Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Dalil Merayakan Maulid nabi Muhammad saw

karena ada pertanyaan tentang dalil perayaan maulid Nabi saw, maka kami sebutkan beberapa dalil yang disebutkan oleh para ulama tentang perayaan maulid adalah:

1. Merayakan maulid termasuk dalam membesarkan kelahiran para Nabi. Hal yang berkenaan dengan kelahiran Nabi merupakan sesuatu yang memiliki nilai yang lebih, sebagaimana halnya tempat kelahiran para nabi.

Dalam Al quran sendiri juga disebutkan doa sejahtera pada hari kelahiran para Nabi seperti kata Nabi Isa dalam firman Allah surat Maryam ayat 33:
وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ
“dan kesejahteraan atasku pada hari kelahirannku”.

Maka Rasulullah juga lebih berhak untuk mendapatkan doa sejatera pada hari kelahiran beliau.

Dalam Al Quran, Allah juga tersebut perintah untuk mengingat hari-hari bersejarah, hari dimana Allah menurunkan nikmat yang besar pada hari tersebut, seperti dalam firman Allah surat Ibrahim ayat 5:

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآياتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah, Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”

Dan juga dalam surat Al Jatsiyah ayat 14:

قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah”

Dalam ayat tersebut Allah menyuruh untuk mengingat hari-hari Allah, secara dhahir hari yang dimaksud adalah hari kesabaran dan penuh syukur dan yang diharapkan dari hari tersebut adalah barakah yang Allah ciptakan pada hari tersebut, karena hari hanyalah satu makhluk Allah yang tidak mampu memberi manfaat dan mudharat.

Dalam surat Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”

Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk senang dengan nikmat Allah. Maka tiada rahmat dan nikmat yang lebih besar dari pada kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beliau sendiri mengatakan:
أنا الرحمة المهداة

Kisah lain yang menunjuki bahwa dituntut untuk memperingati hari bersejarah adalah kisah Nabi SAW berpuasa pada hari Asyura. Ketika Nabi masuk kota Madinah, beliau mendapati yahudi Madinah berpuasa pada hari Asyura. Ketika mereka ditanyakan tentang hal tersebut mereka menjawab “bahwa pada hari tersebut Allah memberi kemenangan kepada Nabi Musa dan Bani Israil atas firaun, maka kami berpuasa untuk mengangagungkannya” Rasulullah berkata “kami lebih berhak dengan Musa dari pada kamu” kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalany menjadikan hadis ini sebagai dalil untuk kebolehan merayakan maulid Nabi.

2. Kisah Suwaibah Aslamiyah yang dimerdekakan oleh Abu Lahab karena kegembiraannya terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setahun setelah Abu lahab meninggal, salah satu saudaraya yang juga merupakan paman Rasulullah, Saidina Abbas bin Abdul Muthallib bermimpi bertemu dengannya dan menanyakan bagaimana keadaan Abu Lahab, ia menjawab “bahwa tidak mendapat kebaikan setelahnya tetapi ia mendapat minuman dari bawah ibu jarinya pada setiap hari senin karena ia memerdekakan Suwaibah Aslamiyah ketika mendengar kabar gembira kelahiran Nabi Muhammad”. Hadis ini tersebut dalam Shaheh Bukhary dengan nomor 4711. kisah ini juga disebutkan oleh Ibnu Kastir dalam kitab beliau Al Bidayah An Nihayah jilid 2 hal 273.

Ini adalah balasan yang Allah berikan terhadap orang yang menjadi musuhNya dan mendapat celaan dalam Al Quran. Apalagi terhadap orang-orang mukmin yang senang terhadap kelahiran baginda Rasulullah SAW.

3. Rasulullah sendiri pernah merayakan hari kelahiran beliau sendiri yaitu dengan berpuasa pada hari senin. Ketika ditanyakan oleh para shahabat beliau menjawab:
فيه ولدت وفيه أُنزل عليَّ
“itu adalah hari kelahiranku dan hari diturunkan wahyu atasku”.(H.R. Muslim)

Hadis ini tersebut dalam kitab Shaheh Muslim jilid 2 hal 819. Hadis ini menjadi landasan yang kuat untuk pelaksanaan maulid walaupun dengan cara yang berbeda bukan dengan berpuasa seperti Rasululah melainkan dengan memyediakan makanan dan berzikir dan bershalawat, namun ada titik temunya yaitu mensyukuri kelahiran Rasulullah saw. Imam As Sayuthy menjadikan hadis ini sebagai landasan dibolehkan melaksanakn maulid Nabi.

4. Rasulullah pernah menyembelih hewan untuk aqiqah untuk beliau sendiri setelah menjadi nabi. Sebelumnya, kakek rasulullah, Abdul Muthalib telah melakukan aqiqah untuk Rasulullah. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dari Anas bin Malik. Aqiqah tidak dilakukan untuk kedua kalinya maka perbuatan Rasulullah menyembelih hewan tersebut dimaksudkan sebagai memperlihatkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan yaitu penciptaan beliau yang merupakan rahmat bagi seluruh alam dan sebagai penjelasan syariat kepada umat beliau. Hadis ini oleh Imam As Sayuthy dijadikan sebagai landasan lain dalam perayaan maulid Nabi. Maka juga disyariatkan bagi kita untuk memperlihatkan kesenangan dengan kelahiran Rasulullah yang boleh saja kita lakukan dengan membuat jamuan makanan dan berkumpul berzikir dan bershalawat.

5. Rasulullah memuliakan hari jumat karena hari tersebut adalah hari kelahiran Nabi Adam AS. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An Nasai dan Abu Daud
إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فأكثروا علي من الصلاة فيه فإن صلاتكم معروضة علي
“bahwasanya sebagian hari yang terbaik bagi kamu adalah hari jum`at,pada hari tersebut di ciptakan Nabi Adam, wafatnya dan pada hari tersebut ditiupnya sangkakala, maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari juma`at, karena shalawat kamu didatangkan kepada ku ” (H.R. Abu Daud)

Rasulullah telah memuliakan hari jum`at karena pada hari tersebut Allah menciptakan bapak dari seluruh manusia, Nabi Adam. Maka hal ini juga dapat diqiyaskan kepada merayakan kelahiran Nabi Muhammad.

6. Allah ta`ala menyebutkan kisah-kisah para anbiya didalam Al-quran seperti kisah kelahiran Nabi Yahya, siti Maryam dan Nabi Musa AS. Allah menyebutkan kisah-kisah kelahiran para Nabi tersebut untuk menjadi peneguh hati Rasulullah saw sebagaimana firman Allah surat Hud ayat 120:
وَكُلّاً نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu”

Nah, apabila membacakan kisah para Nabi terdahulu dapat meneguhkan hati Rasulullah maka membacakan kisah kehidupan Rasulullah sebagaimana dilakukan ketika memperingati maulid juga mampu meneguhkan hati kita, bahkan kita lebih membutuhkan peneguh hati ketimbang Rasulullah.

7. Maulid merupakan satu wasilah/perantara untuk berbuat kebaikan dan taat. Dalam perayaan maulid Nabi, dilakukan berbagai macam amalan kebaikan berupa bersadaqah, berzikir, bershalawat dan membaca kisah perjuangan Rasulullah dan para Shahabat. Semua ini merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Semua hal yang perantara bagi perbuatan taat maka hal tersebut juga termasuk taat.

8. Firman Allah dalam surat Yunus ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk senang terhadap semua karunia dan rahmat Allah, termasuk salah satu rahmaNya yang sangat besar adalah Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dalam firman Allah surat Al Anbiya ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Bahkan sebagian ahli tafsir mengatakan kalimat rahmat pada surat Yunus ayat 58 dimaksudkan kepada Nabi Muhammad dengan menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai penafsirnya, sebagaimana terdapat dalam tafsir Durar Al Manstur karangan Imam As Sayuthy, tafsir Al Alusty fi Ruh Al Ma`any dan tafsir Ibnul Jauzy.

Jadi dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk terhadap datangnya Rasulullah SAW, kesenangan tersebut dapat diungkapkan dengan berbagai macam cara baik menyediakan makanan kepada orang lain, bersadaqah, berkumpul sambil berzikir dan bershalawat dll.

9. Perayaan maulid bukanlah satu ibadah tauqifiyah sehingga tatacara pelaksaannya hanya dibolehkan sebagaimana yang dilaksanakan oleh Nabi, tapi maulid merupakan satu qurbah (pendekatan kepada Allah) yang boleh. Dikarenakan dalam pelaksanaan maulid mengandung hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah maka maulid itu termasuk dalam satu qurbah.

Referensi:
  1. Imam Jalaluddin As Sayuthy, Hawi Lil Fatawy
  2. Prof.Sayyid Muhammad Alawy Al Hasany, Haul Ihtifal bi Maulid An Nabi Syarif
  3. Habib Ali bin Muhammad Al Hadramy, Tahqiqul Bid`ah
  4. DR. Adullah Kamil, Kalimat Hadiah fi Ihtifal bi Maulidin Nabawy
sumber: http://abu.mudimesra.com

selanjutnya ada satu pertanyaan:
Apakah para imam mazhab, seperti imam Hanafi, Maliki, syafi'i dan Hambali pernah merayakan hari kelahiran nabi?
Jawab.......
1. tidaklah terpaham bahwa setiap perbuatan yg ditinggalkan oleh para Imam Mujtahid yg 4 maka perbuatan tersebut adalah haram, bahkan perbuatan yang ditinggalkan Nabi sendiri belum tentu haram. sesuai dengan sebuah qaedah:
ترك الشيء لا يدل على منعه
"meninggalkan sesuatu tidaklah menunjuki kepada bahwa perbuatan tersebut terlarang"

selain itu ketika Nabi dan dua generasi sesudah beliau (Shahabat dan Tabiin/tabi` tabiin) tidak melakukan sesuatu maka disini masih mengandung beberapa kemungkinan/ihtimal, kenapa ditinggalkan apakah karena haram, atau karena mengagggapnya sebagai sesuatu yg boleh saja, atau karena lebih menutamakan hal lain yg lebih penting atau pun hanya kebetulan saja.

maka at tark /meninggakan satu perbuatan tak dapat dijadikan sebagai satu pijakan hukum, sebagaimana satu qaedah:
ما دخله الاحتمال سقط به الاستدلال
"sesuatau yang masih ada kemungkinan maka tidak adapt dijadikan dalil".

selain itu pelarangan sesuatu hanya dapat diketahui dengan adanya nash yang melarang perbuatan tersebut, bahkan dari perintah sebaliknya tidak juga dapat terpaham langsung kepada haram tapi hanya sampai pada taraf khilaf aula.

kemudian Allah berfirman dlm surat Al Hasyr ayat 7 :
وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"apa yg didatangkan oleh Rasul maka ambillah dan apa yg dilarangnya maka jauhilah"

tidak ada ayat ataupu hadis yg mengatakan:
وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا تركهُ فَانْتَهُوا
"apa yg didatangkan oleh Rasul maka ambillah, dan apa yg ditinggalkanya maka jauhilah"

2. Pada maulid yang bid`ah hanyalah pada kaifiyat pelaksanaannya bukan diri merayakan maulid itu sendiri , karena inti dari perayaan maulid terkandung dalam beberapa perintah sebagaimana dlm uraian dalil maulid yg ada pada page http://abu.mudimesra.com.

Imam Syafii berkata:
"كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف"
"setiap perkara yg memiliki sandaran dari syara` maka ia bukanlah bid`ah walaupun tidak dikerjakan salaf/shahabat"

merobah satu kaifiyat amalan kebaikan yg tidak ada pembatasan khusus dari syara` bukanlah satu perbuatan tercela, misalnya kita diperintahkan menuntut ilmu maka pada zaman ini kita membuat berbagai macam sistem pendidikan yang sama sekali tidak dilakukan oleh generasi terdahulu. hal ini bukanlah perbuatan tercela. demikian juga kaifiyah merayakan maulid kita lakukan dengan kaifiyat yg berbeda maka ini bukanlah satu perbuatan terlarang.

Hewan Qurban Terkilir Saat Proses Penyembelihan

Hewan Qurban Terkilir Saat Proses Penyembelihan
Berbicara masalah qurban salah satu hal yang perlu di perhatikan adalah kesehatan dan keutuhan seluruh anggota tubuh binatang tersebut, dalam artian binatang yang akan dijadikan sebagai binatang qurban adalah binatang yang sempurna fisiknya, tidak boleh binatang yang cacat seperti buta, pincang dan cacat tubuh lainnya. Namun kadangkala dalam proses merobohkan hewan tersebut untuk di sembelih tak jarang menimbul cacat pada hewan kurban bakan kadang menimbulkan patah kakinya.

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya bila patah kaki pada hewan qurban terjadi pada saat dirobohkan untuk disembelih?

Jawaban:
Binatang yang patah kakinya atau pincang pada saat yang di robohkan untuk disembelih maka binatang tersebut tidak memadai lagi sebagai binatang qurban (udhhiyah) menurut pendapat yang kuat. Hal ini diqiyaskannya kepada hewan yang cacat kakinya karena kecelakaan lalu si pemilik menjadikannya sebagai qurban sebagaimana Imam Nawawi terangkan dalam kitab Majmuk Syarh Muhazzab.
Namun, apabila hewan tersebut merupakan hewan yang telah di tentukan sebagai kurban nazar (wajib) maka tetap disembelih sebagai nazar dan berlaku baginya hukum qurban karena kewajiban menyembelih hewan tersebut adalah wajib ‘ain (kewajibannya telah tertentu pada binatang tersebut) namun masih belum memadai sebagai udhiyyah yang diperintahkan syara’.

Pincang yang menjadi aib adalah yang berefek ia akan tertinggal dari rombongannya ketika berjalan dalam rombongan.

Referensi:
  1. Majmuk Syarh Muhazzab jilid 8 hal 400 Dar Fikr
  2. Tuhfatul Muhtaj Jilid 9 hal 351 Dar Fikr
  3. Hasyiah Bujairimi `ala Khatib jilid 4 hal 334 Dar Fikr
  4. Hasyiah I`antuth Thalibin jilid 2 hal 378 Dar Fikr

Nash Kitab Mu`tabarah
1. Majmuk Syarh Muhazzab jilid 8 hal 400 Dar Fikr

الثالثة) العرجاء ان اشتد عرجها بحيث تسبقها الماشية إلى الكلا الطيب وتتخلف عن القطيع لم تجزئ وان كان يسيرا لا يخلفها عن الماشية لم يضر فلو انكسر بعض قوائمها فكانت تزحف بثلاث لم تجزئ
ولو أضجعها ليضحي بها وهى سليمة فاضطربت وانكسرت رجلها أو عرجت تحت السكين لم تجزه على أصح الوجهين لانها عرجاء عند الذبح فاشبه ما لو انكسرت رجل شاة فبادر إلى التضحية بها فانها لا تجزئ

2. Hasyiah Bujairimi `ala Khatib jilid 4 hal 334 Dar Fikr
 و ) الثانية ( العرجاء ) بالمد ( البين عرجها ) بأن يشتد عرجها بحيث تسبقها الماشية إلى المرعى وتتخلف عن القطيع فلو كان عرجها يسيرا بحيث لا تتخلف به عن الماشية لم يضر كما في الروضة 
3. Tuhfatul Muhtaj jilid9 hal 352 Dar Fikr

 وشرطها ) أي الأضحية لتجزئ حيث لم يلتزمها ناقصة ( سلامة ) وقت الذبح حيث لم يتقدمه إيجاب وإلا فوقت خروجها عن ملكه ( من عيب ينقص ) بالتخفيف كيشكر في الأفصح كما مر ( لحما ) حالا كقطع فلقة كبيرة من نحو فخذ أو مآلا كعرج بين لأنه ينقص رعيها فتنهزل والقصد هنا اللحم فاعتبر ضبطها بما لا ينقصه كما اعتبرت في عيب المبيع بما لا ينقص المالية لأنها المقصودة ثم ويلحق باللحم ما في معناه من كل مأكول فلا يجزئ مقطوع بعض ألية أو أذن كما يأتي ولا يردان عليه ؛ لأن اللحم قد يطلق في بعض الأبواب على كل مأكول كما في قولهم يحرم بيع اللحم بالحيوان أما لو التزمها ناقصة كأن نذر الأضحية بمعيبة أو صغيرة أو قال جعلتها أضحية فإنه يلزمه ذبحها ولا تجزئ ضحية وإن اختص ذبحها بوقت الأضحية وجرت مجراها في الصرف وأفهم قولنا وإلا إلخ أنه لو نذر التضحية بهذا وهو سليم ثم حدث به عيب ضحى به وثبتت له أحكام التضحية


5. Hasyiah I`antuth Thalibin jilid 2 hal 378 Dar Fikr

وضابط العرج اليسير أن تكون العرجاء لا تتخلف عن الماشية بسبب عرجها

Lupa rukun dalam shalat

Lupa rukun dalam shalat
Assalamua'laikum...
Yang Mulia gure yang rahmati Allah. saya ada hal yang kurang ngerti tentang masalah lupa rukun dlm shalat...
yaitu apabila kita lupa rukun dalam 2 rakaat berturut-turut dan kita sudah dalam rakaat yang lain, ini bagai mana solisinya Abu.?
makna menambah rakaat yg tertinggal rukun bagaimana, apakah di tambah sesudah sempurna salam atau sebelum salam ataukah sebelum tasyahud akhir...?
demikian Abu. dan atas kesedian pencerahannya saya ucapkan terimakasih.?
Fan Page Lbm.mudi.

Jawaban:

wa`alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Di sini kami akan menerangkan sedikit tatacara yang harus di tempuh ketika terjadi kelupaan dalam shalat.
Kelupaan terhadap rukun shalat, ada tiga kemungkinan yang terjadi :
  1. Teringat atau ragu dalam shalat dan belum sampai pada rukun yang sama pada rakaat selanjutnya.
  2. Teringat atau ragu dalam shalat namun sudah sampai pada rukun yang sama dalam rakaat selanjutnya atau bahkan lebih.
  3. Teringat atau ragu setelah shalat.

Berikut uraian singkat tentang tiga kemungkinan di atas.

  1. Teringat dalam shalat dan belum sampai pada rukun yang sama pada rakaat selanjutnya.
    Bila lupa terhadap satu rukun shalat dan belum sampai pada rukun yang sama dalam rakaat selanjutnya maka ketika ia teringat wajib langsung kembali mengerjakan rukun tersebut,
    misalnya lupa sujud kedua pada rakaat pertama, baru teringat pada saat rukuk pada rakaat kedua, Maka ia wajib segera turun mengerjakan sujud kedua dan kemudian melanjutkan shalat dari sujud kedua tersebut.
    Adapun amalan yang ia lakukan antara lupa hingga ia teringat (dari sujud kedua pada rakaat pertama - rukuk pada rakaat kedua) di anggap tidak ada sama sekali. dan sebelum salam di sunatkan sujud sahwi.
  2. Teringat dalam shalat namun sudah sampai pada rukun yang sama dalam rakaat selanjutnya atau bahkan lebih.
    Bila ia baru teringat ketika sudah sampai dalam rukun yang sama dalam rakaat selanjutnya maka rukun yang sama tersebut berada pada posisi rukun rukun yang ia tinggalkan karena lupa.
    Misalnya pada rukun pertama ia lupa sujud kedua, kemudian baru teringat pada sujud kedua rakaat kedua atau sesudahnya. maka sujud kedua pada rakaat kedua ini menjadi sujud kedua untuk rakaat pertama dan shalatnya baru di anggap satu rakaat, maka ia wajib shalat 3 rakaat lagi kemudian Sebelum salam di sunatkan sujud sahwi. (kalau shalat 4 rakaat). (Hasyiah Syarqawi `ala Tahrir Jld 1 Hal 194 Haramain)
  3. Teringat atau ragu setelah shalat.
    Bila teringat setelah selesai shalat fardhu maka bila belum lama dan tidak terkena najis pada badannya maka boleh shalatnya di sambung, kemudian Sebelum salam di sunatkan sujud sahwi.sedangkan sudah lama atau sudah terkena najis yang tidak di maafkan maka wajib baginya untuk mengulangi shalatnya dari awal. Ini berlaku bila ia yakin bahwa ada rukun shalatnya yang tertinggal. Sedangkan bila hanya sebatas ragu-ragu setelah shalat apakah ada rukun yang tertinggal ataupun tidak, maka keraguan tersebut sama sekali tidak mempengaruhi sahnya shalat, shalat yang telah lalu tersebut telah di hukumi sah, kecuali bila terjadi keraguan pada niat dan takbiratul ihram, maka shalatnya tidak sah. (Hasyiah I`anatuth Thalibin Jilid 1 Hal 208 Haramain).
Maka kasus seperti yang bapak tanyakan, mengenai lupa dalam dua rakaat berturut-turut, maka bila kedua rakaat tersebut tidak sah maka ketika teringat atau ragu bahwa ada rukun yang tertinggal maka wajib baginya untuk segera ke rukun yang tinggal tersebut dan melanjutkan shalat dari rukun tersebut hingga selesai.

Menambahkan rakaat bila kita shalat sendiri atau sebagai imam adalah langsung setelah sujud kedua atau duduk tahiyat pertama (bila pada rakaat kedua). sedangkan bila sebagai makmum maka setelah salam imam maka kita langsung berdiri jangan salam terlebih dahulu.


Doa dan Zikir Sepuluh Hari Zulhijjah

Doa dan Zikir Sepuluh Hari ZulhijjahSatu Zulhijjah hingga 10 Zulhjjah merupakan hari-hari yang baik untuk meperbanyak amalan. Pada hari-hari ini juga di sunatkan untuk berpuasa. selain itu juga di anjurkan memperbanyak zikir dan doa. Diantara zikir dan doa yang dapat di amalkan selama sepuluh hari di awal bulan Zulhijjah adalah :

Doa di bawah ini di baca setiap hari selama sepuluh hari zulhijjah

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ اللَّيَالِي وَالدُّهُوْرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ الأيَّامِ وَالشُّهُوْرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ أَمْوَاجِ الْبُحُوْرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ أضْعَافِ اْلأُجُوْرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ اْلقَطْرِ وَاْلمَطَرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ أَوْرَاقِ الشَّجَرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ الشَّعْرِ وَالوَبَرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ الرَّمْلِ وَالْحَجَرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ الزَّهْرِ وَالثَّمَرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ أنْفَاسِ اْلبَشَرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ لَمْحِ اْلعُيُوْنِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ مَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَيْرُ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي اْللَيْلِ إِذَا عَسْعَسْ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي الصُّبْحِ إذَا تَنَفَّسَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ الرِّيَاحِ فِي اْلبَرَارِي وَالصُخُوْرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إلَى يَوْمِ يُنفَخُ فِي الصُّوْرِ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ خَلْقِهِ أجْمَعِيْنَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Imam ath-Thabari meriwayatkan, siapa yang membaca doa di bawah ini sepuluh kali setiap hari hingga 10 Zulhijjah akan di ampunkan dosanya yang terdahulu dan yang kedepan.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ الدُّهُوْرِ،لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ أَمْوَاجِ الْبُحُوْرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ النَّبَاتِ وَالشَّجَرِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ الْقَطْرِ وَاْلَمَطِر، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَدَدَ لَمْحِ الْعُيُوُنِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمٍ يُنْفَخُ فِي الْصُوْرِ

Pengarang kitab Kanzun Najah, Syeikh Abdul Hamid mengatakan bahwa yang lebih baik kedua doa tersebut di baca 10 kali setiap hari, namun bila ingin membacanya salah satu saja maka yang kedua lebih utama.
Beliau melanjutkan salah satu doa yang baik di amalkan di 10 hari Zulhijjah doa yang beliau kutip dari tulisan seorang ulama shalih yang di riwayatkan dari Syeikh Khattab al-Makki al-Maliky, beliau menjelaskan di tuntutkan untuk mengulang ulang doa ini semampunya tanpa ada jumlah yang tertentu, doa ini berfaedah untuk memudahkan kelancaran dalam membayar utang.


(اَلَّلهُمَّ) فَرَجَكَ الْقَرِيْبَ (اَللَّهُمَّ) سِتْرَكَ الْحَصِيْنَ (اَللَّهُمَّ) مَعْرُوْفَكَ الْقَدِيْمَ (اَللَّهُمَّ) عَوَائِدَكَ الْحَسَنَةَ (اللهم) عَطَاكَ الْحَسَنَ الْجَمِيْلَ، يَا قَدِيْمَ الْإِحْسَانِ إِحْسَانَكَ الْقَدِيْمَ، يَا دَائِمَ الْمَعْرُوْفِ مَعْرُوْفَكَ الدَّائِمَ

Imam al-Allamah Syarif Maul `ainan dalam kitab Na`atil badayat, menyebutkan salah satu wirid yang berfaedah selama 10 hari Zulhijjah adalah doa yang di ajarkan oleh Rasulullah kepada shahabat-shahabat khusus yaitu :

حَسْبِيَ اللهُ وَكَفَى، سَمِعَ اللهُ لِمَنْ دَعَا، لَيْسَ وَرَاءَهُ مُنْتَهَى، مَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ كُفِيَ، وَمَنْ اِعْتَصَمَ باِللهِ نَجَا
Referensi:
Kanz Najah was surur fi ad`iyah allati tasyrah shudur, karangan Syeikh Abdul Hamid Qudus
Sumber: ABU MUDI

Shalat sunat Dhuha

ketentuan Shalat DhuhaSalah satu shalat sunat adalah shalat dhuha. Menurut sebagian para ulama shalat dhuha adalah shalat isyraq, namun menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami shalat Isyraq bukanlah shalat dhuha.

Dalil-dalil mengenai disunnatkannya shalat dhuha:

Ayat al-Quran
Allah SWT berfirman:

يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ( ص:18
Artinya: Mereka bertasbih pada sore hari dan pada waktu isyrak ( Shaad: 18)

Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud dengan Isyraq dalam ayat diatas adalah shalat dhuha

Hadits
Tersebut dalam Al-hawi Lil Fatawi karangan Imam Assayuthi bahwasanya sangat banyak hadist yang menerangkan tentang kelebihan-kelebihan melakukan shalat dhuha, diantaranya adalah:

a. Hadist riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim

أخرج الشيخان عن أبي هريرة قال : ( أوصاني خليلي صلى الله عليه وسلّم بثلاث : صيام ثلاثة أيام من كل شهر ، وركعتي الضحى ، وأن أوتر قبل أن أنام
Artinya: Bukhari muslem meriwayatkan sebuah hadist dari Abu uraurah, lalu abu Hurairah berkata “telah memberi wasiat kepadaku oleh kekasihku Rasulullah SAW dengan 3 asiat, yaitu puasa sebnayak 3 hari dalam tiap-tiap bulan, melaksanakan salat huha sebanyak dua rakaat dan melaksanakan shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari dan Muslem)

b. Hadist riwayat imam al Tirmizi

أخرج الترمذي ، وابن ماجه عن أنس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( من صلى الضحى ثنتي عشرة ركعة بنى الله له قصراً في الجنة من ذهب)

Artinya: barang siapa yang melaksanakan shalat dhuha sebanyak 12 rakaat maka Allah akan membangun bagiya sebuah istana yang terbuat dari emas di dalam surga.( HR. Tirmizi)

c. Hadist riwayat imam Al ashbahani

من صلى الغداة في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كان له كحجة وعمرة تامة تامة تامة

Artinya: barang siapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah lalu ia duduk dan berzikir kepada Allah sehingga terbit matahari lalu ia melakukan shalat (dhuha) sebanyak dua rakaat maka Allah akan memberinya pahala seperti pahala melakukan haji dan umrah secara sempurna. ( HR. Imam Al-Ashbahani)

d. Hadits riwayat Imam Alashbahaniy dari Anas

وأخرج الأصبهاني عن أنس قال : ( أوصاني رسول الله صلى الله عليه وسلّم فقال : ( يا أنس صل صلاة الضحى فإنها صلاة الأولين 

Artinya: Telah meriwayat oleh imam Al-ashbahani dari Anas, la berkata Telah mermberi wasiat kepadaku oleh Rasulullah SAW “Wahai Anas laukanlah shalat dhuha, sesungguhnya shalat dhuha itu adalah shalatnya orang-orang terddahulu”

Rakaat shalat Dhuha

Jumlah rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat, sedangkan maksimalnya ada dua pendapat, yaitu :
  1. Imam Ibnu Hajar Al-haitami berpendapat bahwasanya maksimal rakaat shalat dhuha adalah 12 rakaat, namun yang lebih afdhal adalah 8 rakaat.
  2. Sedangkan menurut Imam Muhammad Ramli maksimalnya adalah 8 rakaat, menurut beliau melaksanakan shalat dhuha lebih dari 8 rakaat adalah tidak sah.

Adapun minimal kesempurnaannya adalah 4 rakaat kemudian disusul dengan 6 rakaat dan yang lebih afdhal adalah delapan rakaat menurut pendapat yang mu’tamad, sebagaimana yang telah tersebut dalam sebuah hadits riwayat Hani` binti Abi Thalib bahwasanya rasulullah melaksanakan shalat dhuha sebanyak delapan rakaat.

Waktu pelaksanaan Shalat Dhuha

Waktu pelaksaannya adalah mulai dari terangkatnya matahari di waktu pagi hingga matahari tergelincir (zawal). Yang lebih afdhal adalah melakukannya disaat melewati seperempat hari, yaitu supaya dalam setiap ¼ hari terdapat shalat didalamnya. Yaitu pada bagian pertama diisi dengan shalat shubuh, bagian kedua shalat dhuha, bagian ketiga shalat dhuhur dan pada bagian ketiga diisi dengan shalat ashar.
Pelaksaanya boleh dengan setiap dua dua rakaat sekali salam dan boleh juga dengan sekali salam. Bila melakukannya dengan satu kali salam boleh dengan melakukan sekali tasyahud dan boleh juga dengan menyertai dengan tasyahhud awal pada setiap bilangan rakaat yang genap.

Adapun lafaz niatnya adalah:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَهِ تَعَالَى

Artinya: sengaja aku melakukan shalat dhuha menghadap kiblat tunai karena Allah ta’ala.

Tersebut dalam kitab Tuhfatul Muhtaj, bahwasanya kelebihan melakukan shalat dhuha sebanyak delapan rakaat dari pada 12 rakaat tidaklah menentang dengan kaidah,

كُلُّ مَا كَثُرَ وَشَقَّ كَانَ أَفْضَلَ

“ setiap ibadah yang jumlahnya banyak lebih bertambah fadhilahnya pula”

Alasannya, karena kaidah ini adalah kaidah aghlabiyah, disamping itu para ulama juga menegaskan bahwa tidak setiap amalan yang banyak jumlahnya akan bernilai lebih afdhal dalam pandangan syara’, tetapi ada juga sebahagian yang sedikit itu justru lebih afdhal dari yang banyak contohnya seperti seorang musafir dalam jarak musafah qashar lebih afdal baginya melakukan shalat secara qashar ketimbang melakukannya secara itmam (sempurna)

Bacaan surat dalam shalat dhuha

Disunnatkan membaca pada rakat pertama setelah membaca Al-fatihah, surat As-Syams pada rakat yang pertama dan membaca surat Adh-Dhuha pada rakaat yang kedua sebagaimana dalam hadits riwayat Ibnu Hubban dari ‘Aqabah bin ‘Amir berikut:

وابن حبان عن عقبة بن عامر: صَلُّوا رَكْعَتَيْ الضُّحَى بِسُورَتَيْهِمَا {وَالشَّمْسُ وضُحَاهَا} {والضُّحَى

Artinya: Lakukanlah 2 rakaat shalat dhuha dengan membaca dua suratnya, yaitu surat as-syams dan surat ad-dhuha.

Namun, tersebut dalam hadits riwayat al-‘aqiliy bahwasanya surat yang disunnatkan dibaca adalah surat al-ikhlash dan al-kafirun. Yaitu:

كان رسول الله يقرأ فيهما: {قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ} {وَقُلْ هُوَ الله أَحَدٌ

Berbeda dengan uraian dalam kitab Nihayat al-zain, dimana didalamnya dianjurkan mengamalkan dengan kedua riwayat diatas. Yaitu dengan membaca surat Asy-syams dan al-Kafirun dalam rakat yang pertama dan membaca surat al-Dhuha dan Al-Ikhlash dalam rakaat yang kedua. Lalu pada rakaat-rakaat yang tersisa boleh memadainya saja dengan surat al-kafirun dal al-ikhlas.

Bersambung...
Doa Shalat Dhuha
Faedah shalat dhuha

Ayat-ayat yang boleh diniatkan sebagai zikir

Ayat-ayat yang boleh diniatkan sebagai zikir

Ayat-ayat yang boleh diniatkan sebagai zikir
Soal:
Bagaimana hukum membaca Alquran yang nadham (lafadz) nya hanya terdapat dalam Alquran bagi orang yang berhadats besar dengan niat zikir ?

Jawaban :
Hukum membaca Alquran yang nadhamnya hanya dalam Alquran bagi orang yang berhadats besar dengan niat zikir boleh, sementara pendapat yang menyatakan tidak boleh maka itu pendapat dha’if.

Penjelasan :

Ada yang berpendapat bahwa ayat-ayat yang boleh diniatkan sebagai zikir adalah ayat-ayat yang nazamnya tidak hanya terdapat dalam al-qur’an saja, tetapi ayat-ayat yang juga dipakai untuk zikir, seperti bacaan
  إنا لله وإنا إليه راجعون , dsb.
Sementara ayat-ayat yang nazamnya “hanya” terdapat dalam al-qur’an, maka tidak boleh diniatkan sebagai zikir.

Oleh karena itu kami dari pihak lajnah bahtsul masa-il mudi mesjid raya samalanga berinisiatif untuk menghadirkan referensi dari kitab klasik mu’tabarah dengan tujuan untuk meyakinkan para pembaca sekalian bahwa ayat-ayat yang boleh diniatkan sebagai zikir bukan hanya ayat-ayat yang ma’ruf dipakai sebagi zikir, tetapi ayat-ayat yang nazamnya “hanya” terdapat dalam al-qur’an pun bisa diniatkan sebagai zikir.

Salah satu referensi yang berkaitan dengan masalah diatas adalah kitab syarqawi ‘ala al-tahrir, karya syeikh Abdullah al-syarqawy. Beliau menjelaskan bahwa dalam uraian yang terdapat dalam kitab tahrir, syeikh zakaria al-anshary menjelaskan bahwa terdapat rincian yang menyebabkan hukum membaca alqur’an bagi wanita yang sedang mengalami menstruasi berbeda. Rinciannya adalah jika si wanita meniatkan sebagai al-qur’an, maka hukumnya haram. Sementara jika ia tidak meniatkannya sebagai al-qur’an, maka tidak mengapa.

Namun permasalahannya, menurut syeikh zakaria al-anshary rincian tersebut hanya berlaku pada ayat yang nazam (lafadz)nya tidak hanya terdapat dalam al-qur’an saja, tetapi juga lafadz tersebut terdapat dalam selain al-qur’an. Seperti lafadz yang kita ucapkan saat mushibah menimpa إنا لله وإنا إليه راجعون . Sementara ayat yang lafadznya hanya terdapat dalam al-qur’an, maka hukum membacanya haram secara muthlaq, baik diniatkan sebagai zikir atau tidak. Berikut kutipan matan kitab tahrir, hal. 85, jilid. 1, cet. haramain :
ومحله اذا كان مما يوجد نظمه فى غير القرآن كقوله عند المصيبة انا لله وانا اليه راجعون والا فيحرم مطلقا

Beranjak dari pernyataan inilah, maka syeikh Abdullah al-syarqawy menjelaskan dalam kitab hasyiah syarqawy ‘ala al-tahrir bahwa pendapat tersebut adalah dha’if (lemah). Adapun pendapat yang kuat adalah tidak ada perbedaan antara lafadz yang hanya terdapat dalam al-qur’an dan lafadz yang tidak hanya terdapat dalam al-qur’an.

Berikut kutipan matan kitab hasyiah syarqawy ‘ala al-tahrir, hal. 85, jilid. 1, cet. haramain :

( قوله ومحله ) أى ما ذكر من التفصيل بين القصد وعدمه وهذا ضعيف والمعتمد أنه لافرق بين ذلك وبين ما لايوجد نظمه أى لفظه الا فيه كآية الكرسى وسورة الاخلاص.

kesimpulannya, ayat yang boleh diniatkan sebagai zikir bukan hanya ayat yang lafadznya tidak khusus terdapat dalam al-qur’an, tetapi ayat yang lafadznya “hanya” terdapat dalam al-qur’an juga boleh diniatkan sebagai zikir.

Wallahu a’lam....

Fatwa Abuya Muda Waly: Hukum Menjual Darah

Fatwa Abuya Muda Waly: Hukum Menjual DarahSoal:
Apakah hukumnya menjual darah?

Jawaban:
Hukum menjual darah itu tidak sah karena darah tersebut tidak suci dan tidak mungkin di sucikan tetapi kalau di maksudkannya dengan jual itu memindahkan ikhtishah adalah sah hukumnya. Nashnya :

الذي ينبغي أن معتقد النجاسة إذا قصد حقيقة البيع لا يصح، وإذا قصد نقل الاختصاص صح، وكذا إن أطلق كما في البرماوي اهـ بجيرمى فتح الوهاب الجزء الثانى نمرة 177

Dan uang harganya tidak halal dengan maksud jual tersebut dan yang serupa anjing sama dengan anjing karena sabda Nabi : نهي عن ثمن الكلب tetapi kalau di berikan uang itu dengan hati yang senang dan bukan atas nama harga jual darah maka kalau begitu halal hukumnya.

Fatawa Abuya Muda Wali al-Khalidi, Hal 40 Cet. Bukit Tinggi

Pertanyaan dari Padang Sumatra Barat

Download Kitab Manhaj as-Sawi karya Habib Zain

Habib Zain bin Ibrahim bin SumaithKitab Manhaj as-Sawi karangan Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith.
Salah satu ulama Ahlus sunnah wal Jamaah zaman ini adalah Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith. Habib kelahiran Jakarta pada tahun 1357/1936 saat ini mentap di Madinah demi mempertahankan ruh Ahlus sunnah di Kota Rasulullah tersebut, walaupun harus mendapat tekanan dari pemerintah Arab Saudi yang berpaham wahabi.
Selain mengajar, beliau juga aktif dalam menulis, salah satu karya beliau adalah Manhaj as-Sawi. Kitab Kitab ini merupakan syarahan atas kitab beliau sendiri, Ushul Thariqah Sadah Balawi. Kitab ini berisi enam bagian yang beliau sebut al-halah dan satu khatiman.
Berikut isi kitab tersebut secara umum.


Manhaj as-Sawi
كتاب : المنهج السوي شرح أصول طريقة السادة آل باعلوي
للشيخ العلامة الحبيب زين بن إبراهيم سميط ، يشرح فيه مؤلفه أصول طريقة السادة الأشراف آل باعلوي
وهو كتاب عن آداب العالم والمتعلم ، والعلم والعمل والعبادة ، والإخلاص ، ينقل فيه مؤلفه فوائد عديدة ، ونقول نادرة ، فيما يتعلق بما سبق ، لا تجدها في غيره من الكتب إلا بعد البحث والتنقيب ، جمعها
ورتبها على أبواب الكتاب
وفيه كذلك توجيهات خاصة لطلبة الشافعية ، جزى الله مؤلفه خير الجزاء
وهذه أهم المواضيع التي تناولها الكتاب :
الحالة الأولى : العلم
الباب الأول : فضل العلم وأهله
الباب الثاني : فضل تعليم العلم وكتابته
الباب الثالث : في الاجتهاد في طلب العلم وبذ الهمة في تحصيله
الباب الرابع : في الحث على مجالسة العلماء والصالحين وإكرامهم
الباب الخامس : في آداب العالم والمتعلم
الباب السادس : في تفضيل كتب السلف على غيرها
الباب السابع : بين علماء الآخرة وعلماء الدنيا
الباب الثامن : الدعوة إلى الله وظفية العلماء الهداة
الباب التاسع : في الحكمة
الباب العاشر : فوائد منثورة
خاتمة : في قبض العلم وموت العلماء
الحالة الثانية : العمل
الفصل الأول : وجوب العمل بالعلم
الفصل الثاني : التقوى
الفصل الثالث : أهمية العبادة وفضلها
الفصل الرابع : ثمرات الأعمال الصالحات
الفصل الخامس : العلم اللدني والتلقي عن الله
الفصل السادس : الحث على البدار بالعلم الصالح والاجتهاد فيه
الفصل السابع : في المجاهدة ورياضة النفس
الفصل الثامن : في التصوف
الفصل التاسع : في أحب الأعمال إلى الله
الفصل العاشر : في عمل السلف الصالح
الحالة الثالثة : الورع
الفصل الأول : شواهد الورع وأصوله الشرعية
الفصل الثاني : طائفة من كلام العلماء
الفصل الثالث : حكايات الورعين
الفصل الرابع : فوائد أكل الحلال
الفصل الخامس : الحث على العمل لاكتساب الحلال
الفصل السادس : النهي عن تناول المحرمات
الحالة الرابعة : الخوف
الفصل الأول : دلائل القرآن عليه
الفصل الثاني : دلائل السنة عليه
الفصل الثالث : ثمار الخوف والخشية من الله تعالى
الفصل الرابع : في الخوف والرجاء
الفصل الخامس : في البكاء من خشية الله
الفصل السادس : في بعض أحوال السلف
الحالة الخامسة : الإخلاص
الباب الأول : حقيقة الإخلاص وفضله
الباب الثاني : في حقيقة النية وأحكامها
الباب الثالث : في حقيقة الصدق وفضله

Bagi yang berminat dengan file pdf kitab ini silahkan di download di SINI

Berqurban Untuk Orang Yang Telah Meninggal

Qurban bagi orang yang telah meninggal
Diskripsi Masalah
Salah satu ibadah yang memiliki nilai pahala yang besar adalah qurban. Namun sering juga dalam seumur hidup kita belum sempat berqurban sama sekali. Kadang kala pihak ahli waris melakukan qurban bagi keluarga mereka yang telah meninggal. Namun masalah muncul karena si mayat tidak pernah mewasiatkan untuk qurban.

Pertanyaan:
Bagaimanakah hukumnya menyembelih kurban untuk orang yang telah meninggal?

Jawab:
Bagi mayat yang telah baligh maka bila ia pernah mewasiatkan supaya diqurbankan untuknya maka qurban tersebut sah, sedangkan bila ia tidak pernah mewasiatkan untuk berkurban maka menurut pendapat yang kuat tidak sah qurban tersebut baik untuk si mayat maupun untuk orang yang berkurban tersebut.

Sedangkan bila mayat tersebut belum baligh maka sah dikurbankan oleh walinya. Hal ini juga berlaku pada aqiqah.

Namun bila orang yang berqurban meniatkan qurban untuk dirinya dan dihadiahkan pahalanya untuk orang yang telah meninggal, maka pahala tersebut sampai kepada orang yang telah meninggal, karena salah satu i`tiqad ahlus sunnah wal jamaah adalah sampai pahala hadiah kepada muslim yang lain.

Referensi:

Tuhfatul Muhtaj jilid 9 hal 327 Cet. Dar Fikr

 ولا ) تجوز ولا تقع أضحية ( عن ميت إن لم يوص بها ) لما مر ويفرق بينهما وبين الصدقة بأنها تشبه الفداء عن النفس فتوقفت على الإذن بخلاف الصدقة ومن ثم لم يفعلها وارث ولا أجنبي وإن وجبت بخلاف نحو حج وزكاة وكفارة ؛ لأن هذه لا فداء فيها فأشبهت الديون ولا كذلك التضحية وألحق العتق بغيرها مع أنه فداء أيضا لتشوف الشارع إليه أما إذا أوصى بها فتصح لما صح عن { علي كرم الله وجهه أن النبي صلى الله عليه وسلم أمره أن يضحي عنه كل سنة } وكأنهم لم ينظروا لضعف سنده لانجباره ويجب على مضح عن ميت بإذنه سواء وارثه وغيره من مال عينه سواء ماله ومال مأذونه فيما يظهر فإن لم يعين له مالا يضحي منه احتمل صحة تبرع الوصي عنه بالذبح من مال نفسه واحتمل أن يقال إنها في ثلثه حتى يستوفيه التصدق بجميعها لأنه نائبه في التفرقة لا على نفسه وممونه لاتحاد القابض والمقبض ويؤخذ من قولهم : إنه نائبه في التفرقة أنه لا تصرف هنا للوارث غير الوصي في شيء منها ويفرق بين هذا وما مر عن السبكي بأن المورث عزله هنا بتفويض ذلك لغيره بخلافه ثم ويتجه أخذا من هذا أن للوصي إطعام الوارث منها ومر أن للولي الأب فالجد التضحية عن موليه وعليه فلا يقدر انتقال الملك فيها للمولي كما هو ظاهر وإن اقتضى التقدير نظائر لذلك أما أولا فلأن أقرب النظائر إليها العقيقة عنه وهي لا تقدير فيها كما يصرح به كلامهم وأما ثانيا فلأنه يلزم عليه منع المقصود منها من الأكل والتصدق كسائر أموال المحجور وحينئذ فهل للولي إطعام المولي الظاهر نعم

Hasyiah I`anatuth Thalibin jild 2 hal 331 Cet. Haramain

ولا يضحي أحد عن غيره بلا إذنه في الحي، وبلا إيصائه في الميت.فإن فعل ولو جاهلا لم يقع عنه، ولا عن المباشر.

Asnal Mathalib jilid 1 hal 538 Dar Kitab al-Islami

ولا يضحي أحد عن غيره بلا إذن ) منه ( ولو ) كان ( ميتا ) فإن أذن له وقعت عنه ، وصورة الإذن في الميت أن يوصي بها وروى أبو داود والترمذي وغيرهما { أن علي بن أبي طالب كان يضحي بكبشين عن النبي صلى الله عليه وسلم وبكبشين عن نفسه وقال : إنه صلى الله عليه وسلم أمرني أن أضحي عنه أبدا } فعلم أنها لا تقع عنه ، ولا عن غيره إذا ضحى عنه بغير إذنه ( نعم تقع عن المضحي ) أضحية ( معينة بالنذر ) منه فمعينة مرفوع بالفاعلية ويجوز نصبه بالحالية .
الشرح
 قوله وصورة الإذن في الميت أن يوصي بها ) هذا في أضحية التطوع أما لو كان في ذمته أضحية منذورة ومات ولم يوص بها فإنه يجوز التضحية عنه ( قوله نعم تقع عن المضحي معينة ) يستثنى أيضا تضحية الولي من ماله عن محاجيره كما ذكره البلقيني والأذرعي وهو الذي أشعر به قول الماوردي والأصحاب ولا تصح التضحية عن الحمل كما لا تخرج عنه الفطرة ولا يجوز للولي أن يضحي عن المحجور من ماله

Asnal Mathalib jilid 3 hal 60 Dar Kitab al-Islami

وفي جواز التضحية عن الغير ) بغير إذنه ( وجهان ) : أصحهما المنع وبه جزم المنهاج كأصله وعبارته ولا تضحية عن الغير بغير إذنه ولا عن ميت إن لم يوص بها على الأصل في العبادات .
وثانيهما الجواز لخبر مسلم { أنه صلى الله عليه وسلم ضحى عن أزواجه بالبقر } وخبر أحمد { أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا ضحى اشترى كبشين سمينين أقرنين أملحين فإذا صلى وخطب الناس أتى بأحدهما وهو قائم في مصلاه فذبحه بنفسه بالمدية ثم يقول : اللهم هذا عن أمتي جميعا من شهد لك بالتوحيد وشهد لي بالبلاغ ثم يؤتى بالآخر فيذبحه بنفسه ويقول : هذا عن محمد وآل محمد فيطعمهما جميعا المساكين ويأكل هو وأهله منهما } ، وللأول أن يجعل ذلك مستثنى إذ للإمام الأعظم أحكام تخصه

Busyra Karim hal 699 jilid 1 Dar Minhaj

ولا يضحي أحد عن غيره بلا إذنه في الحي، وبلا إيصائه في الميت، فإن فعل ولو جاهلاً .. لم يقع عنه، ولا عن المباشر.
وفي "التحفة": (ومرَّ أن للأصل التضحية عن موليه، وعليه فلا يقدر انتقال الملك للمولى، أي: كالعقيقة عنه؛ إذ لو انتقلت إليه .. لامتنع التصدق بها كسائر أمواله.
ثم قال: وللولي إطعام المولي منها) اهـ
وإنما جاز وفاء دين الغير حياً أو ميتاً بغير إذنه لا التضحية عنه؛ لأنها عبادة، والأصل منعها عن الغير إلا لدليل، بخلاف وفاء الدين. ويفرق بينها وبين الصدقة بأنها تشبه الفداء عن النفس، فتوقفت على الإذن، بخلاف الصدقة، ومن ثم لم يفعلها عنه وارث ولا غيره وإن وجبت.بخلاف نحو حج وزكاة وكفارة فلا فداء فيها، فأشبهت الديون.

Majmuk Syarah Muhazzah jilid 8 hal 406 Cet. Dar Kutub Ilmiyah

فرع) لو ضحى عن غيره بغير اذنه لم يقع عنه (وأما) التضحية عن الميت فقد أطلق أبو الحسن العبادي جوازها لانها ضرب من الصدقة والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل إليه بالاجماع وقال صاحب العدة والبغوي لا تصح التضحية عن الميت إلا ان يوصي بها وبه قطع الرافعي في المجرد والله أعلم
قال اصحابنا وإذا ضحى عن غيره بغير اذنه فان كانت الشاة معينة بالنذر وقعت عن المضحي والا فلا كذا قاله صاحب العدة وآخرون واطلق الشيخ ابراهيم المروروذي انها تقع عن المضحي قال هو وصاحب العدة وآخرون ولو ذبح عن نفسه واشترط غيره في ثوابها جاز قالوا وعليه يحمل الحديث المشهور عن عائشة (أن النبي صلى الله عليه وسلم ذبح كبشا وقال بسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمة محمد ثم ضحى به) رواه مسلم والله أعلم
واحتج العبادي وغيره في التضحية عن الميت بحديث على بن أبي طالب رضى الله عنه أنه كان (يضحى بكبشين عن النبي صلى الله عليه وسلم وبكبشين عن نفسه وقال ان رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرني أن أضحى عنه أبدا فأنا أضحى عنه أبدا) رواه أبو داود والترمذي والبيهقي قال البيهقي ان ثبت هذا كان فيه دلالة على صحة التضحية عن الميت والله أعلم

Raudhatuth Thalibin jilid 3 hal 201 Cet. Maktabah Islamy

الرابعة لو ضحى عن الغير بغير إذنه لم يقع عنه وفي التضحية عن الميت كلام يأتي في الوصية إن شاء الله تعالى قلت إذا ضحى عن غيره بلا إذن فإن كانت الشاة معينة بالنذر وقعت عن المضحي وإلا فلا كذا قاله صاحب العدة وغيره وأطلق الشيخ إبرهيم المروروذي أنها تقع عن المضحي قال هو وصاحب العدة لو أشرك غيره في ثواب أضحيته وذبح عن نفسه جاز قالا وعليه يحمل الحديث المتقدم اللهم تقبل من محمد وآل محمد والله أعلم

Syeikh Muda waly al Khalidy An Naqsyabandy Al Asyiy Syeikh Masyayikh Aceh. Bagian I

abuya Muda waly al KhalidyAbuya Syeikh Muhammad Muda Waly Al khalidy dilahirkan di Desa Blang poroh, kecamatan Labuhan Haji, kabupaten Aceh Selatan, pada tahun 1917. Beliau adalah putra bungsu dari Sheikh H. Muhammad Salim bin Malin Palito. Ayah beliau berasal dari Batu sangkar, Sumatra Barat. Beliau datang keAceh Selatan selaku da`i. Sebelumnya, paman beliau yang masyhur dipanggil masyarakat Labuhan Haji dengan Tuanku Pelumat yang nama aslinya Syeikh Abdul Karim telah lebih dahulu menetap di Labuhan Haji. Tak lama setelah Sheikh Muhammad salim menetap di Labuhan Haji, beliau dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Siti Janadat, putri seorang kepala desa yang bernama Keuchik Nya` Ujud yang berasal dari Desa Kota Palak, Kecamatan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Siti Janadat meninggal dunia pada saat melahirkan adik dari Syeikh Muda Waly. Beliau meninggal bersama bayinya. Syeikh Muhammad salim sangat menyayangi Sheikh Muda Wali melebihi saudaranya yang lain. Kemana saja beliau pergi mengajar dan berda`wah Syeikh Muda Waly kecil selalu digendong oleh ayahnya. Mungkin Syeikh Muhammad Salim telah memiliki firasat bahwa suatu saat anaknya ini akan menjadi seorang ulama besar, apalagi pada saat Syeikh Muda Waly masih dalam kandungan, beliau bermimpi bulan purnama turun kedalam pangkuannya .

Nama Syeikh Muda Waly pada waktu kecil adalah Muhammad Waly. Pada saat beliau berada di Sumatra Barat, beliau dipanggil dengan gelar Angku Mudo atau Angku Mudo Waly atau Angku Aceh. Beliau di panggil dengan Angku Mudo karena beliau telah alim padahal usia beliau masih sangat kecil. Setelah beliau kembali ke Aceh masyarakat memanggil beliau dengan Teungku Muda Waly dan sekarang lebih dikenal dengan Abuya Muda Waly. Sedangkan beliau sering menulis namanya sendiri dengan Muhammad Waly atau lengkapnya Syeikh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy. Sedangkan ketika menulis komentar terhadap kitab Tuhfatul Muhtaj ketika mengajarkan kitab tersebut kepada murid-murid beliau, beliau menuliskan nama beliau dengan Ibnu Salim. Selain itu dalam kitab fatawa Abuya yang di kumpulkan oleh murid beliau, Abu Basyah Kamal Lhong, di temukan singkatan nama Abuya dengan  م ل (Muhammad Wali)

Perjalanan pendidikannya

Syeikh Muda Waly belajar belajar A-Qur an dan kitab-kitab kecil tentang tauhid, fiqh, dan dasar ilmu bahasa arab kepada ayahnya. Disamping itu beliau juga masuk sekolah Volks-School yang didirikan oleh Belanda. Setelah tamat sekolah Volks School, beliau dimasukkan kesebuah pesantren di ibu kota Labuhan Haji, Pesantren jam`iah Al-Khairiyah yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Ali yang dikenal oleh masyarakat dengan panggilan Teungku Lampisang dari Aceh Besar sambil beliau sekolah di Vervolg School. Setelah lebih kurang 4 tahun beliau belajar di pesantren Al-Khairiyah beliau diantarkan oleh ayahnya ke pesantren Bustanul Huda di ibukota kecamatan Blangpidie. Sebuah pesantren Ahlussunnah wal jama`ah sama seperti Pesantren Al-Khairiyah, yang dipimpin oleh seorang ulama besar yang datang dari Aceh Besar, Syeikh Mahmud. Di pesantren Bustanul Huda, barulah beliau mempelajari kitab-kitab yang masyhur dikalangan ulama Syafi`iyah seperti I`anatut Thalibin, Tahrir dan Mahally dalam ilmu fiqh, Alfiyah dan Ibn `Aqil dalm ilmu nahwu dan sharaf.

Setelah beberapa tahun di Pesantren Bustanul Huda, terjadilah satu masalah antara beliau dengan gurunya, Teungku Syeikh Mahmud. Yaitu perbedaan perdapat antara beliau dengan guru beliau tersebut tentang masalah berzikir dan bershalawat sesudah shalat di dalam masjid secara jahar. Di kemudian harinya Syeikh Muda waly ingin melanjutkan pendidikan kepesantren lainnya di Aceh Besar, tetapi sebelumnya, ayah Syeikh Muda Waly, Haji Muhammad Salim meminta izin kepada Syeikh Mahmud, minta do`anya untuk dapat melanjutkan pendidikan kepesantren lainnya dan yang terpenting meminta maaf atas kelancangan Syeikh Muda Waly berbeda pendapat dengan gurunya dalam masalah tersebut. Berkali kali beliau dan ayahnya meminta ma`af kepada Syeikh Mahmud tetapi beliau tidak menjawabnya. Pada akhirnya setelah beliau kembali dari Sumatra Barat dan Tanah suci, Makkah, maka timbullah kasus di kecamatan Blang Pidie. Ada seorang ulama dari kaum Muda dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang bernama Teungku Sufi, mendirikan Madrasah Islahul Umum di Susuh, Blang Pidie, berda`wah dan membangkitkan masalah–masalah khilafiyah. Dalam satu perdebatan terbuka di ibukota kecamatan Blang Pidie, dia mengungkapkan dalil dan alasannya sehingga hampir kebanyakan ulama termasuk Teungku Haji Muhammad Bilal Yatim dapat dikalahkan. Tetapi pada waktu giliran perdebatan Teungku Sufi tersebut dengan Syeikh Muda Waly semua dalil dan alasannya beliau tolak, beliau hancurkan tembok-tembok alasannya sehingga kalah total di depan umum. Selain itu Abuya Muda Wali juga pernah berdebat dengan tokoh Muhammadiyah, Hasbi ash-Shiddiqy. Tak lama setelah itu barulah Syeikh Mahmud mema`afkan kesalahan Syeikh Muda Waly yang berani berbeda pendapat dengan gurunya tersebut pada waktu masih belajar di Bustanul Huda.

Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, beliau mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan pendidikannya kepesantren di Aceh Besar kepada ayahnya, Syeikh H. Muhammad Salim. Ayah beliau sangat senang mendengarkan niat tersebut. Apalagi Syeikh H.Muhammad Salim telah mengetahui bahwa putranya ini telah menamatkan kitab-kitab agama yang dipelajari di Pesantren Bustanul Huda.

Sebagai bekal dalam perjalanan beliau dari Labuhan Haji, ayahanda beliau memberikan sebuah kalung emas yang lain merupakan milik kakak kandung Syeikh Muda Waly, yaitu Ummi Kalsum. Beliau diantar oleh ayahanda beliau dari desanya sampai ke kecamatan Manggeng. Setelah sampai ke Manggeng, ayahanda beliau berkata ”Biarkan aku antarkan engkau sampai ke Blang Pidie”. Sesampainya di Blang Pidie, Syeikh Muhammad Salim berkata kepada putranya, Syeikh Muda Waly ”biarkan aku antarkan engkau sampai ke Lama Inong”. Pada kali yang ketiga ini Syeikh Muda Waly merasa keberatan, karena seolah olah beliau seperti tidak rela melepaskan anaknya merantau jauh untuk menuntut ilmu. Syeikh Muda Waly berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang juga merupakan tamatan dari pesantren Busranul Huda, namanya Teungku Salim, beliau merupakan seorang yang cerdas dan mampu membaca kitab-kitab agama dengan cepat dan lancar.

Abu Hasan Krueng KaleeSesampainya di Banda Aceh, beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng Kale yang dipimpin oleh Syeikh H.Hasan Krueng Kale, ayahanda dari Syeikh H. Marhaban, seorang ulama yang merupakan murid Abuya Muda Wali yang pernah menjabat menjadi menteri muda pertanian Indonesia pada masa Sukarno. Beliau sampai di Pesantren Krueng kale pada pagi hari, pada saat Syeikh Hasan Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama. Diantara kitab yang dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun. Syeikh Muda Waly mengikuti pengajian tersebut. Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut, dengan kalimat terkhit Wa huwa hasbi wa ni`mal wakil. Setelah selesai pengajian Syeikh Muda Waly merasa bahwa syarahan-syarahan yang di berikan oleh Syeikh Hasan Krueng Kalee tidak lebih dari pengetahuan yang beliau miliki dan apabila beliau membacakan kitab tersebut maka beliau juga akan sanggup menjelaskan seperti syarahan yang dipaparkan oleh Syeikh Hasan Krueng Kale. Walaupun demikian beliau tetap menganggap Syeikh Hasan Krueng Kale sebagai guru beliau. Bagi Syeikh Muda Waly, cukuplah sebagai bukti kebesaran Syeikh Hasan Krueng Kale, apabila guru beliau Syeikh Mahmud Blang Pidie adalah seorang alumnus Pesantren Kuerng Kale.
Syeikh Muda Waly hanya satu hari di Pesantren krueng Kale. Beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah ilmu. Akhirnya merekapun berpisah. Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh yaitu Syeikh Hasballah Indrapuri, beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri. Pesantren ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur an yang berkaitan dengan qiraat dan lainnya. Syeikh Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu Al–Quran masih kurang. Inilah yang mendorong beliau untuk memasuki Pesantren Indrapuri. Pesantren Indrapuri tersebut dalam sistem belajar sudah mempergunakan bangku, satu hal yang baru untuk kala itu. Pada saat mengikuti pelajaran, kebetulan ada seorang guru yang membacakan kitab kuning, Syeikh Muda Waly tunjuk tangan dan mengatakan bahwa ada kesalahan pada bacaan dan syarahannya, maka beliau meluruskan bacaan yang benar beserta syarahannya. Dari situlah Ustad dan murid-murid kelas itu mulai mengenal anak muda yang baru datang kepesantren itu dan memiliki pengetahuan yang luas. Maka ustad tersebut mengajak beliau kerumahnya dan memerintahkan kepada pengurus pesantren untuk mempersiapkan asrama tempat tinggal untuk beliau, kebetulan sekali pada saat itu perbekalan yang dibawa Syeikh Muda Waly sudah habis, maka dengan adanya sambutan dari pengurus pesantren tersebut beliau tidak susah lagi memikirkan belanja.

Pimpinan Pesantren Indrapuri tersebut, Teungku Syeikh Hasballah Indrapuri sepakat untuk mengangkat Syeikh Muda Waly sebagai salah satu guru senior di Pesantren tersebut. Semenjak saat itu Syeikh Muda Waly mengajar di pesantren tersebut tanpa mengenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam semua waktunya dihabiskan untuk mengajar. Tinggallah sisa waktu luang hanya antara jam dua malam sampai subuh. Waktu waktu itupun tetap diminta oleh sebagian santri untuk mengajar. Selama tiga bulan beliau mengajar di Dayah tersebut. Karena padatnya jadwal beliau dan beliau kelihatan kurus, tetapi alhamdulillah walaupun demikian beliau tidak sakit.

Setelah sekian lamanya di Pesantren Indrapuri, datanglah tawaran dari salah seorang pemimpin masyarakat yaitu Teuku Hasan Glumpang payung kepada Syeikh Muda Waly untuk belajar ke sebuah perguruan di Padang, Normal Islam School yang didirikan oleh seorang ulama tamatan Al-Azhar, Mesir, Ustad Mahmud Yunus. Teuku Hasan tersebut setelah memperhatikan pribadi Syeikh Muda Waly, timbullah niat dalam hatinya bahwa pemuda ini perlu dikirim ke Al-Azhar, Mesir. Tetapi karena di Sumatra Barat sudah terkenal ada seorang Ulama yang telah menamatkan pendidikannya di Al Azhar dan Darul Ulum di Cairo, Mesir yang bernama Ustad Mamud Yunus yag telah mendirikan sebuah perguruan di Padang yang bernama Normal Islam School yang sudah terkenal kala itu melebihi perguruan perguruan sebelumnya seperti Sumatra Thawalib. Oleh sebab itu Teuku Hasan mengirimkan Syeikh Muda Waly ke pesantren tersebut sebagai jenjang atau pendahuluan sebelum melanjutkanke al Azhar.

Berangkatlah Syeikh Muda Waly menuju Sumatra barat dengan kapal laut. Beliau sama sekali tidak mengetahui tentang Sumatra Barat sedikit pun, dimana letak Normal Islam School dan kemana beliau harus singgah. Tiba-tiba saja ada seorang penumpang yang telah lama memperhatikan tingkah laku dan gerak gerik Syeikh Muda Waly selama di kapal, bersedia membantu Syeikh Muda Waly untuk bisa sampai ketempat yang beliau tuju.

Setelah sampai di Normal Islam beliau segera mendaftarkan diri di Sekolah tersebut. Lebih kurang tiga bulan beliau di Normal Islam dan akhirnya beliau mengundurkan diri dan keluar dengan hormat dari Lembaga pendidikan tersebut.
Menurut anak kandung Abuya, Prof. DR. Muhibudin Wali, ada beberapa alasan mengapa Abuya keluar dari sekolah yang di dirikan oleh Prof. Mahmud Yunus tersebut, yaitu:
  1. Cita-cita melanjutkan pendidikan kemana saja termasuk ke Normal Islam dengan tujuan memperdalam ilmu agama, karena cita-cita beliau mudah-mudahan beliau menjadi seorang ulama seperti ulama-ulama besar lainnya. Tetapi rupanya ilmu agama yang diajarkan di normal Islam amat sedikit. Sehingga seolah-olah para pelajar disitu sudah dicukupkan ilmu agamanya dengan ilmu yang didapati sebelum memasuki pesantren tersebut.
  2. Di normal Islam pelajaran umum lebih banyak diajarkan ketimbang pelajaran agama. Disana diajarkan ilmu matematika, kimia, biologi, ekonomi, ilmu falak, sejarah Indonesia, bahasa inggris, bahasa belanda, ilmu khat dan pelajaran olahraga.
  3. Di normal Islam beliau harus menyesuaikan diri dengan peraturan peraturan di lembaga tersebut, Di situ para pelajar diwajibkan memakai celana, memakai dasi, ikut olah raga disamping juga mengikuti pelajaran umum diatas. Menurut hemat Syeikh Muda Waly, kalau begini, lebih baik beliau pulang ke Aceh mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah beliau miliki daripada menghabiskan waktu dan usia di Sumatra Barat.

Prof. DR. Muhibudin WaliSelain itu, dalam pemahaman ilmu agama, Abuya tidak sependapat dengan Prof. Mahmud Yunus. Hal ini bisa kita lihat dari ijazah Bustanul Muhaqqiqin yang Abuya berikan kepada para lulusan Darussalam, Labuhan Haji. Dalam Ijazah tersebut Abuya memasukkan buku tafsir karya Prof. Mahmud Yunus ke dalam golongan buku tafsir yang banyak mengandung kesalahan dalam penafsirannya.
Setelah beliau keluar dari Normal Islam, beliau bertemu dengan salah seorang pelajar yang juga berasal dari Aceh dan sudah lama di Padang yaitu Ismail Ya`qub, penerjemah Ihya `ulumuddin. Bapak Ismail Ya`qub menyampaikan kepada Syeikh Muda Waly supaya jangan cepat cepat pulang ke Aceh, tetapi menetaplah dulu di Padang, barangkali ada manfaatnya.

Pada suatu sore beliau mampir untuk berjamaah maghrib di sebuah surau yaitu di Surau Kampung Jao. Setelah shalat maghrib kebiasaan disurau itu diadakan pengajian dan seorang ustaz mengajar dengan membaca kitab berhadapan dengan para jamaah. Rupanya apa yang di baca oleh ustaz itu beserta syarahan yang di sampaikan menurut Syeikh Muda Waly tidak tepat, maka beliau membetulkan. Sehingga ustaz itu dapat menerima. Sedangkan jamaah para hadirin bertanya-tanya tentang anak muda yang berani bertanya dan membetulkan pendapat ustaz itu.

Akhirnya para jamaah beserta ustaz tersebut meminta beliau supaya datang kesurau itu untuk menjadi imam solat dan mengajarkan ilmu agama. Begitulah dari hari ke hari, Syeikh Muda Waly mulai dikenal dari satu surau ke surau yang lain, dan dari satu mesjid ke mesjid yang lain. Apalagi beliau bukan orang padang, tetapi dari daerah Aceh dan nama Aceh sangat harum dalam pandangan ummat islam Sumatra barat. Dan yang lebih mengagumkan lagi ialah kemahiran beliau dalam ilmi fiqh, tasawwuf, nahu dan lain. Barulah sejak itu beliau dipangil oleh masyarakat dengan Angku Mudo atau Angku Aceh.

Pada masa itu pula sedang hangat-hangatnya di Sumatra Barat tentang masalah-masalah keagamaan yang sifatnya adalah sunat-sunat’ seperti masalah usalli, masalah hisab dalam memulai puasa Ramadan, hari raya ‘Idul fithri dan lain lain. Terjadilah perdebatan antara kelompok kaum tua dengan kelompok kaum muda.

Syeikh Muda Waly berasal dari Aceh dalam kelahiran, dan pendidikannya, tentu saja berpendirian dalam semua masalah masalah itu seperti pendirian para ulama Aceh sejak zaman dahulu, karena semua ulama Aceh khususnya dalam bidang syari’at dan fiqh islam tidak ada bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Apalagi ulama ulama Aceh zaman dahulu seperti Syeikh Nuruddin al-Raniri, Syeikh Abdul Rauf al-fansuri al-singkili (Syiahkuala), Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsuddin Sumatrani dan lain lain. Semuanya bermazhab Syafi`i dan antara mereka tidak terjadi pertentangan dalam syari``at dan fiqh Islam kecuali hanya perbedaan pendapat dalam masalah tauhid yang pelik dan sangat mendalam, yaitu masalah Wahdah al-Wujud, juga masalah hukum Islam yang berkaitan dengan politik, seperti masalah wanita menjadi raja.

Karena itulah maka semua masalah masalah kecil di atas sangat dikuasai oleh Syeikh Muda Waly dalil-dalil hukum dan alasan alasannya, al Qur’an dan hadist, dan juga dari kitab-kitab kuning. Karena itulah, maka terkenallah beliau di kota padang dan mulai dikenal pula oleh seorang ulama besar di kota padang itu, yaitu Syeikh Haji Khatib Ali, ayahandanya Prof. Drs.H. Amura. Syeikh Khatib Ali ulama besar ahli sunnah wal jama’ah dipadang. Murid dari pada Syeikh Ahmad Khatib di Mekkah Al-Mukarramah. Beliu mendapat ijazah ilmu agama dari Syeikh Ahmad Khatib dan mendapat pula ijazah Tariqat Naqsyabandiyah dari pada Syeikh Ustman Fauzi Jabal Qubais Mekkah al-Mukarramah. Yang menjadikan beliu terkenal di padang karena kegigihannya mempertahankan `aqidah ahli sunnah wal jama`ah dan Mazhab syafi`i, di samping pula beliu adalah menantu seorang ulama besar dalam ilmu syari`at dan tariqat, yaitu Syeikh Sa`ad Mungka. Syeikh Khatib Ali sangat tertarik kepada Syeikh Muda Waly sehingga beliau menjodohkan Syeikh Muda Waly dengan seorang famili beliau yaitu Hajjah Rasimah, yang akhirnya melahirkan Syeikh prof. Muhibbuddin Waly. Sejak itulah kemasyhuran Syeikh Muda Wali semakin meningkat dan terus ditarik oleh ulama-ulama besar lainnya dalam kelompok para ulama kaum tua, tetapi beliau secara tidak langsung juga mengambil hal-hal hal yang baik dari ulama-ulama lainnya, seperti orang tuanya Buya Hamka, Haji Rasul.

Syeikh Muhammad Jamil Jaho
Syeikh M. Jamil Jaho
Kemudian Syeikh Muda waly juga berkenalan dengan Syeikh Muhammad Jamil Jaho. Maka beliau mengikuti pengajian yang diberikan oleh Ulama besar Padang tersebut. Hubungan beliau dengan Syeikh Muda Waliy pada mulanya hanya sekadar guru dan murid. Syeikh Jamil Jaho adalah seorang Ulama Minangkabau, murid Syeikh Ahmad Khatib. Beliau diakui kealimannya oleh ulama lainnya terutama dalam ilmu bahasa arab. Di Pesantren jaho itulah Syeikh Muhammad Jamil Jaho mengumpulkan murid muridnya yang pintar untuk mencoba pengetahuan Syeikh Muda Waly pada lahiriyahnya mereka seperti mengaji pada Syeikh Muda Waly tapi pada hakikatnya adalah untuk menguji dan mencoba Syeikh Muda Waly dengan berbagai ilmu alat. Rupanya semua debatan tersebut dapat dijawab oleh Syeikh Muda Waly. Dari situlah, Syeikh Muda Waly semakin terkenal dikalangan para ulama Minangkabau. Akhirnya Syeikh Muda Waly dinikahkan dengan putri Syeikh Muhammad Jamil Jaho yaitu dengan seorang putrinya yang juga alim, Hajjah Rabi`ah yang akhirnya melahirkan Syeikh H. Mawardi Waly.

Akhirnya Syeikh Muda Waly menempati rumah pemberian paman istri beliau yang pertama, Hajjah Rasimah. Rumah itu terdiri dari dari dua tingkat. Pada bagian bawahnya di gunakan sebagai madrasah tempat majlis ta`lim. Apabila datang hari hari besar islam ummat Islam di Kota Padang beramai ramai datang kerumah tersebut. Para Ulama Kota Padang khususnya sering berdatangan ke rumah tersebut karena bila tak ada undangan Syeikh Muda Waly sibuk mengajar dan berdiskusi dengan para ulama lainnya Apalagi dalam rumah itu juga tinggal seorang ulama besar lain, Syeikh Hasan Basri, menantu dari Syeikh Khatib `Ali Padang dan suami dari Hajjah Aminah, ibunda dari istri beliau Hajjah Rasimah. Pada tahun 1939 Syeikh Muda Waly menunaikan ibadah haji ketanah suci bersama salah seorang istri beliau Hajjah Rabi`ah. Selama di Makkah beliau tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan.

Rumah Abuya Muda Wali bersama Ummi Rabi`ahSelain menunaikan ibadah haji, beliau juga memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu pengetahuan dari ulama-ulama yang mengajar di Masjidil Haram antara lain Syeikh Ali Al Maliki seorang ulama yang dijuluki Sibawaihi Zamanihi, pengarang Hasyiah al- Asybah wan Nadhaair bahkan beliau mendapat ijazah kitab-kitab hadis dari Syeikh Ali Al Maliki .
Selama di Makkah Syeikh Muda Waly seangkatan dengan Syeikh Yasin Al fadani, seorang ulama besar keturunan Padang yang memimpin Lembaga Pendidikan Darul Ulum di Makkah al Mukarramah.
Pada waktu Syeikh Muda Waly berada di Madinah pada setiap saat shalat beliau selalu menziarahi kuburan yang mulia Rasulullah Saw. Pada waktu itu siapa saja yang menziarahi kuburan Nabi secara dekat, akan dipukul oleh polisi dengan tongkatnya. tetapi pada saat Syeikh Muda Waly sedang bermunujat dekat makam Rasullualah, beliau didekati oleh polisi, ingin memukul beliau, maka Syeikh Muda Waly langsung berbicara dengan polisi tersebut dengan bahasa arab yang fasih sehingga polisi tersebut tertarik dengan beliau dan membiarkan beliau duduk lama didekat maqam Nabi SAW. Di Madinah Syeikh Muda Waly berdiskusi dengan para ulama-ulama dari negeri lain terutama dari Mesir. Beliau tertarik dengan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di negeri Mesir, sehingga beliau sudah bertekad menuju Mesir, tetapi beliau lupa bahwa pada saat itu beliau membawa istri beliau Hajjah Rabi`ah. Istri beliau keberatan ditinggalkan untuk pulang ke Indonesia. Akhirnya beliau urung berangkat ke Mesir.

Selama beliau di Makkah ataupun Madinah beliau tak sempat mengambil ijazah dalam Thariqat apapun. Menurut analisa anak Abuya, Prof. DR. Muhibuddin Wali, hal ini kemungkinan besar karena dua faktor :
  1. Karena beliau berada di tanah suci lebih kurang hanya tiga bulan, waktu yang sangat singkat bagi beliau yang mempunyai cita-cita besar untuk menggali ilmu dari berbagai ulama. Sehingga habislah waktu beliau hanya untuk menemui dan berdiskusi dengan para ulama lainnya.
  2. Pada umumnya para pelajar yang datang ke Tanah suci untuk mengamalkan thariqat, mengambil ijazah, dan berkhalwat harus berada di tanah suci pada bulan Ramadan. Karena pada bulan Ramadan halaqah pengajian sepi bahkan libur. Semua waktu dalam bulan Ramadhan dutujukan untuk beribadah. Sedangkan Syeikh Muda Waly berada di Tanah suci bukan dalam bulan Ramadhan .
Kepulangan Syeikh Muda Waly dari tanah suci, mendapat sambutan dari murid-murid beliau serta dari ulama-ulama Minangkabau lainnya seoerti Syeikh `Ali Khatib, Syeikh Sulaiman Ar Rasuli, Buya Syeikh Jamil Jaho. Hal ini dikarenakan, dengan kembalinya Syeikh Muda Waly, maka bertambah kokoh dan kuatlah benteng Ahlussunnah wal jamaah di padang khususnya.

Dikalangan ulama-ulama besar itu, Syeikh Muda Waly merupakan yang termuda diantara mereka (umur Abuya saat itu hanya belasan tahun), sehingga dalam perdebatan perdebatan ilmu keagamaan yang populer pada masa itu, Syeikh Muda Waly lebih didahulukan oleh ulama dari kelompok kaum tua untuk menghadapi ulama dari kaum muda. Uniknya kedua belah pihak (Ulama kaum Tua dan Ulama kaum Muda) menampilkan orang orang muda dari kedua belah pihak. Sehingga antara ulama tua dari kedua belah pihak seolah olah tidak terjadi perbedaan pendapat.

Syeikh Abdul Ghani al-Kampari
Syeikh Abdul Ghani
Walaupun Syeikh Muda Waly telah memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas, namun ada hal yang belum memuaskan hati beliau yaitu ilmu yang beliau miliki belum mampu menenangkan batin beliau, akhirnya beliau memutuskan untuk memasuki jalan tasawuf sebagaimana yang telan ditempuh oleh ulama-ulama sebelumnya. Apabila Ar Raniry di Aceh mengambil tariqat Rifa`iyah dan Syeikh Abdur Rauf yang lebih dikenal oleh masyarakat Aceh dengan sebutan Teungku Syiah Kuala mengambil thariqah Syathariyah maka Syeikh Muda Waly memilih Thariqat Naqsyabandiyah, sebuah tariqat yang popular di Sumatra Barat kala itu. Beliau berguru kepada seorang Ulama besar Tariqah di sumatra Barat kala itu yaitu Syeikh Abdul Ghani Al Kamfary bertempat di Batu Bersurat, Kampar, Bangkinang. Beliau bersuluk disana selama 40 hari lamanya. Menurut sebagian kisah menyebutkan bahwa selama dalam khalwatnya dengan riyadah dan munajat berupa mengamalkan zikir-zikir sebagaimana atas petunjuk Syeikh Abdul Ghani beliau sempat mengalami lumpuh sehingga tidak bisa berjalan untuk mandi dan berwudhuk.

Setelah selesai berkhalwat beliau merasakan kelegaan batin yang luar biasa jauh melebihi kebahagiannya ketika mendapat ilmu yang bersifat lahiriyah selama ini. Beliau mendapat ijazah mursyid dari Syeikh Abdul Ghani sebagai pertanda bahwa beliau sudah diperbolehkan untuk mengembangkan Thariqah Naqsyabandi yang beliau terima. Setelah mendapat ijazah thariqah beliau kembali kekota Padang dan mendirikan sebuah Pesantren yang bernama Bustanul Muhaqqiqin di Lubuk Begalung, Padang. Sebuah pesantren yang terdiri dari beberapa surau dan asrama. Banyak murid yang mengambil ilmu di pesantren tersebut bahkan juga santri-santri dari Aceh. Tetapi pada saat jepang masuk ke Padang, Syeikh  Muda Waly mengambil keputusan pulang ke Aceh karena di Aceh beliau merasa lebih tenang dan nyaman dalam mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah beliau miliki. Sehingga akhirnya Pesantren yang beliau bangun di Padang  lumpuh.

Bersambung...

Memahami larangan dan peringatan para ulama terdahulu untuk mendalami ilmu kalam

Ilmu Kalam
Bagaimana kita memahami larangan dari sebagian ulama terdahulu untuk mempelajari ilmu kalam dan peringatan mereka?
Nash-nash yang di bawakan oleh sebagian kalangan dalam mencela orang-orang yang mendalami ilmu ini (ilmu kalam) - dan mereka menisbahkannya kepada sebagian ulama salaf – tidak terlepas dari beberapa kemungkinan:
  • Para ulama salaf melarang pembahasan tentang ilmu aqidah secara mutlak baik yang shahih maupun yang batil. Kemungkinan ini adalah kemungkinan yang tertolak karena dari dalil-dalil syar`iyah bisa di ketahui bahwa mempelajari ilmu ini adalah wajib. Kemungkinan ini bukanlah maksud mereka dari ucapan-ucapan yang di riwayatkan dari ulama salaf.
  • Kemungkinan larangan tersebut di tujukan terhadap mubtadi` dan orang yang melenceng dari jalan Ahlus sunah dan aqidah yang benar. Ini adalah larangan yang benar. Salah satu hal yang wajib bagi manusia adalah menjauhi jalan yang bathil. Hanya atas kemungkinan inilah, para ulama dan umat Islam menempatkan larangan dan peringatan dari ulama salaf (terhadap ilmu kalam tersebut).
  • Adakala di katakan bahwa larangan ini di tujukan secara mutlak kepada setiap orang yang mendalaminya baik berasal dari ahlul haq ataupun dari ahlul bathil. Ini tentu hal yang batil secara pasti, dan tidak akan di terima kecuali hanya oleh orang-orang yang hatinya telah tertutup
Ketahuilah, bahwa kaum hasyawiyah mujassimah (baca; salafi/wahabi) dan dan orang-orang yang mendakwakan dirinya sebagai golongan pengikut salaf shalih secara khusus pada zaman ini, - padahal para ulama salaf terlepas dari mereka - mereka sungguh telah berlebihan dalam melarang mendalami ilmu kalam, tidak ada lain sebab yang mendorong mereka bersikap demikian kecuali karena orang yang mendalami ilmu kalam dan memahami ushul-ushulnya serta memahami yang haq dalam ilmu kalam, maka baginya akan terbuka baginya secara sempurna bahwa mazhab mereka (salafi/wahabi) adalah mazhab yang batil, yakni mazhab mujassimah yang menyatakan adanya batasan, arah, tempat, gerak, dan sifat hawadits bagi Allah ta`ala dan hal-hal yang rusak lainnya.
Maka dapatlah kita ketahui bahwa pelarangan mereka yang mendakwakan dirinya sebagai pengikut salaf dari mendalami ilmu yang mulia ini hanyalah untuk bertujuan untuk menjaga mazhab mereka supaya tidak terbuka aibnya di hadapan umat.

Syeikh Sa`id Faudah
http://ask.fm/saeedfodeh/answer/119051814827

Di terjemahkan oleh:
http://lbm.mudimesra.com

Download Artikel Ini.

Shalat sunat Rawatib

Shalat sunat rawatib
Salah satu shalat sunat adalah shalat sunat Rawatib. Pengertian Shalat sunnat Rawatib adalah shalat sunnat yang dilakuan mengiringi shalat fardhu baik sebelum (qabliyah) atau sesudahnya (ba`diyah). Shalat sunat rawatib tidak termasuk dalam shalat sunat yang di syariatkan untuk berjamaah. Namun bila di kerjakan secara berjamaah hukumnya sama dengan mengerjakan shalat tasbih secara berjamaah sebagaimana telah kami tuliskan dalam tulisan sebelumnya.

Di antara shalat sunat rawatib ada yang muakkad (tuntutannya lebih kuat)  dan ada pula yang ghairu muakkad. Adapun shalat sunat rawatib yang muakkad adalah :

  1. 2 rakaat sebelum shalat shubuh
  2. 2 rakaat sebelum dhuhur
  3. 2 rakaat sesudah dhuhur
  4. 2 rakaat sesudah maghrib
  5. 2 rakaat sesudah Isya


Adapun yang ghairu muakkad adalah :

  1. Menambahkan 2 rakaat sebelum dhuhur (jadi semuanya 4 rakaat, 2 rakaat sunat muakkad, 2 rakaat ghairu muakkad)
  2. Menambahkan 2 rakaat sesudah dhuhur.
  3. 4 rakaat sebelum shalat ashar
  4. 2 rakaat sebelum shalat magrib


shalat jumat sama hukumnya dengan shalat dhuhur, artinya sebelum dan sesudah shalat jumat juga di sunatkan mengerjakan shalat sunat rawatib.

waktu shalat sunat qabliyah adalah masuk waktu shalat fardhu. Sedangkan waktu shalat sunat ba`diyah adalah setelah waktunya adalah setelah mengerjakan shalat fardhu. Waktu shalat sunat qabliyah dan ba`diyah habisnya setelah habis waktu shalat fardhu. Maka mengerjakan shalat sunat qabliyah setelah shalat fardhu masih termasuk dalam tunai.

Untuk shalat sunat sebelum subuh (shalat sunat fajar) di sunatkan membaca surat al-kafirun dan al-Ikhlash sebagaimana dalam satu hadits. Dalam hadits yang lain di sebutkan sunat membaca surat al-Fil dan asy-Syarh (alam nasyrah). Faedah dari membaca dua surat ini dalam shalat sunat qabliyah shubuh adalah terjaga dari penyakit bawasir.

Download Kitab Kafa Tafriqan Lil Ummah Bi Ism as-Salaf Karangan DR. Umar Abdullah Kamil

Kafa Tafriqan Lil Ummah Bi Ism as-Salaf

 كتاب كفى تفريقا للامة باسم السلف مناقشة علمية لكتاب الدكتور سفر الحوالى نقد منهج الأشاعرة فى العقيدة تأليف الدكتور عمر عبد الله كامل 

Kaum salafi wahabi sudah cukup di kenal sebagai firqah dhalalah. Salah satu keburukan kaum salafi wahabi adalah suka menyesatkan dan bahkan mengkafirkan kaum muslimin yang berbeda pandangan dengan mereka. Mereka menyesatkan golongan Asya`irah yang merupakan mayoritas umat Islam semenjak dahulu hingga sekarang, bahkan Asya`irah dan Maturidiyah akhirnya menjadi nama maksud dari ithlaq kata Ahlus sunnah. Demi menggapai maksud mereka, kaum wahabi salafi banyak mengarang berbagai buku yang memfitnah golongan Asya`irah sebagai golongan sesat. Namun para ulama Ahlus tidak tinggal diam. Banyak para ulama Ahlus sunnah yang telah menjawab tuduhan-tuduhan kaum khawarij zaman ini tersebut. Salah satu kitab kaum wahabi yang menyerang golongan Asya`irah adalah Kitab Naqd Manhaj Asyairah fil Aqidah karangan salah seorang tokoh wahabi salafi DR. Safar Hawali, seorang tokoh wahabi yang ternyata juga di cap sesat oleh tokoh wahabi lainnya, bahkan tokoh hadits idola kaum wagabi, al-Bani mencap Safar Hawali dengan “Khawarijiyatun ‘Asriyah” atau "Khawarij Gaya Baru”.

DR. Umar Abdullah KamilKitab Safar Hawali ini telah di bantah secara ilmiyah oleh ulama Ahlus sunnah wal Jamaah antara lain oleh , DR. Umar Abdullah Kamil, ulama kelahiran Arab Saudi tahun 1371 H yang merupakan lulusan Universitas Karachi, Pakistan dan al-Azhar, Mesir dan aktif berdakwah lewat dunia maya dengan website beliau http://www.okamel.com/ . Kitab yang beliau karang khusus menanggapi pertanyaan sesat DR. Safar Hawali ini beliau beri nama Kafa Tafriqan Lil Ummah Bi Ism as-Salaf (cukuplah memecahkan umat dengan nama Salaf).

Kitab DR. Umar Abdullah Kamil yang pernah kami posting adalah Kitab al-Inshaf Fi Ma Utsira Haula al-Khilaf dan juga Kitab Kalimat Hadiah Fi Bayan Khata` at-Taqsim ats-Tsulasy li at-Tauhid, sebuah kitab yang menerangkan kesalahan dan efek fatal dari pembagian tauhid kepada tiga; tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Shifa, kitab ini juga ada dalam kumpulan kitab al-Inshaf.
Bagi yang ingin memiliki file pdf kitab Kafa Tafriqan Lil Ummah Bi Ism as-Salaf ini silahkan DOWNLOAD DI SINI, atau bisa juga langsung menuju Archive

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja