Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Zakat Tijarah

Pengertian Tijarah

Kata تِجَارَةٌ (tijarah) secara etimologi merupakan mashdar (dasar kata) dari تَجَرَ يَتْجُرُ (tajara – yatjuru). Tijarah adalah :

 تقليب المال بالتصرف فيه لطلب النماء

Artinya; mengelola harta dengan tujuan mencari keuntungan.

Metode perputaran harta tersebut boleh jadi dengan jual beli, usaha rental/sewa, ataupun dengan cara lain.[1]
Karena zakat ini berkenaan dengan barang-barang dagangan, maka dalam hal ini bisa mencakup jenis barang apa saja ( yang halal ) selama diniatkan perdagangan, seperti barang-barang tidak bergerak sepereti rumah, tanah, perabotan, atau jenis peralatan dapur, hewan, mobil, kain dan lain sebagainya yang memang diperjualbelikan.

Hukum Zakat Tijarah

Kebanyakan  Ulama’ berpendapat wajibnya Zakat Tijarah, berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

Al-Quran.
Firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” (Q.S. Al Baqarah 267)


Juga dalam Firman Allah SWT :

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Ad Dariyaat-19)

Hadis.
Rasulullah saw pernah berkata pada Muadz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman:

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِى فُقَرَائِهِمْ
“Ajarkan kepada mereka bahwasannya Allah swt mewajibkan atas mereka untuk mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya untuk di berikan kepada orang-orang fakir.”

Pada ucapan Beliau saw في أموالهم (dari harta-harta mereka) tidak diragukan lagi bahwa harta tersebut adalah harta  dari perdagangan.

Dalam hadis yang lain;
في الابل صدقتها وفى البقر صدقتها وفى البز صدقته
“Dan pada unta ada zakatnya, pada lembu ada zakatnya, dan pada bazz (pakaian untuk dijual) juga ada zakatnya (H.R. Baihaqi)

Dalil dari Hadits dari Samurah bin Jundab mengatakan:

فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنِ الَّذِي نُعِدُّ لِلْبَيْعِ
“Sesungguhnya Rasulullah memerintah kita untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang yang kita sediakan untuk jual-beli.” (H.R. Abu Daud)

Demikian juga telah tetap dari Umar bin al Khaththab ketika beliau memerintahkan seseorang dengan berkata :

عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ حِمَاسٍ عَنْ أَبِيْهِ قال : مَرَّ بِيْ عُمَرُ فَقَالَ يا حِمَاس أدِّ زَكَاةَ مَالِكَ فَقُلْتُ : مَالِيْ مَالٌ إِلاَّ جِعَابٌ وَ أُدُم ! فَقَالَ : قَوِّمْهَا قِيْمَةً ثُمَّ أدِّ زَكَاتَهَا
"Dari Abi ‘Amr bin Himas dari bapaknya: "Pada suatu hari Umar melewatiku, lalu berkata: “Hai Himas tunaikan zakat hartamu!”. Aku menjawab: “Aku tidak punya harta kecuali kulit dan tempat panah”. Umar berkata: “Taksirlah nilainya lalu tunaikanlah zakat!" . (H.R. Imam Syafii dan Baihaqi)

Demikian pula Atsar dari Abdurrahman bin Abdul Qari’ :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ القَارِي قَالَ : كُنْتُ عَلَى بَيْتِ الْمَالِ زَمَانَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَكَانَ إِذَا خَرَجَ الْعَطَاءُ جَمَعَ أَمْوَالَ التُجَّارِ ثُمَّ حَسَبَهَا غَائِبَهَا وَ شَاهِدَهَا ثُمَّ أَخَذَ الزَّكَاةَ مِنْ شَاهِدِ الْمَالِ عَنْ الْغَائِبِ وَالشَّاهِدِ

"Aku adalah bendahara baitul maal pada masa Umar bin Khattab, maka jika beliau mengeluarkan pemberian, beliau mengumpulkan harta para pedagang, kemudian menghitung baik yang pedagangnya sedang bepergian, maupun yang muqim lalu mengambil zakat tersebut ".

Syarat dan Ketentuan Zakat Tijarah
Yang perlu diketahui di dalam zakat tijarah yaitu adanya beberapa syarat dan ketentuan diantaranya :
  1. Memiliki barang tersebut harus dengan jalur mu’awadhah, yaitu diperoleh dengan jalur akad yang saling memberi manfaat secara timbal balas. Baik mu’awadhah mahdhah (akad yang batal dengan sebab batal pembayarannya/’iwadh) seperti harta yang di peroleh dengan jalan di beli, hibah bissawab (pemberian dengan ada imbalannya), atau mu’awadhah ghair mahdhah (akad yang tidak batal dengan sebab batal pembayarannya) seperti harta yang hasil dari hasil mahar pernikahan, hasil shulh (perdamaian) dll. Adapun bila bertijarah dengan harta yang bukan hasil dari akad mu’awadhah misalnya harta hasil warisan kemudian di jual atau disewakan maka harta tersebut tidak termasuk dalam harta tijarah yang di kenakan kewajiban zakat.[2]
  2. Memiliki barang yang memang  dari permulaannya sudah dimaksudkan  untuk perdagangan. Seseorang yang membeli barang, ketika membelinya memang sudah direncanakan untuk berniaga dengan barang tersebut, atau seorang wanita yang menerima mahar pernikahan, ketika ia menerima mahar tersebut ia telah berencana mahar tersebut akan di gunakan untuk berniaga maka barang dan mahar tersebut termasuk dalam harta tijarah yang akan wajib zakat setahun kemudian, ataupun seseorang menyewakan satu barang yang tujuannya untuk disewakan lagi kepada orang lain disertai dengan niat berniaga maka harta tersebut termasuk harta tijarah, walaupun dalam kenyataan kemudian tidak ada pihak yang menyewa barang tersebut, maka wajib dizakati harta tersebut dikala sudah sampai setahun, dan dihargakan barang tersebut dengan harga mitsilnya (harga barang yang sama dengannya), dan dikeluarkan zakat 2,5% dari harga mitsil. Adapun bila pada saat mendapatkan barang tersebut tidak ada niat akan berniaga tetapi niat berniaga hanya muncul di kemudian hari misalnya pada awalnya kita membeli barang untuk keperluan pribadi kemudian muncul rencana menjual barang-barang tersebut maka harta tersebut tidak termasuk dalam harta tijarah yang wajib zakat.[3]
  3. Barang tersebut sudah mencapai nishab yaitu setara dengan harga 32 mayam (96 gram) emas. Nisab Zakat Tijarah hanya disyaratkan pada akhir tahun saja. Maka bila pada awal tahun jumlah harta dagangan tidak mencapai nisab, namun pada akhir tahunnya telah mencapai nisab maka tetap wajib zakat tijarah.[4]
  4. Sudah berjalan satu haul ( tahun ).
  5. Dikeluarkan 2,5 % dari harta yang terkena wajib zakat.
  6. Harus dikeluarkan dalam uang tidak boleh dalam bentuk barang.
  7. Hutang dan piutang perdagangan juga masuk dalam harta yang dikenakan Zakat. Hutang yang telah jatuh tempo, bila mudah ditagih maka wajib bayar zakat dengan segera, sedangkan bila sulit untuk ditagih zakat tetap wajib namun baru wajib dikeluarkan ketika hutang tersebut telah dilunasi.[5]
  8. Bila timbul niat akan mempergunakan barang tijarah untuk keperluannya (bukan lagi untuk di perdagangkan) maka dengan adanya niat tersebut akan memutuskan keadaan barang tersebut sebagai barang tijarah. Efeknya barang tersebut tidak akan di kenakan lagi kewajiban zakat.[6]
  9. Apasaja barang seperti bangunan, perabotan dan peralatan yang tidak disiapkan untuk jual-beli, tidak dimasukkan dalam perhitungan aset yang dikeluarkan zakatnya. Sebab dikategorikan barang tetap dan tidak berkembang.
Cara Menghitung Zakat Tijarah.
Untuk pertama kali catat tanggal kita membeli barang. Kemudian jika pada tanggal yang sama di tahun berikutnya harta tersebut telah mencapai nisab, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% dari jumlah total barang tijarah. Wallahu A'lam Bisshawab.

Catatan Kaki
[1]. Syamsuddin Ibnu Muhammad Ibnu khatib as-Syarbaini, Mughni Muhtaj, hal, 458, jld, 2.
[2]. Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Hajar al-haytami, Minhajul Qawim, hal, 213, jld 5 dlm Hasyiahnya at-Tarmasi, cet, Dar al-Minhaj.
[3]. Ahmad IbnuMuhammad IbnuHajar al-Haytami, Tuhfatul muhtaj, hal, 326 jilid, 3 cet, Dar Fikr.
[4]. al-Mahalli ‘ala Minhaj, jld II, hal 35 Cet. Haramain.
[5]. al-Mahalli ‘ala Minhaj, jld II, hal 50 Cet. Haramain.
[6]. Syamsuddin ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, hal, 117, jld, 3, cet, Darul Fikri.




Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

7 komentar untuk Zakat Tijarah

2.5% untuk Tahun Masehi atau hijriah

Tahun Hijriyah..jadi harus berdasarkan penanggalan islam. Tidak dihitung dengan tahun masehi.

Tahun Hijriyah..jadi harus berdasarkan penanggalan islam. Tidak dihitung dengan tahun masehi.

Poin no 7 sy gagal paham.....mohon surah,@....

Maksud poin no. 7 adalah; bila dalam berdagang ada pihak yang berutang pada kita, maka ketika perhitungan zakat di akhir tahun, utang tersebut juga wajib di zakati. Namun zakat untuk utang tersebut baru wajib kita keluarkan kepada mustahiq ketika utang tersebut sudah di bayar

Mohon pencerahan, apabila lupa kapan tanggal dan bulan membeli barang atau lupa kapan memulai tijarah, ? Terimakasih.

kalo kita ada berhutang pada orang lain bgmn?