Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Bab Nakirah Ma'rifah Bag.2

pemenang juara hafal Bait Alfiyah Ibn Malik
pemenang juara hafal Bait Alfiyah Ibn Malik Mudi Mesra
lanjutan dari Bab Nakirah Ma'rifah Bagian Pertama
وذو انتصاب ٍ في انفصال ٍ جعلا ... إيّاي والتفريع ليس مشكلا

Zamer nasab yang munfasil 12 chit
“iyyaya” dan bandum furu’ hana ba’id

وفي اختيار ٍ لا يجيء المنفصل ... إذ تأتّى أن يجئ المتصل

Tan mudharat hanjeut datang ngoen munfasil
Meunyo mungken tapeudatang ngen muttasil
Na syit tempat ngoen munfasil jeut tapegah
Tgk seubot bet dimiyub kaloen bagah

وصل أو افصل هاء سلنيه وما ... أشبهه في كنته الخلف أنتمي
كذاك خلتنيه واتصالا ... أختار غيري اختار الانفصالا
“ha” “salmihi” jeut ta wasal dan munfasil
Karena kuat maf’ol yang phon meuan hasil
Yang kedua bak “kuntuhu” hinan khilaf
Khabar “kana” dijih zamer
Ban “kuntuhu” pih serupa “kiltanihi”
Hinan khilaf ibnu malik muttasili
وقدّم الأخصّ في اتصال ... وقدّمن ما شئت في اتفصال
Zamer akhas bak muttasil ta peu away
“’ataitukah”meunan contoh beuta afay
Jeut peuaway bak munfasil pue yang hawa
Aman labis hana takoet keu serupa
وفي اتحاد الرتبة الزم فصلا ... وقد يبيح الغيب فيه وصلا
Sa martabat nibak zamer lazem paseue
Geupeuboleh zamer ghaeb untuk waseue
وقبل يا النّفس مع الفعل التزم ... نون وقاية ٍ وليسي قد نظم
Ya mutakallim di jih laze nun wiqayah
Nibak “laisi” nun jih geuboh pih syadz sudah
وليتني فشا وليتي ندرا ... ومع لعلّ اعكس وكن مخيّرا
في الباقيات واضطرارا ً خفّفا ... منّي وعنّي بعض من قد سلفا

“laitani” masyhur “laiti” nadhir lon rawi
Nak “la’alla” seubalek nyan bek nadawi
Dum sahabat di la’alla pun diikot
“min” deungoen “`an” nun jitamoeng munan seubot
وفي لدنّي لدني قلّ وفي ... قدني وقطني الحذف أيضا قد يفي
Bak laduni jih seubut nun leubeh faseh
Dit isti’mal nun jih geubeh han meudaleh
“qad” dengoen “qath” nun wiqayah pih jitamoeng
Sa ngoen ateuh bak na weh weueh fam beukeunong

Sekian Terimakasih

Lughat Mutadakhilah

ilmu sarafDi dalam kitab Mathlub pada halaman 14 dan 11 terdapat kalimat “lughat mutadakhilah”. Bagaimanakah pengertian lughat mutadakhilah tersebut?

Jawab:
Maksud dari lughat mutadakhilah adalah lughah yang hasil dari penggabungan dua lughah yang berbeda. Contohnya;
Dalam kitab Mathlub halaman 14 cerakan Haramain, di sebutkan bahwa wazan فَعَلَ – يَفَعَلُ (fa’ala-yaf’alu) hanya datang dari fiel yang 'ain atau lam fielnya terdiri dari salah satu huruf halaq (ح خ ع غ ه أ ) . Kemudian mushannif melanjutkan bahwa contoh; رَكَنَ – يَرْكَنُ (rakana-yarkanu) adalah lughah mutadakhilah. Maksudnya adalah pada dasarnya ada dua lughah yang berbeda yaitu;
رَكَنَ – يَرْكُنُ (rakana-yarkunu) dan رَكِنَ – يَرْكَنُ (rakina-yarkanu) kemudian di ambillah fiel madhi dari lughat pertama dan mudhari’nya dari lughat kedua sehingga jadilah babnya
  رَكَنَ – يَرْكَنُ (rakana-yarkanu)
Takhadul lughah juga terjadi pada satu kalimat; misalnya حُبُك (hubuk) dan حِبِك (hibik). Kemudian dari dua lughat tersebut di ambillah lughat yang lain hasil dari gabungan dua lughat tersebut menjadi حِبُك (hibuk).

Referensi:
1. Syarah ‘ala Murah al-Arwah hal 18
وقوله "فمن اللغات المتداخلة والشواذ" نشره على ترتيبه يعني أن ركن يركن بفتح العين في الماضي وضمها في الغابر وركن يركن بكسرها في الماضي وفتحها في الغابر لغتان، فأخذ الماضي من الأولى والمضارع من الثاني فقيل ركن يكن بالفتح فيهما؛ لأنه من باب فتح يفتح فلا نقض


2. Taqrir ‘ala Miftah fi Sharf- DR. Ali Taufiq Hamdi
رَكَن بفتح الكاف مضارعه يَرْكَن بفتحها أيضاً. وفيه لغتان أخريان: ركِن يركَن: بكسر الكاف في الماضي وفتحها في المضارع. ورَكُن يَرْكُن بضهما في الماضي والمضارع.
وذكر الميداني أنّ "رَكَن يَرْكَن " رواها أبو عمرو. وقال: هو من اللغة المتداخلة، يعنون أنّ رَكَن يَرْكُن ورَكِن يَرْكَن لغتان، ثم أخذوا الماضي من أحدهما والمستقبل من الأخر، فقالوا: "رَكَن يَرْكَن

Pembagian Hadits dari segi jumlah perawi

ilmu haditsPara ulama membagi hadits kepada beberapa jenis. Pembagian tersebut akan berbeda menurut arah tinjauan yang berbeda. Yang akan kami bahas dalam postingan ini adalah pembagian hadits dari segi kuantitas sanad; yaitu pembagian hadits dari sisi jumlah perawinya.

1. Mutawatir

Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi dalam jumlah yang banyak pada setiap tingkatan sanatnya, yang menurut akal biasanya tidak mungkin mereka sepakat untuk berdusta dan memalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkannya pada suatu yang dapat diketahui dengan indra seperti pendengarannya dan semacamnya.

Dari defenisi diatas dapat dipahami bahwa sebuah hadits baru disebut mutawatir harus memiliki empat syarat, pertama, diriwayatkan oleh jumlah perawi yang banyak. Kedua, jumlah yang banyak ini berada pada semua tingkatan (thabaqat) sanad. Ketiga, menurut logika jumlah mereka kebiasaan tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Keempat, sandaran hadits mereka dengan menggunakan indra seperti perkataan mereka kami telah mendengar, atau kami telah melihat, atau kami telah menyentuh, atau lainnya. Adapun jika sandaran mereka dengan menggunakan akal, maka tidak dapat dikatakan sebagai hadits mutawatir.

Menurut pendapat kuat, tidak disyaratkan jumlah tertentu pada perawi mutawatir, tetapi yang pasti harus ada sejumlah bilangan yang dapat meyakinkan kebenaran bahwa hadits itu bersumber dari rasulullah. Namun demikian, diantara ulama ada yang mensyaratkan dengan jumlah tertentu dan tidak boleh kurang dari jumlah tersebut, seperti empat orang, lima orang, dua belas orang, empat puluh orang, tujuh puluh orang, dan bahkan ada yang berpendapat jumlahnya harus ada tiga ratus lebih. Meskipun tidak mengsyaratkan jumlah tertentu, namun menurut as-sayuthi, sebagaimana yang dikutip oleh az-zarkani bahwa jumlah perawi mutawatir minimal harus ada sepuluh orang.

Dalam hal keotentikannya, hadits mutawatir disejajarkan dengan al-quran, karena keduanya merupakan sesuatu yang pasti adanya (qath’i al-wurud). Menurut pendapat kuat, pengetahuan yang didapatkan melalui hadits mutawatir merupakan pengetahuan yang berada pada pendapat yakin (qath'i), bukan bersifat dugaan (dhanni). Itulah para ulama sepakat bahwa hadits mutawatir wajib diamalkan.
Hadits mutawatir terbagi dua bagian, yaitu pertama, mutawatir pada lafazh dan makna. Kedua, mutawatir pada makna saja sedangkan pada lafazhnya berbeda-beda pada redaksi.[1]

2. Ahad

Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu, atau dua, ataupun tiga orang perawi, selama tidak sampai jumlah mereka pada tingkat mutawatir.
Hadits ahad terbagi tiga bahagian:
  1. Masyhur
    Hadits Masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih pada setiap tingkatan sanatnya, selama tidak sampai kepada jumlah perawi mutawatir.
    Dari defenisi ini dapat dipahami bahwa tiga orang merupakan persyaratan minimal untuk disebut sebagai hadits masyhur.
  2. Aziz
    Hadits ‘Aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang perawi pada setiap tingkatan sanadnya.
  3. Gharib
    Hadits Gharib adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang perawi pada setiap tingkatan sanadnya.
Mengenai keotentikannya, jika setelah ditelusuri dan diteliti ternyata sebuah hadits ahad memenuhi persyaratan standar hadits yang diterima (maqbul), maka hadits ahad dihukum sebagai hadits shahih. Jika sebaliknya, maka hadits ahad divonis sebagai hadits dha’if. Meskipun demikian, kebiasaan yang terjadi pada hadits gharib adalah tidak shahih. Karenanya, sebahagian ulama malah membenci penusuran terhadap hadits-hadits yang tergolong gharib.[2]

Kebenaran berita yang terkandung dalam hadits ahad adalah bersifat dugaan (Zhanni), tetapi wajib juga diamalkan. Hal ini berbeda dengan berita yang dibawa oleh hadits mutawatir, dimana beritanya dihukum pasti dan menyakinkan (qath’i). [3]
----------------------------------------------------------------

  1. Muhammad Ibn ‘Alawi al-Maliki, al-Minhal lathif..., h 94-95
  2. Al-Zarqani, Syarh Manzhumah al-Bayquniah.., h 59
  3. Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Taudhih al-nazhr.., h 55-57 
  4. Abdul Majid khon, Ulumul Hadits.., 81-82

Sumber; Hadits dan Ilmu Hadits, Makalah Tgk. H. Helmi Imran pada acara PKU MPU Aceh angkatan ke XXII tahun 2014

Salah Sangka Saat Bangun Dari Sujud

Diskripsi Masalah

Salah satu ketentuan melakukan rukun shalat adalah jangan ada maksud untuk hal lain. Sebagai manusia, merupakan hal yang lumrah terjadinya lupa dan silap dalam berbagai hal tak kecuali dalam ibadah shalat. Kadangkala dalam shalat saat kita dalam sujud, kita menyangka berada dalam rakaat ke dua sehingga setelah sujud di sunatkan duduk tasyahud awal. Namun baru sesaat duduk kita teringat bahwa bukan rakaat ke dua, sehingga langsung bangun berdiri membaca fatihah.

Pertanyaan

Mengingat salah satu syarat melaksanakan rukun adalah jangan ada niat untuk hal lain, maka apa yang harus ia lakukan untuk berdiri kepada rakaat selanjutnya, apakah langsung berdiri dari posisi duduk atau kembali dahulu ke posisi sujud baru kemudian bangun dari sujud ke posisi berdiri?

Jawaban

Yang harus ia lakukan adalah langsung berdiri dari posisi sujud tanpa kembali terlebih dahulu ke posisi sujud.

Salah satu syarat melakukan gerakan shalat adalah jangan ada niat melakukan gerakan dengan tujuan selain gerakan shalat di saat itu. Misalnya, seseorang yang turun dari berdiri untuk sujud, kemudian baru sampai batasan rukuk ia teringat bahwa belum melakukan rukuk. Maka posisinya tersebut tidak memadai sebagai rukuk, namun ia harus berdiri terlebih dahulu kemudian baru rukuk. Contoh lainnya adalah seseorang yang turun karena terkejut, maka turun tersebut tidak memadai sebagai turun untuk rukuk atau sujud.

Namun bila bangun dari sujud dengan tujuan duduk tasyahud awal karena menyangka ia berada di rakaat kedua kemudian sesaat setelah duduk ia teringat bahwa ia bukan berada pada rakaat kedua maka ia boleh langsung berdiri untuk membaca fatihah tanpa harus kembali ketempat sujud. Bahkan haram hukumnya kembali ke posisi sujud karena akan menambah perbuatan rukun shalat dan bila ia kembali kepada posis sujud bisa berakibat batalnya shalatnya bila di kerjakan secara sengaja dan ia mengetahui hukumnya haram kembali ke posisi sujud.

Referensi

1. Tuhfah, jld 2, hal 67, Dar Fikr

(ولا يقصد) بالقيام إليه (غيره فلو رفع) رأسه (فزعا من شيء لم يكف) نظير ما مر في الركوع فليعد إليه ثم يقوم وخرج بفزعا ما لو شك راكعا في الفاتحة فقام ليقرأها فتذكر أنه قرأها فإنه يجزئه هذا القيام عن الاعتدال كما مر

2. Busyra Karim ‘ala Syarah Bafadhal hal 151 Dar Fikr

(فلو هوى لتلاوة) أي: لسجودها، أو لقتل نحو حية (فجعله) عند بلوغه حد الراكع (ركوعاً .. لم يكفيه) بل يجب أن ينتصب، ثم يركع؛ لصرفه هويه لغير واجب فلم يقم عنه، ولو شك وهو ساجد هل ركع؟ .. لزمه الانتصاب فوراً ثم الركوع، ولا يجوز له القيام راكعاً، وإنما لم يحسب له هويه عن الركوع؛ لأنه لا يلزم من هوي السجود من قيام وجودُ هوي الركوع، بخلاف ما لو شك غير مأموم بعد تمام ركوعه في الفاتحة، فعاد للقيام، ثم تذكر أنه قرأها .. فيحسب له انتصابه عن الاعتدال، وما لو رفع من السجود يظن جلوسه للاستراحة أوالتشهد الأول، فبان له الحال بخلافه .. فيكفيه رفعه، فإنَّ القيام في الأول والجلوس في الأخيرين واحد لا يختلف

Ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah

Hadits Riwayah dan Dirayah
Ilmu Hadits terbagi kepada dua, yaitu Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah.

1.Ilmu Hadits Riwayah

Para ulama hadits memberikan pengertian yang beragam terhadap hadits riwayah, tetapi mereka mempunyai maksud yang sama. Dari beberapa redaksi yang berbeda dapat ditarik pemahaman bahwa ilmu hadits riwayah adalah ilmu yang membahas tentang periwayatan secara teliti dan hati-hati terhadap apa saja yang di sandarkan kepada nabi, baik perkataan, perbuatan, persetujuan, maupun sifatnya. Dengan kata lain, ilmu ini merupakan ilmu mengenai periwayatan hadits. Ilmu ini diperkenalkan dan dibukukan pertama kali oleh Muhammad Ibnu Syihab al-Zuhri (w.124 h) pada masa kekalifahan ‘Umar ibnu ‘Abdul Aziz.[1]

Objek pembahasannya adalah diri Nabi SAW dari segi perkataannya, perbuatannya, persetujuannya, sifatnya, dengan tanpa membicarakan nilai shahih atau tidaknya. Fokus pembicaraan ilmu ini hanya menyangkut periwayatan empat aspek tersebut dari Nabi. Ilmu ini tidak menyinggung tentang kualitas perawi atau kejanggalan matan yang diriwayatkan. Adapun faedah ilmu mempelajarinya adalah memelihara hadits Nabi secara berhati-hati dari kesalahan dalam periwayatan, menjaga kemurnian syari’at, menyebar luaskan sunnah Nabi dan meneladani beliau dalam segala aspek.[2] Karena tidak membicarakan tentang kualitas dan kesahihan sebuah hadits yang diriwayatkan, maka hampir semua literatur ilmu hadits tidak membahas secara panjang lebar tentang hal-hal yang terkait dengan ilmu ini.

2.Ilmu Hadits Dirayah

Dari beberapa redaksi ulama dalam mendefenisikan, dapat ditarik pemahaman bahwa yang dimaksudkan dengan ilmu hadits dirayah adalah ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan sanat dan matan hadits serta menentukan keshahihannya.[3] Objek pembasannya adalah sanat dan matan dari segi apakah dapat diterima atau harus di tolak, dengan mengukur dan menimbang dengan kaedah-kaedah yang telah ditentukan. Oleh karenanya, secara lebih rinci, ilmu juga membahas tentang cara-cara yang dipakai dalam menerima dan memberikan hadits, sifat-sifat perawi, ketersambungan sanat, dan keteputusannya, kesesuaian matan dan kejanggalannya, dan lain-lain sampai hal-hal yang terkait dengan periwayatan secara makna.

Ilmu ini diperkenalkan dan dibukukan pertama kali oleh Al-Qadhi Abu Muhammad Ibnu ‘Abdurrahman al-Khalad al-Rahurmuzi (w. 360 h) . Ia merupakan orang pertama yang menulis ilmu ini dal;am kitab yang diberi nama al-Muhaddits al-Fadhil. Adapun faedah mempelajarinya adalah dapat mengetahui kualitas sebuah hadits apakah dapat diterima ataupun ditolak setelah mengaplikasikan kaidah-kaidah yang ditetapkan.[4] Disamping namanya ilmu hadits dirayah, ilmu ini juga dinamakan dengan ilmu mushthalah al-hadits, ilmu ushul al-hadits, ilmu musthalhah al-atsar,ilmu ushul riwayat al-hadits , ulum al-hadits, dan qawa’it al-tahdits.[5]

Pembahasan ilmu ini adalah tentang kaidah-kaidah yang dipakai untuk mengukur keshahihannya sebuah hadits. Kaidah-kaidah tersebut sangat sangatlah banyak dengan melihat kepada berbagai aspek yang menyangkut dengan sanat dan matan. Oleh karenanya, dalam berbagai literatur ilmu hadits, hampir sembilan puluh persenpembicaraannya dipusatkan pada ilmu ini, dan hanya menyisakan sepuluh persen saja untuk ilmu hadits riwayah. Dengan demikian, tidaklah mengherankan apabila membaca berbagai karya ilmu hadits, maka yang didapatkan hampir seluruhnya adalah kaidah-kaidah tersebut.

Secara teori, ilmu hadits dirayah dan ilmu hadits riwayah merupakan dua bagian yang berbeda. Tetapi pada hakikatnya dua bagian ini tidak dapat dipisahkan. Hal ini karena setiap periwayatan hadits tentu memerlukan kepada kaidah yang mengukur shahih atau tidaknya, dan diterima atau ditolak hadits tersebut. Oleh karena itu, masing-masing ilmu tersebut tidak mungkin berdiri sendiri.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
  1. Abdul majid khon, ulumul hadits...,h. 69-71
  2. Muhammadibn ‘alawi al-maliki, al-minhal lathif..,h 40 dan abdul majid khon, ulumul hadits.., h 70-71
  3. Muhammadibn ‘alawi al-maliki, al-minhal lathif...,h 41
  4. Hafizh Hasan al-mas’udi, minhat al-mughits.., h 3
  5. Muhammad ibn ‘alawi al-maliki, al-minhal lathif..., h 41
Sumber; Hadits dan Ilmu Hadits, Makalah Tgk. H. Helmi Imran pada acara PKU MPU Aceh angkatan ke XXII tahun 2014

Rukun Shalat yang Ke Delapan: Duduk antara Dua Sujud

Duduk antara Dua Sujud
Pada kesempatan ini kami akan mencoba menguraikan tentang rukun salat yang ke delapan yaitu: duduk antara dua sujud.
Duduk antara dua adalah duduk yang dilakukan setelah sujud pertama berfungsi sebagai pemisah sujud pertama dan kedua.
Nabi SAW bersabda:
ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا
Artinya: kemudian tegaklah sehingga tetap sebentar dalam posisi duduk. (HR. Abu Hurairah)

Duduk antara dua sujud mesti dilakukan dengan bangun dari sujudnya secara menyengaja, artinya bukan karena ada sebab yang lain seperti disengat oleh binatang, terkejut dan sebagainya. Karena itu, jika ia bangun dari sujud karena demikian maka harus mengulangi dari sujudnya kembali. Duduk antara dua sujud tidak boleh dilakukan terlalu cepat tanpa adanya thuma`ninah (berhenti sejenak) dan juga tidak boleh berlama-lama dengannya (menyamai ukuran bacaan tasyahud yang wajib), karena ia adalah termasuk rukun yang pendek (qashir).



Hal-hal yang disunatkan ketika duduk antara dua sujud

  1. Membaca takbir ketika mengangkat kepala dari sujudnya.
  2. Duduk secara iftirasy, yaitu duduk di atas tumit kakinya yang kiri sedangkan kaki kanan ditegakkan secara lurus serta menghadapkan jari kaki kanannya ke arah kiblat.
  3. Meletakkan kedua tangannya di atas dua paha mendekati dengan dua lututnya.
  4. Jari-jari tangannya dibentangkan dengan rapat (bukan direnggangkan).
  5. Membaca doa berikut ini :
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَعَافَنِي وَاعْفُ عَنِّي

Bagi yang shalat sendirian (munfarid) dan imam jamaah mahshurin disunatkan untuk menambahkan doa di bawah ini:



رَبِّ هَبْ لِي قَلْبًا نَقِيًّا مِنْ الشِّرْكِ بَرِيًّا لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إنَّك أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ
Ya Tuhanku, berikanlah bagiku hati yang bersih dari syirik dan bukan hati yang kufur dan celaka.
Ya Tuhanku, ampunkanlah dosaku dan kasihinilah diriku, dan ampunkanlah bagiku apa yang Engkau ketahui, sesungguhnya engkau adalah yang Maha Megah lagi Pemurah.

Di bawah ini adalah gambar tampak dari belakang cara duduk iftirasy yang di sunnahkan.

duduk iftirasy

Referensi:
Hasyiah al-Syarwany wa Ibn Qasim ‘Ala Syarh Tuhfat al-Muhtaj juz 2 h. 77


Bab Nakirah Dan Makrifah Bag.1

النكرة والمعرفه

Abu Mudi
نكرة قابل أل مؤثرا ... أو واقعّ موقع ما قد ذكرا
Isiem nakirah sah tamong al peuma’rifah
Atoe isem yang bertempat bak mazkurah
وغيره معرفة ّ كهم وذي ... وهند وابني والغلام والذي
Seulaen nyan isem ma’rifah ban “hum” dan “zi”
Dan hinda dan ibni ghulami allazi
فما لذي غيبة أو حضور ... كأنت وهو سمّ بالضّمير
Keu yang ghaeeb ato hudhur geumeukeusud
Atau huwa isem zamer nyan geumaksud
وذو اتصال منه ما لا يبتدا ... ولا يلي إلا اختيارا ً أبدا
كالياء والكاف من ابني أكرمك ... والياء والها من سلييه ما ملك
Zamer muttasil han jeut ta mulai kalam
“illa” geutham ‘oh ihtiyeue beuna ta fham
Contoh “ya” dan “kaf” bak “ibny” dan “akramak”
Dan “ya” deungon “ha”bak “salihi ma malak”
وكلّ مضمر له البنا يجب ... ولفظ ما جرّ كلفظ ما نصب
Isem dhamer ban bandum jih wajeb bina
Zamer nasab ngoen zamer jar harkat sama
Seubab bina na 4 wajah wahe tgk
Yang phon jamet 2 wadhi’ hana ragu
3 iftiqar unak marji’ meunan lon boeh
4 terkaya nibak ikrab kan lon satoeh
للرّفع والنّصب وجرّنا صلح ... كاعرف بنا فإننا نلنا المنح
Bagi rafak nasab dan jar zamer patot
Lage “bina” dan “innana” , “nilna” seboet
وألف ّ والواو والنون لما ... غاب وغيره كقاما واعلما
Zamer rafak yang muttasil na bak ghaeb
Dan mukhattab alif waw nun contoh lam bet
ومن ضمير الرّفع ما يستتر ... كافعل أوافق نغتبط إذ تشكر
Dhamer rafak na mustatir uloen peugah
Peut yang wajeb contoh lam bet kaloen bagah
وذو إرتفاع ٍ وانفصال ٍ أنا هو ... وأنت الفروع لا تشتبه
Zamer rafak yang muttasil na dua blah
“ana” “uwa” “anta” furu` hana ubah


Download Syarah Risalah Bayaniyah

Syarah Risalah Bayaniyah
Salah satu kitab ulama besar yang dikenal dalam kemahiran beliau dalam ilmu Arabiyah adalah Abu Irfan Muhammad bin Ali Ali ash-Shabban (wafat 1206 H/1791 M). Beberapa kitab beliau seperti Hasyiah Shabban ‘ala Syarah Sullam lil Malawi, Hasyiah Shabban ‘ala Syarah Asymuni ‘ala Alfiyah Ibnu Malik, Syarah Samarqandiyah fil Isti’arah, Syarah Shabban ‘ala Syarah Jauhar Maknun, Shabban ‘ala Syarah Talkhish dll

Salah satu kitab Imam Shabban dalam ilmu balaghah adalah Risalahah al-Bayaniyah, sebuah kitab dalam ilmu bayan. Kitab ini kemudian di beri hasyiah oleh Syeikh Muhammad al-inbabi (wafat1313 H/1896 M), seorang ulama Mesir yang menjadi Grand Syeikh al-Azhar yang ke dua puluh dua menggantikan Syeikh Muhammad al-Mahdi al-Abasy. Penjelasan Syeikhul Al-Azhar ini sangat membantu dalam memahami uraian Syeikh Ali Shabban tentang majaz dalam ilmu bayan ini. Nah bagi yang menginginkan Kitab Hasyiah Syeikh al-Azhar ini silahkan di download di SINI

Kitab Mudawwan Dalam Mazhab Asy-Syafi'i

kitab kuning
Seluruh kitab yang diriwayatkan oleh ulama Asy-Syafi'iyah terbagi kepada dua pembahagian :


  1. Kitab yang disebut oleh ahli sejarah dan ahli riwayat sebagai kitab yang dinisbahkan (disandarkan) kepada Asy-Syafi'i. mereka berkata “kitab Al-Um milikk Asy-Syafi'I, kitab ar-Risalah milik Asy-Syafi'I, kitab ikhtilaf Al-‘Iraqiyin milik Asy-Syafi'I” dan seterusnya dan seterusnya. Hal ini sama juga seperti kitab yang disandarkan kepada Imam Malik seperti perkataan Al-Hafih Abu Sa'id Al-‘Ila’I “sangat banyak jama’ah yang meriwayatkan kitab Al-Muwattha’ dari Imam Malik.
  2. Kitab yang disebut oleh ahli sejarah sebagai kitab yang disandarkan kepada ashab Asy-Syafi'i dan talshis ( ringkasan) mereka terhadap perkataan-perkataan Imam Asy-Syafi'i sekalipun pendapat tersebut disandarkan kepada Imam Asy-Syafi'I, maka tidak sama seperti kitab pada pembagian yang pertama dibelakang, akan tetapi pambagian yang pertama disandarkan kepada Imam Asy-Syafi'i dari segi makna dan lafadh sedangkan yang kedua ini disandarkan kepada Imam Asy-Syafi'i dari segi makna saja.


Banyak perawi mengatakan tentang cara Imam Asy-Syafi'i mengarang kitab, mereka berkata bahwa kadang-kadang Imam menulis kitabnya sebagian dan mendektenya sebagian. Dan yang menjadi bahan pertimbangan bahwa sangat banyak dalam kitab Al-Umm ditemui redaksi “amla’ ‘alaina Asy-Syafi'i” (Imam Asy-Syafi'i telah mendekte kepada kami). Contohnya dalam pembahasan masalah ash-shulhu (perdamaian) “ ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata;” amla’ ‘alaina Asy-Syafi'I” (Imam Asy-Syafi'i mendekte kami) dan pada permasalahan Hiwalah ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata : “akhbarana Asy-Syafi'i ‘imla’an” (Imam Asy-Syafi'I mengatakan kepada kami dengan cara mendekte). Dan lain-lain.

Ulama mengatakan bahwa kitab-kitabyang dikarang oleh Imam Asy-Syafi'I dalam masalah fiqh ada empat :
  1. Al-Umm
  2. Al-Imla’
  3. Mukhtashar Al-Buawaithi
  4. Mukhtashar Al-Mazani


Dari sini kita ketahui bahwasanya kitab yang ditulis oleh Imam Al-Muzani dan Al-Buwaithi semuanya disandarkan kepada Imam Asy-Syafi'i sekalipun yang diriwatkan dari Asy-Syafi'i adalah maknanya bukan redaksi yang diucapkan oleh Asy-Syafi'i.
Kemudian empat kitab ini diringkas oleh seorang ulama yang bernama Imam Haramain dengan kitabnya yang bernama Nihayatul Mathlab fi Ri’ayatil Mazhab yang berjumlah 45 jilid besar. Hal ini sesuai dengan keterangan ulama muta’akhirin. Akan tetapi menurut Al-Babili dan Ibnu Hajar Al-Haitami kitab An-Nihayah adalah syarah dari kitab Mukhtashar Al-Muzani dan Mukhtashar Al-Muzani adalah ringkasan dari kitab Al-Umm.
Kemudian datanglah Al-Ghazali yang meringkas kitab an-Nihayah dengan kitabnya yang bernama al-Bashith kemudian beliau meringkas al-Bashith dengan kitab yang diberi nama Al-Washith selanjutnya beliau meringkas Al-Washith dengan kitabnya yang bernama Al-Wajiz dan terakhir beliau meringkas Al-Wajiz menjadi kitab yang bernama Al-Khulashah.
Kemudian datang ulama lain yang bernama ar-Rafi’i dengan meringkas kitab Al-Wajiz dengan kitabnya yang bernama Al-Muharrar. Namun diterangkan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj bahwa kitab Al-Muharrar disebut sebagai mukhtashar (ringkasan) karena sedikit lafadhnya bukan karena memang benar-benar kesimpulan dari kitab Al-Wajiz.
Kemudian kitab Al-Muharrar diringkas oleh Imam an-Nawawi dengan kitabnya yang bernama Minhaj at-Thalibin. Selanjutnya oleh Zakaria Al-Anshari meringkas kitaba Minhaj dengan kitabnya yang bernama Al-Manhaj. Kemudian Al-Jauhari meringkas kitab Al-Manhaj dalam kitabnya yang bernama an-Nahj.

Imam ar-Rafi’i juga mensyaraah kitab Imam Al-Ghazali Al-Wajiz dengan 2 buah syarah:
  1. Syarh ash-Shaghir yang tidak diberikan nama
  2. Syarh Al-Kabir dengan nama Al-Aziz.
Kemudian Imam an-Nawasi meringkas kitab Imam ar-Rafi’i Al-Aziz dengan kitabnya yang bernama ar-Raudhah dan Al-Muqri meringkas kitab ar-Raudhah dalam kitabnya yang bernama ar-Raudh dan kitab ar-Raudh disyarah oleh Imam Zakaria Al-Anshari dengan kitabnya yang bernama Al-Atsna 
Kemudian Ibnu Hajar Al-Haitami mengikhtishar kitab ar-Raudh dengan kitabnya yang bernama an-Na’im yang merupakan kitab yang sangat bagus dalam pembahasannya namun sayang kitab ini hilang ketika Imam an-Nawawi masih hidup.
Dan kitab ar-Raudhah juga diikhtishar oleh Ahmad bin Umar Al-Mazjidi az-Zabidi dengan kitabnya yang bernama Al-‘Ubab yang kemudian kitab Al-‘Ubab ini disyarah oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dengan kitabnya yang bernama Al-I’ab akan tetapi tidak ini belum sempat rampung.
Kemudian kitab ar-Raudhah juga diringkas oleh Imam as-Suyuthi dengan kitabnya yang bernama Al-Ghaniyah dan beliau juga menadhamnya (menggubah dalam bentuk sya’ir) dengan diberi nama Al-Khulashah namun sayang Al-Khulashan ini tidak sempat selesai.
Begitu juga Al-Quzwini, beliau meringkas kitab Al-Aziz syarah Al-Wajiz dengan kitabnya yang bernama Al-Hawi ash-Shaghir yang kemudian dinadham oleh Al-Wardi dalam kitab Buhjahnya dan kemudian nadham tersebut disyarah oleh Syaikh Al-Islam Zakaria Al-Anshari dengan dua buah syarah. Kemudian datang Ibnu Al-Muqri dengan meringkas kitab Al-Hawi ash-Shaghir dengan kitabnya yang berjudul Al-Irsyad yang kemudian disyarah oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dengan dua buah syarah.

sumber
Al-Hafnawiy, Prof. DR. Muhammad Ibrahim,. "al-Fathul Mubin Fi Ta’rif Mushthalahat al-Fuqaha wal Ushuliyyin"

Ulama Mazhab Syafi'i yang masyhur dengan kitabnya

Pengajian Tastafi
Dalam memepalajari kitap-kitap turats yang bermazhabkan syafi’iyah, sering kita jumpai istilah  yang tidak sedikit dan beragam. Begitu juga dalam penyebutan nama para ulama yang cukup terkenal didalam mazhab syafi’iyah pun terdapat istilah sendiri yang cukup sulit untuk kita kenali. Seringkali dalam penyebutan ini nama ulama diganti dengan nama “ SAHIB” yang disandingkan dengan kitap karangan beliau yang terkenal. Oleh karena itu kami dari pihak LBM MUDI MESRA mencoba berbagi sedikit ilmu tentang masalah ini, semoga bermanfaat.

1. صاحب جمع الجوامع (pengarang kitab jamul jawami’)
Nama asli beliau adalah Abu Sahal Ahmad bin Muhammad ad-Dauri, terkenal dengan julukan ibni ‘afrisy, Al-Ubadi menduga bahwa Abu Sahal hidup satu masa dengan Al-Qaffal Asy-Syairazi-Syasyi, dan kitabnya jam’ul jawami’ adalah kitab yang dikummpulkannya dari kitab-kitab Asy-Syafi'iyah. Imam ar-Rafi'i ada menukil pendapat beliau pada awal masalah thaharah, Imam nawawi juga ada menukit pendapat ad- Dauri dalam tambahannya dalam kitab Minhaj at-Thalibin namun an-Nawawi tidak mengambilnya langsung dari kitab ad-Dauri tapi melalui kitab Ibnu Shalah. Ad-Dauri wafat pada tahun 372 H.

2. صاحب التقريب ( pengarang kitab at-Taqrib)
Nama beliau adalah Al-Qasim bin Al-Qaffal Al-Kabir Asy-Syasyi, beliau pengarang at-Taqrib yang merupakan syarah kitab Al-Mukhtashar , ukurannya hampir sama dengan ukuran kitab Al-Aziz karangan Imam ar-Rafi’i. At-Taqrib merupakan kitab yang luar biasa dan banyak mengandung hadis dan pendapat Imam Asy-Syafi'i. beliau wafat pada tahun 400 H.

3. صاحب المستدرك على الصحيحين (pengarang kitab Al-Mustadrak ala shahihain)
Beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah an-Naishaburi yang dikenal dengan Al-Hakim. Beliau adalah tempat berpegangnya pembesar-pembesar ahli hadis dan beliau adalah seorang faqih hafidh dan tsiqah. Wafat pada tahun 405 H.

4. صاحب التتمة ( pengarang kitab at-Tatimmah)
Beliau bernama Abu Sa'id Abdurrahman bin Ma’mun Al-Mutawali an-Naishaburi, belajar fiqh kepada Al-Faurani di Marwa dan belajar kepada Al-Qadhi Husai di Marwarraud. Beliau mengarang kitab at-Tatimmah yang merupakan ringkasan dari kitab Al-Ibanah karangan Imam Al-Faurani dengan ditambahkan beberapa hukum yang kurang sehingga kitab beliau dinamakan kitab Tatimmatul Ibanah. Dan kitab at-Tatimmah inipun tidak sempurna selesai hanya sampai pada masalah mencuri yang kemudian disempurnakan oleh jama’ah. Beliau wafat pada tahun 478 H.

5. صاحب البحر (pengarang kitab Al-Bahr)
Pengarang kitab ini bernama Qadhi Al-Qudda’ Abdul Wahid bin Ismail ar-Rauyani dan kitabnya yang lain bernama Bahrul Al-Mazhab dan Hilliiyah Al-Mukmin. Satu riwayat mengisahkan bahwa beliau pernah berkata “seandainya seluruh kitab Imam Asy-Syafi'i dibakar maka aku akan mendektekannya dari hafalanku”. Beliau wafat pada tahun 502 H.

6. صاحب الحلية (pengarang kitan Al-Hilliiyah)
Namanya adalah Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Asy-Syasyi yang mempunyai lakab Fakhrul Islam, kitabnya yang lain adalah Hilliyah Al-Ulama’ Fi Ma’rifah Mazhab Al-Fuqaha’ dan kitab Asy-Syafi Syarh Al-Kamil. Beliau wafat pada tahun 505 H.

7. صاحب الذخائر (pengarang kitab az-Zakha’ir)
Beliau adalah Al-Qadhi Bahauddin Abu Al-Ma’ali Al-Majalli bin Naja Al-Makhzumi Al-Asyuthi. Beliau mengarang kitab yang bernama az-Zakha’ir fi Fiqh Asy-Syafi'iyah. Imam Al-Asnawi berkata tentang kitab beliau : “ kitabnya memiliki banyak permasalahan cabang dan sesuatu yang rahasia (luar biasa) akan tetapi susunannya tidak biasa, berat untuk orang yang ingin mengeluarkan masalah darinya dan didalamnya juga terdapat waham-waham”. Beliau wafat tahun 549 H.

8. صاحب البيان ( pengarang kitah Al-Bayan)
Namanya adalah Abu Al-Hasan Yahya bin Abi Al-Husain bin Salim Al-Yamani. Beliau merupakan guru para ulama Asy-Syafi'iyah di Yaman, pengarang kitab Al-Bayan fi Furu’ Asy-Syafi'iyah. Wafat tahun 558 H.

9. صاحب التعجيز ( pengarang kitab at-Ta’jiz)
Beliau bernama Tajuddin Abdurrahim bin Abdul Malik bin Imad bin Yunus, seorang Imam dalam ilmu fiqh dan ilmu ushul fiqh, pengarang kitab at-Ta’jiz yang merupakan ringkasan dari kitab Al-Wajiz Al-Ghazali yang menjelaskan tentang furu’ syari’at. Kitab in sangat luar biasa dan sangat terkenal di kalangan ulama mazhab Asy-Syafi'iyah. Beliau wafat pada tahun 669 H.

10. صاحب التوشيح (pengarang kitab at-Tausyikh)
Bernama Qadhi Al-Qudha’ Tajuddin Abu an-Nashr Abdul Wahab bin Ali as-Subk, belajar ilmu fiqh dari ayahnya dan dari az-Zahabi dan beliau sangat cerdik dan jenius hingga tidak ada yang setara dengannya dalam masalah ilmu pada masanya. Karangannya adalah Tausyih at-Tahshih dalam ilmu ushul fiqh dan beliu wafat setahun setelah merampungkan kitab ini dan wafat tahun 769 H.

11. صاحب العجا لة (pengarang kitab Al-‘Ajalah)
Beliau adalah Al-Bahr Al-Kamil Asy-Syaikh Sirajuddin anu Al-Hasan bin Al-Mulqin Al-Mishry Umar bin Ali bin Ahmad. Beliau adalah ulama teralim di bidang fiqh pada zamannya, memiliki karangan yang banyak dan populer diantaranya Syarh Al-Kabir li Al-Minhaj dan ‘Ajalah Al-Muhtaj ‘ala Al-Minhaj karana lebih khusus dari syarahannya yang pertama. Wafat pada tahun 773 H.

12. صاحب التحرير الفتاوى (pengarang kitab Tahrir li Al-Fatawa)
Nama asli beliau adalah Al-‘Allamah Asy-Syaikh Waliyuddin Ahmad bin Abdullah Al-‘Iraqi. Beliau adalah solusi (tempat orang bertanya) pada zamannya, karangannya banyak diantaranya adalah at-Tahrir yang merupakan ta’liq dari kitab at-Tanbihdan Al-Minhaj dan al-Hawi ash-Shaghir. Wafat tahun 908 H.

13. صاحب الارشاد (pengarang kitab al-Irsyad)
Beliau adalah Al-Bahr Al-Mudaqqiq Asy-Syaikh Syarifuddin Mahmud bin Al-Husain Al-Mishri. beliau orang yang sangat faqih zahid dan sangat teliti dalam menukil dan mentarjih, beliau memiliki banyak karangan yang bagus diantaranya Irsyad Al-Muhtaj fi Syarh Al-Minhaj. Kitab seperti ini sangat langka dan sangat banyak manfaatnya.Wafat tahun 976 H.

sumber
Al-Hafnawiy, Prof. DR. Muhammad Ibrahim,. "al-Fathul Mubin Fi Ta’rif Mushthalahat al-Fuqaha wal Ushuliyyin"

Cara menyucikan najis mughalladhah

Cara menyucikan najis mughalladhah
Tingkatan najis terbagi kepada tiga
  1. Najis Mukhaffafah:
    yaitu air seni bayi yang belum sampai usia dua tahun dan belum mengkonsumsi makanan selain ASI
  2. Najis Mughalladhah:
    yaitu semua bagian anjing dan babi dan anak hasil peranakan salah satunya dengan hewan lain.
  3. Najis Mutawassithah:
    Yaitu selain dari kedua najis di atas
Semua bagian anjing dan babi merupakan najis mughalladhah termasuk kotorannya, air liurnya, susunya dan semua yang berasal dari keduanya.

Dalil yang menyatakan bahwa anjing adalah najis mughalladhah adalah hadits Nabi riwayat Imam Muslim:

إذا ولغ الكلب في اناء أحدكم فليرقه ثم ليغسله سبع مرات رواه مسلم

Artinya; Apabila anjing menjilati bejana kamu maka tumpahkanlah airnya kemudian basuhlah sebagak tujuh kali (H.R.Imam Muslim)

Pada hadits ini, Rasulullah memerintahkan untuk menumpahkan air dalam bejana yang telah di jilati anjing, hal ini menunjuki bahwa air tersebut sudah bernajis, karena menumpahkan air merupakan hal yang dilarang karena termasuk dalam perbuatan mubazir apalagi di tanah di mana air merupakan hal melimpah seperti di negri kita.

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda:

طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسل سبع مرات أولاهن بالتراب

Artinya; Apabila dijilat oleh anjing akan suatu bejana maka cara menyucikannya adalah dengan membasuh benda tersebut dengan air sebanyak tujuh kali, dan salah satu dari tujuh kali tersebut dengan air yang dicampurkan dengan tanah yang suci. (H.R. Imam Muslim)

Dalam hadits kedua ini, Rasulullah menerangkan cara mensucikan bejana yang di jilat anjing. Suci hanya terjadi dari dua hal yaitu hadats dan najis. Hadats tidak mungkin di maksudkan pada anjing, maka mestilah di maksudkan yang kedua yaitu najis.

Adapun najisnya babi sebagaimana Allah tegaskan dalam ayat al-An’am ayat 145 :

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

Artinya; Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu adalah najis (Q.S. al-An’am 145)

Selain itu najisnya babi juga dikiaskan kepada najisnya anjing dengan kias aulawi, karena babi lebih buruk dari anjing. Kalau anjing bisa diambil manfaat sesekali dengan cara dijadikan sebagai anjing mu’allam (anjing yang diajarkan), sedangkan babi tidak bisa di ambil manfaat kapanpun dan dimanapun.

Cara menyucikan najis mughalladhah berbeda dengan menyucikan najis yang lain. Benda yang terkena mughalladhah wajib di basuh dengan air tujuh kali dan salah satu dari pada tujuh tersebut di basuh dengan air yang udah di campur dengan tanah yang suci. Yang lebih baik basuhan dengan air yang bercampur tanah di lakukan pada basuhan pertama. Jika ain najis mughalladhah tersebut tidak di hilangkan kecuali setelah basuhan ke enam maka masih di anggap satu kali basuhan, maka wajib di tambahkan enam basuhan lain setelahnya.

Jika terkena air basuhan untuk menyucikan najis mughalladhah ini maka pada tempat yang terkena air tersebut wajib di basuh dengan air sebanyak sisa basuhan dari tujuh kali basuhan. Misalnya bila terkena air basuhan ke tiga maka pada tempat tersebut wajib di basuh dengan air empat kali basuhan lagi.


Referensi:
Mahalli hal 69 cet Toha Putra
Nihayatuz Zain Hal 55 Dar Kutub Ilmiyah

Aurat Wanita di Depan Wanita Kafirah

Aurat Wanita
Aurat merupakan bagian tubuh tertentu yang diperintahkan syara’ untuk menjaganya bagi setiap orang, kecuali bagi orang-orang tertentu yang dibolehkan dalam agama. Agama melarang kaum perempuan untuk menampakkan auratnya kepada kepada non muhrim atau suaminya. Adapun sesama wanita muslimah dibolehkan dalam agama selama masih dalam batasannya.

Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya kalau yang melihat itu adalah wanita non muslim, begitu juga sebaliknya?

Jawab:
Larangan melihat aurat muslimah bagi kafirah dipahami para ulama dari ayat 31 surat An Nuur:
{أو نسائهن} [النور: 31]
Artinya: …atau bagi wanita-wanita mukmin …..

Menurut pendapat yang kuat (Ashah) bahwa haram terhadap wanita kafir (baik wanita kafir zimmiyah atau harbiyah) memandang aurat wanita muslimat. Maka wajib bagi muslimat untuk menutup auratnya dihadapan wanita kafir.
Adapun yang dibolehkan terlihat hanyalah bagian tubuh yang biasa tampak pada saat bekerja atau bertugas, misalnya lengan yang agak melewati pergelangan tangannya yang biasa tampak ketika sedang memasak, atau kedua tumitnya yang tampak ketika sedang berjalan. Karena bagian seperti ini dimaafkan.
Keharaman melihat bagi kafirah terhadap aurat wanita muslimah sealama si kafirah itu bukan mahram atau hamba sahaya bagi wanita muslimah, bila mahram atau hamba sahayanya maka boleh. Sedangkan apabila muslimah yang memandang kepada aurat si kafirah maka maka dibolehkan karena tidak menentang dengan ayat Allah SWT diatas.

Aurat laki-laki dan perempuan
Fatwa Abuya Muda Wali: Hukum Jilbab bagi Wanita


1. نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ص 94 ج 6
(والأصح تحريم) (نظر) كافرة (ذمية) أو غيرها، ولو حربية (إلى مسلمة) فيلزم المسلمة الاحتجاب منها لقوله تعالى {أو نسائهن} [النور: 31] فلو جاز لها النظر لم يبق للتخصيص فائدة. وصح عن عمر - رضي الله عنه - منعه الكتابيات دخول الحمام مع المسلمات؛ ولأنها ربما تحكيها للكافر. والثاني لا يحرم نظرا إلى اتحاد الجنس كالرجال فإنهم لم يفرقوا فيهم بين نظر الكافر إلى المسلم وعكسه. نعم يجوز على الأول نظرها لما يبدو عند المهنة على الأشبه في الروضة كأصلها وهو المعتمد. وقيل للوجه والكفين فقط، ورجح البلقيني أنها معها كالأجنبي وصرح به القاضي وغيره، ثم محل ما تقرر حيث لم تكن الكافرة محرما أو مملوكة للمسلمة وإلا جاز لهما النظر إليها كما أفتى به المصنف في الثانية وبحثه الزركشي في الأولى، وهو ظاهر، وظاهر إيراد المصنف يقتضي أن التحريم على الذمية وهو صحيح إن قلنا بتكليف الكفار بفروع الشريعة وهو الأصح، وإذا كان حراما على الكافرة حرم على المسلمة التمكين منه؛ لأنها تعينها به على محرم.

1. نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج ص 94 ج 6
وأما نظر المسلمة إليها فمقتضى كلامهم جوازه وهو المعتمد لانتقاء العلة المذكورة في الكافرة وإن توقف الزركشي في ذلك، وقول ابن عبد السلام والفاسقة مع العفيفة كالكافرة مع المسلمة مردود كما قاله البلقيني وإن جزم به الزركشي

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja