Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Doa bagi orang sakit

Sakit merupakan satu hal yang lumrah bagi semua makhluk hidup. Ketika sakit banyak aktivitas kita yang terhenti, namun jangan sampai sakit menjadi satu sebab kita jauh dari Allah, maka sangat dituntut untuk memperbanyak membaca doa ketika sakit, apalagi kalau sampai kita mati pada saat sakit tersebut, doa menjadi kebutuhan yang besar bagi kita.

Ketika kita sakit disunatkan memperbanyak membaca doa antara lain:

1. Memperbanyak membaca surat Al Ikhlash.

Dalam satu hadits Rasulullah bersabda:
من قرأ قل هو الله أحد، في مرض موته مائة مرة، لم يفتن في قبره، وأمن من ضغطة القبر وجاوز الصراط على أكف الملائكة

“barangsiapa membaca قل هو الله أحد ketika sakit matinya sebanyak 100 X maka ia tidak akan mendapat fitnah kubur dan aman dari himpitan kubur dan melewati titian dengan diatas sayap malaikat ”

2. Memperbanyak membaca :
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dalam satu hadits Rasulullah bersabda:
من قال لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين - أربعين مرة - في مرضه فمات فيه، أعطي أجر شهيد، وإن برئ برئ مغفورا له غفر الله لنا

“Barangsiapa membaca لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين sebanyak 40 kali ketika sakit maka bila ia mati dalam sakit tersebut akan diberikan pahala syahid dan bila sembuh maka ia sembuh dalam keadaan diampuni”

3. Membaca doa dibawah ini:
لا اله إلا الله يَحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لا يَمُوتُ وَسُبْحَانَ الله رَبِّ العِبَادِ وَالبِلادِ، والحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ عَلى كُلِّ حالٍ الله أَكْبَرُ كِبْرياء رَبِّنَا وَجَلالَهُ، وَقَدْرَتُهُ بِكُلِّ مَكانِ اللَّهُمَّ إنْ كُنْتَ أَمْرَضْتَنِي لِقَبْض رُوحِي في مَرَضِي هاذا فَاجْعَلْ رُوحِي في أَرْوَاحِ مَنْ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنْكَ الحُسْنَى، وَأَعْذْنِي كَمَا أَعَذْتَ أَولئِكَ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمُ الحُسْنَى

Barang siapa membaca doa tersebut ketika sakit bila ia mati akan diterima taubatnya sebagaimana dalam satu hadits Rasulullah, demikian yang tersebut dalam Kitab Irsyadul `Ibad karya Syeikh Zainuddin Al Malibari.

Referensi: Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2


Hukum hadir wali pada akad nikah yang diwakilkan

Dalam sebuah acara akad pernikahan, setelah wali mempelai wanita mewakilkan untuk menikahkan putrinya kepada salah seorang kepala KUA. Tiba-tiba kepala KUA tersebut menyuruh ayah mempelai wanita tersebut untuk pergi dan jangan menyaksikan akad pernikahan tersebut. Dengan hati yang sedih ia pun pergi walaupun hatinya ingin sekali menyaksikan acara akad nikah putri semata wayangnya.

Pertanyaan:
Benarkan bila seorang wali telah mewakilkan akad nikah kepada orang lain maka ia tidak boleh menghadiri majlis akad nikah tersebut?

Jawab:
Tidak ada larangan bagi seorang wali yang telah mewakilkan akad nikah putrinya kepada orang lain untuk menghadiri majlis akad nikah bila ia hadir bukan sebagai saksi. Adapun bila ia mewakilkan nikah kepada orang lain kemudian ia hadir dalam akad nikah tersebut sebagai saksi (Karena akad nikah tersebut hanya dihadiri oleh calon suami, wakil wali, wali, dan seorang saksi yang lain) maka akad nikah tersebut tidak sah, karena wakil wali merupakan pengganti wali maka wali tersebut tidak sah menjadi saksi.

Sebenarnya pemahaman yang keliru tentang hal ini muncul karena salah memahami nash kitab Kifayatul Akhyar hal 135:

فلو وكل الولي والزوج أو أحدهما أو حضر الولي ووكيله وعقد الوكيل لم يصح النكاح لأن الوكيل نائب الولي والله أعلم

“maka jikalau wali dan dan suami atau salah satu dari keduanya mewakilkan kepada orang lain atau hadir wali dan wakilnya dan dilangsungkan akad nikah maka tidak sah karena wakil adalah penggati waly”

Sebenarnya maksud dari nash kitab Kifayatul Akhyar tersebut adalah wali yang telah mewakilkan akad nikah tersebut hadir sebagai saksi seperti penjelasan diatas. Hal ini dikuatkan dengan memperhatikan nash-nash kitab fiqh Syafiiyah lainnya. Selain dari qaedah-qaedah fiqh kehadiran wali yang telah mewakilkan akad nikah tidaklah menjadi mani` (penghalang) bagi sahnya sebuah akad nikah.

Nash kitab Hasyiah Al Bajury jilid 2 hal 102 Cet. Toha Putra

فلو وكل الأب أو الأخ المنفرد فى العقد وحضر مع أخر ليكونا شاهدين لم يصح لأنه متعين للعقد فلا يكون شاهدافانه لا يصح لان وكيله نائب عنه فكأنه هو العاقد فكيف يكون شاهدا

Fatawa Ibnu Shalah jilid 2 hal 653 Cet. Dar Ma`rifah

مسألة إذا وكل الولي بتزويج وليته وأحضر الولي شاهدا لا يصح لأن الوكيل نائبه في التزويج فكأنه أحضر شاهدا وعاقدا

Bujairimi `ala Manhaj
ولا بحضرة متعين للولاية فلو وكل الأب ، أو الأخ المنفرد في النكاح وحضر مع آخر لم يصح ، وإن اجتمع فيه شروط الشهادة ؛ لأنه ولي عاقد ، فلا يكون شاهدا كالزوج .ووكيله نائبه

Nihayatuz Zain hal 306 Cet. Dar Fikr

فلو وكل الأب أو الأخ المنفرد في النكاح وحضر مع شاهد آخر لم يصح النكاح لأنه ولي عاقد فلا يكون شاهدا كالزوج

Nash yang serupa juga terdapat dalam hampir semua kitab fiqh Syafii, seperti Fathul Wahab jilid 2 hal 95 Cet. Dar Kutub Ilmiyah, Kitab Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 3 hal 299 Cet. Dar Kutub Ilmiyah, Kitab Raudhatuth Thalibin jilid hal Cet. Dar Kutub Ilmiyah

Download kitab Makna Qaul Imam Al Muthalliby Iza Shahha al-Hadits Fahuwa Mazhaby karya Imam As-Subky

Makna Qaul Imam Al Muthalliby Iza Shahha al-Hadits Fahuwa Mazhaby karya Imam As-Subky.Salah satu kata-kata Imam Syafii yang sangat terkenal adalah
اذا صح الحديث فهو مذهبي

sebenarnya kata-kata hampir serupa juga diucapkan oleh Imam-imam Mujtahid sebelum Imam Syafii. Bagaimana makna kata Imam Syafii tersebut,

banyak pihak yang salah mengartikannya kata-kata ini sering dijadikan pijakan sebagian golongan yang mengatakan bahwa Imam Syafii melarang taqlid kepada pendapat beliau.

Banyak para ulama telah menerangkan dan menjelaskan bagaimana makna kalimat ini. Imam Nawawy menguraikan dengan panjang lebar maksud perkataan Imam yang agung ini dalam kitab beliau Majmuk Syarah Muhazzab. Bahkan ada sebagian ulama yang mengarang kitab secara khusus menjelaskan perihal kalimat tersebut.

Diantara kitab yang secara khusus menerangkan hal tersebut adalah kitab Makna Qaul Imam Al Muthalliby Iza Shahha al-Hadits Fahuwa Mazhaby karya Imam As-Subky. Nah kini kami menampilkan file kitab tersebut dengan format pdf yang dicetak oleh Maktabah Qurthubiyah. Sebenarnya dalam cetakan ini sebelumnya ada satu muqaddimah kitab ini yang menerangkan beberapa masalah yang sangat diperlukan untuk memperdalami makna kalimat ini. Namun dalam file yang ada pada kami muqaddimah tersebut tidak diikut sertakan sehingga lembaran yang pertama dimulai dari halaman 77. Namun dari pada tidak ada, file kitab ini tetap bisa menjadi satu wadah penambah koleksi file-file kitab klasik.

Klik disini Untuk mendownload kitab Makna Qaul Imam Al Muthalliby Iza Shahha al-Hadits Fahuwa Mazhaby karya Imam As-Subky.
Untuk mengetahui bagaimana maksud wasiat Imam Syafii ini silahkan di baca di Memahami wasiat Imam Syafii

Download Kitab Al Fawaid Al Janiyah Karangan Musnid ad-Dunya Syeikh Yasin Al Fadany

Download Kitab Al Fawaid Al Janiyah Karangan Musnid ad-Dunya Syeikh Yasin Al Fadany

Al Fawaid Al Janiyah Karangan Musnid ad-Dunya Syeikh Yasin Al Fadany
Bagi kalangan santri pesantren Indonesia nama Syeikh yasin Al Fadany sudah tidak asing lagi. Ulama keturunan Padang ini merupakan ulama Nusantara yang telah banyak memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu agama melalui kitab-kitab karya beliau yang berjumlah sangat banyak sehingga beliau di juluki Suyuthy Zamanihi.

Salah satu kitab beliau yang fenomenal adalah kitab Al Fawaid Al Janiyah yang merupakan Hasyiah dari kitab Al Mawahib as-Saniyyah syarah dari Faraidul Bahiyyah. Kitab Faraidul Bahiyyah merupakan karya Sayyid Abi Bakar bin Abi Qasm Al Ahdal Al Yamany. Kitab ini berisi bait yang merupakan ringkasan dari kitab Asybah wan Nadhair fil furu` karangn Imam As Suyuthy. selnajutnya kitab ini diberi syarah oleh Syeikh Abdullah bin Sulaiman Al Jarhazy.

Kitab Al Fawaid Al Janiyah mendapat sambutan luar biasa dari para pelajar dan para ulama dari seluruh dunia, bahkan Universitas Al azhar menjadikan kiab ini sebagai silabus pada mata kuliah Ushul fiqh pada Fakultas Syari`ah Al Azhar. Kitab ini banyak beredar di pasaran dan di toko-toko kitab, namun tak ada salah nya juga kita memiliki file PDF nya. Nah siapa yang berminat silahkan download di bawah ini.
jilid Satu , Jilid Dua


Menyerahkan Zakat Kepada Orang Yang Meninggalkan Shalat

Menyerahkan Zakat Kepada Orang Yang Meninggalkan ShalatZakat merupakan salah satu ibadah maliyah yang bernilai sosial. Si pemberi zakat akan lebih merasa lega bila zakat pemberiannya digunakan oleh orang-orang yang rajin beribadah. Namun kenyataan dilapangan banyak pihak yang menjadi mustahiq zakat malah sangat jauh dari nilai agama bahkan shalat pun kadang-kadang jarang dilaksanakan.

pertanyaan:
Bagaimanakah hukumnya menyerahkan zakat kepada orang yang meninggalkan shalat?

Jawab:
  1. Jika ia meninggalkan shalat dengan keyakinan bahwa shalat tersebut tidak wajib terhadapnya maka ia telah keluar dari islam(murtad) maka memberikan zakat kepadanya tidak sah.
  2. Bila ia meninggalkan shalat karena malas dan masih berkeyakinan bahwa shalat tersebut wajib terhadapnya maka, tafsilan/rinciannya sebagai berikut:

Bila berdasarkan pendapat yang mu`tamad dalam mazhab Syafii yang mengatakan bahwa arti Rusyd adalah : صلاح الدين والمال

"pandai dalam memelihara agama dan harta"

Maka rinciannya sebagai berikut:
  • Jika sejak baligh ia tidak melaksanakan shalat dan hal tersebut berkelanjutan hingga saat ia menerima zakat maka ia tidak boleh menerima zakat karena ia termasuk dalam mahjur `alaih , tetapi terhadap walinya boleh menerima zakat atas namanya.
  • Jika pada awal baligh ia mengerjakan shalat tetapi dikemudian hari ia meninggalkan shalat dan ia pandai dalam memanfaatkan harta (tidak mubazzir/boros) atau ia merupakan orang yang boros dalam memelihara harta tetapi ia tidak dilarang dalam penggunaan harta (ghairu mahjur `alaih) maka sah baginya menerima zakat secara langsung.
Namun jika berdasarkan pendapat Imam Mazhab yang tiga (Imam Hanafi, Maliky, dan Hanbali dan juga diikuti oleh sebagian ulama mazhab Syafii seperti Ibnu Abdis Salam) yang mengatakan bahwa pengertian Rusyd adalah : صلاح المال
"pandai dalam memelihara harta saja"

Maka dibolehkan baginya menerimanya langsung secara mutlak.

Referensi:
Fatawa Imam Nawawy hal 63 Cet. Dar kutub Ilmiyah.
مسألة) هل يجوز دفع الزكاة الى مسلم بالغ لايصلى ويعتمد ان الصلاة واجبة عليه ويتركها كسلا؟

الجواب : ان كان بالغا تاركاً للصلاة واستمرّ علي ذلك الى حين دفع الزكاة لم يجز دفعها اليه لأنه محجور عليه بالسفه فلا يصح قبضه ولكن يجوز دفعها الى وليه فيقبصها لهذا وان بلغ مصلياً رشيداً ثم طرأ ترك الصلاة ولم يحجر القاضي عليه جاز دفعها اليه وصح قبضه لنفسه كما تصح جميع تصرفاته

Nihayatul Muhtaj jilid 6 hal 159 Cet. Dar Kutub Ilmiyah
وأفتى المصنف في بالغ تارك الصلاة أنه لا يقبضها له إلا وليه أي كصبي ومجنون فلا يعطى له وإن غاب وليه بخلاف ما لو طرأ تبذيره ولم يحجر عليه فإنه يقبضها

Busyra Karim hal 465 Cet. Dar Fikr
ومن شرط الآخذ أيضاً: أن لا يكون مموناً للمزكي أو غيره؛ لأنه غير فقير على ما مر، وأن لا يكون محجوراً عليه.ومن ثم أفتى النووي في بالغ تارك الصلاة: أنه لا يقبضها له إلا وليه.

Buhyatul Mustarsyidin hal 106 Cet. Haramain
مسألة) : قال الإمام النووي : من بلغ تاركاً للصلاة واستمرّ عليه لم يجز عطاؤه الزكاة إذ هو سفيه ، بل يعطى وليه له ، بخلاف ما لو بلغ مصلياً رشيداً ثم طرأ ترك الصلاة ولم يحجر عليه فيصح قبضه بنفسه كما تصح تصرفاته اهـ. وهذا على أصل المذهب من أن الرشد صلاح الدين والمال أما على المختار المرجح كما يأتي في الحجر من أنه صلاح المال فقط فيعطى مطلقاً إذا كان مصلحاً لماله ، وينبغي أن يقال له إن أردت الزكاة تب وصلّ فيكون سبب هدايته ، ويعطى المكاتب وإن كان لهاشمي أو كافر كما في العباب.

Takmilah Al Mathiby Majmuk Syarah Muhazzab jilid 13 Cet. Dar Fikr
ومن الناس من يرى أن الرشد هو الصلاح في المال فقط. وعندنا ليس كذلك، بل لابد من الصلاح في الدين والمال، وخالف فيه بعض أصحابنا وجماعة من العلماء ومن السفه ما يكون طارئا ومنه ما يكون مستداما، والشاهد قد يكون عاميا وقد يكون فقيها ويرى سفها ما ليس بسفه عند القاضى.وكذلك الرشد

.
Hasyiah Bujairimy `ala Manhaj jilid 2 hal 570 Cet. Dar Kutub Ilmiyah
قوله ( صلاح دين ومال ) خلافا لأبي حنيفة ومالك حيث اعتبر إصلاح المال فقط ومال إليه ابن عبد السلام واعترض الأول بأن الرشد في الآية نكرة في سياق الإثبات فلا تعم وأجيب بأنها في سياق الشرط فتعم وأيضا الرشد مجموع أمرين لا كل واحد سم وفي ق ل على الجلال واعتبر الأئمة الثلاثة صلاح المال وحده وقرره شيخنا

Hasyiah Syarwany `ala Tuhfatul Muhtaj jilid 6 hal 192 Cet. Dar Fikr
والرشد صلاح الدين والمال ) معا كما فسر به ابن عباس وغيره الآية السابقة ووجه العموم فيه مع أنه نكرة مثبتة وقوعه في سياق الشرط قالوا ولا يضر إطباق الناس على معاملة من لا يعرف حاله مع غلبة الفسق ؛ لأن الغالب عروض التوبة في بعض الأوقات التي يحصل فيها الندم فيرتفع الحجز بها ثم لا يعود بعود الفسق ويعتبر في ولد الكافر ما هو صلاح عندهم دينا ومالا .قال ابن الصلاح ولا يلزم شاهد الرشد معرفة عدالة المشهود له باطنا فلا يكفي معرفتها ظاهرا ولو بالاستفاضة وإذا شرطنا صلاح الدين ( فلا يفعل محرما ما يبطل العدالة ) بارتكاب كبيرة مطلقا أو صغيرة ولم تغلب طاعاته معاصيه وخرج بالمحرم خارم المروءة فلا يؤثر في الرشد وإن حرم ارتكابه لكونه تحمل شهادة ؛ لأن الحرمة فيه لأمر خارج

قوله: (قالوا الخ) فيه لاتيانه بصيغة التبري إشعار باستشكاله وإن كان منقولا وهو كذلك إذ كيف يحكم بمجرد ندم محتمل مع أنه قد يعم الفسق أو يغلب في بعض النواحي بمظالم العباد كغيبة أهل العلم ومنع مواريث النساء أو غير ذلك وأحسن ما يوجه به أن يقال إذا ضاق الامر اتسع وإلا لادى إلى بطلان معظم معاملات العامة، وكان هذا هو الحامل لابن عبد السلام على اختباره أن الرشد صلاح المال فقط اه سيد عمر

Tuhfatul Muhtaj jilid 7 hal 190 Cet. Dar Fikr
وأن لا يكون محجورا عليه ، ومن ثم أفتى المصنف في بالغ تارك للصلاة كسلا أنه لا يقبضها له إلا وليه أي : كصبي ومجنون فلا يعطى له ، وإن غاب وليه خلافا لمن زعمه بخلاف ما لو طرأ تركه أي : أو تبذيره ولم يحجر عليه فإنه يقبضها


Download Kitab Fathul Jawad Karangan Imam Ibnu Hajar Al Haitamy

Fathul Jawad Karangan Imam Ibnu Hajar Al HaitamyBagi kalangan pelajar fiqh Syafi`iyyah, tidak ada yang tidak mengenal Imam Ibnu Hajar Al Haitamy, beliau adalah salah satu tiang utama Mazhab Sayifi, beliau bersama Imam Ramly menjadi rujukan utama bagi ulama Syafi`yyah sesudah keduanya. Salah salah satu kitab beliau yang paling populer adalah Kitab Tuhfatul Muhtaj syarah Kitab Minhaj karangan Imam Nawawi.

Selain kitab Tuhfah kitab lain yang juga menjadi rujukan penting dalam fiqh Syafii adalah kitab Fathul Jawad Syarah Al Irsyad karangan Imam Ibnu Muqry, kitab ini memduduki urutan kedua dalam sederetan Kitab Karya Ibnu Hajar ketika terjadi pertentangan diantara beberapa kitab beliau sendiri. Namun Kitab ini termasuk kitab yang jarang ditemukan dipasaran maupun di tangan para pelajar fiqh syafii sendiri bahkan di pesantren-pesantren juga sangat jarang ditemukan kitab ini, padahal dalam Kitab Hasyiah I`anatuth Thalibin isi kitab Fathul Jawad sangat sering di nukil oleh Sayydi Bakry Syatha. Alhamdulillah sekarang kitab ini telah diterbitkabn kembali oleh penerbit Dar Kutub Ilmiyah dalam tiga jilid.

Nah siapa yang ingin mendownload kitab Fathul Jawad Karangan Imam Ibnu Hajar Al Haitamy silahkan downlod di bawah ini.
jilid 1, jilid 2, jilid 3

Manaqib Ash-Shanhajy, pengarang Kitab Ajurrumiyah fin Nahwi

Manaqib Ash-Shanhajy, pengarang Kitab Ajurrumiyah fin Nahwi

Kitab Ajurrumiyah, semua santri pasti mengenalnya dan bahkan telah memepelajarinya. siapakah pengarang kitab yang walaupun kecil tapi sangat ppopuler ini. Beliau adalah Syeikh Abu abdillah Muhammad bin Muhammad bin dawud Ash Shanhaji. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Daud Ash Shanhanjy. Beliau lebih masyhur disebut dengan Ibnu Ajurrum, menurut pendapat lain dibaca dengan Ajarrum.

merupakan seorang ulama terkemuka yang terkenal dengan kitabnya matan Al Ajrumiyah, Ash Shanhaji merupakan nisbah kepada Kabilah Shanhajah di daerah Maghriby. Al Ajurrum merupakan bahasa Barbar yang berarti orang yang meninggalkan kemewahan dan memilih laku sufi (Al Faqir Ash Shufy). Namun Syeikh Muhammad bin Ahmad Al Ahdal, pengarang kitab Al Kawakib Ad duriyah mengatakan bahwa beliau tidak menemukan orang Barbar yang mengetahui arti kata Al Ajurrum, namun beliau menemukan satu kabilah dari suku Barbar yang benama Al Ajurrum. Beliau lahir di kota Fas, Maghriby pada tahun 672H/1273M, pada tahun kelahiran beliau, seorang pakar dalam ilmu nahu, ibnu Malik pengarang kitab Al Fiyah, wafat.

Ayah beliau, Muhammad bin Daud adalah seorang ulama di kampung beliau yang memenuhi kehidupan keluarganya dengan berniaga dan menjilid buku-buku. Mulanya Al Ajurrum belajar Ilmu Nahu di Fas, kemudian ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika perjalanan ke Kairo, ia menyempatkan diri belajar ilmu Nahu kepada Syeikh Abu Hayyan salah seorang pakar dalam ilmu Nahu dari Andalusia pengarang kitab Al Bahrul Muhith hingga mendapatkan ijazah dari Syeikh Abu Hayyan. Beliau menyusun kitab Matan Al Ajrumiyah pada tahun 719 H/1319 M, sekitar empat tahun sebelum wafatnya. Al Maktum yang sezaman dengannya setelah memuji Ibnu Al Ajurrum didalam kitabnya Tazkirahnya, ia menyebutkan bahwa pada saat ia menulis kitabnya ini Ibnu Ajurrum masih hidup. Ar ra`i dan Al haj menyebutkan bahwa Ibnu Ajurrum menulis kitab Nahunya dihadapan ka`bah. As Shayuthy dalam kitabnya Bughyatul Wu`ah menerangkan bahwa Al Makudy dan Ar Ra`i dan para ulama lainnya mengakui kepakaran beliau dalam bidang nahu selain itu beliau juga seorang yang shaleh dan banyak barakah. Selain kitab Ajurrumiyah, beliau memiliki beberapa karangan lainnya tentang faraidh, sastra dan Tak basah oleh air.

Ada satu kisah istimewa yang meyelimuti pengarangan kitab nahu Ajrumioyah tersebut, Syeihk Al Hamidi meriwayatkan setelah menulis kitab Al Ajurrumiyahnya , Ibnu Ajurrum membuang kitabnya tersebut ke laut sambil berkata: ”kalau memang kitab ini kutulis ikhlash karena Allah, niscaya ia tidak akan basah.” Ternyata kitab tersebut kembali kepantai tanpa badah sedikit pun. Dalam riwayat yang lain disebutkan, ketika Ibnu Ajurrum telah rampung menulis dengan menggunakan botol tinta, ia berniat meletakkan kitabnya tersebut di dalam air sambil berkata dalam hati “Ya Allah, jika saja karyaku ini akan bermanfaat jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak akan luntur”. Ternyata dengan kuasa Allah tinta tersebut tidak luntur sedikitpun. Dalam riwayat lain disebutkan ketika merampungkan karya tulisnya ini beliau bermaksud menenggelamkan kitab beliau ini kedalam air yang mengalir. Jika kitab tersebut terbawa arus maka berarti kitab tersebut kurang manfaat sedangkan bila ia tetap tidak terbawa arus maka ia akan tetap dikaji orang dan akan besar manfaannya. Sambil meletakkan kitab tersebut kedalam air berliau berujar: “jurru Miyah, jurru Miyah” (mengalirlah wahai air). Anehnya setelah diletakkan dalam air kitab tersebut tetap bertahan tidak terbawa oleh arus. Subhanallah.

Ibnu Ajurrum, dalam ilmu nahu merupakan penganut mazhab Nahu Kufah, beliau menyebutkan kasrah dan penggantinya dengan istilah Khafadh, sedangkan ahli Bashrah menyebutnya dengan istilah jar,Ibnu Ajurrum berpendapat bahwa fiil amr itu dijazamkan. Ini adalah pendapat Mazhab Kufah. Adapun mazhab Bashrah berpendapat bahwa fiil amar itu mabni `ala as sukun. Ia juga menggolongkan kata kaifama termasuk jawazim, sebagaimana pendapat ahli Kufah. Adapun Ahli Basharah berpendapat kaifama bukanlah `amel Jawazem. Selain itu Ibnu Ajurrum juga menggunakan istilah Asmaul Khamsah, yang terdiri dari dzu, fuk, hamu, abu, akhu, sedangkan Ahli Bashrah menyebutnya dengan istilah Asmaus Sittah dengan menamahkan Hanu. Kitab Al AJarrumiyah merupakan pegangan wajib bagi para pemula ilmu nahu, kitab ini merupakan kurikulum wajib dan dihafal oleh para santri-santri di setiap pesantren di Indonesia dan Negara-negara lainnya.

Banyak ulama yang menaruh perhatian yang besar tentang kitab ini, sehingga muncullah kitab-kitab yang menjadi pensyarah dan hasyiah dari kitab Ajurrumiyah ini. Diantara syarahnya antara lain:
  • Al Mustaqil bil Mafhum fi Syarh Alfadh Al Ajurrum, karangan Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad Al maliki(w 853 H/1449 M)
  • At Tuhfatus Saniyah bi syarh Al Muqaddimah Al Ajurrumiyah, karya Syeikh Muhammad Muhyiddin Abdul hamid.
  • Al Kharidah Al bahiyah fi i`rabi Al fadh Al Ajurrumiyah karya Al `ujami.
  • Mukhatshar jiddan karya Syeikh sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang kemudian di beri komentar (hasyiah) oleh seorang ulama Indonesia, KH. Muhammad Ma`shum bin Salim As Samarany dengan kitabnya tasywiqul Khalan.
  • Al Kafrawi fi i`rabi alfadhi al Ajurrumiyah. Karya Syeikh Al Kafrawy
  • Al `ismawi kaya Syeikh Al `ismawi
  • Syarah Syeikh Khaled yang kemudian di beri komentar oleh Syeikh Abi An Naja.
  • Syarah Muqaddimah Al Ajurrumiyah karya seorang gembong Wahaby Arab Saudi, Syeikh Ustaimin.
  • Khulasah Syarah Ibnu `ajibah `ala matan Ajurrumiyah Syeikh Abdul Qadir Al Kauhairy.
  • Nur As Sajiyah fi hill Alfadh Ajurrumiyah, karangan Syeikh Ahmad Khatib Syarbaini.
  • Taqrirat Al bahiyyah `ala matan Ajurrumiyah karangan Syeikh Qadhi Muhammad Risyad Al Baity As Saqqaf.
  • Al Futuhat Al Qayyumiyah fi hill wafki ma`any wa mabany matan Ajurrumiyah, karangan Syeikh Muhammad Amin Al harrary.
  • Ad Durar Al bahiyyah fi i`rab Amstilah Ajurrumiyah wa fakk ma`any karangan Syeikh Muhammad Amin Al harrary.
  • Al bakurah Al janiyyah min Quthaf i`rab Ajurrumiyah karya Syeikh Muhammad Amin Al harrary.
  • Syarah Ajurrumiyyah fi ilmi arabiyah karangan Syiekh Ali Abdullah Abdurrahman As Sanhury.
  • Syarah Al Halawy karangan Syeikh Al Halawy. Selain disyarah kitab ini juga pernah di gubah menjadi sebuah nadham oleh Al `Imrithy yang disyarah oleh beberapa ulama lainnya.
  • dll
Ibnu Ajurrum wafat dikota Fas, kota kelahirannya pada hari senin 10 shafar 723 H/2 Maret 1332 M. beliau dimakamkan persis berdampingan dengan makam Syeikh Abbas Ahmad At Tijany, pendiri thariqah At Tijany. Tiadak jauh dari makam beliau juga terdapat makam Al Aqadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Al Ma`arify dan sejumlah tokoh ulama Maroko lainnya.

Ibnu Ali A.Rahman Ar Rabi`y.
Sumber:
  1. Majalah Al Kisah, No. 16/tahun VII/9-22 agustus 2010.
  2. Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Abdul Bary Al Ahdal, Al Kawakib Ad Duriyah.
  3. Dar_Almihaj_publishing_list.
  4. Jalaluddin As Sayuthy, Bughyatul Mu`ah fi Tabaqah Al Lughawiyyin wan Nuhah.
  5. Dan sumber lainnya..


Download kitab Imam Asy Syafii fi Mazhabaihi Al Qadim wa Al Jadid

Imam Asy Syafii fi Mazhabaihi Al Qadim wa Al JadidSalah satu kitab karya ulama Nusantara tentang Imam Syafii adalah kitab Imam Asy Syafii fi Mazhabaihi Al Qadim wa Al Jadid karangan KH. DR. Ahmad Nahrawy Abdus Salam (1931-1999). Kitab ini yang merupakan disertasi beliau dalam meraih gelar Doktor Perbandingan Mazhab Universitas Al-Azhar, Kairo,

menurut Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar di universitas tersebut, merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat karena membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi'i.

Bahkan menurut Syaikh KH. Saifuddin Amsir, salah seorang Rais Syuriah PB NU dan pengurus MUI Pusat, tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi'i di dunia Islam yang selengkap karya Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam ini. Begitu berbobotnya kitab ini, nyaris tidak ada satu pun penulis tentang mazhab Syafi'i, khususnya di Indonesia, yang tidak menjadikan kitab ini sebagai refrensinya.
Kitab Ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh JIC bekerjasama dengan Penerbit Hikmah,dengan judul Ensiklopedia Imam Syafi'i.

bagi yang berminat kitab Imam Asy Syafii fi Mazhabaihi Al Qadim wa Al Jadid, silahkan download di sini



Download Kitab Mukhtashar Fawaid Makkiyah fi Ma yahtajuhu Thalabatu Asy Syafi`iyyah

Mukhtashar Fawaid Makkiyah fi Ma yahtajuhu Thalabatu Asy Syafi`iyyahkitab Mukhtashar Fawaid Makkiyah fi Ma yahtajuhu Thalabatu Asy Syafi`iyyah merupakan sebuah kitab yang menerangkan beberapa istilah-istilah dalam kitab-kitab fiqh Syafi`iyyah yang merupakan sesuatu yang mutlak harus diketahui bagi para pelajar Mazhab Syafii. Kitab ini dikarang oleh seorang ulama besar Sayyid Alawy bin Ahmad As Saqqaf Asy Syafii Al Makky (1255 H-1335 H). Kitab ini merupakan ringkasan dari Kitab Fawaid Makkiyah.

kedua kitab ini dicetak dalam satu niskah dengan lima kitab lain yang juga karangan Sayyid Alawi As Saqaf, sehingga dinamakan dengan nama Majmu`ah Sab`atul Kutub Mufidah(Kumpulan tujuh kitab yang berfaedah). bagi yang ingin mendownload kitab Mukhtashar Fawaid Makkiyah silahkan download disini.

Biawak apakah termasuk Dhab

Biawak apakah termasuk Dhab

Dalam satu hadist Nabi SAW diceritakan kisah shahabat Nabi yang memakan daging hewan yang bernama dhab. Rasulullah hanya melihatnya saja, ketika ditanyakan apakah binatang tersebut halal, Rasulullah menjawab halal, tetapi Rasulullah kurang menyukainya. Dhab adalah hewan sejenis biawak. Dalam beberapa kamus Arab-Indonesia, dhab diartikan dengan biawak. Dalam bahasa Aceh sering diartikan dengan Kӧkkӧkbeun.

Pertanyaan:
Apakah biawak yang hidup disekitar kita termasuk dalam dhab sehingga termasuk jenis hewan yang halal?

Jawab:
Biawak bukanlah dhab sehingga hadits tersebut tak dapat dijadikan dalil untuk menyatakan bahwa biawak adalah binatang yang halal dimakan. Dhab adalah hewan pemakan tumbuhan dan belalang dengan ciri-ciri panjang hanya berkisar ± 85 cm dan tinggal di gurun pasir serta sangat jarang meminum air bahkan dikatakan ia tidak membutuhkan air, sehingga menjadi satu pepatah dalam bahasa arab ketika menggambarkan kepada seseorang yang tidak akan melakukan sesuatu dengan kata-kata :
لا افعل كذا حتى يرد الضب الماء saya tidak akan melakukannya sehingga dhab mendatangi air.

Satu hal lain yang unik pada dhab adalah pejantannya memiliki dua alat zakar dan yang betina memiliki dua vagina. Dhab mendiami lubang dan ketika musim hujan dia tidak keluar dari lubangnya. Dhab juga memiliki warna sesuai dengan daerah yang dia tempati. Semua sifat tersebut tidak ditemukan pada biawak yang ada di daerah kita. Biawak dalam bahasa Arab disebut waral dan termasuk binatang karnivora. Biawak bisa hidup di darat dan di air. Bangsa Arab menyukai daging dhab dan memakannya sebaliknya dengan biawak, mereka tak menyukainya dan tidak memakannya. Maka dapat disimpulkan mengartikan dhab dengan biawak sangatlah tidak tepat. sedikit tentang keterangan Dhab dalam bahasa Arab ada di http://ar.wikipedia.org .

Referensi:
Hasyiah Syarqawy `ala Tahrir jilid 2 hal 452 Cet. Haramain
قوله وضب) ذكر ابن خلويه انه يعيش سبعمائة سنة وانه يبول فى كل اربعين يوما قطرة ولا يسقط له سن ويقال ان اسنانه قطعة واحدة وحكى غيره ان اكل لحمه يذهب العطش ومن الامثال لا افعل كذا حتى يرد الضب الماء يقوله من اراد ان لا يفعل الشيء لأن الضب لا يشرب الماء بل يكتفى بالهسيم وبرد الهواء ولا يخرج من جحره فى الشتاء وهو حيوان يشبه الورل للذكر منه ذكران وللانثى فرجان

Hasyiah Qalyuby `ala Mahally jilid 4 hal Cet. Haramain
قوله : ( وضب ) وهو حيوان يشبه الورل يعيش نحو سبعمائة سنة ومن شأنه أنه لا يشرب الماء وأنه يبول في كل أربعين يوما مرة وأنه للأنثى منه فرجان وللذكر ذكران ومنه أم حبين بمهملة مضمومة فموحدة مفتوحة فتحتية ساكنة فنون دويبة قدر الكف صفراء كبيرة البطن تشبه الحرباء وقيل هي الحرباء

Lisanul Araby jilid 1 hal 580 Cet. Dar Shadir, Beirut
ضبب ) الضب دويبة من الحشرات معروف وهو يشبه الورل والجمع أضب مثل كف وأكف وضباب وضبان الأخيرة عن اللحياني قال وذلك إذا كثرت جدا قال ابن سيده ولا أدري ما هذا الفرق لأن فعالا وفعلانا سواء في أنهما بناءان من أبنية الكثرة والأنثى ضبة وأرض مضبة وضببة كثيرة الضباب التهذيب أرض ضببة أحد ما جاء على أصله قال أبو منصور الورل سبط الخلق طويل [ ص 539 ] الذنب كأن ذنبه ذنب حية ورب ورل يربي طوله على ذراعين وذنب الضب ذو عقد وأطوله يكون قدر شبر والعرب تستخبث الورل وتستقذره ولا تأكله وأما الضب فإنهم يحرصون على صيده وأكله والضب أحرش الذنب خشنه مفقره ولونه إلى الصحمة وهي غبرة مشربة سوادا وإذا سمن اصفر صدره ولا يأكل إلا الجنادب والدبى والعشب ولا يأكل الهوام وأما الورل فإنه يأكل العقارب والحيات والحرابي والخنافس ولحمه درياق والنساء يتسمن بلحمه


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja