Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Hikmah Berbeda-beda Jumlah Raka’at Shalat

Hikmah Berbeda-beda Jumlah Raka’at ShalatMengapa shalat shubuh hanya dua raka’at?
Karena pada waktu ini kebanyakan manusia sedang dalam keadaan tidak bersemangat(segar), maka cukuplah dua raka’at.

Mengapa shalat dhuhur dan ‘ashar empat raka’at?
Karena waktu ini kebalikan dari waktu shubuh, semua manusia dalam keadaan fit dan segar bugar.

Mengapa shalat maghrib hanya tiga raka’at?
Karena shalat ini dikerjakan dalam waktu yang tenggang(penghubung antara siang dan malam), dan karena terjadinya di penghujung siang.

Kemudian shalat ‘isya mengapa empat raka’at?
Karena pada waktu ini biasanya semua orang kosong dari kegiatan dan kesibukan.

Coba kita perhatikan tukang kebun, dengan keahliannya ia mengurus tanaman, termasuk menyiram tanaman tersebut. Mulai dari dasar benihnya hingga besar. Ia menyiram benih tanamannya dengan takaran air yang sesuai dan pantas bagi benih tersebut. Apabila air yg ia siram melebihi ataupun kurang dari kebutuhan benih maka ia tidak akan dapat memanennya. dan bila mungkin ia memanennya, hasil yang ia dapatkan tidak akan maksimal seperti yang ia cita-citakan.

Maka demikianlah cara Allah SWT menetapkan bilangan raka’at-raka’at sembahyang. Untuk memberikan bandingan seberapa besar kedekatan manusia kepada Allah SWT. dan seberapa teguh ketetapan iman dalam hati manusia tersebut.

Referensi : Syeikh Ali Ahmad al-Jurjawi,kitab hikmah at-tasyri’ wafalsafatihi,juz.1,hal.85,cet.dar al-fikr.

فالشارع الحكيم فرض ركعتين في الصبح و اربعا في الظهر و مثلها في العصر و ثلاثا في المغرب و اربعا في العشاء و جعل هذا الترتيب بهذا التفاوت ليكون المرء قريبا من الله بحيث يرهقه من امره عسرا بزيادة الركعات على هذا المقدار . ومعلوم ان المرء أدى الصلاة بهذه الصورة لم يجد تبعا في العبادة ولم تفته مصلحته المعاشية.

Isim Yang Tidak Menerima Sharaf ( Isim Ghairu Munsharif )

Isim ghairu munsharif (Isim Tegah Sharaf) adalah isim yang tidak menerima tanwin dan tidak menerima jar dengan kasrah, tetapi dijar dengan fathah. Ta'rif-nya (Pengertiannya) menurut kitab Mutammimah Al-jurumiyyah adalah sebagai berikut:

الاسم الذي لاينصرف مافيه علتان من علل تسع او واحدة تقوم مقام العلتين
• Isem tegah sharaf adalah isem yang ada padanya dua ‘illat dari ‘illat yang sembilan atau satu ‘illat yang bertempat pada tempat dua ‘illat. 'ilat disini adalah alasan atau perkara-perkara yang membuat isim tersebut tidak munsharih (tidak bertanwin dan tidak di Jar dengan baris kasrah).
‘Illat sembilan yaitu:
a. Jama’
b. Wazan fi’il
c. ‘Adal
d. Taknist
e. Ma’rifah
f. Murakkab Majazi
g. Alif dan nun ziyadah
h. ‘Ajamiyah
i. Sifat
‘Illat sembilan dihimpun oleh sebuah perkataan syair:

اجمع وزن عادلا انث بمعرفة ركب وزد عجمة فالوصف قد كملا
Syairnya dalam bahas Aceh : “Gata himpon gata timang supaya senang hate gata, gata meukawen ngon yang jroh budi supaya suci hate gata.”

Pembahasan 'Ilat-'Ilat diatas:

1. Jama’
Jama’ syaratnya harus diatas shigaht muntahal jumu’ yaitu shigat مفاعل
Ex:
مساجد, دراهم, غنائم
Atau shighat مفاعيل
Ex:
مصابيح, محاريب
Jama’ adalah ‘illat yang dapat menegah saraf dengan sendirinya dan ia bertempat pada tempat dua ‘illat; dari sisi keadaannya adalah jama’ itu pada posisi satu ‘illat yang kembali kepada makna. Dari sisi keadaannya diatas shighat yang tiada jenis bandingan baginya pada mufrad itu pada posisi ‘illat yang lain yang kembali kepada lafadh.

2. Wazan fi’il
Maksudnya adakala:
a. Isem itu diatas wazan yang dikhususkan untuk fi’il.
Ex:
شمر, ضرب, انطلق
Apabila dijadikan sebuah nama dari demikian contoh di atas.
b. Awal isim terdapat ziyadah fi’il dan isim itu sama dengan fi’il pada wazannya.
Ex:
احمد, يزيد, تغلب, نرجس

3. ‘Adal
‘Adal adalah keluar isim dari shighatnya yang asliyah adakala secara tahqiq; dengan bahawa ditunjuki oleh dalil tidak tegah saraf atas keluarnya isem dari shighatnya yang asliyah kepada shighat yang lain.
Ex:
احاد, موحد, ثناء, مثنى, ثلاث, مثلث, رباع, مربع
Dan seterusnya hingga sepuluh. Maka itu semua di’adalkan dari lafaadh bilangan asal yang diulang-ulangkan.
Maka asal : جاء القوم احاد adalah جاؤا واحد واحد
Dan asal : جاء القوم مثنى adalah جاؤا اثنين اثنين
dan seperti demikian pada contoh semisalnya.
Dan adakala keluar dari shighat aslinya secara tidak tahqiq; dengan bahwa tidak ditunjuki oleh dalil tidak tegah saraf atas adanya ‘adal pada isem itu akan tetapi waktu didapat udah tegah saraf dan tidak ada padanya kecuali ‘illat ‘alamiyah, maka para ulama mentakdirkan padanya ‘adal karena untuk memelihara kaedah dari lobang (kekosongan).
Contoh isem ‘adal yang secara takdir seperti isem alam yang diatas wazan fi’il.
Ex:
عمر, زفر, زحل
Itu semua waktu didengar dari orang arab udah tegah saraf dan tidak ada padanyan ‘illat yang dhahir kecuali ‘alamiyah maka para ulama mentakdirkan padanya ‘illat ‘adal.
عمر di’adal dari عامر, زفر di’adal dari زافر, زحل di’adal dari زاحل

4. Taknist
Taknist terbagi kepada tiga:

a. Taknist dengan alif
Taknist dengan alif tegah saraf secara muthlaq (tidak ada kecualinya) apakah ia isim nakirah atau ma’rifah mufrad atau jama’ atau isim atau mufrad, apakah alif itu alif maqsurah seperti: حبلى, مرضى dan ذكرى atau ia alif mamdudah seperti: اشياء, زكرياء, حمراء, صحراء.
Taknist dengan alif adalah ‘illat yang dapat menegahkan saraf dengan sendirinya dan bertempat pada tempat dua ‘illat. Dari segi dirinya taknist itu adalah ‘illat lafdhi. Dari segi luzum alif dengan sekira-kira tidak sah membuangnya dengan keadaan apapun itu adalah ‘illat ma’nawi.

b. Taknist dengan taa
Taknist dengan taa tegah saraf beserta ‘alamiyah apakah itu ‘alam (nama) bagi muzakkar seperti: طلحة, atau bagi mu’annast seperti: فاطمة.

c. Taknist maknawi
Taknist maknawi seperti taknist dengan taa; tegah saraf beserta ‘alamiyah akan tetapi dengan syarat:
i. Isim itu lebih diatas tiga huruf.
Ex: سعاد
ii. Isim itu tiga huruf tapi berbaris tengah.
Ex: سقر
iii. Isim itu tiga huruf, tidak berbaris tengah, tapi ajamiyah.
Ex: جوز
iv. Isim itu tiga huruf, tidak berbaris tengah, tapi yang dinaqal dari muzakkar ke muannast, sebagaimana seorang perempuan diberi nama dengan nama زيد.

Apabila tidak ada syarat-syarat yang telah tertera diatas seperti: دعد, هند, maka boleh saraf dan tinggal saraf. Tinggal saraf itu lebih bagus.

5. Ma’rifah
Ma’rifah maksudnya ‘alamiyah (Nama Sesuatu). Ia tegah saraf beserta wazan fi’il seperti: احمد, يزيد beserta ‘adal seperti: عمر, زفر beserta taknist, beserta murakkab majazi, dan beserta alif dan nun ziyadah seperti: عثمان dan beserta ‘ajamiyah seperti: ابراهيم.

6. Murakkab
Murakkab maksudnya murakkab majazi yang disudahi dengan selain ويه.
Ex: بعلبك dan حضر موت. Dan tegah saraf hanya beserta ‘alamiyah.

7. Alif dan nun ziyadah
Alif dan nun ziyadah tegah saraf beserta ‘alamiyah seperti: عمران. عثمان dan beserta sifat seperti: سكران.

8. Ajamiyah
Ajamiyah maksudnya kalimat itu dari wadha’ ‘ajamiyah (diciptakan lafal tersebut oleh orang non-Arab/ diluar bahasa Arab) seperti: ابراهيم, اسمعيل, اسحق. Semua nama nabi itu ‘ajamiyah kecuali empat : محمد, صالح, شعيب, هود. Dan disyaratkan pada ‘ajamiyah isim itu adalah ‘alam pada bahasa ‘ajam (sudah dijadikan sebuah nama), karena itu disarafkan lafadh لجام dan seumpamanya. Dan disyaratkan juga lebih atas tiga huruf, karena itu disarafkan lafadh نوح dan لوط.

9. Sifat
Sifat tegah saraf beserta tiga perkara:
a. ‘Adal sebagaimana yang telah terdahulu pada مثنى dan ثلاث
b. Alif dan nun ziyadah dengan syarat sifat itu diatas wazan فعلان dan muannastnya tidak diatas wazan فعلانة
Ex: سكران muannastnya سكرى , dan seumpama ندمان itu menerima saraf karena muannastnya ندمانة jika ia dari kata-kata المنادمة
c. Wazan fi’il dengan syarat diatas wazan افعل dan muannastnya tidak dengan taa seperti: احمر karena muannastnya حمراء. Dan seumpama أرمل menerima saraf karena muannastnya أرملة. Dan boleh mensaraf isim tegah saraf karena munasabah (menyesuaikan kata) seperti qiraah nafi’ سلاسلا وقواريرا قواريرا dan karena dharurah sya’ir.

Referensi : Kitab Kawakibud Dhurriyah Syarah Mutammimah Al-Jurumiyyah Halaman 37-45.

Wallahu 'Alam Bisshawab.

Menerima Lebih Saat Pembayaran Hutang, Apakah Dikategorikan Kepada Riba?

Menerima Lebih Saat Pembayaran Hutang, Apakah Dikategorikan Kepada Riba
Deskripsi masalah.
Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lainjuga bermakna tumbuh dan membesar. Sedangkan menurut istilah Syari’ adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil.

Pertanyaan.
Bagaimana hukumnya bila seseorang menerima pembayaran hutang yang  dilebihkan dari hutang asal, apakah hal seperti ini termasuk Riba ?

Jawaban
Berikut rincian hukumnya:

  1. Haram, bila bayaran lebih tersebut  dijanjikan dalam akad, seperti memberi pinjaman kepada seseorang dengan syarat dia mau membayar lebih, maka ini termasuk dalam Riba
  2. Boleh, bila tidak ada persyaratan dalam akad, bahkan dari pihak orang yang menerima pinjaman, disunatkan untuk membayar lebih, dan bagi orang yang memberi pinjaman boleh/sah memiliki bayaran lebih tersebut  dengan tanpa lafadh karena itu sama dengan hadiah yang mana boleh dimiliki tanpa akad.


وجاز لمقرض نفع يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء بلا شرط في العقد بل يسن ذلك لمقترض لقوله صلى الله عليه وسلم: "إن خياركم: أحسنكم قضاء" [البخاري رقم: 2305, مسلم رقم: 1601] , ولا يكره للمقرض أخذه كقبول هديته ولو في الربوي.
والأوجه أن المقرض يملك الزائد من غير لفظ لأنه وقع تبعا وأيضا فهو يشبه الهدية وأن المقترض إذا دفع أكثر مما عليه وادعى أنه إنما دفع ذلك ظنا أنه الذي عليه: حلف ورجع فيه.
وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر: "كل قرض جر منفعة فهو ربا" [رواه الحارث ابن أبي أسامة في مسنده عن علي كرم الله وجهه الجامع الصغير رقم: 6336] وجبر ضعفه: مجيء معناه عن جمع من الصحابة.

Referinsi : Fathul Mu’in ‘Ala Qurratul ‘an jld 3, hal 53, cet haramain


Manakah yang lebih Baik antara Penglihatan dan Pendengaran?

Manakah yang lebih Baik antara Penglihatan dan Pendengaran
Lbm.Mudi- Penglihatan dan pendengaran adalah dua panca indra yang sangat penting dan merupakan nikmat yang sangat besar bagi manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya. Dengan penglihatan seseorang bisa melihat nikmat dan karunia yang telah Allah ciptakan, sedangkan dengan pendengaran seseorang bisa berinteraksi dengan mendengar pembicaraan, nasehat, ilmu dan lain sebagainya. Namun jika di bandingkan antara keduanya, manakah yang lebih baik?

Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Fatawa Hadisiyah menjelaskan secara panjang lebar tentang hal tersebut. Jawabannya adalah Khilaf, pendapat yang kuat menurut kebanyakan Fuqaha’, pendengaran lebih baik dari penglihatan karena beberapa alasan, yaitu:
  1. Dalam al-Quran Allah menyertakan penyebutan mendengar dengan akal dalam firmannya Allah swt “dan sebagian dari mereka itu adalah orang-orang yang mendengar perkataanmu dan engkau mendengar perkataan mereka, walaupun mereka itu tidak berakal”. Dan tidak seperti demikian pada penglihatan.
  2. Akal mengambil faedah dari mendengar lebih banyak daripada mengambil faedah dari melihat.
  3. Pada kebiasaan ayat al-Quran, penyebutan mendengar didahulukan daripada penyebutan melihat. Disebut terdahulu merupakan tanda kalau ia lebih baik.
  4. Menurut satu pendapat, buta terjadi pada sebagian nabiyullah walaupun pendapat kuat adalah sebaliknya. Sedangkan tuli sepakat para Ulama tidak ada pada nabiyullah. ijma' ulama menegaskan bahwa tuli Mustahil bagi nabi. berbeda dengan buta yang berbeda pendapat Ulama, karena jika tuli mereka tidak akan bisa mendengar pertanyaan umat yang mana demikian akan menghambat penyampaian syariat yang mereka bawa.
  5. Kekuatan pendengaran bisa memperdapat jihat yang enam (depan, belakang, kiri, kanan, atas dan bawah) saat dalam terang atau gelap, berbeda dengan penglihatan yang hanya bisa memperdapat yang di hadapannya dalam kondisi terang. Sesuatu yang lebih umum manfaatnya di bandingkan yang lebih sedikit manfaatnya tentu lebih baik bukan?
  6. Hakikat insan yang membedakannya dengan lainnya adalah Natiq (secara bahasa maksudnya berbicara), yang mana Natiq tersebut hanya diperdapatkan oleh telinga bukan mata. Fungsi telinga adalah untuk mendengar pembicaraan yang mana merupakan pembeda antara manusia dengan lainnya. Sedangkan Fungsi mata adalah untuk melihat warna dan bentuk yang mana keduanya bukan pembeda manusia dan lainnya karena keduanya bukan hanya ada pada manusia. Jelaslah bahwa sesuatu yang bisa menjadi pembeda lebih baik dari yang tidak bisa jadi pembeda.
  7. Manusia mengenal dan mengetahui kerasulan nabinya adalah dengan mendengar apa yang mereka sampaikan bukan dengan semata-mata melihat fisik mereka. Ya walaupun untuk membuktikan kerasulan salah satunya adalah dengan melihat mukjizat yang ada pada mereka, tapi ini merupakan hal kedua setelah mereka mendengar apa yang rasul as sampaikan.


Dari beberapa alasan di atas jelaslah bahwa mendengar lebih baik dari melihat. Sedangkan menurut satu kaum penglihatan lebih baik dari pendengaran, karena alasan berikut ini:
  1. Alat atau sebab untuk melihat adalah cahaya sedangkan untuk mendegar adalah hawa/udara yang mana cahaya lebih baik dari udara.
  2. Salah satu keajaiban yang ada pada mata adalah mata diciptakan dari 7 lapisan, 3 cairan dan dari beberapa tulang/otot yang beraneka macam jenisnya. Karena diciptakan dari beberapa jenis yang beraneka ragam tentu menujukkan kalau mata adalah lebih baik
  3. Mata bisa melihat bintang di langit yang jaraknya sangat jauh. Sedangakan telinga bahkan tidak bisa mendengar suara lebih dari satu farsakh.
  4. Kalam Allah bisa didengar di dunia dan tidak dilihat oleh seorangpun. Dan akan bisa dilihat di akhirat, hal ini menegaskan betapa istimewanya melihat Kalam karena hanya ada di akhirat.

Kedua pendapat di atas tentunya tidak sunyi dari krtitikan dan peninjauan. Dari alasan-alasan yang dikemukakan oleh kedua belah pihak dapat disimpulkan bahwa alasan atau dalil pendapat yang pertama lebih kuat karena semuanya berhubungan dengan masalah agama berbeda dengan mata pada pihak kedua. Mata dengan sendirinya tidak ada yang berhungan dengan agama kecuali jika bersama pendengaran.

Jika diteliti lebih jauh pada masalah kalam Allah yang tidak bisa dilihat di dunia sebagai dalil mata lebih baik, seharusnya justru menjadi dalil kepada pendengaran lebih baik, karena sesungguhnya karena keistimewaannya, telinga bisa mendengar Kalam Allah di dunia dan tidak bisa dilihat oleh mata. Ini menjadi kelebihan tersendiri bagi telinga karena di dunia saja ia sudah bisa mendengar kalam Allah swt.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalil yang dikemukakan pihak pertama lebih kuat dari pihak kedua, sehingga telinga lebih baik dari mata. Telepas dari khilafiyah tersebut kita harus benar-benar mensyukurinya karena Allah anugrahkan keduanya. Semoga dengan keduanya bisa menuntun dan membimbing kita untuk terus menjaga agama yang Rasulullah amanahkan sampai saat Allah mengambilnya kembali hari kiamat kelak. Wallahua’lam.

Sumber : Fatawa Hadisiyah hal 57.

Daftar Mujaddid Dari Abad ke Abad

Mujaddid Dari, Abad ke Abad/masa
Lbm.Mudi- Mujaddid adalah orang yang menghidupkan atau mengembalikan apa yang hilang dari agama, dan memperjelas yang mana sunnah dan mana yang bidah. Mujaddid ada dalam kurun waktu seratus tahun sekali , sebagaimana yang disebutkan dalam hadis:

ان الله يبعث لهذه أﻷمة من يجدد لها دينها رواه أبو راود والحاكم والبيهقي

"Sesungguhnya allah mengutus untuk umat ini seorang mujaddid" (HR. Abu Dawud, Hakim dan Baihaqi)

Berikut ini nama-nama mereka dari abad pertama sampai ke tiga belas:
  1. Umar bin Abdul Aziz.
  2. Muhammad bin Idris as-Syafi'i.
  3. Abu Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij al-Baghdadi
  4. Abu hamid Ahmad bin Muhammad al-Isfiraini, Syaikh/Guru besar Khurasyiin. Pendapat kedua mengatakan mujaddid abad ke/kurun keempat ini adalah Abu Sahal Muhammad bin Sulaiman as-Sa'aluki.
  5. Abu hamid Muhammad bin al-Ghazali/Imam Ghazali
  6. Abu Qasim Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi'i/Imam Rafi’i
  7. Taqiyuddin Muhammad bin Daqiq al-'id/ Syaikh Daqiqil ‘id.
  8. Siraj Umar bin Ruslan al-bulqaini/Imam Bulqaini
  9. Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Ada yang mengatakan kalau Mujaddid abad ini adalah Syaikh Zakaria al-Anshari.
  10. Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli/Imam Ramli.
  11. Sayid Abdul Qadir bin Abu Bakar al-'Aidarus al-Hadharami. Pendapat kedua mengatakan Mujaddib abad ini adalah Sayid Muhammad bin Rasul al-Barzanji al-Madani
  12. Syihab Ahmad bin Umar ad-Dairabi. Pendapat keduan mengatakan Mujaddid abad ini adalah Abdur Rauf Basyibisyi al-Misri.
  13. Abdullah bin Hijazi as-Syarqawi.

Demikianlah tiga belas orang Mujaddid mulai dari qurun/abad pertama hingga tiga belas baik yang disepakati atau tidak (khilaf) menurut Syaikh Muhammad Isa Yasin Alfadani dalam kitab beliau Fawaid Janiyyah. Mengingat banyaknya para Ulama yang mencukupi Syarat untuk menjadi Mujaddid saat itu, maka banyak sekali perbedaan siapa yang jadi Mujaddid pada amsa itu, Terlepas dari demikian, kita semua mengakui kalau mereka adalah orang yang menghidupkan Sunnah Rasulullah saw dan menumpas Bid’ah, pewaris sekaligus penjaga agama dari fitnah dan kemunafikan golongan-golongan yang mendakwa diri beragama padahal amalan mereka tidak menjelaskan demikian. Wallahua’lam.

Referensi: Fawaidul Janiah hal 73

Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jum'at

Keutamaan Surat Al-Kahfi Hari Jumat merupakan hari yang dimuliakan, sebagai bukti kemuliaan hari Jumat yaitu Allah telah mentakdirkan beberapa kejadian besar dan beberapa amal ibadah khusus di hari tersebut, termasuk pelaksanaan ibadah shalat Jumat dan beberapa amal ibadah lainnya, salah satunya membaca surat Kahfi yang diistimewakan pelaksanaannya pada hari Jumat.
Disunatkan membaca surat kahfi pada malam ataupun siang Jumat.

Beberapa keutamaan membaca surat Kahfi pada malam atau siang pada hari Jumat:
  • Diberikan keampunan dosa hingga jumat yang akan datang
  • 70.000 Malaikat bershalawat kepadanya hingga shubuh
  • Disembuhkan dari penyakit
  • Terpelihara dari fitnah Dajjal, dan lain sebagaianya

Berikut dalil tentang keutamaan hari jumat dari beberapa hadits shahih:

من قراء سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين.
“Barang siapa yang membaca surat kahfi pada hari Jumat niscaya disinari ia dengan cahaya di antara dua hari Jumat”.( HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249).

من قرأ سورة الكهف ليلة الجمعة أضاء له من النور ما بينه وبين البيت العتيق
“Barang siapa yang membaca surat kahfi di malam jumat maka dipancarkan cahaya untuknya di antaranya dan antara baitil ‘atiq”.(Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim).

فقد روي عن ابن عباس وأبي هريرة - رضي الله عنهم - أن من قرأ سورة الكهف ليلة الجمعة، أو يوم الجمعة، أعطي نورا من حيث يقرأها إلى مكة، وغفر له إلى يوم الجمعة الأخرى، وفضل ثلاثة أيام، وصلى عليه سبعون ألف ملك حتى يصبح.
“Maka sungguh Ibn ‘Abbas dan Abi Hurairah r.a. telah meriwayatkan :”bahwasanya barang siapa yang membaca surat kahfi dimalam Jumat, atau hari Jumat, maka akan diberikan cahaya kepadanya sejauh tempat ia membacanya hingga ke makkah, diampunkan dosanya hingga jumat yang akan datang, dilebihkan baginya tiga hari, dan para malaikat bershalawat kepadanya hingga waktu shubuh”.

Hikmah dikhususkan membaca surat Kahfi pada hari Jumat dari sekian banyak surat dalam Al-Qur’an, karena dalam surat tersebut Allah SWT menceritakan tentang hari Kiamat, adapun hari Jumat memiliki kesamaan dengan hari kiamat karena pada hari tersebut seluruh makhluk berkumpul, dan alasan yang paling dekat karena hari Kiamat itu tejadi pada hari Jumat.

Referensi : kitab I’anatuth Thalibin, juz.2, hal.89, cet.Al-Haramain/Toha Putra.
Wallahu 'Alam Bisshawab.

Menyembuhkan Sakit Gigi Dengan Shalat

Menyembuhkan Sakit Gigi Dengan ShalatKali ini kami akan sedikit berbagi tips tentang pengobatan gigi. Imam Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-qalyubi dalam kitab beliau An-nawadhir menjelaskan bahwa seseorang yang melaksakan shalat dua rakaat Setelah Shalat Magrib dan dilaksakan setiap selesai shalat magrib sampai sembuh giginya, jika telah sembuh Insyaallah gigi tersebut tidak akan kambuh lagi.

Metode pelaksanaan:
  1. Shalat dua rakaat setelah magrib
  2. Pada rakaat pertama membaca Surat yasin ayat 77-83,
    berikut ayatnya:

    أَوَلَمْ يَرَ الإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ (77) وَضَرَبَ لَنَا مَثَلاً وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78) قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ (79) الَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ (80) أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُم بَلَى وَهُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيمُ (81) إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (82) فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (
  3. Pada rakaat kedua dibaca Surat al-Zalzalah ayat 1-8:

    إِذَا زُلْزِلَتِ الأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الإِنسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)
Dengan izin Allah jika dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, sungguh-sungguh dan istiqamah maka sakit gigi tersebut akan sembuh dan tidak akan pernah kambuh lagi, Insyaallah. Wallahua'lam.

Referensi:
kitab Nawadir hal. 197
Karangan Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi (W.1069 H)


Cara Berzikir “Laailahaillallah” Yang Paling Sempurna Menurut Imam Sanusi

Cara Yang Paling Sempurna Untuk Berzikir
 لآ إله إلا الله محمد رسول الله
Menurut Imam Sanusi Dalam kitab Ummul Barahin.


Berzikir dengan kalimah لآ إله إلا الله محمد رسول الله adalah sebuah ibadah sunnah yang sangat besar pahalanya. ini dikarenakan kalimat tersebut adalah kalimat syahadah yang nilainya di sisi Allah sangat tinggi dan juga mengandung bermacam-macam rahasia dan kelebihan yang amat banyak, Namun untuk meraih segala keagungan dan kelebihan kalimah tersebut, diperlukan cara khusus dalam berzikir agar hasil dan fadhilahnya sempurna.

Untuk itu kami akan mencoba menjelaskan cara yang paling sempurna untuk berzikir لآ إله إلا الله محمد رسول الله menurut Imam Sanusi dalam kitabnya Ummul Barahin berikut ini.

1. Mengambil wudhu, memakai pakaian suci, mencari tempat suci, khalwah semampunya, mencari waktu-waktu mulia seperti setelah subuh sampai munculnya matahari, setelah ashar sampai tenggelamnya matahari, antara magrib dan isya dan waktu sahur.

2. Mengucapakan :

بتوفيقك أمتنا لا لأمرك مستعينا بك اللهم إني أستغفرك يا مولاى وأتوب اليك من جميع الصغائر والكبائر وهواتف الخواطر

3. Membaca ta’awudz :
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

4. Membaca Ayat Ke 20 dari Surat Al- Muzammil:

۞ وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٖ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرٗا وَأَعۡظَمَ أَجۡرٗاۚ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمُۢ. ٢٠
Artinya : “ Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”.

5. Istighfar 100 kali.

6. Membaca ta’awudz.

7. Membaca dalam hati Ayat :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

8. Menghadirkan (Membayangkan) betapa besarnya kedudukan dan keagungan Nabi Muhammad SAW di sisi Allah taala dalam hati.

9. Mengucapkan :

لبيك مولاى وسعديك والخير كله في يديك وها هو العبد الفقير الحقير راكن لمنيع جنابك متوسل اليك بأفضل أحبابك يقول بتوفيقك ممتثلا لأمرك ومستعينا بك فى جميع أموره.

10. Membaca Sahalawat Kepada Nabi SAW sebanyak 500 kali dengan membayangkan seolah-olah nabi hadir dihadapan kita, contoh shalawatnya :

أللهم صلّ على سيدنا محمد نبيك ورسولك وخليلك صلاة اَرْقَى بها مراقي الإخلاص، وأنال بها غاية الاختصاص ، وسلم تسليماً عدد ما أحاط به علمك وأحصاه كتابك.
11. Membaca Tahmid (Puji-Pujian) Sebanyak 3 atau 7 kali dengan menghayati akan besarnya nikmat Allah yang telah memberikan Taufiq bagi kita untuk memulai dan menyelesaikan bacaan Shalawat dan mensyukurinya, yaitu misalnya dengan membaca :

الحمدلله ألذي انعم علينا بنعمة الإيمان والإسلام وهدانا بسيدنا ومولانا محمد عليه من الله تعالى افضل الصلاة و ازكى السلام. الحمدلله هدانا لهذا وماكنا لنهتدي ان هدانا ألله ، لقد جاءت رسل ربنا بالحق.
12. Membaca Ta'awudz  أعوذ بالله من الشيطان الرجيم )

13. Membaca Firman Allah Surat Muhammad ayat 19 :  فاعلم انه لآ إله إلا الله

14. Mengucapkan Doa :

لبيك مولاي وسعديك، والخير كله في يديك ، وها هو العبد الفقير الحقير يوحدك بالتهليل منخلعا من كل شرك ومن كل تغيير وتبديل بقوله مخلصا من قلبه ذاكرا لربه لآ إله إلا الله محمد رسول الله صلى الله عليه و سلم.

15. Membacakan Dzikir لآ إله إلا الله محمد رسول الله dengan selalu menghayati maknanya sampai habis Jumlahnya (200 / 300 / 400 / 500 kali atau seterusnya seberapa banyak yang sanggup dibaca).

Demikianlah Cara berzikir “Laailahaillallah” yang paling sempurna yang insya Allah bila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan manfaat yang sangat besar juga. Wallahu 'Alam Bisshawab,

Referensi : Kitab Hasyiah Dusuki 'ala Ummul Barahin Cetakan Haramain Halaman 230.

Manakah yang Lebih Baik Antara Bumi dan Langit?

Deskripsi Masalah
Bumi dan langit merupakan dua tempat ciptaan Allah swt, yang mana keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya merupakan tempat tinggal bagi para hamba-hamba Allah yang beriman kepadanya.
 yang Lebih Baik Antara Bumi dan Langit?

Pertanyaan.
Secara umum, Manakah lebih Afhdal (Baik) diantara keduanya?

Jawaban.
Khilaf. Menurut pendapat yang kuat diambil dari kebanyakan Ulama kita bahwa langit lebih Afdhal dari Bumi, karena dil angit tidak terjadi kemaksiatan sebagaimana di bumi. Adapun maksiat Iblis bukan terjadi di langit atau terjadi di langit tetapi Nadhir hukumnya. maksud Nadhir adalah sangat jarang terjadi, dan oleh karena jarang sekali terjadi dianggap/dihukumkan kepada tidak pernah terjadi.

Pendapat yang kedua, juga diambilkan dari kebanyakan Ulama kita, bumi lebih baik dari langit karena di bumi tinggal para Nabiyullah dan kuburan-kuburan mereka berada di bumi. Wallahua'lam.

Sumber: Fatawa Hadisyah, Ibnu Hajar al-Haitami, hal. 131, cet. Darul Fikri, Lebanon.

Siapakah Umat yang Bergelar Islam Sebenarnya?

Siapakah Umat yang Bergelar Islam Sebenarnya
Deskripsi Masalah
Islam merupakan agama yang sempurna dan benar. Jika yang menjadi tolak ukur adalah umat islam saja, maka islam yang ada pada umat nabi Muhammad saw lebih sempurna dibandingkan umat sebelumnya. Dan jika yang menjadi tolak ukur adalah umat manusia seluruhnya, islam adalah agama yang benar sedangkan agama lain adalah salah.

Pertanyaan
Apakah penamaan agama  islam itu cuma kepada umat nabi Muhammad saw saja, karena islam yang sempurna adalah pada umat beliau atau penamaan islam tersebut juga termasuk kepada umat-umat terdahulu?

Jawaban
Terjadi perbedaan pendapat tentang penamaan agama islam. Kita mengakui bahwa umat terdahulu sebagiannya adalah beriman kepada Allah swt melalui agama benar yang dibawa oleh nabi pada masa itu. Namun, apakah keimanan mereka kepada Allah swt dengan agama yang benar itu disebut agama islam? Menurut Ibnu Silah dan beliau juga mentarjihnya, agama umat terdahulu juga disebut  agama islam sama seperti penyebutan agama islam kepada umat nabi Muuhammad saw. 

Sedangkan menurut kebanyakan Ulama seperti Imam Sayuti misalnya, berpendapat bahwa penamaan islam hanya dikhususkan kepada umat nabi Muhammad saw, dan nabi-nabi terdahulu (tidak termasuk umatnya, hanya nabinya saja), alasannya karena untuk memuliakan umat nabi muhammad karena gelar islam yang ada pada umat ini sama seperti nabi terdahulu. 

Tidak termasuk kedalamnya umat terdahulu dan ini merupakan pendapat kuat. Alasannya, penamaan atau definisi  islam adalah nama bagi syariat yang mencakupi kepada Fadhilah-fadhilah (kelebihan) Ibadah yang hanya ada pada umat ini, seperti bekumpulnya shalat lima waktu (umat terdahulu  hanya melaksanakan shalat satu waktu), puasa Ramadhan, mandi Junub, Jihad dan lainnya, sebagaiman yang dipahami dari beberapa hadis masyhur. Wallahua'lam.

Sumber: Fatawa Hadisyah, Ibnu Hajar al-Haitami, hal. 127-128, cet. Darul Fikri, Lebanon.

Saat Turun Ke Bumi Hari Kiamat Kelak, Syariat Apakah yang akan Dibawa Nabi Isa as?

Syariat Apakah yang Dibawa Nabi Isa as Hari Kiamat Kelak Saat Turun Ke Bumi
Deskripsi masalah
Nabi Isa as adalah salah seorang selain nabi Idris as, Khidir as dan Ilyas as yang masih hidup sampai sekarang. Perbedaannya, jika nabi Isa as dan nabi Idris as hidup di langit, maka nabi Idris dan nabi Ilyas Hidup di bumi. Pada saat dunia hampir kiamat nabi Isa akan turun ke bumi untuk membunuh Dajjal.

Pertanyaan
Saat turun ke bumi untuk membunuh Dajjal, apakah nabi Isa as akan menghukum dengan syariat nabi kita Muahmmad mengingat syariat nabi kekal hingga hari kimat atau syariat lainnya mengingat beliau adalah seorang nabi?

Jawaban
Telah sepakat ulama (Ijmak) bahwa saat nabi Isa as turun ke bumi beliau akan menghukum dan berfatwa dengan syariat nabi saw. Dalam satu riwayat dari Ibnu Asakir disebutkan bahwa nabi Isa as akan melaksanakan seluruh shalat lima waktu dan mendirikan shalat jumat, yang mana keduanya tidak ditemui pada selain umat ini (Syariat nabi saw)

Pertanyaan
Jika nabi Isa as akan beramal dengan syariat nabi Muhammad saw, apakah beliau akan Taklid kepada salah satu Imam mazhab yang empat atau berijtihad sendiri?

Jawaban
Nabi Isa as tidak akan Taklid kepada salah satu Imam Mazhab, karena dibandingkan dengan para Mujtahid beliau lebih Afdhal dengan Ijtihad karena status beliau sebagai nabi. Cara nabi Isa as belajar syariat kita adalah dengan berijtihad langsung dari Alquran karena tidak kurang suatu apapun darinya untuk berijtihad dari Alquran. Berbeda dengan kita yang membutuhkan disiplin Ilmu lain untuk bisa Berijtihad dari Alquran. Status beliau sama seperti nabi kita Muhammad saw yang sanggup dan langsung memahami seluruh  hukum dari Alquran. 

Imam Syafi'i pernah berkata:'' Setiap hukum yang diputuskan oleh nabi, maka semuanya adalah hasil yang beliau pahami dari Alquran". Maka sebagiamana nabi kita, begitu juga nabi Isa as yang langsung bisa memahami hukum dari Alquran atau bahkan merawi hadis dari nabi Muhammad saw, karena beliau pernah beberapa kali berjumpa dengan nabi Muhammad saw saat beliau (nabi saw) masih hidup. Karena pernah berjum dengan nabi saw, maka status nabi Isa as adalah salah seorang dari sahabat Rasululluah saw. Jadi selain dari Alquran, beliau juga berpedoman pada hadis nabi saw untuk memutuskan hukum, boleh jadi beliau akan belajar langsung kepada rasulullah saw .Wallahua'lam.

Sumber: Fatawa Hadisyah, Ibnu Hajar al-Haitami, hal. 128-129, cet. Darul Fikri, Lebanon.

Ketentuan Dibolehkan Berdehem Dalam Shalat

Sebelumnya bahwa salah satu hal yang membatalkan shalat adalah mengucapkan kata-kata yang mengandung makna atau mengucapkan dua huruf meskipun tidak ada maknanya. (Baca:Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat)  Termasuk dalam hal ini yaitu berdehem, meniup, menangis dan tertawa. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat membolehkan berdehem. Salah satunya yaitu :
  • Bila sudah terdesak atau tidak sanggup ditahan maka dibolehkan berdehem meskipun menimbulkan huruf yang banyak. Begitu pula dengan batuk dan bersin juga dibolehkan bila sudah tidak sanggup ditahan.
  • Bila sudah menjadi tabiat (penyakit) bagi pribadi seseorang.
  • Bila bertujuan untuk mengeluarkan dahak yang dikhawatirkan dapat membatalkan shalat atau puasanya, seperti dahaknya sudah berada pada batasan dhahir (Makhraj ح ).
  • Bila bertujuan untuk melancarkan bacaan-bacaan wajib yang tertahan karena gangguan tengorokan. Seperti bacaan al-Fatihah dan Tasyahhud akhir. Adapun untuk bacaan-bacaan sunat seperti tasbih, bacaan tasyahud awal dan lain-lainnya tetap tidak dibolehkan berdehem. Begitu pula bila bertujuan untuk mengeraskan suara juga tidak dibolehkan berdehem karena semua itu ialah perkara-perkara sunat. Wallahua'lam.


Referensi :

Hasyiah Qalyuby Wa ‘Amirah, Cet. Haramain, Juz I Hal 214
(و) يعذر (في التنحنح ونحوه) مما تقدم وغيره كالسعال والعطاس وإن ظهر به حرمان (للغلبة) هي راجعة للجميع (وتعذر القراءة) للفاتحة هو راجع إلى التنحنح فقط كما اقتصر عليه في الروضة كأصلها (لا الجهر) بالقراءة (في الأصح) لأنه سنة لا ضرورة إلى التنحنح له، والثاني يعذر في التنحنح إقامة لشعاره، وسكتوا عن ظهور أكثر من حرفين

قوله: (للغلبة) أي وكان قليلا عرفا في الجميع، ولا نظر لحروفه، وإن كثرت لأن المراد من الغلبة عدم قدرته على دفعه. نعم إن صار طبيعة له بحيث لا يخلو منه زمنا يسع الصلاة عذر فيه مطلقا،... الخ
قوله: (للفاتحة) وكذا كل قول واجب كالتشهد الأخير. قوله: (راجع إلى التنحنح) أي لأن غيره مما ذكر معه، لا تتوقف القراءة عليه، ولا يتقيد العذر في هذا بقلة، ولا بكثرة بل بقدر الحاجة، وإن كثرت حروفه، ويعذر في التنحنح أيضا لإخراج نخامة خيف منها، بطلان صومه أو صلاته كأن حصلت في حد الظاهر. قوله: (لا الجهر بالقراءة) ولو للفاتحة، وكذا غير القراءة كتكبيرة الإحرام والتبليغ، وإن توقفت صحة صلاة غيره عليه، لأنه لا يلزمه تصحيح صلاة غيره، نعم إن توقفت صحة صلاة نفسه عليه، كجهر مبلغ توقف عليه سماع الأربعين في الركعة الأولى من الجمعة عذر فيه


Hasyiah I’anah al-Thalibin Cet. Haramain, Juz I Hal 219.
وبحث الزركشي جواز التنحنح للصائم لاخراج نخامة تبطل صومه. قال شيخنا: ويتجه جوازه للمفطر أيضا لاخراج نخامة تبطل صلاته بأن نزلت لحد الظاهر ولم يمكنه إخراجها إلا به.

وقوله: لحد الظاهر هو مخرج الحاء المهملة. وقيل: الخاء المعجمة.


Berapa Lama Seorang Perempuan Sabar Untuk Tidak Bersetubuh?

Lbm.Mudi- Dewasa ini, sering kita dengar di media cetak maupun elektronik kasus kasus dalam rumah tangga, bahkan sebagian diantaranya ada yang berakhir di meja hijau pengadilan agama, hal ini tidak lepas dari peran masing masing suami istri dalam membina rumah tangga, di satu sisi terkadang sang istri melupakan kewajibannya dan di sisi yang lain ia selalu menuntut haknya kepada suami. Demikian juga suami, tidak jarang ia melupakan kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga dan terus meminta haknya kepada sang istri. Padahal semuanya telah diatur oleh agama, suami wajib memberikan nafkah kepada istrinya, dan sebagai imbalannya, istri harus taat dan patuh kepada suaminya.
sabar wanita dalam keinginan bersetubuh

Dalam hal ini, nafakah yang dimaksud adalah kebutuhan sandang, pangandan lainnya, suami wajib memberikan pakaian, makanan dan tempat tinggal kepada istrinya, dan suami tidak wajib memenuhi kebutuhan biologis sang istri, tetapi suami wajib memelihara istrinya dari melakukan maksiat, termasuk mencegahnya dari perbuatan zina, sehingga secara tidak langsung, urusan ranjang merupakan hal yang harus diperhatikan oleh suami.

Namun sebatas mana kesabaran wanita dal hal ini, apakah boleh bagi suami untuk tidak menggaulinya selama satu atau dua bulan ? apakah boleh bagi suami untuk meninggalkannya selama setahun ? dalam hal ini, agama memberikan batasan sejauh mana dibolehkan bagi suami untuk tidak menggauli istrinya, dalam kitab al mahalli dijelaskan tidak dibenarkan bagi suami untuk tidak menggauli istrinya dalam jangka waktu lebih dari empat bulan, karena empat bulan merupakan batas kesabaran wanita dalam hal urusan biologisnya, hal ini berdasarkan sebuah atsar sahabat nabi saw, yaitu kisah sayyidina Umar ra, pada suatu malam Sayyidina Umar berjalan di alun alun kota madinah, kemudian ia mendengarkan seorang wanita yang melanturkan syair berikut:

لقد طال هذا الليل وازور جانبه وأرقني أن لا خليل ألاعبه
فوالله لولا الله تخشى عواقبه لحرك من هذا السرير جوانبه
مخافة ربي والحياء يصدني مخافة بعلي أن تنال مراتبه

Sesungguhnya malam benar benar terasa panjang dan sebagiannya telah berlalu
Kesepian tiada kekasih yang bisa ku ajak bercanda ria telah membangunkanku
Demi Allah ! jikalau bukan karena takut akan azabnya
Sungguh tepian ranjang ini akan bergetar hebat
Namun rasa malu dan takut kepada tuhanku mencegah diriku
Dan aku khawatir akan menggangu suamiku untuk meraih derajat yang tinggi

Kemuadian Sayyidina Umar menghampirinya seraya berkata: “kemanakah pergi suamimu ?” ia menjawab: “ia telah lama pergi berperang dijalan Allah. Kemudian Sayyidina Umar pulang kerumah dan bertanya kepada putrinya hafsah: “berapa lamakah seorang wanita dapat menahan diri dari berhubungan intim ?” hafsah menjawab: “empat bulan, lebih dari itu ia kesabarannya akan habis atau tinggal sedikit”. Setelah kejadian ini, Sayyidina Umar membuat kebijakan bahwa waktu peperangan tidak boleh lebih dari empat bulan, hal ini agar para wanita tidak tersiksa dengan kesepian mereka dari sentuhan suami yang mereka cintai.

Empat bulan merupakan batasan terakhir atau batasan panjang jika ukurannya adalah bulan, sedangkan untuk mingguan adalah empat hari. Sehingga salah satu hikmah kenapa laki-laki hanya dibolehkan poligami sampai empat adalah karena batasan rasa sabar dari ngin bersetubuh pada perempuan adalah empat hari sehingga jika seseorang punya empat istri maka ia akan bisa memenuhi kebutuhan biologis keempat istrinya setiap minggu tanpa membuat mereka menunggu lebih dari empat hari dan kecewa. Wallahua'lam.

Referensi: mahalli juz 4 hal 11 cet dar fikri bairut, lebanon

Nisab Zakat Emas

Deskripsi Masalah : 

Emas adalah salah satu logam mulia yang wajib dizakati saat telah mencapai nisab, nisab yang dimaksud adalah nisab dari emas murni, namun perbedaan karat berefek kepada kandungan emas murni yang kita miliki.

Pertanyaan :

Bagaimana cara kita ketahui bahwa emas murni yang kita miliki telah mencapai nisab ?

Jawaban :

Poin yang perlu diketahui :

1. Nisab zakat emas adalah 20 Mitsqal ( emas murni) sebagaimana tertulis dalam kitab Ianatutthalibin Juz 2 Hal 150 Cet Haramain.

2. 20 Mitsqal adalah 96 gram, sebab 1 Mitsqal adalah 4,8 gram, maka 4,8x20 = 96.

3. Jadi emas wajib zakat saat telah mencapai 96 gram ( emas murni). 

4. Karat adalah sistem pengukuran tingkat kemurnian emas.

5. Emas murni adalah 24 karat.

6. Jadi bila emas dibawah kadar 24 karat seperti 22 karat dan seterusnya maka cara mengetahui kandungan emas murni adalah ( Rumus : Kadar karat dibagi dengan karat murni lalu dikali dengan jumlah gram ).

Contoh : Kita memiliki emas kadar 22 karat dengan jumhlah 96 gram, cara mengetahui kandungan emas murni adalah 22:24x96 = 88 gram.

Contoh : Kita memiliki emas kadar 20 karat dengan jumlah 96 gram, cara mengetahui kandungan emas murni adalah 20:24x96 = 80 gram.

Maka jika kita sudah memiliki emas 20 Mitsqal / 96 gram, maka baru wajib zakat bila emas kita itu emas 24 karat, jika emas kita itu 22 karat atau dibawahnya lagi maka belum wajib zakat sebab sebenarnya belum sampai nisab ( 96 gram ).

Menurut SNI (Standart Nasional Indonesia) - No : SNI 13-3487-2005 standard karat : 

Karat Kadar emas

24 K = 99,00 - 99,99%
23 K = 94,80 - 98,89%
22 K = 90,60 - 94,79%
21 K = 86,50 - 90,59%
20 K = 82,30 - 86,49%
19 K = 78,20 - 82,29%
18 K = 75,40 - 78,19%


Doa Saat Mengusap Wajah Selesai Shalat

Deskripsi Masalah :

Mengusap wajah sesudah shalat adalah sunnah Rasulullah SAW, Rasulullah SAW menjadi panutan bagi kita dalam segala hal kebaikan, patut kita amalkan segala sunnah beliau dalam kehidupan kita, seperti halnya beliau membaca doa saat mengusap wajah sehabis shalat.

Pertanyaan : 

Apa doa yang dibacakan Nabi SAW saat mengusap wajah selesai shalat ?

Jawaban :

Doa tersebut adalah

 َأشهد أن لا إله إلا هو الرحمنُ الرحيمُ أَللّهم أَذْهِبْ عَنِّىَ الْهَمَّ وَالْحَزْن

Referensi :

Ianatutthalibin Juz 1 Hal 184 Cet Haramain.

فائدة قال النووي في الأذكار.

وروينا في كتاب ابن السني عن أنس رضي الله عنه: كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - إذا قضى صلاته مسح وجهه بيده اليمنى.
ثم قال: أشهد أن لا إله إلا هو الرحمن الرحيم.
اللهم أذهب عني الهم والحزن.
اه.
وفي رواية: بسم الله الذي لا إله إلا هو الرحمن الرحيم، اللهم أذهب ... إلخ.


6 Karakter Perempuan yang Tidak Baik Dijadikan Sebagai Istri

Karakter Perempuan yang Tidak Baik Dijadikan Sebagai Istri


Deskripsi Masalah:

Menikah merupakan jalan keluar dua insan untuk merealisasikan rasa cinta yang bergejolakl dalam hatinya, mencari kebahagiaan dan untuk melestarikan keturunan. Setiap orang pastinya menginginkan pasangan hidup yang baik dan ideal, prilakunya, agamis, dan menyenangkan  pastinya.

Imam Al-Ghazali  dalam karangan fenomenalnya kitab Ihya Ulumuddin memberikan beberapa tips agar kita tidak salah dalam memilih perempuan, karena pilihan yang baik tentu akan membawa hasil yang baik pula. Berikut ini beberapa kriteria sosok perempuan yang tidak pantas dijadikan sebagai istri.

1. Al-Ananah

أما الأنانة فهي التي تكثر الأنين والتشكي وتعصب رأسها كل ساعة

Al-Ananah (suka mengeluh) adalah perempuan yang banyak mengeluh dan mengadu, selalu membalut kepalanya sebagai tanda sakit. Ini dilakukan untuk memberitahu kepada orang-orang bahwa dia merasa terbebani dengan tugasan hariannya  karena malas atau memang sifat bawaan yang dimilikinya. Perempuan seperti ini bawaannya  suka mengeluh walaupun disebabkan perkara kecil. Perempuan tersebut berpura-pura sakit supaya suaminya tidak membebaninya dengan tugas harian. Menikahi perempuan yang sengaja buat-buat sakit tidak ada faedah sama sekali.

2. Al-Mananah

والمنانة التي تمن على زوجها فتقول فعلت لأجلك كذا وكذا

Al-Mananah yaitu perempuan yang memberikan sesuatu kepada suaminya  tetapi suka mengungkit-ungkit pemberian tersebut. Seringkali saat berbicara dia selalu mengungkitnya, lebih-lebih lagi saat terjadi suatu masalah, dia selalu merasa bahwa pemberian suaminya tidak sebanding dengan apa yang telah diberikannya.

3. Al-Hananah

والحنانة التي تحن إلى زوج آخر أو ولدها من زوج آخر وهذا أيضا مما يجب اجتنابه

Al-Hananah adalah perempuan yang suka merindui, mengungkit-ungkit dan mengingati bekas suami atau anaknya dari suaminya dulu. (Perempuan seperti ini tidak akan menghargai suaminya walaupun suaminya berusaha memuaskan segala kemauannya)

4. Al-Haddaqah

والحداقة التي ترمي إلى كل شيء بحدقتها فتشتهيه وتكلف الزوج شراءه

Al-Haddaqah yaitu perempuan yang menginginkan apa saja yang dilihatnya saat berbelanja (boros) sehingga membebankan dan memberatkan suaminya dalam ekonomi.

5. Al-Baraqah

والبراقة تحتمل معنيين أحدهما أن تكون طول النهار في تصقيل وجهها وتزيينه ليكون لوجهها بريق محصل بالصنع والثاني أن تغضب على الطعام فلا تأكل إلا وحدها

Al-Baraqah mempunyai dua makna. Pertama, suka berhias sepanjang waktu (melampau atau melebihi  batas wajar) supaya wajahnya nampak lebih anggun dan mempersona. Kedua, perempuan yang tidak mau makan dalam keramaian, dan dia tidak akan makan kecuali jika sendirian, dia juga akan menyimpan bagian tertentu untuk dirinya sendiri.

6. Al-Syaddaqah

والشداقة المتشدقة الكثيرة الكلام ومنه قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تعالى يبغض الثرثارين المتشدقين

Al-Syaddaqah adalah perempuan yang banyak berbicara, melebihi kadar keperluan lebih-lebih berbicara hal yang tidak penting. Suka mengupat siapa saja bahkan suaminya sendiri. Sebagaimana sabda Nabi saw, bahawa Allah murka kepada wanita yang banyak bicara hal yang tidak penting. Wallahua'lam.

Referensi: Ihya Ulumiddin juz 2 hal 61 cet I maktabah mesir tahun 2013

Adab-Adab Dalam Menuntut Ilmu

adab bagi penuntut ilmu supaya berhasil
Lbm.Mudi- Adab bagi seorang penuntut ilmu adalah suatu keharusan, karena demikian merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan ilmu. Ilmu berada di tempat yang paling atas dan tinggi dan beradap adalah tangga untuk menaiki ke temapat yang berada di atas tersebut. Berikut ini kami mengutip dalam kitab Tazkirah Sami', beberapa adab dalam menuntut ilmu:

  1. Selalu merasa dalam pengawasan Allah baik saat ataupun dalam khalayak ramai.
  2. Menjaga kemuliaan ilmu sebagaimana tradisi Salafus Shalih terdahulu.
  3. Berusaha Zuhud dan Qana’ah memelihara diri dari kehinaan dunia menurut kadar kesanggupan.
  4. Membersihkan ilmu yang telah dimilikinya dari sifat Riya, Ujub, mencapai kemuliaan duniawi, supaya dijadikan panutan, karena harta, pujian, terkenal, supaya dilayani oleh manusia dan ingin lebih unggul dari penuntut ilmu lainnya.
  5. Menjauhi sifat malas yang hina, yaitu  tabi’at  yang dibenci oleh syaria ataupun kebiasaan manusia (adat)
  6. Menjaga syiar-syiar agama Islam dan hukum-hukum yang zahir seperti melakukan shalat berjamaah, memberi salam baik bagi orang biasa maupun orang yang di atas biasa serta menjaga Amar-Ma’ruf  nahi-mungkar.
  7. Menjaga segala perbuatan-perbutan sunat dalam syariat baik Qauliyah maupun Fi’liyah seperti membaca al-Quran, zikir , melakukan wirid-wirid dan shalat –shalat sunat.
  8. Bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik seperti manis wajah, rajin bersedekah, mencintai jiran dan lain-lain.
  9. Membersihkan sikab jelek yang lahir ataupun batin seperti sifat Ghulwu, Hasud, marah bukan karena Allah, Takabur ,Bakhil, dan lain-lain.
  10. Bersungguh-sungguh dan istiqamah dalam melakukan rutinitas seperti berfikir, menghafal, menulis dan membahas pelajaran.
Demikianlah beberapa adab dalam menuntut ilmu, semoga kita menjadi penuntut ilmu baik yang selalu mengamalkan sunnah Rasulullah saw. Wallahua'lam.


Referensi :Kitab Tazkiru Sami’ Hal.48-59
Karya : Imam Qadhi Badruddin Muhammad bin Ibrahim (639-733 H)


Kitab Tasawuf yang Tidak Boleh Dipelajari dan Ditelaah

Lbm.Mudi- Kitab-kitab tasawuf dibagi kedalam tiga kategori. Pertama, tingkatan ibtida’ (permulan). Kedua, tingkatan ausat (pertengahan), ketiga, tingkatan intiha’(penghabisan). Tingkatan ketiga inilah yang akan kita bahas kali ini berkaitan dengan kitab-kitabnya, yakni beberapa kitab ilmu tasawwuf yang memberikan manfaat dan hanya bisa dipahami oleh kalangan tingkat tinggi  (muntahi). Karena mereka adalah orang-orang yang telah sampai pengetahuannya pada ilmu hakikat dan telah dibuka hatinya ilmu laduni dan telah mengenal Allah secara ‘ainul yakin dan haqqul yakin.

Kitab Tasawuf yang Tidak Boleh Dipelajari

Berbeda orang-orang yang masih ditingkat pertama (ibtida’) dan kedua (mutawasith), mereka tidak akan sanggup untuk memahaminya bahkan cenderung akan salah dan bahkan membawaki kepada kesesatan yang nyata. Nauzubilillah. Jadi meninggalkan membaca kitab ini atau menelaahnya sebagai bagian penelitiaan adalah satu keharusan dan tidak bisa dikompromikan demi menjaga akidah tetap dalam surga ahlusunnah wal jamaah.

Berikut ini nama-nama kitab tasawuf tingkatan ketiga :

  1.  Fushul Hukmi, karangan Syaikh Mahyiddin ibnul Arabi
  2. Insan Kamil fi Ulumil Awakhir wal Awail, karangan Syaikh Abdul Karim Al-jaili
  3.  Sirrul Mashun bih ‘ala Ghairi Ahlih karangan Imam al-Ghazali
  4. Masykatul al-anwar
  5. al-Maqsadul Aqsaa fi Asmaillahilhusnaa
  6. Tuhfatul Mursalah ila Nabi Saw karangan syaikh Muhammad bin Fadhlillah al-Hindi
  7. Idhahul Maqsud Min Makna Wahdatil Wujud karangan Syaikh Abdul Ghani Nabalusi
  8. Lawaqih Anwaril Qudsiyah Mukhtasar Futuhatul Makkiyah Ibnu Araby karangan Abdul Wahab as-Sya'rani
  9. Kasyfu al-Hijab Wal Asraar
  10. Nufhat karangan Kaunawi muridnya Mahyiddin Ibnu ‘Arabi
  11. Maraatul Haqaiq
  12. Al-maslikul Mukhtar fi Makrifah Sadir Awwal wa Ihdas ‘Alam bil-Ihtiyar karangan Syaikh Ibrahim Kurdi.
  13. Jauhar Haqaaiq karangan Syaikh Syamsuddin bin Abdillah as-Samtarani
  14. Tanbihut Tullab fi Makrifatil Malikil Wahhab
  15. Takyid Bayan Hasyiah Idhahul Bayan fi Tahqiqi Masailil A'yan karangan Abdur Rauf bin Ali Al-Jawi al-Fanshuri (ulama Aceh Darussalam)


Referensi: Siyarus Salikin karangan Abdussamad al-Falimbani, hal. 82-183

Masalah Khitbah / Pinangan

Deskripsi Masalah :

Pinangan adalah satu hal yang dianjurkan dalam islam sebelum dilakukan aqad nikah, seorang perempuan bisa dikatakan sangat bahagia saat dirinya dipinang oleh seorang laki-laki yang akan menjadi calon suaminya, begitu juga seorang laki-laki yang sangat ingin meminang seorang perempuan yang ingin dijadikannya sebagai calon isterinya.

Pertanyaan :

Bagaiamanakah rincian hukum tentang khitbah ?

Jawaban :

1. Halal meminang perempuan yang belum menikah dan tidak sedang dalam iddah baik secara Tasrih / Ta'ridh.

2. Haram meminang perempuan yang telah menikah baik secara Tasrih / Ta'ridh.

3. Haram meminang secara Tasrih perempuan yang sedang iddah ( raj'i,ba in, dan iddah wafat ).

4. Haram meminang secara Ta'ridh perempuan yang sedang iddah raj'i.

5. Halal meminang secara Ta'ridh perempuan yang sedang iddah wafat.

6. Halal meminang secara Ta'ridh perempuan yang sedang iddah ba in.

7. Haram meminang perempuan yang telah menerima pinangan orang lain kecuali diberi izin oleh lelaki yang telah meminangnya.

8. Tidak haram meminang pinangan orang lain yang belum diterima pinangannya dan tidak juga ditolak.

9. Boleh meminang perempuan yang tidak kita ketahui apakah telah dipinang / belum.

10. Boleh meminang perempuan yang tidak kita ketahui apakah telah dia terima pinangan orang lain sebelumnya / dia tolak.

Referensi : 

Kitab Kanzu Al-Raghibin syarh Minhaj Imam Nawawi Jilid 3 Hal 213-214 Cet Dar Ihya.


Nasehat Syeikh Sa’id Fudah Bagi Para Pelajar Pemula.

Syeikh Sa'id Fudah
Belajar ilmu agama merupakan satu pekerjaan yang paling utama. Namun banyak pelajar yang tidak berhasil memperoleh hasil yang memuaskan. selain dari semakin kurangnya himmah para pelajar, kegagalan ini juga disebabkan oleh salahnya metode dalam belajar. Karena itu, sangat diperlukan petunjuk tentang metode belajar yang tepat, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar memuaskan. Dalam kitab-kitab khusus adab-adab belajar seperti kitab ta'lim muta'allim dan tazkirah sami' telah diuraikan berbagai kiat-kiat untuk sukses dalam belajar. Namun, kadang masih sedikit nasehat tentang pemilihan kitab bagi para pelajar, antara matan, syarah dan hasyiah. Tak jarang kita lihat para pelajar pemula berusaha menekuni hasyiah, sedangkan matan asalnya belum ia kuasai. Syeikh Sa'id Fudah yang dikenal sebagai salah satu ulama yang sangat gigih memperjuangkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, memberikan sedikit nasehat bagi para pelajar pemula. Selain dalam beberapa kitab karangan beliau, nasehat tersebut juga beliau tuliskan dalam fb beliau. Berikut isi nasehat tersebut;
نصيحة للمبتدئين فى طلب العلوم الشرعية
أوصي القارئ للمتون الشرعية أن يقتصر على المتن، وأن لا يلجأ إلى ما في الحواشي إلا عند الحاجة، لا سيما عند قراءة الكتاب لأول مرة، فإنه بهذا يحافظ على ذهنه من الشرود والتقطع بين المتن والحاشية. ثم لا مانع أن ينظر في الحاشية عند استشكال أمر أو مسألة، أو بعد إكمال الكتاب وفهم ما فيه.
واعلم أن القراءة الثانية والثالثة للكتاب في غاية الإفادة كما نبه عليه سادتنا العلماء، فقد كانوا يقرؤون الكتاب مرات عديدة قبل أن ينتقل إلى غيره من الكتب، وقد ذكر عن السيد الشريف الجرجاني أنه قرأ شرح المطالع في علم المنطق أكثر من أربعة عشر مرة قبل أن يذهب إلى مصنفه وهو العلامة القطب الرازي لقراءته عليه، وأخبار الفقهاء وأحوالهم في قراءة الكتب أشهر من أن نذكرها، فبعضهم كان يسمى بالمنهاجي لملازمته قراءة المنهاج للإمام النووي في الفقه، ومنهم من قرأ كتاب الرسالة للإمام الشافعي أكثر من ثلاثين مرة، وفي كل مرة يدرك منه ما لم يدركه سابقا.
وهكذا فتكرار القراءة هي أهم خطوة يفتقر إليها أفراد هذا الجيل. فمن وفقه الله تعالى فتوجه لطلب العلوم، فإنه غالبا لا يعرف طريقة الطلب، فتراه يشرع في قراءة كتاب ثم وقبل أن يحقق مطالبه ويفهم مسائله ينتقل إلى كتاب آخر، وهكذا، وتكون النتيجة هي عدم إحاطة وتمكن هذا القارئ بشيء من الكتب، عدا عن ما يتسبب فيه هذا الأسلوب من إضاعة الوقت والجهد، وتشتيت التركيز.
ولهذا كان السادة العلماء ينصحون بالتزام كتاب واحد في بداية الطلب، ثم بعد تحقيق مسائله فلهم أن ينتقلوا إلى كتاب آخر، بل هذا الانتقال، أي قراءة أكثر من كتاب في نفس العلم، يكون من ألزم الواجبات في حق من يريد التحقيق في العلوم، والوصول إلى الغاية فيها. وما التوفيق إلا من عند الله تعالى.


Artinya;

“Aku wasiatkan kepada para pembaca matan kitab syar'iyah (penuntut ilmu agama pemula) supaya membatasi perhatian hanya kepada matan, dan tidak menelaah pada hasyiah terlebih dahulu ; kecuali ketika berhajat, terutama pada pembacaan buat kali pertama.Kerana, hal ini mampu menjaga pikirannya dari kekeliruan dan terputus-putus, antara matan dan hasyiah. Namun, tiada halangan baginya untuk merujuk kepada hasyiah apabila ada satu kemusykilan pada suatu perkara atau masalah, atau setelah dia telah menghabiskan kitab dan memahami apa yang ada di dalamnya.

Ketahuilah bahwa bacaan kali kedua dan ketiga bagi sebuah kitab mempunyai faedah yang banyak, sebagaimana telah ditegaskan oleh para pemuka ulama’.

Sesungguhnya mereka membaca sebuah kitab beberapa kali sebelum berpindah kepada kitab-kitab yang lain. Telah diceritakan tentang As-Sayyid Asy-Syariff Jurjaniy, bahwa beliau telah membaca Syarh Mathali’ dalam ilmu mantiq, lebih dari 14 kali sebelum beliau pergi belajar kepada pengarang kitab itu sendiri, yaitu Al-Allamah al-Quthub Ar-Razi rahimahullah untuk belajar dengannya.

Cerita tentang para ulama’ dan keadaan mereka dalam pembacaan kitab lebih masyhur untuk kita sebutkan, sehingga diantara mereka ada yang digelar ‘Al-Minhaji’ karena mereka selalu menelaah kitab Al-Minhaj karangan Al-Imam An-Nawawi dalam ilmu Fiqh. Diantara mereka ada yang membaca kitab Ar-Risalah karangan Al-Imam Asy-Syafie lebih dari 30 kali, setiap kali pembacaan mereka pasti mendapatkan sesuatu yang baru, yang tidak pernah mereka dapatkan pada pembacaan sebelumnya.

Maka karena itu, mengulang membaca sebuah kitab merupakan langkah yang paling penting yang diperlukan bagi setiap seorang (penuntut ilmu) generasi ini. Siapa yang diberikan taufiq oleh Allah s.w.t dan kemudian dia pergi menuntut ilmu, umumnya mereka tidak mengetahui metode (yang benar) dalam menuntut ilmu. Maka kamu lihat ia mempelajari sebuah kitab, tapi sebelum mereka merealisasikan tuntutan-tuntutan serta memahami permasalahan yang ada padanya, mereka berpindah kepada kitab yang lain.Maka natijahnya adalah tiadanya penguasaan dan kemantapan para pembaca (penuntut ilmu) ini terhadap sesuatupun dari kitab yang dibacanya, kecuali apa yang dihasilkan dengan cara ini berupa hanyalah membuang-buang waktu dan tenaga, serta memecah belah tumpuan.

Karena itu, para ulama’ telah memberi nasihat supaya melazimi dengan sebuah kitab pada permulaan dalam jalan menuntut ilmu, kemudian kemudian setelah mendalaminya, maka boleh saja mereka berpindah kepada kitab yang lain, bahkan perpindahan ini, yaitu pembacaan lebih dari satu kitab dalam displin ilmu yang sama, merupakan satu kewajipan yang paling lazim bagi siapa yang ingin mendalam dalam satu ilmu, dan sampai kepada puncak dalam semua ilmu. Tiadalah taufiq itu melainkan hanya di sisi Allah."

https://www.fb.com/saeedfodeh



Pentingnya Khauf Kepada Allah swt (Bagian 2)


pentingnya khauf kepada allah bagian 2

Lbm.Mudi- Khauf merupakan sebuah keharusan bagi seorang hamba sebagai makhluk yang beriman. Karena Khauf mewakili iman dari seseorang, sehingga semakin tinggi dan dalam iman dari seseorang maka semakin tinggi dan dalam pula keimanannya. Berikut ini adalah beberapa kisah tentang khauf yang ada pada para kekasih-kekasih Allah swt.

1. Nabi Ibrahim as yang berpangkat khalilullah pernah melakukan satu kesalahan, maka alangkah takutnya nabi Ibrahim as dan tunduk kepada Allah swt seraya berkata :
 وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّين

Artinya : "dan aku ingin bahwa Allah swt mengampuni dosaku hingga hari kiamat".

Diriwayatkan bahwa nabi Ibrahim as menangis karena takut kepada Allah swt  sehingga diutulah Jibril, maka berkatalah malaikat Jibril ‘‘Adakah sang khalil akan mengazabkan khalilnya’’? maka Ibrahim as menjawab ‘’Apabila aku mengingat kesalahanku maka aku lupa akan titel ke-khalililanku’’ 


2. Nabi Musa as bin Imran tidak melakukan kesalahan apapun kecuali pernah menampar seseorang, itupun hanya sekali, maka beliau sangat merasa khauf kepada Allah swt dan merendahkan diri seraya berkata :
 قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي

Artinya : ‘’Wahai tuhanku sesungguhnya aku menzalimi diriku maka ampunilah aku’’

3. Pada masa Musa as ada seorang yang bernama Bala’an bin Bau’ra, ia bisa melihat Arasy. Dihikayahkan bahwa pada mulanya ia memiliki majelis dan 12.000 murid, akan tetapi pada suatu waktu ia mencintai dunia dan ahlinya serta meninggalkan hormat (tidak patuh) kepada salah-satu gurunya, maka Allah mencabut nur ma’rifah yang ada padanya kemudian menjadikannya seolah-olah anjing yang tercela sebagaimana firman Allah swt :

فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ

Artinya :"Maka seolah-olah ia (Bal’am bin Bau’ra) hanya anjing jika kamu mengahalaunya, maka ia akan menjulur lidahnya"

Allah menjatuhkanhya ke dalam kesesatan sealam-lamanya, Nauzubillahiminzalik.

4. Nabi Daud as pernah berdosa dengan satu dosa maka beliau menangis sehingga tumbuhlah rumput di atas tanah karena air matanya.

5. Nabi Yunus as pernah marah bukan pada tempatnya itupun hanya sekali saja, maka Allah swt menahannya dalam perut ikan Hud yang berada dibawah laut selama 40 hari dan beliau mengucapkan: 

 أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya : "Tiada tuhan selain engkau maha suci engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim"

Pada ketika malaikat menyeru dan memanggil-manggil, terdengarlah suara yang ma’ruf pada temapat yang majhul, kemudian malaikat memberi bantuan kepada nabi Yunus as , sesungguhnya jika Yunus tidak mengucapkan tasbih kepada Allah, maka Allah tidak akan mengeluarkannya dalam perut ikan tersebut hingga hari kiamat .

6. Nabi Muhammad saw beribadah pada malam hari sehingga menyebabkan bengkak dua kakinya, para shahabat bertanya : ‘’Ya Rasulullah mengapa engkau beribadah kepadanya, padahal Allah telah telah mengampuni dosa-dosamu yang dulu dan yang akan datang?’’ Rasul menjawab "Aku belum cukup bersyukur kepada Allah. Jika aku dan nabi Isa as disiksa oleh Allah maka kami akan disiksa dengan siksa yang tidak pernah dirasakan oleh makhluk di dunia ini’’.

Rasulullah saw melakukan ibadah pada waktu malam dengan menangis serta membaca :

اَعُوْذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَبِرِضَاكَ مِنْ سُخْطِكَ وَ اَعُوْذُ بَكَ مِنْكَ , لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Artinya : "Ya Allah aku mohon kemaafanmu dari siksaanmu dan keridhaan dari marahmu, dan aku memohon denganmu dari padamu , aku tidak bisa memujimu sebagaimana dirimu memuji kepada dirimu sendiri"

Ini adalah beberapa kisah yang bisa diambil faidah jika   kita sebagai makhluk Allah harus selalu merasa khauf kepada Allah  dan tidak pernah  merasa aman dari ancaman Allah. Semuanya harus punya rasa takut kepada Allah swt, Namun para  mereka Anbiya  langsung sadar dan bertaubat kepada Allah dengan tiada henti-hentinya. Maka marilah kita bertaubat dan memulai hidup baru dengan bersykur semampu kita dan jangan pernah sekalipun merasa aman dari azab Allah swt. Wallahua'lam.

Sumber: Minhajul 'Abidin 266-283 cet. Darul Fikri

Pentingnya Khauf Kepada Allah swt (Bagian 1)

pentingnya khauf kepada Allah swt
LbmMudi- Khauf adalah merasa takut, khawatir dan tidak aman dari siksa dari Allah swt. Dalam hal ini imam al-Ghazali (W.505 H) mengatakan dalam kitab Minhajul Abidin bahwa setiap makhluk Allah merasakan takut dari siksa Allah swt sekalipun mereka para Anbiya.

Berikut ini bentuk Khauf yang terjadi pada hamba-hamba Allah swt dan kita tidak akan merasakan aman dari siksaan Allah swt karena dosa.
  1. Iblis telah beribadah kepada Allah swt selama 80.000 tahun dan tidak pernah meninggalkannya satu waktupun, namun ia meninggalakan satu perintah yaitu enggan sujud kepada nabi Adam as, maka Allah menutup pintu rahmatnya serta melaknatnya hingga hari kiamat dan dijanjikan azab yang amat pedih di akhirat selama-lamanya.
  2. Rasulullah saw pernah melihat mlaikat Jibril as bergantung pada kain penutup ka’bah dengan berteriak ‘’Wahai tuhanku jangan engkau robahkan namaku dan jangan engkau ganti jasadku’’ 
  3. Nabi Adam as adalah nabi yang Allah ciptakan dan Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud padanya, kemudian para malaikat membawanya ke dalam surga dan merasakan nikmat di dalamnya. Akan tetapi, saat nabi Adam as melakukan satu kesalahan (makan buah kuldi) maka Allah mencampakkanya ke dunia, beliau menangis sampai dua ratus tahun sampai diterima taubat oleh Allah swt.
  4. Nabi Nuh as yang telah berdakwah demi meninggigikan agama Allah swt dan menaggung segala kesukaran yang tidak pernah ditanggung oleh nabi sebelumnya tetapi ketika beliau mengucapkan satu kalimat yang tersalah yaitu :
 إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي

‘’sesunguhnya anakku daripada keluargaku’’.

Maka Allah memperingatkannya dengan fiirmannya :

فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Artinya "Wahai Nuh ! jangan engkau minta kepadaku sesuatu yang tidak engkau ketahui dengannya , sesungguhnya aku memperingatkanmu engkau adalah orang-orang tidak mengetahui''.

Pada satu riwayat dijelaskan bahwa nabi Nuh as tidak mengangkat kapalanya setelah itu selama 40 tahun karena malu kepada Allah swt. Wallahua'lam.



Download Kitab Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, bagian II


Dalam postingan beberapa tahun yang lalu kami telah memposting link untuk mendownload kitab-kitab Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki sejumlah 18 kitab, dalam postingan kami Download Kitab Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani. Dalam postingan tersebut kami berjanji akan menambah link donwload kitab Abuya yang lainnya. Alhamdulillah, kini kitab-kitab Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki yang lain telah hadir file pdfnya di dunia maya. Maka untuk memenuhi janji kami dahulu, berikut link donwload kitab-kitab Abuya yang lain yang telah ada link downloadnya. Kitab-kitab ini dalam format pdf hasil scan dari kitab cetakan asli. Berikut beberapa kitab tersebut, dengan urutan nomor bersambung dari bagian pertama;




Selain kitab-kitab ini, masih banyak karya Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki. In Sya Allah ketika kami temukan link downloadnya akan kami posting segera...

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja