Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Pembagian Insya'

Insya' terbagi lima pembahagian : al-amr, an-nahy, Al-istifham, at-Tamanni dan an-nida'.

A.Istifham

Istifham adalah menuntut paham, dengan makna menanyakan khabar. Bilangaan yang tergolong dalam istifham ini banyak, sebagian darinya الهمزة ،هل، ما

Maksud dari Istifham ini bisa bermacam-macam :

1. Inkar, dinamakan pula dengan istifham Inkari, ketika itu maknanya menjadi nafyi dan sesudahnya manfi (yang ditiadakan), karena ini menyertai ( الا) seperti dalam ayat : فهل يهلك الا القوم الفاسقون

2. Taubikhi, dalam kata lain disebut Taqri'i, contohnya seperti :

أفعصيت أمري ، ان تعبدون ما تنحتون، أتدعون بعلا وتذرون أحسن الخالقين

3.Taqriri, Istifham Taqriri adalah membebankan Mukhatab (lawan bicara) untuk mengiqrar dan mengaku dengan perkara yang telah diakuinya, hal ini seperti dalam ayat:

الم نشرح لك صدرك،، الم يجدك يتيما فأوى

4.Targhib, seperti: (من ذ الذي يقرض الله قرضا حسنا) ، ( هل أدلكم على تجارة تنجيكم)

4.Doa, Doa sama seperti larangan yang membedakan adalah doa timbulnya dari bawah kepada yang diatas. Seperti: (أتهلكونا بما فعل السفهاء) Maksudnya Jangan engkau binasakan kami

B. Al-amr (perintah)

Termasuk dalam Insya' adalah al-amr, amr adalah menyuruh untuk berbuat bukan untuk meninggalkan. Adapun Sighat-Sighat nya adalah افعل ،،ليفعل،
Pada hakikatnya almr ini digunakan kepada Al-ijab (wajib mengerjakannya) , Namun terkadang bisa digunakan dalam berbagai makna yang lain secara Majaz :

1. An-Nadab (Sunnah), seperti firman Allah SWT   واذاقرئ القرآن فاستطعواله وأنصتوا

2. Al-ibahah (boleh) , seperti :  فكاتبوهم

Ketentuan imam Syafi'i disini maknanya kepada Ibahah, contoh lain:

                                                                واذا حللتم فاصطادوا

“Apabila telah kalian tahallul, berburulah kalian”

Kata فاصطادوا adalah perintah secara boleh.

3.Doa dari yang rendah kepada yang diatas seperti

رب اغفرلي

“Ya Allah ampunilah aku”
Kata اغفر adalah doa.

4.At-tahdid (hardik), seperti

اعلموا ما شئتم

"Perbuat kalian apa yang kalian kehendaki"

Dalam contoh ini, tidak mungkin yang dimaksudkan mempurbuat apa saja.

5.Ta'jiz (melemahkan) seperti :

فأتوا بسورة من مثله
Secara realita tidak mungkin maksudnya menuntut mereka, akan tetapi menampakkan kelemahannya.

6.Takzib (mendustai), seperti :

قل فأتو باالتورة فاتلوها

Katakan (Muhammad) maka kalian datangkan dengan tahrat maka kalian membacanya

قل هل شهاداءكم الذين يشهدون أن الله حرم هذا

“Katakan olehmu (muhammad) berapa banyak orang-orang yang bersaksi bahwa sungguh Allah mengharamkan ini”

C. An-nahyu (larangan)

Sebagian dari Insya' adalah Nahyu, Nahyu adalah menuntut tinggalkan perbuatan. Adapun sighatnya لاتفعل. Hakikat dari Nahyu untuk tahrim (mengharamkan), terkadang dimaksudkan untuk makna yang lain secara majaz :

1.Doa seperti ربنا لا تزغ قلوبنا

2. Irsyad (memberi petunjuk, seperti :لا تسألوا عن أشياء إن تبدو لكم تسؤكم

3. Taswiyah (menyamai), seperti :اصبروا او لا تصبروا

D. Tamanni

Termasuk pembahagian Insya' selanjutnya adalah Tamanni. Tamanni adalah menuntut hal yang dicintai yang diharapkan dan tidak terjadi kehasilannya, adakala karena Mustahil seper
ti dalam ayat :

يا ليتني كنت تربا
"Mudah-mudahanku itu tanah"

Adakala berpotensi mungkin akan tetapi tidak sanggup dicapainya seperti firman Allah SWT :

يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون
"Mudah-mudahan kami, itu seperti yang didatangkan Qarun"

Adapun apabila urusan bagus yang diharapkan itu termasuk hal yang bisa diharapkan dinamakan Tarjiyyan, dan diredaksikan dengan ( عسى ) dan (لعل) seperti dalam Firman Allah SWT

لعل الله يحدث بعد ذلك امرا
“Mudahan Allah menjadikan sesudah itu Urusan”

عسى الله أن يأتي بالفتح
“Mudahan Allah mendatangkan kemenangan”

Ada beberapa kata yang menunjuki kepada Tamanni, Satu diantaranya asli yaitu ليت, dan tiga diantaranya merupakan gantian dan dijadikan Tamanni karena untuk balaghah (menjaga retorika bahasa), ketiganya yaitu : هل,.ولعل, هل Seperti dalam Ayat dibawah ini:

فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا

فلو أن لنا كرة فنكون من المؤمنين

لعلي أعمل صالحا فيما تركت

-Qawaidul Asasiah Hal 23

Pakaian Yang Dicuci Menggunakan Air Musyammas

Deskripsi Masalah:

Dalam Fiqh telah ditentukan air yang bisa di gunakan untuk bersuci dan tidak, dalam Fiqh juga dijelasakan ada air yang hukumnya makruh apabila digunakan untuk badan dan tidak makruh apabila digunakan pada selain badan seperti mencuci pakaian dan sebagainya, itulah yang dinamakan air musyammas (air hasil panasan cahaya matahari)

Pertanyaan :

Bagaimanakah hukum memakai pakaian yang telah dicuci dengan air musyammas?

Jawaban :

Dalam permasalahan ini dapat dirincikan sebagai berikut:

1. Apabila pakaian tersebut dipakai dalam keadaan masih basah maka hukumnya makruh.
2. Apabila pakaian tersebut dipakai sesudah kering dan tidak lagi basah maka hukumnya boleh.

Adapun apabila pakaian yang telah kering tersebut basah kembali karena disebabkan oleh keringat yang hasil dari tubuh maka hukumnya tidak apa-apa( boleh ).

- Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 29 Cet, Haramain

ولو غسل ثوبه بالماء المشمس ثم لبسه فان كان ذلك حال رطوبته وحزارته كره والا فلا، ولاتعود الكراهة ان عرق فيه على المعتمد خلافا لما نقله المحشى عن القمولى وأقره

Kalimat تعالی Fi'il Atau Isim Fi'il ?

Deskripsi Masalah:

Mungkin masih ada diantara kita yang belum tahu ataupun masih ragu dalam memutuskan status kalimat تعالی. Pada kesempatan kali ini Lbm.mudimesra.com ingin berbagi sedikit ilmu tentang kalimat تعالی. Keraguan ini terjadi dikalangan pelajar disebabkan Kalimat تعالی ini ada yang mengatakan fi'il dan ada juga yang mengatakan isim fi'il.

Pertanyaan:

Pendapat manakah yang lebih relevan menurut konteks kitab Nahwu dan Sharaf ?

Jawaban:

Kalimat تعالی adalah fi'il, yakni fi'il madhi, bukan isim fi'il. Alasannya, kalimat تعالی menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta fa'il yang berharkat atau dalam bahasa lain ta dhamir bariz muttashil. Adapun isim fi'il tidak menerima tanda fi'il, karena definisi daripada isim fi'il adalah:

اسم يقوم مقام الفعل فی المعنی والزمان والعمل ولکنه لا يَقبل علامةَ الفعل الذی يقوم مقامَه و لا يتأثر بالعوامل

Isim yang bertempat pada tempat fi'il, baik dari segi makna, zaman dan amalannya, namun tidak menerima tanda fi'il yang ditempatinya dan tidak berubah dengan masuk 'amil.

Didalam definisi diatas dijelaskan persamaan dan perbedaan antara fi'il dan isim fi'il. Persamaan keduanya ada 3, yaitu dari segi makna, zaman dan amal. Perbedaan keduanya ada dua, yaitu tidak menerima tanda fi'il dan tidak berubah bila dimasuki 'amil.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan dua hal:

1. تعالی adalah fi'il, yakni fi'il madhi, karena kalimat تعالی menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta fi'il yang berharkat. Contoh تبارکت ربنا و تعاليت Sebagaimana halnya نعم dan بئس merupakan fi'il madhi karena menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta taknis. Contohnya : نِعمت

2. Pendapat yang mengatakan تعالی isim fi'il bukan fi'il dengan alasan berzaman sedangkan isim tidak, pendapat tersebut keliru. hal ini dikarenakan :

a. baik fi'il ataupun isim fi'il tetap memiliki zaman meskipun adanya zaman pada fi'il dan isim fi'il berbeda. Adanya zaman pada fi'il adalah secaraوَضعًا , sedangkan pada isim fi'il bukan secara وَضعًا

b. Bertashrif, yakni di atas wazan تَفَاعَلَ-يَتَفَاعَل.  Adapun isim fi'il tidak ada satu pun yang bertashrif. Bukti kalimat تعالی bertasrif (mempunyai tasrif) Qunut تبارکت ربنا و تعاليت Syarkawi 'ala Hud Hudi يتعالی الله Asmaul Husna المتعالی . Namun perlu di garis bawahi bahwa, meskipun kalimat تعالی adalah fi'il , bukan berarti تعالی yang dinisbatkan kepada Allah terjadi pada zaman madhi sedangkan pada zaman yang lain tidak, karena berdasarkan qaedah:

الفعل اذا أضيف الی الله تعالی تجرد عن الزمان و صار معناه الدوام

Fi'il bila disandarkan kepada Allah tidak lagi berzamanzaman sehingga maknanya menjadi kekal

Sumber rujukan :

- Referensi: Nahwu Al-Wafi Jilid 1 Hal 47
- Referensi: Kitab Kafrawi dan Nahwu Al-Wafi Jilid 1


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja