Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Beberapa Kisah Terlepas Dari Bahaya Karena Bersedekah (Bagian 2)

kisah selamat karena sedekah
Kisah 3
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwasanya ada satu rombongan yang datang kepada nabi Isa as dan beliau bersabda : ‘’Salah-satu dari kalian akan meninggal pada hari ini’’. Romobngan tersebut kemudian pergi mencari kayu bakar ke hutan. Malamnya mereka pulang dengan selamat dengan membawa kayu bakar dipundaknya masing-masing, nabi Isa as berkata ‘’letakkanlah kayu bakar tersebut dan lepasakanlah ikatannya’’ ,tiba-tiba keluarlah dari dalam kayu bakar tersebut Ular hitam yang besar. Nabi Isa bertanya kepada pembawa kayu bakar tersebut ‘’apa yang kamu kerjakan hari ini ?’’ laki-laki itu menjawab ‘’aku tidak melakukan apa-apa kecuali aku mempunyai sepotong roti dan ketika datang seorang yang miskin aku memberikan sebagian roti tersebut kepadanya". Kemudian nabi Isa as bersabda ‘’Ssesungguhnya sedekahmu itu telah melepaskanmu dari ini ’’ yakni ular hitam yang 

Kisah 4
Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih, konon ada seorang wanita yang sedang mencuci pakaian di tepi sungai dan anaknya sedang merangkak dihadapannya, pada ketika itu datang seorang fakir meminta sedikit makanan, kemudian ia memberikan satu suapan roti yang ada padanya. Kemudian datanglah seekor serigala dengan cepat akan menerkam anak wanita itu, ketika sang anak telah berada dalam mulut Serigala, Wanita itu lari dengan cepat ke belakang serigala tersebut seraya bekata ‘’Wahai serigala itu anakku !!..’’. Kemudian Allah swt mengutus seorang malaikat untuk mengeluarkan anak itu dari mulut serigala dan melemparkan kepada ibunya. Serigala berkata ‘’sesungguhnya satu suapan roti dibalas dengan satu suapan


Kisah 5
Dihikayahkan, pada zaman nabi Isa as, hiduplah seorang yang suka membuat onar, mengacaukan manusia. Ketika perbuatannya sudah sanagt meresahkan, orang-orang mendatangi nabi Isa dan meminta supaya nabi Isa mendoakan laki-laki tersebut, kemudian Isa as mendoakan kebinasaan kepada laki-laki itu.

Saat matahari terbenam, laki-laki itu datang dengan membawa bungkusan di kepalanya sehingga membuat orang-orang heran . Mereka kembali medatangi nabi Isa as, mereka bertanya ”mengapa ia tidak binasa” Nabi Isa memanggil laki-laki tersebut dan meminta supaya dibawakan juga bungkusan yang ada di kepalanya. Nabi Isa as meminta untuk dibukakan bungkusan itu, saat dibuka ternyata disana terdapat seekor ular yang besar yang telah terkekang dengan kekang dari rantai besi. Kemudian nabi Isa as bertanya pada laki-laki tersebut ‘’apa yang telah kamu lakukan hari ini’’ ? laki-laki itu menjawab ‘’aku tidak melakukan apa-apa kecuali ada seorang yang mengemis yang mengadu padaku jika ia sedang kelaparan, maka aku memberikan roti tersebut" . Nabi Isa as bersabda ‘’Allah telah mengutuskan kepadamu musuh ini (ular) ,akan tetapi ketika kamu bersedekah Allah swt memerintahkan juga malaikat untuk mengekanggnya dengan rantai besi’’.

Sumber : Majalisus Saniyah  hal. 89-90




Fatwa Imam Ramli; Shalat Dhuhur Setelah Shalat Jumat

Sebagian kalangan memvonis bahwa melakukan dhuhur setelah shalat jumat oleh sebagai praktek bid’ah karena yang tidak pernah terjadi pada masa Nabi SAW dan shabahat. Tuduhan tersebut muncul karena mereka tidak paham qaedah-qaedah syara’. Pada Rasulullah SAW dan shahabat memang tidak pernah terjadi kasus melaksanakan shalat dhuhur setelah shalat jumat. Hal ini tak lain karena pada masa Rasulullah SAW dan shahabat tidak pernah terjadi ta`adud jumat, dan juga tidak pernah terjadi hal-hal yang lain yang meragukan tentang sahnya shalat mereka., sehingga tidak perlu i`adah dhuhur karena i`adah dhuhur pada kondisi telah di yakinkan sahnya shalat jumat tanpa adanya perbedaan pendapat ulama adalah dilarang.

Selain itu apakah dengan melakukan i`adah dhuhur bukan berarti telah menambah shalat lima waktu menjadi enam waktu. Imam Ramli pernah di tanyakan seputar shalat dhuhur ini yang dinukil oleh Sayyid Bakry Syatha dalam kitab Hasyiah I`anatuth Thalibi j ilid 2 hal 72 Cet. Haramain:

سئل الشيخ الرملي - رحمه الله - عن رجل قال: أنتم يا شافعية خالفتم الله ورسوله، لان الله تعالى فرض خمس صلوات، وأنتم تصلون ستا بإعادتكم الجمعة ظهرا، فماذا يترتب عليه في ذلك ؟ (فأجاب) بأن هذا الرجل كاذب فاجر جاهل فإن اعتقد في الشافعية أنهم يوجبون ست صلوات بأصل الشرع كفر، وأجري عليه أحكام المرتدين، وإلا استحق التعزير اللائق بحاله، الرادع له ولامثاله عن ارتكاب مثل قبيح أفعاله.
ونحن لا نقول بوجوب ست صلوات بأصل الشرع، وإنما تجب إعادة الظهر إذا لم يعلم تقدم جمعة صحيحة، إذ الشرط عندنا أن لا تتعدد في البلد إلا بحسب الحاجة، ومعلوم لكل أحد أن هناك فوق الحاجة، وحينئذ من لم يعلم وقوع جمعته من العدد المعتبر وجبت عليه الظهر، وكان كأنه لم يصل جمعة، وما انتقد أحد على أحد من الائمة إلا مقته الله تعالى - رضوان الله عليهم أجمعين


Artinya:
Syeikh Ramli pernah ditanya tentang perkataan seseorang yang berkata “hai kamu pengikut Mazhab Syafi’I, kamu telah melangkahi Allah dan RasulNya karena Allah hanya mewajibkan shalat 5 waktu tetapi kamu shalat 6 kali dengan ia`adah tersebut”
Bagaimana Orang yang berkata demikian (ditanyakan kepada Imam Ramli): beliau menjawab: “orang itu pembohong, pendurhaka dan bodoh. Maka bila ia berkeyakinan bahwa penganut Mazhab Syafii memfatwakan wajib 6 shalat menurut perintah pokok dalam agama maka ia menjadi kafir dan diberlakukan atasnya hukum murtad dan ia berhak untuk dita`zir yang layak dengan dirinya supaya yang lain takut berbicara demikian.
Kami (penganut Mazhab Syafii) tidak menfatwakan wajib 6 shalat menurut perintahpokok dalam syariat, tetapi wajib shala tdhuhur (i`adah) kalau tidakd iketahui yang mana yang terdahulu jumat yang sah karena syarat sah jumat (dalam Mazhab Syafii) adalah tidak terjadi jumat lebih dari satu dalam satu daerah kecuali menurut hajat. Maka bila diketahui bahwa disana terjadi ta`adud jumat melebihi kebutuhan dan tidak diketahui mana yang terdahulu maka wajib atas mereka mengerjakan dhuhur karena mereka seolah-olah belum shalat jumat.”

Beberapa Kisah Terlepas Dari Bahaya Karena Bersedekah (Bagian 1)

SEDEKAH MENYELAMATKAN MANUSIA MAKSIAT
 Kisah 1
Dihikayahkan, pada masa nabi Shalih as ada konon hiduplah seseorang yang sangat suka menyakiti kaumnya, kemudian kaum tersebut meminta supaya nabi Shalih as mendoakan kebinasaan kepada laki-laki tersebut. Nabi shalih as pun mendoakannya. 

Suatu hari laki-laki tersebut keluar untuk mencari kayu bakar dengan membawa dua potong roti, ia memakan salah satu dari dua roti dan satu lagi disedekahkan. Dia pulang dengan selamat dari perjalanan kayu bakarnya. Nabi Shalih as yang memlihat laki-laki itu kemudian memanggilnya dan bertanya “mengapa engkau selamat dari bahaya, apa yang telah kamu kerjakan pada hari ini ?’’. Laki-laki tersebut menjawab‘’Aku keluar hari ini dengan membawa dua ptong roti, satu roti aku memakannya dan satu lagi aku sedekahkan kepada orang fakir’’. Nabi Shalih as mengatakan pada laki-laki tersebut ‘’Bukalah ikatan kayu bakarmu!’’. Ketika ia membuka kayu bakar tersebut ternyata ada seekor ular hitam besar yang sedang menggigit cabang kayu tersebut, Shalih melanjutkan‘’Dengan sedekahmu hari ini, kamu telah terlepas dari ular ini ’’.

Kisah 2.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bercerita, pada zaman dulu ada seorang yang sangat suka mengambil anak burung yang masih kecil dalam sarangnya ketika baru menetes. Induk burung tersebut kemudian mengadu kepada Allah swt tentang apa yang telah dilakukan orang tersebut, dan Allah berfirman ‘’mintalah niscaya aku akan membinasakannya’’. Beberapa waktu kemudian, ketika telur burung tersebut telah menetes lagi, datang lagi orang tersebut untuk mengambil anak burung seperti yang biasa ia lakukan, tetapi sebelumnya ketika dalam perjalanan saat sampai ke ujung desa, datanglah seorang pengemis yang meminta-minta dan laki-laki itupun memberikan sepotong roti kepada pengemis tersebut.

Pada hari-hari selanjutnya, ia datang lagi ke sarang burung tersebut dengan membawa tangga untuk mengambil anak burung. Induk dari burung tersebut cuma memperhatikan laki-laki itu dan kemudian mengadukannya kepada Allah swt ‘’Ya Allah sesungguhnya engkau tidak pernah menyalahi janji , dan engkau telah berjanji untuk membinasakan laki-laki yang mengambil anakku jadi mengapa engkau tidak membinasakannya?’’. Allah swt berfirman ‘’Adakah kalian ketahui aku tidak akan membinasakan orang dengan seburuk-buruk kematian, jika pada hari itu ia bersedekah"  Wallahua'lam.


Shahabat tidak merayakan maulid Nabi?

Hukum perayaan maulidShahabat merupakan orang yang sangat mencintai Rasulullah SAW, namun mereka tidak pernah merayakan kelahiran beliau. Seandainya perayaan maulid merupakan perbuatan baik, sungguh mereka akan mendahului kita dalam perayaan maulid. Begitulah kira-kira argumen yang selalu dibawakan oleh kaum-kaum yang anti dan benci dengan perayaan maulid. Benarkah argumen mereka tersebut menghasilkan satu konklusi secara valid bahwa perayaan maulid itu haram bahkan termasuk syirik? Bila ini benar maka lebih separoh umat Islam di muka bumi ini adalah sesat karena maulid Nabi di rayakan seluruh dunia.

Berikut jawaban dari DR. Saif Ali al-Ashry terhadap argumen tersebut;

Ini merupakan argumen yang lemah di tinjau dari beberapa sudut pandang;

  1. Metode para fuqaha’ dalam menghadapi masalah baru adalah membawanya atas timbangan syari’at. Maka jika hal tersebut menyalahi syari’at maka mereka akan meninggalkannya. Sedangkan bila masih sesuai dengan syariat dan masih mewujudkan maksud dari syariat serta masuk di bawah undang-undang syariat maka mereka akan menerimanya. Imam Syafii berkata; “hal baru ada dua, yang menyalahi kitab, sunnah, atsar atau ijmak, maka ini merupakan bid’ah dhalalah, dan hal baru yang baik yang tidak menyalahi satupun dari demikian, maka ini merupakan hal baru yang tidak tercela”. Maka bila kita melihat kepada perayaan maulid, sungguh maulid itu merupakan acara pembacaan al-quran, sejarah, nasyid, dan menyediakan makanan, semua hal ini merupakan hal yang disyariatkan, maka keadaan shahabat pernah melakukannya atau tidak pernah, sama sekali tidak berefek kepada penerimaan kita terhadap perayaan maulid. Karena ini, kita dapati banyak perkara-perkara yang masuk di bawah qaedah syariat yang hanya dikerjakan oleh shahabat namun tidak dikerjakan oleh Nabi SAW, dikerjakan oleh tabi’in namun tidak pernah dikerjakan oleh shabahat, dan demikian juga orang-orang setelah mereka.
  2. Dasar mementingkan hari kelahiran telah dicontohkan oleh Rasulullah sendiri, ketika beliau ditanyakan tentang puasa hari senin, beliau menjawab “hari tersebut adalah hari aku dilahirkan”. Maka para shabahat juga berpuasa. Hal yang baru dalam perayaan maulid hanyalah berkumpul disertai dengan pembacaan nasyid dan menyediakan makanan.
  3. Para shahabat sangat sempurna perhatian mereka dengan sejarah Rasulullah SAW, mereka mengajarkannya kepada anak-anak mereka sebagaimana mereka mengajarkan satu surat kepada anak-anak mereka. Maka mereka tidak butuh kepada satu acara untuk mengingatkan mereka terhadap sirah Rasulullah.
  4. Perayaan maulid Nabi merupakan majlis untuk mengenal sirah Rasulullah SAW, dan mensyukuri kelahiran dan bi’tsah beliau. Para shahabat telah melakukan dasar demikian. Mereka mengadakan majlis untuk mengingatkan mereka atas nikmat Allah untuk mereka dengan adanya Rasulullah SAW. Tersebut dalam musnad Imam Ahmad dan Sunan Nasai bahwa Rasulullah SAW menanyakan mereka tentang sebab duduk mereka. Shahabat menjawab “kami duduk untuk berdoa kepada Allah dan memujinya atas hidayahNya bagi kami dengan agamaNya, dan Allah telah memberikan kami nikmat dengan engkau”. Maka para shahabat tidak butuh kepada satu acara untuk mengajarkan kehidupan Nabi SAW kepada mereka.


Sumber;
fb.com/saif.alasri






Delapan Status Seseorang Saat Menjadi Imam


status imam dalam shalat

1). Seseorang yang tidak sah menjadi imam dalam kondisi apapun, mereka adalah:
  • Orang kafir walaupun zinndiq (orang kafir yang pura-pura muslim)
  • Orang gila
  • Orang pitam
  • Anak kecil yang belum mumayyiz
  • Orang sedang mabuk
  • Makmum (mengikuti orang lain)
  • Orang yang diragukan keadaannya makmum atau bukan.
  • Ummi baik alsaq (orang yang menggantikan satu huruf dengan huruf lain) atau arat (orang yang meng-idghamkan pada bukan tempat idgham), jika masih mungkin untuk belajar.
  • Orang yang mencederai makna al-Fatihah jika masih mungkin untuk belajar
2). Seseorang tidak sah menjadi Imam jika diketahui keadaanya
  • Orang yang berhadas kecil atau besar.
  • Orang yang bernajis yang khafi (tidak terlihat atau Hukmiyah) yang tidak diamaafkan.

3). Seseorang yang sah menjadi imam bagi orang yang dibawah derajatnya:
  • Khunsa : Sah/boleh menjadi imam bagi perempuan, tidak sah bagi laki-laki atau bagi sesama Khunsa.
4). Seseorang yang sah menjadi imam bagi yang sederajat dengannya:
  • Perempuan : Sah menjadi imam bagi perempuan dan tidak sah bagi laki-laki dan sesama  Khunsa.
  • Ummi, seperti arat (orang yang meng-idghamkan pada bukan tempat idgam), alsag (orang yang menggantikan satu huruf dengan huruf lain) maka sah menjadi imam bagi sesamanya.
  • Orang yang mencederai makna al-Fatihah jika lemah dari pada belajar maka sah menjadi imam dengan sesamanya.
5). Seseorang terkadang sah menjadi imam pada satu shalat dan tidak sah pada shalat yang lain. seperti:
  • Orang musafir, ,hamba sahaya, mub’az(setengah hamba), anak-anak,orang yang terkena najis khafi (tidak terlihat atau Hukmiyah) dan tidak diketahuikan keadaanya. Sah menjadi imam jum’at jika sempurna bilangan jumat (40) bukan dengan mereka, dan tidak sah menjadi Imam jika sempurna bilangan jumat dengan mereka.
6). Seseorang yang makruh menjadi imam namun sa.
  • Orang fasik
  • Orang yang melakukan Bid’ah dan tidak menyebabkan kufur, seperti Mu’tazilah yang beritikad Kalamullah makhluk, Jahimi pengikut Jahmi bin Safwan yang meyakini  tidak ada  Qudrah bagi hamba sedekitpun, Murjia’ yang meyakini bahwa hanya  Allahlah yang berhak menghukum, tidak boleh bagi manusia memberi hukuman bagi hamba, Rafizi Orang yang meyakini bahwa Ali ra yang berhak menjadi khalifah setelah Rasullullah saw wafat.
Adapun orang yang melakukan Bid'ah yang menyebabkan kufur seperti Mujasimah yang mengatakan Allah bertubuh seperti manusia atau yang mengingkari tentang Baharu-nya alam tidak  sah menjadi imam dalam keadaan apapun.

7). Seseoarang yang menjadi imam hukumnya khilaf aula (tidak baik)
  • Anak zina , anak yang dili’ankan (sumpah yang dilakukan oleh suami karena menuduh istrinya berzina dan mengatakan anak tersebut hasil zina)
  • Hamba sahaya
  • Mub’az (setengah hamba)
8) Seseorang yang didahulukan untuk menjadi Imam, yaitu orang yang sempurna dari  kekuranngan yang disebutkan diatas, Adapun urutannya adalah :
  • Pertama didahulukan yang lebih alim fikah, jika kedudukannya sama.
  • Kemudian yang lebih banyak hafalan al-Quran,
  • Kemudian yang lebih War’a (memelihara diri dari syubhat dan haram)
  • Kemudian yang lebih dulu berhijrah dari negeri kafir ke negeri islam
  • Kemudian yang lebih tua umurnya dalam Islam
  • Kemudian yang lebih mulia keturunan seperti kaum Qurasy.
  • Kemudian yang baik riwayat hidup
  • Kemudian yang lebih bersih pakaian
  • Kemudian yang lebih merdu suara
  • Kemudian yang lebih sehat badan
  • Kemudian yang lebih tampan mukanya
  • Kemudian yang lebih cantik istrinya
Urutan Imam yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika tidak ada imam yang telah ditentukan atau pemilik tempat,namun jika ada imam yang telah ditentukan maka didahulukan imam tersebut atau pemilik tempa. Wallahua'lam.

Sumber: Kitab Tahrir hal 236-244.





Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat (Bagian 1)

  • Berbicara
Berbicara yang dimaksud dalam bab ini bukan dalam arti berdialog dengan orang lain, melainkan mengucapkan satu huruf yang memiliki makna atau dua huruf walaupun tidak mempunyai makna. Menurut pendapat yang kuat, berdehem, menangis, ketawa, merintih dan meniup juga termasuk dalam ucapan yang dapat membatalkan shalat jika menimbulkan dua huruf meskipun suara tersebut disebabkan karena seseorang sedang dalam kesakitan atau karena takut kepada Allah atau karena kemaslahatan shalatnya. Namun demikian, dimaafkan pada ucapan yang sedikit jika hal itu dilakukan karena terlanjur lidah atau lupa sedang shalat atau ia tidak tahu adanya larangan berkata-kata di dalam shalat dengan ketentuan orang tersebut baru masuk Islam atau jauh dari orang alim.

Hasyiah Qalyuby wa Amirah Juz I Hal. 213.

(فصل: تبطل) الصلاة (بالنطق) عمدا من غير القرآن، والذكر والدعاء على ما سيأتي. (بحرفين) أفهما أو لا نحو قم وعن (أو حرف مفهم) نحو ق من الوقاية. (وكذا مدة بعد حرف في الأصح) لأنها ألف أو واو أو ياء، والثاني قال إنها لا تعد حرفا، وهذا كله يسير فبالكثير من باب أولى. والأصل في ذلك حديث مسلم «إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس» ، والكلام يقع على المفهم وغيره الذي هو حرفان وتخصيصه بالمفهم اصطلاح للنحاة. (والأصح أن التنحنح والضحك والبكاء والأنين والنفخ إن ظهر به) أي بكل مما ذكر (حرفان بطلت وإلا فلا) تبطل به، والثاني لا تبطل به مطلقا لأنه ليس من جنس الكلام.

(ويعذر في يسير الكلام إن سبق لسانه) إليه (أو نسي الصلاة) أي نسي أنه فيها. (أو جهل تحريمه) فيها (إن قرب عهده بالإسلام) بخلاف بعيد العهد به لتقصيره بترك التعلم، (لا كثيره)


Pembagian Hukum Nikah

Lbm.Mudimesra.com. Pernikahan secara etimologi (bahasa) adalah perkumpulan, sedangkan secara terminologi (istilah) adalah satu akad untuk membolehkan persetubuhan,  dengan lafadh إنكاح أو تزويج. (menikahkan atay- mengawinkan) atau terjemahan dari lafadh tersebut. 

Pernikahan adalah satu pekerjaan yang dianjurkan oleh Syara’. Syariat pernikahan sudah dimulai sejak masa nabi Adam as hingga hari akhirat kelak (surga).  Salah satu perbedaanya, jika di dunia kita tidak bisa menikahi Mahram, tapi dalam Surga hal itu dibolehkan kecuali Asal dan Furu' (Ayah hingga seterusnya tidak bisa menikah dengan anak perempuan, Ibu hingga ke atas tidak bisa menikah dengan anak laki-laki).

Beberapa Hikmah Pernikahan:

  1. Memelihara keturunan
  2. Mengeluarkan air yang memudharatkan badan  jika tidak dikeluarkan
  3. Menemukan  kelezatan dalam bersetubuh.

Hukum asal dari menikah adalah boleh, hukum tersebut tidak baku dan bisa berubah kapan saja tergantung individu dan kondisi. Berikut Rinciannya:

  1. Sunat. Nikah disunatkan bagi orang yang berhajat untuk bersetubuh, dengan catatan sanggup untuk memenuhi kebutuhan berupa Mahar, pakaian, tempat tinggal, dan nafakah sehari-hari. Ini berlaku kepada setiap orang, sekalipun orang tersebut sedang menyibukkan diri dengan ibadah.
  2. Khilaf aula (lebih baik tidak menikah). Ini berlaku bagi orang yang telah berhajat untuk bersetubuh, tetapi mereka tidak sanggup memenuhi kebutuhan berupa Mahar, pakaian, tempat tinggal, dan nafakah sehari-hari. Kepada orang ini dianjurkan untuk tidak menikah dulu, karena keterbatasan biaya. Sedangkan metode menghilangkan keinginan untuk bersetubuh adalah dengan berpuasa karena dengan berpuasa seseorang bisa menghilangkan atau menurangi syahwat/keinginan bersetubuh. 
  3. Makruh. Pernikahan yang di makruhkan berlaku bagi orang yang tidak berhajat untuk bersetubuh dan juga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan berupa Mahar, pakaian, tempat tinggal, dan nafakah sehari-hari.
  4. Wajib. Pernikahan yang wajib berlaku jika seseorang bernazar kepada Allah berupa pernikahan. Kasus lainnya berlaku bagi seseorang yang sudah berhajat kepada persetubuhan, memiliki kesanggupan dari seri materi dan ditakutkan terjadi zina jika tidak segera menikah. Pada dua kasus tersebut hukum nikah yang semula Boleh, telah berubah status menjadi wajib. 

Sumber : I’anatut Thalibin  juz 3, hal 253-256, cet. Toha Putra.

Bisakah Seseorang Bertemu Rasulullah saw Dalam Kondisi Jaga?

Deskripsi Masalah
Melihat Nabi saw dalam keadaan tidur (bermimpi) adalah hal yang biasa, karena salah satu kelebihan/mukjizat nabi saw setelah wafat adalah mentangi umatnya dalam mimpi, seperti yang dialami oleh Imam Malik ra yang setiap malam bermimpi bertemu Rasulullah saw.

Pertnyaan.
Sebagaimana dalam mimpi, bisakah seseorang bertemu Rasulullah saw dalam keadaan terjaga?

Jawaban
Ibnu Hajar Al-haitami dalam kitabnya "Fatawa Hadisiyah" menjawab : Itu (bertemu Rasulullah saw dalam keadaan terjaga) adalah suatu hal yang mungkin, karena demikian merupakan salah satu karamah para waliyullah, seperti Imam Ghazali, Imam Barizi, Imam Tajus Subki, Imam Afif Yafi dari mazhab Imam Syafi’i ra dan Imam Qurtubi, Ibnu Abi Jamarah dari mazhab Imam Maliki ra.

Dihikayahkan dari para Waliyullah bahwa Rasulullah saw pernah menghadiri Majelis ilmu seorang Fakih. Dalam penjelasnnya, Fakih tersebut merawaikan satu hadis, seorang wali yang menghadiri Majelis tersebut menegur Fakih tersebut ” Ini hadis palsu, Rasulullah saw tidak pernah mengatakan demikian”. Kemudian Fakih tersebut bertanya kepada Wali tersebut, “ dari mana engkau datang, ini adalah hadis Rasulullah saw”. Waliyullah tersebut menjawab, “ Ini Rasulullah saw berdiri di atas mu, beliau (rasulullah saw) mengatakan kepadaku ‘aku tidak pernah mengatakan hadis tersebut’. Kemudian Waliyullah tersebut membukakan hijab kepada Fakih tadi sehingga beliau melihat Rasulullah saw. Wallahua’lam.

Ibnu Hajar Al-haitami, Fatawa Hadisiyah, hal. 211-212, cet. Darul Fikri.

Kenapa Melihat Allah Harus di Akhirat?

Deskripsi Masalah.
kenapa manusia melihat Allah harus di akhirat

Salah satu nikmat terbesar dan paling besar di Surga kelak adalah melihat zat Allah swt dengan mata kepala, dengan syarat kita harus terlebih dahulu mati dan masuk surga untuk merealisasikan hal tersebut.

Pertanyaan.
Kenapa melihat zat Allah swt harus di akhirat (surga) kelak? Kenapa tidak saat masih hidup di dunia?

Jawaban.
Sebab demikian, mengutip pendapat Imam Malik ra, manusia tidak bisa melihat Allah swt di dunia karena kelemahan (tidak sanggup) mereka akan hal tersebut (melihat zat Allah), berbeda jika mereka sudah meninggal dan masuk surga, pada saat itu kelemahan mereka sudah hilang karena mereka diciptakan untuk hidup kekal.

Pengecualian kepada nabi Muhammad saw saat masih hidup di dunia, beliau pernah melihat zat Allah swt dengan mata kepala (menurut pendapat kuat) pada malam isra’ mi’raj. Hal ini dikarenakan penghormatan dan kemulian bagi nabi Muhammad saw karena status beliau sebagai Rahmatan lil ‘Alamin. Wallahua’lam.

Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa Hadisiyah, hal 154 cet. Darul Fikri.


Siapa Yang Bisa Mendengar Kalam Nafsi Allah swt?

siapa yang bisa mendengar kalam Allah dan rasul
Deskripsi
Kalam Allah tidak berhuruf dan tidak bersuara, meskipun demikian dengan izin Allah, nabi Musa as bisa mendengar kalamnya. Karena selain sebagai nabi, beliau juga manusia biasa.

Pertanyaan
Adakah manusia selain nabi Musa bisa mendengar kalam Allah?.

Jawaban
Kalam Allah walaupun bukan jenis kalam makhluk, tidak berhuruf dan bersuara bisa didengar oleh para Rasul dan Malaikatnya baik melalui perantara maupun secara langsung. Firman Allah dalam surat as-syura ayat 15.

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا

Dan surat an-nisak ayat 163:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Sebagian Ulama Mazhab Malikiyah mengatakan “ barang siapa mengingkari Allah telah berkomunikasi dengan nabi Musa as dituntut untuk segera bertaubat. Jika tidak mau, maka hukumannya adalah eksekusi mati”.

Menurut Sebahagian Mutaakkhirin: “ hakikat kalam bagi Allah, sedangkan sandaran kalam bagi makhluk adalah Majaz. Karena bila kalam itu Qadim maka dia sifat Allah dan bila hadis maka itu perbuatannya”. Oleh demikian sepakat ulama jika Allah bersifat mutakallim.

Dikalangan Asya’irah kalam adalah sifat yang berada di zat Allah. Nama lainnya kalam Nafsi. Kaum Muktazilah mengingkari pernyataan demikian. Mereka berpendapat jika makna Allah mutakallim adalah Allah yang menciptakan kalam.

Ulama telah sepakat (Ijma’) Allah berkomunikasi dengan nabi Musa dengan dukungan ayat-ayat yang dhilalahnya jelas dan dengan ayat itu juga terbantahlah argumen kaum Muktazilah.

Para ulama berbeda pendapat tentang sifat mendengar (metode mendengarkan kalam nahsi) dari kalam nafsi. Menurut ahli dhahir: “kami beriman dengannya dan tidak berani berpendapat metodenya ”. Sedangkan menurut Ulama Bathiniyyah: “Allah menciptakan dalam hati Musa pemahaman dan tidak menciptakan pendengaran.

Menurut Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah sendiri, Allah menciptakan pemahaman dalam hati nabi Musa as, pendengaran pada telinganya dan seluruh tubuhnya, dengan demikian, beliau mendengar kalam Allah yang tidak bersuara dan berhuruf. Wallahua’alm.

Referensi: Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa Hadisiyyah,maktabah Syamilah,hal 148.

عن معنى كلام الله تعالى لموسى ( صلى الله عليه وسلم ) وغيره ، وهل يمكن سماع غير موسى له ؟ فأجاب بقوله : كلام الله وإن لم يكن من جنس كلام المخلوقين يسمعه من أكرمه الله من رسله وملائكته بواسطة أو غيرها قال تعالى : ) وما كان لبشر أن يكلمه الله إلا وحيا ( [ الشورى : 51 ] الآية ، وقال تعالى : ) إنآ أوحينآ إليك كمآ أوحينآ إلى نوح و النبيين من بعده وأوحينآ إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب و الأسباط وعيسى وأيوب ويونس وهارون وسليمان وءاتينا داوود زبورا ( [ النساء : 163 ] قال بعض أئمة المالكية : من أنكر أن الله تعالى كلم موسى استتيب ، فإن تاب وإلا قتل . قال بعض المتأخرين : والكلام على الحقيقة كله لله وإضافته إلى غيره مجاز ، لأنه إن كان قديما فهو صفته ، وإن كان حادثا فهو فعله لأنه بخلقه وإرادته ، ومن ثمة اتفقت الأمة على أنه تعالى متكلم ؛ فعند الأشعرية الكلام قائم بذاته العلية ويعبر عنه بالكلام النفسي . وأنكر المعتزلة ذلك وقالوا : معنى كونه متكلما أنه خالق للكلام . والإجماع على أنه تعالى كلم موسى للآيات المصرحة بذلك يرد عليهم إذ الأصل عدم المجاز .
واختلفوا في صفة سماعه للكلام النفسي . فأهل الظاهر قالوا : نؤمن به ولا نتكلم قصدا منهم إلى أنه متشابه ، وقالت الباطنية : خلق الله لموسى فهما في قلبه ولم يخلق له سمعا . ومذهب أهل السنة أن الله خلق له فهما في قلبه وسمعا في أذنيه وسائربدنه سمع به كلام الله من غير صوت ولا حرف بغير واسطة . وزعم المعتزلة جريا على مذهبهم الفاسد في إنكارهم الكلام النفسي أن الله تعالى خلق له فهما في قلبه وصوتا في الشجرة سمعه .

Kejadian Luar Biasa di Malam Lahirnya Rasulullah

Kejadian luar biasa di malam lahir Rasulullah
Keangungan dan kemulian Rasul Mustafa Nabi Muhammad SAW, sangat banyak, Rasulullah adalah mahluk terlebih dan mahkluk paling sempurna yang Allah ciptakan. Sehingga Allah dan para Malaikat berselawat kepadanay, sebagaimana dalam dalam Al-qur’an,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. al-Azhab: 56).

Kita ketahui dan yakini sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bersalawat untuk Nabi dan orang-orang yang beriman bersalawatlah kepada Rasul. Rabiul Awal merupakan momen yang sangat bersejarah dan penuh hikmah, kesempatan bagi kita umat Nabi Muhammad SAW, untuk menambahkan rasa cinta kepada Rasul dengan berbagai macam bentuk amalan. berselawat, berzikir, dahwah dan lain sebagianya dalam rabiul awal. Di kesempatan ini kami LBM MUDI MESRA akan memberikan beberapa Kejadian Luar Biasa di Malam Lahirnya Sang Rasul. Beberapa peristiwa Kejadian Luar Biasa di Saat Lahirnya Sang Rasul yang terjadi menjelang kelahiran Rasul Mustafa Nabi Muhammad SAW.

Di antaranya: Disebutkan dalam kitab Sab’iyyat dihalaman 84. Ka’ab Al-Ahkbar menceritakan bahwa dalam kitab Taurat Allah memberitahukan kepada kaum Nabi Musa, tentang masa lahirnya sang Rasulullah SAW. Yaitu tatkala bintang yang selama ini tetap dan tidak bergerak, maka di saat lahirnya Muhammad SAW kelak, bintang tersebut akan bergerak dan berpindah dari tempat semula. Kemudian terbukti di saat lahirnya Rasulullah SAW bintang tersebut benar-benar bergerak dari tempat asalnya. dan yahudipun mengetahuinya akan tetapi mereka merahasiakannya, mereka membungkam dan mengubur berita itu dalam kebencian mereka karena kedengkian dari diri mereka itu.

Berikut ini beberapa Kejadian Luar Biasa di Malam Lahirnya Sang Rasulullah;


1. Kedatangan Siti Asiah, Siti Maryam

Pada malam lahirnya Nabi hadir penguni surga, yaitu Asiah Istri fir’un dan Maryam Binti Imran mereka adalah bidadari, hikmah hadirnya Asiah dan maryam yang mereka adalah bidadari, mengisyarah bahwa Nabi Muhammad SAW, disediakan bidadari yang banyak untuk Rasulullah SAW disurga kelak, dan juga Asiah dan Maryam merupakan istri Rasulullah kelak disurga. Nabi di saat lahir dalam keadaan sujud nampak merendahkan dirinya. telunjuknya nabi menunjukkan ke arah langit.

2. Beliau Lahir Dalam Keadaan Sudah Dikhitan

Rasulullah lahir dalam keadaan telah di khitan dan lahir dalam bersih dan tanpa kotoran sedikitpun.

3. Dilarangnya Setan Naik Kelangit Hingga Hari Kiamat

Terhalangnya setan naik kelangit pada saat kelahiran Rasulullah, sejak itulah hingga hari kiamat setan dilarang kelangit. Kemudian setan dan iblis terkutuk berkumpul mereka berkata dahulu kita diperkenankan Allah naik ke langit, namun mulai hari ini kita dilarang ke sana untuk selamanya. Iblis memerintahkan kepada setan untuk berkeliling. “berkelilinglah kalian, berpencarlah ke timur da ke barat, ada kejadian apakah kiranya”, Mereka pun berkeliling hingga bertemu di Makkah. Setiba di sana, mereka terheran-heran demi menyaksikan suatu peristiwa yang sang bayi mulia Rasul Mustafa tengah dikelilingi para malaikat yang dengan riang gembira mengucapkan selamat. dan dari tubuh sang habibullah Rasulullah Nabi Muhammad SAW terpancar cahaya ke langit. Setan dilarang ke langit untuk mengikuti pecakapan para malaikat yang sebelumnya dibolehkan.

4. Runtuhnya berhala di sekitar Ka’bah

Dalam satu riwayat, dikatakan bahwa Abdul Muthalib bercerita: Kala itu aku tengah berada di sekitar Ka’bah. Tiba-tiba aku terkejut melihat patung-patung bergelimpangan tunduk sujud ke hadirat Allah. Lalu kudengar suara dari balik dinding Ka’bah: Telah lahir seorang Rasul yang akan menghancur leburkan benteng-benteng kekufuran dan menyucikan manusia dari berhala-berhala sesembahan serta memerintahkan para insan beibadah kepada Allah.


5. Goncang Istana Kisra di Persia

Istana Kisra di Persia saat itu merupakan bangunan yang paling megah, luas serta dan terkenal kokoh masa itu. Namun di malam kelahiran Nabi SAW, bangunan ini goncang sehingga retak.

6. Runtuhnya 14 beranda Istana Persia

Di malam kelahiran Rasulullah, di Persia, selain istana mereka goncang hingga retak, empat belas beranda di negri mereka juga roboh. Robohnya 14 beranda tersebut mengisyarah sesungguhnya Negri Persia hanya bertahan dibawah kekuasaan 14 raja. Raja mereka yang terakhir adalah Yazdajir yang terbunuh di awal masa Khalifah Saidina Usman. setelah itu kerajaan Persia berakhir di tangan umat Islam.

7. Api sembahan Orang Majusi Mendadak Padam

Sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw, masyarakat majusi menyembah api dan menganggap api itu sebagai Tuhan. Api itu tidak pernah padam selama beratus-ratus tahun. Namun saat Rasul Mustafa Nabi Muhammad SAW lahir, api tersebut mati seketika. Para pengikut Majusi berusaha menyalakan apinya, tapi tetap api tersebut tidak dapat menyala.

8. Keringnya Danau Sawah di Buhairah

Keringnya Danau Sawah di Buhairah. Danau ini terletak di kota Samawah yang terletak selatan Bagdad, danau sawah tidak pernah kering sebelumnya dan di anggap ramat oleh penduduk Persia.

9. Keluarnya Cahaya Bersama Rasul yang Sampai ke Negri Syam

Saat kelahiran Rasulullah, tercancarlah cahaya menyinari langit timur dan barat. Hal ini merupakan isyarah bahwa Rasulullah akan akan menghilangkan kesyirikan dengan cahaya Islam. Cahaya tersebut sampai terlihat ke negri Syam. Hal ini merupakan isyarah bahwa mengisyarah Nabi menguasai dunia, cahaya terpancar menyenari bumi syam, sehingga kerajaan Syam nampak terlihat oleh orang-orang di kota Mekkah, ini sebagai petunjuk bahwa Islam akan berjaya di Negri Syam. Ka’ab bin Ahbar mengatakan “tersebut di dalam kitab umat terdahulu bahwa Muhammad Rasul Allah, dilahirkan di Makkah, hijrah ke Yasrib dan kerajaannya di Syam”.

10. Lahir dalam keadaan tertelungkup dan menggenggap bumi dan menengadah kepala ke langit

Kejadian luar biasa lain di malam kelahiran Rasulullah adalah beliau terlahir disertai cahaya dalam keadaan terlungkup atas bumi dengan bertekan atas kedua tangannya, kemudian menggenggam tanah dan menengadah ke langit.
Menggenggam tanah merupakan isyarah bahwa beliau akan menguasai ahli bumi. Menengadah ke langit mengisyarahkan bahwa selalu tinggi kedudukan beliau dan juga mengisyarahkan bahwa beliau berpaling dari dunia. Seolah-oleh beliau berkata; “saya tidak menoleh sedikitpun kepada dunia ini”.

11. Keluar Suara dari Sudut Ka’bah

Saat Rasulullah SAW terdengar suara dari ka’bah.
Suara Sudut pertama berbunyi: ُقُلْ جَاءَ اْلحَّقُ وَمَا يَبْدِئُ اْلبَاطُل وَمَا يُعِيْد
Suara Sudut kedua berbunyi: لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Suara sudut ketiga berbunyi: ٍقَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُوْرٌ هُوَ النَّبِيْ وَكِتَابُ قُرْآنٍ مُبَيْن
Suara sudut ke empat berbunyi: يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Ada satu riwayat yang menceritakan bahwa Abdul Muthallib berada dalam ka’bah saat itu, beliau berkata: “saya dalam ka’bah saat itu, dalam ka’bah banyak berhala lalu berhala-hala itu jatuh dari tempatnya dan roboh dalam posisi sujud kepada Allah dan saya mendengar dinding ka’bah yang bersuara:

ولذالنبي المختار الذي يهلك بيده الكفار ويطهرني من هذه الآصنام ويأمر بعبادة الملك العلام

12. Rasullah dilahirkan tidak melalui jalur biasa.

Syeikh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zain mengatakan;

ونقل بعض الأفاضل عن القليوبي وعن جمع من المحققين أنه صلى الله عليه وسلم لم يولد من الفرج بل من محل فتح فوق الفرج وتحت السرة والتأم في ساعته

Dan diNukilkan dari Al-Fadhil dari para Muhaqqiq. Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak dilahirkan melalui vagina aka tetapi beliua dilahirkan dari lobang atas faraj (vagina) dan dibawah pusat 

13. Sang Bunda Rasul Mustafa Tercinta (Aminah) Tidak Merasa Sakit di Saat Melahirkan Baginda Sang Rasul.

Sang Ibunda Rasul Aminah tidak merasa sakit layaknya wanita yang melahirkan. Ibunda sang Rasul terlepas dari derita selama mengandung, tidak merasakan sakit dan pedih sewaktu melahirkan, karena Setiap wanita yang mengandung merasakan kepayahan, sakit, susah, dan lainya, akan tetapi sang Ibunda Rasul Mustafa terpelihara dari semua itu.



Rujukan:

az-Zarqani, Syarah Zarqani ‘ala Mawahib Laduniyah, Dar Kutub Ilmiyah
Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Minah Al-Makkiyah, Cet. Dar Al-Minhaj
Imam Nawawi al-Bantani, Nihayatuz Zain
Sab’iyyat, Haramain


Tata-cara Mandi Wajib

tata-cara mandi wajib hukum
Lbm.Mudimesra.Com- Salah satu hal yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah tata-cara bersuci baik dari hadas besar, kecil maupun dari najis. Mandi adalah mengalirkan air ke seluruh badan. Mandi wajib adalah mandi yang wajib dilakukan untuk menghilangkan hadas besar. Hadas besar adalah hadas yang timbul karena keluar sperma, haid, nifas, melahirkan, atau karena berhubungan badan. Dan di tambah kewajiban memandikan terhadap mayat.

Rukun mandi ada dua:
  1. Niat
  2. Meratakan air ke seluruh badan

Niat mandi wajib adalah meniatkan mandi untuk menghilangkan hadas besar, atau menghilangkan janabah atau berniat mandi untuk membolehkan hal-hal yang haram karena janabah. Niat ini dilakukan pada permulaan saat pertama kali menyiram air ke badan, dengan pengertian siraman air yang di sertai dengan niat maka itulah awal permulaan mandi, sedangkan bagian badan yang telah di siram air sebelum niat, wajib di basuh kembali.

Kemudian wajib meratakan air keseluruh tubuh, hingga ke bagian di bawah kuku, kulit kepala, bagian dhahir lipatan telinga bahkan bagi wanita juga wajib menyampaikan air ke bagian kemaluan pada bagian yang biasa terlihat seandainya duduk qadha hajat, dan juga pada bagian di bawah kulit penutup grand penis pada orang yang belum dikhitan. Demikian juga wajib disampaikan air pada anus, pada bagian yang wajib di basuh ketika istinjak dari air besar. Ada beberapa bagian yang tidak wajib di sampaikan air kepadanya, yaitu bagian mulut, hidung, mata.


Sebenarnya, dengan sekali basuhan air yang merata ke seluruh tubuh, sudahlah memadai untuk mandi wajib. Namun untuk lebih sempurnanya ada beberapa hal yang perlu dilakukan.
  1. Menghilangkan kotoran yang lengket di badan, baik kotoran najis seperti wadi, mazi maupun yang suci seperti mani/sperma.
  2. Berwudhu’ sebelum mandi
  3. Bersungguh-sungguh menyampaikan air ke bagian tubuh yang sukar terkena air, seperti bi bawah lempengan kulit pada orang yang gemuk.
  4. Menyela-nyela rambut dan jenggotnya dengan air
  5. Kemudian baru menuangkan air ke atas kepala, kemudian pada bagian kanan dan dilanjutkan pada badan bagian kiri.
  6. Menggosok-gosok badan ketika mandi.
  7. Membasuh atau mengulang-ngulang sebanyak tiga kali.
  8. Beriringan, jangan sampai diselangi oleh waktu yang lama sehingga anggota badan telah kering.
  9. Bagi wanita yang mandi dari haid yang bukan sedang menjalani masa ihdah, setelah mandi disunatkan memakai wangian pada bagian kemaluannya. Sedangkan wanita yang sedang menjalani masa ihdad tidak boleh memakai wangi-wangian.
  10. Sunat air yang digunakan untuk mandi tidak kurang dari satu sha’
  11. Makruh berlebihan menggunakan air dalam mandi (israf).
  12. Membaca syahadat dan berdoa setelah mandi, sebagaimana juga dilakukan setelah wudhu’.

Mandi wajib tidak disunatkan untuk diperbarui, tidak seperti wudhu’ yang sunat diperbarui setelah setiap kali shalat, walaupun masih ada wudhu’nya. Dan jika mandi wajib diniatkan bersama dengan mandi sunat, misalnya mandi untuk shalat jumat, maka sah kedua-duanya. Dengan mandi wajib maka hadas kecil juga hilang, maka setelah mandi bisa langsung shalat tanpa harus wudhu’ terlebih dahulu. Namun ini berlaku bila dalam mandi tidak ada hal-hal yang membatalkan wudhu’.

Sumber;
Hasyiah Bujairimi ‘ala Manhaj, Jld 1 hal, Dar Kutub Ilmiyah

Mengenang Mukjizat Nabi Saw Sebelum dan Sesudah Hari Kelahirannya

mukjizat nabi saat dilahirkan
LbmMudi- Nabi Muhammad diutus ke dunia ini karena menjadi rahmat bagi semesta alam. Ini dibuktikan dengan tanda atau kelebihan beliau yang terlihat sebelum dan sesudah beliau dilahirkan ke dunia ini. 

Syaikh Muhammad bin Abdurrahman dalam kitab beliau Sabu’iyyat fi Mawa’izil Bariiyat mengingatkan kembali umat islam agar senantiasa menyambut bulan kelahiran beliau dimulai dari bulan rabiu’ul awwal hingga jumadil akhir. Karena dengan perayaan tersebut kita akan mengenang kembali apa saja yang berhubungan dengan baginda saw.

Salah satu hal yang berkaitan dengan kelahiran baginda saw pada saat kelahirannya adalah mukjizat, maka di bulan kelahiran beliau yang mulia ini kami ingin sedikit berbagi tentang mukjizat-mukzijat yang berkaitan dengan kelahiran beliau. Berikut rinciannya:
  1. Setiap ibu hamil pasti merasa kepayahan dalam mengandung. Akan tetapi ibu nabi (Aminah) tidak mengalaminya.
  2. Ibu hamil merasa kesakitan ketika melahirkan, tapi Ibu nabi saw tidak merasakan demikian.
  3. Nabi lahir dalam posisi telungkup, wajahnya sujud kepada Allah seraya berkata أمتي- أمتي (ummatku-ummatku) sebanyak dua kali.
  4. Lahir nabi dalam keadaan sudah dikhatan(sunat).
  5. Ketika lahir nabi, Para setan tidak bisa naik ke langit seperti hari-hari biasanya. Kemudian mereka menemui iblis dan melapor perihal tersebut, setan berkata “wahai iblis, kami sudah naik ke langit kecuali hari ini, kami terhalang dan tidak bisa ke sana.” Iblis berkata: “kalian berkelilinglah timur dan barat, dan lihatlah apa yang terjadi di muka bumi.” lalu mereka berkeliling sehingga mendatangi Mekkah, di Mekkah mereka melihat seorang nabi yang sedang dikelilingi para malaikat dan bersinar cahayanya sampai terpancar kelangit. Lalu para setan kembali dan melapor kepada iblis perihal kejadian yang mereka lihat. Sesudah itu iblis menangis histeris sambil berkata: “aduh… kebesaran alam dan nikmat anak adam sudah keluar, itulah sebab kalian terhalangi untuk naik ke langit.”
  6. Halimah, seorang wanita yang menyusui nabi, tetapi satu payudaranya tidak mengeluarkan susu, tatkala beliau memasukkan payudaranya tersebut (yang tidak mengeluarkan susu) ke dalam mulut nabi saw, maka mengalirlah susu dari payudara tersebut.
  7. Pada saat nabi lahir, maka sudut-sudut ka’bah bersuara: 
  • Suara Sudut pertama berbunyi: ُقُلْ جَاءَ اْلحَّقُ وَمَا يَبْدِئُ اْلبَاطُِل وَمَا يُعِيْد
  • Suara Sudut kedua berbunyi: لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
  • Suara sudut ketiga berbunyi: ٍقَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُوْرٌ هُوَ النَّبِيْ وَكِتَابُ قُرْآنٍ مُبَيْن
  • Suara sudut ke empat berbunyi: يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
Ada satu riwayat yang menceritakan bahwa Abdul Muthallib berada dalam ka’bah saat itu, beliau berkata: “saya dalam ka’bah saat itu, dalam ka’bah banyak berhala lalu berhala-hala itu jatuh dari tempatnya dan roboh dalam posisi sujud kepada Allah dan saya mendengar dinding ka’bah yang bersuara:

ولذالنبي المختار الذي يهلك بيده الكفار ويطهرني من هذه الآصنام ويأمر بعبادة الملك العلام

Demikianlah beberapa mukjizat yang ada pada baginda saw se-saat dan sesudah beliau dilahirkan. Sungguh beliau adalah anugrah bagi sekalian alam, karenanya lah kita ada di dunia ini. Dengan segala kelebihannya, masih adakah keraguan dalam jiwa dan raga yang hina ini dalam mengagungkan beliau saw, dengan memperingati hari lahirnya? Wallahua’lam.

Pisau Terjatuh Saat Menyembelih Hewan, Bagaimanakah Hukumnya?

menyembelih hewan dengan pisau terjatuh
Diskripsi Masalah
Salah satu pemahaman yang beredar dalam masyarakat dalam hal penyembelihan hewan adalah pisau sebagai alat penyembelih tidak boleh terangkat dari leher hewan yang di sembelih. Atas dasar pemahaman ini, ada yang membuang percuma binatang yang disembelih karena dalam proses penyembelihan tanpa sengaja pisau terangkat dari leher hewan sembelihan.

Pertanyaan;
Benarkah bahwa dalam proses penyembelihan hewan, bila pisau terangkat/terjatuh maka penyembelihan tersebut tidak sah dan hewan tersebut tidak halal untuk dikonsumsi?

Jawaban
Pemahaman tersebut ini tidak sepenuhnya benar, karena sangat tidak logis jika hewan yang disembelih dengan sengaja, kemudian haram secara mutlak untuk dikonsumsi hanya karena terangkat pisau ketika disembelih, apalagi terangkat pisau hanya karena perlawanan hewan dan licinnya kulit leher sembelihan, atau karena ingin menukar dengan pisau yang lebih tajam agar mudah dalam menyembelih.

Dalam penyembelihan disyaratkan sekali gorok, tetapi dengan catatan jika seseorang menyembelih dan ternyata dua urat pernafasan dan makanan belum putus, dan ia tidak segera memutuskannya, maka hewan tersebut haram dikonsumsi, namun jika dengan segera ia menggoroknya kembali hingga dua urat tersebut putus, atau bila pisaunya terlepas pisau dari tangannya dan ia segera mengambilnya dan menggoroknya kembali, maka hewan tersebut halal hukumnya. Hal ini dikarenakan antara sembelihan pertama dan kedua dilakukan dengan beriringan tanpa diselangi oleh waktu yang lama, sehingga dua sembelihan tersebut dianggap satu kali. Hal yang sama juga berlaku jika sembelihan dilakukan sampai tiga kali misalnya, bila dilakukan dalam waktu yang beriringan (tidak lama berselang), maka beberapa kali sembelihan tersebut masih dianggap satu kali.

Tetapi jika antara sembelihan yang kedua atau yang ketiga telah diselangi oleh waktu yang lama, maka bila hewan sembelihan tersebut dalam kondisi hayah mustaqirrah, yaitu suatu kondisi hewan masih bergerak kuat (gerak diri hewan, bukan gerakan karena sakaratul maut, karena sembelihan) dan darah masih berpencar jika disembelih, walaupun hewan dalam keadaan terluka, maka yang demikian halal untuk dikonsumsi, tetapi jika pada sembelihan terakhir tidak dalam kondisi hayah mustaqirrah, maka haram untuk konsumsi.

Kesimpulannya adalah, jika pisau terjatuh atau langsung diangkat kembali saat penyembelihan tidaklah langsung menyebabkan penyembelihan tersbeut tidak sah, tetapi rincian hukumnya adalah;
  1. Halal, jika : ( a). Dilanjutkan menyembelih dengan segera (jarak antara sembelihan pertama dengan kedua tidak berlangsung lama) walaupun hewan tersebut sudah tidak lagi memiliki hayah mustaqirah. (b) Jarak sembelihan pertama dengan kedua berlangsung lama, namun saat penyembelihan kedua, hewan tersebut masih memiliki hayah mustaqirah.
  2. Haram; bila jarak antara sembelihan pertama dengan kedua berselang lama dan di saat penyembelihan kedua hewan tersebut tidak tidak lagi memiliki hayah mustaqirah
  3. Batasan lama dan tidaknya berselang waktu pengambilan kembali pisau yang terjatuh atau mengganti pisau lain, dikembalikan kepada uruf’ manusia di daerah tersebut.


Nash Kitab Mu’tabarah
Syaikh Muhammad Amin Kurdy, Tanwir Qulub, hal 253 Cet. al-Hidayah:

ولا يشترط في قطع ذلك ان يكون دفعة واحدة فلو قطع بأكثر كما لو رفع السكين فاعادها فورا او القاها لكلها وأخذ غيرها (او سقطت منه فاخذها ) او قبلها, و قطع ما بقي وكان فورا حل ولا يشترط وجود الحياة المستقرة في دفعة الفعل الثاني الا اذا طال الفصل بين الفعلين فلا بد من وجود الحياة المستقرة اول فعل الثاني.

"Dan tidak disyaratkan dalam memotongnya bahwa harus sekali gorok. Maka jika di potong lebih dari satu kali misalnya penyembelihnya mengangkat pisaunya kemudian dikembalikan dengan segera, atau ia mencampak pisau tersebut karena tumpul dan segera mengambil pisau yang lain, atau pisaunya terjatuh kemudian diambil kembali, atau (setelah menyembelih sebagian) penyembelih membalikkan hewan sembelihan dan melanjutkan menyembelih bagian yang tersisa dengan segera maka hewan sembelihan tersebut halal, dan tidak disyaratkan harus adanya hayah mustaqirah dalam pemotongan ke dua, kecuali jika lama berselang diantara dua kali pemotongan tersebut, maka diharuskan adanya hayah mustaqirah ketika pemotongan kedua".

Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri ‘ala Ibn Qasim, Jld II, hal 286 Cet. Haramain: 

قوله ويكون قطع ما ذكر اي من الحلقوم والمريء وقوله دفعة واحدة لا دفعتين اي اذا لم توجد الحياة المستقرة عند الدفعة الثانية اما اذا وجدت الحياة المستقرة عند الدفعة الثانية فيحل المذبوح حينئذ و مثل الدفعة الثانية غيرها كالثالثة فالشرط وجود الحياة المستقرة في ابتداء وضع اخر مرة . و محل ذلك عند طول الفصل والا فلو رفع السكين و اعادها فورا او القاها لكونها كالة و اخذ غيرها فورا او سقطت منه و اخذ غيرها حالا او قلبها و قطع بها ما بقي حل المذبوح وان لم توجد الحياة المستقرة عند المرة الاخيرة لان جميع المرات عند عدم طول الفصل كالمرة الواحدة ولا تشترط الحياة المستقرة الا فيما اذا تقدم سبب يحال عليه الهلاك كأكل نبات مضر وجرح السبع للشاة وانهدام البناء علي البهيمة و جرح الهرة للحمامة و علامتها انفجار الدام أو الحركة العنيفة فيكفي احدهما علي المعتمد.

و الله اعلم بالصواب





Biografi Singkat Imam-Imam Pendiri Mazhab Yang 4

RIHLAH (KISAH PERJALANAN HIDUP) SINGKAT PENDIRI MAZHAB 4
(IMAM HANAFI, IMAM MALIKI , IMAM  SYAFI’I DAN IMAM AHMAD BIN HAMBAL )

IMAM ABU HANIFAH  (NU’MAN BIN TSABIT)
لَوْكَانَ اْلعِلْمُ بِالثَّرَيَا لَنَالُهُ رِجَالٌ مِنْ فَارِسِ

"Jikalau adalah ilmu dibintang surayya sungguh akan didapat oleh seseorang yang berasal dari Persia."

Beliau lahir pada kurun sahabat pada tahun 80 H, beliau orang yang a’bid (ahli ibadah), Zahid (orang yang memelihara diri dari makruh dan syubhat) lagi a’rif billah(mengenal Allah swt) . Kemudian pernah Hafsin bin Abdurrahman mennceritakan bahwa ‘’ Abu Hanifah seseoran yang mengidupkan malam dengan mengkhatam al-Quran dalam tiap-tiap rakaat shalatnya selama 30 tahun. Dan telah berkata pula Sayed bin Umar bahwa Abu Hanifah melakukan shalat subuh dengan wudzuk shalat isya selama 40 tahun, diriwayatkan pula beliau sangat ketakutan ketika mendengar lantunan ayat :
إذا زلزلت الأرض زلزالها
'Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang amat berat'' (al-Zalzalah ayat 1)

Senantiasa beliau memegang janggutnya mulai malam sampai waktu fajar dengan berkata :
نجزى بمثقال ذرة
‘’Kita sekalian akan dibalaskan apa yang kita lakukan walaupun sebelarat biji sawi’’

Inilah sedikit perjalanan Imam Abu Hanifah .Mudah-mudahan rahmat Allah tercurah keapadanya.Beliau wafat pada bulan Rajab atau Sya’ban pada tahun 150 H.

IMAM MALIK RA ( MALIK BIN ANAS )
لا تنقضي الساعة حتى تضرب أكباد الإبل من كل ناحية إلى عالم المدينة يطلبون علمه
"Tidak terlepas sehingga dipercepat unta pada tiap-tiap pelosok kepada seseorang yang alim di Madinah untuk mereka tuntut ilmu padanya."

يُوْشِكُ اَنْ تَضْرِبَ أَكَبَادَ اْلِابِلِ يَطْلُبُوْنَ اْلعِلْمَ فَلَايَجِدُوْنَ اَحَدًا اَعْلَمَ مِنْ عَالِمِ المدينة فكانوا يزدحمون على بابه لطلب العلم
"Hampirlah dipercepat unta bagi orang menuntut ilmu maka tidak diperdapatkan seseorang yang lebih alim dari Madinah maka manusia berdesak-desakan pada rumahnya untuk menuntut ilmu."

Beliau dilahirkan pada tahun 93 H tapi ada yang menatakan juga tahu 90 H , beliau adalah termasuk dari tabi’ –tabi’in (pengikut yang mengikuti sahabat). Beliau berguru kepada 700 guru ,300 dari guru tersebut adalah tabi’in (pengikut saahabat). Imam Malik bermimpi bertemu dengan rasulullah saw pada tiap-tiap malam ketika ia tidur , sehingga Imam Abu Hanifah ra pernah ditanyakan tentang Imam Malik ra dan beliau menjawab :
ما رأيت أعلم بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم منه

‘’tidak pernah aku lihat orang lebih mengerti tentang sunnah rasulullah saw daripada Imam Malik’’.

Maka inilah perjalanan singkat dari kehidupan Imam Malik ra selaku pendiri dari mazhab Maliki dan beliau meninggal dunia pada tahun 178 H serta dikebumikan di perkuburan Baqi’ dan kubur beliau sebagaimana yang telah masyhur.

IMAM SYAFI’I RA ( MUHAMMAD BIN IDRIS )
عَالِمُ قُرَيْش يَمْلَأُ طَبَاقَ اْلاَرْضِ عِلْمًا
"Seorang yang alim dari bangsa qurasy yang memenuhi ilmunya dilapisan bumi".

Imam Syafii lahir di gaza pada tahun 150 H (hari wafat Abi Hanifah) , ketika umur 2 tahun beliau dan ibunya berhijrah ke Mekkah ketika umur 9 tahun beliau sudah menghafal al-Quran dan menghafal kitab hadis al-Muwata’ pada ketika umur 12 tahun ,kemudian belajar kepada pada seorang mufti di Mekkah bernama Muslim bin Khalid , beliau mengizinkan kepada Syafii men-iftakan hukum ketika berumur 15 tahun ketika itu syafii telah yatim dan hidup dalam keluarga yang miskin .
Kemudian beliau datang ke Madinah berguru pada Imam Malik belajar pada beliau beberapa lama, pada tahun 195 Syafii datang ke kota Bagdad menetap selama 2 tahun.Beliau bertemu dengan banyak para ulama mazhab dan mengarang selama disana kitab Qadim, setelah itu kembali lagi kota Mekkah , kemudian pada tahun 198 kembali lagi ke Bagdad dan menetap disana, dan pergi kedua kalinya ke Mesir sampai wafat beliau disana pada hari Jumat bulan Rajab tahun 204 H.

IMAM AHMAD BIN HAMBAL RA

Dilahirkan pada tahun 194 H beliau pearawi hadis yang sangat siqah pada zamannya,pribadi yang zuhud, war’a ,’abid .Anaknya Abdullah berkata ‘’Bahwa ayahku membaca Al-Quran pada tiap-tiap malam 1/7 quran dan mengkhatamnya dalam tujuh hari kemudian beliau qiyamu laili hingga pagi serta shalat pada setiap malamnya sebanyak 300 raka’at . Imam Syafii juga pernah berkata bahwa Imam Ahmad seorang yang sangat zuhud,wara’ dan rajin baribadah pada waktu malamnya.
Beliau pada mulanya ulama bermazhab Syafii hal yang menarik lagi dari beliau adalah membagikan malam kepada 3 bagian, satu bagian untuk ilmu,satu bagian untuk ibadah dan satu bagian lagi untuk istirahat dan mengkhatamkan al-Quran setiap hari, sedangkan pada bulan Ramadhan mengkatamkannya sebanyak 60 kali semuanya dilakukan dalam shalat.
Beliau pernah berkata :
‘’ما شبعت منذ ست عشرة سنة لأنه يثقل البدن ويقسي القلب ويزيل الفطنة ويجلب النوم ويضعف صاحبه عن العبادة ‘’
‘’وما حلفت بالله في عمري لا كاذبا ولا صادقا’’
''Aku tidak pernah merasa kenyang sejak berumur 16 tahun karena kekenyangan akan memberatkan badan,mengotori hati ,menghilangkan kecerdikan,menyebabkan ngantuk dan melemahkan seseorang dari pada ibadah ''
‘’Dan aku tidak pernah bersumpah dengan nama ALLAH dalam hidupku baik sumpah kebohongan atau kebenaran’’

Pada suatu ketika beliau pernah ditanyakan suatu pertanyaan tetapi beliau diam tidak memberi jawaban, kemudian sipenanya bertanya keapada Imam Ahmad ‘’mengapa anda diam’’ dan Imam Ahmad menjawab ‘’aku tidak akan berkata apapun hingga aku tau mana yang lebih mamfaat antara diam atau berbicara’’. Diantara kelebihan Imam Ahmad beliau adalah salah seorang yang mustajabah doanya serta tidak pernah diketahuikan dosanya baik yang besar maupun yang kecil.
Diantara syair beliau adalah :
مت مطامعي فأرحت نفسي فإن النفس ما طمعت تهون
وأحييت القنوع وكان ميتا ففي إحيائه عرضي مصون
إذا طمع يحل بقلب عبد علته مهانة وعلاه هون
Matilah sifat rakusku niscaya senanglah jiwaku
Sesungguhnya nafsu jika rakus ia maka mudah ia (dalam kesalahan)

Jika hidup sifat qanaah maka matilah nafsu
Jika terdapat qanaah pada seseorang niscaya datanglah penjagaan

Jika seseorang rakus maka bertempat dalam hati hamba-
Penyakit kehinaan dan jauhlah dari kemudahan


Dan diantara doa beliau adalah :
اللهم امنن علينا بصفاء المعرفة وهب لنا تصحيح المعاملة فيما بيننا وبينك على السنة وارزقنا صدق التوكل عليك وحسن الظن بك وامنن علينا بكل ما يقربنا إليك مقرونا بعوافي الدارين برحمتك يا أرحم الراحمين
Artinya : ‘’Ya Allah berikan pada kami kesucian ma’rifah ,dan beerikan kami kebaikan hubungan antara kami dan engkau di atas sunnah, rizkikan kami kebenaran tawakkal dan sangkaan baik padamu, Ya Allah berikan kami kemudahan dalam mendekati diri kami padamu keberkahan dunia dan akhirat dengan rahmatmu wahai yang memberi rahmat’’

Adapun wafat Imam Ahmad bin Hambal pada tahun 241 H . Ini hanyalah sedikit kelebihan Imam Ahmad bin Hambal tetapi masih banyak kelebihan-kelebihan beliau yang tidak mungkin kita sebutkan di sini , mudah-mudahan kita bisa bertabaruk serta mengambil suri teladan kepada mereka yang sangat dekat dengan Allah swt.


KESIMPULAN
Ini adalah beberapa kelebihan dari 4 Imam mazhab dengan keilmuan mereka bagaikan matahari di siang hari , sudah sepatutnya bagi kita meneladani karakter yang mereka miliki karena kedekatan mereka kepada Allah swt.
1. Umur Imam Abu Hanifah bin Nu’man 70 tahun (80 H-150 H)
2. Umur Imam Malik 89 tahun (90 H- 179 H)
3. Umur Imam Syafii 54 tahun (150 H -204),
4. Umur Imam Ahmad bin Hambal 77 tahun (164 H- 241 H)

REFERENSI KITAB I’ANATU THALIBIN JUZ 1 HAL.16-17 (HARAMAIN)

Waallhu A’lam

Fatwa Abuya Muda Waly: Bekerja karena gaji

Soal;

Bagaimanakah kita makan gaji pada pemerintah, adakah dapat pahala di akhirat nanti? karena saya lihat di dalam kitab Jawy, katanya beramalah kamu karena Allah, kalau kamu beramal (karena) selain Allah, tidak ada di akhirat nanti (pahalanya). Maka bagaimanakah seperti guru-guru agama yang makan gaji dan lainnya?

Jawab:

Di dalam kitab I’anah Thalibin juzuk 3 nomor 112,

فلو سقط ثواب القارئ لمسقط، كأن غلب الباعث الدنيوي، بقراءته بأجرة، فينبغي أن لا يسقط مثله بالنسبة للميت.

Maka menurut nash ini, kalau dia mengajar itu atau lainnya lantaran karena gaji dengan arti kalau tidak di beri gaji dia tidak mau mengajar, maka kalau begitu dia tidak mendapat pahala di akhirat nanti, karena gaji sudah di ambil di dunia ini, tetapi kalau tidak diberi gaji namun ia mengajar juga, cuma ketika didesak oleh keadaan dia mencari nafakah dan begitu juga kalau diberi gaji dia mengajar juga tidak mencari nafakah. alhasil, ada gaji atau tidak sama saja pada pikirannya. Maka jika demikian kelakukan dan niatnya, diharapkan daripada keluasan rahmat Allah dapat pahala ia dunia akhirat, dan masuklah ia di dalam firman Allah ta’ala (Q.S. al-Baqarah 201);

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(Ya Allah, berikan kepada kami kebahagian di dunia, dan akhirat dan peliharalah kami dari azab nereka (Q.S. al-Baqarah 201)


Pertanyaan dari Bilal Mesjid Medan
Fatawa Abuya Muda Wali al-Khalidi, hal 28 Cet. Nusantara Bukit Tinggi



Rahasia Dalam Surat al-Fatihah

Surat al-Fatihah merupakan surat yang pertama dalam al-quran dan memiliki banyak rahasia dan kelebihan. Salah satu kelebihan dari surat ini terlihat dari banyaknya nama-nama bagi surat ini. 

Beberapa nama lain bagi surat al-fatihah adalah;

1. Al-fatihah (pembuka)
2. Fatihatul kitab (Pembuka Kitab)
3. Ummul qur’an (Pokok al-Quran)
4. Suratul kanzu (Gudang)
5. Al-kafiyah (yang memadai)
6. Al-wafiyah (yang mencukupi)
7. As-Syafiyah (penyembuh)
8. Asyifak (penyembuhan)
9. Sab-‘ul Masani ( Tujuh Kepujian)
10. An-Nur (Cahaya)
11. Ar-Ruqiyyah (Pengobatan)
12. Al-hamdu wa Syukru (Surat Kepujian dan Syukur)
13. Ad-Du’a (Doa)
14. Ta’limul Masalah (Pengajaran Masalah)
15. Al-Munajah (Permintaan)
16. At-Tafwidz (Serah Diri)
17. As-Sual (Permintaan)
18. Ummul kitab (Pondasi Kitab)
19. Fatihatul Qur’an (Pembuka Al-Quran)
20. As-Shalah (Rahmat)


Selain itu, ketika seorang hamba membaca surat al-Fatihah, Allah akan berseru menjawab bacaan hamba tersebut. Seruan tersebut adalah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

1. Ketika hamba mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين (Segala puji bagi Allah swt)
Allah akan menjawab حمدني عبدي (Hambaku telah memujiku)

2. Ketika hamba mengucapkan الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Allah maha pengasih lagi maha penyayang)
Allah akan menjawab اثني عليَ عبدي (Hambaku telah memberi sanjungan bagus kepadaku)

3. Ketika hamba mengucapkan مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Allah adalah raja pada hari kiamat)
Allah akan menjawab مجني عبدي (Hamabaku telah memuliakan aku)

4. Ketika hamba mengucapkan إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (kepadaMU kami menyembah dan kepadaMU pula kami minta pertolongan)
Allah akan menjawab هذه الاية بيني وبين عبدي , ولعبدي ما سأل (Ayat ini antara aku dan hambaku , dan bagi hambaku akan kuberi apa yang ia minta

5. Ketika hamba mengucapkan اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيم (tunjukilah kami jalan yang lurus)
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (jalan yang engkau ridhai bukan jalan yang engkau murkai dan bukan jalan kesesatan) .
Allah akan menjawab فهؤلاء لعبدي , ولعبدي ما سأل (maka merekalah hambaku, dan aku akan memberi apa yang ia minta)

Referensi kitab Hasyiah Sawi juz 1 hal.13 (Haramain)

Zakat Tijarah

Pengertian Tijarah

Kata تِجَارَةٌ (tijarah) secara etimologi merupakan mashdar (dasar kata) dari تَجَرَ يَتْجُرُ (tajara – yatjuru). Tijarah adalah :

 تقليب المال بالتصرف فيه لطلب النماء

Artinya; mengelola harta dengan tujuan mencari keuntungan.

Metode perputaran harta tersebut boleh jadi dengan jual beli, usaha rental/sewa, ataupun dengan cara lain.[1]
Karena zakat ini berkenaan dengan barang-barang dagangan, maka dalam hal ini bisa mencakup jenis barang apa saja ( yang halal ) selama diniatkan perdagangan, seperti barang-barang tidak bergerak sepereti rumah, tanah, perabotan, atau jenis peralatan dapur, hewan, mobil, kain dan lain sebagainya yang memang diperjualbelikan.

Hukum Zakat Tijarah

Kebanyakan  Ulama’ berpendapat wajibnya Zakat Tijarah, berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

Al-Quran.
Firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” (Q.S. Al Baqarah 267)


Juga dalam Firman Allah SWT :

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Ad Dariyaat-19)

Hadis.
Rasulullah saw pernah berkata pada Muadz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman:

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِى فُقَرَائِهِمْ
“Ajarkan kepada mereka bahwasannya Allah swt mewajibkan atas mereka untuk mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya untuk di berikan kepada orang-orang fakir.”

Pada ucapan Beliau saw في أموالهم (dari harta-harta mereka) tidak diragukan lagi bahwa harta tersebut adalah harta  dari perdagangan.

Dalam hadis yang lain;
في الابل صدقتها وفى البقر صدقتها وفى البز صدقته
“Dan pada unta ada zakatnya, pada lembu ada zakatnya, dan pada bazz (pakaian untuk dijual) juga ada zakatnya (H.R. Baihaqi)

Dalil dari Hadits dari Samurah bin Jundab mengatakan:

فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنِ الَّذِي نُعِدُّ لِلْبَيْعِ
“Sesungguhnya Rasulullah memerintah kita untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang yang kita sediakan untuk jual-beli.” (H.R. Abu Daud)

Demikian juga telah tetap dari Umar bin al Khaththab ketika beliau memerintahkan seseorang dengan berkata :

عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ حِمَاسٍ عَنْ أَبِيْهِ قال : مَرَّ بِيْ عُمَرُ فَقَالَ يا حِمَاس أدِّ زَكَاةَ مَالِكَ فَقُلْتُ : مَالِيْ مَالٌ إِلاَّ جِعَابٌ وَ أُدُم ! فَقَالَ : قَوِّمْهَا قِيْمَةً ثُمَّ أدِّ زَكَاتَهَا
"Dari Abi ‘Amr bin Himas dari bapaknya: "Pada suatu hari Umar melewatiku, lalu berkata: “Hai Himas tunaikan zakat hartamu!”. Aku menjawab: “Aku tidak punya harta kecuali kulit dan tempat panah”. Umar berkata: “Taksirlah nilainya lalu tunaikanlah zakat!" . (H.R. Imam Syafii dan Baihaqi)

Demikian pula Atsar dari Abdurrahman bin Abdul Qari’ :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ القَارِي قَالَ : كُنْتُ عَلَى بَيْتِ الْمَالِ زَمَانَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَكَانَ إِذَا خَرَجَ الْعَطَاءُ جَمَعَ أَمْوَالَ التُجَّارِ ثُمَّ حَسَبَهَا غَائِبَهَا وَ شَاهِدَهَا ثُمَّ أَخَذَ الزَّكَاةَ مِنْ شَاهِدِ الْمَالِ عَنْ الْغَائِبِ وَالشَّاهِدِ

"Aku adalah bendahara baitul maal pada masa Umar bin Khattab, maka jika beliau mengeluarkan pemberian, beliau mengumpulkan harta para pedagang, kemudian menghitung baik yang pedagangnya sedang bepergian, maupun yang muqim lalu mengambil zakat tersebut ".

Syarat dan Ketentuan Zakat Tijarah
Yang perlu diketahui di dalam zakat tijarah yaitu adanya beberapa syarat dan ketentuan diantaranya :
  1. Memiliki barang tersebut harus dengan jalur mu’awadhah, yaitu diperoleh dengan jalur akad yang saling memberi manfaat secara timbal balas. Baik mu’awadhah mahdhah (akad yang batal dengan sebab batal pembayarannya/’iwadh) seperti harta yang di peroleh dengan jalan di beli, hibah bissawab (pemberian dengan ada imbalannya), atau mu’awadhah ghair mahdhah (akad yang tidak batal dengan sebab batal pembayarannya) seperti harta yang hasil dari hasil mahar pernikahan, hasil shulh (perdamaian) dll. Adapun bila bertijarah dengan harta yang bukan hasil dari akad mu’awadhah misalnya harta hasil warisan kemudian di jual atau disewakan maka harta tersebut tidak termasuk dalam harta tijarah yang di kenakan kewajiban zakat.[2]
  2. Memiliki barang yang memang  dari permulaannya sudah dimaksudkan  untuk perdagangan. Seseorang yang membeli barang, ketika membelinya memang sudah direncanakan untuk berniaga dengan barang tersebut, atau seorang wanita yang menerima mahar pernikahan, ketika ia menerima mahar tersebut ia telah berencana mahar tersebut akan di gunakan untuk berniaga maka barang dan mahar tersebut termasuk dalam harta tijarah yang akan wajib zakat setahun kemudian, ataupun seseorang menyewakan satu barang yang tujuannya untuk disewakan lagi kepada orang lain disertai dengan niat berniaga maka harta tersebut termasuk harta tijarah, walaupun dalam kenyataan kemudian tidak ada pihak yang menyewa barang tersebut, maka wajib dizakati harta tersebut dikala sudah sampai setahun, dan dihargakan barang tersebut dengan harga mitsilnya (harga barang yang sama dengannya), dan dikeluarkan zakat 2,5% dari harga mitsil. Adapun bila pada saat mendapatkan barang tersebut tidak ada niat akan berniaga tetapi niat berniaga hanya muncul di kemudian hari misalnya pada awalnya kita membeli barang untuk keperluan pribadi kemudian muncul rencana menjual barang-barang tersebut maka harta tersebut tidak termasuk dalam harta tijarah yang wajib zakat.[3]
  3. Barang tersebut sudah mencapai nishab yaitu setara dengan harga 32 mayam (96 gram) emas. Nisab Zakat Tijarah hanya disyaratkan pada akhir tahun saja. Maka bila pada awal tahun jumlah harta dagangan tidak mencapai nisab, namun pada akhir tahunnya telah mencapai nisab maka tetap wajib zakat tijarah.[4]
  4. Sudah berjalan satu haul ( tahun ).
  5. Dikeluarkan 2,5 % dari harta yang terkena wajib zakat.
  6. Harus dikeluarkan dalam uang tidak boleh dalam bentuk barang.
  7. Hutang dan piutang perdagangan juga masuk dalam harta yang dikenakan Zakat. Hutang yang telah jatuh tempo, bila mudah ditagih maka wajib bayar zakat dengan segera, sedangkan bila sulit untuk ditagih zakat tetap wajib namun baru wajib dikeluarkan ketika hutang tersebut telah dilunasi.[5]
  8. Bila timbul niat akan mempergunakan barang tijarah untuk keperluannya (bukan lagi untuk di perdagangkan) maka dengan adanya niat tersebut akan memutuskan keadaan barang tersebut sebagai barang tijarah. Efeknya barang tersebut tidak akan di kenakan lagi kewajiban zakat.[6]
  9. Apasaja barang seperti bangunan, perabotan dan peralatan yang tidak disiapkan untuk jual-beli, tidak dimasukkan dalam perhitungan aset yang dikeluarkan zakatnya. Sebab dikategorikan barang tetap dan tidak berkembang.
Cara Menghitung Zakat Tijarah.
Untuk pertama kali catat tanggal kita membeli barang. Kemudian jika pada tanggal yang sama di tahun berikutnya harta tersebut telah mencapai nisab, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5% dari jumlah total barang tijarah. Wallahu A'lam Bisshawab.

Catatan Kaki
[1]. Syamsuddin Ibnu Muhammad Ibnu khatib as-Syarbaini, Mughni Muhtaj, hal, 458, jld, 2.
[2]. Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Hajar al-haytami, Minhajul Qawim, hal, 213, jld 5 dlm Hasyiahnya at-Tarmasi, cet, Dar al-Minhaj.
[3]. Ahmad IbnuMuhammad IbnuHajar al-Haytami, Tuhfatul muhtaj, hal, 326 jilid, 3 cet, Dar Fikr.
[4]. al-Mahalli ‘ala Minhaj, jld II, hal 35 Cet. Haramain.
[5]. al-Mahalli ‘ala Minhaj, jld II, hal 50 Cet. Haramain.
[6]. Syamsuddin ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, hal, 117, jld, 3, cet, Darul Fikri.




Teks Muqaddimah Dalail Khairat

Dalail Khairat merupakan sebuah kitab yang dikarang oleh syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuly. Di Aceh, khususnya di dayah-dayah, kitab ini di baca pada malam jum’at. Bagi para santri, Salah satu fadhilah membaca Dalail Khairat adalah In sya-Allah akan diberikan kemudahan dalam memahami ilmu pengetahuan agama. Salah satu fadhilah yang lain adalah in sya-Allah akan dimudahkan rezeki oleh Allah Swt. Sebelum membaca kitab dalail Khairat, biasanya dimulai dengan membaca muqaddimah yang berisi istighfar, shalawat kepada Nabi Muhammad, dan do’a.
Para pengunjung setia website Lajnah Bahtsul Masail yang dimuliakan Allah, berhubung sebentar lagi tanggal 12 rabiul awwal yang tentunya akan dimeriahkan dengan pembacaan dalail khairat, barzanji, maulid al-diba’i, dan lain sebagainya. Maka kali ini kami ingin berbagi Teks Muqaddimah Dalail Khairat, Berikut ini Teksnya, semoga bermanfaat…

بسم الله الرحمن الرحيم

أسْتَغْفِرُ اْللهَ اْلعَظِيْمَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ عَظِيْمٍ أَوَّلًا وَأَخِرًا وَظَاهِرً وَّبَاطِنًا يَااَللهُ ياَرَحْمَنُ يَارَحِيْمُ
أَسْتَغْفِرُاْللهَ اْلعَظِيْمَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ عَظِيْمٍ مِنْ سَمَعِيْ وَ بَصَرِيْ وَ كَلاَمِيْ وَ فُؤَادِيْ يَا اَللهُ يَا رَحْمَنُ يَا غَفُوْرُ يَا رَحِيْمُ
نَسْتَغْفِرُاْللهَ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَ لِمَشَايِخِنَا وَ لِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ لِجَمِيْعِ اْلأَوْلِيَاءِ وَ اْلشُّهَدَاءِ وَ اْلصَّالِحِيْنَ ياَ أَللهُ يَا رَحْمَنُ يَارَحْمَنُ يَاغَفُوْرُ يَا رَحِيْمُ
صَلَّى اْللهُ عَلَى اْلنَّبِيِّ مُحَمَّدٍ خَيْرِ اْلوَرَى خَاتِمِ اْلرُّسُلِ شَافِعِ اْلآنَامِ بَدْرِ اْلتَّمَامِ نُوْرٍ تَجَلَّى وَ عَلَى أَلِهِ وَ صَحْبِهِ ذَوِ اْلهُدَى وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ ذَوِ اْلتُّقَى
أَلَّلهُمَّ صَلِّيْ أَفْضَلَ اْلصَّلاَةِ عَلَى أَسْعَدِ مَخْلُوْقَتِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ عَدَدَ مَعْلُوْمَتِكَ وَمِدَادَ كَلِمَاتِكَ كُلَّمَا ذَكَرَ كَالذَّكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ اْلغَافِلُوْنَ
صَلَّى اْللهُ رَبُّنَا عَلَى نُوْرِ اْلعَالَمِيْنَ مُحَمَّدٍنِ اْلمُصْطَفَى سَيِّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ بِبَرْكَةِ صَلَوَاتِنَا عَلَى اْلعَدُوِّ فَانْصُرْنَا

Penjelasan Tentang Lafaz “ISM” Pada Basmallah


PEMBUANG ALIF KATA “اسم” PADA PADA BASMALLAH

Lafadh اسم secara lughawi bermakna kata yang mengilustrasikan musamma (pemilik nama). Dalam Al-Qamus, kata اسم berasal dari سموا سما yang bermakna ارتفاع (tinggi). Menurut ulama Kuffah, kata اسم berasal dari kata وسم yang bermakna tanda.

Sebagian ulama lughah mengatakan bahwa kata ism memiliki lima macam lughat yaitu:
اسم dengan dhammah hamzah.
اسم dengan kasrah hamzah.
وسم dengan kasrah sin.
وسم dengan dhammah sin.
سمي sama seperti هدي

Sebagian ulama mengatakan bahwa lughat kata ism bukan lima macam akan tetapi sepuluh macam, yaitu:
سماة
سم
سمة
اسم
سُمي
سَمي
سِمي
سَماء
سِماء
سُماء

Kata ism ini merupakan salah satu dari sepuluh kata yang dimulai dengan hamzah washal yaitu :
اسم
است
ابن
ابنم
ابنة
امراة
امرؤ
اثنان
ايم
اثنتان

Undang-undang hamzah washal ini adalah menyebutkan barisnya pada permulaan dan meninggalkannya pada pertengahan. Adapun penulisan alifnya maka disebutkan pada tulisannya baik pada permulaan atau pada pertengahan.

Namun jika kita lihat penulisan kata اسم pada basmalah maka kita temukan terjadi ketidak sesuaian penulisannya dengan undang-undang yang berlaku, karena dalam basmalah, alif pada kata اسم dibuang, sedangkan undang-undangnya alifnya tidak dibuang akan tetapi harakahnya yang dibuang. Jika dilihat pada kasus yang lain seperti pada contoh ayat dalam surah al-‘Alaq اقرأ باسم ربك الذي خلق yang mana huruf alif pada kata اسم tidak dibuang. Penulisan kata ism dalam ayat tersebut sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Untuk menjawab kemusykilan tersebut para ulama memiliki alasan yang berbeda-beda, diantaranya adalah:
Khusus pada basmalah peng-idhafahan kata ism kepada jalalah (kata Allah) harus dibuang alifnya dengan alasan pemakaian basmalah sangat banyak sehingga untuk memudahkan alif pada kata ism dibuang.Tujuan pembuangannya adalah untuk menyesuaikan antara penglafatan dengan tulisannya. Karena pada pelafatannya alif washalnya tidak dibunyikan walaupun pada tulisannya ada, maka untuk sesuai dengan pelafatan maka tulisan alifnya dibuang. Disitu tidak terjadi pembuangan karena kata dasarnya bukan اسم akan tetapi سم dengan kasrah sin.

Sebagian ulama mengatakan bahwa kata ism jika diidafahkan kepada selain kata jalalah maka alifnya harus disebutkat. Contohnya باسم الرحمن .Sebagian ulama lain mengatakan bahwa kata ism jika terdapat pada permulaan kalam maka alifnya harus dibuang dan jika terletak pada pertengahan maka alifnya harus disebutkan sebagaimana pada ayat al-‘Alaq.

Demikian sekilas pembahasan masalah اسم dalam basmallah semoga bermanfaat kepada kita semua, amin.

Referensi: Kitab Idhahul ibda' Hikmatul hakim fi bayani bismillahirrahmanirrahim hal. 4.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja