Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Bolehkah perempuan haid memandikan mayat?

Deskripsi masalah:

Salah satu hal yang harus di tajhizkan terhadap jenazah adalah memandikannya, memandikan mayit merupakan fardhu kifayah terhadap orang yang ditinggalkannya, dimana tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk membersihkan si mayat yang akan di masukkan ke liang lahat nantinya.

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan terhadap orang yang sedang haid memandikan jenazah?

Jawaban:

Dalam mazhab syafi’ dan hambali dibolehkan terhadap orang berjunub atau berhaid memandikan mayit (tidak dimakruhkan) karena maksud dari memandikan jenazah itu sendiri adalah membersihkan mayit yang bisa dilakukan walau oleh orang berjunub dan haid dan tidak disyaratkan terhadap si ghasil (yang memandikan) harus dalam keadaan suci.

- Hasyiyah Al-bajuri 1/246 :

ولا يكره لنحو جنب غسله

- Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 39/414-415 :

ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى جواز أن يغسل الجنب والحائض الميت بلا كراهة لأن المقصود هو التطهير، وهو حاصل بالجنب والحائض، ولأنه لا يشترط في الغاسل الطهارة وذهب المالكية إلى كراهة غسل الجنب للميت لأنه يملك طهره ولا يكره تغسيل الحائض لأنها لا تملك طهرها . وروي عن أبي يوسف أنه كره للحائض الغسل لأنها لو اغتسلت لنفسها لم تعتد به فكذا إذا غسلت



Mengenal Kitab Tuhfatul Muhtaj

Kitab Tuhfatul Muhtaj ini merupakan kitab fiqh karangan Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami merupakan syarah atas kitab Minhajul Thalibin Imam Nawawi. Sebagaimana telah maklum bahwa kitab Minhaj Imam Nawawi ini merupakan salah satu kitab matan fiqh yang terpopuler semenjak masa Imam Nawawi hingga sekarang. Para ulama berlomba-lomba berkhidmat kepada kitab ini. Ada yang hanya mempelajari dan mengajarinya saja, ada yang juga menghafalnya, ada yang meringkasnya atau mensyarahnya.
Di antara sekian banyak kitab fiqh mukhtashar, kitab Minhaj merupakan kitab yang mukhtashar yang paling banyak di syarah oleh para ulama. Di antara syarah kitab Minhaj yang paling populer adalah kitab Tuhfatul Muhtaj karangan Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami. Tuhfah menjadi kitab fiqh karangan ulama mutaakhirin yang paling populer bersama dengan Nihayatul Muhtaj karangan Imam Jamal Ramli.
Kitab tuhfah merupakan kitab fiqh aliyah yang hanya dipelajari oleh para pelajar yang telah mempelajari kitab-kitab fiqh lain yang lebih kecil. Maka majlis pengajian Tuhfah merupakan majlis para ulama. Maka untuk zaman ini memang jarang para pelajar yang belajar sampai kitab Tuhfah kecuali hanya menelaahnya sendiri saja. KH. Sirajuddin Abbas menceritakan bahwa majlis kitab Tuhfah di Padang yang di asuh oleh KH. Sa’ad Munka di hadiri oleh para ulama-ulama besar Padang seperti Syeikh Abbas Lawas Bukit Tinggi, Syeikh Abdul Wahed Tabek Gadang, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, Syeikh Yahya al-Khalidi Magek Bukit Tinggi dll.

Kitab Tuhfah ini tergolong unik. Beberapa hal yang unik yang perlu kita ketahui dari kita Tuhfahtul Muhtaj antara lain;
  • 1. Selesai dikarang dalam waktu yang relatif singkat.
Kitab Tuhfatul Muhtaj dikarangan oleh Ibnu Hajar dalam waktu yang singkat, beliau memulainya pada 12 Muharram 958 H dan selesai pada 27 Zulqa’dah 958 H, hanya sepuluh bulan, satu masa yang sangat singkat untuk satu karya sebesar Tuhfah. Perbedaan sangat terlihat jauh ketika kita membandingkan dengan syarah Minhaj lain yaitu Nihayatul Muhtaj yang selesai dalam masa sepuluh tahun (mulai bulan Zul qa’dah 963 H/1555 M dan selesai pada malam jumat 19 jumadil akhir 973 H/1565 M) dan Mughni Muhtaj yang selesai dalam jangka waktu empat tahun (959 H – 963 H). Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah banyak mengambil dai hasyiah guru beliau, Syeikh Abdul Haq atas Syarah Minhaj karangan Imam al-Mahalli.
  • 2. Ibaratnya yang sulit

Karena masa penulisan yang sangat cepat, maka ibarat kitab Tuhfah tergolong sangat sulit. Bila kita membandingkan itab Tuhfatul Muhtaj dengan dua syarah Minhaj yang setingkat dengannya, Nihayatul Muhtaj dan Mughnil Muhtaj, maka kita akan dapati perbedaan yang sangat jauh. Di mana ibarat kitab Tuhfah sangat sulit dan rumit. Murid Ibnu Hajar sendiri, Saiyid Umar menyatakan bahwa guru beliau Ibnu Hajar berupaya menulis Tuhfah dengan bahasa yang ringkas karena mengharap mudah di ambil faedah oleh para pelajar, namun ternyata bahasa Ibnu Hajar di anggap terlalu ringkas sehingga baru mudah dipahami setelah menguasai pendapat-pendapat manqul dari ulama mutakaddimin dan kritikan-kritikan ulama mutaakhirin dan istilah-istilah mereka. Karena itu, beberapa para ulama berusaha menuliskan kitab khusus yang membuka tabir istilah-istilah Syeikh Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah. Beberapa kitab yang menjelaskan istilah kitab Tuhfah adalah ‘Uqud ad-Durar fi mushthalahat Tuhfah Ibn Hajar karangan Syeikh Sulaiman Kurdi, Fawaid al-Madaniyahfi man Yufta bi qaulihi min aimmah asy-Syafi’iyah yang kemudian di ringkas oleh ulama asal Malabar, India, Syeikh Ahmad Kuya Ali asy-Syaliyati dengan nama ‘Awaid Diniyah fi Talkhish al-Fawaid Madaniyah juga karagan Syeikh Sulaiman Kurdi, Tazkiratul Ikhwan fi Mushthalah Tuhfah karangan murid Syeikh Sulaiman Kurdi yaitu Syeikh Muhammad bin Ibrahim ‘Aliji al-Qulhani (di cetak oleh penerbit Dar Shalih Mesir, tahun 2017), ulama asal Dangestan, Syarah Khutbah Tuhfah karangan al-Allamah Jarhazi, dan Risalah fi Mushthalahat at-Tuhfah karangan Imam Jarhazi. ini belum termasuk kitab-kitab yang dikarang setelahnya yang umumnya merupakan kutipan dari kitab Syeikh Sulaiman Kurdi dan Tazkirah Ikhwan karya murid beliau, Syeikh Muhammad Ibrahim ‘Alijy.

  • 3. Menjadi rujukan utama ulama mutaakhirin.

Kitab Tuhfah bersama Nihayatul Muhtaj karangan Imam Jamal Ramli merupakan rujukan utama dalam bidang bidang fiqh Mazhab Syafii. Kedua isi kitab ini menghiasai hampir semua kitab-kitab fiqh mazhab Syafii yang dikarang setelahnya. Bahkan sebagian ulama melarang berfatwa menyalahi kedua kitab ini.
Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.
Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihab Ramli.
Imam Sya`rani ketika menceritakan riwayat Imam Syihab Ramli menerangkan “Allah ta`ala menjadikan para fuqaha` tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli.
Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “mudah-mudahan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Nengri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.
Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramallisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli `ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mu`tamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mu`tamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.
Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Sa`id Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain. Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”.
Kitab Nihayatul Muhtaj, setelah selesai dikarang, telah dibacakan dihadapan muallifnya sendiri dari awal hingga khatam dengan di hadiri oleh 400 ulama yang mengkritisi dan mentashhih kitab beliau tersebut sehingga kesahihannya mencapai tingkat tawatur. Sedangkan kitab Tuhfah Ibnu Hajar al-Haitami telah dibacakan dihadapan muallifnya sendiri oleh para ulama para muhaqqiq yang jumlahnya sudah tidak terhitung lagi.
Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mu`tamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi (dicetak oleh Dar Minhaj dengan tahqiqan dan ta’liq dari DR. Syifa Hasan Hitu, putri Syeikh Hasan Hitu, pendiri STAI Imam Syafii Cianjur).

  • 4. Banyaknya para ulama yang memberikan hasyiah

Tidak semua kitab-kitab yang besar mendapat perhatian para ulama dengan memberikan hasyiah. Namun kitab Tuhfahtul Muhtaj termasuk kitab yang menarik perhatian para ulama untuk memberi hasyiahnya. Hasyiah-hasyiah tersebut berisi penjelasan terhadap kalam Ibnu Hajar bahkan juga ada kritikan-kritikan terhadap Tuhfah sendiri atau jawaban terhadap kritikan orang terhadap ibadat Tuhfah. Ibnu Hajar sendiri juga memberikan hasyiah terhadap kitab beliau tersebut, dengan nama Thurfatul Faqir bi Tuhfatil Qadir, namun tidak sampai selesai. DR. Saiyid Musthafa bin Hamid Smith dalam mukaddimah munkhtashar Tuhfah karya beliau, mencatat ada sekitar 34 hasyiah terhadap kitab Tuhfatul Muhtaj. Itu tidak termasuk beberapa hasyiah dan ta’liqat ulama Negri Dangestan yang disebutkan oleh Syeikh Muhammad Ghudubiry dalam mukaddimah beliau terhadap tahqiq kitab Tazkiratul Ikhwan karangan Ibnu ‘Alijy yang tidak sempat di catat oleh DR. Mushtafa Smith.

Syeikh Ramadhan al Buthy; Hukum Telponan dengan Tunangan?

Hidup di akhir zaman banyak fitnah yang terjadi. Halal dan haram banyak disepelekan. Dalam hal pergaulan, kita lihat banyak generasi kita yang sudah mengikuti budaya barat. Salah satu hal yang saat ini sering kita temukan adalah saat ketika seorang laki-laki sudah tunangan, ia bagaikan sudah menikah. Bahkan orang tua mereka tidak mencegah mereka lagi untuk berdua-duan.
sebagian orang yang lain, kadang masih mampu menjaga diri untuk tidak bertemu. Namun dengan adanya alat komunikasi saat ini, godaan akan semain besar, mereka bisa berhubungan lewat telpon dan chatingan tanpa harus bertemu. Nah bagaimana hukumnya telponan atau chatingan dengan tunangan? Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy pernah di tanyakan hal serupa dalam halaman website yang beliau asuh. Berikut nash pertanyaan dan jawaban beliau disertai terjemahannya;

الاتصال بالمخطوبة قبل العقد عليها
هل يجوز للخطيب أن يتصل هاتفيا بخطيبنه أيام الخطوبة ؟ ولكم جزيل الشكر
لا مانع من المحادثة فى الهاتف للخطبية وغيرها إذا كان الخطاب تحقيقا لحاجة مشروعة وبطريقة مذهبة منضبطة والخطيبة كغيرها من النساء ما دام عقد الزواج لم يوجد بعد

Apakah boleh laki-laki yang bertunangan berbicara lewat telepon dengan wanita tunangannya selama dalam masa pertunangan?

Baca juga; Hukum telponan dengan wanita non mahram

Jawaban;

Tidak ada larangan untuk berbicara lewat telpon baik dengan wanita tunangan atau bukan apabila pembicaraan tersebut karena adanya hajat yang dibenarkan oleh syara’ dan dengan jalur terjaga. Wanita tunangan sama seperti wanita lainnya sebelum adanya akad pernikahan.

Kesimpulannya.

Dari jawaban Syeikh Ramadhan al-Buthi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam hal berbicara wanita tunangan masih sama dengan wanita lainnya. Telponan dengan mereka hanya dibolehkan untuk sekadar keperluan saja dan dengan syarat tidak menimpulkan fitnah. Yang dibolehkan dengan wanita tunangan hanyalah memandang wajah dan telapak tangannya saja, sedangkan menyentuh atau berdua-duan tetap hukumnya adalah haram. Maka ketika ditakutkan terjatuh ke dalam fitnah, segeralah menikah demi menjaga agama kita. Semoga Allah menjaga kita dari fitnah di akhir zaman ini.




Download Audio Tuhfatul Ikhwan fil Ilm Bayan

Salah satu kitab ilmu balaghah yang umumnya menjadi kitab muqarrar (kurikulum) di dayah-dayah di Aceh adalah Kitab Tuhfatul Ikhwan fil Ilmi Bayan karangan Imam Ahmad ad-Dardir (1127 H-1201 H). Kitab ini dipelajari sebelum santri mempelajari kitab Jauhar Maknun. Pembahasan dalam kitab Tuhfatul Ikhwan ini hanya terbatas pada ilmu Bayan saja yang mencakupi masalah majaz, tasybih dan kinayah. Selain itu pembahasan kitab majaz dalam kitab ini hanya dibatasi atas dasar satu pendapat saja, yaitu pendapat kaum. Hal ini menyebabkan kitab ini tidak tebal. Kitab ini disyarah oleh murid Syeikh Ahmad Dardir sendiri, Syeikh Ahmad Shawi (1175 H- 1241 H), pengarang kitab Hasyiah Shawi 'ala Jalalain. Selanjutnya, hasyiah Imam Shawi ini di beri hasyiah lagi oleh Imam Ali bin Husen al-Bulaqi. Selain syarahan Imam Ahmad Shawi kitab Imam Ahmad Dardir ini juga disyarah oleh beberapa ulama lain.
Bagi yang berminat mendengarkan pengajian kitab Tuhfatul Ikhwan fil Ilm Bayan, bisa mendownloadnya pada link di bawah ini, namun kami mohon maaf, karena pengajiannya menggunakan bahasa Aceh. Kitab cetakan yang dijadikan pegangan halaman dalam audio ini adalah cetakan Haramain, Surabaya.

  1. Halaman 1 - 10
  2. Halaman 10 - 12
  3. Halaman 12 - 14
  4. Halaman 14 - 16
  5. Halaman 16 - 19 (khatam)
Atau bisa juga langsung menuju ke www.archie.org 

Untuk file pdf kitab Tuhfatul Ikhwan bisa di download di SINI, sedangkan untuk hasyiah Imam Ahmad Shawi bisa di download di SINI


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja