Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Doa keluar menuju mesjid, memasuki dan keluar mesjid


Dalam bulan Ramadhan merupakan bulan paling banyak umat muslim menuju mesjid, apalagi pada awal-awal Ramadhan hampir semua mesjid sesak dengan para jamaah. Ada baiknya ketika kita melangkah ke mesjid dari awal telah kita iringi langkah kita dengan doa sehingga langkah kita menjadi langkah yang selalu dinaungi rahmatNya.
Berikut ini kami tampilkan doa keluar rumah menuju mesjid selanjutnya doa masuk dan keluar mesjid, semoga menjadi amalan yang bermanfaat.

Doa keluar rumah menuju mesjid:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ لاَ حَوْلَ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالله الْعَظِيمِ

Doa berjalan ke mesjid:

اللهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِينَ عَلَيْكَ وَبِحَقِّ الرَّغِبِيْنَ اِلَيْكَ وَبِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا اِلَيْكَ فَــإنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشَرًا وَلاَ بَطَرًا وَلاَ رِيَاءً وَلاَ سُمْعَةً بَلْ خَرَجْتُ اتِّقَاءَ سَخَطِكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ أَسْأَلُكَ أَنْ تُعِيذَنِي مِنَ النَّارِ وَتُدْخِلَنِيَ الْجَنَّةَ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

Doa masuk mesjid:

بِسْمِ اللَّهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوْبِى اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ الرَّحمَة

Kemudian melangkah masuk kedalam mesjid dengan kaki kanan dan langsung meniatkan i`tiqaf. Dan tidak berbicara kecuali dalam hal kebaikan.

Doa keluar dari Mesjid.
Melangkah keluar dengan kaki kiri dan membaca doa:

أَعُوذُ بِالله مِنْ الشَّيْطَانُ الرَّجِيْم بِسْمِ اللَّهِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِه اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذُنُوْبِى اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ


Doa bangun tidur

Doa bangun tidurSalah satu nikmat yang Allah berikan kepada manusia adalah tidur, dengan tidur seluruh anggota badan manusia istirahat sehingga fungsi-fungsinya akan tetap awet dan bertahan lebih lama. Bangun dari tidur juga merupakan nikmat Allah yang besar, karena tidur merupakan setengah dari mati, dengan bangun dari tidur kita kembali melihat alam dunia dan beraktifitas seperti biasa.
Ada baiknya aktifitas kita di alam ini kita awali dengan doa supaya kegiatan kita pada harinya mendapat barkah dan RahmatNya serta menjadi amal yang berguna untuk akhirat.

Berikut ini doa bangun tidur dalam ukuran yang lebih panjang dari biasanya, semoga bermanfaat.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ عَلَيَّ رُوحِي وَعَافَانِي فِي جَسَدِي وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ النَّوْمَ وَالْيَقَظَةَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَعَثَنِي سَالِمًا سَوِيًّا أَشْهَدُ أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

اَصْبَحْنَا أَصْبَحَ اْلمُلْكُ لِلّهِ وَاْلعَظْمَةُ وَالسُّلْطَانُ ِللهِ وَاْلعِزَّةُ وَاْلقُدْرَةُ لِلّهِ اَصْبَحْنَا عَلى فِطْرَةِ اْلاِسْلاَمِ وَعَلىَ كَلِمَةِ اْلاِخْلاَصِ وَعَلىَ دِيْنِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلىَ مِلَّةِ اّبِيْنَا سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ

اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ الْنُشُوْر

اَللَّهُمَّ إنِّى نَسْأَلُكَ اَنْ تَبْعَثَنَا فِى هَذَا اْليَوْمِ اِلَى كُلِّ خَيْرٍ وَنَعُوْذُ بِكَ أَنْ نَجْتَرِحَ فِيْهِ سَوْءًا أَوْ نَجُرُّهُ إِلىَ مُسْلِمٍ يَجُرُّهُ اَحَدٌ اِلِيْنَا

نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا اليَوْمِ وَخَيْرَ مَا فِيْهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَمِنْ شَرِّ مَا فِيْهِ

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, hanya kepadaNyalah kami kembali. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan kepada saya ruh saya, dan menyelamatkan saya pada badan saya. Dan mengizinkan daku untuk mengingatNya.

Tiada tuhan selain Allah, sendiriNya, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan pujian dan Dia maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Segala puji bagi Allah yang telah membangkitkan aku dalam keadaan selamat dan adil, saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah yang menghidupkan orang-orang mati dan Dia maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Kami menjalani pagi hari, dan berpagi-pagilah kerajaan bagi Allah dan kebesaran dan kekuasaan bagi Allah dan keagungan dan kekuasaan bagi Allah. Kami menjalani pagi hari atas kesucian islam, dan atas kalimat ikhalsh, atas agama Nabi kami Muhammad SAW dan agama Nabi Ibrahim AS yang benar dan muslim dan tidaklah beliau seorang yang musyrik.

Ya Allah dengan Engkaulah kami menjalani pagi hari. Dan dengan Engkaulah kami menjalani petang hari. Dan dengan Engkaulah kami hidup dan kami mati.

Ya Allah kami meminta supaya Engakau bangkitkan kami pada hari ini kepada setiap kebaikan, dan kami berlindung dengan Engkau dari bahwa kami berbuat keburukan ataupun menarik kaum muslim kedalam keburukan atau kami ditarik kedalam keburukan.

Kami minta kebaikan hari ini dan kebaikan barang-barang yang ada pada hari ini dan kami berlindung padaMu dari keburukan hari ini dan keburukan barang-barang yang ada pada nya.

Sumber:
Habib Umar bin Salim, Khulashah fi Aurad Ad`iyyah waridah wa ma`tsurah hal 9 cet. Dar Faqih

salah waktu berbuka puasa

salah waktu berbuka puasaKarena ingin mengamalkan sunat cepat-cepat berbuka, seseorang sempat silap dalam berbuka puasa, karena mendung sehingga suasana tampak gelap dan melihat jam tangannya menunjuki jam yang tepat jam 07.00 sedangkan waktu berbuka adalah pukul 18.50, maka ia segera meraih gelas berisi air dan langsung meminumnya. Sejenak kemudian ia diingatkan oleh kawannya bahwa belum saatnya berbuka.

Pertanyaan:
Bagaimanakah puasa seseorang tersebut, apakah sah karena ia berbuka karena menyangka telah sampai waktu berbuka, atau tidak?

Jawab:
Puasanya tidak sah/bathal, karena sangkaan nya tersebut telah terbukti salah.

Referensi
Fathul Mu`in jilid 2 hal 230 Cet. Toha Putra

ولو أكل باجتهاد أولا وآخرا فبان أنه أكل نهارا بطل صومه إذ لا عبرة بالظن البين خطؤه فإن لم يبن شئ: صح

Azan ketika mengubur mayat

Azan ketika mengubur mayat

Telah lumrah kita lihat dalam kalangan masyarakat ketika ada proses pemakaman jenazah, setelah mayat diturunkan, akan dikumandangkan azan sebelum mayat dikebumikan.

Pertanyaan:
Bagaimanakah hukumnya azan pada saat tersebut?

Jawab:
Menurut pendapat yang kuat tidak disunatkan mengumandangkan azan ketika menguburkan mayat. Menurut pendapat yang lain disunatkankan mengumandangkan azan pada waktu tersebut, dengan alasan karena diqiyaskan orang yang meninggalkan dunia dengan bayi yang baru lahir yang merupakan awal dari memasuki dunia ini. Pendapat ini ditolak oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitamy dalam kitab beliau Syarah al-`Ubab.

Namun demikian, bagaimana sikap kita menghadapi kenyatan dilapangan bahwa masyarat muslim Indonesia hampir 90% melakukan azan ketika akan menguburkan mayat?

ini adalah masalah khilafyah, pendapat yang kuat dalam Mazhab Syafii tidak disunatkan. sedangkan menurut pendapat dhaif disunatkan dengan alasan sebagaimana dalam postingan diatas. Dalam berfatwa dan memutuskan hukum bagi seorang qadhi haruslah berdasarkan pendapat kuat. Namun untuk pengamaln sendiri (amal bin nafsih) dibolehkan beramal dengan pendapat dhaif dengan beberapa ketentuannya.

Maka dalam menyikapi kejadian dilapangan, kita harus bersikap arif dan bijaksana. orang-orang yang melakukan azan ketika menguburkan mayat berpegang kepada pendapat dhaif tersebut, sehingga tidak perlu diingkari dan dicegah, lagi pula melakukannya tidak menyebabkan jatuh dalam kemaksiatan dan tidak menimbulkan mafsadah,tetapi hanya melaksanakan perbuatan yang tidak dituntut berdasarkan pendapat yang kuat, bahkan karena bacaan yang ia baca adalah zikir ia tetap mendapat pahala zikir, namun terhadap orang yang tidak melakukannya juga tidak perlu dianjurkan.

ada satu ketentuan dalam hal mencegah mungkar yaitu:
لا ينكر فيما يختلف فيه
"tidak diingkar perbuatan yang ada khilafnya"

hal ini berlaku selama khilaf tersebut masih dapat diterima, berbeda hal nya khilaf yang tak boleh diterima seperti khilaf pada masalah tauhid ataupun khilaf yang menentang dnegan ijmak ulama.

kerena ini kita lihat para ulama kita tidak pernah melarang hal tersebut. azan ketika mayat dikuburkan mungkin telah dijalankan oleh masyarakat semenjak dahulu

Wallahu a`lam.

Referensi:
Fatawa Fiqhiyyah Kubra jilid 2 hal 24 Cet. Dar Fikr
وسئل نفع الله به بما لفظه ما حكم الأذان والإقامة عند سد فتح اللحد ؟
فأجاب بقوله هو بدعة ومن زعم أنه سنة عند نزول القبر قياسا على ندبهما في المولود إلحاقا لخاتمة الأمر بابتدائه فلم يصب وأي جامع بين الأمرين ومجرد أن ذاك في الابتداء وهذا في الانتهاء لا يقتضي لحوقه به

Fatawa Fiqhiyyah Kubra jilid 2 hal 17 Cet. Dar Fikr
وسئل نفع الله به ما حكم الأذان والإقامة عند سد فتح اللحد ؟
فأجاب بقوله هو بدعة إذ لم يصح فيه شيء وما نقل عن بعضهم فيه غير معول عليه ثم رأيت الأصبحي أفتى بما ذكرته فإنه سئل هل ورد فيهما خبر عند ذلك فأجاب بقوله لا أعلم في ذلك خبرا ولا أثرا إلا شيئا يحكى عن بعض المتأخرين أنه قال لعله مقيس على استحباب الأذان والإقامة في أذن المولود وكأنه يقول الولادة أول الخروج إلى الدنيا وهذا آخر الخروج منها وفيه ضعف فإن مثل هذا لا يثبت إلا بتوقيف أعني تخصيص الأذان والإقامة وإلا فذكر الله تعالى محبوب على كل حال إلا في وقت قضاء الحاجة ا هـ كلامه رحمه الله وبه يعلم أنه موافق لما ذكرته من أن ذلك بدعة وما أشار إليه من ضعف القياس المذكور ظاهر جلي يعلم دفعه بأدنى توجه والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Hasyiah Syarwany `ala Tuhfah al-Muhtaj jilid 3 hal 188 Cet. Dar Fikr
( قوله بنحو كسر لبن ) عبارة شرح المنهج بكسر لبن وطين أو نحوهما ا هـ قال البجيرمي قوله وطين نبه به على أن اللبن وحده لا يكفي ولا يندب الأذان عند سده خلافا لبعضهم برماوي .

Hasyiah Syarwany `ala Tuhfah al-Muhtaj jilid 3 hal 188 Cet. Dar Fikr
( قوله للأثر الصحيح إلخ ) أي { لأنه صلى الله عليه وسلم كان إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه وقال استغفروا لأخيكم واسألوا له التثبيت فإنه الآن يسأل } نهاية زاد المغني رواه البزار وقال الحاكم إنه صحيح الإسناد ا هـ قال ع ش قوله واسألوا له التثبيت أي كأن يقولوا اللهم ثبته على الحق اللهم لقنه حجته فلو أتوا بغير ذلك كالذكر على القبر لم يكونوا آتين بالسنة وإن حصل لهم ثواب على ذكر وبقي إتيانهم به بعد سؤال التثبيت له هل هو مطلوب أو لا فيه نظر والأقرب الثاني ومثل الذكر بالأولى الأذان فلو أتوا به كانوا آتين بغير المطلوب منهم ع ش .


Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 1 hal 230 Cet. Haramain
واعلم أنه لا يسن الاذان عند دخول القبر خلافا لمن قال بنسبته قياسا لخروجه من الدنيا على دخوله فيها.قال ابن حجر: ورددته في شرح العباب، لكن إذا وافق إنزاله القبر أذان خفف عنه في السؤال

Shalat witir

Shalat witir
Shalat witir adalah shalat yang dikerjakan malam hari sebagai penutup dari shalat sunat. Dinamakan karena jumlah rakaatnya harus ganjil. Banyak hadis Nabi yang menganjurkan untuk melaksanakan shalat witir. Hukum shalat witir adalah sunat, tetapi terhadap Nabi Muhammad sendiri adalah wajib. Namun menurut Abi Hanifah hukum shalat witir juga wajib hukumnya terhadap umat Nabi SAW. Karena adanya khilafiyah tentang kewajiban shalat witir ini maka shalat witir lebih afdhal dari semua shalat sunat rawatib lainnya.

Jumlah rakaat shalat witir sekurang-kurangnya adalah satu rakaat walaupun tidak didahului oleh shalat sunat ba`da isya, sedangkan sebanyak-banyaknya adalah sebelas rakaat. Apabila ketika takbir tidak diniatkan jumalah rakaat maka dibolehkan untuk shalat witir dengan jumlah rakaat yang ia kehendaki, 1, 3,5 ataupun lebih. Waktu shalat witir adalah sama seperti waktu shalat tarawih yaitu setelah shalat isya hingga terbit fajar.

Terhadap orang yang mengerjakan shalat witir lebih dari satu rakaat maka boleh saja ia salam pada setiap dua rakaat, bahkan ini yang lebih utama, atau ia sambung dengan satu kali tasyahud yaitu pada rakaat terakhir atau dua kali tasyahud yaitu pada dua rakaat terakhir. Serta tidak boleh mengerjakan tasyahud sebelum dua rakaat terakhir. Selain itu tidak dibolehkan dikerjakan satu kali salam dengan tasyahud lebih dari dua kali.
Terhadap orang yang mengerjakan shalat witir sebanyak 3 rakaat disunatkan untuk membaca surat Al A`la pada rakaat pertama, dan surat Al-kafirun pada rakaat kedua dan surat AlIkhlas, Al-Falaq serta An-Nas pada rakaat ketiga. Sedangkan bila shalat lebih dari 3 rakaat maka ketiga surat tersebut dibaca pada tiga rakaat terakhir bila tiga rakaat terakhir dikerjakan terpisah dari yang lain.

Doa shalat witir
Disunatkan setelah shalat witir sesuai dengan hadis riwayat Abu Dawud dan Imam Turmuzi untuk membaca
سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوْس

Sebanyak tiga kali. Pada kali yang ketiga dibaca dengan suara yang lebih besar.
Selanjutnya dibaca :

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ برِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Atau bila ingin membaca doa yang lebih panjang setelah membaca سبحان الملك القدوس   kemudian dilanjutkan dengan membaca :

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ جَلَّلْتَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِاْلعِزَّةِ وَاْلجَبَرُوْتِ وَتَعَزَّزْتَ بِاْلقُدْرَةِ وَقَهَّرْتَ اْلعِبَادَ بِاْلمَوْتِ
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ برِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ40 
فِي كُلِّ لَحْظَةٍ اَبَدًا عَدَدَ خَلْقِكَ وَرِضَى نَفْسِكَ وَزِنَةَ عَرْشِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ

Witir dulu atau tidur dulu
Terhadap orang yang yakin bahwa iakan terbangun setelah tidur maka lebih baik ia mentakhirkan witir, dan bila ia kerjakan setelah tidur maka dengan witir tersebut ia juga mendapat pahala tahajud, jadi dengan shalat witir setelah tidur juga hasil shalat tahajud. Sedangkan terhadap orang yang takut tidak terbangun sebelum fajar maka lebih baik ia shalat witir sebelum tidur.

Menurut pendapat lain yang lebih utama adalah shalat witir terlebih dahulu kemudian ketika terbangun sebelum fajar shalat tahajud.

Kedua pendapat tersebut berasal dari amal dua shahabat Nabi SAW, Abu Bakar dan Saidina Umar. Saidina Abu Bakar melakukan witir sebelum tidur kemudian ketika bangun tengah malam melakukan shalat tahajud, sedangkan Saidina Umar tidur terlebih dahulu kemudian bangun melaksanakan Tahajud dan witir. Kemudian keduanya melaporkan hal ini kepada Rasulullah SAW maka Rasulullah menjawab “ini (Abu Bakar) mengambil yang pasti, sedangkan ini (Umar bin Khatab) mengambil dengan kekuatan’’. Imam Ghazali menerangkan bahwa Imam Syafii lebih memilih amal Abu Bakar ra.

Referensi:
Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 1 hal 252 Cet. Haramain
Khulasah fi Aurad wa ad`iyyah waridah wa ma`tsurah, Habib Umar bin Salim bin Hafidh Cet. Dar Faqih, Tarim

Hukum puasa setelah Nisfu Sya`ban

Hukum puasa setelah Nisfu Sya`ban
Pertanyaan:
Bagaimanakah hukumnya berpuasa setelah nisfu Sya`ban.

Jawab:
Bulan Sya`ban merupakan bulan yang penuh barakah, Rasulullah paling banyak berpuasa selain dalam bulan Ramadhan adalah dalam bulan Sya`ban.

Namun perlu digaris bahawi bahwa dalam bulan Sya`ban ada waktu-waktu yang dilarang berpuasa, yaitu seletah nisfu Sya`ban. Dalam satu hadits Shahih Rasulullah bersabda:

إذا بَقِىَ نِصْفٌ من شعبان فلا تصوموا

“Apabila tinggal setengah dari Sya`ban maka janganlah kamu berpuasa”. (H.R Imam Turmuzi)

Namun keharaman ini tidak berlaku mutlak. Keharaman ini dikecualikan bagi :

Puasanya disambung dengan puasa sebelum nisfu sya`ban, artinya ia juga berpuasa pada 15 sya`ban maka pada 16 sya`ban dibolehkan baginya untuk berpuasa.

Bertepatan dengan adatnya berpuasa, misalnya ia telah terbiasa puasa senin kamis, maka dibolehkan baginya pada hari senin kamis setelah nisfu sya`ban untuk berpuasa senin kamis.

Puasa lain yang memiliki sebab lain tersendiri seperti Puasa qadha (walaupun qadha puasa sunat), Puasa nazar, Puasa kafarah, puasa yang diperintahkan oleh Imam ketika akan shalat istisqa` (shalat meminta hujan) maka dibolehkan untuk berpuasa bahkan pada kasus puasa qadha wajib dan nazar wajib baginya untuk berpausa.

Pengecualian bagi kalangan yang telah terbiasa untuk berpuasa diatas adalah berdasarkan kepada hadits Rasulullah:

لا يتقدمن أحدكم رمضان بصوم يوم أو يومين إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه فليصم ذلك اليوم (متفق عليه

“jangan kamu dahulukan puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari kecuali bagi seseorang yang selalu berpuasa, maka hendaklah Ia berpuasa pada waktu tersebut” (H.R. Bukhari Muslim)

Sedangkan pengecualian untuk puasa nazar, kafarah dan qadha adalah berdasarkan qiyas kepada puasa adat yang tersebut dalam hadits.

Selain itu setelah nisfu sya`ban ada hari lain yang diharamkan juga berpausa dengan sebab yang lain yaitu hari syak (Yaum Syak). Yang dimaksud dengan hari Syak adalah hari ke 30 Sya`ban dan masyarakat ramai membicarakan isu terlihat hilal namun hal tersebut belum ada ketetapan dari hakim karena tidak ada yang bersaksi atau yang bersaksi adalah orang-orang yang tidak cukup syarat sebagai saksi hilal Ramadhan.

Keharaman puasa pada hari Syak sebenarnya sudah masuk dalam hari setelah nisfu Sya`ban. Namun para ulama juga menyebutkannya keran keharamannya memiliki dua sebab, sehingga keharamannya lebih besar dari puasa setelah nisfu sya`ban yang lain.

Dalil yang menerangkan keharaman puasa hari syak adalah hadits riwayat Imam Turmuzi:

من صام يوم الشك فقد عصى أبا القاسم صلى الله عليه وسلم رواه الترمذي وغيره

“Barang siapa berpuasa pada hari Syak maka ia sungguh telah berbuat maksiat terhadap Aba Qasim SAW” (H.R Imam Turmuzi)

Referensi:
Fathul Mu`in dan Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2 hal 273 Cet. Toha Putra
Hasyiah Qalyuby `ala Mahally jilid 1 hal 366 Cet. Dar Fikr
Syarah Tahrir dan Hasyiah Syarqawi `ala Syarah Tahrir jilid 1 hal 416 Cet. Dar Firk
Nash Kitab Mu`tabarah.

Fathul Mu`in dan Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2 hal 273 Cet. Toha Putra

(تتمة) يحرم الصوم في أيام التشريق والعيدين وكذا يوم الشك لغير ورد وهو يوم ثلاثي شعبان وقد شاع الخبر بين الناس برؤية الهلال ولم يثبت وكذ بعد نصف شعبان ما لم يصله بما قبله أو لم يوافق عادته أو لم يكن عن نذر أو قضاء ولو عن نفل

(قوله: وكذا بعد نصف شعبان) أي وكذلك يحرم الصوم بعد نصف شعبان لما صح من قوله (ص): إذا انتصف شعبان فلا تصوموا

(قوله: ما لم يصله بما قبله) أي محل الحرمة ما لم يصل صوم ما بعد النصف بما قبله، فإن وصله به ولو بيوم النصف، بأن صام خامس عشره وتالييه واستمر إلى آخر الشهر، فلا حرمة

(قوله: أو لم يوافق عادته) أي ومحل الحرمة أيضا ما لم يوافق صومه عادة له في الصوم، فإن وافقها - كأن كان يعتاد صوم يوم معين كالاثنين والخميس - فلا حرمة

(قوله: أو لم يكن عن نذر إلخ) أي: ومحل الحرمة أيضا: ما لم يكن صومه عن نذر مستقر في ذمته، أو قضاء، ولو كان القضاء لنفل، أو كفارة، فإن كان كذلك، فلا حرمة، وذلك لخبر الصحيحين: لا تقدموا - أي لا تتقدموا - رمضان بصوم يوم أو يومين إلا رجل كان يصوم يوما ويفطر يوما فليصمه. وقيس بما في الحديث من العادة: النذر، والقضاء، والكفارة - بجامع السبب -. والله سبحانه وتعالى أعلم

Hasyiah Qalyuby `ala Mahlly jilid 1 hal 366 Cet. Dar Fikr

ثلاثة أيام بل أربعة بيوم الخروج فإنه من جملة الأمر ويجوز صومها ولو من نصف شعبان الثاني لأنه لسبب

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja