Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Hutang Dengan Lafadh Pinjam


Hidup terkadang tak sejalan seperti yang diharapkan, maunya mulus tapi kenyataannya tak lurus. Selalu saja ada keadaan dimana kita berada dalam keterpurukan bahkan tak jarang kita mengidap penyakit kanker (kantong kering), sehingga sering kita mendatangi kawan kita yang masih berjaya kala itu untuk sekedar meminta pinjaman untuk menopang hidup sehari-hari. Padahal dalam kenyataannya uang tersebut bukan bersifat barang pinjaman karena tak kekal bendanya tapi sebagai hutang yang wajib kita bayar bila kita sudah punya harta.


Pertanyaan : Bolehkan melafadhkan pinjam  padahal yang dimaksud adalah hutang ?

Jawab : boleh, karena ketika seseorang berkata "pinjamilah aku" dengan tujuan berhutang maka lafadh tersebut shareh dalam akad hutang.

Referensi :
Hasyiyah Al Bujairimi 'ala syarh Al Manhaj Al Thullab, juz 3, Hal 83 Cet. Dar kutub ilmiyyah

ولو شاع أعرني في الفرض، كما في الحجاز كان صريحا فيه قاله في الأنوار


Doa - Doa Ketika Membasuh Anggota Wudhuk


Berwudhu adalah mencuci atau membasuh sebagian anggota badan sebelum mengerjakan shalat baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah. Berwudhu juga merupakan syarat sah shalat kita, maka dari itu untuk sahnya shalat kita, perlunya kita memperbaiki wudhu kita dengan beberapa syarat yang telah di tentukan, dan untuk mendapatkan fadhilah yang lebih sempurna maka kita perlu membaca doa-doa dalam setiap membasuh anggota kita sebagaiman doa-doa yang telah kami sebutkan di bawah ini. 

Do`a ketika membasuh dua telapak tangan:

اَللَّهُمَّ احْفَظْ يَدَيَّ عَنْ مَعَاصِيْكَ.

Artinya: Ya Allah peliharalah tangan ku dari maksiat

Doa ketika berkumur-kumur:

اَللَّهُمَّ اَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ

Artinya: Ya Allah bantulah aku untuk menyebut namamu dan bersyukur pada-Mu

Do`a ketika beristinsyaq (memasukkan air dalam hidung ):
اَللَّهُمَّ اَرْحِنِي رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

Artinya: Ya Allah ciumkan olehmu bagiku akan bau surga

Do`a ketika membasuh muka:

اَللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ
Artinya : Ya Allah putihkanlah wajah ku pada hari Engkau putihkan wajah-wajah dan Enkau hitamkan wajah-wajah.

Do`a membasuh tangan kanan:

اَللَّهُمَّ أَعْطِنِي كِتَابِي بِيَمِيْنِيْ وَحَسِبْنِي حِسَابًا يَسِيْراً
Ya Allah ! Berikanlah buku amalan ku dengan tangan kanan ku, dan perhitungkanlah aku dengan perhitungan yang sedikit

اَللَّهُمَّ لَاتُعْطِنِي كِتَابِي بِشِمَالِي وَلَامِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ
Artinya; Ya Allah jangan Enkau berikan buku amalan ku dengan tangan kiri ku dan jangan Enkau berikan dari belakang ku

Do`a ketika megusap kepala:

اَللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ

Artinya: Ya Allah haramkanlah bulu ku dan kulit ku dari api neraka

Do`a membasuh kedua kaki:
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَنْزِلُ مِنَ الْاَقْدَامِ
Artinya: Ya Allah tetapkanlah kakiku di atas titi (shirat) pada hari Enkau jatuhkan kaki-kaki  ke dalam neraka.

Referensi:
Iaanatuttalibin jilid 1, hal 54, cet haramain
Mahalli jilid 1, hal 56, cet Darul ihya Al-kutub


Mengapa Seorang Istri Harus Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga Padahal Itu Merupakan Kewajiban Seorang Suami ?




Dirawayatkan dari Abi Hurairah Ra. Pada suatu hari Nabi Muhammad mendatangi Siti Fatimah Ra, yang sedang menumbuk gandum dalam keadaan menangis, lalu Nabi bertanya “ apa yang membuat kamu menangis wahai Fatimah?” Fatimah menjawab, aku menangis karna batu penumbuk gandum dan kesibukan rumah tangga, maka Nabi Muhammad SAW duduk disampingnya lalu Fatimah berkata “ Wahai bapakku karena kelebihanmu suruhlah Ali untuk membeli budak untuk membantu ku menumbuk gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mendengar perkataan Fatimah Nabi Muhammad SAW berdiri dan mendatangi batu penumbuk gandum dan  mengambil beberapa biji gandum lalu meletakkannya di dalam batu penumbuk gandum tersebut dan berkata “ Dengan Nama Allah yang maha pengasih lagi penyayang dengan izin Allah bergeraklah kamu wahai batu penumbuk gandum lalu dia bergerak dengan sendirinya, sambil bertasbih kepada Allah dengan bahasa yang berbeda, setelah selesai menumbuk Nabi Muhammad SAW memerintahkannya untuk berhenti, dengan izin Allah batu penumbuk gandum berbicara dengan bahasa arab yang fasih, “ Ya Rasulallah Demi Zat yang telah mengutusmu menjadi Nabi dan Rasul jika engkau memerintahkan aku untuk menumbuk seluruh gandum mulai dari timur sampai kebarat aku akan mengerjakannya.

Aku mendengarkan salah satu firman Allah “ Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu, keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan. [at-Tahrim Ayat 6].

Maka sebab itu aku takut termasuk batu yang dimasukkan ke dalam neraka, maka berkata Nabi Muhammad SAW, “ gembiralah kamu, karna kamu akan di jadikan sebagai menjadi istana Fatimah di dalam surga”.

Nabi Muhammad SAW berkata kepada Fatimah Ra, “Jika Allah menghendaki batu penumbuk ini akan bekerja dengan sendirinya, tapi Allah ingin menulis kebaikan-kebaikan dan menghapus seluruh keburukanmu karna pekerjaaanmu ini.

Wahai Fatimah, Siapa saja di antara perempuan yang menumbuk gandum untuk makan suami dan anaknya, setiap satu biji gandum Allah akan menulis satu kebaikan dan dari setiap satu biji gandum Allah akan menghapus satu keburukan, dan akan diangkat derajatnya.

Wahai Fatimah, siapa saja di antara perempuan yang menetes keringatnya ketika menumbuk gandum untuk makanan suaminya maka Allah akan menjadikan tujuh penghalang antara dia dan neraka.

Wallahu A’lam

 Refrensi : kitab Syarah ‘Uqudulujain hal 12

Didahulukan Haji Atau Nikah ?

Deskripsi masalah :

Ibadah haji merupakan ibadah yang wajib dilakukan satu kali dalam seumur hidup bagi orang-orang yang telah memenuhi syarat dan ketentuannya, dan nikah merupakan kebutuhan bagi setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan, kadang kala haji dan nikah datang dalam waktu yang bersamaan.

Pertanyaan :

Manakah yang lebih diutamakan, haji atau nikah ?

Jawaban :

Jika seseorang memiliki kemampuan berupa harta yang memungkinkan untuk melaksanakan ibadah haji dan disaat itu  juga seseorang sudah berhajat untuk menikah karena takut terjadi zina, maka menggunakan hartanya utuk menikah itu lebih di utamakan, namun jika tidak takut terjadi zina, maka menggunakan harta untuk pelaksanakan haji lebih diutamakan.

Referensi :

Syarah Mahalli Juz 2 Hal 87, Cet Toha Putra.

وَلَوْ مَلَكَ مَا يُمْكِنُهُ بِهِ الْحَجُّ وَاحْتَاجَ إلَى النِّكَاحِ لِخَوْفِهِ الْعَنَتَ، فَصَرْفُ الْمَالِ إلَى النِّكَاحِ أَهَمُّ لِأَنَّ الْحَاجَةَ إلَيْهِ نَاجِزَةٌ وَالْحَجُّ عَلَى التَّرَاخِي


Status Shalat Musafir Yang Bermakmum Kepada Orang Mukim

Status Salat Mesafir yang Mengikuti/Berjamaah kepada Orang Mukim..

Deskrpsi masalah :

Salat Qashar adalah melakukan salat dengan meringkas/mengurangi jumlah raka'at. Salat Qashar merupakan keringanan yang diberikan kepada mereka yang sedang melakukan perjalanan (safar dua marhalah), di mana raka'at yang aslinya berjumlah 4 dikurangi/diringkas menjadi 2 raka'at saja.

Pertanyaan :

Bolehkah makmum yang salat Qashar mengikuti imam yang salatnya Itmam (sempurna)??

Jawaban :

Boleh hukumnya makmum yang salat qashar mengikuti imam yang salatnya Itmam (salatnya tidak di Qashar) baik imam tersebut mukim atau musafir pula, tetapi harus menyempurnakan salatnya (tidak boleh Qashar) karena imamnya menyempurnakan. Menyempurnakan salat tetap wajib walaupun makmum tersebut meniat Qashar saat takbiratul ihram. 

Imam Asy-Syafi'i dan Ash-hab rahimahumullah berkata : Syarat qashar adalah tidak bermakmum kepada orang yang salat sempurna, maka barangsiapa orang yang salat qashar bermakmum kepada orang yang salat sempurna meskipun sebentar maka wajib baginya itmam (menyempurnakan sholat), baik imamnya mukim (tidak bepergian) maupun seorang musafir".

Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab juz 4 hal. 356  Maktabah Syamila

قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله: شرط القصر أن لا يقتدي بمتم، فمن اقتدى بمتم في لحظة من صلاته لزمه الإتمام، سواء كان المتم مقيماً أو مسافراً نوى الإتمام أو ترك نية القصر

Tuhfatul Muhtaj juz 2 hal. 422 cet Darul Fikri

(وَ) رَابِعُهَا عَدَمُ اقْتِدَائِهِ بِمُتِمٍّ وَ (لَوْ) احْتِمَالًا فَمَتَى (اقْتَدَى بِمُتِمٍّ) وَلَوْ مُسَافِرًا (لَحْظَةً) وَلَوْ دُونَ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ كَمَا مَرَّ قُبَيْلَ الْأَذَانِ مَعَ الْفَرْقِ كَأَنْ أَدْرَكَهُ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ وَلَوْ مِنْ صُبْحٍ أَوْ جُمُعَةٍ أَوْ مَغْرِبٍ أَوْ نَحْوِ عِيدٍ أَوْ رَاتِبَةٍ وَزَعَمَ أَنَّ هَذِهِ الصَّلَوَاتِ لَا تُسَمَّى تَامَّةً وَأَنَّهَا تُرَدُّ عَلَى الْمَتْنِ غَيْرُ صَحِيحٍ (لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ)

Mugni Muhtaj juz 2 hal. 69 jilid 2 cet. Syarikah Al-qudus

وَرَابِعُ الشُّرُوطِ عَدَمُ اقْتِدَائِهِ بِمَنْ جَهِلَ سَفَرَهُ أَوْ بِمُتِمٍّ كَمَا قَالَ (وَلَوْ اقْتَدَى بِمُتِمٍّ) مُسَافِرٌ أَوْ مُقِيمٌ أَوْ بِمُصَلٍّ صَلَاةَ جُمُعَةٍ أَوْ صُبْحٍ أَوْ نَافِلَةٍ وَلَوْ (لَحْظَةً) أَيْ فِي جُزْءٍ مِنْ صَلَاتِهِ كَأَنْ أَدْرَكَهُ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ أَوْ أَحْدَثَ هُوَ عَقِبَ اقْتِدَائِهِ بِهِ (لَزِمَهُ الْإِتْمَامُ) لِخَبَرِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ " سُئِلَ: مَا بَالُ الْمُسَافِرِ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ إذَا انْفَرَدَ وَأَرْبَعًا إذَا ائْتَمَّ بِمُقِيمٍ؟ فَقَالَ تِلْكَ السُّنَّةُ ".

Hukum Qadha Salat Bagi Orang yang Sembuh dari Gila dan Pitam

Hukum Qadha Salat Bagi Orang Gila dan Pitam.

Deskripsi masalah:
Islam merupakan agama yang penuh toleransi, orang yang beragama Islam tidak dipaksa untuk mengerjakan sesuatu yang tidak sanggup dikerjakannya, sebagaimana dalam masalah salat bila seseorang tidak sanggup melaksanakan salat sambil berdiri maka ia boleh melakukannya dalam duduk, bila dia juga tidak sanggup sambil duduk maka di bolehkan melaksanakannya dalam  keadaan berbaring, bahkan dalam Islam juga tidak diwajibkan mengqadha shalat karena beberapa ozor.

Pertanyaan :
Bagaimanakah status orang pitam  (pingsan hingga) dan gila sehingga melewati waktu salat,  apakah wajib menqadha shalat ,,???

Jawaban :
Salat yang tertinggal karna haid atau nifas tidak diwajibkan qadha (tidak boleh / makruh) ketika suci, begitupula salat yang tertinggal karna mabuk atau pitam maka tidak diwajibkan (disunatkan) qadha ketika sembuh, ini berlaku jika pitam atau mabuk dengan tidak disengaja. Berbeda dengan orang yang meninggalkan salat karena mabuk dengan sengaja, seperti mengkonsumsi sesuatu yang  memang secara adat memabukkan maka orang tersebut wajib menqadha salat yang tertinggal dalam masa mabuk. Namun,  jika sebab-sebab tersebut hilang (haid,nifas dan gila) sedangkan waktu salat masih tersisa walau hanya untuk mentakbiratul ihram maka orang tersebut wajib melakukan salat karena masih berada dalam waktu salat.

Referensi :

Syarah Mahalli juz 1 hal 139, cet Haramain.

(ولا) قضاء على شخص (ذي حيض) أو نفاس إذا طهر (أو جنون أو إغماء) إذا أفاق (بخلاف) ذي (السكر) إذا أفاق منه فإنه يجب عليه قضاء ما فاته من الصلاة زمنه لتعديه بشرب المسكر، فإن لم يعلم كونه مسكرا فلا قضاء. (ولو زالت هذه الأسباب) أي الكفر والصبا والحيض والنفاس والجنون والإغماء (وبقي من الوقت تكبيرة) أي قدرها (وجبت الصلاة) لإدراك جزء من الوقت كما يجب على المسافر الإتمام باقتدائه بمقيم في جزء من الصلاة


(فرع) ذكر ابن الصلاح والنووي في طبقاتهما عن البيضاوي في شرح التبصرة أن الحائض لا يجوز لها القضاء، وفي شرح الوسيط للعجلي أنه مكروه، وكذا في البحر، قال: يكره للحائض ويستحب للمجنون والمغمى عليه.
قول المتن: (بخلاف


Mughni Muhtaj juz 1 Hal 182,,cet Haramain

(ولا) قضاء على شخص (ذي حيض) إذا تطهر وإن تسبب له بدواء، وقد مرت هذه المسألة في باب الحيض فهي مكررة والنفساء كالحائض، ولو عبر بذات لاستغنى عن التقدير المذكور، وكان أولى، وهل يحرم على الحائض قضاء الصلاة أو يكره؟ وجهان أوجههما الثاني (أو) ذي (جنون أو إغماء) إذا أفاق، ومثلهما المبرسم والمعتوه والسكران بلا تعد في الجميع، لحديث «رفع القلم عن ثلاث: عن الصبي حتى يبلغ، وعن النائم حتى يستيقظ، وعن المجنون حتى يبرأ» صححه ابن حبان والحاكم.
(و) قد (بقي من الوقت تكبيرة) أي قدر زمنها فأكثر (وجبت الصلاة) ؛ لأن القدر الذي يتعلق به الإيجاب يستوي فيه قدر الركعة ودونها، كما أن المسافر إذا اقتدى بمتم في جزء من صلاته يلزمه الإتمام، وقضية كلامه أنها لا تلزم بإدراك دون تكبيرة، وهو كذلك كما جزم به في الأنوار وإن تردد فيه الجويني (وفي قول: يشترط ركعة) أخف ما يقدر عليه أحد، كما أن الجمعة لا تدرك بأقل من ركعة، ولمفهوم حديث

Salat Apa Sajakah yang Boleh Diqasar?

Salat Apa Sajakah yang Boleh Diqasar?..

Deskripsi masalah :
Mengqashar salat adalah meringkas salat yang empat raka’at menjadi dua. Qashar adalah kemudahan  (Rukhsah) yang diberikan islam kepada umatnya saat melakukan perjalanan jauh (musafir yang perjalanannya sampai dua marhalah)

“Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: Allah menentukan salat melalui lisan nabimu shallallahu alaihi wa’ala alihi wasallam empat raka’at apabila hadhar (mukim) dan dua raka’at apabila safar” (HR. Muslim, Abu Dawud dll. Lihat Al-jami’li Ahkamil Qur’an, Al- Qurthubi 5/226-227)

Pertanyaan :
1. Salat apa sa jakah yang boleh diqasar ??
2. Bolehkah kita mengqashar salat qadha,,??

Jawaban :
Salat lima waktu yang boleh diqashar adalah salat yang empat raka’at (dhuhur, ashar dan isya) tidak boleh diqashar salat magrib dan subuh. Adapun tentang salat qadha maka yang boleh diqashar hanyalah salat yang tertinngal dalam masa safir yang membolehkan qashar dan  harus diqadha di masa safir pula, tidak boleh jika sudah dalam keadaan mukim. Salat yang tertinggal dalam masa muqim tidak boleh diqashar walau dalam masa musafir, dan salat yang diragukan tertinggalnya dalam masa musafir atau dalam masa muqim maka salat tersebut wajib di sempurnakan agar lebih pasti dan tidak boleh diqasar.

Referensi :
Mugni muhtaj juz 2 hal 51 cet. Syirkah Al-kudus.

(إنَّمَا تُقْصَرُ رُبَاعِيَّةٌ) فَلَا تُقْصَرُ الصُّبْحُ وَلَا الْمَغْرِبُ بِالْإِجْمَاعِ؛ لِأَنَّ الصُّبْحَ لَوْ قُصِرَتْ لَمْ تَكُنْ شَفْعًا فَتَخْرُجُ عَنْ مَوْضُوعِهَا، وَالْمَغْرِبُ لَا يُمْكِنُ قَصْرُهَا إلَى رَكْعَتَيْنِ لِأَنَّهَا لَا تَكُونُ إلَّا وِتْرًا وَلَا إلَى رَكْعَةٍ لِخُرُوجِهَا بِذَلِكَ عَنْ بَاقِي الصَّلَوَاتِ، وَلَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ الرُّبَاعِيَّةُ مَكْتُوبَةً فَلَا تُقْصَرُ الْمَنْذُورَةُ كَأَنْ نَذَرَ أَنْ يُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، وَلَا النَّافِلَةُ كَأَنْ نَوَى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ سُنَّةَ الظُّهْرِ الْقَبْلِيَّةَ مَثَلًا لِعَدَمِ وُرُودِهِ، (مُؤَدَّاةٌ فِي السَّفَرِ) فَلَا تُقْصَرُ فَائِتَةُ الْحَضَرِ فِي السَّفَرِ كَمَا سَيَأْتِي فِي كَلَامِهِ.

Hasyiah Jamal A’la Syarhil Minhaj juz hal 404, cet Daarul Kutub Ilmiah.

(إنَّمَا تُقْصَرُ رَبَاعِيَةٌ مَكْتُوبَةٌ) هِيَ مِنْ زِيَادَتِي (مُؤَادَّةً وْ فَائِتَةَ سَفَرِ قَصْرٍ فِي سَفَرٍ) بِشُرُوطِهِ الْآتِيَةِ فَلَا تُقْصَرُ صُبْحٌ وَمَغْرِبٌ وَمَنْذُورَةٌ وَنَافِلَةٌ وَلَا فَائِتَةُ حَضَرٍ لِأَنَّهُ قَدْ تَعَيَّنَ فِعْلُهَا أَرْبَعًا فَلَمْ يَجُزْ نَقْصُهَا كَمَا فِي الْحَضَرِ وَلَا مَشْكُوكٍ فِي أَنَّهَا فَائِتَةُ حَضَرٍ أَوْ سَفَرٍ احْتِيَاطًا وَلِأَنَّ الْأَصْلَ الْإِتْمَامُ وَلَا فَائِتَةَ سَفَرٍ غَيْرِ قَصْرٍ وَلَوْ فِي سَفَرٍ آخَرَ وَلَا فَائِتَةِ سَفَرِ قَصْرٍ فِي حَضَرٍ أَوْ سَفَرِ غَيْرِ قَصْرٍ لِأَنَّهُ لَيْسَ مَحَلَّ قَصْرٍ.



Kapan Waktu yang Baik Untuk Bersetubuh Agar Mendapat Anak yang Shalih dan Shalihah?

Kapan Waktu yang Baik Untuk Bersetubuh Agar Mendapat Anak yang Shalih dan Shalihah?.

Lbm.Mudimesra.Com- Rasulullah Saw diutuskan kedunia sebagai rahmatan lilalamin, beliau memberi jalan keluar setiap masalah yang dihadapi oleh manusia dalam ruang altar kemaslahatan yang bisa diterima oleh setiap golongan dalam bingkai akhlakul karimah. Agama ini datang dan mengatur segala aspek kehidupan walaupun pada hal yang kelihatnnya kecil. Mengatur hubungan manusia dengan Allah, lebih-lebih lagi hubungan dengan sesama manusia. Bahkan kepada hal yang privasi seperti hubungan suami-istri untuk menggapai keluarga sakinah,mawaddah wa rahmah.

Para alim ulama generasi terdahulu sebagai pewaris Rasulullah saw telah mengajarkan hal tersebut dan hingga hari ini tmasih tertulis rapi dalam kitab-kitab turas, salah satunya adalah kitab "Fathul Izar". Dalam kitab yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangga tersebut kami mengutip beberapa hikmah yang berkaitan dengan waktu dan kondisi dalam berhubungan intim agar mendapat keberkahan saat melakukannya dan menjahui waktu dan kondisi yang tidak baik tersebut agar terhindar dari kebinasaan. Sehingga pada akhirnya bersama istri bisa menggapai sebuah keluarga yang harmoni sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad saw 'Rumahku Surgaku'

Adapun waktu dan kondisi tersebut adalah:

  1. Barang siapa yang bersetubuh pada malam jumat jadilah anaknya penghafal Al-quran.
  2. Barang siapa bersetubuh pada malam Sabtu jadilah anaknya orang yang gila.
  3. Barang siapa bersetubuh pada malam Ahad jadilah anaknya sebagai pencuri atau orang yang suka berbuat zalim.
  4. Barang siapa bersetubuh pada malam Senin jadilah anaknya fakir, miskin atau ridha dengan ketentuan Allah swt
  5. Barang siapa bersetubuh pada malam Selasa jadilah anaknya yang berbakti kepada orang tuanya.
  6. Barang siapa bersetubuh pada malam Rabu niscara Allah karuniakan anaknya sebagai orang yang cerdas, berilmu dan bersyukur kepada Allah swt.
  7. Barang siapa bersetubuh pada malam Kamis niscaya akan dikaruniakan keturunan yang ihklas terhadap ketentuan Allah swt.
  8. Barang siapa bersetubuh pada malam hari raya niscaya akan lahir anak yang mempunyai 6 jari.
  9. Barang siapa bersetubuh sedangkan mulutnya berbicara niscara akan lahir dari padanya anak yang bisu.
  10. Barang siapa bersetubuh pada tempat yang gelap niscara ia akan mewarisi keturunan penyihir.
  11. Barang siapa bersetubuh pada tempat yang terang niscaya akan Allah karuniakan anak yang tampan atau cantik.
  12. Barang siapa bersetubuh dengan melihat aurat pasangannya maka hal tersebut akan mewarisi anak yang buta mata atau buta mata hati.
  13. Barang siapa bersetubuh dengan istri sedangkan ia bertanya tentang perbekalan untuk musafir niscaya akan mewarisi anak yang pendusta.
  14. Barang siapa bersetubuh di bawah pohon yang beruah niscaya keturunannya akan terbunuh dengan benda tajam, tenggelam atau tertimpa pohon.
  15. Barang siapa bersetubuh dengan istrinya yang sedang berhaidh maka ia telah berdosa seperti berzina 70 kali dengan ibunya (Al-Hadis).


قال اهل العلم :
 من جامع زوجته في ليلة الجمعة يصير الولد حاظا في كتاب الله تعالى
 و من جامع في ليلة السبت يكون الولد مجنونا
 و من جامع في ليلة الاحد يكون الولد سارقا لملك غيرة او ظالما
 و من جامع في ليلة الاثنين يكون الولد فقيرا او مسكينا او راضيا لامرالله وفضائه
 و من جامع في ليلة الثلاثاء يكون الولد بارا للوالديه
و من جامع في ليلة الاربعاء يكون الولد كثيرا العقل او كثيرا العلم او كثيرا الشكر
 و من جامع في ليلة الخميس يكون الولد مخلصا في قلبه
 و من جامع في ليلة العيد يكون الولد ذا ست اصابع
 و من جامع زوجته مع التكلم يكون الولد أبكم
 و من جامع في ظلمة يكون الولد ساحرا
 و من جامع مع السراج يكون الولد حسن الصورة
و من جامع رائيا عورة الامرأة يكون الولد أعمى او اعمى القاب
13. و من جامع سايل الزاد لسفر يكون الولد كاذبا
 و من جامع تحت الشجرة المطعوم ثمرها يكون الولد مقتول الحديد او مقتول الغرق او ما في هدم الشجرة
 و من جامع زوجته عند الحيض فكأنما جامع أمه سبعين مرة يكون الولد (الحديث


Allah swt dalam  Surat Ibrahim ayat 7 berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya : Dan ingatlah juga tatkala Tuhanmu mengingatkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Kitab fathul Izal Fi Kasyfi Asrari Li Auqati Harsi Wa Khalqati Abkar Hal.5-7

Sejauh Mana Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak?

Sejauh Mana Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak?.
Add caption

Deskripsi masalah:
Orang tua adalah cerminan bagi anak-anaknya, jika orang tua berakhlak buruk maka anak-anaknya juga akan berakhlak buruk. orang tua adalah pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan psikologis seorang anak. Keberhasilan anak-anaknya dalam beragama adalah saat orang tua mau membimbing anak-anaknya dalam menaati perintah Allah dan menjahui larangannya. Initinya, orang tua adalah pendidikan dan kebutuhan yang sangat penting dalam mendidik anak, lebih-lebih lagi dalam kehidupan beragama, seperti mengajari salat mulai masa kanak-kanak hingga ia telah baligh.

Pertanyaan:
Sejauh mana kewajiban orang tua memerintah anaknya yang belum baligh untuk mengerjakan shalat ???

Jawaban:
Orang tua atau Wali wajib memerintahkan anaknya yang belum baligh tapi sudah mumayyiz (anak yang sudah bisa makan, minum sendiri ) untuk mengerjakan salat (walaupun salat qadha) dan wajib mengajari dan memerintahkan supaya anak memenuhi segala syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam salat.

Orang tua wajib memarahi bahkan memukul (pukulan yang tidak melukai) anak-anaknya yang telah berusia sepuluh tahun jika mareka meninggalkan salat atau meninggalkan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam salat, sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda "perintahkanlah anak-anak mu yang sudah sampai umur tujuh tahun untuk mengerjakan salat dan pukul lah mareka jika mareka telah mencapai umur sepuluh tahun".

Orang tua juga wajib melarang anak-anaknya dari segala yang di larang dalam Agama dan wajib memerintahkan mereka untuk mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan dalam Agama. Orang tua juga wajib mengajari anak-anaknya segala sesuatu yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya walau itu adalah pekerjaan Sunat dan kewajiban tersebut bagi orang tua berlaku hingga si anak telah baligh.

Adapun hikmah memerintahkan hal demikian kepada mareka adalah agar mareka terbiasa dalam mengerjakan ibadah dan tidak akan mudah meninggalkannya ketika mareka sudah baligh kelak. Memukul mareka bukan berarti menyiksa tetapi mendidik mareka agar benar dan beradab dalam beragama.

Referensi
Iaanatutalibiin juz 1 hal 24, cet Tuha putra
ويؤمر ذو صبا ذكر أو أنثى مميز بأن صار يأكل ويشرب ويستنجي وحده أي يجب على كل من أبويه وإن علا ثم الوصي. وعلى مالك الرقيق أن يأمر بها أي الصلاة ولو قضاء وبجميع شروطها لسبع أي بعد سبع من السنين أي عند تمامها وإن ميز قبلها. وينبغي مع صيغة الأمر التهديد ويضرب ضربا غير مبرح وجوبا ممن ذكر عليها أي على تركها ولو قضاء أو ترك شرط من شروطها لعشر أي بعد استكمالها للحديث الصحيح: مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها [رواه الترمذي رقم: ٤٠٧, وأبو داود رقم: ٤٩٤, والدارمي رقم: ١٤٣١, والحاكم في المستدرك رقم: ٩٤٨, ١/٣٨٩] , كصوم أطاقه فإنه يؤمر به لسبع ويضرب عليه لعشر كالصلاة.
وحكمة ذلك التمرين على العبادة ليتعودها فلا يتركها.
وبحث الأذرعي في قن صغير كافر نطق بالشهادتين أنه يؤمر ندبا بالصلاة والصوم يحث عليهما من غير ضرب ليألف الخير بعد بلوغه وإن أبى القياس ذلك. انتهى.
ويجب أيضا على من مر نهيه عن المحرمات وتعليمه الواجبات ونحوها من سائر الشرائع الظاهرة ولو سنة كسواك وأمره بذلك ولا ينتهي وجوب ما مر على من مر إلا ببلوغه رشيدا وأجرة تعليمه ذلك كالقرآن والآداب في ماله ثم على أبيه ثم على أمه.

Mahalli juz 1, hal 139, cet Haramain.

(ويؤمر بها لسبع ويضرب عليها لعشر) لحديث أبي داود وغيره «مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين، وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها» وهو حديث صحيح كما قاله المصنف في شرح المهذب.
قال: والأمر والضرب واجب على الولي أبا كان أو جدا أو وصيا أو قيما من جهة القاضي، وفي الروضة كأصلها: يجب على الآباء والأمهات تعليم أولادهم الطهارة والصلاة بعد سبع سنين، وضربهم على تركها بعد عشر سنين

Bagaimana Hukumnya Jika Zakar (Penis) Bergerak dalam Salat?

Bagaimana Hukumnya Jika Zakar (Penis) Bergerak dalam Salat?..

Deskripsi masalah :
Gerakan anggota tubuh dalam salat memang memberikan dampak yang baik bagi kesehatan tubuh, karena setiap gerakannya dapat menimbulkan atau merangsang jaringan sel dan peredaran di dalam tubuh untuk bekerja lebih optimal. Kondisi tubuh akan lebih sehat dan segar karena aliran darah lancer dan tidak ada yang tersumbat. Gerakan dalam salat ada yang membatalkan salat dan ada juga yang tidak sebagaimana yang telah disebutkan dalam bab yang membatalkan salat.

Pertanyaan :
Namun jika yang bergerak itu Zakar , apakah membatalkan salat?

Jawaban :
Gerakan zakar yang normal dalam salat tidak berpengaruh kepada batal salat sekalipun banyak dan berulang-ulang karena yang demikian dianggap gerakan ringan dan hanya dihukumkan makruh. Gerakan zakar tersebut sama halnya dengan gerakan jari saat mengaruk dengan ketentuan tidak bergerak telapak tangannya. Gerakan pelupuk mata, bibir, zakar atau lisannya tidak membatalkan salat karena semuanya masih mengikuti (menempel dengan tidak bergerak) pada tempatnya yang tetap dan tidak bergerak. Seperti seperti halnya jari-jemari yang tetap pada tangan dan kelopak mata yang ada pada kepala. Namun demikian, bila dilakukan dengan sengaja dan bertujuan untuk mempermainkan salat, maka salatnya dihukumi kepada batal, karena mempermainkan salat. Wallahua’lam..

Referensi :

Iaanatuttalibin juz 1 hal 215, cet haramain

(لا) تبطل (بحركات خفيفة) وإن كثرت وتوالت، بل تكره، (كتحريك) أصبع أو (أصابع) في حك أو سبحة مع قرار كفه، (أو جفن) أو شفة أو ذكر أو لسان، لانها تابعة لمحالها المستقرة كالاصابع.

Mahalli juz 1, hal 190 cet. daarul ihya al-kutub

(وتبطل بالوثبة الفاحشة) قطعا كما قال في أصل الروضة إلحاقا لها بالكثير (لا الحركات الخفيفة المتوالية كتحريك أصابعه في سبحة أو حك في الأصح) إلحاقا لها بالقليل والثاني ينظر إلى كثرتها
قوله: (كتحريك أصابعه) أي مع قرار ساعده وراحته، وهي المراد بقول بعضهم مع قرار كفه، لأن الأصابع بعض الكف بل الوجه، الاكتفاء بقرار ساعده فقط، فراجعه وكالأصابع آذانه وأجفانه وحواجبه ولسانه وشفتاه، وذكره وأنثياه.

Hikmah Memakai Logo Terompah Nabi Muhammad Saw


Deskripsi Masalah : 

Zaman modern kaum remaja banyak memakai gaun bercorak westernisasi seolah-olah ini merupakan kemajuan jika mereka meninggalkannya disebut ketinggalan zaman. Akan tetapi dibalik derasnya budaya yang tidak mendidik tersebut para santri maupun guru dipesantren dan dayah-dayah menunjukan tren tersendiri dengan memakai pakaian, peci dan sebagainya yang bergambar berbentuk lonjong dan panjang  , gambar ini bukan hanya hiasan semata tetapi ini adalah bentuk sandal atau terompah nabi Muhammad saw. 

Pertanyaan :

Apakah hikmah memakai logo atau gambar yang berbentuk terompah nabi Muhammad saw ?

Jawab :

Tersebut dalam kitab Sa’adatu Daraini karangan Syaikh Yusuf bin Ismail An Nabhani pada faedah ke 40 bahwasanya memakai gambar atau sesuatu yang berbentuk sandal atau terompah nabi Muhammad saw hikmahnya akan bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw. Dan barang siapa memakai pakaian tersebut niscaya manusia akan tertanam rasa cinta kepadanya  serta seolah-olah menziarahi nabi saw.

   الفائدة الاربعون)  ملازمة حمل مثال نعل النبي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم تفيد رؤيته في المنام عليه الصلاة والسلام كما ذكره الشهاب احمد المقري في كتابه فتح المتعال في مدح النعال , ونص عبارته ومنها أي من خواص مثال النعل الشريف ماقاله بعض الأئمة فيما جرب من بركته : أن من لازم حمله كان له القبول التام
من الخلق ولا بد ان يزور النبي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم اه 

 , 

Kitab Sa’adatu Daraini hal.473 Karangan Yusuf bin Ismail an Nabhani (Cet Darul Fikri)



Hukum Menceraikan Isteri Yang Buruk Akhlak

Deskripsi Masalah :

Rumah tangga yang bahagia selalu diidamkan oleh setiap manusia, hal utama yang harus ada untuk menciptakan rumah tangga yang sakinah adalah akhlak yang baik pada suami dan isteri, namun kadang keburukan akhlak seorang isteri yang melampaui batas menyebabkan kebahagian dalam rumah tangga menjadi sirna.

Pertanyaan :

Apa hukum menceraikan isteri yang demikian ?

jawaban :

Sunnat menceraikan isteri yang memiliki akhlak yang buruk, dengan catatan bahwa akhlak yang buruk yang dimaksudkan disini adalah akhlak yang buruk yang telah melampaui batas, artinya pada kebiasaan seseorang tidak akan sanggup lagi berumah tangga dengan isteri yang memiliki akhlak demikian.

Note : Sabar seorang suami terhadap keburukan akhlak isterinya yang melampaui batas itu merupakan hal yang sangat terpuji dan mendapat fahala yang besar dari Allah SWT.

Referensi :


مندوب: كأن يعجز عن القيام بحقوقها ولو لعدم الميل إليها، أو تكون غير عفيفة ما لم يخش الفجور بها أو سيئة الخلق: أي بحيث لا يصبر على عشرتها عادة، فيما استظهره شيخنا، وإلا فمتى توجد امرأة غير سيئة الخلق.
وفي الحديث: المرأة الصالحة في النساء كالغراب الاعصم كناية عن ندرة وجودها: إذ الاعصم هو أبيض الجناحين


(قوله: أو سيئة الخلق) معطوف على غير عفيفة: أي أو تكون سيئة الخلق وبين المراد بها بقوله: (أي بحيث لا يصير على عشرتها عادة) أي بأن تجاوزت الحد في ذلك.

وقوله وإلا إلخ.

أي وإن لم يكن المراد بها ما ذكر فلا يصح لأنه يلزم أن كل رجل يندب له طلاق زوجته لأن كل امرأة سيئة الخلق ولا يتصور أنها توجد امرأة في أي وقت وليست بسيئة الخلق

Ianatutthalibin Juz 4 Hal 3 Cet Haramain.

Hukum Tidur Dalam Mesjid

Tidur Dalam Mesjid
Mesjid adalah salah satu tempat beribadah, namun kadang setelah kita shalat dalam mesjid lalu kita tidur, hal ini sering kita lihat disekeliling kita terutama disiang hari.

Pertanyaan:
Bagaimanakah hukum tidur dalam mesjid?

Jawaban:
  1. Tidur dalam mesjid boleh bagi orang yang tidak berjunub (hadas besar) yang tidurnya tersebut tidak mengganggu orang yang shalat.
  2. Haram tidur dalam mesjid bagi orang yang tidak berjunub (hadas besar) yang tidurnya tersebut dapat mengganggu orang yang sedang shalat.
  3. Haram tidur dalam mesjid bagi orang yang berjunub, baik tidurnya tersebut dapat mengganggu atau tidak mengganggu orang yang sedang shalat


Referensi :

فَائِدَةٌ
لَا بَأْسَ بِالنَّوْمِ فِي الْمَسْجِدِ لِغَيْرِ الْجُنُبِ وَلَوْ لِغَيْرِ أَعْزَبَ نَعَمْ إنْ ضَيَّقَ عَلَى الْمُصَلِّينَ أَوْ شَوَّشَ عَلَيْهِمْ حَرُمَ النَّوْمُ فِيهِ قَالَهُ فِي الْمَجْمُوعِ قَالَ وَلَا يَحْرُمُ إخْرَاجُ الرِّيحِ فِيهِ لَكِنْ الْأَوْلَى اجْتِنَابُهُ مُغْنِي.

Hasyiah Syarwani 'ala Tuhfah Juz 1 Hal 319 Cet Dar Ihya.

Hukum Iddah Wanita Yang Mandul

Deskripsi Masalah :

Hikmah disyari'atkan iddah adalah untuk tidak terjadinya ikhtilat ( percampuran mani ) sehingga jelas nasab dari bayi yang ada dalam kandungan, namun ada juga wanita yang mandul sehingga tidak mungkin padanya ada keturunan.

Pertanyaan :

Apakah masih wajib iddah bagi wanita yang mandul ?

Jawaban :

sebelum kita menjawab pertanyaan diatas maka terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian dari iddah. Iddah adalah masa seorang wanita untuk tidak menikah, iddah disebabkan oleh talak, fasakh, dan meninggal suami.

Wajib iddah yang disebabkan oleh talak dan fasakh jika sudah terjadinya watak dalam qubul atau dubur sebelum talak dan fasakh, jika belum terjadi demikian maka tidak wajib iddah, sedangkan iddah yang disebabkan oleh meninggal suami itu wajib walau belum terjadi watak.

Jadi wanita mandul jika suaminya meninggal maka wajib baginya untuk iddah, namun apabila ditalak maka wajib iddah jika sebelumnya pernah terjadi watak ( hubungan intim ) dalam qubul atau dubur dan tidak wajib iddah jika sebelumnya tidak terjadi demikian.

Referensi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا

Surat al-Ahzab ayat 49.

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Surat al-Baqarah ayat 234.

فصل في العدة هي مأخوذة من العدد لاشتمالها على عدد أقراء وأشهر غالبا وهي شرعا مدة تتربص فيها المرأة لمعرفة براءة رحمها من الحمل أو للتعبد.
وهو إصطلاحا ما لا يعقل معناه عبادة كان أو غيرها ولتفجعها على زوج مات.
شرعت أصالة صونا للنسب عن الاختلاط (تجب عدة لفرقة زوج حي) بطلاق أو فسخ نكاح حاضر أو غائب مدة طويلة (وطئ) في قبل أو دبر، بخلاف ما إذا لم يكن وطئ وإن وجدت خلوة (وإن تيقن براءة رحم) كما في صغيرة وصغير.
(ولوطئ) حصل مع (شبهة) في حله كما في نكاح فاسد وهو كل ما لم يوجب حدا على الواطئ.

I'anatutthalibin Juz 4 Hal 37-39 Cet Haramain.

(و) تجب العدة (لوفاة) زوج حتى (على) حرة (رجعية وغير موطوءة) لصغر أو غيره، وإن كانت ذات أقراء

I'anatutthalibin Juz 4 Hal 42 Cet Haramain.

Hadits Jariyah Dalam Pandangan Ulama


Tentang permasalahan hadits jariyah sungguh telah santer ditelinga kaum muslimin, sebagian kelompok sesat dalam islam yang menganut faham tajsim menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Allah SWT berada dilangit, padahal telah jelas dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah kalau Allah SWT tidak bertempat, para Ulama dahulu tidak pernah mengatakan Allah dilangit dan menjadikan hadits ini sebagai dalilnya, sebut saja salah satunya adalah Mujaddid ke 3 dalam islam yaitu Abu Hasan Al-Asy’ari,
dan patut juga diketahui bahwa Imam Muslim dalam kitabnya Sahih Muslim tidak menulis hadits ini dalam bab Aqidah akan tetapi menulisnya dalam bab Furu’, ini membuktikan bahwa hadits jariyah bukanlah dalil bagi ilmu tauhid sebagai legalitas untuk pernyataan “Allah SWT berada dilangit


Pertanyaan:
  1. Sebenarnya bagaimana pandangan Ulama terhadap hadits ini dari sisi istidlal?
  2. Bagaimana inplisit (fahaman) hadits ini dilihat dari sudut Aqidah?

Jawaban :
  1. Hadits ini dalil bagi ilmu fiqih bukan ilmu tauhid dalam masalah budak yang dimerdekakan itu mesti mukmin (dalam ilmu fiqh budak yang dimerdekakan tidak boleh kafir).
  2. Hanya menguji budak tersebut apakah beriman tentang adanya Allah/tidak.

Sungguh sangat menarik bila kita berbicara masalah istidlal dari sebuah nash Ayat/Hadits, karena ini merupakan point penting yang perlu kita garis bawahi dalam mengambil sebuah kesimpulan berdasar perkataan Allah SWT / Rasulullah SAW,
mari kita lihat tulisan dibawah ini ( Imam Mawaridi kitab Hawi Kabir jilid 13 Hal 411 Cet Dar Al-Fikr ):

(مسألة:)
قال الشافعي رحمه الله تعالى: (لم أعلم أحدا ممن مضى من أهل العلم ولا ذكر لي عنه ولا بقي من خالف في أن من ذوات النقص من الرقاب ما لا يجزئ ومنها ما يجزئ)


قال الماوردي: وأصل هذا أن الله تعالى أطلق تحرير الرقبة في كتابه بقوله {فتحرير رقبة} أطلقها ولم يصفها فأجمع من تقدم الشافعي وعاصره على أن عموم الإطلاق غير مستعمل وأن من الرقاب ما يجزئ ومنها ما لا يجزئ فكان العموم مخصوصا وخالف داود من بعد فقال: العموم مستعمل وجميع الرقاب تجزئ من معيب وسليم وناقص وكامل تمسكا بالعموم واحتجاجا بالتسوية بين الصغير والكبير مع اختلافهما في النقص والكمال، وهذا خطأ مدفوع بإجماع من تقدمه، ولما روي أن رجلا آتي رسول الله - صلى الله عليه وسلم - برقبة سوداء فقال: يا رسول الله علي عتق رقبة أفأعتق هذه؟ فقال لها رسول الله - صلى الله عليه وسلم - (أين الله؟) فأشارت إلى السماء فقال لها (من أنا؟) فأشارت إليه. وإلى السماء تعني رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال: أعتقها فإنها مؤمنة فدل سؤال السائل عنها وامتحان النبي - صلى الله عليه وسلم - لها على أن العموم مخصوص وأن من الرقاب ما يجزئ ومنها ما لا يجزئ فبطل به قول داود أن كل الرقاب تجزئ، ولأن الله تعالى أطلق في الكفارة ذكر العتق والإطعام ثم كان عموم الإطعام مخصوصا في أن لا يجزئ منه إلا مقدر ولا يجزئ ما انطلق عليه الاسم من إطعام لقمة وكسرة، وكذلك العتق يجب أن يكون مخصوص العموم بما يقتضيه مقصود التحرير.


Artinya : Imam Syafii berkata “ Tidak pernah saya dapatkan para Ulama dahulu yang beda pendapat tentang sebagian budak ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh dimerdekakan"


Imam Mawaridi berkomentar : Dasar pendapat sebagian budak ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh dimerdekakan adalah perkataan Allah SWT dalam Al-Quran secara mutlak “merdekakan budak” tidak disfatkan budak yang bagaimana, maka Imam Syafii dan Ulama lainnya terjadi konsensus ( ijmak ) bahwa ayat tersebut tidak diaplikasikan/diterapkan secara mutlak dan sesungguh budak itu ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh dimerdekakan, maka ayat tersebut tergolong dalam ‘am makhsus , lalu berbedalah pendapat Daud ( Ulama sesudah Imam Syafii ) beliau berkata “ayat tersebut diaplikasikan secara umum/kolektif dan seluruh budak boleh dimerdekakan karena berdasar umum ayat dan berdalil dengan persamaan budak kecil/besar padahal beda keduanya dari sisi kekurangan dan kesempurnaan”. Pendapat Daud ini adalah pendapat salah yang tertolak dengan ijmak Ulama sebelumnya. Manakala dalam satu riwayat tertulis bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dengan seorang budak yang hitam, lalu oarang tersebut berkata “ Ya Rasulallah saya ada kewajiban memerdekakan seorang budak, apakah boleh saya merdekakan budak ini ( budak hitam yang dibawanya tadi ) ?, Rasul SAW bertanya kepada budak tersebut Dimana Allah SWT ? si budak mengisyarah ke langit, lalu Rasul SAW bertanya lagi Saya siapa ? si budak mengisyarah kepada Rasul SAW dan ke langit maksudnya si budak dia ( Nabi Muhammad SAW ) adalah utusan Allah SWT, lalu Rasul SAW berkata merdekakanlah dia karena dia termasuk budak yang mukmin”, maka pada riwayat ini berdasar dari pertanyaan orang tadi tentang perihal budak dan pertanyaan Nabi SAW kepada budak itu menunjukkan bahwa Ayat yang Umum tentang memerdekakan budak itu bermakna khusus dan sesungguh budak itu ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh, maka salahlah pendapat Daud yang menyatakan seluruh budak boleh dimerdekakan.

Dari tulisan kitab Hawi Kabir diatas jelas bahwa Ulama dahulu menjadikan Hadits Jariyah tersebut sebagai dalil dalam masalah fiqih yaitu masalah memerdekakan budak, Imam Mawaridi mengatakan Hadits tersebut menunjukkan bahwa keumuman ayat ke 3 Surat Al-Mujadalah tentang memerdekakan budak itu bermakna khusus sehingga nyatalah kebenaran ijmak Ulama bahwa ayat tersebut tidak diaplikasikan/diterapkan secara mutlak dan sesungguh budak itu ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh dimerdekakan. Hadits jariyah ini dijadikan dalil bahwa budak yang dimerdekakan itu mesti budak muslim.

Perlu juga diketahui bahwa Abu Husain Al-Yamani juga menjadikan hadist jariyah ini sebagai dalil dalam masalah Fiqh tentang masalah budak, beliau mengatakan dalam kitabnya yaitu kitab Al-Bayan fi Mazhab Al-Imam Syafii jilid 10 hal 364 Cet Dar Al-Minhaj Muwafiq li Al-Mathbu’ :

. وهذا يقتضي أن كل رقبة واجبة لا يجزئ فيها إلا مؤمنة

Artinya : Hadits ini mengkhendaki seluruh budak yang wajib tidak boleh dimerdekakan kecuali mukmin

Bahkan Imam Mazhab kita yaitu Imam Syafii juga menjadikan hadits jariyah sebagai dalil dalam ilmu Fiqh yaitu budak yang dimerdekakan mesti budak muslim ( Al-Um Jilid 5 Hal 298 Muwafiq li Al-Matbu’) .

Imam Ramli Kabir mengatakan dalam kitabnya ( kitab Hasyiyah Ramli ‘ala Asnal Mathalib Jilid 3 Hal 363 Cet Dar Al-Kutub ):

[فصل الموسر يكفر في الظهار بالعتق]
....... قوله ولأن الزكاة لا يجوز صرفها لكافر) فكذا الكفارة بجامع التطهير «ولحديث الذي

Artinya : Fasal tentang orang merdeka yang membayar kafarah zihar dengan memerdekakan budak, kata Musannif “karena sesungguh zakat tidak boleh diberikan untuk kafir” begitu juga kafarah dengan persamaan untuk menyucikan karena hadits....... ( Hadits Jariyah ).

Syek Kamaluddin mengatakan dalam kitab Najmul Wahhaj syarah Minhaj Jilid 8 Hal 65 Cet Dar Al-Minhaj Muwif li Al-Matbu’ :

واحتج الشافعي على التقييد بحديث معاوية بن الحكم: أنه سال النبي صلى الله عليه وسلم أن عليه عتق رقبة فهل تعتق عليه هذه الجارية؟ فقال لها رسول الله ملى الله عليه وسلم: (أين الله؟) قالت: في السماء، فقال: (من أنا؟) فقالت: رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: (أعتقها فإنها مؤمنة) ولو كان يجزئه غير المؤمنة .. لقال: أعتق أي رقبة شئت.

Artinya : Imam Syafii berdalil bahwa maksud budak adalah budak mukmin dengan hadits Mu’awiyah ( hadits tentang jariyah ), Bertanya ia kepada Rasulullah SAW bolehkah saya memerdekakan budak ini, Nabi SAW bertanya kepada budak Dimana Allah ? budak berkata fi as-sama', lalu Nabi SAW bertanya lagi Saya siapa ? budak menjawab Utusan Allah SWT, Nabi berkata Merdekakanlah karena dia adalah mukmin. Seandainya budak yang dimerdekakan boleh non mukmin maka Nabi SAW sungguh berkata “merdekakanlah budak apa saja !”

Imam Rafii mengatakan kitab Fathul Aziz syarah Wajiz jilid 12 Hal 268 Cet Dar Al-Kutub Muwafiq li Al-Matbu’ :

ذهب الجمهور، ومنهم مالك، والشافعي، وأحمد في مشهور مذهبه، والأوزاعي: إلى أن عتق الرقبة الكافرة في كفارة اليمين لا يجزىء، ولا تسقط الكفَّارة به.
احتج الجمهور بما رواه مسلم، والنَّسَائِيُّ عن معاوية بن الحكم قال: كانت لي جارية فَأتيت النبيَّ
= -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ: عليَّ رقبة. أفأعتقها فَقَالَ لَهَا رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَينَ اللهُ؟ فَقَالَتْ: فِي السَّمَاءِ فقال: مَنْ أَنَا؟ فَقَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اعْتِقهَا فَإنَّهَا مُؤْمِنَةٌ".
ووجه الدلالة: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- أَخَّرَ الجواب عن السائل، حتى علم ما عليه تلك الرقبة من الإِيمان أو الكفر، فلما تأكد له إيمانها أجابه -صلى الله عليه وسلم- بأن يعتقها، وقال له: "فَإنَّهَا مُؤمِنَةٌ"، فلو لم يكن وصف الإِيمان له دخل في إجزاء العتق، لما كان لهذا التأخير فائدة، ومثل ذلك يجلُّ عنه مقام الرسول -صلى الله عليه وسلم-.
وأيضاً فإنه عليه الصلاة والسلام علَّق عتقها على الإِيمان، وتعليق ذلك يدل على أن الإِيمان علَّة الإِجزاء؛ لأن تعلُّق الحكم بالمشتق مؤذن بأن مبدأ الاشتقاق علة فيه.
وقالوا: إن الرقبة في الآية، وان كانت مطلقة غير مقيدة بوصف الإِيمان إلا أن هذا الحديث يصلح أن يكون مقيداً لها، فيكون المقصود من الرقبة فيها: هي الرقبة المؤمنة

Artinya : Jumhur Fuqaha ( termasuk Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Auza’i ) berpendapat tidak boleh memerdekakan budak kafir untuk kafarah yamin. Mereka berdalil dengan Hadits yang diriwayat oleh Imam Muslim dan Imam An-Nasai dari Mu’awiyah, Berkata ia saya memiliki seorang budak lalau saya mendatangi Nabi SAW, saya berkata “saya wajib memerdekakan budak bolehkah saya memerdekakan budak ini, Nabi SAW bertanya kepada budak Dimana Allah ? budak berkata fi as-sama', lalu Nabi SAW bertanya lagi Saya siapa ? budak menjawab Utusan Allah SWT, Nabi berkata Merdekakanlah karena dia adalah mukmin”.
Sisi dalilnya adalah Sesungguh Nabi SAW menjawab pertanyaan pada akhir pembicaraan sehingga diketahuikan apakah budak tersebut mukmin atau kafir, maka manakala diketahuikan bahwa budak itu mukmin Rasul SAW menjawab boleh memerdekakannya, Nabi SAW berkata “ budak itu mukmin” jika seandainya keimanan itu bukan barometer untuk boleh dimerdekakan maka memberi jawaban oleh Nabi SAW pada akhir itu tidak ada faedah. Dan juga Nabi SAW mengaitkan merdeka dengan iman, kait demikian menunjukkan sesungguh iman itu alasan boleh memerdekakan, karena mengaitkan hukum dengan musytaq maka illahnya adalah musytaqmin. Dan mereka Fuqaha mengatakan sesungguh kata “budak” dalam ayat ke 3 surat Al-Mujadalah walau tidak dikaitkan dengan iman namun hadits ini menjadi kait baginya sehingga maksud “budak” dalam ayat adalah budak mukmin.

Dari beberapa Nash kitab diatas sangat jelas bagi kita bahwa para Ulama mengistidlal tentang sifat budak yang akan dimerdekakan dari hadits jariyah tersebut, tentu mereka sangat faham dengan konteks hadits yang mereka jadikan dalil untuk sebuah permasalahan.

Kesimpulan:
Walau teks hadits berbeda-beda, namun yang ingin kami sampaikan disini bahwa Ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil dalam ilmu Fiqh, dalam ilmu Tauhid hadits ini tidak dijadikan dalil lebih lagi dalil untuk menyatakan Allah dilangit.

Pemahaman hadits ini dilihat dari sudut Aqidah

Dilihat dari sisi aqidah dalam hadits tersebut Nabi SAW hanya ingin mengetahui apakah budak tersebut beriman atau tidak.
Imam Imam Rafii mengatakan dalam kitab Fathul Aziz syarah Wajiz Jilid 9 Hal 297 Cet Dar Al-Kutub Muwafiq li Al-Matbu’ :

قال صاحب "التتمة": وإنما جعلت الإشارة إلى السَّماء دليلاً على إيمانها؛ لأنهم كانوا عَبَدة الأصنام، فأفهمت الإشارة البراءة منْها.

Artinya: Pengarang kitab Tatimmah mengatakan bahwasanya dijadikan isyarah si budak kelangit sebagai bukti keimanannya kepada Allah, karena mereka budak dahulunya penyembah patung.

Jadi tidak benar bila dikatakan Allah dilangit berdasar hadits jariyah tersebut, dalam hadits hanya menunjukkan budak tersebut beriman kepada Allah SWT.

kemudian Abu Faraj mengatakan dalam kitab Al-Baz Al-Asyhab Al-Mungqaz ‘ala Mukhalifi Al-Mazhab Hal 94 Cet Dar Al-Jinan :

قلت : قد ثبت عند العلماء ان الله تعالى لا يحويه السماء والأرض و لا تضمه الأقطار وإنما عرف بإشارتهم تعظيم الخالق عندها

Artinya: Saya berkata “Sungguh telah tetap disisi Ulama bahwa Allah SWT tidak diliputi oleh langit dan bumi, dan hanyasanya diketahuikan dari isyarah budak kelangit yaitu si budak mengagungkan Sang Pencipta ( Allah SWT ).

Ulama telah berpendapat bahwa Allah tidak berada dilangit atau dibumi, dan dalam hadits jariyah ketika sibudak menunjuk kelangit itu artinya si budak mengangungkan Allah SWT.

Kesimpulan:

Ketika dilihat dari segi ketauhidan pada hadits jariyah maka kita ketahui berdasar pernyataan Ulama bahwa tidak menunjukkan Allah itu berada dilangit, kita wajib beriktiqad Allah tidak bertempat, karena itulah aqidah yang benar dalam islam, cukup bagi kita pernyatan Ulama, jangan kita beristidlal dengan Ayat/Hadits jika memang ilmu yang kita miliki belum mapan karena nantinya akan berujung kepada kesalahan yang fatal, seandai pun memang kita mencoba melihat sisi istidlal maka lihatlah jalur yang telah ditempuh oleh Ulama karena merekalah pewaris ilmu para Ambiya.

Referensi lainnya:

أين الله قالت في السماء قال من أنا قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الإيمان أحدهما الإيمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي إذا دعاه الداعي استقبل السماء كما إذا صلى المصلي استقبل الكعبة وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم

Imam Nawawi kitab Syarah Sahih Muslim Jilid 5 Hal 27 Cet Darl Al-Makrifah Beirut Lebanon.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja