Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Fungsi Na’at

Berikut ini merupakan beberapa fungsi dari na'at (sifat) :

1. Mengkhususkan (التخصيص) man’ut (yang diberi sifat) apabila yang menjadi man’ut ialah isem nakirah. Contohnyaجاء رجل صالح Maksud dengan takhsis (التخصيص) ialah menghilangkan keserupaan maknawiah yang terjadi pada nakirah dengan perantaraan wadha’ (peletakannya).

2. Memperjelas (التوضيح) man’ut apabila yang menjadi man’ut adalah isem makrifah. Contohnyaجاء زيد العالم Maksud dengan taudhih (التوضيح) adalah menghilangkan keserupaan lafdhi yang terjadi pada mkrifah dengan perantaraan ittafaq.

3. Memuji man’ut dengan memperjelas sifat yang sempurna pada man’ut. Contohnyaبسم الله الرحمن الرحيم

4. Mencela man’ut. Contohnya أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

5. Mengutarakan perasaan kasih sayang terhadap man’ut. Contoh يا الله ارحم عبدك المسكين

6. Memperkuat kalam. Contoh تلك عشرة كاملة

7. Ta’mim /meluaskan kalam.

8. Tafsil/mengurai kalam.

9. Ibham/menyamarkan kalam.

 10. Memberitahu pendengar bahwa sipembicara mengetahui dengan kondisi man’ut. 11. Tafsir/memperjelaskan kalam.

-al-Kawakib ad-durriyyah Syarah Mutammimah Al-Jarummiah Juz 2 Hal 218-219 Cet Haramain

Kewajiban Memenuhi Undangan Walimah

Deskripsi Masalah:

Dalam islam, disaat laki laki mau menjadikan seorang perempuan sebagai istrinya maka harus melalui jalur pernikahan. Umumnya, setelah nikah membuat resepsi/pesta atau walimatul ‘ursy dengan tujuan memberikan kabar gembira kepada kerabat atau keluarga, serta sebagai wujud dari rasa syukur kita terhadap Allah SWT. Islam tidak melarang ummatnya untuk melakukan sebuah resepsi pernikahan. Pada dasarnya wajib menghadiri walimah, bila tidak ada hal-hal yang menggugurkan kewajibannya.

Pertanyaan:

Apa sajakah kewajiban seseorang memenuhi undangan walimah?

Jawaban:

Terhadap yang diundang wajib hukumnya memenuhi undangan dengan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Undangannya tidak terkhusus untuk orang kaya. Jika undangannya khusus untuk orang kaya maka hilang tuntutan memenuhi undangannya.

2. Diundang pada hari pertama yaitu undangan khusus. Orang yang bersangkutan yang mengundangnya atau melalui utusannya.

Maka jika yang mengundang membuka pintunya dan berkata, Hadirilah siapa saja yang mau, atau siapa yang mengkehendakinya, maka tdk wajib menghadirinya.
Kemudian jika diadakan pesta 3 hari tdk wajib memenuhi undangan pada hari ke2 dan makruh memenuhi pada hari ke3.

ﺎﻝ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «اﻟﻮﻟﻴﻤﺔ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻷﻭﻝ ﺣﻖ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﺭﻳﺎء ﻭﺳﻤﻌﺔ ﺭﻭاﻩ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﺴﻨﻦ اﻷﺭﺑﻌﺔ

Nabi Muhammad SAW bersabda : “pesta di hari pertama itu yang benar. Pada hari ke2 itu baik. Dan pada hari ke3 itu riya dan sum'ah. HR. Pengarang sunan-sunan yang empat”

4. Diundang bukan karena takut atau terobsesi dengan kedudukan, Tetapi karena ibadah atau kasih sayang.
Maka jika Diundang karena takut atau terobsesi dengan kedudukan, maka tidak dituntut memenuhi undangan.

5. Di tempat undangan tidak ada orang yang menyakitinya atau yang tidak pantas duduk dengannya seperti orang orang keji. Jika ada maka itu bisa menjadi alasan (dalam pandangan syara') untuk tidak memenuhi undangan.

6. Tiada kemungkaran di tempat undangan, seperti minum minuman keras, memainkan alat alat musik, dan menggunakan wadah wadah emas dan perak.
Jika kemungkaran itu hilang dengan kehadirannya maka hendaknya dia hadir untuk memenuhi undangan dan menghilangkan kemungkaran, berbeda halnya jika dia tidak mengetahuinya sehingga dia hadir maka dia melarang mereka. Dan apabila mereka tidak berhenti maka wajib keluar kecuali bila dia takut keluar, misalnya waktu malam solusinya dengan duduk tenang tanpa mneikmatinya. Jika kemungkaran merupakan perkara khilafiyah (kontradiktif) seperti minum tuak (terbuat dari selain anggur segar) maka haram hadir atas orang yang berprinsip itu haram.
Termasuk kemungkaran adalah tilam sutera, gambar makhluk hidup yang dilukis di atap, dinding, atau bantal yang didirikan atau tirai yang digantung atau baju yang dipakai baik yang dilantai, hamparan yang diinjak dan bantal untuk bertelekan (tiduran menyamping dengan satu tangan dilipat dan telapak tangan menyangga kepala) dan makhluk hidup tanpa kepala dan gambar gambar pohon.
Perbedaannya sesungguhnya sesuatu yang diinjak dan dilempar berarti hina dan remeh. Sedangkan sesuatu yang didirikan berarti mulia serupa dengan patung patung.
Haram menggambar makhluk hidup di tembok tembok dan atap atap. Begitu juga di tanah (lantai) dan tenunan baju menurut pendapat Shahih.

ﻗﺎﻝ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - «ﺃﺷﺪ اﻟﻨﺎﺱ ﻋﺬاﺑﺎ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ اﻟﺬﻳﻦ ﻳﺼﻮﺭﻭﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﺼﻮﺭ

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Manusia yang paling pedih siksaan
nya pada hari kiamat adalah orang orang yang mengambar gambar gambar ini” 

-Al-Mahalli Juz 3 Hal 296-298 Cet, Beirut

ﺇﻧﻤﺎ ﺗﺠﺐ) اﻹﺟﺎﺑﺔ (ﺃﻭ ﺗﺴﻦ) ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ (ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺨﺺ اﻷﻏﻨﻴﺎء) ﺑﺎﻟﺪﻋﻮﺓ ﻓﺈﻥ ﺧﺼﻬﻢ ﺑﻬﺎ اﻧﺘﻔﻰ ﻃﻠﺐ اﻹﺟﺎﺑﺔ ﻋﻨﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﻋﻮ اﻟﻔﻘﺮاء ﻣﻌﻬﻢ (ﻭﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮﻩ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻷﻭﻝ) ﺃﻱ ﻳﺨﺼﻪ ﺑﺎﻟﺪﻋﻮﺓ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﺃﻭ ﺑﻤﺮﺳﺎﻟﻪ، ﻓﺈﻥ ﻓﺘﺢ ﺩاﺭﻩ ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻴﺤﻀﺮ ﻣﻦ ﺷﺎء ﺃﻭ ﻣﻦ ﺷﺎء ﻓﻼﻥ، ﻓﻼ ﺗﻄﻠﺐ اﻹﺟﺎﺑﺔ ﻫﻨﺎ، ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻷﻭﻝ ﺃﻛﻤﻞ اﻟﻤﺮاﺩ
ﺑﺎﺷﺘﺮاﻃﻪ ﺑﻘﻮﻟﻪ، (ﻓﺈﻥ ﺃﻭﻟﻢ ﺛﻼﺛﺔ ﻟﻢ ﺗﺠﺐ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻲ) ﻗﻄﻌﺎ ﻭاﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻬﺎ ﻓﻴﻪ ﺩﻭﻥ اﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻬﺎ ﻓﻲ اﻷﻭﻝ (ﻭﺗﻜﺮﻩ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺚ) ﻗﺎﻝ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «اﻟﻮﻟﻴﻤﺔ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻷﻭﻝ ﺣﻖ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﺭﻳﺎء ﻭﺳﻤﻌﺔ» ﺭﻭاﻩ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﺴﻨﻦ اﻷﺭﺑﻌﺔ (ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﻟﺨﻮﻑ) ﻣﻨﻪ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺤﻀﺮﻩ (ﺃﻭ ﻃﻤﻊ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻪ) ﺑﻞ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻠﺘﻘﺮﺏ ﺃﻭ اﻟﺘﻮﺩﺩ ﻓﺈﻥ ﺃﺣﻀﺮﻩ ﺃﻱ ﺩﻋﺎﻩ ﻟﻠﺨﻮﻑ ﺃﻭ اﻟﻄﻤﻊ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﻳﻦ اﻧﺘﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻃﻠﺐ اﻹﺟﺎﺑﺔ. (ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺛﻢ ﻣﻦ ﻳﺘﺄﺫﻯ) ﻫﻮ (ﺑﻪ ﺃﻭ ﻻ ﻳﻠﻴﻖ ﺑﻪ ﻣﺠﺎﻟﺴﺘﻪ
) ﻛﺎﻷﺭاﺫﻝ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ، ﻓﻬﻮ ﻣﻌﺬﻭﺭ ﻓﻲ اﻟﺘﺨﻠﻒ (ﻭﻻ ﻣﻨﻜﺮ) ﻛﺸﺮﺏ ﺧﻤﺮ ﻭﺿﺮﺏ ﻣﻼﻩ ﻭاﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺃﻭاﻧﻲ اﻟﺬﻫﺐ ﺃﻭ اﻟﻔﻀﺔ (ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻳﺰﻭﻝ ﺑﺤﻀﻮﺭﻩ ﻓﻠﻴﺤﻀﺮ) ﺇﺟﺎﺑﺔ ﻟﻠﺪﻋﻮﺓ، ﻭﺇﺯاﻟﺔ ﻟﻠﻤﻨﻜﺮ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺰﻝ ﺑﺤﻀﻮﺭﻩ ﺣﺮﻡ اﻟﺤﻀﻮﺭ، ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻤﻨﻜﺮ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﺣﻀﺮ ﻧﻬﺎﻫﻢ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻨﺘﻬﻮا ﻭﺟﺐ اﻟﺨﺮﻭﺝ ﺇﻻ ﺇﺫا ﺧﺎﻑ ﻣﻨﻪ ﺑﺄﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ، ﻓﻴﻘﻌﺪ ﻛﺎﺭﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻤﻊ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ اﻟﻤﻨﻜﺮ ﻣﺨﺘﻠﻔﺎ ﻓﻴﻪ ﻛﺸﺮﺏ اﻟﻨﺒﻴﺬ ﺣﺮﻡ اﻟﺤﻀﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺘﻘﺪ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ (ﻭﻣﻦ اﻟﻤﻨﻜﺮ ﻓﺮاﺵ ﺣﺮﻳﺮ ﻭﺻﻮﺭﺓ ﺣﻴﻮاﻥ) ﻣﻨﻘﻮﺷﺔ (ﻋﻠﻰ ﺳﻘﻒ ﺃﻭ ﺟﺪاﺭ ﺃﻭ ﻭﺳﺎﺩﺓ) ﻣﻨﺼﻮﺑﺔ (ﺃﻭ ﺳﺘﺮ) ﻣﻌﻠﻖ (ﺃﻭ ﺛﻮﺏ ﻣﻠﺒﻮﺱ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺽ ﻭﺑﺴﺎﻁ) ، ﻳﺪاﺱ (ﻭﻣﺨﺪﺓ) ﻳﺘﻜﺄ ﻋﻠﻴﻬﺎ (ﻭﻣﻘﻄﻮﻉ اﻟﺮﺃﺱ ﻭﺻﻮﺭ ﺷﺠﺮ) ، ﻭاﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥ ﻣﺎ ﻳﻮﻃﺄ ﻭﻳﻄﺮﺡ ﻣﻬﺎﻥ ﻣﺒﺘﺬﻝ، ﻭاﻟﻤﻨﺼﻮﺏ ﻣﺮﺗﻔﻊ ﻳﺸﺒﻪ اﻷﺻﻨﺎﻡ (ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺗﺼﻮﻳﺮ ﺣﻴﻮاﻥ) ﻋﻠﻰ اﻟﺤﻴﻄﺎﻥ ﻭاﻟﺴﻘﻮﻑ ﻭﻛﺬا ﻋﻠﻰ اﻷﺭﺽ، ﻭﻓﻲ ﻧﺴﺞ اﻟﺜﻴﺎﺏ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﻗﺎﻝ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - «ﺃﺷﺪ اﻟﻨﺎﺱ ﻋﺬاﺑﺎ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ اﻟﺬﻳﻦ ﻳﺼﻮﺭﻭﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﺼﻮﺭ» 




Hal Menarik Dibalik Nama Muhammad

Lafadz Muhammad ( محمّد ) dalam ilmu nahwu dinamakan ‘alam manqul dari isim maf’ul fi’il mubalaghah yaitu “ حمّد”, dikarenakan banyak sekali perkara-perkara yang terpuji terdapat pada diri Rasulullah SAW sehingga beliau dinamakan dengan nama "محمّد”. Nama Muhammad merupakan nama Rasulullah SAW di bumi, sedangkan nama beliau yang populer di langit yaitu “أحمد”, sebelum nabi kita dilahirkan dan di beri nama Muhammad terdapat lima belas orang yang bernama Muhammad (محمّد), sedangkan nama Ahmad (أحمد) tidak diperdapatkan sebelumnya. Terdapat beberapa hadist yang menganjurkan kepada kita untuk memberikan nama seseorang dengan nama muhammad (محمّد ) atau ahmad (أحمد) diantaranya ialah :

1. Hadist Qudsi dari riwayat abu na’im :

قال الله تعالى : لا أعذب أحدا تسمى بإسمك بالنار
Artinya : “ Berfirmanlah Allah ta’ala, tidak aku azab dengan neraka orang-orang yang namanya sama dengan nama engkau.”

2. Dalam riwayat lain :

قال الله تعالى : إنى آليت على نفسى أن لا يدخل النار مَن إسمه أحمد و محمّد
Artinya : “ Sesungguhnya aku bersumpah atas diriku bahwa tidak akan pernah masuk neraka orang-orang yang namanya Ahmad dan Muhammad.”

-Al-Kawakib ad-Durriyah ala Mutamimmah al-Ajrumiyah Juz 1 Hal 5 Cet, Haramain

Simak Juga :
https://www.youtube.com/watch?v=FVOUFKSU3ew

Perbedaan Qaedah Dan Dhabit

Pada dasarnya Qaedah dan dhabit memiliki pengertian yang sama. Namun para ulama generasi terakhir membuat perbedaaan antara keduanya. Mereka mendefinisikan Qaedah sebagai suatu ketentuan yang mencakup permasalahan yang banyak dalam bab yang banyak pula dalam fiqh. Contohnya seperti :الامور بمقاصدها Qaedah ini mencakup permasalahan ibadat, jinayat, akad, jihad, perbudakan dan lain-lain. Adapun dhabit adalah regulasi yang hanya memayungi permasalahan yang banyak dalam satu bab tertentu saja. Contohnya seperti :


لا تصوم المرأة تطوعا ال باذن الزوج أو كان مسافرا

Imam Suyuthi berkata : Qaedah menghimpun beberapa furu’ dalam bab yang bervariasi. Sedangkan dhabit menghimpun beberapa furu’ dalam bab yang satu.
Perbedaan Qaedah dan dhabit hanya terjadi menurut perspektif sebagian besar ulama saja. Hakikatnya, keduanya tidak memiliki perbedaan yang prinsipil. karena banyak ulama menyebut Qaedah fiqh, padahal pada esensinya adalah dhabit.

Referensi : Hasyiah Syeikh Zakaria ‘ala Jamil Jawami’ Juz 1 Halaman 7

Simak Juga :

https://www.youtube.com/watch?v=M7rXAT5CGhw

Bahaya Narkotika Bagi Kehidupan

Dewasa ini, penggunaan narkotika sudah sangat marak di tengah-tengah masyarakat khususnya anak muda. Narkotika bukan merupakan barang baru, tapi sudah dikenal dan digunakan sejak zaman dahulu kala. Baik sebagai obat-obatan atau pelengkap dalam ritual pemujaan.
Di samping mempunyai manfaat untuk pengobatan, narkotika seperti ganja, opium, dan kokain juga berbahaya bagi tubuh manusia apalagi jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih.
Para ulama menyebutkan, Narkotika seperti ganja mempunyai 120 bahaya yang mengancam kehidupan dan agama. Seperti menyebabkan kelupaan, pusing, merusak akal, TBC, muntah, kusta dan banyak penyakit lain. Juga dapat menyebabkan terbuka rahasia, menimbulkan perbuatan keji, berkurang rasa malu, dan hilang kewibawaan.
Di antara bahaya yang paling dahsyat adalah dapat menyebabkan seseorang lupa mengucapkan syahadah ketika sakaratul maut. Padahal hal tersebut merupakan tujuan akhir dari seorang mukmin yang sangat mendambakan akhir dari kehidupannya dalam keadaan beriman kepada Allah SWT.

Referensi : Hasyiah I’anatutthalibin Juz 4 Hal 156 Cet, haramain

(قوله: والحشيشة) أي وككثير الحشيشة.واعلم: أن العلماء قد ذكروا في مضار الحشيشة نحو مائة وعشرين مضرة دينية ودنيوية: منها أنها تورث النسيان والصداع وفساد العقل والسل والاستسقاء والجذام والبرص وسائر الامراض وإفشاء السر وإنشاء الشر وذهاب الحياء وعدم المروءة وغير ذلك، ومن أعظم قبائحها أنها تنسي الشهادة عند الموت، وجميع قبائحها موجود في الافيون والبنج ونحوهما


Simak juga : 

https://www.youtube.com/watch?v=MBGivBGfvak


Seputar Lalat

Diantara banyak mahkluk hidup Yang telah di ciptakan oleh Allah swt ialah lalat, Dasar kata lalat dalam bahasa arab ialah ذباب , dasar kata-kata ذباب ialah ذب – أب , secara harfiah kata-kata ذب bermakna طرد artinya mengusir,sedangkan kata-kata أب bermakna رجع artinya kembali, kenapa demikian karena setiap kali lalat di usir maka ia akan kembali, lalat hanya bertahan hidup maksimal 40 hari, semua lalat kelak dalam neraka untuk mengazab penghuni neraka, lalat tidak pernah hinggab di tubuh dan pakaian Rasulullah saw, lalat merupakan makhluk yang paling bodoh karena dia akan menjatuhkan dirinya kedalam hal-hal yang membinasakannya, lalat bernama Abu Hamzah.

( Hasyiah I’anatut Thalibin Juz 1, Hal 105 Cet, Haramain )

قال بعضهم الذباب مركب من ذب آب أي طرد رجع لأنه كلماطرد رجع ولا يعيش أكثر من اربعين يوما وكله في النار لتعذيب اهلها لا لتعذيبه وكان لا يقع علي جسده صلي الله عليه وسلم ولا علا ثيابه وهو اجهل الخلق لانه يلقي نفسه علي ما فيه هلاكه وإسمه ابو همزة. انتهي...اعانة الطالبين ١ نمرة ١٠٦

Simak juga  : https://www.youtube.com/watch?v=v_IcW0EaEAw&list=PLDbOPgtehL-OQZn6iKZTwemzpXSobjD3S

Fi’il mudhari’

Fi'il mudhari’ adalah suatu kalimat yang terfahami kepada perbuatan yang terjadi pada zaman hal (masa sedang berbicara) dan zaman mustaqbal (masa yang akan terjadi) tanpa terkhusus.
Hal-hal yang dapat menkhususkan zaman fiil mudhari':

1. Terkhusus zaman mustaqbal apabila masuk pada fiil mudhari' beberapa kalimat, antara lain:

السين , سوف , لا النافية , أدوات الشرط , أدوات النصب , الترجى , لو المصدرية

2. Terkhusus zaman hal apabila masuk pada fi'il muzarek beberapa kalimat, antara lain:

الآن , الساعة , آنفًا , لام الإبتداء , النفى بليس , إن , م

Kadang-kadang fi'il mudhari' juga bisa berzaman madhi apabila masuk:

لم , لمّا , لولا الإمتناعية


 - Kawakibud Durriyat, Juz 1, Hal 12 Cet , Haramain


Fatwa Imam Syafi'i Dengan Pendapat Jadid Mengikuti Budaya Mesir ?

Dalam mazhab syafii, ada dua qaul yang dikenal dengan qaul Jadid dan Qadim, pendapat jadid adalah pendapat yang dikemukakannya di Mesir atau dalam perjalanan menuju Mesir, sedangkan pendapat Qadim adalah pendapat yang beliau kemukakan di Iraq. Dalam hal ini, ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa bahwa imam Syafii mengeluarkan qaul Jadid karena menyesuaikan diri dengan adat istiadat yang ada di Mesir, bukan karena faktor penambahan dalil yang menjadi landasan hukum pendapat Jadid.

Pertanyaan:

Apakah benar bahwa perubahan pendapat Imam Syafii dari Qadim ke Jadid karena faktor budaya setempat?

Jawaban:

Tidak benar imam syafiie mengasas mazhab jadid untuk menyesuaikan diri dengan adat istiadat mesir, namun timbulnya mazhab jadid karena bertukar pikiran sang imam dengan ulama-ulama lain ketika ia berada di mekkah, bahkan yang tertera dalam kitab kitab mazhab syafii adalah bagi sang imam ada dua mazhab, mazhab iraq yaitu mazhab qadim yang diajarkan kepada murid uridnya disana dan ia mengarang beberapa kitab, kemudian ketika ia pindah ke mesir, tatkala sampai di mekkah ia bertukar pendapat dengan beberapa ulama lain, sehingga banyak pendapat pendapat qadim yang telah difatwanya dirujuk kembali, pendapat pendapat inilah yang kemudian menjadi pendapat jadid, pendapat jadid dibnetuk oleh imam syafii sebelum keberangkatannya ke mesir, ada yang berkatasebelum keberangkatannya ke mekkah, namun yang pasti, pendapat jadid adalah pendapat yang diterapkannya di mesir, tentu terlepas dari kaitannya dari irak atau mesir, namun karena bertambahnya ilmu imam dengan sebab bertukar pendapat.
Ini bukan tanpa alasan, berikut beberapa alasan pendapat jadid bukan karena mengikuti budaya:

1. Jika perubahan mazhab karena budaya, sungguh imam tidak akan menarik kitab-kitabnya yang dikarang di Irak dan mengharamkan kepada umat untuk mempelajarinya dengan kata beliau:

ليس في حل من روي عني القديم
Tidaklah halal seseorang meriwayatkan pendapat qadim dariku. (Bahrul Muhid, Imam Zarkasyi jilid 4 hal 584)

Kalau sendainya pendapat jadid karena faktor budaya Mesir, tentunya Imam Syafii akan membiarkan murid-muridnya yang di Iraq untuk mengikuti pendapat qadim beliau, bahkan tentunya Imam Syafii akan punya pendapat yang berbeda-beda bagi muridnya menurut asal daerah masing-masing, namun kenyataannya tidak demikian.

2. Jika memang seperti dakwaan mereka, maka para ashab Imam Syafii yang ada di Irak akan berfatwa sesuai mazhab qadim, dan ashab yang di mesir akan berfatwa seperti pendapat qadim, padahal fakta sebaliknya, ashab Imam Syafii yang di Iraq juga berfatwa dengan pendapat Jadid.

3. Para imam mazhab yang lebih mengetahui tentang imam Syafii tidak penah satupun dari mereka yang mengatakan perubahan mazhab karena mengikuti adat, apakah para mutaakhirin lebih mengenal terhadap imam daripada ashab imam sendiri ? bahkan ketika para shab memilih pendapat imam yang qadim, mereka tidak menisbahkannya kepada imam, tetapi mereka memilihnya karena kuat dalilnya.

4. Para ulama-ulama mazhab Syafii dengan jelas mengataklan tidak boleh mengitu pendapat qadim walaupun bagi penduduk Iraq, maka bagaimana orang-orang yang datang kemudian mengatakan perubahan Qadim ke Jadid karena faktor budaya Mesir?

5. jika memang benar pendapat imam di Mesir karena budaya, maka para pengikutnya diluar mesir tidak akan mengikutinya, padahal sangat banyak murid imam Syafii yang berasal dari luar mesir mengikuti pendapat jadid yang disusunnya di Mesir bahkan penduduk Irak sekalipun, kitab al-um yang menjadi rujukan dasar mazhab Syafii bagi semua daerah, maka pendapat jadid adalah yang sahih dan wajib beramal atasnya baik untuk penganut Mazhab Syafii di Mesir atau di luar Mesir.

Alangkah mengherankan, orang yang mengatakan Imam Syafii berfatwa dengan pendapat jadid karena mengikuti adat mesir, hanya karena ingin memperoleh fatwa yang mudah-mudah walaupun bertentangan dengan dalil, dan mereka juga mendakwa fatwa jadid adalah sarana untuk mempermudah penduduk Mesir padahal mereka tidak mengatahui bahwa pendapat imam di Mesir berdasarkan dalil-dalil yang kuat dibandingkan fatwa Imam Syafii di Iraq, bahkan umumnya pendapat qadim cenderung lebih mudah dibandingkan mazhab jadid.

Sayyid Alawi bin Abdul Qadir, Madhal ila mazhab syafiiyah Hal 378

Hukum Minum kopi di kedai Non Muslim

Deskripsi Masalah:

Kopi adalah minuman yang diminati oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia. Disamping ada nilai filosofinya, kopi juga bisa menjadi minuman untuk mengawali imajinasi kita. Budaya ngopi di kedei kopi sudah berakar kuat di Nusantara.

Pertanyaan:

1. Bagaimanakah hukum Minum kopi di kedai kopi Non Muslim?

Jawaban:

1. Hukum Minum kopi di kedai Non muslim makruh.
Bagi kita ummat Islam Makruh hukumnya memakai bejana org kafir, pakaian mereka, dan sesuatu yg mengiringi anggota tubuh bawah mereka, seperti sandal.
Memakai harta kafir yg mengiringi/menyentuh kulit kita itu bersangatan Makruh.
Sedangkan memakai bejana mereka itu Makruhnya lebih ringan.

-Hasyiah syarwani. Jld 1. Cet darul fikri. Hal. 136

ﻜﺮﻩ اﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺃﻭاﻧﻲ اﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭﻣﻠﺒﻮﺳﻬﻢ ﻭﻣﺎ ﻳﻠﻲ ﺃﺳﺎﻓﻠﻬﻢ ﺃﻱ ﻣﻤﺎ ﻳﻠﻲ اﻟﺠﻠﺪ ﺃﺷﺪ ﻭﺃﻭاﻧﻲ ﻣﺎﺋﻬﻢ ﺃﺧﻒ.




KEUTAMAAN BERSEDEKAH

lbmmudi.com Bersedekah adalah sebuah kemuliaan yang sangat berharga, karena sedekah dapat menghapus dosa sebagai mana air yang dapat memadamkan api, dengan bersedekah kita akan mendapat naungan dariNya di hari akhirat, bersedekah akan memberikan keberkahan pada harta yang kita miliki, Allah akan melipat gandakan pahala orang-orang yang bersedekah dan masih banyak keutamaan-keutamaan lainnya.
Mengenai hal ini ada sebuah hadist dari Ibnu abbas R.A yang menceritakan tentang seorang wanita dari bani israil yang mempunyai seorang suami yang merantau, dan suaminya mempunyai seorang ibu yang pada awal nya menyayangi nya, namun akhirnya mertuanya membencinya sehingga merekayasa selembar surat perceraian yang diberikan kepada menantunya dan perempuan tersebut juga memiliki dua orang anak dari suamiya yang ia cintai, kemudia wanita tersebut beserta anak-anaknya pulang ke keluarganya, dan pada masa itu mereka memiliki seorang raja yang membenci memberi makan kepada orang miskin, didalam perjalanan pulang wanita itu bertemu dengan orang miskin yang meminta sedikit bantuan kepadanya yang sedang memakan roti, kemudia wanita itu bertanya kepada orang miskin tersebut, “apakah anda tau yang bahwa raja mengharamkan memberi makan orang miskin?” Orang itu menjawab,” ia saya tau, akan tetapi saya akan binasa jika engkau tidak berikan sedikit makanan kepadaku” dan akhirnya wanita itu memberi makanan kepadanya, setelah wanita itu berpesan agar tidak memberitau kepada seorang pun. Maka orang miskin itu pergi dan tiba-tiba berjumpa dengan penjaga kerajaan, penjagapun bertanya kepadanya “ dari mana kamu mendapatkan dua roti itu?”
si miskin menjawa “dari seorang wanita”, kemudian penjagapun mencari wanita itu dan menjumpainya.
Maka penjaga bertanya “apakah benar kamu yang memberikan dua roti ini
wanita itu menjawab “iya”
penjaga melanjutkan pertanyaan nya, “apakah kamu tidak tahu yang bahwa raja mengharamkan nya?” wanita itu menjawab ”saya tau”
penjaga; mengapa kamu memberikannya?
wanita; karena saya kasihan.
kemudia pengawal membawa wanita itu kepada raja, dan rajapun bertanya kepadanya,
raja:”apakah kamu belum tau yang bahwa saya mengharamkannya?
wanita: saya tau
raja: kenapa kamu memberikannya?
wanita: karena saya kasihan dan saya berharap tidak ada yang tahu.
maka rajapun menyuruh algojo untuk memotong kedua tangannya atas dua roti yang telah ia berikan dan eksikusipun berjalan dengan lancar.
Akhirnya wanita itu pulang dengan kedua buah hatinya yang ia miliki, didalam perjalanan pulang wanita itu meyuruh salah satu anaknya untuk mengambil air di sungai karena haus, maka tiba-tiba sianak tergelincir dan jatuh kesungai maka ibunya panik sehingga menyuruh anak satunya lagi agar membantu saudaranya yang tenggelam, pada akhirnya keduanya pun hilang didalam sungai, Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tidak punya tangan. Maka tinggalah wanita itu seorang diri dengan luka diatas duka, maka tiba-tiba muncul seseorang dan berkata kepada wanita itu,”wahai hamba Allah, saya melihat anda begitu sedih. Dan wanita itu meminta sepucuk doa dari orang itu setelah wanita itu menceritakan kisahnya, dan orang itu memberikan dua pilihan kepadanya, apakah kamu menginginkan kedua tangan mu atau kedua anak mu? Tanpa ragu wanita itu menjawab, saya ingin anakku kembali. Dan akhirnya orang itu mendoakannya dan tiba-tiba munculah anaknya, dan kedua tangannya. Kemudia orang itu berkata, “ saya adalah utusan Allah yang diutus bagimu, kedua tangan adalah dua roti dan dua anak adalah fahalamu dariAllah yang telah kamu bantu orang miskin dan kesabaranmu atas cobaan yang menimpa dirimu, ketahuilah suamimu tidak menceraikan mu maka pulanglah kepada suamimu, dia ada dirumah dan sesungguhnya mertuamu sudah mati, maka pulanglah wanita itu. Dan terpenuhi segala urusan.

- Ianatuttalibin Hal 209 Cet, Haramain


Teks Ratib Al Athos


Ratib Al Athos adalah bacaan doa dan wirid karya Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas. Ratib ini berisi doa doa mustajab dan ampuh yang berasal dari AlQuran dan hadits Nabi Muhammad SAW. Pengarang ratib Al-Athos ini adalah seorang waliyullah yang memiliki derajat tinggi dan kemuliaan disisi ALLAH SWT.  Ia adalah ulama asal hadraumut yang dilahirkan pada tahun 229H. meski sejak kecil kedua matanya buta, namun ia memiiki kecerdasan luar biasa dan mampu menghafal apapun hanya dengan pendengarannya. ia juga memiliki nasab yang bersambung langsung kepada Rasulullah SAW.

Nasab dan silsilah beliau adalah Umar bin Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Ubaidullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Syeikh al Ghauts Abdurrahman as-Seggaf bin Muhammad Maulah Dawilah bin Ali bin Alawi al Ghoyur bin Sayyidina al Faqih al Muqaddam Muhammad bin Ali binl Imam Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah bin Imam al Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an Naqib binl Imam Ali al Uraidhi bin Jaafar as Shadiq binl Imam Muhammad al Baqir binl Imam Ali Zainal Abidin binl Imam Hussein as Sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib dan bin Batul Fatimah az-Zahra binti Rasullullah S.A.W. Baca juga : mukjizat Nabi Musa Sebelu meninggal, ia telah meninggalkan banyak sekali karya dan salah satu yang utama adalah ratib al athas ini. terdapat banyak sekali manfaat dan kegunaan bagi siapa saja yang istiqomah dalam membaca dan mengamalkan ratib al attas ini.

Semua wirid dan dzikir yang ada didalamnya juga diambil langsung dan dirangkum oleh Habib Umar Al attas dari Al Qur'an dan hadist Nabi. sehingga tak heran jika membacanya akan mendatangkan pahala dan rahmat dari ALLAH SWT. Bahkan berkata sebagian ulama ahli salaf bahwa diantara keutamaan ratib al athos ini bagi mereka yang tetap mengamalkannya, adalah dipanjangkan umur, mendapat Husnul-Khati  mah, menjaga segala kepunyaannya di laut dan di bumi dan senantiasa berada dalam perlindungan Allah. Jadi langsung saja dibawah ini teks bacaan ratib al athos lengkap dalam bahasa arabnya.

Bacaan Ratib Al Atos Lengkap
 اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ...) الخرسُوْرَةُ الْفَاتِحَة اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (3x) ( لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْمِ ) اَعُوْذُبِاللهِ السَّمِيْحِ اْلعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (3x) اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (3x) بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرُّمَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (3x) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (عَشْرًا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (3x) بِسْمِ اللهِ تَحَصَّنَّا بِاللهِ.بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا بِا للهِ (3x) بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ عَزَّاللهِ. سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ (اَرْبَعًا) يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ. اُلْطُفْ بِنَايَالَطِيْفُ,يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرً (3x) يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَافِيْمَانَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَاوَ الْمُسْلِمِيْنَ (3x) لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ (اَرْبَعِيْنَ مَرَّةً) مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (سبعا) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (10x) اَسْتَغْفِرَاللهَ (اا مَرَّةً). تَائِبُوْنَ اِلَى اللهِ (3x) يَااَللهُ بِهَا.يَااَللهُ بِهَا يَااَللهُ بِحُسْنِ اْلخَاتِمَةِ (3x) غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ لاَيُكَلِفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسُعَهَا لَهَا مَا اكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَ نَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَا فِرِيْنَ.
 Kemudian membaca :

 اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَاوَ حَبِيْبِنَاوَ شَفِيْعِنَ رَسُوْلِ اللهِ ,مُحَمَّدِ بِنْ عَبْدِاللهِ , وَاَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ , اَنَّ اللهَ يُعْلىِ دَرَجَاتِهِمْ فِى اْلْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِ هِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآ خِرَةِ وَيَجْعَلُنَا مِنْ حِزْ بِهِمْ وَيَرْزُ قُنَا مَحَبَّتَهُمْ وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَافِى زُمْرَ تِهِمْ . فِى خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ , بِسِرِ الْفَا تِحَةْ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الْمُهَا جِرْ اِلَى اللهِاَحْمَدْ بِنْ عِيْسَى وَاِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَااْلاُ سْتَاذِ اْلاَعْظَمِ اَلْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ , مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بَاعَلَوِيْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ , وَذَوِىْ الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّ اللهَ يَغْفُرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ , وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْوَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَاوَاْلاَخِرَةِ . اَلْفَا تِحَةُ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَبَرَكَاتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلاَنْفَاسِ اَلْحَبِيْبِ عُمَرْ بِنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ الْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ الشَّيْخِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَبْدُالرَّحْمَنِ بِنْ عَقِيْل اَلْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب حُسَيْن بِنْ عُمَرْ اَلْعَطَّاسْ وَاِخْوَانِهِ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ عَقِيْل وَعَبْدِ اللهِ وَصَا لِحْ بِنْ عَبْدُالرَّحْمَنِ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَلِيِّ بْنِ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب اَحْمَدْ بِنْ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّاللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَا تِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْوَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَنَفَحَا تِهِمْ فِى الدِّ يِنِ وَالدُّنْيَاوَاْلآخِرَةِ )اَلْفَا تِحَةْ( اَلْفَاتِحَةُ اِلَى اَرْوَحِ اْلاَوْالِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّا لِحِيْنَ . وَاْلاَ ئِمَّةِ الرَّاشِدِ يْنَ وَاِلَى اَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَا يِخِنَا وَذَوِىالْحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ , ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَمْوَاتِ اَهْلِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَنَّ اللهَ يَغْفِرُلَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ اَسْرَ ارِهِمْ وَانْوَ ارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّ نْيَا وَاْلآ خِرَةِ . اَلْفَاتِحَةْ. اَلْفَاتِحَةُ بِالْقَبُوْلِ وَتَمَامِ كُلِّ سُوْلٍ وَمَأْمُوْلٍ وَصَلاَحِ الشَّأْنِ ظَا هِرًا وَبَا طِنًافِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ دَافِعَةً لِكُلِّشَرٍّجَالِبَةً لِكُلِّ خَيْرٍ , لَنَا وَلِوَ الِدِيْنَا وَاَوْلاَدِنَاوَاَحْبَا بِنَا وَمَشَا ئِخِنَا فِى الدِّ يْنِ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَا فِيَةِ وَعَلَى نِيَّةِ اَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْ بَنَا وَقَوَ الِبَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتَّقَى وَالْعَفَافِ وَالْغِنَى . وَالْمَوْتِ عَلَى دِيْنِ اْلاِسَلاَمِ وَاْلاِ يْمَانِ بِلاَ مِحْنَةٍوَلاَ اِمْتِحَانٍ , بِحَقِّ سَيِّدِ نَاوَلَدِ عَدْ نَانِ , وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ .وَاِلَى حَضْرَةِ النَِّبيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (اَلْفَاتِحَةْ(
Doa
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَا نِكْ, سُبْحَا نَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَا ءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, فَلَكَ الْحَمْدُ حَتىَّ تَرْضَى, وَلَكَ الْحَمْدُ اِذَارَضِيْتَ, وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِى اْلآ خِرِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلاَ عْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتىَّ تَرِثَ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْ دِعُكَ اَدْيَا نَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَمْوَ الَنَا وَاَهْلَنَا وَكُلَّ ثَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَاِيَّا هُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ, مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِىْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَذِيْ حَسَدٍ وَمِنْ شَرِّ كَلِّ ذِيْ شَرٍّ, اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شّيْىءٍ قَدِيْرُ. اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَا فِيَةِ وَالسَّلاَ مَةِ, وَحَقِقْنَا بِااتَقْوَى وَاْلاِسْتِقَامَةِ وَاِعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَا تِ النَّدَا مَةِفِى اْلحَالِ وَاْلمَالِ, اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ بِجَلاَلِكَ وَجَمَالِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلمُتَا بَعَةِ لَهُ ظَا هِرًا وَبَا طِنًا يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, بِفَضْلِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمُ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ




donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja