Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Air Musta’mal

Didalam ilmu fiqh pada bab thaharah biasanya menjelaskan tentang tata cara bersuci dan alat-alat yang bisa digunakan untuk bersuci, seperti air pada pembahasan wudhu’ dan debu pada tayamum. Pada pembahasan air pasti tidak luput dari pembahas yang  salah satunya ialah air yang musta’mal yang merupakan air yang suci akan tetapi tidak bisa digunakan untuk bersuci. Oleh karena itu, disini akan diuraikan sedikit tentang bagaimana air itu dikatagorikan sebagai air Musta’mal.

Syarat-syarat air suci menyucikan beralih namanya menjadi air musta’mal :

1. Air yang sedikit, yaitu air yang tidak mencapai dua qullatain atau sekitar 216 liter.
2. Air telah digunakan kepada hal yang sangat di perlukan, seperti berwuzuk dan mandi wajib.
3. Air yang telah terpisah dari anggota yang wajib di basuh bila pada wuzuk dan seluruh anggota badan pada surah mandi wajib.
4. Ketika memasukkan tangan kedalam air yang sedikit tidak meniatkan iqtiraf[1]


- Hasyiyah I'annatut Thalibin, Juz 1, Hal 28-29, Cet Haramain

واعلم أن شروط الاستعمال أربعة، تعلم من كلامه: قلة الماء واستعماله فيما لا بد منه، وأن ينفصل عن العضو، وعدم نية الاغتراف في محلها وهو في الغسل بعد نيته، وعند مماسة الماء لشئ من بدنه.
أما إذا نوى الاغتراف، أي قصد إخراج الماء من الإناء ليرفع به الحدث خارجه، فلا يصير الماء مستعملا.
ونية الاغتراف محلها قبل مماسة الماء فلا يعتد بها بعدها.


[1]  Iqtiraf ialah ketika memasukkan tangan kedalam air yang sedikit mengkasad/bertujuan untuk mengeluarkan air dari bejana dan melakukan proses bersuci diluar bejana bukan didalamnya.  


Puasa Hari Jumat

Deskripsi Masalah:

Berpuasa sama dengan sesorang telah menjaga hawa nafsunya,  banyak melakukan puasa akan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam Islam diperbolehkan berpuasa dihari apa saja selain hari-hari yang telah diharamkan Syara’ yaitu dihari pertama lebaran baik puasa atau haji dan 3 hari Tasyriq sesudah idul adha. Namun walaupun demikian terkadang ada juga hari yang hukumnya makhruh melakukan puasa dihari tersebut.

Pertanyaan:

Bagaimana hukum berpuasa dihari Jum’at

Jawaban:

Berpuasa dihari jum’at Hukumnya makruh bila puasa yang kita laksanakan itu :

- Puasa sunnah, bila puasa wajib baik qada nazar dan lainnya tidak dimakruhkan.
- Puasa yang dilakukan secara terasing, bila diringi dengan satu hari sebelumnya atau dengan hari sesudahnya tidak dimakruhkan

- Al-Mahalli juz 2 Hal 94 Cet, Haramain

(ويكره إفراد الجمعة وإفراد السبت) بالصوم قال - صلى الله عليه وسلم -: «لا يصوم أحدكم يوم الجمعة إلا أن يصوم قبله أو يصوم بعده» رواه الشيخان وقال: لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم. رواه أصحاب السنن الأربعة وحسنه الترمذي وصححه الحاكم على شرط الشيخين.


Keajaiban Shalat Jama'ah

Imam al-Manawi berkata : Di antara hikmah disyariatkan shalat jama’ah adalah :
  1. Tercipta keakraban di antara sesama jama’ah. Oleh karena itu, anjuran utama pelaksanaan shalat jama’ah adalah dimesjid, hal ini dimaksudkan supaya tercipta persatuan sesama tetangga karena berjumpa disetiap waktu shalat.
  2. Supaya orang awam dapat belajar berbagai macam hukum jama’ah dari orang alim, karena status manusia berbeda-beda dalam hal ibadah. Karena shalat dikerjakan secara berjama’ah, maka keberkahan orang yang sempurna ibadah dapat mengalir kepada orang awam. 
Banyak hadits-hadits yang menerangkan kelebihan shalat jama’ah, di antaranya :

وقد ورد في فضلها أحاديث كثيرة، منها: الخبر المتفق عليه الآتي، ومنها: ما رواه الطبراني عن أنس: « من مشى إلى صلاة مكتوبة في الجماعة فهي حجة، ومن مشى إلى صلاة تطوع فهي مرة تافلة «

Diriwayatkan dari Imam Tabrani dari Shahabat Anas : “Barang siapa yang berjalan untuk menunaikan shalat fardhu secara berjama’ah, maka shalat tersebut diberi ganjaran sama seperti haji dan barang siapa yang melakukan shalat sunat secara berjama’ah maka ia akan mendapat pahala seperti melakukan umrah sunat” (HR. Tabrani dari Anas).

ومنها: ما رواه الترمذي عن أنس أيضا: « من صلى أربعين يوما في جماعة يدرك الكبيرة الأولى كتب له براهتان: براءة من النار، وبراءة من النفاق ».

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Shahabat Anas : “Barang siapa yang shalat berjamaah selama 40 hari dan mendapat takbiratul pertama, maka ia dipastikan mendapat 2 kebebasan, yakni kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi dari Anas).

وفي المنح السنية على الوصية المتبولية للقطب الشعراني ما نصه: وقد كان السلف يعدون فوات صلاة الجماعة مصيبة. وقد وقع أن بعضهم خرج إلى حائط له يعني حديقة نخل فرجع وقد صلی الناس صلاة العصر، فقال: إنا لله، فانني صلاة الجماعة، أشهدكم على أن حائطى على المساكين صدقة.

Dalam kitab al-Minah as-Saniyyah ‘Ala al-Washiyyah al-Matbuliyyah disebutkan : “Ulama salaf menganggap luput shalat jama’ah sebagai musibah. Dahulu kala, ada sekelompok ulama pergi ke kebun kurma. Ketika kembali, mereka mendapati shalat jama’ah ashar sudah selesai dilaksanakan dan mereka tidak sempat mengikutinya. Lalu mereka berkata : “Inna lillahi, sungguh aku telah luput dari shalat jama’ah. Sekarang aku bersaksi kepada kalian semua bahwa kebun kurma milikku aku sedekahkan semuanya kepada orang miskin.””

. وفانت عبد الله بن عمر رضي الله عنهما صلاة العشاء في الجماعة، فصلى تلك الليلة حتى طلع الفجر جبرا لما فاته من صلاة العشاء في الجماعة.

“Suatu ketika, Sayyidina Abdullah bin Umar pernah tertinggal shalat jama’ah isya’, lalu beliau shalat sepanjang malam untuk menebus jama’ah isya’ yang beliau tinggalkan.”

Syeikh Ubaidillah bin Umar al-Qawaririy Rahimahullah berkata : “Selama ini aku tidak pernah meninggalkan shalat jama’ah. Hingga suatu ketika rumahku kedatangan tamu. Karena sibuk melayani tamu yang datang, aku terlambat melakukan shalat jama’ah isya’ di mesjid. Lalu aku bergegas keluar untuk berjama’ah. Ketika tiba di mesjid, ternyata shalat jama’ah telah selesai dikerjakan dan pintu mesjid telah dikunci. Lalu aku kembali kerumah dengan perasaan sedih. Aku teringat sebuah hadits yang menerangkan kelebihan shalat jama’ah, yaitu “Shalat berjama’ah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian”. Kemudian aku shalat isya’ 27 kali sampai tertidur. Dalam tidur aku bermimpi sedang menunggangi kuda bersama sekelompok kaum. Mereka berada didepanku dan aku memacu kudaku untuk mengejar mereka tetapi tidak berhasil. Lalu aku menoleh kepada salah seorang dari mereka dan dia berkata : “Kamu tidak akan sanggup mengejar kami. Usahamu hanya membuat kudamu kelelahan. Aku menyahut, kenapa wahai saudaraku ? ia menjawab : “Karena kami shalat isya’ secara berjama’ah, sedangkan engkau shalat sendirian. Lalu aku terbangun dan merasakan kesedihan yang luar biasa”.

وقال بعض السلف: ما فاتت أحدا صلاة الجماعة إلا بذنب أصابه.

Sebagian ulama salaf berkata : “Seseorang tidak akan pernah meninggalkan shalat jama’ah kecuali karena suatu dosa yang telah dilakukannya”.

وقد كانوا يعزون أنفسهم سبعة أيام إذا فاتت أحدهم صلاة الجماعة وقيل: ركعة، ويعزون أنفسهم ثلاثة أيام إذا فاتهم التكبيرة الأولى مع الإمام، فاعلم ذلك يا أخي. اه.

Mereka akan berduka selama 7 hari bila luput sekali shalat jama’ah. Dikatakan : Jika luput satu raka’at. Dan berduka selama 3 hari bila tidak sempat mengikuti takbiratul ihram beserta imam. Renungilah nasehat ini wahai saudaraku.(fm)

Diterjemahkan dari kitab I’anatutthalibin Juz 2 Hal 5-6.



Legalitas Jadwal Imsak Pada Bulan Ramadhan

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam masyarakat selama bulan ramadhan adalah tentang masalah imsak. Pertama mengenai legalitas, artinya apakah imsak menjadi bagian dari syariat atau hanya ciptaan para ulama semata? Kedua, tentang kapan persis waktunya?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan diatas, berikut kami kutip fatwa Sayyid ‘Allamah Abdullah bin Mahfudh bin Muhammad al-Haddad al-‘Alawi dalam kitab al-Wajiz fi Ahkam as-Shiyam.

Pada dasarnya, seseorang berpuasa boleh makan dan melakukan hal lain pada waktu malam sampai terbit fajar. Namun, dalam selebaran jadwal waktu shalat yang biasanya banyak dibagikan gratis selama bulan Ramadhan di Indonesia, ditetapkan sebuah waktu khusus yang tidak ada di bulan-bulan lain. Waktu tersebut disebut “waktu imsak”. Waktu imsak ini ditetapkan beberapa menit sebelum waktu shalat subuh (waktu fajar). Menyikapi masalah ini, untuk alasan ihtiyadh atau kehati-hatian sudah sepatutnya kita mengindahkan seruan imsak tersebut.

Dalam al-Qur’an, Allah Swt menyebutkan :تلك حدود الله فلا تقربوها

Ayat ini mengindikasikan bahwa Allah membuat batas yang harus dijaga antara malam dan fajar. Maka selayaknya bagi orang puasa untuk menjaga batasan tersebut.

Berdasarkan survei yang kami lihat pada kebanyakan jadwal imsakiyah, tenggang waktu antara imsak dan azan subuh berkumandang adalah sekitar 5 menit, maka sepatutnya seorang menjaga tenggang waktu tersebut untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Karena orang-orang yang terus makan sampai azan subuh berkumandang mereka adalah orang yang tidak menjungjung tinggi perintah Allah untuk menjauhi dan tidak mendekati batasan tersebut.

Adapun tentang hadits yang seolah-olah bertentangan dengan anjuran al-Qur’an diatas maka dipertanggungkan kepada 2 hal, yaitu azan yang pertama dan karena fajar berubah-ubah setiap hari. Maka waktu imsak juga ikut berubah. Jadi, bersungguh-sungguhlah untuk mengetahui tentang seluk beluk fajar dan bersikap hati-hatilah dengan mengambil imsak sesaat sebelumnya. Wallahu a’lam

Maksiat Dan Tidur Subuh Penyebab Fakir

Sungguh dosa yang dikerjakan adalah penyebab tertegah rezeki, lebih-lebih dosa yang dikerjakan adalah berbohong. Berbohong sangat berdampak besar bagi seseorang menjadi fakir.

Secara umum, dosa berefek kepada terhambatnya rezeki. Khusus pada berbohong tidak berefek pada terhambatnya rezeki saja, bahkan sampai bisa membuat seseorang jatuh miskin. Hal ini terbukti, dengan seseorang yang menipu orang lain di seluruh kehidupannya akhirnya ia akan terjatuh.
Orang yang bermodal bohong dalam mencari uang tidak lama kemudian ia akan jatuh miskin dan tidak memiliki apapun lagi. Khusus pada berbohong dapat berefek miskin ini ada hadist yang khusus.
Begitu juga tidur subuh dapat menghambat rezeki. Karena itu harus bangun di waktu subuh, walaupun dalam keadaan capek sekali.

Ini harus benar-benar dijaga. Apa lagi bagi seorang penuntut ilmu. Sedang belajar jangan sampai banyak penghambat rezeki. Jangan sampai seorang pelajar yang masih dalam perjalanan menuntut ilmu agama mesti menjadi buruh pada orang lain.

Banyak tidur juga dapat memberi dampak buruk seseorang menjadi miskin. Malam tidur, siang juga tidur, itu perbuatan yang tidak baik. Banyak tidur juga dapat menjadi penyebab miskinnya ilmu. Artinya, dua efek buruk sekaligus didapatkan sebab banyak tidur.
Berkatalah orang yang berkata “Kesenangan manusia itu pada memakai pakaian, dan mengumpulkan ilmu dengan kurang tidur.”

*Dikutip dari isi pengajian Ta`lim Muta'alim bersama Waled Tarmizi Al Yusufi


Kalimat Tauhid Dalam Al-Quran

Kalimat Lailahaillah atau kalimat tauhid merupakan kalimat agung yang diberikan pahala yang banyak bagi setiap yang menggerakkan lisannya dengan kalimat ini. Kalimat yang akan mendapat syafa'at dari baginda Rasulullah SAW bagi setiap pengamalnya dengan penuh keikhlasan, dan merupakan kunci surga ini banyak disebutkan dalam kitab suci Al Quranul Karim. Hal ini seperti perkataan Syaikh Fakhrurrazi didalam kitab Tanqihul qauli yang bahwasanya kalimat (لا إله إلاّ الله), di dalam Alquran pada 30 tempat. 

Terdapat dalam Surah al-baqarah ada 2, ali imran ada 4, annisa 1, al an'am ada 2, ar ra’du ada 1, thaha 3, al mukminin 1, qisasa 2, shafat 1, al mukmin 3, Muhammad 1, thaqabun 1, al a’raf 1, at taubah 2, yunus 1, hud 1, nahlu 1, al ambiya 2, namlu 1, fatir 1, zumar 1, dukhan 1, hasyir 2, muzammil 1.

 - Tanqihul Qauli Hal 3 Cet Haramain 


Perbedaan lafadh الشاذ , النادر dan الضعيف

Didalam kitab Klasik sering kita jumpai ketiga kalimat ini yaitu Syazd, Nadir dan Dhaif. Ketiganya hampir memilki substansi makna yang sama. Namun perlu diketahui  bahwa ketiganya  walaupun hampir memiliki makna ynag berdekatan akan tetapi terdapat perbedaan tersendiri. Berikut adalah perbedaan yang kami kutib dari kitab Syarh Al-Mathlub:

الشاذ هو الذي يكون وقوعه كثيرًا لكن مخالف للقياس

Syadz adalah sesuatu (kalimat) yang banyak di perdapatkan pada kalam akan tetapi sebalik (tidak sesuai) dengan Qias (undang-undang).

النادر هو الذي يكون وقوغه قليلا لكن على القياس

Nadir adalah sesuatu/kalimat yang sedikit di perdapatkan akan tetapi sesuai dengan qias.

الضعيف هو الذي لم يصل حكمه إلى الثبوت

Dhaif adalah sesuatu yang hukumnya tidak sampai kepada sebut. 

Referensi:  Syarah al Mathlub hal 14 


Wajibkah Menyegera Mandi Janabah?

Deskripsi Masalah:

Setiap yang berhadas besar diwajibkan untuk mandi rafa' hadas, hal ini karena salah satu syarat ibadat seperti shalat disyaratkan bersih dari hadas besar dan kecil. Namun karena faktor malas atau lainnya terkadang  seseorang sering memperlambat untuk mandi janabah. Tak jarang pula yang sampai keluar waktu shalat karena keterlambatannya itu.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum memperlambat mandi junub dan apakah mandi wajib itu harus disegerakan?

Jawaban:

Hukum asal mandi wajib  tidak wajib disegerakan. Namun wajib disegerakan jika waktu shalat sudah sempit, Dalam kondisi ini kewajiban menyegera mandi  itu bukan karena mandinya akan  tetapi karena kewajiban mengerjakan shalat dalam waktunya.

- I'anah at-Thalibin Juz 1 Hal 86 Cet, Darl Fikr 

و) الطهارة (الثانية الغسل) هو لغة سيلان الماء على الشيء وشرعا سيلانه على جميع البدن بالنية ولا يجب فورا وان عصى بسببه) 
بخلاف نجس عصى بسببه  (قوله ولا يجب فورا) اى ولا يجب الغسل على الفور والمراد أصالة فلا يرد ما لو ضاق وقت الصلاة عقب الجنابة او انقطاع الحيض فانه يجب فورا لا لذاته بل لإيقاع الصلاة فى وقتهاv


Anjuran Bersikap Zuhud (Abu Mudi) Simak di Link :


Bolehkah Mengajari Al-Quran Terhadap Anak Non Muslim?

Deskripsi Masalah:

Dalam kehidupan yang serba keberagaman, sosial menjadi salah satu hal yang harus diprioritaskan demi menjaga kerukunan dalam beragama, budaya kunjung mengunjung antara dua orang beda agama pun akrab terjadi.  Tak sebatas orang tua, anak-anak non Muslim pun dalam kesehariannya terkandang sering main kerumah disaat anak muslim sedang belajar Al quran.

Pertanyaan:

Apakah boleh terhadap guru atau orang tua dari anak yang Muslim mengajarkan kepada anak Non Muslim ?

Jawaban:

Berkata Ashab dari Imam As-syafi'i : Jangan ditegah orang kafir untuk mendengar bacaan Al-Quran yang ditegah itu jika mereka menyentuh Al-Quran. Adapun tentang kebolehan mengajari Al Quran kepada mereka terdapat rincian sebagai berikut:

Jika diharapkan anak tersebut masuk islam maka boleh mengajarinya Al-Quran
Jika tidak diharapkan masuk islam maka tidak diperbolehkan mengajarinya.

- Majmu' Syarah Muhazzab Juz 2 Hal 71 Cet, Darl Fikr

قال أصحابنا : لا يمنع الكافر سماع القرآن ، ويمنع مس المصحف ، وهل يجوز تعليمه القرآن؟ ينظر إن لم يرج إسلامه لم يجز ، وإن رجي جاز في أصح الوجهين ، وبه قطع القاضي حسين ، ورجحه البغوي وغيره ، والثاني : لا يجوز ، كما لا يجوز بيعه المصحف وإن رجي إسلامه . قال البغوي : وحيث رآه معاندا لا يجوز تعليمه بحال ، وهل يمنع التعليم؟ فيه وجهان حكاهما المتولي والروياني . هما أصحهما يمنع


Al Quran Qadim atau makhluk?
Simak penjelasan Abu MUDI di Link b

https://www.youtube.com/watch?v=esp3bGTG3aw


Fatawa Ulama: Hukum Menundukkan Badan dan Bertumpu Untuk Membantu Berdiri Dari Duduk Istirahat Atau Tasyyahud Awwal

Deskripsi Masalah:

Salah satu masalah yang terjadi kontroversial dalam masyarakat adalah kelakuan  orang yang membungkuk dan bertumpu didepan lutut untuk membantu berdiri dari duduk istirahat atau tasyahhud awwal, kondisi ini menyerupai ruku' bagi orang shalat sambil duduk. Sebagian kalangan mempermasalahkan hal ini dan menganggap bisa membatalkan shalat dengan alasan menambah rukun.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum sebenarnya dari masalah ini??

Jawaban : 

Sebelumnya harus diketahui bahwa bertumpu didepan lutut untuk membantu berdiri dari duduk hukumnya sunnah. Bertumpu seperti ini tidak membatalkan shalat, walaupun sekilas terlihat seperti ruku' bagi orang yang shalat sambil duduk. Karena yang membatalkan shalat adalah menambah rukun, sedangkan kondisi seperti ini tidak menyerupai rukun apapun bagi orang shalat sambil berdiri. Membungkukkan badan hanya dapat membatalkan shalat bila dilakukan oleh orang shalat sambil duduk.

- Fatawa Bin Hamid, Karangan Syeikh Muhammad Bin Hamid Bin Umar Bin Muhammad Bin Saqqaf As-Saqqafi Ash-Shafi, Hal 254-255


لو أراد القيام من جلسة الاستراحة اعتمد على يديه أمامه

مسأله : وما قولكم فيمن أراد القيام من جلسة الاستراحة أو التشهد فاعتمد على يديه من جهة أمامه بحيث صار کراکع من قعود فهل تبطل صلاته أم لا ؟ فإني قد رأيت كثيرة من طلبة العلم إذا أراد القيام بماذكر اعتمد على يديه من جانبيه أو تكلف الاعتماد عليها من أمامه لكن بين فخذيه، وكأنه  فرار من أن يكون كهيئة الرائع من الجلوس التي نبه عليها ابن حجر في «التحفة» فبينوا لنا ما فيها في هذا المقام لا زلتم نفعا للخاص والعام.
الجواب : أن الصلاة لا تبطل والحال ما ذكر من اعتماد المصلي مع قيامه من نحو جلوس تشهد على يديه وإن صار کراکع من جلوس؛ لأن الاعتماد على بطن راحتيه وأصابعها مع قيامه مما ذكر بتلك الهيئة من جعله يديه أمام ركبتيه سنة له ، وليس من السنة اعتماده على ظهور الأصابع وحرف الكف؛ بأن يقبضها كعاجن دقيق، ومن قال يقوم کعاجن بالنون - فالمراد بذلك التشبيه هو مثله في أصل الاعتماد من الانحناء من الأمام كهيئة العاجن لا في صفته من ضم أصابعه كما في «التحفة» من نفي اعتبار الصفة المذكورة فقط ، والدليل والعلة هما قول «التحفة» : (لأنه أعون
وأشبه بالتواضع مع ثبوته عنه ) وجعل اليدين بالجانبين أو بين الركبتين ينافي طرفي العلة المذكورة
وأما الهيئة التي بحثها ابن حجر وجعلها من مبطلات الصلاة لكونها من نوع زيادة ركن فيها حيث قال : (ومنه أن ينحني الجالس إلى أن تحاذي جبهته ما أمام ركبتيه ولو لتحصیل تورکه او افتراشه المندوب ... إلخ).. فهي كما لا يخفى في غير ما إذا كان لقيام وغير ما شرع له . على أنهم اغتفروا الجلوس القصير بعد الهوي من الاعتدال، وعللوا بأنه معهود وبذلك تعرف أن ما هنا أولى من ذلك لذلك، بل عملهم في الاعتياد بها ذكر في النهوض من السجود کالصريح فيما ذكرته؛ للعلم بندب وضع اليدين محاذيين للمنكبين في السجود ويقوم منه كذلك ، ولم نر أحدة عند القيام ينحيها إلى الجانبين، بل لم نر أحدة من يقتدى به يعمل بها ذكرت في سؤالك .
ثم إنك قد علمت ما مر حمل من قال : يقوم کالعاجن - بالنون لا الزاي - على اعتبار أصل الاعتماد لا صفته ، فلا تغفل والله أع

Simak Pengajian TASTAFI bersama Abu MUDI:




Hukum Khatib Mengangkat Tangan Ketika Doa Khutbah

Deskripsi masalah :

Para ulama sepakat bahwa salah satu adab dalam berdo’a adalah mengangkat dua tangan, namun perlu di ketahui bahwa tidak selamanya dalam berdoa harus demikian. Sebab , dalam beberapa kondisi  Rasulullah SAW menganjurkan berdo’a  dengan hal yang berbeda dengan sebelumnya seperti ketika dalam berkhutbah.

Pertanyaan :

Bagaimana hukum mengangkat tangan ketika berdoa dalam rukun khutbah jumat ?

Jawaban :

Makruh hukumnya, karena Nabi Muhammad SAW  tidak mengangkat tangan kecuali pada khutbah shalat istisqa’ (Shalat minta hujan).

- Fathul bari Juz 3 Hal 208 Cet, Dar al alamiyah linasyri wa tauzi’

قوله وعن يونس عن ثابت يونس هو بن عبيد وهو معطوف على الإسناد المذكور والتقدير وحدثنا مسدد أيضا عن حماد بن زيد عن يونس وقد أخرجه أبو داود عن مسدد أيضا بالإسنادين معا وأخرجه البزار أيضا من طريق مسدد وقال تفرد به حماد بن زيد عن يونس بن عبيد والرجال من الطريقين كلهم بصريون قوله فمد يديه ودعا في الحديث الذي بعده فرفع يديه كلفظ الترجمة وكأنه أراد أن يبين أن المراد بالرفع هنا المد لا كالرفع الذي في الصلاة وسيأتي في كتاب الدعوات صفة رفع اليدين في الدعاء فإن في رفعهما في دعاء الاستسقاء صفة زائدة على رفعهما في غيره وعلى ذلك يحمل حديث أنس لم يكن يرفع يديه في شيء من دعائه إلا في الاستسقاء وأنه أراد الصفة الخاصة بالاستسقاء ويأتي شيء من ذلك في الاستسقاء أيضا إن شاء الله تعالى 


Nilai Positif Bersin bagi Tubuh

Deskripsi Masalah:

Bersin adalah cara tubuh menyingkirkan iritan pada hidung seperti debu. Pilek dan alergi sering kali membuat kita bersin.Terkadang terlintas dalam pikiran, bersin tidak berdampak sehat bagi tubuh sehingga akrab kali terdengar ucapan suruhan minum obat bagi yang bersin, bahkan terkadang ada sebagian kita yang menganggap bersin itu hal yang memalukan.

Pertanyaan:

1. Benarkah bersin tidak  berdampak positif bagi tubuh?
2. Jika itu tidak menyehatkan tubuh, lantas kenapa disaat bersin dianjurkan menyucapkan Alhamdulillah?

Jawaban:

1. Tidak benar, karena dari bersin itu terdapat nilai positif yang terpuji dalam agama yaitu meringankan badan dimana dengan ini seseorang akan gemar dalam berbeuat taat dan melemahkan syahwat (keinginan).

2. Karena dampak dari bersin hal terpuji, berkata para Ulama “inilah hikmat dari disunnahkan bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah saat bersin”


- Ianatuttalibin Juz 4 Hal 192 Cet, Haramain

قوله: فإنه) أي التشميت سنة، لما رواه أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس أحدكم وحمد الله تعالى، كان حقا على كل مسلم سمعه أن يقول له يرحمك الله، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان، فإذا
تثاءب أحدكم فليرده ما استطاع، فإن أحدكم إذا تثاءب ضحك منه الشيطان.
قال العلماء: والحكمة في ذلك أن العطاس سببه محمود، وهو خفة الجسم التي تكون لقلة الاخلاط وتخفيف الغذاء، وهو أمر مندوب إليه، لانه يضعف الشهوة ويسهل الطاعة، والتثاؤب بضد ذلك.





Hubungan Usaha Dan Tawakkal

Usaha dan doa, merupakan dua perkara yang selalu dikerjakan oleh orang yang beriman, berdoa sebagai wujud minta tolong kepada pencipta, dan usaha sebagai realisasi dari permintaanya, antara keduanya saling melengkapi , sehingga ada pepatah yang mengatakan “ berdoa tanpa usaha bohong, usaha tanpa doa sombong” , namunj bagaimanakah hubungan keduanya dalam kacamata agama, apakah keduanya saling berkaitan atau saling menentang,

Pertanyaan ?

Bagaimanakah hubungan antara usaha dan tawakkal menurut agama ?

Jawaban

Syaikh Ibrahim bajuri dalam kitabnya Tuhfatul Murid menjelaskan, terjadi perbedaan pendapat ulama antara keutamaan usaha dan tawakkal, sebagian ulama berpendapat, usaha lebih baik dari tawakkal, karena dengan berusaha kita tidak mengharap pemberian manusia, tidak merendahkan diri dkalangan manusia untuk memperoleh pemberian mereka, sehingga lebih focus dalam beribadah kepada Allah, pengertian usaha disini adalah :

مباشرة الاسباب بالاختيار

Artinya melakukan sebab secara ihtiar

Sedangkan sebagian ulama berpendapat, tawakkal lebih baik dari bekerja, karena dengan bertawakkal kita lebih luang waktu untuk beribadah kepadanya, lebih kuat harapan kepada Allah dalam memenuhi kebutuhan, dan lebih aman dari fitnah harta dan perhitungan di hari kiamat, tawakkal adalah

Berpegang teguh kepada Allah tanpa mempedulikan asbab namun mungkin untuk melakukannya, misalnya, seseorang yang mungkin untuk berdagang, ia punya modal dan dan tempat untuk berdagang, namun ia tidak berdagang, lebih memilih untuk beribadah sambil meyakini bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhannya, maka orang yang seperti ini lebih baik menurut sebagian ulama,

Sedangkan pendapat yang kuat adalah, lebih utama bertawakkal dan berusaha ditinjau dari pribadi seseorang, jika ia mampu bersabar dalam kesulitan hidup, tidak terikat hatinya dengan harta orang lain, dan senantiasa bisa damai tanpa adanya rasa cemas, tetap focus beribadah, maka tawakkal lebih baik baginya, namun jika hatinya was was saat tidak bekerja, akan terjerumus kedalam mencuri dan meminta minta, maka baginya lebih baik bekerja daripada tawakkal, bahkan terkadang tawakkal hukumnya wajib baginya.

Perbedaan pandangan ini terjadi jika antara bekerja dan tawakkal adalah hal yang kontradiktif, namun jika kita beranggapan tawakkal dan berusaha adalah dua hal yang tidak menentang, bahkan saling melengkapi satu sama lain, maka tidak ada yang lebih unggul antara keduanya, karena berbeda sudut pandang.

- Ibrahim Al Bajuri,Tuhfatul Murid Ala Jauharah Tauhid Hal 127 Cet, Haramain

Hikmah Puasa Sunnah Senin Kamis

Salah satu puasa yang disunnahkan dan konsisten dilakukan Rasulullah SAW adalah puasa senin dan kamis hal ini sesuai dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:

كان يتحرى صومهما. وقال: «تعرض الأعمال يوم الاثنين والخميس فأحب أن يعرض عملي. وأنا صائم» رواهما الترمذي

"Nabi senantiasa melakukan puasa pada senin kamis" kemudian berkata: Amalan diangkat pada hari senin dan kamis, aku mencintai amalanku diangkat dan aku sedang berpuasa" (HR. Turmizi)

Hikmah berpuasa pada hari senin dan kamis adalah karena pada hari tersebut amalan hamba didatangkan kepada Allah SWT. Amalan yang didatangkan kepada Allah yang dimaksudkan disini adalah amalan setiap hamba dalam seminggu. Adapun catatan malaikat terhadap amalan manusia dicatat setiap hari dan malamnya. Berpuasa hari senin lebih Afdhal dari hari kamis, karena beberapa alasan seperti: Nabi SAW dilahirkan pada hari senin, diangkat kepada Rasul juga hari senin, dan bahkan wafat pada hari senin.

Amalan seorang hamba yang diangkat kelangit terjadi dua kali sehari yaitu amalan siang diangkat pada waktu asar dan amalan malam hari diangkat pada waktu subuh oleh malaikat yang berbeda. Kemudian pada setiap hari senin dan kamis didatangkan kepada Allah swt.
Diangkat kelangit pada setiap minggu tidak bertentangan dengan diangkatnya amalan pada malam nisfu Sya’ban, karena pengangkatan amalan pada malam nisfu sya’ban adalah amalan secara jumlah selama setahun. Karena itulah nabi menyukai puasa pada saat diangkatnya amalan baik pada hari kamis dan senin atau malam nisfu sya’ban. .[1]

- Minhajutthalibin Juz 2 Hal 92 Cet, Darl Fikr Beirut

باب صوم التطوع (يسن صوم الاثنين والخميس) لأنه - صلى الله عليه وسلم - كان يتحرى صومهما. وقال: «تعرض الأعمال يوم 
الاثنين والخميس فأحب أن يعرض عملي. وأنا صائم» رواهما الترمذي  

-Hasyiah Qalyubi Wa 'Umayrah Juz 2 Hal 92, Cet, Darl Fikr Beirut

قوله: (تعرض الأعمال) أي أعمال الأسبوع على الله تعالى، وأما العرض على الملائكة بمعنى كتابتهم له فإنه في كل يوم وليلة. وأما العرض على الله في نصف شعبان كل سنة فلجملة أعمال السنة وكل ذلك لإظهار العدل وإقامة الحجة إذ لا يخفى على الله من شيء في الأرض ولا في السماء. قوله: (الاثنين) سمي بذلك لأنه ثاني أيام إيجاد المخلوقات غير الأرض،







[1] Hasyiyah I'anahtutalibin hal. 299, 230, 231, juz 2, cet. Darul Fikri.



Hikmah Puasa Ayyamul Bidh (Hari Putih)

Deskripsi Masalah:

Bersyukur merupakan sebuah keharusan bagi kita sebagai hamba Allah yang beriman. Selain sebagai bentuk penghambaan kepada allah swt, bersyukur juga akan membuat nikmat yang kita terima akan menjadi semakin bertambah banyak. Termasuk salah satu dari bentuk syukur adalah menerapkannya lewat berpuasa sunnah, kita ketahui puasa sunnah banyak dengan khas waktu pelaksanannya masing-masing. Salah satunya adalah ayyamul bidh (puasa hari putih)

Pertanyaan:

1. Apakah yang dimaksudkan dengan puasa hari putih?
2. Apa hikmah dari pelaksanaan puasa pada hari tersebut?

Jawaban:

Puasa Ayyamul Bidh (puasa hari putih) adalah puasa yang dilaksanakan pada hari ke 13, 14. 15 dari bulan hijriyyah, dinamakan puasa hari putih dikarenakan pada malam harinya dari ketiga hari ini bulannnya terang dimulai dari awal muculnya hingga menghilang diawaktu subuhnya.
Adapun hikmah dari pelaksanaannya adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas langit yang terang yang Allah berikan pada malam tersebut.

-Al Mahalli Syarh Minhajutthalibin Juz 2 Hal 92 Cet, Darl Fikr Beirut

وأيام) الليالي. (البيض) وهي الثالث عشر وتالياه قال أبو ذر: «أمرنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أن نصوم من الشهر ثلاثة أيام البيض ثلاث عشرة وأربع عشرة وخمس عشرة» رواه النسائي وابن حبان: ووصفت الليالي بالبيض لأنها تبيض بطلوع القمر من أولها إلى آخرها

- Hasyiah Qalyubi  Juz 3 Hal 92 Cet, Darl Fikr Beirut

(لأنها تبيض إلخ) فحكمة صومها شكر الله تعالى على هذا النور العظيم ويندب صوم أيام الليالي السود، وهي الثامن والعشرون وتالياه وسميت بذلك لأنها تسود بالظلمة من عدم القمر من أول الليل إلى آخره فحكمة صومها طلب كشف تلك الظلمة المستمرة وتزويد الشهر الذي عزم على الرحيل بعد كونه كان ضيقا. ويسن صوم السابع والعشرين معها احتياطا لنقص الشهر فإن لم يصمه ونقص الشهر أبدله من أول الشهر بعده، وعلى هذا هل يطلب لهذا الشهر ثلاثة أيام أخرى أو أنه يكفي للشهرين راجعه، ويندب صوم ثلاثة أيام من كل شهر ولو غير المذكورة لأنها كصيام الشهر إذ الحسنة بعشر أمثالها. قوله: (من شوال) أي وإن أفطر رمضان ولو بغير عذر فإن صامه عنه دخلت فيه ويحصل ثوابها المخصوص.


Waktu Pelaksanaan Walimah

Deskripsi Masalah:

Setelah akad nikah dilaksanakan, hampir semua manusia mengadakan pesta atau yang dikenal dengan walimatul 'Ursy, disamping ini memiliki kesunnahan dalam kacamata agama walimah juga sangat memberi pengaruh dalam adat satu-satu daerah dalam ajang saling kenal sesama famili dan silaturrahim. Mengenai waktu pelasanaannya, terdapat perbedaan antara satu walimah dengan lainnya hal ini karena pengaruh situasi dan kondisi.

Pertanyaan:

Kapan waktu pelaksanaan walimah yang baik?

Jawaban:

Para ulama tidak menjelaskan mengenai waktu walimah, namun Imam Subki dari ungkapan Imam Al-Baghawi menjelaskan yang bahwa waktu untuk melaksanakan walimah itu waktunya luas mulai dari setelah proses akad nikah dan tidak ada batas akhirnya. Dan yang lebih utama dilaksanakannya setelah dukhul (hubungan badan suami istri) karena nabi Muhammad SAW melakukan walimah setelah melakukan hubungan biologis dengan istrinya.

- Muhammad Bin Abi 'Abbas Syihabuddin Ramli, Nihayah al-Muhtaj Juz 6 Hal 370

ولم يتعرضوا لوقت الوليمة، واستنبط السبكي من كلام البغوي أن وقتها موسع من حين العقد ولا آخر لوقتها فيدخل وقتها به، والأفضل فعلها بعد الدخول: أي عقبه «لأنه - صلى الله عليه وسلم - لم يولم على نسائه إلا بعد الدخول» فتجب الإجابة إليها من حين 
العقد وإن خالف الأفضل خلافا لما بحثه ابن السبكي في التوشيح، ولا تفوت بطلاق ولا موت ولا بطول الزمن فيما يظهر كالعقيقة

Simak penjelasan Abi MUDI
Memegang Al Quran digital di Hp tanpa Wudhu' :


Melihat Wajah Calon Pasangan

Bila seseorang memiliki tekad dan keinginan yang kuat untuk menikah maka disunnahkan baginya untuk melihat bagian tubuh calon pasangannya yang tidak dikategorikan aurat dalam shalat, yakni wajah dan telapak tangan. Hukum sunnah hanya berlaku sebelum terjadi khitbah, adapun sesudahnya maka melihat calon pasangan hukumnya boleh. Hukum kesunnahan ini dilatar belakangi karena adanya hajat, sehingga kadang-kadang diperkenankan melihat berulang kali bila hajatnya belum selesai. Namun bila dengan sekali tatapan dapat diketahui paras, kecantikan atau ketampanannya maka tidak perbolehkan melihat lagi. Lalu, bila tidak menyukainya maka hendaknya berdiam diri dan jangan mengatakan “aku tidak mau dengannya”.
Dalilnya adalah hadits Nabi berikut :

“Apabila salah seorang kalian hendak meminang seorang perempuan maka tidak ada dosa baginya untuk melihat perempuan tersebut walaupun dia tidak mengetahuinya” (H.R Abu Daud, Tibrani dan Ahmad)

- Hikmah melihat wajah dan telapak tangan saja

Dalam kitab al-Khatib disebutkan, wajah dapat menjadi indikator tentang paras, baik kecantikan maupun ketampanan. Sedangkan telapak tangan dapat menggambarkan kehalusan permukaan kulit seseorang.

- Syarat legalitas melihat calon pasangan :

1. Memiliki tekad yang kuat untuk menikah
2. Perempuan tidak sedang masa iddah
3. Perempuan tidak dalam ikatan nikah orang lain
4. Mempunyai harapan lamarannya diterima

Referensi : I’anath-Thalibin Juz 3 Halaman 256-257

Beberapa Etika Dalam Bersenggama

Ada beberapa hal yang perlu diketahui tatkala hendak melakukan hubungan biologis dengan istri supaya mendapat kepuasan didunia dan pahala diakhirat :

1. Menghindari berhubungan dalam keadaan naked (telanjang) dengan menutup tubuh dengan pakaian

2. Membersihkan diri, memakai parfum, menghias diri dan hal-hal lain yang dapat membangkitkan birahi pasangan

3. Membaca doa :

بسم الله اللهم جنبنا الشيطان و جنب الشيطان ما رزقتنا

"Dengan nama Allah, Ya Allah jauhilah kami dan keturunan kami dari godaan syaithan”

Doa ini bertujuan untuk meminta perlindungan agar kedua suami-istri serta anaknya kelak dijauhkan dari syaithan.

4. Disunnahkan bagi suami yang mencapai klimaks lebih dahulu dari istri untuk membiarkan dzakar-nya dalam farj istri, hal ini dilakukan untuk membantu istri menggapai kepuasan sebagaimana suami.

5. Sunnah berhubungan pada malam dan hari jum’at sebelum suami berangkat kemesjid

6. Sunnah berhubungan pada waktu sahur

7. Melakukan hubungan tidak dalam kondisi kenyang atau lapar, karena bisa berefek negatif bagi kesehatan tubuh

8. Menyegerakan berhubungan ketika suami kembali dari perantauan

9. Sunnah mengkonsumsi obat kuat sebelum berhubungan demi kebaikan istri dan keturunan

10. Makruh berhubungan ketika istri sedang hamil dan menyusui, bahkan hukumnya bisa menjadi haram bila berpotensi memudharatkan janin dan bayi.

- I’anah at-Thalibin Juz 3 Halaman 273-274


Pembagian Insya'

Insya' terbagi lima pembahagian : al-amr, an-nahy, Al-istifham, at-Tamanni dan an-nida'.

A.Istifham

Istifham adalah menuntut paham, dengan makna menanyakan khabar. Bilangaan yang tergolong dalam istifham ini banyak, sebagian darinya الهمزة ،هل، ما

Maksud dari Istifham ini bisa bermacam-macam :

1. Inkar, dinamakan pula dengan istifham Inkari, ketika itu maknanya menjadi nafyi dan sesudahnya manfi (yang ditiadakan), karena ini menyertai ( الا) seperti dalam ayat : فهل يهلك الا القوم الفاسقون

2. Taubikhi, dalam kata lain disebut Taqri'i, contohnya seperti :

أفعصيت أمري ، ان تعبدون ما تنحتون، أتدعون بعلا وتذرون أحسن الخالقين

3.Taqriri, Istifham Taqriri adalah membebankan Mukhatab (lawan bicara) untuk mengiqrar dan mengaku dengan perkara yang telah diakuinya, hal ini seperti dalam ayat:

الم نشرح لك صدرك،، الم يجدك يتيما فأوى

4.Targhib, seperti: (من ذ الذي يقرض الله قرضا حسنا) ، ( هل أدلكم على تجارة تنجيكم)

4.Doa, Doa sama seperti larangan yang membedakan adalah doa timbulnya dari bawah kepada yang diatas. Seperti: (أتهلكونا بما فعل السفهاء) Maksudnya Jangan engkau binasakan kami

B. Al-amr (perintah)

Termasuk dalam Insya' adalah al-amr, amr adalah menyuruh untuk berbuat bukan untuk meninggalkan. Adapun Sighat-Sighat nya adalah افعل ،،ليفعل،
Pada hakikatnya almr ini digunakan kepada Al-ijab (wajib mengerjakannya) , Namun terkadang bisa digunakan dalam berbagai makna yang lain secara Majaz :

1. An-Nadab (Sunnah), seperti firman Allah SWT   واذاقرئ القرآن فاستطعواله وأنصتوا

2. Al-ibahah (boleh) , seperti :  فكاتبوهم

Ketentuan imam Syafi'i disini maknanya kepada Ibahah, contoh lain:

                                                                واذا حللتم فاصطادوا

“Apabila telah kalian tahallul, berburulah kalian”

Kata فاصطادوا adalah perintah secara boleh.

3.Doa dari yang rendah kepada yang diatas seperti

رب اغفرلي

“Ya Allah ampunilah aku”
Kata اغفر adalah doa.

4.At-tahdid (hardik), seperti

اعلموا ما شئتم

"Perbuat kalian apa yang kalian kehendaki"

Dalam contoh ini, tidak mungkin yang dimaksudkan mempurbuat apa saja.

5.Ta'jiz (melemahkan) seperti :

فأتوا بسورة من مثله
Secara realita tidak mungkin maksudnya menuntut mereka, akan tetapi menampakkan kelemahannya.

6.Takzib (mendustai), seperti :

قل فأتو باالتورة فاتلوها

Katakan (Muhammad) maka kalian datangkan dengan tahrat maka kalian membacanya

قل هل شهاداءكم الذين يشهدون أن الله حرم هذا

“Katakan olehmu (muhammad) berapa banyak orang-orang yang bersaksi bahwa sungguh Allah mengharamkan ini”

C. An-nahyu (larangan)

Sebagian dari Insya' adalah Nahyu, Nahyu adalah menuntut tinggalkan perbuatan. Adapun sighatnya لاتفعل. Hakikat dari Nahyu untuk tahrim (mengharamkan), terkadang dimaksudkan untuk makna yang lain secara majaz :

1.Doa seperti ربنا لا تزغ قلوبنا

2. Irsyad (memberi petunjuk, seperti :لا تسألوا عن أشياء إن تبدو لكم تسؤكم

3. Taswiyah (menyamai), seperti :اصبروا او لا تصبروا

D. Tamanni

Termasuk pembahagian Insya' selanjutnya adalah Tamanni. Tamanni adalah menuntut hal yang dicintai yang diharapkan dan tidak terjadi kehasilannya, adakala karena Mustahil seper
ti dalam ayat :

يا ليتني كنت تربا
"Mudah-mudahanku itu tanah"

Adakala berpotensi mungkin akan tetapi tidak sanggup dicapainya seperti firman Allah SWT :

يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون
"Mudah-mudahan kami, itu seperti yang didatangkan Qarun"

Adapun apabila urusan bagus yang diharapkan itu termasuk hal yang bisa diharapkan dinamakan Tarjiyyan, dan diredaksikan dengan ( عسى ) dan (لعل) seperti dalam Firman Allah SWT

لعل الله يحدث بعد ذلك امرا
“Mudahan Allah menjadikan sesudah itu Urusan”

عسى الله أن يأتي بالفتح
“Mudahan Allah mendatangkan kemenangan”

Ada beberapa kata yang menunjuki kepada Tamanni, Satu diantaranya asli yaitu ليت, dan tiga diantaranya merupakan gantian dan dijadikan Tamanni karena untuk balaghah (menjaga retorika bahasa), ketiganya yaitu : هل,.ولعل, هل Seperti dalam Ayat dibawah ini:

فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا

فلو أن لنا كرة فنكون من المؤمنين

لعلي أعمل صالحا فيما تركت

-Qawaidul Asasiah Hal 23

Pakaian Yang Dicuci Menggunakan Air Musyammas

Deskripsi Masalah:

Dalam Fiqh telah ditentukan air yang bisa di gunakan untuk bersuci dan tidak, dalam Fiqh juga dijelasakan ada air yang hukumnya makruh apabila digunakan untuk badan dan tidak makruh apabila digunakan pada selain badan seperti mencuci pakaian dan sebagainya, itulah yang dinamakan air musyammas (air hasil panasan cahaya matahari)

Pertanyaan :

Bagaimanakah hukum memakai pakaian yang telah dicuci dengan air musyammas?

Jawaban :

Dalam permasalahan ini dapat dirincikan sebagai berikut:

1. Apabila pakaian tersebut dipakai dalam keadaan masih basah maka hukumnya makruh.
2. Apabila pakaian tersebut dipakai sesudah kering dan tidak lagi basah maka hukumnya boleh.

Adapun apabila pakaian yang telah kering tersebut basah kembali karena disebabkan oleh keringat yang hasil dari tubuh maka hukumnya tidak apa-apa( boleh ).

- Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 29 Cet, Haramain

ولو غسل ثوبه بالماء المشمس ثم لبسه فان كان ذلك حال رطوبته وحزارته كره والا فلا، ولاتعود الكراهة ان عرق فيه على المعتمد خلافا لما نقله المحشى عن القمولى وأقره

Kalimat تعالی Fi'il Atau Isim Fi'il ?

Deskripsi Masalah:

Mungkin masih ada diantara kita yang belum tahu ataupun masih ragu dalam memutuskan status kalimat تعالی. Pada kesempatan kali ini Lbm.mudimesra.com ingin berbagi sedikit ilmu tentang kalimat تعالی. Keraguan ini terjadi dikalangan pelajar disebabkan Kalimat تعالی ini ada yang mengatakan fi'il dan ada juga yang mengatakan isim fi'il.

Pertanyaan:

Pendapat manakah yang lebih relevan menurut konteks kitab Nahwu dan Sharaf ?

Jawaban:

Kalimat تعالی adalah fi'il, yakni fi'il madhi, bukan isim fi'il. Alasannya, kalimat تعالی menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta fa'il yang berharkat atau dalam bahasa lain ta dhamir bariz muttashil. Adapun isim fi'il tidak menerima tanda fi'il, karena definisi daripada isim fi'il adalah:

اسم يقوم مقام الفعل فی المعنی والزمان والعمل ولکنه لا يَقبل علامةَ الفعل الذی يقوم مقامَه و لا يتأثر بالعوامل

Isim yang bertempat pada tempat fi'il, baik dari segi makna, zaman dan amalannya, namun tidak menerima tanda fi'il yang ditempatinya dan tidak berubah dengan masuk 'amil.

Didalam definisi diatas dijelaskan persamaan dan perbedaan antara fi'il dan isim fi'il. Persamaan keduanya ada 3, yaitu dari segi makna, zaman dan amal. Perbedaan keduanya ada dua, yaitu tidak menerima tanda fi'il dan tidak berubah bila dimasuki 'amil.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan dua hal:

1. تعالی adalah fi'il, yakni fi'il madhi, karena kalimat تعالی menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta fi'il yang berharkat. Contoh تبارکت ربنا و تعاليت Sebagaimana halnya نعم dan بئس merupakan fi'il madhi karena menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta taknis. Contohnya : نِعمت

2. Pendapat yang mengatakan تعالی isim fi'il bukan fi'il dengan alasan berzaman sedangkan isim tidak, pendapat tersebut keliru. hal ini dikarenakan :

a. baik fi'il ataupun isim fi'il tetap memiliki zaman meskipun adanya zaman pada fi'il dan isim fi'il berbeda. Adanya zaman pada fi'il adalah secaraوَضعًا , sedangkan pada isim fi'il bukan secara وَضعًا

b. Bertashrif, yakni di atas wazan تَفَاعَلَ-يَتَفَاعَل.  Adapun isim fi'il tidak ada satu pun yang bertashrif. Bukti kalimat تعالی bertasrif (mempunyai tasrif) Qunut تبارکت ربنا و تعاليت Syarkawi 'ala Hud Hudi يتعالی الله Asmaul Husna المتعالی . Namun perlu di garis bawahi bahwa, meskipun kalimat تعالی adalah fi'il , bukan berarti تعالی yang dinisbatkan kepada Allah terjadi pada zaman madhi sedangkan pada zaman yang lain tidak, karena berdasarkan qaedah:

الفعل اذا أضيف الی الله تعالی تجرد عن الزمان و صار معناه الدوام

Fi'il bila disandarkan kepada Allah tidak lagi berzamanzaman sehingga maknanya menjadi kekal

Sumber rujukan :

- Referensi: Nahwu Al-Wafi Jilid 1 Hal 47
- Referensi: Kitab Kafrawi dan Nahwu Al-Wafi Jilid 1


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja