Ingin dianggap baik oleh orang lain adalah suatu hal yang umumnya diinginkan oleh setiap manusia sehingga bahkan seseorang rela untuk berpura-pura dihadapan orang lain dan menyembunyikan sifat aslinya. Kendatipun demikian sebenarnya bagaimana dalam kacamata tasawuf memangdang hal tersebut, apakah dibenarkan atau tidak.
Sebelum kita menelisik kajian ulama sufi, ternyata jauh-jauh hari Saidina Ali pernah mengungkapkan satu nasehatnya bahwa jadilah engkau manusia yang paling baik dalam pandangan Allah, yang paling hina dalam pandanganmu sendiri dan jadilah engkau orang yang sewajarnya dalam pandangan manusia.
Maqalah yang diutarakan Saidina Ali diatas dapat dipahami bahwa pandangan Allah-lah yang harus paling kita harapkan sementara bagaimana manusia memandang kita, itu tidak diperlukan yang penting kita hidup sesuai dengan anjuran agama serta jangan sampai pula kita berani melakukan perkara yang dilarang agama demi terlihat baik pada pandangan manusia karena pandangan mereka tiada sisi keuntungan bagi kita diakhirat kelak.
Terakhir kita dianjurkan memandang diri kita sendiri sebagai manusia yang paling hina diantara manusia-manusia lain karena sifat hina inilah yang bernilai disisi Allah sehingga ada ungkapan bahwa ahli maksiat yang merasa diri hina lebih mulia disisi Allah daripada ahli ibadah yang merasa suci dan bangga dengan ibadahnya. Perlu dijabarkan bahwa maksiat tetaplah maksiat yakni suatu perbuatan yang buruk, namun karena adanya sifat kehinaan pada diri pelaku maksiat tersebut maka dari sisi tersebutlah terdapat kelebihan pelaku maksiat daripada ahli ibadah yang merasa bangga dan suci karena ibadahnya. Sisi kehinaan inilah yang mengantarkan hati setiap hamba merasa sangat hancur dan butuh kepada pertolongan Allah dalam kondisi apapun. Inilah sebenarnya esensi dari penghambaan yang dicari. Seandainya merasa hina tersebut dirasakan oleh ahli ibadah maka dia lebih mulia disisi Allah daripada ahli maksiat.
Dalam kalam hikmah yang lain disampaikan bahwa modal dasar pada adab bahkan menjadi otak tasawuf adalah selalu memandang diri kurang (hina) dan memandang orang lain lebih utama (mulia).
Diceritakan bahwa salafussaleh ketika mereka bermunajah ditengah malam yang diiringi dengan tangisan karena merasa diri hina dihadapan Allah dan takut kepada Allah, ketika paginya mereka pura-pura demam dan flu supaya manusia tidak mengetahui bahwa ketika tengah malam mereka bermunajah dan menangis tersedak sedak. Beginilah mereka menyembunyikan ibadah demi menghindari pujian, riya dan pandangan baik manusia.
Ibnu Athailah as-Sakandari dalam Syarah Hikam mengurai panjang lebar kalam Ibnu Rundi perihal hikmah berpaling dari pandangan manusia.
Sebenarnya Allah taala cemburu dengan seorang hamba yang tidak mementingkan pandangannya dan mengejar pandangan manusia sehingga terkadang Allah menyadarkan kita dengan perlakuan buruk atau celaan dari manusia supaya kita kembali mengharap pandangannya. Ketika seseorang kembali mencari pandangan Allah maka ia akan memperoleh hikmahnya yaitu hidup menjadi tenang tanpa memikirkan pandangan manusia.
Ibrahim at-Taimi pernah mendapatkan celaan dari manusia. Ia dianggap orang yang riya dalam beribadah oleh orang sekitarnya padahal sifat ria tidak ada padanya. Pandangan orang sekitarnya tersebut tidak membuatnya sedih atau marah, kejadian tersebut malah membuatnya bahagia karena ia menyadari manusia tidak selalu menganggap baik suatu perbuatan baik yang kita lakukan dan tak selalu menganggap buruk setiap perbuatan buruk yang kita lakukan. Barometer atau ukuran baik dan buruknya suatu perbuatan bukanlah pada pandangan manusia melainkan pada pandangan Allah.
Gus Baha pernah mengatakan "Tetaplah menganggap haram suatu yang haram walaupun seluruh manusia di dunia melakukannya begitupula sebaliknya".
Lenyapkanlah pandangan manusia dengan merasa cukup dengan pandangan Allah dan hilangkanlah hasrat untuk dipandang baik oleh manusia serta saksikakan pandangan Allah kepadamu. Kapan saja merasa pedih karena tidak dipandang dan diperlakukan baik oleh manusia walaupun engkau seorang ahli ilmu, mempunyai jabatan atau berasal dari keturunan yang mulia dan kelebihan lainnya maka jika engkau merasa cukup dengan pengetahuan Allah dan ridha dengan pemberiannya saja niscaya engkau akan sangat bahagia yang kebahagiaan tersebut tidak engkau dapati dari pandangan makhluk.
Jika engkau tidak menerima pandangan dan perbuatan buruk termasuk celaan dari manusia maka engkau akan mendapatkan musibah yang besar yaitu tersakiti karena manusia dan Allah tidak akan memberikan kebahagian yang sesungguhnya dalam hidupmu.
Janganlah merasa senang jika dipandang baik manusia dan jangan merasa susah kecuali berpaling dari pandangan Allah karena pandangan Allah adalah rahmad ( kasih sayang). Musibah tidak merasa cukup dengan pandangan Allah saja lebih besar dari pada musibah disakiti manusia.
Bersikaplah biasa saja ketika kita disambut baik atau buruk oleh manusia. Sambutan baik mereka janganlah membuat kita melayang dan merasa kita hebat dan terlalu bahagia dan sambutan buruk merekapun jangan pula menjadikan kita tumbang dan tidak semangat dalam kehidupan atau bahkan marah karena terkadang perlakuan baik orang lain kepada kita merupakan kebaikan yang diberikan Allah atas dasar kebaikan yang kita lakukan begitu pula dengan keburukan yang kita terima mungkin karena perbuatan buruk yang kita perbuat.
Pada dasarnya sebaik apapun pandangan manusia kepada seseorang tidak menjamin baiknya orang tersebut pada pandangan Allah begitu pula sebaliknya.
Dengan tidak mengharap pandangan manusia hiduppun menjadi lebih tenang, jiwa menjadi lebih lapang dan langkah lebih leluasa dalam berjalan karena tidak takut dengan pandangan manusia.
Referensi: Syarah Hikam, Cet: Haramain, Jilid: 2 halaman 57
الناس لا يقنعك علمه فمصيبتك بعدم قناعتك عليك أو توجههم بالذم اليك فارجع الى علم الله فيك فان كان لا يقنعك بعلمه أشد من مصيبتك بوجود الأذي منهم العبد لا ينبغى أن يكون مطمح نظره إلا إلى مولاه فلا الا باقباله عليه ولا يحزن الا لاعراضه عنه ولا ينظر إلى المخلوقين في اقبال ولا اعراض ولا مدحفانهم لا يغنون عنه . عنه من الله شيئا وقد تقدم هذا المعنى في قوله رحمه الله غيب نظر الخلق اليك بنظر إليك وغب عن أقبالهم عليك بشهود اقباله عليك فمتى آلمه عدم اقبالهم عليه أو توجههم بالذم اليه إلى ما بينه وبين ربه فان كان قانعا بعلمه راضيا بقسمته كان له فى ذلك اعظم سلوان عما يفوته من جهة المخلوقين بل لا يجد وقعا في قلبه لما عسى أن يكون منهم من اقبال أو اعراض وان لم يكن راضيا قانعا فمصيبته بذلك أعظم من مصيبته بأذى الناس له بل لا مصيبة له فى أذى الناس ألبتة عند من سر ذلك على ما يذكره المؤلف الآن رحمه الله تعالى قال إبراهيم التيمي رضى الله عنه لبعض يقول الناس فى فقال يقولون انك مراء فقال الآن طاب العمل فقال بشر رضى الله عنه اكتفى والله الله فلم يجب أن يدخل مع الله أعلم علم . غيره غيره وقال بشر بشر الحافي الح سكون النفس إلى قبول المدح لها أشد من المعاصى.



0 Komentar