menjawab “ Upat yang terjadi dari seorang muslim dikelompokkan ke dalam tiga alasan (ilat), yaitu:
1. Menyakiti.
2. Mengurangi sesuatu yang diciptakan oleh Allah swt.
3. Buang-buang waktu pada sesuatu yang tidak penting.

Berdasarkan hukum di atas maka hukum mengupat dikelompokkan kepada tiga pembagian:
1. Jika menyakiti hati orang lain, maka hukumnya Haram. Seperti mengupat sesama muslim.
2. Jika bisa mengurangi derajat sesuatu yang diciptakan oleh Allah maka Makruh.
3. Dan jika membuang-buang waktu maka hukumnya Khilaf Aula.

Kafir Zimmi, sama hukumnya seperti muslim, maksudnya haram. Alasannya karena Syara’ memelihara darah dan harta benda mereka. Adapun kafir Harbi, maka makruh karena alasan seperti nomor 2 dan 3. Sedangkan orang yang melakukan Bid’ah yang diharamkan, jika dengan Bid’ah tersebut dia menjadi kafir maka hukumnya sama seperti hukum upat kafir yaitu makruh. Dan jika dengan Bid’ah tersebut dia tidak menjadi Kafir, maka sama hukunya seperti mengupat orang muslim, yaitu haram”. Dan keharaman di sini adalah hukum asal. Tidak menafikan jika bisa berubah karena sesuatu alasan seperti wajib mengupat orang mengerjakan bid’ah supaya tidak diikuti orang lain. Wallahua’lam.

Hasyiyah Ianatut Thalibin, hal 325 juz 4 cet. Darul Fikri.

Menerima Pemberian Saat Dilamar? Berhati-hatilah!

perempuan meneriama pemberiaan saat dilamar
Deskripsi :
Seorang laki-laki telah meminang seorang perempuan, kemudian laki-laki tersebut memberikan nafakah atau lainnya kepada perempuan tadi karena akan dinikahinya, karena satu hal pernikahan tersebut tidak terjadi.

Pertanyaan:
Bolehkah laki-laki tadi meminta kembali nafakah atau apa saja  yang telah diberikan tadi saat pernikahan tidak terjadi?

Jawaban:
Boleh bagi laki-laki tadi meminta kembali apa yang telah diberikannya baik makanan, pakaian atau apa saja. Alasannya, karena laki-laki tersebut memberi karena pernikahan, bukan hadiah. Maka di saat pernikahan tidak terjadi dia boleh memintanya kembali. Jika masih ada maka langsung dikembalikan dan jika sudah hilang maka dibayarkan seperti hukum pengembalian barang-barang lain.

Secara dhahir si laki-laki tidak harus mengatakan saat memberi pemberian tersebut kepada perempuan kalau itu karena pernikahan, karena dia tidak memaksudkan pemberian tersebut kecuali karena pernikahan. Jika ia memaksudkan pemberian tersebut sebagai hadiah atau tabarru’, maka jelaslah tidak boleh meminta kembali apa yang telah diberikannya kepada perempuan tadi.

Sumber : Hasyiyah Ianatut Thalibin, juz 3 hal 185, cet : darul fikri.

Download Kitab al-Ijtihad wa Thabaqat Mujtahidi asy-Syafi’iyah- Syeikh Hasan Hitu

الاجتهاد وطبقات مجتهدي الشافعية
Syeikh Hasan HituDalam kitab-kitab fiqh Syafi’iyah, banyak disebutkan nama-nama
الاجتهاد وطبقات مجتهدي الشافعيةpara ulama terutama dari kalangan yang masuk dalam kalangan ashhabil wujuh. Merupakan satu hal yang penting untuk mengetahui profil mereka minimal secara singkat. Sebenarnya biografi para ashabil wujuh tersbeut bisa dibaca dalam berbagai kitab thabaqah Syafi’iyah. Namun, dalam kitab-kitab tersebut tidak ada pengelompokan khusus terhadap ashabil wujuh.
Syeikh DR. Muhammad Hasan Hitu, telah menulis satu kitab khusus yang menghimpun profil para ashabil wujuh secara khusus dalam kitabnya al-Ijtihad wa Thabaqat Mujtahidi asy-Syafi’iyah. Kitab ini berisi penjelasan tentang ijtihad dan syarat-syaratnya, pembagian mujtahid, dilanjutkan dengan thabaqah mujtahid dalam mazhab Syafii yang terdiri dari ;
Thabaqah pertama; mujtahid yang dinisbahkan (mutanasib) kepada Imam Syafii seperti Ibnu Rahawaihi, Abu Tsur, ath-Thabari dll
Thabaqah kedua mujtahid yang mengambil ilmu langsung dari Imam Syafii seperti al-Muzani dan al-Buwaithy.
Thabaqah yang ketiga mujtahid mazhab setelah murid Imam Syafii yang dibagi dua, al-mukassirin seperti ad-Darimi, Ibnu binti Imam Syafii, al-Anmathy, Ibnu Suraij, al-Isthakhary, Qaffal dll, dan al-muqillin seperti al-Jurjany, al-Muhamily Kabir, Ibnu Harbawaihi dll.

Bagi yang berminat untuk memiliki file pdf kitab ini silahkan di download DI SINI.


Nasihat Guru Mulia, Umar bin Hafiz Kepada Warga Indonesia

nasihat guru mulia umar bin hafiz
Lbm-Mudi- Guru yang Mulia Umar bin Hafiz pada tanggal 14 kemarin berkunjung ke indonesia. Salah satu agenda beliau di indonesia adalah menghadiri Syaikh Abu Bakar bin Salim, Ahad (15/11). Dalam acara tersebut Guru yang mulia memberikan tausiahnya. Berikut ini beberapa kesimpulan dari tausiah beliau yang kami kutip dari Grup WA Qolbun Salim. Berikut rinciannya:
  1. Siapa yang memiliki tujuan kepada selain Allah SWT, maka itu adalah kekurangan dan aib bagi seorang hamba.
  2. Kalau bukan dengan adanya majelis-majelis yg baik seperti ini niscaya Allah akan menurunkan azab dan musibah kepada manusia.
  3. Siapa yang telah mengambil aturan selain aturan Allah SW , maka sama saja dia telah menjadikan tuhan selain Allah SWT.
  4. Kita dituntut untuk mengikuti para sahabat dan ahlul bait karena merekalah yg memahami Manhaj Nabi SAW.
  5. Setiap manusia diwajibkan untuk merujuk semua urusannya kepada para ulama karena mereka yang mengetahui jalannya Nabi SAW.
  6. Bagi orang yang memahami agama Islam hendaklah mereka menyelamatkan yang lainnya dari penghambaan kepada sesama manusia.
  7. Katakan pada orang-orang yg memiliki aturan/ undang-undang sendiri, bahwa kita memiliki aturan yang lebih tinggi yaitu aturan/undang-undang Allah SWT.
  8. Di masa kecilnya, Syaikh Abu Bakar bin Salim selalu berdoa agar tidak menjadi orang yang terkenal, tapi kehendak Allah yang menjadikannya terkenal.
  9. 15 tahun sebelum kemangkatannya Syaikh Abu Bakar bin Salim selalu duduk tawarruk, kemudian orang-orang berkata : "Wahai imam..tidakkah engkau letih duduk seperti itu?" Beliau menjawab: "Ini adalah duduknya seorang hamba di hadapan majikannya (Allah SWT ).
  10. Syaikh Abu Bakar bin Salim setiap harinya menjamu tamu sampai 500 orang secara rutin dan ini belum tentu dilakukan oleh yayasan, pejabat,dll, dan jika ini dilakukan oleh mereka niscaya mereka memanggil media untuk mengekspos kegiatan sosialnya. - Imam Ali Zainal Abidin di masa hidupnya memikul makanan dan dibagikan ke 200 rumah yang ada di kota Madinah, pembantu beliau merasa kasihan dan hendak membantu untuk memikulkannya, tapi Imam Ali menolak seraya berkata : "Apakah engkau mau memikul kesalahanku nanti di hari kiamat?!" - Orang-orang yang memikul amanat seperti para pejabat zaman sekarang, mereka paling takut kepada para auditor , padahal setiap saatnya amalan kita diawasi dan diaudit oleh malaikat Allah SWT.
  11. Sebagaimana Allah SWT memberikan kepada kita anggota badan yang bersih, maka kembalikanlah kepada Allah seperti semula, bersih dari kemaksiatan-kemaksiatan dan Allah juga senang bertemu dengan kita dalam keadaan bersih pula. - Diriwayatkan, bahwa siapa yang menjalankan salat yang lima waktu dengan berjamaah 5 semasa hidupnya, maka dia seperti memenuhi lautan dan daratan dengan kebaikan


(Sumber : Grup WA Qolbun Salim)

Beberapa Sebab Mustajabah Doa (Sayyid Muhammad Alawy)

LbmMudi- Berdoa merupakan solusi dari sebuah masalah, ketenangan dalam segala gangguan dan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Dalam berdoa, seseorang mencari keadilan pada Tuhan-nya atas segala perkara yang menimpanya.
adab berdoa sayi muhammad alawy

Dengan berdoa seseorang berharap masalah yang menimpanya segera selesai, dan apa yang diinginkannya dikabulkan. Namun, hal demikan bukan perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Semua doa akan diterima walau dengan bentuk yang berbeda, seperti diampuni dosa, bertambah rezeki dan lain sebagainya.

Salah satu yang sangat harus diperhatikan dallam berdoa adalah adab dan ketentuan berdoa. Karena adab akan sangat berpengaruh kepada diterima dan ditolaknya doa.

Berikut ini kami akan menjelaskan adab-adab dalam berdoa sebagaimana kami kutip dari Sayyid Muhammad Alawy dalam kitab beliau Duru’l Waqiyyah Ba Hazbul Mahiiyah pada halaman 11, karena dengan memperhatikan adab dan ketentuan berdoa, kita berharap doa akan lebih dekat kepada diterima.
  1. Mencari waktu yang tepat sebagai mana yang telah dijelaskan oleh nabi dalam beberapa hadis seperti hari Arafah dalam setahun, bulan Ramadhan, hari jumat dalam seminggu dan waktu sahur di penghujung malam.
  2. Mengintip dan mencuri-curi dalam keadaan yang mulia, seperti merangkak dalam saf peperangan pada jalan Allah, diketika turun hujan, diketika iqamah azan shalat lima waktu, sesudah bershalawat, di antara azan dan iqamah dan pada saat berpuasa, karena banyak ayat alquran dan hadis yang menunjuki kepada mulia waktu-waktu di atas dan dianjurkan untuk berdoa saat itu.
  3. Menghadap kiblat, mengangkat dua tangan sehingga terlihat putih dari bathin tangan, karena Itba’ (mengikuti apa yang nabi saw lakukan) dan mengusapkannya kepada wajah saat selesai. Tidak boleh mengangkat wajah dan melihat langit, karena ada larangan kepada hal tersebut.
  4. Meringankan suara saat ketakutan dan membesarkannya saat tidak ketakutan, karena ada perintah kepada demikian pada ayat dan hadis.
  5. Tidak memberatkan diri menggunakan bahasa yang puitis dalam berdoa, seperti menyusun doa seperti syair yang huruf ujungnya sama. Melakukan ini boleh tetapi jangan berlebihan. Karena ini merupakan satu anugrah dari Allah swt seperti yang telah dilakukan Rasulluah saw dan sebagian ulama ‘Arif billah.
  6. Merendahkan diri baik anggota lahir maupun bathin, penuh rasa harap.
  7. Yakin dengan yang di doakan, yakin diterima dan membenarkan harapan.
  8. Tegas dalam berdoa dan mengulangnya sampai tiga kali.
  9. Membuka dan menutup doa dengan puji kepada Allah dan shalawat kepada nabi saw.
  10. Dan terakhir adab bathin, yaitu: taubat dari segala dosa, meminta maaf atas kezaliman dan menghadap kepada Allah swt penuh kesungguhan. Demikian merupakan sebab yang paling ampuh untuk diterimanya doa. Wallahua’lam.



Biogas dari Kotoran Hewan, Najiskah?

Deskripsi Masalah.
najis dari biogas

Dimasa sekarang ini, kelangkaan minyak tanah sudah sering terdengar di telinga kita, sehingga pemerintah memberi alternatif lain yaitu gas walaupun dengan banyak persoalan yang di hadapi oleh masyarakat, sehingga sebagian masyarakat yang berdomisili di daerah bali menjadikan bahan bakar untuk memasak adalah uap dari kotoran lembu, ada juga dari tempat buangan kotoran manusia.

Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya gas yang dihasilkan dari kotoran najis tersebut, apakah bernajis atau tidak?

Jawaban :
Gas tersebut tidak bernajis. karena gas tersebut adalah uap dari najis. Uap najis tidak dihukumi bernajis berbeda dengan asap najis, asap najis hukumnya najis karena asap keluar dari najis dengan perantaraan api.

Referensi:
1. Hasyiah I'anatuth Thalibin, jilid. 1, hal. 88, Cet. al-Haramain.

قوله: ومن دخان نجاسة) معطوف على قوله من شعر نجس.
أي: ويعفى عن يسير - عرفا - من دخان النجاسة، وهو المتصاعد منها بواسطة نار، ولو من بخور يوضع على نحو سرجين. ومنه ما جرت به العادة في الحمامات، فهو نجس لانه من أجزاء النجاسة تفصله النار منها لقوتها. ويعفى عن يسيره بشرط أن لا توجد رطوبة في المحل وأن لا يكون بفعله، وإلا فلا يعفى مطلقا لتنزيلهم الدخان منزلة العين. وخرج بدخان النجاسة بخارها، وهو المتصاعد منها لا بواسطة نار، فهو طاهر. ومنه الريح الخارج من الكنف أو من الدبر فهو طاهر، فلو ملا منه قربة حملها على ظهره وصلى بها صحت صلاته.

2. Hasyiah syawani ‘ala tuhfatul muhtaj, jilid. 1, hal. 105, Cet. Dar al-Fikr.


قوله: (ومن غبار سرجين) أي ونحوه مما تحمله الريح كالذر مغني عبارة شيخنا ومنها السرجين الذي يخبز به فيعفى عن الخبز سواء أكله منفردا أو في مائع كلبن وطبيخ ومثله الخبز المقمر في الدمس فلو فت في اللبن وغيره عفى عنه وهل يعفى عن حمله في الصلاة أو لا قال الرملي لا يعفى وخالف العلامة الخطيب فقال يعفى عنه فيها اهـ زاد البجيرمي ولا يجب غسل الفم منه لنحو الصلاة ونقل عن شيخنا أنه لا يسن أيضا وفيه نظر اهـ وعبارة الكردي عن شرح العباب ويعفى عما يصيب الحنطة من البول والروث حال الدياسة قال الدارمي والاحوط المستحب غسل الفم من أكله وقياسه أن يسن غسل جميع ما يعفى عنه اهـ

3. Syaraqawy `ala Tahrir, jilid. 1, hal. 121, Cet. al-Haramain.

ومثال ذلك البخور الطاهر اذا وضع على نار سرجين لانه ينماع فيتنجس والدخان الخارج منه غير طاهر وكذا اذا نشف الثوب على النار التى من النجاسة فهو طاهر ان لم ينفصل شئ من الدخان فيه ولو ولع اليدك من لهب نحو الجلة الصافى عن الدخان فطاهر أو التصق على الخمرفنجس أما الدخان المنفصل منها بلاواسطة نار كالمتصاعد من بيوت الأخلية أو من طوافات الجلة عند فتح ذلك فطاهر وكذا الريح الخارج من الدبر لانه لم يتحقق كونه من عين النجاسة والرائحة الكريهة الموجودة فيه يجوز أن تكون لمجاورته النجاسة ويعفى عن القليل عرفا من دخان النجاسة

4. Hasyiah Bujairimy `ala Khatib, jilid. 1, hal. 202, Cet.Dar al-fikr.

قوله : ( طاهراً ) ومنه الريح على الراجح ، لأنه من بخار النجاسة بغير واسطة نار ق ل . ونص م ر على أن البخار الخارج من الكنيف طاهر

Kaidah Adat Dapat Dijadikan Pijakan Hukum/ اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

A. Pengertian Kaidah


al-‘aadah (اَلعَادَة) secara bahasa diambil dari kata al-‘aud (الْعَوْدُ) atau al-mu’awadah ( الْمُعَاوَدَة) yang artinya berulang (التَكْرَار)

‘Ali Ibn Muhammad al-Jurjani mendefinisikan al-‘aadah dalam kitabnya, at-ta’rifat: 

 اَلْعَادَةُ مَا إِسْتَمَرَّ النَّفْسُ عَلَيْهِ عَلَى حُكْمِ الْمَعْقُوْلِ وَعَادُوْا اِلَيْهِ مَرَّةً بَعْدَ اُخْرَى

“Al-‘aadah ialah sesuatu yang terus menerus dilakukan oleh manusia, dapat diterima oleh akal, dan manusia mengulang-ulanginya terus menerus”.

Terkadang ulama menyamakan antara al-‘adad dengan al-‘uruf dengan alasan subtansinya sama, meskipun dengan ungkapan yang berbeda, sebagaimana yang didefinisi oleh ‘Ali Ibn Muh ammad al-Jurjani al-‘uruf dibawah ini:

اَلْعُرْفُ مَاإِسْتَقَرَّت ْالنُّفُوْسُ عَلَيْهِ بِشَهَادَة ِالْعُقُوْلِ وَتَلَقَّتْه ُالطَّبَائِعُ بِالْقُبُوْلِ وَهُوَ حُجَّةٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ أَسْرَعُ اِلَى الْفَهْمِ بَعْدَ أُخْرَى

al-‘uruf ialah suatu perkara dimana jiwa merasakan ketenangan dalam mengerjakannya karena sudah sejalan dengan logika dan dapat diterima oleh watak kemanusiannya. Maka dari itu ia dapat dijadikan sebagai Hujjah, tetapi hal ini lebih cepat dimengerti. 

Dari definisi diatas dapat diambil pengertian bahwa al-‘adad dan al-‘uruf adalah dua perkara yang, memiliki arti yang sama. Secara umum adat adalah sebuah kecenderungan yang berupa pekerjaan atau ungkapan pada satu perkara tertentu. Dan masih banyak definisi lain yang ditawarkan para ulama berkenaan al-‘aadah dan al-‘uruf, namun tidak penulis nukilkan di sini dikarenakan Fuqaha tidak membedakan anatara dua istilah tersebut, termasuk dalam mengkaji kaedah ini. Kemudian fuqaha mendefinisikan adat sebagai norma, aturan yang telah tertanam dalam hati akibat pengulangan sehingga diterima sebagai sebuah realitas yang rasional dan layak menurut penilaian logika, seperti kebenaran umum yang diciptakan, dijalankan dan disepakati oleh komunitas tertentu, sehingga menjadi semacam keharusan yang harus ditaati.

Dari defenisi di atas, ada dua hal yang penting yang dapat disimpulkan yaitu, al-‘adah ada unsur berulang–ulang dilakukan dan al- ‘uruf ada unsur al-‘ma’ruf dikenal dengan suatu yang baik. Kata-kata al-‘uruf ada hubungannya dengan tata nilai dalam masyarakat yang dianggap baik, sehingga al’adah lebih tepatnya didefinisikan dengan “Apa yang dianggap baik dan benar oleh manusia secara umum (al’adah al’ammah) yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan dan tidak menyimpang sebagaimana dijelaskan oleh Imam Jalaludin ‘Abdu Rahman di dalam kitab asybah wanazair dibawah ini:

إِنَّمَا تُعْتَبَرُ الْعَادَةُ إِذَا اِطَرَدَتْ فَإِنْ إِضْطَرَبَتْ فَلَا

Artinya: "adat atau kebiasaan dianggap sebagai pijakan hukum berulang, berlaku umum, jika menyimpang maka tidak bisa dijadikan pijakan huku".

B.Sumber Pengambilan Kaidah
Para ulama usul fiqh mengemukakan beberapa sumber pengambilan dasar kaedah ini diataranya:
1. Alquran
a. Surat Al-Baqarah ayat 233

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ( البقرة : ٢٣٣

Artinya;”Dan kewajiban ayah memberi makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf”. (QS. Al-Baqarah: 233)

b. Surat Al-‘Araf ayat 199

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ( الأعرف : ۱٩٩

Artinya;”Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan makruf serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. (QS. Al-‘Araf: 199)

Menurut As- Suyuthi sebagaimana dikutip oleh Syaikh Yasin bin Ismail, beliau
menyebutkan bahwa kata al’uruf pada ayat di atas bisa diartikan sebagai kebiasaan atau adat. Ditegaskan pula oleh Syaikh Yasin, adat yang dimaksud disini adalah adat yang tidak bertentangan dengan syariat.

2. Hadis
Banyak sekali hadis yang menjadi dasar terbentuknya kaedah ini diantaranya ialah sebagai berikut;
a. Hadist riwayat Imam Ahmad

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ (رَوَاهُ إِمَامٌ أَحْمَدُ )

Artinya: “apa yang dipandang baik oleh orang-orang islam, maka baik pula di sisi Allah”. (HR. Imam Ahmad"

b. Hadis riwayat Abu Daud

اَلْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ، وَالْوَزْنُ وَزْنُ أَهْلِ مَكَّة (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُد

Artinya: “Ukuran berat (timbangan) yang dipakai adalah ukuran berat ahli Mekkah, sedangkan ukuran isi yang dipakai adalah ukuran isi ahli Madinah”. (RH. Abu Daud)

c. Hadis riwayat Bukhari dari Aisyah

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ، سَأَلَتِ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ إِنِّي أَسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرْ أَفَأَدْفَعْ الصَّلَاة فَقَالَ لَا إِنَّ ذَلِكَ عرق عِرْقٌ، وَلَكِنْ دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ الأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا، ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَنِ الْعَئِشَةِ)

Artinya: “Fatimah binti Abi Hubasyi bertanya kepada nabi SAW, dia berkata: “saya ini berada dalam kondisi haidh yang tidak berhenti, apakah saya harus meninggalkan shalat?” nabi menjawab: “Tidak, itu adalah darah penyakit, tapi tinggalkanlah shalat berdasarkan ukuran hari-hari yang engkau biasa menstruasi. Kemudian mandilah dan shalatlah”. (HR. Al-Bukhari dari ‘Aisyah)

Dari hadis di atas, jelas bahwa kebiasaan wanita, baik itu menstruasi, nifas, dan menghitung waktu hamil terpanjang menjadi pegangan dalam penetapan hukum. Kata-kata qadra ayyam dan seterusnya menunjukkan bahwa ukuran- ukuran tertentu bagi wanita mengikuti yang biasa terjadi pada diri mereka.

C. Aplikasi Kaidah Dalam Kehidupan Sehari-Hari 
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa penerapan kaedah tersebut dalam hukum fiqh cukup banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah hukum ‘ubudiah maupun dalam transaksi-transaksi syar’i atau yang biasa disebut dengan muamalah. diantaranya ialah sebagai berikut:
  1. Penentuan kedewasaan seseorang menurut syaria’at diserahkan kepada adat kebiasaan yang berlaku disuatu negara. Syari’at hanya memberikan perkiraan saja.
  2. Pemberian uang muka kepada pegawai sebelum dana pensiunannya turun, atau sebagian honorarium mengajar kepada pengajar yang belum selesai menjalankan tugasnya adalah diperbolehkan, karena memang demikian adat yang sudah berlaku.
  3. Kadar minimal najis yang dima’afkan, untuk mengetahui ukuran sedikit dan banyaknya najis ini semuanya dikembalikana pada penilaian adat, jika dianggap sedikit maka dimaafkan, bila dianggap banyak maka tidak dimaafkan.
  4. Menurut kebiasaan yang berlaku makanan yang disuguhkan kepada tamu boleh dimakan tanpa harus membayar.
D. Kaidah Cabang
Telah maklum bahwa setiap kaedah dasar pasti memiliki kaedah cabang yang senada dan miliki substansi sama walaupun berbeda dalam pengungkapannya. Pada kaedah al’adatu muhkamatun ini, terdapat beberapa kaedah cabang, diantaranya ialah sebagai berikut;
 1.

. إِنَّمَا تُعْتَبَرُ الْعَادَةُ إِذَا إِضْطَرَدَتْ أَوْ غَلَبَتْ

“Adat yang diangap (sebagai pertimbangan hukum) itu hanyalah adat yang terus menerus berlaku atau berlaku umum”.

Maksudnya ialah, tidak dianggap adat kebiasaan yang bisa diajadikan pertimbangan hukum, apabila adat dan kebiasaan itu hanya sekali-kali terjadi dan tidak berlaku umum. Kaidah ini sebenarnya merupakan dua syarat untuk bisa disebut adat, yaitu terus menerus dilakukan dan bersifat umum (keberlakuannya). 
 2.

. اَلْعِبَرَةُ لِلْغَالِبِ الشَّائِعِ لَا لِلنَّادِرِ

“Adat yang diakui adalah adat yang umumnya terjadi yang dikenal oleh manusia bukan dengan yang jarang terjadi”

Contohnya, para ulama berbeda pendapat tentang waktu hamil terpanjang, tetapi bila menggunakan kaedah di atas, maka waktu hamil terpanjang tidak akan melabihi satu tahun. Demikian pula menentukan menopause wanita dengan 50 tahun. 
 3. 
اَلتَّعْيِيْنُ بِالْعُرْفِ كَالتَّعْيِيْنِ بِالنَّصِ

“ketentuan berdasarkan ‘uruf seperti ketentuan berdasarkan nash”
Maksud kaedah ini adalah sesuatu ketentuan berdasarkan ‘urf yang memenuhi syarat adalah mengikat dan kedudukannya seperti penetapan hukum berdasarkan nash. Contohnya, apabila seseorang menyewa rumah atau toko tanpa menjelaskan siapa yang bertempat tinggal di rumah atau toko tersebut, maka si penyewa bisa memanfaatkan rumah tersebut tanpa mengubah bentuk atau kamar-kamar rumah kecuali dengan izin orang yang menyewakan.

Sebagaimana yang telah dimaklumi, kaedah ini merupakan sebuah kaedah aghlabiah, yakni tidak semua adat istiadat yang terjadi dalam masyarakat dapat dijadikan pijakan hukum, tetapi ada juga beberapa kebiasaan yang telah menjadi adat sebagian orang atau kelompok yang dikatakan dengan adat yang fasid, yaitu tradisi yang berlawanan dengan dalil syar’i, sehingga tidak dapat dijadikan pegangan hukum, diantaranya ialah sebagai berikut;
  1.  Al-‘adah yang bertentangan dengan nash baik Al-Quran maupun Hadist, seperti shaum terus-menerus, atau empat puluh hari atau tujuh hari siang malam, kebiasaan judi, menyabung ayam, kebiasaan menanam kepala hewan korban waktu membuat jembatan, kebiasaan memelihara babi dan lain sebagainya.
  2. Al-‘adah tersebut tidak menyebabkan kemafsadatan atau menghilangkan kemaslahatan termasuk di dalamnya tidak mengakibatkan kesulitan atau kesukaran, seperti memboroskan harta, hura-hura dalam acara perayaan, memaksakan dalam menjual, dan lain sebagainya.
  3. Al-‘adah berlaku secara umum di kalangan kaum muslimin, dalam arti bukan hanya yang biasa dilakukan oleh beberapa orang saja., bila dilakukan oleh beberapa orang saja maka tidak dianggap adat.

E. Kesimpulan
Dari sejumlah uraian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa, ketika Islam datang membawa ajaran yang mengandung nilai-nilai uluhiyah (ketuhanan) dan nilai-nilai insaniyah (kemanusiaan) bertemu dengan nilai-nilai adat kebiasaan di masyarakat, di antaranya ada yang sesuai dengan nilai-nilai Islam meskipun aspek filosofisnya berbeda dan ada pula yang berbeda bahkan bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, maka di sinilah para ulama membagi adat kebiasaan yang ada di masyarakat menjadi al-’adah al-sahihah (adat yang sahih, benar, baik) dan ‘adah al-fasidah (adat yang mafsadah, salah, rusak). Adat, kebiasaan suatu masyarakat memberi daya vitalitas dan gerak dinamis dari hukum Islam dengan tidak kehilangan identitasnya sebagai hukum Islam. Hukum Islam menerima adat yang baik (al-shahihah) selama adat tersebut membawa maslahat untuk diterapakan.

Hukum yang didasarkan pada adat akan berubah seiring perubahan waktu dan tempat, dalam artian bahwa hukum-hukum fiqh yang tadinya dibentuk berdasarkan adat istiadat yang baik itu akan berubah bilamana adat istiadat itu berubah. Adapun adat itu dapat dijadikan landasan hukum apabila:
  1. Tidak bertentangan dengan nash
  2. Berlaku umum
  3. Tidak menimbulkan kerusakan atau lemafsadatan, dan
  4. Adat itu sudah ada ketika terjadinya suatu peristiwa yang akan dilandaskan pada ‘uruf itu.
Sumber : Asybah Wan'nadhair
               Formulasi Nalar Figh

وَاللهُ اَعْلَمُ

Hukum membaca al-quran di kuburan

Diskripsi Masalah.

Membaca al-quran di kuburan
Salah satu hal yang lumrah diamalkan oleh kaum Islam Ahlussunnah wal Jamaah adalah membaca al-quran di kuburan. Di Aceh, sudah menjadi tradisi di sebagian daerah ketika ada salah satu keluarga yang meninggal, keluarga membaca al-quran dikuburan sampai beberapa hari. Bahkan tak jarang pula mereka membayar upah kepada orang lain untuk membaca al-quran di kuburan dalam jangka waktu tertentu. Namun, seiring dengan berkembangnya ajaran wahabi salafi, kebolehan pembacaan al-quran dipertanyakan oleh sebagian kalangan.

Pertanyaan

Bagaimanakah hukumnya membaca al-quran di kuburan beserta dalil-dalilnya?

Jawaban;

Membaca al-quran dikuburan hukumnya adalah boleh dan dapat memberi manfaat bagi mayat dalam kuburan. Banyak dalil yang menguatkan hal tersebut.


Dalil membaca al-quran di kuburan.

Membaca al-quran merupakan satu amalan yang memiliki nilai yang tinggi. Allah menurunkan rahmatNya pada tempat di bacakan al-quran. Orang yang berada di sekitar tempat di bacakan al-quran juga ikut akan mendapatkan rahmatNya. Hal ini berlaku secara umum, baik yang berada di sekitar orang yang membaca al-quran itu orang yang masih hidup ataupun orang yang telah meninggal. Banyak dalil-dalil yang membolehkan pembacaan al-quran di kuburan.

Al-Hadist

Banyak hadist yang menjadi dalil disyariatkan membaca al-quran di kuburan, hadist-hadist tersebut walaupun dhaif namun secara keseluruhan menunjuki bahwa pembacaan al-quran di atas kuburan memiliki landasan dalam syara`. Beberapa hadist tersebut antara lain:

1. Hadits riwayat Abu Daud :
اقرأوا على موتاكم
Bacalah atas orang meninggal kamu (H. R. Abu Daud)

2. Hadits riwayat an-Nasa`i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban :
اقرأوا يس على موتاكم
Bacalah surat Yasin atas orang meninggal kamu (H.R. Nasa`i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

3. Hadits riwayat Imam Ahmad:
يس ثلث القرآن لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر له فاقرؤوها على موتاكم
Surat Yasin adalah sepertiga al-quran, tidak membacanya oleh seseorang yang mengharap Allah dan akhirat kecuali di ampunkan baginya, maka bacakanlah surat Yasin atas orang meninggal kamu (H.R. Ahmad)

Sebagian para ulama mentakwilkan kalimat موتاكم dengan makna majazi yaitu orang yang hampir meninggal (muhtadhar) bukan orang yang telah meninggal. Namun tidak tertutup kemungkinan juga untuk dipahami kalimat موتاكم dengan makna hakikat dan majaz artinya selain dimaksudkan makna majaz juga dimaksudkan makna hakikat, sehingga jadilah maksud hadist tersebut: bacalah surat yasin terhadap orang yang hampir meninggal dan orang yang telah meninggal. [1]

4. Hadist Riwayat Imam Baihaqy dan ath-Thabrany:

إذا مات أحدكم فلا تحبسوه وأسرعوا به إلى قبره وليقرأ عند رأسه بفاتحة الكتاب وعند رجليه بخاتمة البقرة فى قبره

Apabila mati salah satu kamu maka janganlah kamu tahan dan bersegeralah kamu dengannya ke kuburnya dan hendaklah dibacakan di samping kepalanya fatihah kitab dan di samping kakinya pada kuburnya dengan penghabisan surat al-Baqarah (H. R. Imam Baihaqy dalam kitab Sya’b al-Iman No. 9294 dan ath-Thabrany dalam Mu’jam Kabir No. 13613)

5. Hadist Abu Muhammad as-Samarqandy dari Saidina Ali ketika menjelaskan kelebihan surat al-Ikhlash: [2]

من مر على المقابر وقرأ قل هو الله احد إحدى عشرة مرة ثم وهب أجره للأموات أعطى من الأجر بعدد الاموات

Barangsiapa yang lalu atas perkuburan dan membaca qul huwa Allahu Ahad sebanyak 11 kali kemudian menghibahkan pahalanya bagi orang meninggal niscaya ia diberikan pahala sejumlah orang yang meninggal.

6. Hadist riwayat Abu Qasim Sa`ad bin Ali az-Zanjani dalam kitab al-Fawaid dari Abi Hurairah: [6]

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب وقل هو الله احد والهاكم التكاثر ثم قال اللهم انى قد جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاء له إلى الله تعالى

Rasululallah SAW berkata: siapa yang masuk pekuburan kemudian membaca fatihah kitab, qul huwa Allahu Ahad, alhakumut takatsur kemudian berkata “Ya Allah, sungguh saya jadikan pahala bacaan yang saya baca berupa kalamMu bagi kaum mukmin dan mukminat ahli pekuburan niscaya mereka memberi syafaat baginya kepada Allah ta`ala.

7. Diriwayatkan oleh Abdul Aziz dari Anas RA bahwa Rasulullah berkata: [4]

من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف الله عنهم وكان له بعدد من فيها حسنات

Siapa yang masuk pekuburan kemudian membaca surat Yasin niscaya Allah ringankan dari mereka dan adalah baginya kebaikan sejumlah orang meninggal dalam pekuburan tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Khalal dalam kitab al-Jami’ dari asy-Sya’bi, beliau berkata: [5]

كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرأون له الفرآن

Adalah kaum Anshar bila ada dari mereka yang meninggal mereka segera ke kuburnya membacakan al-quran baginya.

Perkataan para ulama.

Imam Syafii berpendapat sunat bagi orang yang berziarah kubur untuk membaca ayat al-quran dan berdoa setelahnya di kuburan sebagaimana penjelasan Imam Nawawi : [6]

ويستحب للزائر أن يسلم على المقابر ويدعو لمن يزوره ولجميع أهل المقبرة والأفضل أن يكون السلام والدعاء بما ثبت في الحديث ويستحب أن يقرأ من القرآن ما تيسر ويدعو لهم عقبها نص عليه الشافعي واتفق عليه الأصحاب

Dan disunatkan bagi penziarah untuk mengucapkan salam atas kubur dan berdoa bagi orang yang diziarahi dan ahli maqbarah. Yang lebih utama adalah mengucapkan salam dan berdoa sebagaimana yang tersebut dalam hadits dan disunatkan membaca ayat al-quran semudahnya dan berdoa setelahnya sebagaiman Imam Syafii sebutkan secara jelas dan hal ini disepakati oleh ashshab (pengikut Imam Syafii)

Selain itu, az-Za`farany, salah satu murid Imam Asy-Syafii, berkata: [7]

سألت الشافعى رحمه الله عن قراءة عند القبر فقال لا بأس به
Saya pernah bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca (al-quran) di samping kubur. Beliau menjawab “tidak mengapa”.

Imam Nawawi mengatakan bahwa para ulama berpendapat sunat membaca al-quran di atas kuburan berdasarkan hadist riwayat Imam Muslim :

(مر النبي صلى الله عليه وسلم على قبرين فقال إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير أما أحدهما فكان يمشي بالنميمة وأما الآخر فكان لا يستتر من بوله قال : فدعا بعسيب رطب فشقه باثنين ثم غرس على هذا واحدا وعلى هذا واحدا ثم قال : ( لعله أن يخفف عنهما ما لم ييبسا

Nabi lalu atas dua kubur, Nabi berkata kedua ahli kubur ini di azab. Tidaklah keduanya di azab karena perkara besar. Salah satunya di azab karena berjalan dengan namimah (adu domba) sedangkan yang lain ia tidak memelihara dari kencingnya. Rasulullah segera mencari pelepah kurma yang basah maka di belah menjadi dua kemudian di tanam salah satunya atas salah satu kubur dan yang lain di atas kubur yang lain. Kemudian Nabi berkata: “mudah-mudahan di ringankan azab dari keduanya selama kedua pelepah kurma tersbeut belum kering (H.R. Imam Muslim No. 703 kitab Thaharah)

Dalam hadits tersebut Rasulullah meletakkan pelepah kurma di atas kubur dengan harapan akan diringankan azab penghuninya. Kebanyakan para ulama dan mufassirin berpendapat bahwa diringakan azab tersebut dikarenakan tasbih dari kedua pelepah kurma tersebut, karena pohon kayu akan bertasbih selama ia masih basah. Imam Nawawi melanjutkan: [8]

واستحب العلماء قراءة القرآن عند القبر لهذا الحديث ؛ لأنه إذا كان يرجى التخفيف بتسبيح الجريد فتلاوة القرآن أولى

Dan para ulama berpendapat sunat membaca al-quran di samping kubur berdasarkan hadits ini, karena apabila di harapkan diringankan azab dengan sebab tasbih pelepah kurma maka dengan bacaan al-quran akan lebih utama.

Dalam kitab Raudhah ath-Thalibin Imam Nawawi juga menerangkan: [9]

وسئل القاضي أبو الطيب عن قراءة القرآن في المقابر فقال: الثواب للقارئ، ويكون الميت كالحاضر، ترجى له الرحمة والبركة، فيستحب قراءة القرآن في المقابر لهذا المعنى، وأيضا فالدعاء عقيب القراءة أقرب إلى الإجابة، والدعاء ينفع الميت

Dan ditanyakan Qadhi Abu Thayib tentang membaca al-quran pada kuburan, beliau menjawab pahalanya bagi pembacanya dan si mayat bagaikan orang yang hadir yang diharapkan baginya rahmat dan barakah, maka disunatkan membaca al-quran pada kuburan karena ini makna, lagi pula doa setelah membaca al-quran terlebih dekat untuk dikabulkan sedangkan doa bermanfaat bagi mayat.

Pembacaan al-quran di kuburan merupakan syariat yang diakui oleh para ulama dalam mazhab Syafii dan mazhab lain, sebagaimana keterangan Imam as-Sayuthi [10]

اما القراءة على القبر فجزم بمشرعتها أصحابنا وغيرهم

Adapun membaca (al-quran) di atas kuburan maka hal tersebut diyakini oleh para ashhab (ulama) kita (pengikut mazhab Syafii) dan para ulama yang lain.

Membaca al-quran di kuburan juga diamalkan oleh pendiri mazhab Hanbali, Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana disbeutkan oleh Imam Qurthuby: [11]

كان الامام احمد بن حنبل رضي الله عنه يقول اذا دخلتم المقابر فاقرؤا فاتحة الكتاب والمعوذتين وقل هو الله احد واجعلوا ثواب ذالك لأهل المقابر فانه يصل إليهم

Adalah Imam Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu `anh berkata: apabila kamu masuk perkuburan maka bacakanlah fatihah kitab, al-ma`uzatain (surat an-Nas dan al-Falaq), dan qulhu Allahu Ahad (surat al-Ikhlash) dan jadikanlah pahalanya bagi ahli kubur, karena hal tersebut sampai kepada mereka.

Imam Ahmad bin Hanbal pada mulanya mengingkari sampai pahala dari orang yang masih hidup kepada orang yang meninggal, namun ketika ada sebagian perawi yang terpecaya meriwayatkan bahwa Saidina Umar RA mewasiatkan bahwa apabila beliau telah dikuburkan supaya di bacakan di kepala beliau surat al-Fatihah dan akhir surat al-Baqarah maka Imam Ahmad bin Hanbal segera ruju` dari pendapat beliau tersebut. [12]

Imam Ghazali menceritakan: [13]

روى عن على بن موسى الحداد قال كنت مع أحمد بن حنبل في جنازة ومحمد بن قدامة الجوهرى معنا فلما دفن الميت جاء رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد يا ابا عبد الله ما تقول في مبشر بن إسماعيل الحلبي قال ثقه قال هل كتبت عنه شيئا قال نعم قال أخبرني مبشر بن إسماعيل عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه فاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصى بذلك فقال له أحمد فارجع إلى الرجل فقل له يقرأ

Diriwayatkan dari Ali bin Musa al-Haddad, beliau berkata: “saya bersama Imam Ahmad bin Hanbal pada satu janazah, Muhammad bin al-Jauhary juga bersama kami. Ketika dikuburkan mayat datanglah seorang tuna netra membaca fatihah di samping kubur. Imam Ahmad berkata: “hai si ini, membaca (al-quran) di samping kubur adalah bid`ah”. Ketika kami keluar dari kuburan berkatalah Muhammad bin Qudamah berkata bagai Imam Ahmad “hai Aba Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubasysyir bin Ismail al-Halaby? Imam Ahmad menjawab “ia seorang yang stiqah/terpecaya”. Imam Ahmad melanjutkan “apakah engkau menulis sesuatu riwayat (hadist) darinya?” Muhammad bin Qudamah menjawab “ya”. Beliau melanjutkan “diriwayatkan akan aku Mubasysyir bin Ismail dari Abdur Rahman bin al-‘Ala`i bin al-Lajlaj dari bapaknya bahw beliau mewasiatkan apabila dikuburkan supaya dibacakan di samping kepalanya permulaan surat al-Baqarah dan akhirnya, beliau berkata saya mendengar Ibnu Umar mewasiatkan demikian. Maka Imam Ahmad pun berkata “kembalilah kepada laki-laki tadi dan katakanlah padanya: bacalah”.


Adapun hadist shahih yang sering dijadikan oleh kalangan wahaby sebagai dalil haram membaca al-quran diatas kuburan :
اجْعَلُوا فِى بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاتِكُمْ، وَلا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
Jadikanlah shalat kamu dalam rumahmu, jangan kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. (H.R. Imam Bukhari)

Ibnu Bathal memberikan komentar tentang maksud hadits ini: [14]

هذا من التمثيل البديع، وذلك بتشبيهه - صلى الله عليه وسلم - البيت الذى لا يصلى فيه بالقبر الذى لا يمكن الميت فيه عبادة

Ini adalah tamsil badi` yaitu Rasulullah SAW menyerupakan rumah yang tidak dilakukan shalat di dalamnya dengan kubur yang mayat di dalamnya tidak mungkin lagi untuk beribadat.

Dalam hadist ini Rasulullah menyerupakan rumah yang tidak dilakukan shalat di dalamnya dengan kubur. Persamaannya adalah sama-sama penghuninya ahli kubur tidak melakukan ibadat di dalamnya. Maka bukan berarti di larang membaca al-quran di atas kuburan.
-----------------------------------------------------------------------

  1. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy, Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 2 (Beirut: Dar al-Fikr, tt) h. 36
  2. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  3. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  4. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 312
  5. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  6. Imam Nawawi, Majmuk Syarah Muhazzab. Jld V, (Beirut, Dar Fikr). hal. 311
  7. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  8. Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim jilid II h. 205 Cet. Dar al-Hadits th 2001
  9. Imam Nawawi, Raudhat ath-Thalibin jilid II (Beirut : Maktab al-Islamy) h. 139.
  10. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur (Kairo: Mathba`ah al-Madany 1985 M) h. 311.
  11. Syeikh Abdul Wahab Sya`rany, Mukhtashar Tazkirah al-Qurthuby (Turkey: Maktabah al-Hakikat 2007) h.49
  12. Syeikh Abdul Wahab Sya`rany, Mukhtashar Tazkirah…, h. 49, Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  13. Imam al-Ghazaly, Ihya ‘Ulumiddin dalam Ittihaf Sadat al-Muttaqin jilid XIV (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah 2005) h. 284
  14. Imam Ibnu Baththal, Syarah Shahih Bukhari, jld. III, (Riyadh, Maktabah Rusyd, 2013), hal. 176

I'rab Faqath فقط

                                                         Soal;

Bagaimana cara i'rab lafadh فقط seperti dalam contoh ;


عليَّ عشرون فقط 

Jawab:

Ada beberapa wajah i'rab فقظ tersebut, yaitu;
  1.  فاء litazzyin lafhdy [تزيين للفظ ] sedangkan qad [ قط ] isem bermakna hasbu [حسب ] bermakna kaafi [ كافى ] di i'rabkan sebagai hal [الحال]
  2.  فاء sebagai jawab dari syarath muqaddar. قط khabar dari mubtada yang dibuang maka taqdirnya adalah اذا عرفت ذالك فهي حسبك
  3.  فاء sebagai jawab dari syarath muqaddar قط tersebut merupakan isem fiel amar bermakna انته. Atau isem fiel mudhare` dengan makna يكفى . Maka taqdirnya adalah

اذا عرفت ذالك فانته عن طلب غيره atau   اذا عرفت ذلك فيكفى عن طلب غيره

Catatan:
I`rab yang telah masyhur dikalangan santri bahwa قط adalah dharaf  harus ditinjau kembali dengan beberapa alasan:

  1. I`rab yang demikian tidak tersebut dalam kitab-kitab nahu mu`tabar. I`rab demikian hanya tersebut dalam kitab Tahrirul Aqwal syarah kitab `awamil Jarjany.
  2. Pada قط tidak dapat diterapkan makna dharaf, karena dharaf menunjuki kepada zaman atau tempat, sedangkan قط tidak menunjuki kepada tempat atau zaman.
  3. Memang ada dharaf yang hampir serupa dengan قط yaitu قطُّ dengan dibina atas dhummah dan bertasydid serta kebiasaannya terkhusus pada kalam nafi dan berfungsi untuk istighra` zaman madhy. Selain itu pada dharaf قطُّ tidak dapat masuk fa padanya sedangkan قط ini terdapat pada nafi dan isbat dan boleh masuk fa padanya.
Dari ketiga alasan tersebut dapat dipahami kalau قط tidak bisa dii'rab sebagai dharaf. Wallahua'lam.

Referensi:

  1. Hasyiah Al Khudary jilid 1 hal 83 cet. Al haramain
  2. Hasyiah Al Ajhury `ala Syarah Az Zarqany `ala Baiquny hal 56 cet. Haramain
  3. Hasyiah Ad Dusuqy `ala Mughny Labib jilid 1 hal 187 cet.Abdul Hamid Ahmad Hanafi Mesir

Nash kitab

1. Hasyiah Al Khudary jilid 1 hal 83 cet. Al haramain

قوله: [فقط] الفاء زائدة لتزيين اللفظ، وقط بمعنى حسب حال من اللام أي حال كونها حسبك أي كافيتك عن طلب غيرها. وقيل: الفاء في جواب شرط مقدر، وقط خبر لمحذوف، أو اسم فعل بمعنى انته أي إذا عرفت ذلك فهي حسبك أو فاتته عن طلب غيرها

2. Hasyiah Ad Dusuqy `ala Mughny Labib jilid 1 hal 187 cet.Abdul Hamid Ahmad Hanafi Mesir

قوله ان تكون بمعنى حسب] .....الاولى الظرفية والثانية بمعنى حسب وهى ]


Hukum Menggabungkan Mandi Wajib dan Sunat

LbmMudi- Seseorang yang berhadas besar wajib melakukan mandi agar ia dapat melakukan ibadah. Orang yang berjunub pada pagi hari jum’at, selain ia wajib melakukan mandi, ia juga disunatkan untuk mandi sunat jum’at. Bagaimana ia melakukan niat untuk kedua mandi tersebut? Apakah bisa diniatkan sekaligus atau mesti diniat terpisah antara mandi wajib dan mandi sunat?

Dalam kitab Fathul M’in jilid 1 hal 79 dikatakan bahwa:

Jika seseorang mandi junub dan mandi jum’at dengan niat sekaligus maka kedua-duanya dianggap sah, (hadas besar hilang dan mendapat pahala mandi sunat jum’at). Sekalipun yang terlebih afdhal adalah melakukannya secara terpisah. Dan jika seseorang melakukan niat salah satu dari dua mandi tersebut maka yang dianggap hanya mandi yang diniatkan.

Dari penjelasan kitab fathul mu’in tersebut dikatahui bahwa seluruh mandi wajib bisa digabungkan dengan seluruh mandi sunat.

Dengan demikian kita harus mengetahui mandi apa saja yang mewajibkan dan disunatkan.
Ada beberapa faktor yang mewajibkan seseorang mandi. Faktor tersebut digolongkan kedalam beberapa kategori. Ada faktor yang mewajibkan mandi terjadi pada laki-laki dan perempuan dan ada faktor yang mewawajibkan mandi khusus bagi perempuan sahaja.

Faktor yang diwajibkan Mandi bagi laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut:
  1. Bertemu dua kelamin. Bertemu dua kelamin yang dapat mewajibkan mandi adalah masuknya seluruh khasyafah (kepala zakar) kelamin laki-laki kedalam kelamin perempuan dan dalam keadaan masih bernyawa.
  2. Keluar mani. Keluar mani baik dalam keadaan sadar atau tidak sadar mewajibkan seseorang mandi walaupun tidak bersenggama.
  3. Meninggal. Meninggal merupakan salah satu faktor yang mewajibkan mandi, namun kewajiban tersebut dibebankan kepada orang yang hidup.

Faktor yang mewajibkan Mandi hanya khusus bagi perempuan saja.
  1. Haid
  2. Nifas
  3. Wiladah

Diantara mandi yang disunatkan adalah sebagai berikut:
  1. Mandi jum’at
  2. Mandi hari raya (fitri dan adha)
  3. Mandi minta hujan
  4. Mandi gerhana bulan
  5. Mandi gerhana matahari
  6. Mandi setelah memandikan mayat.
  7. Mandi orang yang baru masuk islam
  8. Orang yang baru sembut dari gila
  9. Orang yang sembuh dari pingsan
  10. Mandi ihram
  11. Mandi masuk makkah
  12. Mandi untuk mabid di muzdalifah
  13. Mandi wukuf di arafah
  14. Mandi melempar jumrah yang tiga
  15. Mandi thawaf

Demikianlah beberapa mandi wajib dan mandi sunat yang dapat digabungkan, semoga bermanfaat. Wallahua’lam.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja