Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

MUJADDID DARI MASA KEMASA

Makna Mujaddid  adalah seseorang yang diutus oleh Allah Swt untuk memperbarui kembali  ajaran-ajaran islam yang sudah sempat pudar dan ditinggalkan, dan membedakan kembali antara yang benar (sunnah) dan yang salah (bid’ah). Memperbarui  di sini bukanlah bermakna mendatangkan hal-hal baru dalam agama. Ini  tentu tidak boleh, karena hal tersebut merupakan bid’ah dhalalah dalam  agama. Tetapi tajdid adalah bermakna mengembalikan keadaan agama seperti  waktu baru kemunculannya, yakni zaman Nabi SAW. Sebagai contoh, kalau  ada sebuah baju sudah lusuh dan pudar, lalu kita bersihkan dan seterusnya kita beri warna sesuai dengan warna aslinya, maka itu  dinamakan kita telah memperbaharui baju tersebut sehingga nampak bersih  dan berwarna seperti sediakalanya..
Mujaddid ini  sendiri akan diutus seratus tahun atau seabad sekali oleh Allah Swt.  Dan kehadiran Mujaddid ini merupakan  bukti  ungkapan Rasululah di masa  dulu  memalui sebuah Hadistnya  “ Sesunguhnya Allah akan mengutus bagi  umat seseorang yang akan memperbarui ajaran agama umat tersebut”. (HR.  Hakim dan Baihaqi).

Berikut nama-nama Mujaddid dari masa kemasa:

1. Umar bin Abdul Aziz.
2. Muhammad bin Idris yaitu pendiri mazhab Syafie.
3. Al-Qazi Abul Abbas Ahmad bin Umar bin Sarij al-Baghdady.
4. Abu Hamid Ahmad bin Muhammad al-Isfarany. sebagian pendapat Sahal bin Sulaiman as-Sakluki.
5. Hijjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin al-Ghazaly.
6. Al-Imam Abu Qasim Abdul Karim bin Muhammad Arrafi’i.
7. Taqiuddin Muhammad bin
8. As-Suraj Umar bin Ruslan Al-Bulqainy.
9. Jalalussuyuthy.
10. Syamsul Muhammad bin Ahmad ar-Ramli
11. Sayyid Abdil Qadir bin Abi Bakar al-Aydrus al-Khuzramy, sebagian pendapat Sayyid Muhammad bin Rasulul barzanjy al-Madany.
12. As-Syihab Ahmad bin Umar Addayraby al-Mishry. Sebagian pendapat Abdurraauf al-Basybaisy al-Mishry.
13. Al-Alamah Abdullah bin hijazi as-Syarqawi al-Mishry.

 (وقيل الجميع) : أي كل من السيوطي والشيخ زكريا هذا. والمراد بالمجدد هو من يحيي ما أندرس من الدين، ويبين السنة من البدعة، وهوالمشار إليه في الحديث الصحيح: «إن الله يبعث لهذه الأمة من يجدد لها دينها» رواه أبو داود والحاكم والبيهقي . وكان في المائة الأولى عمر بن عبدالعزيز، وفي الثانية إمامنا أبو عبدالله محمد بن إدريس الشافعي ، وفي الثالثة القاضي أبو العباس أحمد بن عمر بن سريج البغدادي، وفي الرابعة الشيخ أبو حامد أحمد بن محمد الإسفرائيني شيخ العراقيين وقيل أبو سهل محمد بن سليمان الصعلوكي ، وفي الخامسة حجة الإسلام أبو حامد محمد بن الغزالي، وفي السادسة الإمام أبو القاسم عبدالکریم بن محمد الرافعي، وفي السابعة تقي الدين محمد بن دقيق العيد القوصي، وفي الثامنة السراج عمر بن رسلان البلقيني، وفي التاسعة الجلال السيوطي، وفي العاشرة الشمس محمد بن أحمد الرملي، وفي الحادية عشر السيد عبد القادر بن أبي بكر العيدروس الحضرمي وقيل السيد محمد بن رسول البرزنجي المدني، وفي الثانية عشر الشهاب أحمد بن عمر الديربي المصري وقيل عبدالرءوف البشبيشي المصري، وفي الثالثة عشر العلامة عبدالله بن حجازي الشرقاوي المصري كما رجاه لنفسه.

Rujukan : Hasyiah al-Fawaid Janiyyah Syaikh Yasin al-Fadani al-Makki Hal 73 Cet,
Darur rasyid.




Berharganya Ilmu Ketimbang Harta

Setiap manusia pasti mengiginkan kehidupan yang  sempurna,  yang  jauh dari  segala prolematika dan lika-liku kehidupan.Tetapi, tidak sedikit di antara manusia  yang menjadikan  standar kebahagiaan dalam hidupnya adalah bergelimang dengan material dan kekayaan. Pada dasarnya segala pemberian dari Allah SWT kepada hambanya berupa harta yang banyak dan  kekayaan yang berlelimpah  itu juga merupakan  salah satu bentuk ujian  yang Allah swt berikan kepada hambanya ,  seperti dalam firmannya:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَ


“Adapun manusia apabila Tuhannya Mengujinya lalu dimuliakanya dan diberinya Kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila tuhannya mengujinya, lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata “ Tuhanku menghinaku “. ( Qs. Al-Fajr [ 89 ]: 15-17 )

Maksudnya, tidaklah setiap orang yang dimuliakan dan diberi nikmat oleh Allah di dunia itu Allah benar-benar memberikan nikmat kepadanya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi manusia. Dan tidaklah setiap yang  Allah sempitkan rizkinya, dengan memberikan rizki sekedar kebutuhannya dan tidak dilebihkan, berarti Allah menghinanya. Akan tetapi, Allah menguji hambanya dengan kenikmatan sebagai mana Allah juga menguji hambanya dengan kesulitan (kesempitan) .  
Oleh karena itu, para sahabat terdahulu mereka tidak mau kalau ilmu agamanya itu ditukar dengan harta benda. Mereka tidak mau kalau ilmu agama  yang mereka miliki  ditukar dengan sesuatu yang lebih rendah nilainya.  Dengan berbagai macam alasannya , diantaranya adalah 

فإن العلم يبقى والمال يفنى
"Ilmu itu Abadi, sedang harta adalah Musnah"

Dan juga  seperti apa yang dikemukakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib:

رضينا قسمة الجبار فينا لنا علم وللأعداء مال
 فإن المال يفني عن قريب وإن العلم يبقي لا يزال 

Kami rela, bagian Allah untuk kami
Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami
Dalam waktu singkat, harta jadi musnah
Namun ilmu, abadi tak akan sirna.

( Ta'lim Muta'alim...Hal.25 )

Rasulullah SAW Menegah Dirinya Dari 3 Hal

Diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi membawa risalah paling utama, yakni Menyempurnakan akhlak manusia hal ini sesuai dengan hadist :


" إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق"

Hanyasanya aku diutuskun untuk menyempurnakan akhlak manusia”

Dalam hadist ini jelas yang bahwa inti dari diutusnya Rasulllah SAW untuk memperbaiki akhlak manusia, sehingga sang penyempurna akhlak itupun memiliki akhlak yang terpuji. Termasuk diantara akhlak Rasul sebagaimana tertera dalam hadist yang terdapat dalam kitab Syamail Muhammadiyah Rasulullah menegah dirinya dari melakukan 3 hal:

1. Berdebat (Al Mira’)

Rasulullah SAW meninggalkan perdebatan walau itu dalam hal kebenaran, dalam satu hadist disebutkan :

“Orang yang meninggalkan perdebatan akan disiapkan satu rumah disurga nantinya”

Di dalam kesempatan belajar sesudah subuh tadi (12 Muharram 1441 H), Abi MUDI menjelaskan banyak para Habaib yang tidak ingin berdebat secara lansung, hal ini karena mereka mengikuti akhlak mulia kakek mereka Baginda Rasulullah SAW. Walaupun mereka yang mau megikuti debat juga ada alasan tersendiri.

2. Memperbanyak (al Iktsar)

Al iktsar yang dimaksudkan disini adalah Nabi tidak mempoerbanyak terhadap harta dan kalam, sehingga Rasulullah tidak berkalam kecuali kalam itu kalam yang bermanfaat. Dalam masalah harta pun demikian, sehingga pernah disaat datang orang membawa buah mentimun kepada Rasul, Rasul memberikan segenggam emas kepadanya. Para muhibbin, disini dapat dilihat yang bahwa diri Rasulullah tidak terikat dengan harta apalagi ingin memiliki harta yang banyak.

3. Meninggalkan hal tak penting (Taraka Ma la Ya’nih)

Meninggalkan yang penting yang dimaksudkan disini adalah meninggalkan urusan yang tidak penting dalam agama dan dunia. Di dalam satu hadist Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318)

Banyak sekali akhlak mulia dari baginda Rasulullah SAW yang belum diteladani, Semoga dengan pertolongan Allah, Rasulullah bisa dijadikan suri tauladan kita semua. Amin
                                                                   
                                                                             
                                                                                                Lbm.mudimesra.com



Pembahasan Lafadh إنما

Di dalam sebuah hadist yang sudah tidak asing lagi bagi semua kalangan. Hadist ini bisa didapatkan didalam kitab Shahih Bukhari, Shahih muslim dan kitab sunan yang empat yang berbunyi (إنما الأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ) ternyata memiliki pembahasan yang unik dan keren pada lafadh ( إنما ) yang perlu kita pahami dan mengetahuinya antara lain adalah :

1. Imam Nawawi mengutip  pendapat dari pada para ulama mutaqaddimin yang mengatakan [1]   yang bahwa lafal tersebut ( إنما ) pemakaianya iuntuk hasar. Bahkan menurut riwayat dari syaikh Yasin al-fadani mengatakan bahwa pendapat yang kuat dari para ulama menyebutkan lafadh tersebut ( إنما ) memang penciptaanya ( موضوعة ) untuk pemaham hasar.

2. Menurut imam Karmani, Imam Barmawi dan abu Zar’ah mengatakan sepakat para ulama kepada susunan dari lafadh tersebut ( إنما  ) memang berfaidah kepada hasar. Akan tetapi yang menjadi perselisihan pendapat para ulama adalah pada cara lafadh itu ( إنما ) menghasarkan suatu kalam. Sehingga timbul beberapa pendapat, yaitu :
1) Sebahagian ulama berkata dari mantuk lafal tersebut menunjukkan kepada hasar.
2) Sebahagian lain berpendapat bukan dari mantuknya lafal, akan tetapi dari mafum lafalnya yang menunjukkan kepada hasar.

3) Dan yang lain berkata karena dari segi umum mubtada dan khusus khabar yang menjadi sebab lafal ini ( إنما ) berfungsi kepada hasar.

قال الكرمانى والبرماوى وأبو زرعة : التركيب مفيدللحصر باتفاق المحققين وإنما اختلف في وجه الحصر فقيل دلالة إنما عليه بالمنطوق أو المفهوم على الخلاف المعروف .

Sumber : kitab Al-fawaidul Janiah Hasyiyah Al-mawahibul As-saniyah, hal:112 Cet-Dar’ Rasyad )


[1] Kitab Albustani imam Nawawi.


Buku Biografi ABON ABDUL AZIZ (GURU BESAR ULAMA ACEH)

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja