Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Fatwa Ulama : Hukum Bekerja Bagi Wanita


Pada era globalisasi ini, wanita yang bekerja untuk membiayai kehidupannya sendiri sudah menjadi hal yang biasa. Dengan adanya emansipasi wanita, maka sudah tidak heran jika banyak wanita yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia yang lemah dan hanya dapat menggantungkan dirinya pada kaum lelaki. Tidak seperti wanita pada era terdahulu, wanita hanya dapat bersembunyi di belakang punggung lelaki. Walaupun itu telah menjadi hal yang lumrah untuk wanita di era modern ini untuk menitih karirnya, tetapi banyak dijumpai wanita karir yang tidak dapat menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Berprofesi sebagai wanita karir merupakan celah paling besar timbulnya dampak negatif dalam rumah tangga. Syaikh Sayyid Abdullah bin Mahfudh al-Haddad pernah ditanyakan tentang hal ini:


س : هل يجوز أن تعمل ولو كانت غير محتاجة للعمل ؟

الجواب : إن الشارع لا يمنعها من العمل في أي وقت و في أي حال . و لكن قواعد الشارع تطلب منها ألا تتعرض للعمل خارج بيتها إلا للحاجة ، بشرط أن تتجنب ما قد ينتج عن الاختلاط بالأجانب ، وخصوصا إذا كانت ذات زوج و أطفال ، فإن عملها المجيد هو خدمة بيتها و تربية أطفالها و رعايتهم و تنشئتهم على الاخلاق الاسلامية الحميدة . فعملها هذا يعدّ جهادا في سبيل الله ، كما أجاب بذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم النسوة اللاتي سألنه و قلن له : ان الرجال يجاهدون و يحصلون على الشهادة فما مقابل ذلك للمرأة قال : ( إن مهنة احداكنّ في بيتها تدرك به عمل المجاهدين في سبيل الله ) ، و أورد في (الحلية) عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم بسند حسن : (المرأة في حملها إلى وضعها إلى فصالها كالمرابط في سبيل الله ، فإن ماتت فيما بين ذلك فلها أجر شهيد) ، و في لفظ آخر عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إن للمرأة في حملها الى وضعها الى فصالها من الأجر كالمرابط في سبيل الله ، فإن هلكت فيما بين ذلك فلها أجر شهيد).

أما عن العمل المناسب لها ، فكل عمل يبعدها عن الاختلاط بين الاجانب : كتدريس البنات و الاولاد الصغار فهو أنساب و أسلم . و كذلك الطب إذا كان مختصا بشؤون النساء والأطفال . والله أعلم

Pertanyaan :
Apa hukum bekerja bagi seorang wanita yang kebutuhannya telah dipenuhi oleh suami?

Jawaban :
Syari’ tidak mencegah wanita untuk bekerja kapanpun dan dalam kondisi apapun. Akan tetapi ketetapan syari’ menuntut para wanita agar tidak bekerja di luar rumah. Kecuali karena kebutuhan yang mendesak, dengan syarat ia terhindar dari sesuatu yang dapat menimbulkan bercampur-baur dengan lawan jenis yang ajnabi. Sedangkan bila wanita tersebut merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki suami dan anak, maka pekerjaan yang paling baik baginya adalah mengurus rumah, mendidik dan menjaga anak-anaknya, serta memperbaiki dan mengajari mereka tentang akhlak-akhlak yang terpuji. Adapun karir wanita yang seperti ini digolongkan ke dalam jihad fi sabilillah. Sebagaimana Nabi saw. pernah menjawab pertanyaan para wanita: “para lelaki, mereka berjihad dan mereka memperoleh gelar syahid, lalu apa yang setara dengan jihad bagi kami perempuan?” Rasulullah saw bersabda: “karir kalian adalah di dalam rumah, kalian akan memperoleh amalan para mujahidin yang berperang di jalan Allah.” Dan telah warid satu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dari Rasulullah saw dengan sanad yang hasan: “Wanita yang mengandung hingga melahirkan, ia sama seperti seseorang yang sedang berjuang di jalan Allah, bila ia meninggal dalam kondisi demikian maka ia memperoleh fahala orang yang mati syahid.”
Dalam lafadz yang lain diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda: bahwasanya wanita yang sedang mengandung hingga ia melahirkan dan hingga selesai fahalanya setara dengan fahala orang yang berjuang di jalan Allah, jika ia meninggal dalam kondisi sedang melahirkan, maka baginya fahala syahid.
Adapun karir yang pantas dan sesuai bagi seorang wanita adalah pekerjaan yang terhindar dari bercampur-baur dengan lawan jenis yang ajnabi: seperti mengajar anak perempuan, anak laki-laki yang masih kecil, pekerjaan yang demikian lebih sesuai dan lebih selamat bagi seorang perempuan. Dan begitu pula wanita yang berkarir sebagai dokter spesialis wanita dan anak-anak.

Kesimpulan :
Seorang wanita tidak dituntut bekerja di luar rumah kecuali karena kebutuhan yang mendesak, itupun baru dibolehkan bila terhindar dari bercampur baur dengan lawan jenis yang ajnabi. Pekerjaan yang paling baik bagi seorang wanita dan telah di akui oleh Nabi saw yaitu mengurus rumah dan suami, serta menjaga dan mendidik anak-anaknya tentang akhlak yang terpuji.

Wallahu a’lam.

14 Perbedaan Hadist Qudsi dan Al-Quran

Hadist Qudsi adalah hadist yang maknanya diriwayatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah, sementara redaksinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah yang membedakan antara hadis qudsi dengan al-Quran. Dimana al-Quran adalah kalam Allah, yang redaksi berikut maknanya dari Allah ta’ala. Namun perbedaan keduanya bukan hanya ini saja, ada 14 perbedaan antara keduanya yang dijelaskan oleh Saiyid ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani, ayahanda dari Abuya Saiyid Muhammad al-Maliki Rahimahullah.


  1. Hadist qudsi tidak mengandung nilai mu’jiz (dianggab sebagai mukjizat) karena itu Allah SWT tidak menjadikan membaca hadist Qudsi sebagai ibadah, sedangkan Al-Quran mengandung nilai mu’jiz dan membacanya dianggab sebagai ibadah.
  2. Orang yang sedang berhadast kecil tidak dilarang (tidak haram) menyentuh hadist qudsi, namun haram menyentuh Al-quran.
  3. Orang yang sedang berjunub (berhadast besar) tidak haram membaca hadist Qudsi tetapi haram membaca Al-Quran.
  4. Hadist Qudsi boleh diriwayatkan maknanya saja (al-riwayah bi al-ma’na) bagi orang yang paham dan mampu meriwayatkannya dengan lafadz yang tidak mengubah makna, sedangkan untuk  Al-Quran tidak boleh.
  5. Hadist Qudsi tidak boleh dibaca di dalam shalat, bahkan membatalkan shalat, sebaliknya dengan al-quran.
  6. Hadits Qudsi tidak dinamakan sebagai Al-Quran.
  7. Orang yang membaca hadist Qudsi tidak diberikan pahala yang sama seperti orang yang membaca Al-Quran, namun masih diberikan pahala membaca bagian dari ilmu syar`iyah saja.
  8. Hadist Qudsi tidak ada larangan menjualnya dan juga dimakruhkan secara ittifaq ulama, bahkan boleh, sedangkan Al-Quran ada khilafiyah para ulama tentang hukum menjualnya.
  9. Bagian dari hadist Qudsi tidak dinamakan ayat dan surat secara ittifaq ulama.
  10. Kedudukan dadist Qudsi adalah zhanny, karena hadist Qudsi diriwayatkan secara ahad, maka orang yang ingkar terhadap hadist Qudsi tidak dianggab kafir berbeda dengan Al-Quran yang qath'i dan kufur orang yang mengingkarinya.
  11. Hadist Qudsi kebanyakan maknyanya mengandung nasehat-nasehat dan kalam hikmah bukan hukum, berbeda dengan Al-Quran yang juga banyak berisi hukum-hukum.
  12. Hadist Qudsi dinisbahkan kepada Allah secara insya' karena Allah SWT yang mengucapkannya, dan dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW secara ikhbar (menyampaikan) karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang menyampaikannya dari Allah SWT, berbeda dengan Al-Quran yang tidak di nisbahkan dan diidhafahkan kepada selain Allah SWT.
  13. Makna hadist Qudsi berasal dari Allah SWT secara mutlak yang diwahyukan melalui ilham atau mimpi atau juga melalui malaikat, sedangkan lafadznya berasal dari nabi Muhammad SAW ataupun dari malaikat, sedangkan Al-Quran, lafadz dan maknanya berasal dari Allah SWT yang disampaikan melalui wahyu yang nyata melalui malaikat.
  14. Hadist Qudsi diwahyukan oleh Allah SWT melalui ilham dan mimpi dan dituang kedalam relungan hati Rasulullah dan juga melalui lisan malaikat, sedangkan Al-Quran tidak diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW kecuali melalui perantara malaikat.

Feferensi;
Kitab Majmu’ Fatwa wa al-Rasail, Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani, cet. Dar al-Kutub al-‘Alamiyah 1971, halaman 222


Fatwa Ulama : HukumTelponan Lawan Jenis Yang Bukan Mahram

Semakin dunia ini berkembang, maka teknologi juga akan terus berkembang menjadi semakin canggih, termasuk dibidang komunikasi. Jarak bukan lagi penghalang dalam berkomunikasi. Semua orang dapat berkomunikasi sekalipun tidak saling bertemu secara fisik. Telepon salah satunya, telepon adalah alat komunikasi yang masih digunakan hingga saat ini, sekalipun sudah ada media komunikasi lain yang lebih modern, efektif dan menyenagkan bahkan dengan biaya yang lebih murah. Namun tetap saja, telpon adalah komunikasi yang paling sering digunakan, karena dapat memberikan informasi secara langsung dan tak butuh waktu lama untuk menulis. Namun terkadang, pemakaian telepon itu sendiri juga tak terlepas dari hal hal yang tidak dibenarkan dalam agama, salah satunya adalah berbicara dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.oleh karena itu Sayyid Abdullah bin Mahfudz al-haddad, pernah ditanyakan tentang hal ini. dalam kitabnya fatawa Tahummu al-Mar`ah beliau menjawab:

حكم تحدث الشاب مع الأجنبية عبر الهاتف
س : ما حكم لو قام شاب غير متزوج وتكلم مع شابة غير متزوجة في التلفون في غير حاجة؟
الجواب : اذا كان الإتصال بالتلفون لغير حاجة فإنه ينتج غيبة. وقد نهينا عن مواضع الريب قال تعالى ولكن لا تواعدوهن سرا الا ان تقولوا قولا معروفا البقرة : 235 و قد جاء هاذ في المعتدات ولكن يحسب حمله على غيرهن أيضا لمنع وخوف المواعدة السرية التي تنتخ عنها ما يحرم او يستقبح ، فإن كان لحاجة لا بأس ، كالحديث مباشرة في غير خلوة محرمة ، فإن كان لمجرد التلذذ فهو المحرم ، لأن الفتنة فيه أكبر و أعظم. والله أعلم.

Pertanyaan : bagaimana hukumnya seorang alki laki yang belum menikah berbicara lewat telepon dengan wanita yang belum menikah tanpa adanya hajat?

Jawab : Jika lawan jenis yang bukan mahram berhubungan melalui telepon tanpa ada hajat apapun maka akan menimbulkan kecurigaan dan fitnah. Dan kita dilarang untuk mendekat terhadap tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan dan fitnah. 

Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah Ayat 150 :
… وَلكِنْ لا تُواعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَنْ تَقُولُوا قَوْلاً مَعْرُوفاً ….
Artinya: Akan tetapi janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma'ruf.

Ayat ini memang konteksnya sedang membicarakan tentang wanita wanita yang sedang beriddah namun
ayat ini juga dapat dijadikan sebagai dalil dan maknanya meluas kepada penerapan makna kepada terhadap wanita wanita selain wanita yang beriddah, untuk mencegah dan mennghindari laki-laki memberi janji secara rahasia untuk menikahi seorang wanita karena akan menimbukan sesuatu yang diharamkan atau sesuatu yang keji dan buruk.

Namun jika berbicara melalui telepon karena terdapat suatu hajat maka hal ini diperbolehkan, seperti mengobrol secara langsung dalam kondisi tidak melakukan khalwat yang diharamkan. Namun jika tujuan berbicara melalui telepon hanya untuk menikmati dan memuaskan nafsu maka ini tergolong kedalam perbuatan haram, karena fitnah dari itu semua adalah fitnah yang besar dan keji. 

Kesimpulan : dari pemaparan beliau diatas, dapat disimpulkan bahwa berbicara lewat telepon sama seperti berbicara langsung, maka dapat diketahui bahwa hukum lawan jenis berbicara melalui telepon tanpa adanya keperluan adalah haram. Namun bila adanya keperluan dan tidak adanya khalwat maka hukumnya boleh. 

Wallahu a`lam.


AIBKAH JIKA SUAMI MENGALAMI EJAKULASI DINI?

Deskripsi :

Saat ini sangat banyak perceraian yang terjadi bukan karena kemiskinan dan ketidak cukupan dalam rumah tangga, melainkan karena hubungan pribadi antara suami istri yang tidak sesuai harapan. Seperti istri merasa tidak puas karena penyakit impoten, ejakulasi dini dan lain sebagainya yang dialami oleh suami.
Ternyata yang menjadi tolak ukur kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga bukan hanya pada harta semata, tetapi kenyamanan juga merupakan suatu hal yang sangat menentukan tentramnya sebuah rumah tangga. Termasuk juga hubungan yang dijalani oleh setiap pasangan suami istri.
Dalam konteks fiqih, ejakulasi dini biasa disebut dengan istilah ‘idzyauth atau juga 'adzwath yaitu orang yang air maninya keluar lebih dahulu sebelum pertemuan dua alat kelamin, sehingga sang istri tidak dapat merasakan ni’mat bersetubuh. Ejakulasi dini merupakan fenomena psikologis. Ejakulasi dini merupakan ketidak sempurnaan yang bisa menimpa lelaki manapun semenjak dahulu kala.  Ejakulasi dini bukanlah penyakit baru. Hanya istilahnya saja yang kini sering terdengar agak lebih keren.

Pertanyaan :

Bagaimana pandangan syara’ tentang ejakulasi dini? Apakah ejakulasi dini tergolong ke dalam salah satu ‘aib dalam pernikahan, sehingga boleh dijadikan sebagai alasan oleh istri untuk mengajukan cerai (fasakh nikah)?

Jawaban :
1.    Dalam pandangan islam berdasarkan pendapat yang mu’tamad ejakulasi dini bukanlah merupakan aib yang membolehkan istri untuk mengajukan cerai (fasakh).
Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj diterangkan bahwa mereka yang terbiasa dengan ejakulasi dini haruslah berusaha untuk menjadi lebih baik. Karena pada hakikatnya ejakulasi dini adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Entah dengan berolah raga ataupun mengatur pola makan dan lain sebagainya. Dengan demikian keutuhan rumah tangga masih layak dan bisa dipertahankan.

2.    Berbeda dengan kasus impoten ('unnah) sebagai penyakit yang sangat susah sekali disembuhkan
(المرض المأيوس منه زواله ) maka bagi seorang perempuan berhak mengundurkan diri sebagai seorang istri. Artinya jika ternyata seorang suami terbukti impoten (maksudnya impoten yang terjadi pada awalnya) maka seorang istri berhak memilih antara meneruskan perkawinannya atau membatalkannya. Akan tetapi ada baiknya bagi istri bersabar barang setahun barangkali ada sebab gangguan psikologis dari organ lain yang diharapkan bisa sembuh. Akan tetapi jika antara suami istri tersebut telah pernah bersetubuh walau hanya sekali, maka tidak dibolehkan lagi untuk mengajukan cerai (fasakh).


Referensi :
Kitab Tuhfahtul Muhtaj, Jilid 7, Halaman 406, Cet, Darul Fikri

وخرج بهذه الخمسة غيرها كالعذيوط بكسر أوله المهمل وسكون ثانيه المعجم وفتح التحتية وضمها ويقال عذوط كعتور، وهو فيهما من يحدث عند الجماع وفيه من ينزل قبل الإيلاج فلا خيار به مطلقا على المعتمد وسكوتهما في موضع على أن المرض المأيوس من زواله ولا يمكن معه الجماع في معنى العنة وإنما هو لكون ذلك من طرق العنة فليس قسما خارجا عنها ونقلهما عن الماوردي أن المستأجرة العين كذلك ضعيف لكن لا نفقة لها سيأتي الفسخ بالرق والإعسار ولا يشكل ثبوت الخيار بما ذكر مع ما مر أنه شرط للكفاءة وأن شرط الفسخ الجهل به لأن الفرض أنها أذنت في النكاح من معين أو من غير كفؤ فزوجها الولي منه بناء على أنه سليم فإذا هو معيب فيصح النكاح وتتخير هي وكذا هو كما يأتي (وقيل إن وجد) أحدهما (به) أي الآخر (مثل عيبه) قدرا ومحلا وفحشا (فلا) خيار لتساويهما حينئذ والأصح أنه يتخير وإن كان ما به أفحش لأن الإنسان يعاف من غيره ما لا يعاف من نفسه والكلام في غير المجنونين المطبق جنونهما لتعذر الفسخ حينئذ ولو كان مجبوبا بالباء وهي رتقاء فطريقان لم يرجحا منهما شيئا والذي اعتمده الأذرعي والزركشي أنه لا خيار وهو أوجه من اعتماد غيرهما ثبوته.




Tanda-Tanda Keikhlasan


Ikhlas adalah ruh amalan bagi setiap umat muslim, namun jika seseorang banyak melakukan amalan akan tetapi belum mendapatkan apa yang diinginkan, ketahuilah itu ada masalah dalam hati kecilnya,  salah satu masalah ialah tidak ikhlas atau ria mengharap pujian manusia dan keuntungan dunia,
Setiap sesuatu itu ada tanda  maka ikhlas juga ada tandanya sebagaimana dinyatakan oleh ulama sufi Zinnun al-Misri kutipan dalam kitab Tibyatul fi Adabi Hallati Quran halaman 22-23 karya Imam Nawawi.
وعن ذي النون رحمه الله تعالى قال ثلاث من علامات الإخلاص استواء المدح والدم من العام نسيان رؤية العمل في الأعمال اقتضاء ثواب الأعمال في الأخر

Tiga Tanda Orang Beramal  Dengan Ikhlas
  1. Dipuji atau dicela manusia baginya tetap sama saja
  2. Tidak mengingat-ingat amalan yang telah ia dikerjakan
  3. Mengharap balasan amalannya di akhirat nantinya 

Adab Seorang Guru ketika Hendak Mengajar

Sudah sepantasnya seorang guru dalam mengajarkan ilmunya mempunyai niat dan tujuan untuk melindungi para muridnya dari siksa api neraka. Sementara tugas kedua orangtua menyelamatkan anak-anaknya dari kesengsaraan hidup di alam dunia ini. Tugas seorang guru lebih berat daripada kedua orangtua. Bahkan, seorang guru adalah ayah yang sejati bagi murid-muridnya. Jika seorang ayah menjadi sebab atas keberadaan anak-anaknya pada kehidupan dunia yang fana’ ini, maka seorang guru justru menjadi sebab bagi bekal kehidupan murid-muridnya yang kekal di akhirat nanti.

Guru yang dimaksudkan di sini adalah guru yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang akhirat (ukhrawi), atau ilmu-ilmu tentang dunia (duniawi) dengan tujuan keabadian negeri akhirat. Seorang guru dinilai membinasakan diri sendiri dan juga murid-muridnya jika ia mengajar hanya demi kepentingan dunia ini semata. Maka tentu untuk mencapai ini semua dibutuhkan adab bukan hanya dari murid saja, tetapi juga dari seorang guru. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru:

1. Bersuci dari hadats besar atau kecil.
2. BerSuci dari kotoran walau bukan najis.
3. Memakai thib (wewangian).
4. Memakai pakaian yang paling nagus, yang layak menurut penduduk zamannya.
5. Semuanya diniatkan untuk membesarkan ilmu dan syari'at.

Dikisahkan bahwa Imam malik ketika datang manusia untuk meminta hadis, beliau mandi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian bagus dan meletakkan ridak di atas kepala kemudian duduk di atas semacam pelaminan (tmpat yang tinggi) dan senantiasa mengasapi ruangan dengan wangi-wangian dan beliau berkata "aku mencintai untuk mengagungkan hadis rasulullah", kemudian beliau salat istikharah (jika bukan dalam waktu makruh).

(Nb. Melakukan seperti yang dilakukan imam malik Harus betul-betul dengan niat yang lurus. kalo tidak jangan, karna syaithan punya banyak cara untuk menyesatkan)

6. Berniat nasyrul ilmi, mengajarkan ilmu, menyiarkan faedah-faedah syara', menambah ilmu, menampakkan kebenaran, mengembalikan yang haq, berkumpul dalam zikir allah, meniatkan keselamatan kepada saudara-saudaranya dan berdoa bagi pendahulu yang shalihin.

7. bila keluar rumah berdoa dengan doa

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلِّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أُزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ، عز جارك وجل ثناؤك ولا إله غيرك ثم يقول: بسم الله وبالله، حسبي الله توكلت على الله، لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم اللهم اثبت جناني وأدر الحق على لساني.

" ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu daripada bahwa aku sesat atau disesatkan dan daripada bahwa aku menzalimi atau dizalimi dan daripada berbuat bodoh atau dibodohi. maha mulia perlindungan dan sanjungan engkau dan tidak ada tuhan selain engkau. Bismillah cukup bagiku allah, Teguhkan hatiku dan tampakkan kebenaran atas lidahku "

Dan terus mengingat allah sampai ketempat pengajian. Bila sudah sampai, memberi salam bagi yang hadir dan salat 2 raka'at , jika dalam masjid maka mutlak sunnah. Kemudian berdo'a memohon taufiq, i'anah pemeliharaan, duduk menghadap kiblat jika mungkin dengan penuh hormat, tenang dan tawadhuk dengan duduk bersila dsb daripada duduk yang tidak dimakruhkan dari segala bentuk duduk.

Jangan duduk iq'ak (memeluk lutut) dan jangan duduk seperti orang yang bersiap untuk bangun dan jangan mengangkat salah satu kaki diatas yang kaki yang lain. Dan tidak menjulur kaki tanpa ozor dan jangan meletakkan tangan di pinggang atau belakang punggung dan menjaga badan dripada merangkak dan pindah dari tempatnya.

Dan menjaga dua tangan dari bermain main. Dan jangan menyilangkan jari tangan dan mnjaga mata dari mengitarkan pandangan tanpa hajat.
Dan menghindari banyak senda gurau dan banyak tawa krna banyak tawa mengurangi wibawa dan kehormatan. sebagaiamana kata orang "siapa bercannda, akan diremehkan, dan siapa memperbanyak sesuatu akan dikenal dengan sesuatu tersebut".

Dan jangan mengajar ketika lapar dan haus, susah, marah, ngantuk, cemas, dingin yang bersangatan, dan panas yang menggaggu. Karena tidak mungkin memaksimalkan fikiran.


Wallahu a'lam bisshawab.......



الفصل الثاني
في آداب العالم في درسه
وفيه اثنا عشر نوعًا:
الأول: إذا عزم على مجلس التدريس تطهر من الحدث والخبث وتنظف وتطيب ولبس من أحسن ثيابه اللائقة به بين أهل زمانه قاصدًا بذلك تعظيم العلم وتبجيل الشريعة.
كان مالك رضي الله عنه إذا جاءه الناس لطلب الحديث اغتسل وتطيب ولبس ثيابًا جددًا ووضع رداءه على رأسه ثم يجلس على منصة ولا يزال يبخر بالعود حتى يفرغ، وقال: أحب أن أعظم حديث رسول الله - صلى الله عليه وسلم -.
ثم يصلي ركعتي الاستخارة إن لم يكن وقت كراهة وينوي نشر العلم وتعليمه وبث الفوائد الشرعية وتبليغ أحكام الله تعالى التي اؤتمن عليها وأمر ببيانها والازدياد من العلم وإظهار الصواب والرجوع إلى الحق والاجتماع على ذكر الله تعالى والسلام على إخوانه من المسلمين والدعاء للمسلمين وللسلف الصالحين.
الثاني: إذا خرج من بيته دعا بالدعاء الصحيح عن النبي - صلى الله عليه وسلم - وهو: اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أضل، أو أزل أو أزل، أو أظلم أو أظلم، أو أجهل أو يجهل علي، عز جارك وجل ثناؤك ولا إله غيرك ثم يقول: بسم الله وبالله، حسبي الله توكلت على الله، لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم اللهم اثبت جناني وأدر الحق على لساني.
ويديم ذكر الله تعالى إلى أن يصل إلى مجلس التدريس فإذا وصل إليه سلم على من حضر وصلى ركعتين إن لم يكن وقت كراهة فإن كان مسجدًا تأكدت الصلاة مطلقًا، ثم يدعو الله تعالى بالتوفيق والإعانة والعصمة.
ويجلس مستقبل القبلة إن أمكن بوقار وسكينة وتواضع وخشوع متربعًا أو غير ذلك مما لم يكره من الجلسات، ولا يجلس مقعيًا ولا مستوفزًا ولا رافعًا إحدى رجليه على الأخرى، ولا مادًا رجليه أو إحداهما من غير عذر، ولا متكئًا على يده إلى جنبه وراء ظهره.
وليصن بدنه عن الزحف والتنقل عن مكانه ويديه عن العبث والتشبيك بها، وعينيه عن تفريق النظر من غير حاجة، ويتقي المزاح وكثرة الضحك فإنه يقلل الهيبة ويسقط الحشمة كما قيل: من مزح استخف به ومن أكثر من شيء عرف به.
ولا يدرس في وقت جوعه أو عطشه أو همه أو غضبه أو نعاسه أو قلقه، ولا في حال برده المؤلم وحره المزعج؛ فربما أجاب أو أفتى بغير الصواب، ولأنه لا يتمكن مع ذلك من استيفاء النظر.

تَذْكِرَةُ السَّامِعِ والمُتَكَلِّم في أَدَب العَالِم والمُتَعَلِّم
للشيخ العالم بدر الدين أبو عبد الله
محمد بن إبراهيم بن سعد الله
ابن جماعة الكناني

Khususiat Umat Nabi Muhammad SAW


Khususiat adalah suatu kelebihan atau keutamaan umat Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan Nabi terdahulu
Sebagian yang khususiat umat Nabi Muhammad ialah:
  1. Puasa bulan Ramadhan
  2. Allah melihat dengan pandangan kasih sayang kepada umat Nabi Muhammad pada awal Ramadhan
  3. Dihiasi syurga dalam bulan Ramadhan
  4. Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari miski
  5. Malaikat mengucap istighfar bagi orang berbuka puasa
  6. Ikan-ikan meminta ampun ketika umat Nabi Muhammad ketika berbuka puasa
  7. Sunnah sahur
  8. Sunat mentakhirkan sahur
  9. Menyegera berbuka puasa
  10. Boleh makan/jimak hingga sebelum keluar fajar pada malam bulan Ramadhan
  11. Mengucap :وإنا لله وإنا إليه راجعون  ketika musibah
  12. Umat yang paling pertama masuk syurga
  13. Syariat wuzuk
  14. Tayammum
  15. Boleh makan kambing/biri-biri/domba
  16. Shalat lima waktu
  17. Membaca "amiin" sesudah Surat al-Fatihah
  18. Ruku' dalam shalat
  19. Shaf jamaah seperti shaf para malaikat
  20. Syariat shalat Jum'at
  21. Waktu-waktu istajabah doa pada hari Jum'at
  22. Tidak dipotong anggota badan ketika bernajis
    Hasyiah Jamal Juz II Hal. 328
(تنبيه)
من خصائص هذه الأمة صوم رمضان ونظر الله إليهم أوله وتزين الجنة فيه وخلوف أفواههم، واستغفار الملائكة لهم حين يفطرون، وعموم المغفرة لهم آخر ليلة من رمضان، واستغفار الحيتان لهم حين يفطرون، والسحور وتأخيره وتعجيل الفطر وإباحة الطعام، والجماع إلى الفجر، والاسترجاع عند المصيبة اهـ. شوبري.
وعبارة حج على الهمزية: من خصوصيات هذه الأمة أن أحدا لا يدخل الجنة قبلهم، ومنها: الوضوء على الكيفية المخصوصة، والتيمم، وإباحة الغنائم، وأن كل الأرض تصح الصلاة فيها، ويجوز جعلها مسجدا، ومجموع الصلوات الخمس، والتأمين خلف الفاتحة، والركوع وأن صفوفهم في صلاتهم كصفوف الملائكة، والجمعة وساعة الإجابة في يومها، ورمضان، ونظر الله لهم أوله، وتزيين الجنة فيه، وخلوف أفواههم أطيب عند الله من ريح المسك واستغفار الملائكة لهم حين يفطرون، وعموم المغفرة لهم آخر ليلة منه، واستغفار الحيتان لهم حين يفطرون، والسحور وتأخيره، وتعجيل الفطر، وإباحة الطعام، والجماع إلى الفجر، والاسترجاع عند المصيبة، ورفع أثقال التكليفات التي كانت على من قبلهم كتحتم القصاص حتى في الخطأ وقطع الأعضاء الخاطئة، وموضع النجاسة وقتل النفس في التوبة، والمؤاخذة بالخطأ، والنسيان وما استكرهوا عليه


Hari Yang Disunatkan Memotong Kuku





Pikiran yang jernih terletak pada badan yang sehat, kebersihan adalah salah satu fitrah yang menjadi kebutuhan manusia untuk melangsungkan kehidupan yang stabil. Tidak pernah alpa di dalam syariat Islam hal ini telah diatur sedemikian rupa, maka dalam literatur Islam sendiri para ulama telah mengkaji secara ilmiah dan dengan jalan tajarrubat (percobaan), ternyata banyak sekali syariat Islam yang menganjurkan kebersihan diri-sendiri, tempat tinggal hingga lingkungan  hidup, salah satunya adalah kebersihan badan mengenai anjuran memotong kuku, memotong kuku ini bagian dari sunnah Rasulullah SAW.
Artikel ini akan menjadi sedikit tambahan referensi serta pedoman  dalam sepak-terjang keseharian kita, manakah hari-hari yang afdhal untuk memotong kuku. Syaikh Ibrahim al Bajuri menjelaskan dalam tulisannya sebagai berikut :

ومثل يوم الجمعة فى سن ذلك يوم الخميس ويوم الاثنين دون بقية الايام

قَصُّ الْأَظَافِرِ يَوْمَ السَّبْتِ اٰكِلَةٌ * تَبْدُوْ وَفِيْمَا يَلِيْهِ يُذْهِبُ الْبَرَكَهْ

وَعَالِمٌ فَاضِلٌ يَبْدُوْ بِتَلْوِهِمَا  *  وَاِنْ يَكُنْ فِي الثُّلَاثَا فَاحْذَرِ الْهَلَكَهْ

وَيُوْرِثُ السُّوْءَ فِي الْأَخْلَاقِ رَابِعُهَا  *  وَفِي الْخَمِيْسِ الْغِنٰى يَأْتِىْ لِمَنْ سَلَكَهْ

وَالْعِلْمُ وَالْحِلْمُ زِيْدَا فِىْ عُرُوْبَتِهَا  *  عَنِ النَّبِيِّ رُوَيْنَا فَاقْتَفُوْا نُسُكَهْ
Hasyiah al-Bajuri Juz I Hal. 221


Hari - hari yang disunatkan memotong kuku
  • Hari Jum'at
  • Hari Kamis
  • Hari Senin
  1. Memotong kuku pada hari Sabtu menimbulkan penyakit yang menggrogoti badan
  2. Hari Ahad menyebabkan hilang berkah
  3. Hari Senin menjadi orang alim lagi ladhil (pintar dan utama)
  4. Hari Selasa menyebabkan kebinasaan
  5. Hari Rabu menyebabkan buruk akhlak
  6. Hari Kamis mendatangkan kekayaan
  7. Hari Jumat menambah ilmu dan sifat santun.

Makhruh hukumnya jika hanya memotong kuku satu tangan saja (memotong kuku tangan kanan tidak memotong kuku tangan kiri/memotong kuku tangan kiri saja tidak memotong kuku tangan kanan), begitu pula makhruh jika hanya memotong kuku kaki sebelahnya saja


Macam - Macam Tidur


(فائدة) 

النوم على سبعة أقسام نوم الغفلة ونوم الشقاوة ونوم اللعنة ونوم العقوبة ونوم الراحة ونوم الرحمة ونوم الحسرات أما نوم الغفلة فالنوم في مجلس الذكر ونوم الشقاوة النوم في وقت الصلاة ونوم اللعنة النوم في وقت الصبح ونوم العقوبة النوم بعد الفجر ونوم الراحة النوم قبل الظهر ونوم الرحمة النوم بعد العشاء ونوم الحسرات النوم في ليلة الجمعة اهـ من هامش الحصن الحصين

Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sangat sempurna, karena pada diri manusia terdapat dua unsur yang tidak dimilki oleh makhluk-makhluk lain yaitu aqal dan nafsu jika manusia dominan dipengaruhi akal niscaya ia naik tingkatan malaikat, namun jika sebaliknya dipengaruhi nafsu ia akan turun derajatnya akan lebih rendah dari hewan.
Sungguh Allah maha adil yang telah memberikan kita berbagai nikmat salah satunya Allah menciptakan waktu-waktu yang dianjurkan untuk istirahat diantara waktu-waktu untuk istirahat ada yang baik, namun ada juga yang kurang afdhal ini penjelasan A'lamah Syaikh Sulaiman bin Mansur, salah ulama bermazhab Syafi'i yang wafat pada tahun 1204 H.

Tidur Ada Tujuh Macam
1. Tidur lalai
2. Tidur celaka
3. Tidur laknat
4. Tidur siksaan
5. Tidur senang (istirahat)
6. Tidur rahmat
7. Tidur rugi

Penjelasan

1) Tidur lalai ialah tidur di majelis zikir/ilmu
2) Tidur celaka ialah tidur saat sudah waktu shalat
3) Tidur laknat ialah tidur di waktu subuh
4) Tidur siksaan ialah tidur sesudah fajar
5) Tidur senang (istirahat) ialah tidur sebelum zuhur
6) Tidur rahmat ialah tidur setelah Isya
7) Tidur rugi ialah tidur di malam Jum’at

Kitab Hasyiah Jamal Juz I Hal. 274

Hukum Menjawab Salam Penyiar Radio dan TV

Sering kali kita mendengar saat penyiar radio membuka acaranya, di mulai dengan memberi salam kepada semua pendengar radio. Namun dalam acara-acara tertentu, kadang juga penyiar memberikan salam kepada orang tertentu secara khusus. Hal yang sama juga kadang kita temukan pada pembawa acara di televisi. Lalu bagaimana status salam tersebut? Apakah sunat menjawabanya? Pertanyaan ini sudah di jawab oleh seorang ulama Yaman, Muhammad bin Salim bin Hafidh ibnu Syeikh Abi Bakar bin Salim dalam kitab Fatawa beliau yang di kumpulkan oleh anak beliua.

Berikut ini nash pertanyaan dan jawaban serta terjemahannya dari kami.



Apakah wajib menjawab salam yang dipancarkan dari stasiun radio bagi para pendengar sebagai kebiasaan yang terjadi ketika berlangsungnya siaran radio?

Jawab
Tidak wajib menjawab salam bagi pendengar radio. Hal ini karena (penyiar) yang memberi salam tidak ada kasad dari salamnya kepada orang yang ditentukan, karena tidak bisa dipastikan siapa saja yang mendengar radio tersebut, kemudian bahkan kadang yang mendengarnya adalah orang-orang yang tidak dituntut untuk menjawab salam seperti wanita ajnabiyah dan kafir, selain itu para ulama menyebutkan; disunatkan memberi salam ketika bertemu atau berpisah, sedangkan penyiar ini bukan orang yang baru datang atau berpisah.
Imam nawawi menyebutkan dalam kitab al-Azkar "berkata Abu Sa'ad al-Mutawalli dan lainny, apabila memanggil seseorang dari belakang satir atau belakang pagar kemudian ia berkata; assalamu 'alaikum ya fulan, ataupun ia menulis surat yang berisi as-salam alaikum hai fulan, atau ia mengirim utusan dan berkata kepada utusannya "sampaikan salamku kepada si fulan", kemudian sampai surat tersebut kepadanya atau utusan tersebut (telah menyampaikan salamnya) maka wajib baginya untuk menjawab salam tersebut. (al-Azkar hal 237 Dar Fikr)

Maka jika seandainya penyiar radio menentukan orang (yang dituju dengan salamnya) misalnya ia berkata "as-salam alaikum hai fulan" dengan keyakinan ia mendengar salamnya tersebut saat itu, dan ternyata memang ia mendengarnya maka pendengar tersebut wajib menjwab salamnya sebagaimana yang dipahami dari penjelasan yang telah disebutkan di atas. Wallahu a'lam.

Di tulis oleh Syeikh Muhammad bin Salim bin Hafidh ibnu Syeikh Abi Bakar bin Salim, semoga Allah memeliharanya, pada tanggal 12 Zul qa'dah 1376 H.

Fatawa al-Faqih asy-Syahid Ibn Hafidh, jilid 2 hal 391-392, Dar Maqasid

Kesimpulannya, tidak wajib menjawab salah penyiar radio dan pembaca acara TV baik acara tersebut live ataupun siaran ulang, kecuali salam yang diucapakan oleh penyiar kepada pendengar yang khusus dalam siaran langsung.

Hukum memberikan sedekah kepada pengemis

Deskripsi masalah:

Tak bisa dipungkiri bahwa pengemis sudah menjadi pemandangan umum yang menghiasi negeri ini. Dengan alasan ekonomi dan keadaan yang mendesak membuat mereka tak ada pilihan lain untuk hidup selain daripada mengemis. Mereka biasanya mangkal ditempat-tempat yang sering dilalui orang banyak seperti persimpangan kota, SPBU, dipinggir jalan dan tempat-tempat lain yang mereka anggap sangat tepat sebagai ladang untuk meminta-minta. Apalagi selama bulan puasa dan mendekati lebaran banyak para pengemis musiman menjamur disetiap sudut ibukota.

Pertanyaan:

Terlepas dari bagaimana latar belakang kehidupan mereka sehingga kemudian menjadi pengemis, bagaimanakah hukum memberikan uang kepada pengemis tersebut?

Jawaban:

Pada dasarnya, sunat memberikan sedekah kepada setiap orang. Namun, jika kita punya praduga yang kuat bahwa uang tersebut akan dipergunakan pada kemaksiatan maka hukum memberikannya adalah haram.


Referensi:

Tuhfatul muhtaj 6 : 340 cet. Darl fikr


والأصل في جوازها بل ندبها بسائر أنواعها الآتية قبل الإجماع الكتاب، والسنة وورد «تهادوا تحابوا» أي: بالتشديد من المحبة وقيل بالتخفيف من المحاباة وصح «تهادوا فإن الهدية تذهب بالضغائن» وفي رواية «فإن الهدية تذهب وحر الصدر» وهو بفتح المهملتين ما فيه من نحو حقد وغيظ نعم يستثنى من ذلك أرباب الولايات والعمال فإنه يحرم عليهم قبول الهبة والهدية بتفصيله الآتي في القضاء وقد بسطت ذلك في تأليف حافل ويحرم الإهداء
لمن يظن فيه صرفها في معصية

Hasyiyah Syarwani ‘ala Tuhfatil muhtaj 6 : 340 cet. Darl fikr


(قوله: والسنة) كخبر الصحيحين «لا تحقرن جارة لجارتها ولو فرسن شاة» أي ظلفها شرح منهج ومغني قال البجيرمي قوله لا تحقرن بابه ضرب مختار أي: لا تستصغرن هدية لجارتها ع ش



Mengapa ihdad (masa berkabung) kepada istri saja?

Deskripsi masalah:

Hidup tak selamanya indah seperti yang diharapkan oleh semua orang, kenyataan yang terjadi kadang tak sejalan dengan harapan, cobaan menjadi bagian yang menghiasi hidup manusia di alam semesta ini. Kematian merupakan bagian yang menjadi proses kehidupan yang harus dijalani oleh setiap orang, menjalani setiap garis takdir yang telah ditetapkan jauh sebelum manusia lahir ke dunia, berlapang dada dengan keadaan yang ada adalah langkah terbaik bagi setiap muslim tatkala cobaan datang menerpa dalam setiap ruang kehidupan. Meski meninggalkan luka dan kesedihan yang mendalam bagi yang ditinggalkan, namun tiada jalan lain selain sabar atas cobaan yang menimpa. Dalam tatanan hukum islam, menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh tidak untuk dijalani oleh seorang istri yaitu ihdad ( masa berkabung ) selama masa iddah terhadap suaminya yang meninggal. Iddah adalah keadaan seorang istri untuk mencegah dirinya daripada berhias selama masa iddah berlangsung. Memakai pakaian yang dicelup warna yang dimaksudkan untuk perhiasan, menggunakan wewangian dan segala unsur mempercantik diri dan juga keluar rumah tanpa ada kebutuhan menjadi patokan hukum yang wajib dihindari oleh seorang istri dalam masa tersebut. Dan boleh baginya untuk melakukan ihdad terhadap kerabat/saudaranya yang meninggal atau bahkan ajnabi ( seperti meninggal ulama dan ahli ilmu ) dengan catatan tidak lebih dari tiga hari.

Pertanyaan:

Dalam islam, mengapa ihdad hanya berlaku dan diwajibkan bagi istri saja sedangkan suami tidak???

Jawaban:

Karena kodratnya seorang perempuan dalam pandangan agama adalah makhluk yang kurang akal dan lemah dalam berfikir sehingga dalam situasi tertentu dia tidak bisa bersabar dengan keadaan yang ada.


Referensi:

Mughni muhtaj Hal 104 Juz 5 maktabah syamela

تنبيه كلام المصنف يفهم أن الرجل ليس له الإحداد على قريبه ثلاثة أيام وهو كذلك وما قاله الإمام من أن التحزن في المدة لا يختص بالنساء منعه ابن الرفعة فإنه شرع للنساء لنقص عقلهن المقتضي عدم الصبر مع أن الشارع أوجب على النساء الإحداد دون الرجال

Hasyiyah Bujairimi ‘ala Al Khatib Juz 4 Hal 60

فلو تركت ذلك بلا قصد لم تأثم وخرج بالمرأة الرجل فلا يجوز له الإحداد على قريبه ثلاثة أيام لأن الإحداد إنما شرع للنساء لنقص عقلهن، المقتضي عدم الصبر




donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja