Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Poligami, Haruskah Suami Minta Izin Pada Istrinya?

Saat Berpoligami, Haruskah Seorang Suami Minta Izin Pada Istrinya
Saat Berpoligami, Haruskah Seorang Suami Minta Izin Pada Istrinya?
Ini merupakan satu polemik tersendiri bagi pasangan suami istri. Seorang istri biasanya tidak akan rela berbagi suami dengan perempuan lain. Ini wajar mengingat rasa cemburu dari seorang perempuan.

Poligami merupakan permasalahan umat yang tidak pernah selesai, selalu saja terjadi pro dan kontra hingga sekarang, sebagian ada yang menolaknya dengan dalih kesetiaan cinta, ada juga yang mendukungnya karena ingin punya istri tiga, ada pula yang netral tidak mempedulikannya, namun bagaimanakah aturan poligami menurut hukum islam? Ada sebagian kalangan mengatakan bahwa suami hanya boleh berpoligami setelah adanya restu dan izin dari istri pertama. Benarkan demikian?

Dalam mazhab Syafii, terdapat dua ketentuan penting untuk seorang suami boleh melakukan poligami, yaitu:
  1. Dapat berlaku adil diantara istri-istrinya. Pengertian adil disini adalah adil yang sanggup dilakukan oleh seorang suami dalam kapasitasnya sebagai manusia, yaitu adil dalam masalah belanja, nafakah dan giliran bermalam, jika seseorang memberikan belanja lima puluh ribu perhari kepada istri pertama, maka ia juga harus memberikan nilai yang sama kepada istri yang kedua, demikian juga jika ia bermalam selama seminggu dirumah istri pertama, hal yang sama juga ia lakukan pada istri yang kedua, Inilah yang dimaksud adil dalam hal poligami, bukanlah adil yang dimaksud adalah adil dalam hal cinta, kasih sayang dan kekecenderungan hatinya, Tidak masalah jika seorang suami lebih mencintai istri pertamanya dari istri kedua. Yang demikian tidak akan membuat suami tidak adil.
  2. Mampu dalam hal nafakah. Nafakah atau biaya ketika atau sesudah nikah merupakan hal yang harus dipenuhi oleh suami ketika ingin melanjutkan pernikahan, karena semua biaya hidup istri adalah tanggung jawab suami setelah terjadinya ijab kabul antara suami dan wali. Namun demikian, nafakah yang dimaksud disini adalah kebutuhan pokok istri menurut status sosialnya,

Nah...! dari dua poin di atas bisa disimpulkan jika seorang suami tidak wajib meminta izin istri pertamanya untuk berpoligami dengan catatan ia memenuhi dua syarat di atas, dapat berlaku adil dan adanya nafakah pernikahan. Bahkan ia boleh saja berpoligami tanpa sepengetahuan istrinya, karena seorang laki laki boleh menikahi sampai dengan empat istri selama ia bisa berlaku adil antara mereka.

Namun perlu diketahui, dua hal diatas bukanlah syarat untuk sah poligami. Maka pernikahannya dengan istri keduanya tetap sah walaupun ia tidak mampu bersikap adil dan tidak memiliki nafakah, hanya saja ia berdosa dengan sebab tidak adil. Karena dua hal diatas adalah kewajiban suami, artinya bila ia tidak adil maka ia akan berdosa dan bila ia tidak mampu memberi nafakah lahir maka istrinya boleh saja menfasakhnya.

Sama halnya dengan suami yang hanya memiliki satu istri. Ia wajib bergaul dengannya dengan baik dan memberikan nafakah. Namun bukan berarti bila ia tidak punya nafakah, serta tidak mampu bergaul dengan baik dengan istrinya maka nikahnya tidak sah.

Referensi: Fiqh islami wa adillatuhu hal 6670 juz 9 cet dar fikr:

قيود إباحة التعدد:
اشترطت الشريعة لإباحة التعدد شرطين جوهريين هما:

1 - توفير العدل بين الزوجات: أي العدل الذي يستطيعه الإنسان، ويقدر عليه، وهو التسوية بين الزوجات في النواحي المادية من نفقة وحسن معاشرة ومبيت، لقوله تعالى: {فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة، أو ما ملكت أيمانكم، ذلك أدنى ألا تعولوا} [النساء:3/ 4] فإنه تعالى أمر بالاقتصار على واحدة إذا خاف الإنسان الجور ومجافاة العدل بين الزوجات.
وليس المراد بالعدل ـ كما بان في أحكام الزواج الصحيح ـ هو التسوية في العاطفة والمحبة والميل القلبي، فهوغير مراد؛ لأنه غير مستطاع ولا مقدور لأحد، والشرع إنما يكلف بما هو مقدور للإنسان، فلا تكليف بالأمور الجبلِّية الفطرية التي لا تخضع للإرادة مثل الحب والبغض.
ولكن خشية سيطرة الحب على القلب أمر متوقع، لذا حذر منه الشرع في الآية الكريمة: {ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء، ولو حرصتم، فلا تميلوا كل الميل، فتذروها كالمعلقة} [النساء:129/ 4] وهو كله لتأكيد شرط العدل، وعدم الوقوع في جور النساء، بترك الواحدة كالمعلقة، فلا هي زوجة تتمتع بحقوق الزوجية، ولا هي مطلقة. والعاقل: من قدَّر الأمور قبل وقوعها، وحسب للاحتمالات والظروف حسابها، والآية تنبيه على خطر البواعث والعواطف الداخلية، وليست كما زعم بعضهم لتقرير أن العدل غير مستطاع، فلا يجوز التعدد، لاستحالة تحقق شرط إباحته.

2 - القدرة على الإنفاق: لا يحل شرعاً الإقدام على الزواج، سواء من واحدة أو من أكثر إلا بتوافر القدرة على مؤن الزواج وتكاليفه، والاستمرار في أداء النفقة الواجبة للزوجة على الزوج، لقوله صلّى الله عليه وسلم: «يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج ... » والباءة: مؤنة النكاح.
حكمة تعدد الزوجات:
إن نظام وحدة الزوجة هو الأفضل وهو الغالب وهو الأصل شرعاً، وأما تعدد الزوجات فهو أمر نادر استثنائي وخلاف الأصل، لا يلجأ إليه إلا عند الحاجة الملحة، ولم توجبه الشريعة على أحد، بل ولم ترغب فيه، وإنما أباحته الشريعة لأسباب عامة وخاصة.

Mengenal Wahdatul Wujud

Mengenal Wahdatul Wujud

Pengertian Wahdatul Wujud

Wahdatul Wujud adalah wujudnya Zat Allah SWT yang tidak ada penyebab dengan zat yang lain. Sesungguhnya Allah SWT adalah qadim tidak ada makhluk yang mendahuluiNya. Sebagaimana berdasarkan hadis riwayat imam bukhari. “Allah SWT telah ada (dengan keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selainNya.” (HR. Imam Bukhari). Sedangkan wujud makhluk pada mulanya tidak wujud (adam), artinya pada dasarnya makhluk tidak ada. wujud makhluk adalah ciptaan Allah SWT. Maka seluruh makhluk hakikatnya wujud dengan sebab wujudnya Allah dengan sebab ciptaan Allah. karena tanpa ciptaan Allah niscaya tiada satu mahluk pun yang wujud.[1]

Dengan demikian maka sesuatu yang telah wujud selain Allah adalah hakikatnya tiada, sebagaimana tersebut dikitab Syarh As-Shawi. Syekh Abdul Qadir Isa dikitabnya “Hakikat Tasawuf” membagikan wujud kepada dua:
  1. Wujud qadim yakni tidak ada permulaan pada azali, itulah wujud Allah SWT, sebagaimana dalam surat Al-haj, ayat 62. (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq. Artinya Wujud Allah sebut dan pasti.
  2. Wujud yang jaiz, sesuatu yang mumkin wujud adalah wujud selain Allah SWT dari sesuatu yang hawadis/baharu. [2]

Redaksinya sebagai berikut:

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻴﻮﺳﻔﻴﺔ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻳﻮﺳﻒ ﺧﻄﺎﺭ hal, 435.
وحدة الوجود :إن وجود الله عز وجل ذاتي أي لا تأثير لغيره به إذ أن الله تعالى هو الأول فليس قبله شيء وقد رود في الحديث: «كان الله ولم يكن شيء غيره» أخرجه البخاري (2/3019).
أما وجود الموجودات فهو حاصل من إيجاد الله عز وجل لها ومستمر بإمداد الله تعالى لها بالوجود ولو انقطع الإمداد لعادت عدما. وعليه فمن نظر الى الموجد الممد سبحانه وتعالى رآه هو الموجود حقيقة ومن لاحظ الإمداد رأى الأياء عدما لولاه سبحانه فوجودها ليس ذاتيا كوجوه الله عز وجل ولذلك قالوا: الوجود الحقيقي واحد وهو الله سبحانه وتعالى ووجود غيره لا يشابه وجوده. وعن سيدنا أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله{ صلى الله عليه وآله وسلم }قال: «أصدق كلمة قالها شاعر كلمة لبيد: ألا كل شيء ما خلا الله باطل»([2]). ([2]) أخرجه البخاري (2/3628)
وقال أحدهم: فالكل دون الله إن حققته عدم على التفصيل والإجمال([3]) ([3]) شرح الصاوي ص (77).
أي عدم حقيقة أصله موجود بمدد الله تعالى له وهذه هي واحدة الوجود. وقال الشيخ عبدالقادر عيسى رحمه الله تعالى في كتابه (حقائق عن التصوف) : إن الوجود نوعان: وجود قديم أزلي وهو واجب وهو الحق سبحانه وتعالى "ذلك بأن الله هو الحق"([4]) أي الثابت الوجود المحقق ووجود جائز عرضي ممكن وهو وجود من عداه من المحدثات

Pembagian Wahdatul wujud

Sesungguhnya pendapat yang mengatakan Wahdatul Wujud dan wujud adalah satu yaitu adalah wujud Allah SWT. Hal ini berkemungkinan kepada dua makna, salah satunya benar dan yang kedua adalah kufur. Maka para ulama berpendapat tentang wahdatul Wujud kepada dua pembagian yaitu: [3]
  1. Wahdatul wujud yang mengatakan Allah SWT bersatu dengan makhluk dan tidak tidak ada sesuatu pada wujud ini selain Allah, dan tiap-tiap sesuatu adalah Allah dan Allah adalah (kul) tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah adalah ini wujud. maka pendapat ini atau pembagian ini adalah kufur, zindiq lebih sesat dari pada Yahudi, Nasrani dan penyembah berhala. Dan para ulama sufi sangat mengingkar pendapat ini, mereka berfatwa bahwa dengan kufur. Berhati-hatilah dengan majlis ini. [4]
  2. Wahdatul Wujud adalah wujudnya yang qadim pada azali yaitu Wujud Allah SWT, tidak ada keraguan sesungguhnya Allah adalah Satu/Esa yang tidak berbilang-bilang.[5]

وإن القول بوحدة الوجود وأن الوجود واحد هو الحق تعالى يحتمل معنيين :أحدهما حق والثاني كفر ولهذا فالقائلون بوحدة الوجود فريقان: الفريق الأول أرادوا به اتحاد الحق ﺑﺎﻟﺨﻠﻖ وأنه لا شيء في هذاالوجود سوى الحق وان الكل هو وأنه هو الكل وأنه عين الشياء وفي كل شيء له آية تدل على أنه عينه فقوله هذا كفر وزندقة وأشد ضلالة من اباطيل اليهود والنصارى وعبدة الأوثان وقد شدد الصوفية النكير على قائله وأفتوا بكفره وحذروا الناس من مجالسته. قال العارف بالله أبو بكر محمد بناني رحمه الله تعالى : فاحذر يا أخي كل الحذر من الجلوس مع من يقول: ما ثم غلا الله ويسترسل على الهوى فإن ذذلك هو الزندقة المحضة إذ العارف المحقق إذا صحح قدمه في الشريعة ورسخ في الحقيقة وتفوه بقوله: ما ثم إلا الله لم يكن صده من هذه العبارة إسقاط الشرائع وإهمال التكاليف حاشا لله ان يكون هذا قصده([5]). ([5]) مدارج السلوك إلى ملك الملوك للعارف الكبير محمد بناني المتوفى سنة (1284هـ).

Artinya: Sesungguhnya pendapat yang mengatakan Wahdatul Wujud dan wujud adalah satu yaitu adalah wujud Allah SWT. Hal ini berkemungkinan kepada dua makna, salah satunya benar dan yang kedua adalah kufur. Maka para ulama berpendapat tentang wahdatul Wujud kepada dua pembagian, yang pertama bersatu Allah dengan makhluk dan tidak tidak ada sesuatu pada wujud ini selain Allah, dan tiap-tiap sesuatu adalah Allah dan Allah adalah (kul) tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah adalah ini wujud. maka pendapat ini atau pembagian ini adalah kufur, zindiq lebih sesat dari pada Yahudi, Nasrani dan penyembah berhala. Dan para ulama sufi sangat mengingkar pendapat ini, mereka berfatwa bahwa dengan kufur. Berhati-hatilah dengan majlis ini.

الفريق الثاني: قالوا ببطلان وكفر ما ذكر من أن الخالق عين المخلوق وإنما ارادوا بوحودة الوجود القديم الأزلي وهو الحق سبحانه فهو لا شك واحد منزه عن التعدد ولم يقصدوا بكلامهم الوجود العرضي المتعدد وهو الكون الحادث نظرا لأن وجوده مجازي وفي اصله عدمي لا يضر ولاينفع فالكون معدوم في نفسه هالك فإن في لك لحظة قال تعالى "كل شيء هالك إلا وجهه"([6]). ([6]) سورة القصص الآية (88
وإنما يظهره الإيجاد ويثبته الإمداد والكائنات ثابتة بإثابته وممحوة بأحديه ذاته وإنما يمسكه سر القيومية فيه وهؤلاء قسمان : قسم اخذ هذا الفهم بالاعتقاد والبرهان ثم الذوق والعيان وغلب عليه الشهود فاستغرق في لجج بحار التوحيد ففني عن نفسه فلا عن شهود غيره مع استقامته على شرع الله تعالى وهذا قوله حق.
وقسم ظن أن ذلك علم لفظي فتوغل في تلاوة عبارته وتمسك بظواهر إشاراته وغاب في شهودها عن شهود الحق فربما هانت الشريعة في عينيه لما يلتذ به من حلاوة تلك الألفاظ فيقع على أم رأسه ويتكلم بما ظاهره أن الشريعة في جهة يختص بها أهل الغفلة والحقيقة في جهة أخرى يختص بها أهل العرفان ولعمري إن هذا لهو عين الزور والبهتان وما ثمَّ إلا شريعة ومقام إحسان([7]). ([7]) حقائق عن التصوف ص (553 - 5

Kesimpulan

Makan dari Nash kitab di atas pemahaman kami tentang Wahdatul Wujud terbagi dua.
  1. Wahdatul Wujud yang benar karena pemahaman sesuai dengan aqidah Islam yaitu, wujudnya Allah yang qadim pada azali, tidak ada keraguan sesungguhnya Allah adalah Satu/Esa yang tidak berbilang-bilang. Dan wujud mahluk adalah wujud yang aridhi dan berbilang-bilang maka wujud makhluk adalah wujud majazi yang pada hakikatnya tiada, yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa memberi mudharat maka keadaan ini adalah ma’dum pada jiwa insa (Wahdatul Wujud).
  2. Wahdatul wujud yang salah atau menyimpang, yaitu Wahdatul wujud yang mengatakan Allah SWT bersatu dengan makhluk dan tidak ada sesuatu pada wujud ini selain Allah, dan tiap-tiap sesuatu adalah Allah dan Allah adalah (kul) tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah adalah ini wujud. maka pendapat ini atau pembagian ini adalah kufur, zindiq lebih sesat dari pada Yahudi, Nasrani dan penyembah berhala. Dan para ulama sufi sangat mengingkar pendapat ini, mereka berfatwa bahwa dengan kufur. Berhati-hatilah dengan majlis ini. Wahdatul wujud ini yang diingkari oleh para Ulama


[1]Mausu’ah Al-yusufiah. h. 435
[2]Mausu’ah Al-yusufiah. h. 435
[3]Mausu’ah Al-yusufiah. h. 435
[4]Mausu’ah Al-yusufiah. h. 436
[5]Mausu’ah Al-yusufiah. h. 436




Seberapa Tampan-kah Nabi Yusuf?

Seberapa Tampan-kah Nabi Yusuf
Allah swt menciptakan dua kecantikan. Satu kecantikan Allah berikan kepada nabi Muhammad saw, dan satu lagi dibagi dua. Setengahnya diberikan kepada seluruh umat manusia, dan setengahnya Allah berikan kepada nabi Yusuf as. Jadi kecantikan atau rupawan yang ada pada nabi yusuf as sebanding dengan kecantikan semua umat manusia. Dan gabungan keduanya baru sebanding dengan kecantikan nabi Muhammad saw.
Lalu kenapa yang terkenal punya wajah rupawan itu nabi yusuf as?  Karena tidak terbukanya hijab pada nabi muhammad, karena jika dibuka sungguh tidak akan sanggup mata memandang keelokan wajah beliau. Sehingga diriwayatkan bahwa orang-orang yang berada disekitar nabi muhammad akan bertambah ketampanan dan kecantikannya.

Yusuf adalah seorang nabi Allah karuniakan fisik yang menawan sehingga kecantikannya tidak ada tandingan pada waktu itu. Kecantikan beliau disaat berdampingan dengan orang lain yang jelek rupa, tidak membuat orang lain bertambah jelek akan tetapi menjadikan mereka elok. Inilah salah satu karunia Allah kepada beliau.

Berikut ini ciri-ciri fisik nabi yusuf as:
  1. Warna kulit putih.
  2. berwajah elok.
  3. ramut keriting.
  4. bermata besar
  5. postur sederhana
  6. dua lengan berisi
  7. dua betis berisi
  8. perut rata.
  9. hidung mancung.
  10. pusat kecil.
  11. pipi sebelah kana ada tahi lalat hitam, tahi itu menghiasi wajah
  12. di antara kedua matanya juga ada tahi lalat, membuat wajah bertambah cantik.
Kakek nabi yusuf adalah nabi ishak, orangnya elok rupawan dan ibu nabi ishak bernama Sarah juga merupakan salah satu wanita paling cantik sepanjang sejarah. Sebagian Ulama berkata:  Allah memberikan kecantikan kepada nabi yusuf. berkulit  bersih dan halus. Semua ini tidak diberi kepada orang lain. Sebagian Ulama lain mengatakan: kecantikan sarah diwarisi dari neneknya yaitu hawa istri nabi Adam as. Wallahua'lam.

Referensi: Sirajut Thalibin, hal 161

Beberapa Hal yang Harus Dikerjakan Saat Menziarahi Kubur Nabi saw

 Hal yang Harus Dikerjakan Saat Menziarahi Kubur Nabi saw
Meniziarahi kubur nabi saw merupakan keinginan setiap umat manusia, karena disamping kelebihan dan banyaknya fadhilah yang didapatkan juga akan melemahkan hati, mengingat beliau merupakan makhluk terbaik yang pernah Allah ciptakan.

Salah satu fadhilah yang ada pada kubur nabi adalah siapa yang berdoa pada kubur beliau tersebut maka akan diijabah oleh Allah swt. Disamping sunat berdoa dengan doa apa saja, saat menziarahi kubur nabi saw juga dianjurkan untuk melakukan dan membaca beberapa bacaan khusus, berikut rinciannya:

1. Masuk ke Mesjid Nabawi sambil membaca doa masuk mesjid

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. رَبِّ وَفِّقْنِي وَسَدِّدْنِي وَأَصْلِحْنِي. وَأَعِنِّي عَلَى مَا يُرْضِيْكَ عَنِّي وَمُنَّ عَلَيَّ بِحُسْنِ الْأَدَبِ فِي هَذِهِ الْحَضْرَةِ الشَّرِيْفَةِ.اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ.

2. Masuk ke Raudhah dan shalat 2 rakaat, rakaat pertama dibaca surat al-kafirun dan rakaat kedua surat al-ikhlash dan diniatkan sebagai shalat tahiyat masjid.

3. Kemudian masuk ke makam Nabi dari pihak kepala, sambil menunduk kan pandangan dan melihat ketanah dan merenungi keagungan Nabi kemudian membaca:

اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهِ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الرَّحْمَةِ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا بَشِيْرُ يَا نَذِيْرُ، يَا ظَاهِرُ يَا ظَهِيْرُ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا شَفِيْعَ الْمُذْنِبِيْنَ. اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مَنْ وَصَّفَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ: (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ) اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْأَنَامِ، وَمِصْبَاحَ الظَّلَامِ، وَرَسُوْلَ الْمَلَكِ العَلَّامِ، يَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ، وَخَاتِمَ أَدْوَارَ النَّبِيِّيْنَ، يَا صَاحِبَ الْمُعْجِزَاتِ وَالْحُجَجِ الْقَاطِعَةِ، وَالْبَرَاهِيْنَ، يَا مَنْ أَتَانَا بِالدِّيْنِ الْقّيِّمِ الْمَتِيْنِ، وَبِالْمُعْجِزِ الْمُبِيْنِ، أَشْهَدُ أَنَّكَ بَلَغْتَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ، وَنَصَحْتَ اْلأُمَّةَ، وَكَشَفْتَ الْغُمَّةَ، وَجَاهَدْتَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، وَعَبَدْتَ رَبَّكَ حَتَّى أَتَاكَ الْيَقِيْنَ.اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا كَثِيْرَ الْأَنْوَارِ، يَا عَالِيَ الْمَنَارِ، أَنْتَ الَّذِي خُلِقَ كُلُّ شَئْ ٍمِنْ نُوْرِكَ، وَالَّلوْحُ وَالْقَلَمُ مِنْ نُوْرِ ظُهُوْرِكَ، وَنُوْرُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ مِنْ نُوْرِكَ مُسْتَفَادُ، حَتَّى الْعَقْلُ الَّذِي يَهْتَدِيْ بِهِ سَائِرُ الْعِبَادِ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مَنِ انْشَقَّ لَهُ الْقَمَرُ، وَكَلَّمَهُ الْحَجَرُ، وَسَعَتْ إِلَى إِجَابَتِهِ الشَّجَرُ يَا نَبِيَّ اللهِ، يَا صَفْوَةَ اللهِ، يَا زَيْنَ مَلَكِ اللهِ، يَا نُوْرَ عَرْشِ اللهِ، يَا مَنْ تَحَقَّقَ بِعِلْمِ الْيَقِيْنِ، وَعَيْنِ الْيَقِيْنِ، وَحَقِّ الْيَقِيْنِ، فِي أَعْلَى مَرَاتِبِ التَّمْكِيْنِ .اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا صَاحِبِ الِّلوَاءِ الْمَعْقُوْدِ، وَالْحَوْضِ الْمَوْرُوْدِ، وَالشَّفَاعَةِ الْعُظْمَى فِي الْيَوْمِ الْمَشْهُوْدِ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ، وَأَزْوَاجِكَ وَذُرِّيَتِكَ وَأَصْحَابِكَ أَجْمَعِيْنَ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى سَاِئِر الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَجَمِيْعِ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ جَزَاكَ اللهُ يَا َرَسُوْلَ اللهِ أَفْضَلَ مَا جَزَى نَبِيًّا وَرَسُوْلاً عَنْ أُمَّتِهِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَيْكَ كُلَّمَا ذَكَرَكَ ذَاكِرٌ، وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ غَافِلٌ، أَفْضَلَ وَأَكْمَلَ وَأَطْيَبَ مَا صَلَّى عَلَى أَحَدٍ مِنَ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ.أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا َشِريْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّكَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَخَيْرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَغَتَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّيْتَ الْأَمَانَةَ.وَنَصَحْتَ الْأُمَّةَ. اَللَّهُمَّ وَآتِهِ الْفَضِيْلَةَ وَالْوَسِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مًحْمُوْداً الَّذِي وَعَدْتَهُ، وَآتِهِ نِهَايَةً مَا يَنْبَغِيْ أَنْ يَسْأَلَهُ السَّائِلُوْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ.وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا ُمُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِك النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Kemudian bergeser sehasta ke sebelah kanan dan memberi salam kepada sayyidina Abu Bakar dan berkata:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا خَلِيْفَةَ رَسُوْلِ اللهِ، أَنْتَ الصِّدِّيْقُ الْأَكْبَرُ، وَالْعِلْمُ الْأَشْهَرُ، جَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - خَيْرًا، خُصُوْصًا يَوْمَ الْمُصِيْبَةِ وَالشِّدَّةِ، وَحِيْنَ قَاتَلْتَ أَهْلَ النِّفَاقِ وَالرِّدَّةِ، يَا مَنْ فَنَى ِفي مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ حَتَّى بَلَغَ أَقْصَى مَرَاتِبِ الْفَنَاءِ، يَا مَنْ أَنْزَلَ اللهُ فِي حَقِّكَ * (ثَانِي اْثنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي اْلغَارِ إِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا)
أَسْتَوْدِعُكَ شَهَادَةً أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ صَاحِبَكَ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، شَهَادَةً تُشْهِدُ لِي بِهَا عِنْدَ اللهِ (يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُوْنَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ)

Kemudian bergeser sehasta sebelah kanan dan memberi salam kepada sayyidina Umar dan berkata:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، يَا سَيِّدِنَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، يَا نَاطِقًا بِالْحَقِّ وَالصَّوَابِ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَلِيْفَ الْمِحْرَابِ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مَنْ بِدِيْنِ اللهِ أَمْرٌ، يَا مَنْ قَالَ فِي حَقِّكَ سَيِّدُ الْبَشَرِ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لَوْ كَانَ بَعْدِيْ نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ. اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا شَدِيْدَ الْمُحَامَاةِ فِي دِيْنِ اللهِ وَالْغِيْرَةِ، يَا مَنْ قَالَ فِي حَقِّكَ هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ - صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: مَا سَلَكَ عُمَرُ فَجًّا إِلَّا سَلَكَ الشَّيْطَانُ فَجًّا غَيْرَهُ.


Demikianlah beberapa amalan dan doa yang diamalkan saat berziarah kekubur Rasulullah saw, semoga bermanfaat. Wallahua'lam.

Referensi: Kitab ianah thalibin hal 312-314 cet Haramain Juz 2

Waktu-Waktu Shalat Dalam Sehari Semalam

Waktu Zuhur

  • Awal waktunya ketika matahari condrong ke arah Barat, condrong matahari akan tampak jika bayang-bayang suatu benda mengarah ke Timur
  • Akhir waktunya jika bayang-bayang sama dengan ukuran suatu benda (Tongkat) tidak termasuk bayangan benda ketika nampak matahari di tengah hari (bayangan Istiwa)

Waktu Asar

Awal waktunya jika bayangan suatu benda melebihi dari ukurannya dan akhirnya ketika matahari terbenam.Serta waktu Asar terbagi kepada lima
  1. waktu fadhilah yaitu mengerjakan shalat pada awal waktu berkisar antara bersuci, Azan Iqamah kemudian langsung mengerjakan shalat
  2. waktu Ikhtiyar yaitu ketika berakhir waktu fadhilah sampai ukuran bayangan suatu benda dua kali benda tersebut
  3. waktu jawaz (masih boleh melakukan shalat) ketika berakhir waktu fadhilah hingga terbenam matahari
  4. waktu jawaz tidak makruh dari bayang-bayang dua kali benda hingga nampak warna kekuning-kuningan dikaki langit sebelah Barat
  5. waktu Tahrim (berdosa jika disengaja) yaitu mentakhirkan shalat pada waktu yang sempit dan tidak mencukupi satu shalat

Waktu Magrib

  • Waktunya mulai terbenam matahari berkisar dalam jangka Azan-Iqamah, meutup aurat,berwudwuk atau tayamum kemudian melakukan shalat lima raka’at (3 rakaat Magrib dan 2 rakaat shalat ba’diah). Ini pendapat Jadid tetapi dianggap lemah oleh imam Nawawi.
  • Sedangkan pendapat Qadim dan dikuatkan oleh Imam Nawawi waktu Magrib mulai terbenam matahari hingga hilang mega merah di kaki langit sebelah Barat

Waktu Isya

Isya adalah shalat yang dilakukan pada permulaan malam (senja), waktunya mulai hilang mega merah /akhir waktu Magrib dan akhir waktunya ketika terbir fajar Sadiq.
Fajar Saqiq adalah fajar yang keluar kemudian diikuti dengan terang hingga keluar matahari bentuknya . Dan Isya mempunyai dua waktu :
  1. Waktu Ikhtiyar mulai masuk waktu hingga sepertiga malam terakhir
  2. Waktu Jawaz (masih boleh melakukan shalat) mulai sepertiga malam terakhir hingga keluar fajar siddiq

Waktu Subuh

Subuh adalah shalat yang dilakukan pada permulaan hari waktunya mulai dari terbit fajar Siddiq dan akhir waktunya pada ketika terbit matahari. Dan Subuh mempunyai lima waktu
  1. waktu fadhilah yaitu mengerjakan shalat pada awal waktu berkisar antara bersuci, Azan Iqamah kemudian langsung mengerjakan shalat
  2. Waktu Ikhtiyar mulai akhir waktu fadhilah hingga kekuning-kuningan
  3. Waktu jawaz (masih boleh melakukan shalat)tidak makruh hingga kemerah-merahan
  4. Waktu Jawaz seta Makruh pada kutika nampak cahaya matahari
  5. Waktu Tahrim melakukan shalat ketika tidak lagi mencukupi satu shalat

Referensi : Hasyiah Bajuri Hal 189-192 Juz 1 Cet Haramain.



Hukum mendengar Dan menjawab Azan

Hukum mendengar Dan menjawab AzanDiskripsi masalah.
Azan dan Iqamah merupakan sebuah panggilan atau pemberitahuan bagi umat islam untuk melakukan salat fardhu. hukum Azan dan Iqamah adalah sunnat kifayah yang mana akan hasil kesunnahannya jika dilakukan oleh sebagian orang.

Pertanyaan.
Jika hukum Azan dan Iqamah adalah sunnat Kifayah, bagaimankah hukum mendengar dan menjawabnya?

Jawaban.
Hukum mendengar Dan menjawab azan dan iqmah adalah sunnat walaupun bagi orang berhadas, berjunub atau wanita yang datang bulan. sebagaimana Rasulullah saw bersabda : “ Apabila kamu mendengar suara azan, disunahkan untuk menjawab azan tersebut sebagaimana yang diucapkan oleh muazzin’’


(و) سن (لسامعهما) سماعا يميز الحروف، وإلا لم يعتد بسماعه - كما قال شيخنا
آخرا (أن يقول ولو غير متوضئ) أو جنبا أو حائضا - خلافا للسبكي فيهما - أو مستنجيا فيما يظهر، (مثل قولهما إن لم يلحنا لحنا يغير المعنى)

Iaanatuttalibin hal 239, juz 1, cet. haramain.

(وَ) سُنَّ. (لِسَامِعِهِمَا) أَيْ: لِسَامِعِ الْمُؤَذِّنِ وَالْمُقِيمِ قَالُوا، وَلَوْ مُحْدِثًا حَدَثًا أَكْبَرَ. (مِثْلُ قَوْلِهِمَا)
لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «إذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ» وَيُقَاسُ بِالْمُؤَذِّنِ الْمُقِيمُ وَهُوَ مِنْ زِيَادَتِي

Hasyiah Jamal ‘ala syarhil minhaj hal 309, jilid 1 Maktabah Syamilah.

Shalat Qadha Dulu atau Shalat Tunai..??

Manakah yang wajib kita dahulukan, Shalat qadha dulu atau shalat tunai,,???

Deskriksi masalah :

Shalat lima waktu merupaakan kewajiban setiap Muslim, bahkan shalat adalah salah satu dari rukun Islam. Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim yang mukallaf ( balig dan berakal ) meninggalkan shalat lima waktu. Maka bila seorang muslim yang mukallaf tertinggal shalatnya, dia harus (wajib) segara mengqadhanya bila dia meninggalkan salat bukan karena keuzuran bahkan dia haram menggunakan waktunya selain untuk menqadha shalat walau untuk melakukan perkara sunnat, namun bila dia meninggalkan salat karna sewaktu keuzuran seperti tertidur dan lupa, maka sunnat untuk bersegra mengqadha salat tersebut.

Pertanyaan :

Jadi apabila seseorang ingin mengqadha salat, apakah dia harus mendahulukan salat tunai ketimbang salat qadha atau sebaliknya ,,??

Jawaban :


Dalam mengkadha salat disunnatkan menenertibkab shalat yang diqadha, maka bila seseorang meninngalkan salat subuh dan zuhur, di sunnatkan menqadha salat subuh dulu baru salat zuhur, begitu pula di sunnatkan mendahulaukan salat qadha yang tertinngal karna sewatu keuzuran daripada salat tunai (ini jika tidak dikhawatirkan habis waktu shalat tunai) sekalipun hilang kesempatan untuk berjamaah, adapun shalat yang di tinggalkan bukan karena keuzuran  maka hukum mendahulukannya dari shalat tunai adalah wajib dengan syarat tidak dikhawatirkan keluar waktu shalat tunai, namun bila dikhawatirkan keluar waktu shalat tunai maka wajib mendahulukan shalat tunai. Dan wajib mendahulukan salat yang tinggal atau terlewatkan bukan karena keuzuran dari yang tinggal atau terlewatkan karena sbuah keuzuran.

Referensi :

I'anatutthalibin, hal 23, jilid 1, cetakan Al-haramain.

(ويسن ترتيبه) أي الفائت، فيقضي الصبح قبل الظهر، وهكذا.
(وتقديمه على حاضرة لا يخاف فوتها) إن فات بعذر، وإن خشي فوت جماعتها - على المعتمد -.
وإذا فات بلا عذر فيجب تقديمه عليها.
أما إذا خاف فوت الحاضرة بأن يقع بعضها - وإن قل - خارج الوقت فيلزمه البدء بها.
ويجب تقديم ما فات بغير عذر على ما فات بعذر.

Hasyiah Bujairimi 'Alal Manhaj, jilid 1, halaman 158, Cetakan DKI.

(وَسُنَّ تَرْتِيبُهُ) أَيْ: الْفَائِتِ فَيَقْضِي الصُّبْحَ قَبْلَ الظُّهْرِ وَهَكَذَا(وَتَقْدِيمُهُ عَلَى حَاضِرَةٍ لَمْ يَخَفْ فَوْتَهَا) مُحَاكَاةً لِلْأَدَاءِ، فَإِنْ خَافَ فَوْتَهَا بَدَأَ بِهَا وُجُوبًا لِئَلَّا تَصِيرَ فَائِتَةً




Berhati-Hatilah Dengan Niatmu

Berhati-Hatilah Dengan NiatmuMari luruskan niat kita agar tercapai semua cita-cita yang ingin kita capai.

Bagi seorang pelajar niat adalah hal yang sangat penting dalam belajar , karena niat adalah pokok dari semua urusan, sebagiman sabda nabi SAW: ‘’susungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya ‘’ Hadis sahih .

Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda : ‘’Sangat banyak amalan dunia menjadi amalan akhirat (mendapat fahala) karena bagus niat dan pula sangat banyak amalan yang berbentuk amalan akhirat menjadi amalan dunia (tidak ada fahala) karena buruk niat’’.

Dalam belajar kita harus berniat untuk mendapatkan riza Allah, kebahagian akhirat, menguatkan agama, menghilangkan kebodohon diri kita dan kebodohan orang lain.

Syeh Burhanuddin Shahibul Hidayah berkata:
  • Kerusakan yang sangat besar adalah orang alim yang olok-olok.
  • Yang paling rusak adalah orang bodoh yang beribadat.
  • Kedua-duanya adalah fitnah yang sangat besar di dunia terutama bagi orang-orang yang mau mengikuti mareka dalam masalah Agama .
Dalam belajar kita harus berniat juga untuk mensyukuri nikmat akal dan sehat badan yang telah di berikan Allah kepada kita. Jangan sekali-kali kita meniatkan dalam belajar ilmu agama untuk mendapatkan kemegahan dunia dan mendapatkan perhatian dari orang-orang besar.

Muhammad ibnul hasan berkata ; Andaikan seluruh manusia menjadi budakku maka akan ku mardekakan mareka semuanya dan kubebaskan dari kekuasaan ku.

Mari kita doakan kepada Allah agar Allah menghidayahkan kepada kita keberkatan dan kebagusan niat dalam segala urusan terutama dalam belajar karena yang menentukan amalan kita di sisi Allah SWT adalah niat.

Referensi : Kitab Ta'limul Mutaallim Karangan Syeh Az-Zarnuji Halaman 10.

Hadis Arbain ke 38: Penglihatan dan Pendengaran Allah Pada Hambanya

Hadis Arbain Imam Nawawi adalah kumpulan hadis-hadis yang utama dalam agama islam karena di dalam hadis-hadis tersebut terkandung penjelasan-penjelasan tengtang pokok-pokok Agama islam.
Namun pada kesempatan kali ini, kami dari Tim Lajnah Bahsul Masail (LBM) pesantren MUDI MESRA Samalanga akan sedikit menjelaskan tentang isi kandungan Hadis Arbain Nawawi ke 38 terutama yang berkaitan dengan penjelasan Maksud dari kalimat didalam hadis tersebut bahwa bila seseorang sudah benar-benar taat kepada Allah Maka Allah akan selalu menjaga hamba tersebut yaitu Lidah hamba tersebut adalah lidah Allah (maksudnya Allah jaga lidahnya), Pendengarannya adalah pendengaran Allah dan Allah akan menjadi penglihatannya, maksud kata-kata inilah yang akan kami jelaskan berikut Ini.

Hadis Arbain Nawawi ke 38


أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ : إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى الْمُزَكِّى إِمْلاَءً حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ : مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلاَلٍ أَخْبَرَنِى شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى نَمِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَنِى بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بَهَا وَلَئِنْ سَأَلَنِى عَبْدِى أَعْطَيْتُهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ ». رَوَاهُ الْبُخَارِىّ

Diambilkan dari Abi Hurairah ra : Berkata rasulullah saw sesunnguhnya Allah berfirman : siapa saja yang memusushi waliku, maka aku izinkan untuk memerangi orang tersebut, dan hal yang mendekatkan hambaku terhadapku adalah sesuatu yang aku paling cintai dari perbuatan-perbuatan yang aku fardhukan kepada hambaku, dan hambaku akan selalu dekat kepadaku dengan perbuatan-perbuatan sunat hingga aku mencintainya. Sehingga apabila aku mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakan hambaku untuk mendengar, dan aku adalah penglihatannya yang digukan hambaku untuk melihat, dan aku adalah tangannya yang digunakan hambaku untuk menangkap, dan aku adalah kakinya yang digunakan hambaku untuk berjalan, dan apabla hambaku meminta kepadaku sungguh aku akan memberinya dan apabila memohon perlidungan kepadaku maka aku akan melindunginya. (HR. Bukhari).


Penjelasan Hadis

Makna عادى (memerangi) adalah اهان (menghina), sedangkan makna آذنته (aku izinkan untuk memeranginya) bukan dimaknai dengan memerangi secara hakikat, tetapi kata-kata sindiran sebagai suatu bentuk ancaman (انذار ) bagi palakunya (pencaci Waliyullah). Ini adalah hadis qudsi, maksudnya barang siapa yang berbuat taat kepada Allah maka Allah akan menjaganya dengan penjagaan dan pertolongan-Nya, ia akan menjadi wali dari wali-wali Allah.


Makna lafaz wali dalam hadis ini adalah:
  • Orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan berbuat taat,
  • Menjauhkan dari perbutan maksiat,
  • Banyak mengerjakan sunat,
  • Hatinya tidak mengingat sedekitpun yang selain Allah karena tenggelam dalam nur Allah,
  • Apasaja yang ia lihat adalah dalil Qudrah Allah,
  • Tidak mendengar sesuatu kecuali ayat-ayat Allah,
  • Gerakannya hanya dalam keta’tan kepada Allah

كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بَهَا

"Aku adalah pendengarannya yang digunakan hambaku untuk mendengar, dan aku adalah penglihatannya yang digukan hambaku untuk melihat, dan aku adalah tangannya yang digunakan hambaku untuk menangkap, dan aku adalah kakinya yang digunakan hambaku untuk berjalan"

Maksud dari potongan hadis ini adalah orang-orang yang mengerjakan amar makruf nahi mungkar (taat kepada-Nya), Allah akan menjaga apa saja yang didengarnya, dilihat, dikerjakan dan kelakuannya, daripada segala maksiat, sehingga apa yang dia dengar tidak terlepas daripada zikir Allah, kitab-kitab Allah dan apa yang dia lihat ialah daripada keajaiban keajaiban Allah, dan ini adalah suatu bentuk kiasan dari pertolongan Allah terhadap hamba-hamba yang mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan hadist Hadis Arbain Nawawi ke 38.

Perbuatan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah stiap perbuatan hamba yang mendekatkan dirinya kepada Allah ta’ala, apakah itu perbuatan Fardhu ataupun perbuatan sunat, namun perbuatan fardhu punya nilai kesempurnaan (nilai lebih) disisi Allah ta’ala, karena perbuatab fardhu adalah pondasi bagi perbuatan sunat. Ketika manusia ini sudah dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah, maka setiap langkah dan perbuatan manusia tersebut akan selalu berada di dalam perlindungan Allah.

penjelasan dari kitab jami'ul ulum wal hikam ibnu rajab:

فمتى امتلأ القلب بعظمة الله تعالى ، محا ذلك من القلب كل ما سواه ، ولم يبق للعبد شيء من نفسه وهواه ، ولا إرادة إلا لما يريده منه مولاه ، فحينئذ لا ينطق العبد إلا بذكره ، ولا يتحرك إلا بأمره ، فإن نطق نطق بالله ، وإن سمع سمع به ، وإن نظر نظر به ، وإن بطش بطش به ، فهذا هو المراد بقوله : كنت سمعه الذي يسمع به ، وبصره الذي يبصر به ، ويده التي يبطش بها ، ورجله التي يمشي بها ومن أشار إلى غير هذا فإنما يشير إلى الإلحاد من الحلول ، أو الاتحاد ، والله ورسوله بريئان منه .

"Ketika hati telah terpenuhi dengan keagungan Allah ta'ala maka leburlah semua selain Allah yg ada dihati dan tiada yg masih tetap sedikitpun dari hawa dan nafsunya hamba, tiada kehendak kecuali apa yg dikehendaki oleh Allah . maka saat itu seorang hamba tidak lah berbicara kecuali dengan dzikir kpd Allah, tidaklah bergerak kecuali dengan perintah Allah, jika berkata2 maka berkata2 dengan Allah, jika mendengar maka mendengar degan Allah, jika melihat maka melihat dengan Allah dan jika memukul maka memukul dengan karena Allah, inilah yg dimaksud dengan, "Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan" barang siapa yg mempunyai isyarat makna yg lain dari ini maka dia telah berisyarat kepada ilhad/ keluar agama islam yaitu paham hulul / Allah masuk ke manusia atau paham ittihad / Allah bersatu dengan manusia. Allah dan Rasulnya terbebas dari kedua paham tersebut."

Wallahu A'lam Bisshawab.

REFERENSI KITAB FATHUL MUBIN, Halaman 636-647 (Cetakan DKI)

Nasehat Imam As-syafi’i Untuk Pelajar

Imam Syafi'i adalah seorang Ulama besar yang ilmunya sangat luas dan sudah di akui oleh semua ulama lain dari kalangan manapun, sehingga muridnya yang sangat terkenal, Imam Ahmad bin Hambal sampai berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam (seorang Mujaddid). Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i”.

Itulah tingkatan ketinggian Imam Syafi'i dalam perihal Ilmu pengetahuan, beliau telah berhasil meraih ilmu dan menyebarkannya. Sehingga kepada para penuntut ilmu yang ingin agar mendapatkan ilmu dengan penuh keberkahan dan bisa untuk mengembangkan ilmu kita dan menyebarkannya untuk sepatutnya kita memperhatikan nasehat-nasehat imam syafi'i kepada para penuntut ilmu. Berikut ini akan kami nukilkan beberapa nasehat penting imam syafie tentang menuntut ilmu.

Beberapa Nasehat Imam As-syafi’i untuk para pelajar :
  1. Belajarlah , karena tiada seorangpun yang di lahirkan dengan berilmu, dan jelas tiada sama orang yang berilmu dengen orang bodoh.
  2. Orang yang telah di tokohkan tapi kosong ilmu, akan tampak kecil dalam percaturan luas.
  3. Orang yang tidak terpandang namun berilmu. Akan tampak kebesaranya dalam pertemuan-pertemuan penting.
  4. Ilmu itu sulit di dapati bagi orng yang kehidupannya selalu di sibukkan urusan keluarga.
  5. Ilmu itu sulit di dapatkan kecuali bagi mareka yan terbebas dari kesibukan dan hal yang memerlukan penanganan.
  6. Dengan segala kelebihan, ilmu akan menjadikan semua manusia sebagai pelayan orang yang mau mengkhadam ilmu tersebut.
  7. Wajiblah ilmu itu dipelihara sebagaimana manusia menjaga darah dan kehormatan dirinya.
  8. Barang siapa mengobral ilmu pada yang bukan ahlinya, itu berarti menelantarkan ilmunya. Dan barang siapa menyimpan ilmu (tidak memberikan) kepada orang yang berkelayakan (penuntut ilmu) maka berarti ia zalim dan miskin kebajikan.
  9. Wahai saudaraku, anda tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengen enam syarat, akan kujelaskan rinciannya dengan amat singkat : Cerdas, semangat (antusias), bersungguh-sungguh, cukupnya dana, bimbingan guru dan waktu yang cukup.
  10. Bersabarlah terhadap kekerasan seorang guru , karena kegagalan dalam mencari ilmu terletak pada ketidak sanggupan menghadapi hal itu.
  11. Barangsiapa yang tidak pernah merasakan kepahitan ilmu walau sesaat, maka ia kan terjeremus dalam kebodohan yang hina selama hidupnya.
  12. Barang siapa yang tidak menggunakan masa muda untuk belajar, maka bacakan takbir sampai empat kali (itulah penyesalan seumur hidup ).
  13. Demi Allah, kehidupan seseorang pemuda itu mudah bila berbekal ilmu dan taqwa. Apabila kedua bekal itu tidak dimiliki, maka tak pantas di sebut pemuda .
Demikianlah beberapa nasehat yang sangat penting dari sang Imam untuk kita para pecinta ilmu pengetahuan, marilah sama-sama kita perhatikan sehingga kita bisa mengarungi perjuangan mencari ilmu dengan mudah dan penuh semangat agar bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat bagi agama kita sebagaimana wasiat para 'alim ulama dan para Guru-Guru kita. Amien..Ya Rabbal 'Alamien.

Referensi : Kitab Diwan As-Syafi'i Halaman 15.

Bantahan Ulama Hanabilah Terhadap Pengakuan Wahabi Bermanhaj Imam Hanbali

Bantahan Ulama Mazhab Hanbali (Hanabilah)  Terhadap Pengakuan Kelompok Wahabi Bahwa Mereka Bermanhaj Imam Hanbali.

Belakangan ini sekte wahabi sering menyembunyikan jati diri mereka dengan berdalih mereka bermanhaj (mengikuti) Imam Hanbali dari tuduhan sesat menyesatkan. Dalam kitab “al-hanabilah wa ikhtilafihim ma’a al-salafiyah al-mu’ashirah” tertulis bantahan ulama hanbali terhadap pengakuan sekte wahabi yang mengaku mengikuti manhaj Imam Hanbali.

Di bawah ini kami kemukakan beberapa nama ulama-ulama hanbali yang membantah terhadap sekte salafi atau wahabi:


  1. Syekh Qadhi Sulaiman bin Abdu Al-Wahab. Beliau adalah saudara kandung Muhammad Abdul Wahab sendiri. Ia memiliki satu risalah yang bernama “ Faslun Al-Khitabu Fi Raddi ‘Ala Muhammad Bin ‘Abdu Al-Wahab” ( pembahasan tentang penolakkan terhadap pemahaman Muhammad Abdul Wahab).
  2. Syekh Muhammad bin Ahmad bin ‘Ali bin Sahim.
  3. Syekh Sulaiman Bin Muhammad Bin Sahim Bin Ahmad Bin Sahim Al-Hanbali Al-Najdy.
  4. Syekh Faqih Muhammad Bin ‘Abdurrahman Al-Hanbali. Di dalam karyanya yang berjudul “ Tahakkum Muqalladin Bi Man Idda’a Tajdida Al-Din” (kehancuran terhadap yang mengikuti orang yang mengaku pembaharuan agama), beliau membantah terhadap setiap pendapat yang di bid’ahkan oleh Ibnu Abdul Wahab.
  5. Al-Imam Abdullah Bin ‘Isa Al-Muwaisi Al-Hanbali. Beliau merupakan orang yang sangat menginkari dan membantah pemahaman muhammad abdul wahab.
  6. Syekh Abdullah Bin Ahmad Bin Sahim Al-Hanbali (1175 h).
  7. Syekh Faqih Nashir Bin Sulaiman Bin Muhammad Bin Sahim Al-Tamimy Al-Hanbali (1177-1226 h).
  8. Qadhi Syekh Marabbin Bin Ahmad Bin ‘Umar Al-Tamimy Al-Hanbali (1171 h). Beliau belajar dari ulama najd dan syam. Ibnu bisam menceritakan tentangnya,” dia ( murabbin) merupakan qadhi di Huraimilak, namun sangat bermusahan dengan Muhammad Abdul Wahab.
  9. Dll
Inilah sedikit di antara nama-nama ulama yang bermazhab hanbali yang sangat membantah pemahaman Muhammad abdul wahab. Dan masih banyak ulama-ulama dari mazhab hanbali yang membantah Muhammad Abdul Wahab.


Referensi : Kitab Al-hanabilah Wa Ikhtilafihim Ma’a Al-salafiyah Al-mu’ashirah Karangan Mustafa Hamdu 'Aliyyan al-Hanbaly. Cetakan Dar al-Nur al-Mubin. Hal. 125.

Shalat Sunat Qabliah Subuh Bisa Menyembuhkan Penyakit Wasir

Shalat Sunat Qabliah Subuh Bisa Menyembuhkan Penyakit Wasir (Ambien).



Diskribsi Masalah :

Berobat bukan berarti tidak tawakkal akan tetapi berobat adalah juga sunnah rasul SAW. karena beliau pernah berobat  bila tertimpa sakit, adapun tata-cara berobat jalur alami itu lebih baik karena tidak menimbulkan efek yang berbahaya (Efek Samping), sebaliknya berobat dengan obat-obat kimia dapat menimbulkan efek yang berbahaya (Efek Samping). Bagi anda yang sedang menderita penyakit Ambien (Bawasir) bisa berobat dengan salat fajar atau salat Qabliah subuh, ini cara alami yang dianjurkan oleh syariat Islam dan sangat mudah untuk dilaksanakan.

Pertanyaan :

Bagaimanakah tata-cara melaksanakan salat sunat fajar  yang hikmahnya mengobati Ambien ?
Apa sajakah hikmah-hikmah dari Salat Fajar ?

Jawaban 1 :

Waktu shalat qabliah (sebelum) Subuh yaitu mulai keluar fajar  (sama dengan waktu Subuh).
Lafaz niatnya ‘’Sengaja aku shalat Fajar atau qabliah Subuh dua raka’at karena Allah swt’’
Tiap-tiap raka’at sunat dibaca  surat al-Kafirun dan al-Ikhlas atau dalam riwayat yang lain surat  al-Insyirah (أَلَمْ نَشْرَحْ ) dan surat al-Fiil    ( أَلَمْ تَرَ كَيْفَ )
Lebih baik  atau sunat juga  pada tiap-tiap rakaat dikumpulkan seluruh surat di atas supaya mendapatkan kepastian dalam mengamalkan seluruh riwayat para ulama.

Jawaban 2 :

Hikmah atau fazilah shalat fajar yang dilakukan dengan tata-cara di atas  insya Allah akan mengobati Ambien (penyakit Wasir), tidak mendapat kemalangan dalam kesehariannya, tercapai hajatnya, akan terbelenggu tangan para musuhnya. Ini adalah hikmah yang tidak diragukan sebagaimana yang telah dirasakan oleh orang-orang shaleh.

Referensi :

kitab Fathul Mui’n  juz 1 hal.246 (Cet.Haramain) :

( و ) ركعتان قبل ( صبح ) ويسن تخفيفهما وقراءة الكافرون والإخلاص فيهما لخبر مسلم وغيره وورد أيضا فيهما ألم نشرح لك وألم تر كيف وأن من داوم على قراءتهما فيهما زالت عنه علة البواسير فيسن الجمع فيهما بينهن لتتحقق الإتيان بالوارد أخذا مما قاله النووي في إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا كبيرا

kitab I’anatut Thalibin  juz 1 hal.246-247 (Cet.Haramain) :

وقوله فيهما أي في الركعتين وقوله زالت عنه علة البواسير وقيل إن من دوام عليهما فيهما لا يرى شرا ذلك اليوم أصلا ولذا قيل من صلاهما بألم وألم لم يصبه في ذلك اليوم ألم وقال الغزالي في كتاب وسائل الحاجات بلغنا عن غير واحد من الصالحين من أرباب القلوب
 أن من قرأ في ركعتي الفجر ألم نشرح لك وألم تر قصرت عنه يد كل عدو ولم يجعل لهم عليه سبيلا وهذا صحيح مجرب بلا شك اه


Wallahu A'alam Bisshawab.


Mengungkap Penyimpangan Dr. Ismail Kassim

Beberapa tahun terakhir Sheikh Dr. Ismail H. Kassim sering berkunjung ke Aceh bahkan ke beberapa dayah sebagai tamu, di mana beliau tetap disambut sebagaimana lazimnya tamu kehormatan. Walaupun dari awal kunjungannya saat itu Ulama Aceh sudah mulai menaruh kecurigaan terhadap beliau, pada saat pertamakali kedatangannya ke Aceh waktu itu, guru murshid jemaah Pertubuhan Rahmatan Lil ‘Alamin (Perahmat) di seluruh Malaysia tersebut belum menampakkan wujud aslinya.


Dan seiring dengan perjalanan waktu sedikit demi sedikit penyimpangannya semakin nampak, akhirnya semenjak dari itu Abu MUDI mengirim tim untuk menyelidikinya secara lebih dalam agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan, pada tanggal 06 Februari 2016 Syekh Ismail mengadakan seminar di Hotel Oasis Lueng Bata Banda Aceh dan dalam seminar tersebut Syekh Ismail mengundang Abu MUDI dan sepuluh dewan guru, namun Abu MUDI mengirimkan 8 orang TIM LAJNAH untuk mengikuti dan memantau seminar tersebut. Dalam seminar tersebut Syekh Ismail Qasim banyak mengeluarkan kata-kata yang menyimpang dan sangat marah ketika dikritisi bahkan mengancam kafir bila menolak ilmu LA ILAHA ILLALLAH yang beliau bawakan.

Berikut beberapa pernyataan Syekh Ismail Qasim dalam acara tersebut:
  1. Bila hanya dengan memuji dengan lidah, maka manusia tersebut hanya muslim dan bahkan hanya muslim yang munafiq, namun jika dia memuji dengan Qalbu, maka dia baru dikatakan Mukmin.
  2. (Pernyataan pertama) Ilmu ini sudah hilang selama 800 tahun.
  3. (Pernyataan kedua) ilmu ini disembunyikan selama 700 tahun, dan ilmu ini diajarkan oleh syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan diteruskan tapi tidak disebarkan, hanya diajarkan di gunung-gunung dan di hutan, barulah sekarang diajarkan kembali dan dikembangkan kepada masyarakat.  
  4. Dalam tiap tiga bulan syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengutus 40 khalifah keseluruh dunia.
  5. Dalam menafsirkan Al-Quran, tidak boleh menggunakan kitab tafsir, tapi merujuk kepada penafsiran para Aulia Allah. Seperti dalam bukunya halaman 57 dalam menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 8. “mengapa Allah SWT menurunkan ayat-ayat menafikan Iman para sahabat dan kaum muslimin” padahal dalam tafsir ayat ini diturunkan kepada kaum Munafiq.
  6. Sebagian para sahabat munafik berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 8.
  7. Ketika menyampaikan Ilmu Syahadah ini, maka bukan saya yang menyampaikan, tetapi Allah sendiri yang menyampaikan. Bahkan ketika saya menyampaikan ilmu ini kepada suatu majlis, maka Rasul pun boleh datang ajar LA ILA HA ILLALLAH.
  8. Menafsirkan Alquran adalah perbuatan yang menyempitkan makna Al-Quran, dan sebanyak 50 mufassir mati dalam keadaan mengenaskan karena menyempitkan makna Al-Quran, oleh karena itu, para Aulia, termasuk Syaikh Abdul Qadir al-jailani tidak berani menafsirkan ma’na Al-Quran.
  9. Tidak boleh merujuk kepada kitab, tapi merujuk kepada Al-Quran, Hadis dan Ahlul Bait.
  10. Hadis tentang berpegang kepada Al-Quran dan hadist adalah palsu, hadis mursal, jadi yang Shahih adalah berpegang kepada Al-Quran dan keluargaku (Ahlul Bait).
  11. Para sahabat selain Ali dan Abu Bakar menjadi munafiq karena memperlihatkan zikir saat nabi mengatakan جددو ايمانكم.
  12. Tak dapat dekat dengan Allah dengan Ibadat. Contoh, Syaitan, beribadah ribuan tahun tapi dilaknat oleh Allah, dan Malikat, beribadat ribuan tahun, tapi tak dapat naik ke atas ‘arasy untuk bertemu Allah dan terbakar saat mencoba untuk naik. Hanya dengan ilmu Syahadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
  13. Tanpa ilmu Syahadah, maka manusia tak dianggap beriman kepada Allah.
  14. Seluruh nabi selain nabi Muhammad sudah syirik kepada Allah melalui akal, Qalbu, Ruh dan sirri namun tidak syirik melalui jasad. Dan Allah melarang seluruh nabi untuk melakukan syirik, ini karena seluruh manusia termasuk nabi punya potensi untuk syirik.
  15. Orang yang tidak mempelajari ilmu Syahadah maka wajib dibunuh dan halal darahnya, berdasarkan hadist “dan bunuhkan mereka hingga mereaka bersaksi".
  16. Tak boleh mengartikan Ilah dan Rabb dengan makna tuhan, karena tuhan adalah hantu. Dan ilah dan Rabb berbeda makna.
  17. Allah menciptakan akal pada manusia bukan untuk belajar Ilmu Hadis, Tauhid dan ilmu-ilmu lain, tapi untuk belajar ilmu Syahadah.
  18. Rasulullah mempelajari ilmu syahadah selama 13 tahun.
  19. Rasulullah mengajarkan 4 macam syirik kepada sahabat selama 13 tahun, baru kemudian disuruh beribadah kepada Allah SWT.
  20. Tujuh Puluh Bab Syahadah yang diajarkan oleh Nabi kepada sahabat.
  21. Al-Quran bukan untuk dibaca, tapi untuk dipegang, dan mashaf yang ada sekarang ini bukanlah Al-Quran.
  22. Pengajian di Pondok Pesantren itu tidak ada syahadah.
  23. Kenapa di pesantren Ulama tidak mengajar ilmu syahadah karena ulama tidak dilantik oleh Allah, Allah hanya lantik Rasul SAW dan ahli bait untuk mengajar ilmu syahadah, orang lain tidak boleh ajar, karena dalam darah daging mereka tidak ada penyaksian, hanya dalam darah daging ahli bait ada penyaksian Allah dan Rasul SAW.
  24. Negara yang tidak terima ilmu ini maka setelah enam bulan akan hancur.
  25. Kafir dan kufur ada beda, kafir menolak Allah, orang kufur menolak ayat Allah, orang Muslim menolak ayat Allah.
  26. Siapa yang tidak belajar ilmu La Ilaha Illallah maka ia tiada iman kepada Allah, melainkan sudah belajar ilmu La Ilaha Illallah.
  27. Yang mengatakan “aku beriman” dengan mulut tanpa belajar ilmu La Ilaha Illallah mereka sedang masuk dalam kekufuran.
  28. Allah maha hadi maha adil, yang menunjukkan jalan ihdina siratal mustaqim, yaitu ilmu La Ilaha Illallah, di jalan itu saja ada iman di jalan lain, di jalan lain minta maaf, di jalan lain hanya Islam saja, dengan Islam tidak boleh sampai kepada Allah SWT.

Setelah berita ini tersebar lalu ditemukan juga rekaman-rekaman Syekh Ismail Kassim yang menyimpang, seperti dibawah ini :

https://youtu.be/eOGebX95fHs
https://www.youtube.com/watch?v=feBTYymdwhc
https://www.youtube.com/watch?v=Dyfmjv7ZyVs

Link Syekh Ismail Kassim:
Web http://www.rahmatanlilalamin.org.my/

Semoga dengan penemuan ini ada keputusan dari pihak berwenang (MPU) untuk melarang Syekh Ismail Kassim datang ke Aceh.

Solusi Jika Terlanjur Makan Babi

Terlanjur / tidak sengaja makan daging babi, Bagaimana cara menyamak nya ?

Berikut ini Solusi jika tidak sengaja anda memakan daging babi.

Deskipsi Masalah:

Pak Martin memiliki banyak harta dan pak Martin sangat berkeinginan untuk mengajak keluarganya keluar negeri, tak lama kemudian keinginannya terkabul dan akhirnya pak Martin dan keluarganya berangkat keluar negeri, setiba di bandara pak somat merasa lapar, lalu pak Martin dan keluarga mendatangi sebuah restoran, karena terlalu lapar pak Martin langsung masuk dalam restoran, rupanya rentoran yang pak Martin masuk menyediakan danging babi, Tanpa bertanya lagi beliau menghabiskan makanan yang di hidangkan. Akhirnya saat sudah keluar dari restoran beliau baru tau bahwa makanan yang dipesan tadi memang terbuat dari daging babi, jadi apa yang harus dilakukan pak Martin yang sudah terlanjur makan babi ????

Jawaban :

Bila seseorang memakan najis mughalladhah, seperti babi, maka mulutnya wajib disamak (menyucikan tujuh kali dengan air salah satunya dicampur dengan tanah), Tidak wajib menyamak tempat keluar kotoran (Dubur / Anus kita tidak wajib disamak) bila daging babi yang keluar sudah berubah , tapi bila daging babi yang keluar masih utuh, maka wajib menyamak lubang dubur /Anus tempat keluar kotoran tersebut.

Referinsi :
Asnal Mathalib syarah Raudhah attalib jld 1, hal 21. Cetakan D.K.I.

ولو ارتضع من كلبة فالقياس أيضا كذلك لأن حكم التغليظ لا ينسحب على المخرجين بدليل أنه لو أكل لحم كلب لم يجب غسله عند الاستنجاء سبعا وإن وجب غسل الفم سبعا ت.

"Dan jikalau meminum susu anjing, maka kiasnya juga seperti itu (tidak wajib samak ketika istinjak), karena tidak dihukumkan lagi kepada najis mughalladhah bila sudah masuk usus. Sama halnya bila seseorang memakan najis babi, niscaya tidak wajib menyamak ketika istinjak ( buang air besar ), sekalipun wajib menyamak mulutnya."


Tuhfatul muhtaj jld 1, hal 311. Cetakan Maktabah Tijariyah Kubra Mesir.

لو أكل مغلظا ثم خرج منه لم يجب تسبيع المخرج، وقد يقال ذاك إذا وصل لمحل الإحالة وهو المعدة فليتأمل سم وقوله وقد يقال إلخ هذا قياس ما مر في القيء (قوله فعلى الثاني إلخ) قد يقال بل وعلى الأول لا بد من الاستثناء؛ لأنا وإن قلنا بالتنجيس لا نقول بوجوب تطهير الملاقي للمغلظ بل الملاقي للملاقي.

"Bila seseorang memakan najis mughalladhah, kemudian najis tersebut keluar, maka tidak wajib menyucikan tempat keluar tujuh kali, begitu juga bila sudah sampai dalam perut."

Wallahu A'alam Bisshawab.

Dalil-Dalil Karamah Yang Terjadi Pada Para Aulia Allah

Karamah Aulia Allah
Aulia adalah jamak dari wali , pengertian dari wali Allah adalah manusia yang mengenal sifat kesempurnaan bagi Allah swt dan selalu mengerjakan taat kepada Allah dan menjauhkan dari maksiat atau segera bertaubat jika terlanjur dalam kesalahan, atau makna dari wali juga manusia yang menyerahkan urusannya kepada Allah swt. Maka bagi para wali tersebut diberikan oleh Allah tanda-tanda yang disebut dengan karamah ( ada yang menyebutnya keramat ) .

Sedangkan makna karamah adalah:

اَمْرٌ خَارِقٌ لِلعَادَة يَظْهَرُ عَلَى يَدِ عَبْدٍ ظَاهِرٍ الصَّلَاحِ مُلْتَزِمِ لِمُتَابعَة نَبِي بِشَرِيْعَتِهِ مَصْحُوب بِصَحِيْحِ الْاعْتِقَادِ

"Sesuatu yang menyalahi kebiasaan terjadi pada tangan hamba Allah yang shaleh yang selalu mengikuti syariat nabi saw dan mempunyai i’tiqat yang benar."

Adapun beberapa dalil-dalil tentang karamah yang dimiliki para aulia adalah :
  1. Dalam al-Quran surat al-Imran ayat 37 dikisahkan tentang Maryam yaitu Allah menciptakan Maryam dengan pertumbuhan yang baik dan cepat hingga Allah menjadikannya serolah-olah sudah berumur satu tahun padahal umaunya baru sehari. Dan Maryam tinggal bersama nabi Zakaria serta tiada orang lain bersamanya akan tetapi disana teredapat buah-buahan musim dingin pada musim panas dan buah-buahan musim panas pada musim dingin. Ini adalah karamah yang terjadi pada aulia Allah swt.
  2. Kisah Ashabul kahfi jumlah mereka tujuh yang bersembunyi di dalam gua untuk menyelamatkan imamnya sedangkan mereka tidur di dalamnya selama 369 tahun tidak makan dan minum ketika mereka bangun mereka tetap dalam keadaan sehat.
  3. Karamah yang ketiga kisah yang terdapat dalam al-Quran seorang aulia Allah bernama Asif al-Balqiya ia adalah salah satu mentri raja Sulaiman as, karamah yang beliau miliki adalah bisa memindahkan singgasana ratu Balqis dalam sekedip mata.
  4. Karamah yang terjadi pada sahabat rasul saw yaitu Umar bin Khatab ra beliau bisa melihat musuh dari jarak jauh ketika itu beliau berkata ‘’wahai tentara menujulah kalian kegunung !’’ maka ketika itu para tentara mendengar suara Umar dari jarak jauh kemudian mereka menuju ke gunung dan menyerang musuh serta mendapat kemenangan berkat pertolongan dari Allah swt.
  5. Pernah diriwayatkan juga bahwa Abdullah bin Syaqiq (tabi’in) , pada ketika beliau berjalan di bawah awan maka beliau berkata ‘’Aku bersumpah demi Allah sesungguhnya sekarang akan turun hujan! ‘’ niscaya pada waktu itupun akan turun hujan segera dengan izin Allah swt.
Maka inilah dalil-dalil karamah yang terdapat pada aulia Allah, maka dengan uraian singkat di atas mudah-mudahan bisa menghilangkan keraguan jika ada yang mengatakan bagi para aulia atau selain rasul saw tidak memilki karamah. Dari uraian di atas ada sebagian terdapat dalam al-Quran dan hadis yang intinya karamah adalah ada bagi hamba Allah yang terpilih.

Referensi kitab Tuhafatul Murid ala Jauharah Tauhid hal.95-96 Karangan Syaikh Islam Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri .

Wallahu 'Alam Bisshawab.

Bahaya Ideologi Wahabi

Wahabi
Banyak dampak negatif yang timbul dengan berkembangnya ideologi wahabi. Mari kita jaga saudara kita dari terjangkit aqidah kaum khawarij ini. Di bawah ini kami sebutkan beberapa bahaya yang bisa timbul dari aqidah wahabi tersebut antara lain;

1. Menimbulkan perpecahan ummat

Semenjak dari dulu umat islam Indonesia hidup dengan kompak dan damai namun setelah hadirnya sebuah kelompok yang sering disebut dengan Wahabi yang memiliki fatwa-fatwa ganjil dan memvonis bid’ah dan sesat bahkan syirik terhadap amalan-amalan yang sudah diamalankan oleh umat Islam di Nusantara semenjak dahulu seperti tahlilan, yasinan, tawassul, ziarah kubur dll. Hal ini menimbulkan perpecahan dalam masyarakat bahkan juga dalam satu keluarga.

2. Akan menimbulkan anggapan sesat kepada mayoritas ulama terdahulu

Kaum wahabi dengan vonis sesat mereka terhadap ulama Asya’irah dan Maturidiyah akan berakibat kepada umat ini akan berburuk sangka dan hilangnya rasa hormat kepada mayoritas ulama terdahulu. Ulama Asya’irah merupakan mayoritas ulama umat ini semenjak dahulu sebagaimana Imam Subki sebutkan dalam thababat beliau bahwa maoritas ulama mazhab empat merupakan golongan Asya’irah Maka dengan adanya pemahaman bahwa Asya’irah merupakan golongan sesat maka mayoritas ulama dahulu merupakan orang-orang sesat. Ulama-ulama sekaliber Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Haitami, as-Subki, al-Baihaqi, al-Baqilani dll merupakan ulama-ulama Asyairah. Bahkan kaum wahabi dengan secara jelas menuliskan dalam kitab mereka bahwa aqidah imam Nawawi, Imam Sayuthi, Imam Baihaqi adalah sesat.


3. Mengurangi rasa hormat kepada Rasulullah dan keluarga beliau

Beberapa aqidah dan fatwa kaum wahabi yang bisa berakibat kepada mengurangi rasa hormat kepada Rasulullah dan keluarga beliau adalah;

  1. Haramnya memperingati kelahiran Rasulullah
  2. Haramnya memuji Rasulullah
  3. Haramnya membaca saiyidina sebelum nama Rasulullah
  4. Mengkafirkan ayah bunda Rasulullah
  5. Haramnya membaca shalawat yang menurut mereka tidak bersumber dari Rasulullah, seperti shalawat yang dibacakan oleh shahabat, tabi’in dan para ulama lain.

4. Menimbulkan paham Tajsim

Pemahaman kaum wahabi yang memahami nash-nash mutasyabihat secara dahirnya saja akan berakibat kepada pahaman tajsim, yaitu meyakini bahwa Allah memiliki jasad sebagaimana manusia. Hal ini karena banyak nash-nash mutasyabihat yang kalau diartikan secara dhahir saja akan menimbulkan pemahaman bahwa Allah memiliki tangan, wajah, kaki, betis, lambung, mata, jiwa, bertempat di atas Arasy dan bersifat dengan datang dan naik turun. Bahkan ada fatwa kaum wahabi bahwa Allah berbentuk dalam amrad dan panjang Allah 60 hasta. [1]

5. Menghilangkan situs-situs Islam

Keyakinan wahabi yang mengharamkan ziarah kubur secara mutlak dan menganggap kuburan-kuburan para ulama sebagai sumber kesyirikan yang harus dimusnahkan akan melahirkan ide-ide untuk menghancurkan makam-makam para ulama yang sering di ziarahi umat. Hal ini terbukti dalam sejarah. Berbagai bangunan di atas kuburan di Baqi’ di hancurkan oleh wahabi ketika mereka menguasai Madinah. Saat ini kita juga bisa melihat kaum ISIS dan para ekxtrimis wahabi lainnya yang ada di Timur Tengah saat ini, mereka menghancurkan makam-makam para ulama yang ada di Suriah, Iraq dan Yaman dan wilayah-wilayah lain yang sempat mereka kuasai. Bahkan mereka juga turut menghancurkan mesjid-mesjid yang di dalamnya terhadapt makam para ulama. Lebih kejam lagi, mereka menghancurkannya dengan mengebomnya hingga hancur rata dengan tanah.

6. Mengancam keutuhan NKRI

Kaum wahabi tidak segan-segan dalam menghukumkan kafir dan syirik terhadap orang lain yang tidak sepaham dengam mereka, tak kecuali kepada pemerintah yang tidak menjalankan syariat Islam. Tak jarang kita mendengar teriakan thaghut kepada pemerintah karena berdasarkan Pancasila. Maka akidah wahabi akan menjadi benih yang membahayakan bagi keutuhan NKRI. Di belahan dunia lain, rata-rata gerakan pemberontakan di negara Islam di dalangi oleh idelogi ekstrim wahabi.

7. Melahirkan gerakan ekstrem/radikal

Ideologi wahabi yang dengan mudahnya memvonis bid’ah dan syirik berbagai macam amalan umat Islam lain, akan dengan mudah memunculkan paham ekstrem dan radikal. Karena sudah terlebih dahulu divonis sebagai pelaku syirik maka mereka tidak akan segan untuk membunuhnya apalagi disertai dengan dorongan anggapan menghilangkan kemusyrikan. Memerangi kemusyrikan akan mendapatkan pahala besar dan bila gugur akan mendapat pahala syahid.


8. Akan tertuduh sebagai golongan Syiah.

Salah satu hal yang baru yang berkembang saat ini adalah tuduhan sebagai “pengikut syiah” yang dilontarkan oleh golongan pendukung wahabi terhadap bagi golongan yang tidak sejalan dengan pandangan mereka. Mereka juga membuat image bahwa banyak amalan-amalan kaum aswaja yang berasal dari kaum syiah. Hal ini bertujuan untuk menarik simpati masyarakat awam karena golongan syiah memang sudah lumrah dikenal sebagai golongan sesat. Sehingga ketika masyarakat awam sudah termakan dengan isu syiah maka akan semakin mudah menjatuhkan vonis sesat.
.................................................................................................
1. Majmu Fatawa al-Allamah Abdul Aziz ibnu Baz, Dar al-Ifta,jilid 4,fatwa no,2331,hal.368

Bagi yang ingin menambahkan lagi bahaya wahabi silahkan di tambahkan di kotak komentar. Bagi fans wahabi, kalau kepanasan juga di perbolehkan untuk komentar..

Hukum Menyewa Orang Baca Al-Qur'an di Kuburan

Bolehkah Meyewa Seseorang Untuk Membaca Al-Quran di Kuburan ?

Diskipsi Masalah :
Kebiasaan masyararakat yang Ahlusunnah wal Jamaah telah turun-temurun jika ada keluarganya yang meninggal dunia mereka menyewa orang membaca al-Quran hal ini telah biasa dilakukan sejak lama akan tetapi ada sekelompok orang sekarang bersikap usil (wahabi atau pengikut Abdul Wahab). Mereka melarang membaca al-Quran tersebut bahkan mengatakan bid’ah serta pelakunya akan masuk neraka, vonis model ini sangatlah tidak bijak seolah-olah selain dari kelompok mereka tidak akan masuk surga sama sekali dan hanya merekalah yang memilki sugra itu, padahal hukum membaca al-Quran boleh kapan saja dan dimana saja.

Pertanyaan :
Bolehkan menyewa pembaca al-Quran di kuburan ?

Jawaban :
Boleh menyewanya dan hukum membaca al-quran dikuburan adalah sunat seperti ditempat-tempat yang lainnya.

Referensi:
Fathul Mu’in juz 3 hal. 112-113 (Cet. Haramain)


قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الاستئجار لقراءة القرآن عند القبر و مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها

Tuhfatul Muhtaj dan Hasyiah Syarwani Wal ‘Ubady juz 6 hal. 180-181 (Cetakan Beirut)

وَيَصِحُّ الِاسْتِئْجَارُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقَبْرِ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ بِمِثْلِ مَا حَصَلَ مِنْ الْأَجْرِ لَهُ أَوْ بِغَيْرِهِ عَقِبَهَا عَيَّنَ زَمَانًا أَوْ مَكَانًا أَوْ لَا .
حاشية الشرواني
(قَوْلُهُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقَبْرِ إلَخْ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالرَّوْضِ مَعَ شَرْحِهِ (فَرْعٌ) الْإِجَارَةُ لِلْقِرَاءَةِ عَلَى الْقَبْرِ مُدَّةً مَعْلُومَةً أَوْ قَدْرًا مَعْلُومًا جَائِزَةٌ لِلِانْتِفَاعِ بِنُزُولِ الرَّحْمَةِ حَيْثُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَكُونُ الْمَيِّتُ كَالْحَيِّ الْحَاضِرِ سَوَاءٌ أَعْقَبَ الْقِرَاءَةَ بِالدُّعَاءِ لَهُ أَوْ جَعَلَ أَجْرَ قِرَاءَتِهِ لَهُ أَمْ لَا فَتَعُودُ مَنْفَعَةُ الْقِرَاءَةِ إلَى الْمَيِّتِ فِي ذَلِكَ وَلِأَنَّ الدُّعَاءَ يَلْحَقُهُ وَهُوَ بَعْدَهَا أَقْرَبُ إجَابَةً وَأَكْثَرُ بَرَكَةً وَلِأَنَّهُ إذَا جَعَلَ أَجْرَهُ الْحَاصِلَ بِقِرَاءَتِهِ لِلْمَيِّتِ فَهُوَ دُعَاءٌ بِحُصُولِ الْأَجْرِ لَهُ فَيَنْتَفِعُ بِهِ فَقَوْلُ الشَّافِعِيِّ إنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ إلَيْهِ مَحْمُولٌ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ اهـ.(قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ إلَخْ) أَيْ لِلْمَيِّتِ أَوْ الْمُسْتَأْجِرِ اهـ نِهَايَةٌ (قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ) عَطْفٌ عَلَى عِنْدَ الْقَبْرِ وَكَذَا قَوْلُهُ بَعْدُ أَوْ بِحَضْرَةِ الْمُسْتَأْجِرِ أَيْ أَوْ عِنْدَ غَيْرِ الْقَبْرِ مَعَ الدُّعَاءِ وَ (قَوْلُهُ لَهُ) أَيْ لِلْقَارِئِ مُتَعَلِّقٌ بِحَصَلَ وَ (قَوْلُهُ أَوْ بِغَيْرِهِ) عَطْفٌ عَلَى بِمِثْلِ أَيْ كَالْمَغْفِرَةِ رَشِيدِيٌّ وَسَمِّ (قَوْلُهُ أَوْ بِغَيْرِهِ) يَنْبَغِي أَنْ يُعَيِّنَ لَهُ لِيَصِحَّ الِاسْتِئْجَارُ وَتُرْفَعُ الْجَهَالَةُ اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يُقَالَ الدُّعَاءُ هُنَا غَيْرُ مَعْقُودٍ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا الْمَعْقُودُ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ وَالدُّعَاءُ تَابِعٌ وَلَعَلَّ هَذَا أَوْجَهُ نَعَمْ فِي قَوْلِهِ وَأُلْحِقَ بِهَا إلَخْ يَنْبَغِي تَعْيِينُ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ؛ لِأَنَّهُ الْمَعْقُودُ عَلَيْهِ اهـ سَيِّدُ عُمَر
حاشية ابن قاسم العبادي
(قَوْلُهُ عِنْدَ الْقَبْرِ إلَخْ) عِبَارَةُ شَرْحِ الرَّوْضِ سَوَاءٌ أَيْ فِي جَوَازِ الْإِجَارَةِ لِلْقِرَاءَةِ عَلَى الْقَبْرِ أَعْقَبَ الْقِرَاءَةَ بِالدُّعَاءِ لَهُ أَوْ جَعَلَ أَجْرَ قِرَاءَتِهِ لَهُ أَمْ لَا اهـ (قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ) عَطْفٌ عَلَى عِنْدَ الْقَبْرِ وَكَذَا قَوْلُهُ بَعْدُ أَوْ بِحَضْرَةِ الْمُسْتَأْجِرِ ش


Wallahu A'lam Bisshawab.

Defenisi dan Pembagian Hukum Akal

Abu Keumala
Hukum dari sisi hakimnya terbagi kepada tiga, hukum akal, hukum adat dan hukum syara'. Kali ini kita akan membahas apa itu hukum akal dan pembagiannya yang kami kutip dari buku Risalah Makrifah Abu Keumala.

Dalam kitab Ummul Barahin, definisi dan pengertian hukum Akal adalah:

عبارة عما يدرك العقل ثبوته اونفيه من غير توقف علي تكرار ولاوضع واضع

Artinya: ‘ibarat (pertimbangan) dari pada sesuatu yang diperoleh ‘akal adanya sesuatu itu, ataupun yang diperoleh tidak adanya sesuatu, yang tidak perlu kepada berulang-ulang dan tidak perlu kepada menetapkan lainnya.

Maka hukum yang disandarkan kepada ‘Akal itu, atau pernah disebutkan hukum ‘Akal terdapat hanya tiga perkar, yaitu


  1. WAJIB, yaitu sesuatu yang tidak pernah terbayang dalam ‘akal tidak adanya sesuatu itu (mesti ada). Seperti sebuah batu, mesti bergerak atau tetap dalalam satu waktu, ‘Akal tidak akan menerima kalau keduanya itu tidak ada, atau berhimpun bergerak dan tetap dalam satu ketika, akal juga tidak akan menerimanya.
  2. MUSTAHIL yaitu sesuatu yang tidak pernah terbayang pada ‘akal adanya sesuatu itu (mesti tidak ada). Seperti sebuah batu, bergerak dan tetap ia dalam satu ketika sekaligus atau keduanya tidak ada pada batu itu sama sekali. Hal ini tidak mungkin terjadi dan akal tidak akan menerima adanya yang demikian itu selama-lamanya.
  3. JAIZ, yaitu sesuatu yang dapat diterima oleh akal adanya atau tidaknya sesuatu. Seperti batu itu bergerak ia pada satu waktu atau tetap ia pada waktu yang lain. Hal yang demikian boleh saja pada akal, tidak ada keberatan apa-apa.


Imam Al-allamah Al Hudhudi berkata:
Dan ketahuilah, sesungguhnya ma’rifah dan mengetahui bagian-bagian hukum ‘akal yang tiga ini, dan diulang-ulang supaya jinak dan mudah dimengerti, adalah yang sangat prinsipil (cukup penting) bagi orang yang ingin kemenangan dan berma’rifah kepada Allah, dan rasulNya, bahkan lebih dari itu, kata Imam Al Haramain dan oleh satu jama’ah: sesungguhnya MA’RIFAH bagian-bagian hukum ‘akal yang tiga ini, adalah batang tubuh ‘akal itu sendiri, sehingga barang siapa yang tidak mengetahuinya, maka dia tidak berakal. (lihat Asy-Syarqawiy ‘Alal Hudhudiy, hal. 33 s/d 36).

Kemudian, jika kita perhatikan dengan cermat, tentang pertimbangan ‘akal dan pendapatnya, sering kita dapati dua macam, yaitu :


  1. Mudah dan ringan sekali (disebut Dharuriy). Seperti sebuah benda padat, umpamanya batu, mengambil lapang ia dari udara yang kosong ini, menurut besar/kecilnya benda itu atau kita sebut, 1 + 1 = . . . mudah sekali dia dapat ; 2.
  2. Sulit dan agak berat (disebut Nadhariy). Seperti tuhan itu wajib wujud dan kekal selama-lamanya atau kita sebut 7 x 2 – 4 : 2 + 9 = . . . agak lama sedikit kita pikirkan, baru dapat ; 14.

Inilah yang kita bicarakan wajib bernadhar dan berpikir, tentang wujud Tuhan dan KekuasaanNya.
Jadi dengan mempergunakan akal untuk bernadhar dan berpikir, nyatalah kepada setiap mukallaf, apa yang wajib pada Tuhan, apa yang mustahil, dan apa yang jaiz padaNya.

Demikian pula kepada RasulNya, apa yang wajib, apa yang mustahil, dan apa yang jaiz pada diri mereka. Setelah ber-ma'rifah yang demikian yang penuh, disebutlah ia ‘arif dengan Allah dan ‘arif dengan RasulNya.

Risalah Ma'rifah Karangan TGk. Syihabuddin Syah (Abu keumala hal. 20 s/d 22)

Fatwa Abuya Muda Waly: Nikah Pada Qadhi Ketika Tidak Ada Wali


soal :

Seorang laki-laki membawa perempuan pada malam hari maksud hendak menyerahkan diri keduanya kepada tuan qadhi supaya di nikahkan, apakah hukumnya?

Jawaban:

hukum berjalan dua itu haram kalau tidak ada mahramnya atau perempuan lainnya yang kepercayaan nashnya dalam kitab fathul mu`in juzuk 2 nomor 283 :

أن يخرج معها محرم، أو زوج، أو نسوة ثقات، ولو إماء، وذلك لحرمة سفرها وحدها، وإن قصر

Dan tentang hukum nikah dengan perempuan itu asal jauh tempat qadhi itu dari tempat walinya dua marhalah maka sah nikahnya kalau tidak jauh dua marhalah maka batil nikah itu karena tidak boleh qadhi menjadi wali ketika itu.


Pertanyaan dari Singkil
Fatawa Abuya Muda Wali al-Khalidy, Hal 8 Cet. Nusantara Bukit Tinggi


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja