Waktu adalah nikmat yang paling sering disia-siakan manusia. Padahal setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Para ulama salaf terdahulu sangat menjaga waktu mereka, bahkan sampai hal-hal kecil yang dianggap remeh pun diperhatikan agar tidak mengurangi kesempatan beribadah, belajar, dan mengingat Allah.
Perhatian Besar Ulama Salaf terhadap Waktu
Para ulama salaf sangat takut jika waktu mereka terbuang sia-sia. Mereka memahami bahwa umur manusia terbatas dan setiap saat akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah berkata:
“Aku mengenal seseorang yang menghitung perkataannya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.”
Perkataan ini menunjukkan betapa hati-hatinya mereka dalam berbicara. Mereka tidak ingin ucapan yang tidak bermanfaat memenuhi waktu dan catatan amal mereka.
Dikisahkan pula, beberapa orang datang mengunjungi seorang ulama salaf. Mereka berkata:
“Mungkin kami telah mengganggumu?”
Beliau menjawab:
“Benar, sebelumnya aku sedang membaca, lalu aku meninggalkan bacaanku karena kalian datang.”
Jawaban ini bukan bermaksud kasar, tetapi menunjukkan betapa berharganya waktu di mata mereka.
Salaf Sangat Membenci Kemalasan
Suatu hari seorang ahli ibadah datang menemui As-Sari As-Saqathi. Ketika melihat banyak orang berkumpul di tempatnya, ia berkata:
“Engkau telah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang menganggur.”
Lalu ia pergi tanpa duduk bersama mereka.
Mereka khawatir majelis yang terlalu banyak obrolan justru menghabiskan umur tanpa manfaat.
Dikisahkan juga beberapa orang duduk terlalu lama di rumah Ma’ruf Al-Karkhi. Maka beliau berkata:
“Malaikat yang menggerakkan matahari tidak pernah berhenti menjalankannya. Lalu kapan kalian akan pulang?”
Ungkapan ini mengingatkan bahwa waktu terus berjalan dan tidak pernah menunggu siapa pun.
Contoh Menakjubkan dalam Memanfaatkan Waktu, Para salaf bahkan memanfaatkan waktu-waktu singkat yang sering dianggap sepele.
Dawud Ath-Tha’i pernah makan remah roti kering sambil berkata:
“Di antara mengunyah remah roti dan memakan roti
biasa, aku bisa membaca lima puluh ayat Al-Qur’an.”
Begitu berharganya waktu bagi mereka.
Ada pula Utsman Al-Baqalawi yang selalu berzikir kepada Allah. Beliau berkata:
“Ketika waktu berbuka tiba, aku merasa seolah ruhku keluar, karena sibuk makan membuatku terputus dari zikir.”
Salah seorang ulama salaf juga pernah berpesan kepada murid-muridnya:
“Jika kalian keluar dari tempatku, maka berpisahlah. Bisa jadi salah satu dari kalian membaca Al-Qur’an di perjalanan. Karena jika kalian berkumpul, kalian justru banyak berbincang.”
Waktu Adalah Ladang Amal
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa membaca: Subhanallahil ‘Azhiim wa bihamdih, maka akan ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga.”
Betapa banyak pahala yang hilang karena manusia menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak berguna.
Hari-hari yang kita jalani ibarat ladang pertanian. Amal saleh adalah benihnya. Orang yang berakal tentu tidak akan berhenti menanam sebelum masa panen tiba.
Cara Agar Bisa Memanfaatkan Waktu dengan Baik
Beberapa hal yang membantu seseorang menjaga waktunya antara lain:
1. Mengurangi Pergaulan yang Tidak Perlu
Terlalu banyak berkumpul dan berbincang sering membuat waktu habis tanpa manfaat.
2. Menyendiri untuk Fokus Beribadah dan Belajar
Sesekali menyendiri membantu hati lebih tenang untuk membaca Al-Qur’an, belajar, dan berzikir.
3. Tidak Berlebihan dalam Makan
Makan terlalu banyak menyebabkan malas, mengantuk, dan membuat malam terbuang sia-sia.
4. Membaca Kisah Orang Saleh
Mempelajari kehidupan ulama salaf membuat hati termotivasi untuk lebih menghargai waktu.
Penutup
Waktu adalah modal terbesar manusia. Orang kaya sekalipun tidak mampu membeli kembali satu jam yang telah hilang. Karena itu, para ulama salaf sangat menjaga umur mereka agar tidak habis dalam kelalaian.
Hari ini banyak manusia kehilangan waktu karena terlalu sibuk dengan hiburan, obrolan, dan hal-hal yang tidak mendekatkan diri kepada Allah. Padahal setiap detik bisa menjadi ladang pahala jika digunakan dengan baik.
Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk menjaga waktu, mengisinya dengan amal saleh, dan menjadikan umur kita penuh keberkahan. Aamiin.
Ref; Abdul Fattah Abu Ghuddah Al-Halabi Al-Hanafi, QIMATU ZAMAN INDA ULAMA, cet. ke-10 (Aleppo: Maktab al-Mathbu‘at al-Islamiyyah, t t), h. 60.



0 Komentar