Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Kisah Hatim Dan Gurunya Syaqiq Balkhi

Suatu hari Syaqiq Balkhi berkata kepada Hatim:
Syaqiq Balkhi : sejak kapan engkau menyertaiku ?
Hatim: sejak tiga puluh tiga tahun yang lalu
Syaqiq Balkhi : apa yang engkau pelajari dariku selama itu ?
Hatim: hanya delapan masalah
Syaqiq Balkhi : innalillahi wa inna ilaihi rajiun, sia-sialah umurku bersamamu, sedangkan engkau tidak belajar kecuali delapan masalah.
Hatim: wahai guruku ! aku tidak belajar selain itu dan demi Allah aku tidak berdusta.
Syaqiq Balkhi : katakanlah delapan masalah itu aku ingin mendengarnya!
Hatim berkata: aku melihat kepada makhluk, aku melihat setiap orang mencintai kekasihnya, dan ia akan menyertainya ke kubur, maka tatkala ia sampai kekuburan, lantas kekasihnya meninggalkannya, maka karena itu aku menjadikan kebajikan sebagai kekasihku, sehingga ketika aku masuk ke kubur, ia menyertaiku.
Syaqiq Balkhi berkata: engkau telah berbuat baik wahai Hatim, lalu apa yang kedua:
Aku melihat pada firman Allah:

وأما من خاف مقام ربه ونهى النفس عن الهوى فإن الجنة هي المأوى

Maka aku yakin bahwa firman Allah maha benar, aku bersungguh sungguh pada diriku untuk memerangi hawa nafsu, sehingga tetap dalam ibadah kepada Allah.
Yang ketiga: aku melihat kepada makhluk, aku melihat apa saja yang mereka miliki memiliki harga dan ukuran, mereka memuliakannya dan menjaganya, lalu aku melihat pada firman Allah:

ما عندكم ينفذ وما عند الله باق

Apa yang berada disisimu akan musnah dan apa yang ada disisi Allah akan kekal
Kemudian apasaja barang berharga yang aku miliki aku serahkan kepada Allah supaya ia tetap terpelihara disisinya
Yang keempat: aku melihat kepada makhluk: maka aku melihat setiap mereka menjadikan harta , kedudukam dan keturunan sebagai ukuran, lantas aku beranggapan itu tidak berarti apa -apa, kemudian aku lihat firman Allah:

إن أكرمكم عند الله أتقاكم\

Sesungguhnya yang mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa
lalu aku amalkan taqwa sehingga aku berada disisinya sebagai orang yang mulia.
Yang kelima: aku melihat kepada makhluk , mereka saling menusuk dari belakang satu sama lain, dan melaknat antara satu sama lain, sedangkan penyebab ini semua adalah dengki, maka aku perhatikan firman Allah taala:

نحن قسمنا بينهم معيشتهم في الحياة الدنيا

Kami telah membagi jatah kehidupan dunia kepada mereka
Kemudian aku tinggalkan dengki dan aku jauhi makhluk dan aku yakini sesungguhnya pembagian dari Allah dan aku jauhi diriku permusuhan dengan manusia.
Yang keenam: aku lihat makhluk saling memusuhi satu sama lain antara mereka dan saling membunuh satu sama lain, maka kau kembali kepada firman Allah:

  إن الشيطان لكم عدو فاتخذوه عدواً

Sesungguhnya syaithan adalah musuh bagimu dan jadikan ia sebagai musuh
Kemudian hanya syaithan yang aku musuhi dan aku bersungguh sungguh waspada terhadapnya, karena Allah bersaksi sesungguhnya ia adalah musuh bagiku maka aku tinggalkan permusuhan kepada mahkluk selainya.
Yang ketujuh: aku melihat makhluk, lalu aku melihat setiap individu mereka menuntut kehinaan ini, dan ia menghinakan dirinya sendiri, kemudian ia menempuh jalan yang tidak halal baginya, aku perhatikan firman Allah:

وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها

Tiada sesuatupun makhluk yang melata lata diatas permukaan bumu kecuali diatas Allah rizkinya
Lalu aku yakin sesungguhnya diriku adalah salah satu dari dabbah yang rizkinya ditanggung oleh Allah, kemudian aku berbimbang dengan kewajibanku kepada Allah dan aku tinggalkan hak aku disisi-Nya.
Yang kedelapan: aku melihat makhluk ini, maka aku melihat setiap mereka bergantung pada makhluk, “ ini karena pekerjaannya” “ini karena kesehatan badannya” dan mahkluk ini juga bergantung kepada makhluk yang lain, maka aku kembali kepada firman Allah:

" ومن يتوكل على الله فهو حسبه "

Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka ia akan mencukupinya
Kemudian aku menyerahkan urusanku kepada Allah maka dia akan mencukupiku.

Syakik Balkhi berkata: wahai Hatim ! semoga Allah memberi taufik kepadamu, sesungguhnya aku melihat ilmu dalam Taurat, Zabur, Injil Dan Quran, kemudian aku temukan seluruh kebaikan dan agama bertumpu pada delapan masalah ini, barangsiapa menggunakannya maka ia telah mengamalkan kitab yang empat, ilmu ini tidak menganggap penting untuk memperolehnya kecuali oleh ulama akhirat, sedangkan ulama dunia, ia akan sibuk dengan sesuatu yang dapat memudahkannya mengumpulkan harta dan kemegahan, dan ia mengabaikan ilmu ilmu seperti ini, ilmu yang diutus oleh Allah beserta nabinya

Referensi: Ihya Ulumiddin hal 87 juz 1 cet dar el-fikr

Hukum Menginjak atau Duduk di Atas Kuburan

Hukum Menginjak atau Duduk di Atas KuburanMaqbarah adalah suatu tempat yang harus sering kita kunjungi karena dengen berziarah ketempat pemakaman akan menjadi penyebab bagi kita untuk mengingat kematian sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka ziarahilah (sekarang)! Karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian akan kematian.”
Akan tetapi berziarah juga mempunyai adab-adab seperti memakai pakaian yang sopan, mengucapkan salam, tidak selfy-an dan sebagainya.

Namun bagaimanakah hukumnya jika untuk berziarah kesebuah kuburan kita harus menginjak atau menduduki kubuaran-kuburan lain?

Jawaban:
Hukum Menginjak kuburan atau mendukinya agar bisa sampai ke kuburan yang kita tuju adalah boleh.

و) كره جلوس على القبر المحترم و اتكاء عليه و استناد اليه و ( وطء عليه الا لضرورة) اي حاجة بان حال القبر عمن يزوره و لو اجنبيا بان لا يصل اليه الا بوطئه فلا يكره و فهم بالأولى عدم الكرهة لضرورة الدفن. و الحكمة في عدم الجلوس و نحوه توقير الميت و احترامه
و اما خبر مسلم انه صلى الله عليه و سلم قال * لن يجلس احدكم على حمرة فتخلص الى جلده خير له من ان يجلس على قبر*
ففسر الجلوس عليه بالجلوس للبول و الغائط و هو حرام بالاجماع اما غير المحترم كقبر مرتد و حربي فلا كرهة في الجلوس و نحوه و لا يحرم البول و التغوط على قبورهم

"Dimakruhkan duduk, menginjak, berjalan dan bersandar atas kuburan orang yang di hormatkan kecuali karna hajat seperti kondisi kuburan yang di penuhi dengen penziarah dan kita tidak akan sampai ke kuburan yang kita tuju kecuali dengen berjalan di atas kuburan lain, maka tidak di makruhkan berjalan lebih2 lagi tidak makruh menginjak apabila pemakaman tersebut berdesakan.
Adapun hadis yang menyatakan ‘’ Duduk di atas bara api lebih bagus dari pada duduk diatas kuburan’’ ditafsirkan dengen duduk untuk kencing atau berak maka hukumnya haram dengan ijma’ para ulama.
Sedangkan kuburan orng yang tidak di hormatkan seperti kuburan orang murtad, kuburan kafir harbi maka tidak makruh duduk atau menginjaknya walau tidak ada hajat, dan tidak haram kencing atau berak di atas kuburan tersebut."

Referensi:
Kitab Nihayatuzzain, hal 179, Cetakan daarul kutub islamiaah.

Niat Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Niat Jumlah Rakaat Shalat TarawihDeskripsi Masalah:
Jumlah rakaat shalat tarawih adalah dua puluh rakaat (sekali salam tiap dua rakaat ), namun masalah yang muncul dimasyarakat adalah tentang niat jumlah rakaat, ada yang mengatakan mesti niat jumlah rakaat dan ada yang mengatakan tidak.

Pertanyaan:
Bagaimana sebenarnya permasalahan niat jumlah rakaat shalat tarawih?

Jawaban:
Niat shalat tarawih tidak disyaratkan ada niat jumlah rakaatnya, sebagaimana tertulis dalam Tuhfah Juz 2 Hal 241 :
وأن ينوي التراويح

Imam Syarwani ketika menjelaskan perkataan Syekhna Ibnu Hajar diatas mengatakan:
بدون تعرض لعدد

Artinya: tanpa niat jumlah rakaat.
Namun dalam kitab Mugni Muhtaj syarah Minhaj karangan Syekh Khatib Syarbaini Juz 1 Hal 744 Cet al-Quds tertulis:

ولا تصح بنية مطلقة بل ينوي ركعتين من التراويح
Artinya: Tidak sah niat secara muthlak tetapi niat 2 rakaat dari tarawih.

Pendapat dalam Mughni sama dengan pendapat yang tertulis dalam Nihayah Muhtaj syarah Minhaj karangan Imam Ramli 2 Hal 127 Cet Dar Fikr.

Dan pendapat yang kuat adalah tidak disyaratkan ada niat jumlah rakaat (seperti dalam Tuhfah ), sebagaimana tertulis dalam kitab Ianatutthalibin Juz 1 Hal 265 Cet Haramain :

لايشطرت التعرض للعدد فيها وهو المعتمد لأن التعرض للعدد لايجب

Kesimpulannya:
Jangan salahkan orang yang tidak niat jumlah rakaat saat shalat tarawih, dan jangan salahkan juga orang yang ada niat jumlah rakaat saat shalat tarawih, karena memang ada dua pendapat dan yang kuat yang pertama (dalam Tuhfah ).



Bolehkah Membangunkan Orang Tidur untuk Salat?

Bolehkah Membangunkan Orang Tidur untuk Salat?
Deskripsi masalah
Sebagai manusia yang beradab kita harus menjaga perasaan seseorang agar tidak tersakiti apalagi saat ia istirahat, bahkan dalam satu pendapat makruh membesarkan suara bacaan al-Quran jika mengganggu orang tidur.

Pertanyaan.
Jika waktu salat telah tiba, bolehkah kita membangunkannya? Mengingat salat adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan oleh semua orang.

Jawaban.
Hukum membangunkan orang tidur untuk mengerjakan salat adalah sunat, ini berlaku bila kita mengetahui bahwa orang tersebut tidur sebelum masuk waktu salat atau tidak diketahui kapan ia tidur, namun apabila kita mengetahui bahwa ia tidur sesudah masuk waktu salat dan kita meyakini bahwa ia tidak akan bangun pada waktu salat maka hukum membangunkannya adalah wajib.

(تنبيه) يسن إيقاظ النائم للصلاة إن علم أنه غير متعد بنومه أو جهل حاله، فإن علم تعديه بنومه كأن علم أنه نام في الوقت مع علمه أنه لا يستيقظ في الوقت، وجب.

Hasyiah Ianatut Thalibin hal 120, jilid 1 cet. Toha Putra.

(فَرْعٌ) يُسَنُّ إيقَاظُ النَّائِمِ لِلصَّلَاةِ إنْ عُلِمَ أَنَّهُ غَيْرُ مُتَعَدٍّ بِنَوْمِهِ أَوْ جُهِلَ حَالُهُ، فَإِنْ عُلِمَ تَعَدِّيهِ بِنَوْمِهِ كَأَنْ عُلِمَ أَنَّهُ نَامَ فِي الْوَقْتِ مَعَ عِلْمِهِ أَنَّهُ لَا يَسْتَيْقِظُ فِي الْوَقْتِ وَجَبَ إيقَاظُهُ اهـ سم.

Hasyiah Jamal hal 274, jilid 1, Maktabah Syamila.

Perbedaan Antara واحد dan احد

Perbedaan Antara واحد dan احدPerlu diketahui, bahwa lafadz واحد adalah isem fail dari وحد, يحد, وحدا, وحدة artinya منفردا, maka واحد bermakna منفرد artinya العدد المنفرد (bilangan tunggal).

Adapun احد dipakai setelah nafi, atau nahi atau istifham karena menurut ahli ilmu nahu merupakan lafadh umum. Dan احد mesti mufrad dan tazkir.

Ex:
ما جاءني من احد
قوله تعالى لستن كأحد من النساء

Dan kadang-kadang tidak disertai dengan nafi tetapi setelahnya terdapat nafi dan juga setelahnya terdapat dhamir yang kembali ke belakang (ما قبله ).

Ex:

ان احدا لايقول كذا

Dan apabila احد jatuh dalam jumlah ijab (ايجاب), maka احد itu tidak bisa kita kehendaki umum.
Adapun lafadh واحد dipakai untuk umum pada selain ijab (ايجاب) dan ditaknistkan.

Ex:

ما لقيت واحدا منهم ولا واحدة منهن

Al-Radhi berkata hamzah احد adalah pengganti dari الواو secara muthlak, maka makna ما جاءني احد adalah ما جاءني واحد.

Syarah Mutamimah ala jurumiyah, cet. Toha Putra, halaman. 126

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Gerhana

Pelaksanaan Shalat Gerhana
Gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi.
Di dalam agama Islam, umat Muslim yang mengetahui atau melihat terjadinya gerhana bulan ataupun matahari disunnahkan segera melakukan salat kusuf (salat gerhana).

Shalat gerhana adalah salah satu shalat sunnah dua raka’at yang dikerjakan pada saat terjadinya gerhana, baik gerhana matahari atau gerhana bulan. Terdapat dua kali berdiri dan dua kali ruku’ pada tiap-tiap raka’atnya.
Tata cara pelaksanaannya agak berbeda dengan shalat sunnah yang lain. Maka oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, tim LBM MUDI Mesjid Raya Samalanga akan menguraikan tata cara pelaksanaan shalat gerhana. Semoga bermanfaat buat para pembaca sekalian.

Tata cara pelaksanaan shalat gerhana:

  1. Berniat shalat sunnah gerhana dua raka'at
  2. Takbiratul ihram
  3. Membaca do’a iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah
  4. Ruku’ (dengan memperbanyak bacaan tasbih).
    Dalam pelaksanaan ruku’, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan tasbih. Sebagaimana tersebut dalam kitab kifayatul akhyar juz. 1, hal. 157 bahwa disunnahkan pada ruku’ yang pertama memperbanyak tasbih sehingga kira-kira kadarnya setara dengan 100 ayat dalam surah al-baqarah. Kemudian pada ruku’ yang kedua memperbanyak tasbih sehingga kira-kira kadarnya setara dengan 80 ayat dalam surah al-baqarah. Kemudian pada ruku’ yang ketiga memperbanyak tasbih sehingga kira-kira kadarnya setara dengan 70 ayat dalam surah al-baqarah, dan pada ruku’ yang ke empat memperbanyak tasbih sehingga kira-kira kadarnya setara dengan 50 ayat dalam surah al-baqarah.
  5. Bangkit dari ruku’ (i’tidal)
  6. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah
  7.  Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua, juga dengan memperbanyak bacaan tasbih)
  8. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal)
  9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana pada ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali
  10. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama
  11. Tasyahud akhir, dan
  12. Salam.
Adapun perkara sunnah jihar atau tidak, terdapat khilaf pendapat ulama. Ulama mazhab malik dan imam ahmad bin hanbal berpendapat bahwa sunnah menjiharkan suara, sementara ulama mazhab syafi’i berpendapat sunnah untuk siir (mengecilkan suara).
Hal ini sebagaimana tersebut dalam kitab syarah sunnah juz. 4, hal 382-383:

وقال البغوي في "شرح السنة" : اختلف أهل العلم في القراءة في صلاة كسوف الشمس، فذهب قوم إلى أنه يجهر بالقراءة كما في صلاة الجمعة والعيدين، وهو قول مالك وأحمد وإسحاق (قلنا: وهو أيضا قول أبي يوسف ومحمد بن الحسن صاحبي أبي حنيفة، وابن خزيمة وابن المنذر وغيرهما من محدثي الشافعية) . وذهب قوم إلى أنه يسر فيها بالقراءة، وهو قول الشافعي وأصحاب الرأي

Artinya: al-Baghawi berkata: "Ulama beda pendapat dalam bacaan saat gerhana matahari. Sebagian mengeraskan suara seperti dalam salat Jumat dan dua Hari Raya. Ini pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad.... Menurut ulama yang lain suara dilirihkan, ini pendapat Imam Syafii (Syarah al-Sunnah, 4/382-383)

Dalil ulama Syafi’iyah
عن ابن عباس، قال: صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم الكسوف، فلم أسمع منه فيها حرفا من القرآن

Artinya: Ibnu Abbas berkata: Saya salat gerhana bersama Rasulullah dan saya tidak mendengarkan 1 huruf pun dari al-Quran (HR Ahmad)

Dalil Ulama Mazhab Lain

عن عائشة رضي الله عنها،  جهر النبي صلى الله عليه وسلم في صلاة الخسوف بقراءته، فإذا فرغ من قراءته كبر، فركع وإذا رفع من الركعة قال: سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد، ثم يعاود القراءة في صلاة الكسوف أربع ركعات في ركعتين وأربع سجدات

Artinya: Dari Aisyah bahwa Rasulullah mengeraskan bacaan pada gerhana bulan, selesai membacanya Nabi lalu takbir, rukuk, bangun dari rukuk membaca Samia Allah li man hamidah. Lalu Nabi mengulang bacaan tersebut dalam gerhana matahari, sebanyak 4 rukuk dalam 2 sujud dan 4 sujud. (HR al-Bukhari)

Referensi:
Kitab kifayatul akhyar, juz. 1, hal. 157

باب صلاة الكسوف والخسوف
فصل ويصلي لكسوف الشمس وخسوف القمر ركعتين في كل ركعة قيامان يطيل القراءة فيهما وركوعان يطيل التسبيح فيهما دون السجود ) اعلم أن الكسوف والخسوف يطلق على الشمس والقمر جميعا نعم الأجود كما قاله الجوهري أن الكسوف للشمس والخسوف للقمر والصلاة لهما سنة لقوله صلى الله عليه وسلم ( إن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا الله تعالى ) وفي رواية ( ادعوا الله وصلوا حتى ينكشف ما بكم ) ثم أقلها أن يحرم بنية صلاة الكسوف ويقرأ الفاتحة ويركع ثم يرفع فيقرأ الفاتحة ثم يركع ثانيا ثم يرفع ويطمئن ثم يسجد فهذه ركعة ثم يصلي ثانية كذلك فهي ركعتان في كل ركعة قيامان وركوعان ويقرأ الفاتحة في كل قيام فلو استمر الكسوف فهل يزيد ركوعا ثالثا وجهان الصحيح لا يجوز كسائر الصلوات وكما لا يجوز زيادة ركوع ثالث لا يجوز
نقص ركوع لو حصل الإنجلاء ولو سلم من الصلاة والكسوف باق فليس له أن يستفتح صلاة أخرى على المذهب والأكمل في هذه أن يقرأ في القيام الأول بعد الفاتحة وما يستحب من الاستفتاح وغيره سورة البقرة فإن لم يحسنها قرأ بقدرها وفي القيام الثاني كمائتي آية منها وفي القيام الثالث يقرأ قدر مائة وخمسين آية وفي الرابع قدر مائة كذا رواه الشيخان عن ابن عباس رضي الله عنهما ويستحب أن يطول في الركوع الأول بالتسبيح قدر مائة آية من البقرة وفي الثاني ثمانين آية وفي الثالث سبعين آية وفي الرابع قدر خمسين آية لمجيئه في الخبر ولا يطول السجود على الصحيح كالاعتدال قاله الرافعي وصحح النووي التطويل قال وثبت في الصحيح ونص عليه الشافعي في البويطي وتستحب الجماعة في صلاة الكسوف وينادي لها الصلاة جامعة ولو أدرك المسبوق الإمام في الركوع الثاني لم يدرك الركعة على المذهب لأن الركوع الثاني يتبع الأول والله أعلم قال ( ويخطب بعدها خطبتين ويسر في كسوف الشمس ويجهر في خسوف القمر ) يسن أن يخطب بعد الصلاة خطبتين كخطبتي الجمعة لفعله صلى الله عليه وسلم الذي ورد وفيه ( قام فخطب فأثنى على الله تعالى ) إلى أن قال ( يا أمة محمد هل من أحد أغير من الله أن يرى عبده أو أمته يزنيان يا أمة محمد والله لو تعلمون ما أعلم لبكيتم كثيرا ولضحكتم قليلا ألا هل بلغت ) وروى الخطبة جمع من الصحابة في الصحيح وينبغي أن يحرضهم على الإعتاق والصدقة ويحذرهم الغفلة والاغترار وقد ورد أنه عليه الصلاة والسلام ( أمر بالعتاقة في كسوف القمر ) ومن صلى منفردا لم يخطب ويستحب الجهر بالقراءة في خسوف القمر والإسرار ففي الترمذي وقال إنه حسن صحيح وصححه ابن حبان والحاكم وقال إنه على شرط الشيخين والله أعلم قال


Mughni Muhtaj, juz. 1, hal. 316 (darul fikri)

وأقل كيفيتها ما ذكر بقوله ( فيحرم بنية صلاة الكسوف ) وهذه النية قد سبقت في قول المتن في صفة الصلاة إن النفل ذا السبب لا بد من تعيينه فهي مكررة ولهذا أهمل النية في العيد والاستسقاء إلا أنها ذكرت هنا لبيان أقل صلاة الكسوف
( ويقرأ ) بعد الافتتاح والتعوذ ( الفاتحة ويركع ثم يرفع ) رأسه من الركوع ثم يعتدل ( ثم يقرأ الفاتحة ) ثانيا ( ثم يركع ) ثانيا أقصر من الذي قبله ( ثم يعتدل ) ثانيا ويقول في الاعتدال عن الركوع الأول والثاني سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد كما في الروضة كأصلها زاد في المجموع حمدا طيبا إلخ
وقال الماوردي لا يقول ذلك في الرفع الأول بل يرفع مكبرا لأنه ليس اعتدالا ولعل تعبير المصنف أولا بالرفع وثانيا بالاعتدال فيه ميل إلى هذا لأن الرفع من الركوع الأول لا يسمى اعتدالا والراجح الأول
( ثم يسجد ) السجدتين ويأتي بالطمأنينة في محالها

( فهذه ركعة ثم يصلي ) ركعة ( ثانية كذلك ) للإتباع رواه الشيخان من غير تصريح بقراءة الفاتحة

20 Sebab yang Menyebabkan Murtad

 20 Sebab yang Menjadikan Seseorang Murtad
Allah menciptakan dan membagi  manusia kepada yang beriman dan tidak beriman, bertakwa dan tidak bertakwa. Hal tersebut adalah hak preogatif Allah swt. Terkadang manusia yang tidak beriman, karena hidayah Allah akan jadi beriman dan begitu pula sebaliknya.

Murtad menurut bahasa adalah kembali pulang sedangkan menurut istilah adalah keluar dengan sengaja dari Islam dengan sebab perkataan, perbuatan, itikad dan cita-cita.

Berikut ini adalah beberapa contoh sebab-sebab murtad:
  1. Mengingkar adanya Allah swt atau ragu pada sifat-sifat wajib bagi Allah.
  2. Mengingkar ijmak ulama seperti salat lima waktu.
  3. Mengaramkan yang halal dan telah ijmak ulama kepada halal seperti nikah dan jual beli.
  4. Menghalalkan yang haram dan telah ijmak sperti zina, liwat.
  5. Mengharamkan yang sunat dan telah  ijmak seperti salat sunat rawatib, shalat hari raya.
  6. Mencaci Saidina Hasan dan Husein
  7. Sujud kepada makhluk walaupun tidak merasa ta’dhim.
  8. Mencampakkan qur’an dalam kotoran.
  9. Ragu telah berbuat kufur.
  10. Setuju atau ridha dengan kekufuran.
  11. Menunda seseorang untuk masuk Islam.
  12. Mengingkar mu’jizat Al-Quran.
  13. Mengingkar walau satu ayat dari Al-Quran.
  14. Mengingkari adanya sahabat Abu Bakar.
  15. Menuduh Aisyah dengan kebohongan.
  16. Melumuri Ka’bah dengan kotoran.
  17. Sujud kepada matahari.
  18. Rukuk dengan niat ta’dhim kepada makhluk.
  19. Pergi ke gereja dengan pakaian kafir.
  20. Ragu kepada hari akhir, adanya surga dan neraka dan ragu adanya balasan bagi orang ta’at dan maksiat

Ini adalah sebagian kecil contoh penyebab murtad yang terdapat dalam kitab Fathul Mui’n dan Hasyiah I’anatut Thalibin untuk keterangan lebih lanjut tentang masalah ini bisa dipelajari dalam kitab-kitab Tauhid Ahlusunnah Wal Jama’ah baik Asyairah atau Maturidiyah, mudah-mudahan kita dijahui oleh Allah swt dari perkataan, perbuatan dan itikad tersebut karena murtad adalah dosa yang paling besar dan sejelek-jelek keburukan. Wallahua'lam.

Fathul Muin dan Hasyiah Ianat tutthalibin.132-138  cet. Haramain.


30 Nama Surat Al-Fatihah

30 Nama Surat Al-Fatihah
Lbm.Mudi- Telah jelas dan masyhur berdasarkan keterangan para Ulama bahwa Al Fatihah memiliki banyak nama, hal tersebut menunjukkan keagungan surat ini di dalam Al-quran. Namun para Ulama berbeda pendapat mengenai berapa sebenarnya jumlah nama dari surat Al Fatihah. Abi zia’ Nuruddin ‘Ali bin ‘Ali Syibran Malasi dalam karyanya hasyiah Nihayatul Muhtaj menyebutkan bahwa jumlah dari nama surat Al Fatihah adalah berkisar pada tiga puluhan nama. Berikut ini n tiga puluh nama surat al-Fatihah sebagaima kami kutip dari kitab Nihayatul Muhtaj hal 557, jilid 1, cet Darul Fikri.

1. الْفَاتِحَةُ artinya adalah Pembukaan.

2. الْحَمْدُ لِلَّهِ artinya adalah Pujian bagi Allah.

3. أُمُّ الْكِتَابِ artinya adalah Ibu Al- Kitab.

4. أُمُّ الْقُرْآنِ artinya adalah  Ibu Al-Quran.

5. الشِّفَاءُ artinya adalah Kesembuhan.

6. الشَّافِيَةُ artinya adalah Penyembuh.

7. تَعْلِيمُ الْمَسْأَلَةِ artinya adalah Pemberitahu masalah.

8. الْوَاقِيَةُ artinya adalah Penjaga.

9.  الْوَفَاء artinya adalah Penunai hajat.

10. الْكَافِيَةُ artinya adalah Yang mencukupi.

12. الرُّقْيَةُ artinya adalah Ajimat.

13. الْأَسَاسُ artinya adalah Fondasi.

14. الصَّلَاةُ artinya adalah Shalat

16. الْكَنْزِ artinya adalah Gudang

17.  الثَّنَاءِ artinya adalah Pujian.

18.  التَّفْوِيضِ artinya adalah Menyerahkan.

19. الْمَثَانِي  artinya adalah  yang berulang-ulang.

20. الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ artinya adalah Al-Quran yang agung.

21. الْمُجْزِئَةُ artinya adalah Yang memberi pembalasan.

22.  الْإِجْزَاءِ artinya adalah Pembalasan.

23. الْمُنَجِّيَةُ artinya adalah Pemberi kelepasan.

24. النَّجَاةُ artinya adalah Kelepasan.

25.  الرَّحْمَةِ artinya adalah Kasih sayang.

26. سُورَةُ النِّعْمَةِ artinya adalah Kenikmatan

27.  الِاسْتِعَانَةِ artinya adalah Pertolongan

28.  الْهِدَايَةِ artinya adalah Petunjuk

29. سُورَةُ الْجَزَاءِ artinya adalah Pembalasan.

30. الشُّكْر artinya adalah Mensyukuriِ.

Inilah tiga puluh nama surat Al-fatihah yang barakah , semoga Allah senantiasa memberi kita taufiq dan hidayahNya agar kita agar istiqamah  dalam membaca surat Al-fatihah dalam kondisi apapun. Wallahua'lam.

Hukum Menghalalkan Hubungan Sejenis

Diskripsi Masalah.
Akhir-akhir ini ada segelintir orang yang menamakan diri sebagai kelompok Islam Liberal, mereka menghalalkan berhubungan sejenis lebih populer dengan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) , pernyataan ini sangat meresahkan masyarakat karena bukan sekedar perbedaan tapi yang demikian adalah jelas-jelas  penyimpangan yang harus diamputasi. Maka dalam memahami ilmu agama harus diambil dari pada guru-guru yang mulia dan dari para mufasir supaya tidak jatuh  dalam kesesatan yang boleh jadi karena menghalalkan yang haram, serta menghalalkan yang haram.
Status Hukum Bagi yang Menghalalkan LGBT

Pertanyaan.

  1. Bagaimanakah hukum perkawinan sejenis ?
  2. Bagaimana status bagi orang yang menghalalkan perkawinan sejenis ?


Jawaban.

  1. Perkawinan sejenis adalah haram dan merupakan ijmak (konsensus) para Ulama. Perkawinan sejenis otomatis membawaki kepada terjadinya liwath atau homoseks dan lesbian yang merupakan perbuatan yang di haramkan dalam agama. Tidak ada satu mazhab pun yang membolehkannya, bahkan homoseks tidak pernah di halalkan oleh Allah dalam satu syariatpun sebelum syariat Nabi Muhammad. Kaum Nabi Luth Allah beri bala yang cukup hebat karena mereka pelaku homoseks. Para ulama ijmak bahwa kedua prilaku tersebut merupakan hal yang terlarang dalam agama. Masyarakat luas juga mengetahui secara yakin dan pasti bahwa kedua perbuatan tersebut tidak di benarkan dalam agama. Maka keharaman homoseks dan lesbian merupakan ijmak yang jaly dan merupakan salah satu masalah yang di ketahui secara umum oleh masyarakat muslim (ma`lum min din bi al-dhadhury). Maka pelaku homoseks dan lesbian wajib segera bertaubat dan berusaha semampu mungkin untuk membuang kebiasaan buruk tersebut dan wajib diupayakan usaha pengobatan terhadap mereka. 
  2. Mengingkari perkara yang dhahuri dari agama dapat berakibat kepada pelakunya keluar dari agama Islam (murtad) karena mengingkarinya berarti mendustakan Rasulullah SAW sendiri. Maka melegalkan perkawinan sejenis dapat menjadikan pelakunya keluar dari Islam (murtad) karena ia telah melegalkan satu perbuatan yang di haramkan dalam agama secara ijmak dan merupakan perkara yang di ketahui scara luas oleh kalangan masyarakat muslim.  Maka orang yang telah menghalalkan hubungan sejenis wajib segera taubat, dan pemerintah wajib memerintahkannya untuk bertaubat. Bila ia tidak mau bertaubat maka pemerintah wajib memhukumnya dan darahnya tidak lagi di hormati sebagaimana layaknya darah kaum muslimin dan golongan lain yang masih terhormat darahnya. Mengingkari perkara yang ma'lum min din bi dharuri berakibat kepada pelakunya murtad karena dengan sikapnya menghalalkan apa yang telah jelas dan diketahui dengan mudah merupakan perkara yang diharamkan dalam syariat Nabi Muhamammad maka ia telah mendustakan Nabi Muhammad. Mendustakan Nabi berakibat kepada pelakunya di hukumi murtad dan keluar dari Islam. Adapaun pelaku homoseksual dan lesbian, bila ia tidak meyakini perbuatan tersebut adalah halal maka hal tersebut tidak menyebabkan ia keluar dari Islam, namun ia berdosa dosa besar karena pelaku dosa besar masih dihukumi Islam. Namun bila ia juga meyakini bahwa homoseks dan lesbian tersebut halal maka ia juga berakibat murtad. 


Referensi :

Kitab syarah Ibnu Qasim Izzi juz 2 hal.232-233 (Cet.Haramain)

(وحكم اللواط واتيان البهائم كحكم الزنا( فمن لاط بشخص بان وطئه في دبره حد على المذهب

"Hukum Liwat (perkawinan sejenis) seperti hukum zina (haram dan dikenakan had)"

Kitab Fathul Mu’in juz 4 hal.135 (Cet.Haramain)

وذلك ( كنفي صانع و ) نفي ( نبي ) أو تكذيبه ( وجحد مجمع عليه ) معلوم من الدين بالضرورة من غير تأويل وإن لم يكن فيه نص كوجوب نحو الصلاة المكتوبة وتحليل نحو البيع والنكاح وتحريم شرب الخمر واللواط والزنا والمكس وندب الرواتب والعيد

"Diantara penyebab murtad adalah berpaham atheis, menolak adanya nabi atau mendustakannya dan mengingkari ijmak yang telah diketahui dalam agama secara mudah (ma'lum min din bid dharuri) seperti;  mengharamkan nikah, menghalalkan minum arak, menghalalkan liwat (perkawinan sejenis), menghalalkan zina...".

Kitab I’anatu Thalibin juz 4 hal. 135 (Cet.Haramain)

فمن أنكر وجوب شيء من الواجبات كالصلاة والصوم أو حرمة شيء من المحرمات المجمع عليها كالزنا واللواط وشرب الخمر أو أنكر شيئا من القرآن ولو آية كفر بذلك وسبب التكفير به كما في التحفة أن في إنكار ما هو معلوم من الدين بالضرورة تكذيبا للنبي صلى الله عليه وسلم

"Barang siapa yang menginkari kewajiban seperti salat lima waktu, puasa Ramadhan atau mennghalalkan sesuatu yang diharamkan yang telah ijmak ulama seperti zina, liwat (perkawinan sejenis), minum arak dan mengingkar walau satu ayat al-Quran maka ia kufur (murtad). Sebab ia dihukumi kufur, sebagaimana dalam kitab Tuhfah adalah karena pengingkarannya terhadap perkara yang diketahui dalam agama secara mudah (dharudy) merupakan pendustaan terhadap Nabi SAW"

Syaikh Ibrahim al-Laqqani dalam bait Jauharah Tauhid:

ومن لمعلوم ضرورة جحد من ديننا يقتل كفرا ليس حد
ومثل هذا من نفى لمجمع او استباح كالزنا فلتمع

Seseorang yang mengingkari sesuatu yang diketahui dengan dharuri dalam agama maka ia akan dibunuh karena kufurnya bukan sebagai hukuman ganjaran (had). Dan seperti itu juga orang -orang yang menentang ijmak atau membolehkan perbuatan seperti zina.

Kitab Tuhfatul Muhtaj juz 9 hal.103 (Cet.Beirut)

وْ حَلَّلَ مُحَرَّمًا بِالْإِجْمَاعِ ) وَعُلِمَ تَحْرِيمُهُ مِنْ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ وَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَخْفَى عَلَيْهِ  كَالزِّنَا ) وَاللِّوَاطِ وَشُرْبِ الْخَمْرِ وَالْمَكْسِ وَسَبَبُ التَّكْفِيرِ بِهَذَا كَالْآتِي سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ مَا فِيهِ نَصٌّ وَمَا لَا نَصَّ فِيهِ أَنَّ إنْكَارَ مَا ثَبَتَ ضَرُورَةً أَنَّهُ مِنْ دِينِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ تَكْذِيبٌ لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( وَعَكْسُهُ ) أَيْ حَرَّمَ حَلَالًا مُجْمَعًا عَلَيْهِ وَإِنْ كُرِهَ كَذَلِكَ كَالْبَيْعِ وَالنِّكَاحِ ( أَوْ نَفَى وُجُوبَ مُجْمَعٍ عَلَيْهِ ) مَعْلُومًا كَذَلِكَ كَسَجْدَةٍ مِنْ الْخَمْسِ

"Sebab kufur adalah menghalalkan yang haram yang telah terjadi ijmak yang telah masyhur dalam agama seperti zina,liwat (perkawinan sejenis) dan minum arak"

Tuhfatul Muhtaj, Jld.9 hal 96, Maktabah Tijariyah thn 1983

وتجب استتابة المرتد والمرتدة) لاحترامهما بالإسلام قبل وربما عرضت شبهة بل الغالب أنها لا تكون عن عبث محض وروى الدارقطني خبر أنه «- صلى الله عليه وسلم - أمر في امرأة ارتدت أن يعرض عليها الإسلام فإن أسلمت وإلا قتلت» ، ... (وفي قول يستحب) كالكافر الأصلي (وهي) على القولين (في الحال) للخبر الصحيح «من بدل دينه فاقتلوه» ومر ندب تأخيرها إلى صحو السكران (وفي قول ثلاثة أيام) لأثر فيه عن عمر - رضي الله عنه - (فإن أصرا) أي الرجل والمرأة على الردة (قتلا) للخبر المذكور لعموم من فيه والنهي عن قتل النساء محمول على الحربيات وللسيد قتل قنه والقتل هنا بضرب العنق دون ما عداه ولا يتولاه إلا الإمام أو نائبه فإن افتات عليه أحد عزر

Bolehkah Perempuan Mengikuti Imam yang Bukan Mahramnya?

Bolehkah Perempuan  Mengikuti Imam yang Bukan Mahramnya?
Deskripsi masaalah :
Shalat berjamaah merupakan Ibadah yang sangat dianjurkan Nabi salallahu’alaihi wasallam karna salat berajamaah lebih utama dua puluh derajat dibandingkan shalat sendirian bahkan dalam satu pendapat jika tidak ada orang lain tetap di sunatkan berjamaah walau yang menjadi imam adalah orang fasiq.

Pertanyaan: 
jika ada perempuan yang ingin berjamaah sedangkan tidak ada mahram yang menjadi imam atau yang shalat dengannya, apakah boleh bagi perempuan tadi mengikuti seorang laki-laki yang bukan mahramnya sedangkan mareka hanya berduaan???

Jawaban :

يكره أن يصلى الرجل بامرأة أجنبية لحديث ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (لا يخلون رجل بامرأة إلا مع ذي محرم) . أما إن أم أجنبيات فيجوز.

Makruh (Tahrim) bagi seorang laki-laki mengimami seorang perempuan yang bukan mahram karena hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Salallahu’alaihi wasallam bersabda; ’’ tidak boleh seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya’’. Adapun seorang laki-laki mengimami beberapa perempuan yang bukan mahram maka hukumnya boleh (Fikh ibadah jilid 1, hal 409)

قال المصنف رحمه الله
* (وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ بِامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ لِمَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ " لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشيطان ’)

Abu Ishaq as-Syarazi – Asy-syafiiyah mengatakan ;
Makruh (Tahrim) seorang laki-laki salat mengimami seorang wanita yang bukan mahram. Karena hadis yang diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” tidak boleh seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan. Jika terjadi maka makhluk yang ketiganya adalah setan.” (al-Muhadzab, jilid 1, hal, 183).

Penjelasan an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab,

(الشَّرْحُ)

الْمُرَادُ بِالْكَرَاهَةِ كَرَاهَةُ تَحْرِيمِ هَذَا إذَا خَلَا بِهَا: قَالَ أَصْحَابُنَا إذَا أَمَّ الرَّجُلُ بِامْرَأَتِهِ أَوْ مَحْرَمٍ لَهُ وَخَلَا بِهَا جَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ لِأَنَّهُ يُبَاحُ لَهُ الْخَلْوَةُ بِهَا فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ وَإِنْ أَمَّ بِأَجْنَبِيَّةٍ وَخَلَا بِهَا حَرُمَ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَعَلَيْهَا لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الَّتِي سَأَذْكُرُهَا إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Yang dimaksud makruh dari keterangan beliau adalah makruh tahrim (artinya: haram). Ini jika lelaki itu berduaan dengan seorang perempuan. Para ulama madzhab Syafii mengatakan, apabila seorang lelaki mengimami istrinya atau mahramnya, dan berduaan dengannya, hukumnya boleh dan tidak makruh. Karena boleh berduaan dengan istri atau mahram di luar salat. Namun jika dia mengimami wanita yang bukan mahram dan berduaan dengannya, hukumnya haram bagi lelaki itu dan haram pula bagi si wanita. Wallahua'lam. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, jilid 4, hal 277).

Download Kitab Sadad ad-Din wa Sidad ad-Dain fi itsbat Najah wa Darajat lil Walidain

Banyak ulama yang telah mengarang kitab yang menjelaskan tentang keselamatan ayah bunda Rasulullah SAW. Selain kitab-kitab karya Imam Suyuthy, diantara kitab-kitab yang menerangkan keselamatan Ayah Bunda adalah kitab Sadad ad-Din wa Sidad ad-Dain fi itsbat Najah wa Darajat lil Walidain karangan Syeikh Sayyid Muhammad bin Rasul a-Barzanji al-Hasani (w. 1103 H). Kitab ini menerangkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ayah bunda Nabi selamat dan tidak termasuk dalam golongan kafir. Beliau juga menolak dalil sebagian golongan yang mengatakan bahwa ayah bunda Nabi kafir dan akan masuk neraka.

Bagi yang berminat memiliki file pdf kitab ini silahkan di download di SINI.


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja