Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Kisah Keberkahan Merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw

Disebutkan dalam kitab Targhibul Musytaqin halaman 4 :

وَقَالَ عَبْدُاللهِ بْنُ عِيْسَى الْأَنْصَارِيُ كَانَتْ بِجِوَارِيْ اِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ وَلَهَا وَلَدٌ صَالِحٌ فَكَانَتْ فَقِيْرَةً لَاشَيْئَ لَهَا إِلَّا دِيْنَارٌ وَاحِدٌ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِهَا فَمَاتَتْ وَكَانَ ذَلِكَ الْوَلَدُ يَقُوْلُ: هَذَا مِنْ ثَمَنِ غَزْلِ أُمِيْ وَاللهِ لَا أَصْرِفُهُ إِلَا فِيْ أَمْرِ الْآخِرَةِ

Syaikh Abdullah bin 'Isa al-Anshari berkata : Adalah tetanggaku seorang wanita yang sholehah. Dia mempunyai seorang anak lelaki yang sholeh. Wanita yang sholehah ini tidak mempunyai harta selain satu dinar hasil kerja tenunnya. Tatkala wanita tersebut meninggal dunia, anaknya yang sholeh tersebut berkata kepada dirinya : “Uang satu dinar ini adalah hasil kerja ibuku. Demi Allah, aku tidak akan membelanjakannya kecuali untuk perkara akhirat.”

وَخَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ فِيْ حَاجَةٍ لَهُ فَمَرَ بِقَوْمٍ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَعَمِلُوْا مَوْلِدَ النَّبِيِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فِيْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَجَلَسَ عِنْدَهُمْ وَسَمِعَ ذَلِكَ

Pada suatu hari, pemuda anak perempuan sholehah tersebut keluar karena suatu keperluan, dia melewati satu perkumpulan orang sedang membaca al-Quran dan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Rabi`ul Awwal. Lalu dia pun duduk bersama mereka dan mendengarkan Maulid tersebut.

ثُمَّ نَامَ فِيْ لَيْلَتِهِ فَرَأَى فِيْ مَنَامِهِ كَأَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ وَكَأَنَّ مُنَادِيًا يُنَادِيْ: أَيْ فُلَانُ ‌بْنَ فُلَانٍ يَذْكُرُ جَمَاعَةً فَسَاقَهُمْ إِلَى الْجَنَةِ وَذَلِكَ الشَّابُّ مَعَهُمْ وَقَالَ الْمُنَادِيْ: إِنَّ اللهَ جَعَلَ لِكُلٍّ مِنْكُمْ قَصْرًا فِي‌ الْجَنَّةِ فَدَخَلَ ذَلِكَ الشَّابُّ قَصْرًا لَمْ ‌يَرَ أَحْسَنَ منه وَالْحُوْرُ الْعِيْنُ فِيْهِ كَثِيْرَةٌ وَعَلَى أَبْوَابِهِ خُدَّامٌ وَبَاقِي الْقُصُوْرِ أَلْطَفُ مِنَ الْقَصْرِ الَّذِيْ دَخَلَ فِيْهِ فَأَرَادَ الدُّخُوْلَ فِيْهِ فَلَمَّا هَمَّ بِالدُّخُوْلِ قَالَ لَهُ الْخَادِمُ : لَيْسَ هَذَا لَكَ وَإِنَّمَا هُوَ لِمَنْ عَمِلَ مَوْلِدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ

Pada malamnya, pemuda tersebut bermimpi seolah-olah kiamat telah tiba dan seorang penyeru menyeru: "Di manakah si fulan anak si fulan", disebutnya nama-nama orang yang dalam satu rombongan lalu digiringlah mereka ke surga. Dan pemuda tersebut ikut bersama mereka.

Si penyeru tadi berkata: "Sesungguhnya Allah telah memberi bagi setiap kamu sebuah istana didalam surga." Dan masuklah si pemuda tadi ke dalam sebuah istana, tidak pernah dia melihat istana yang seumpamanya dari segi keindahannya, ia dipenuhi bidadari dan pada segala pintunya dijaga oleh khadam. Pemuda tersebut melihat bahwa ada istana lain yang lebih elok daripada istana yang ia masuki. Lalu dia pun berkehendak untuk memasukinya. Tatkala terbesit dihatinya untuk memasuki istana tersebut, berkatalah khadam kepadanya: "Ini bukanlah untukmu, sesungguhnya ini diperuntukkan bagi orang yang mengadakan Maulid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam."

فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَلِكَ الشَّابُّ صَرَفَ ذَلِكَ الدِّيْنَارَ عَلَى مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فَرْحًا بِرُؤْيَاهُ وَجَمَعَ الْفُقَرَآءَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَمَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ وَقَصَّ‌ عَلَى الْجَمَاعَةِ رُؤْيَاهُ فَفَرِحُوْا بِذَلِكَ وَنَذَرَ أَنْ لَايَقْطَعَ مَوْلِدَ‌ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ مَادَامَ حَيًّا

Keesokan harinya, pemuda tersebut menggunakan satu dinar (peninggalan ibunya) tersebut untuk mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam karena kegembiraannya dengan mimpinya itu. Diapun mengumpulkan para faqir miskin untuk berzikir kepada Allah, membaca al-Quran dan membaca Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dia juga menceritakan tentang mimpinya itu kepada mereka, dan mereka merasa gembira mendengar ceritanya itu. Pemuda tersebut bernazar untuk tidak akan meninggalkan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalla selama hayatnya.

ثُمَّ نَامَ فَرَأَى أُمَّهُ فِي الْمَنَامِ فِيْ هَيْئَةٍ حَسَنَةٍ وَفِيْ حُلَلٍ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ وَلَهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ وَقَبَّلَ يَدَهَا وَهِيَ قَبَّلَتْ رَأْسَهُ وَقَالَتْ : جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا يَا وَلَدِيْ لَقَدْ أَتَانِيْ مَلَكٌ وَأَعْطَانِيْ هَذِهِ ‌الْحُلَلَ فَقَالَ لَهَا: مِنْ أَيْنَ لَكِ هَذِهِ الْكَرَامَةُ فَقَالَتْ: لِأَنَكَ قَدْ صَنَعْتَ بِالدِّيْنَارِ الَّذِيْ وَرِثْتَهُ مِنِّيْ مَوْلِدَ سَيِّدِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ وَهَذَا جَزَاءُ مَنْ عَظَّمَ نَبِيَّهُ وَعَمِلَ مَوْلِدَهُ

Kemudiannya, si pemuda tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ibunya berada dalam keadaan yang amat baik, berhias dengan segala perhiasan syurga dan berwangian dengan bau surga. Pemuda tersebut mencium tangan ibunya dan ibunya mengecup kepalanya lalu berkata: "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai anakku, malaikat telah datang kepadaku membawa segala perhiasan ini." Si pemuda bertanya kepada ibunya: "Dari manakah ibu memperoleh kemuliaan ini?" Sang ibu menjawab: "Karena engkau telah mempergunakan satu dinar yang engkau warisi dariku untuk mengadakan Maulid Junjungan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, dan inilah balasan bagi orang yang mengagungkan Nabinya dan mengadakan Maulid Baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam". Wallaahu A'lam.

Senyum dalam Shalat

Diskripsi masalah

Dalam hal ibadah khususnya sholat kita kadang-kadang tidak begitu tau tentang adanya tafsilan-tafsilan atau berupa pengecualian dari hal yang telah kita ketahui secara mujmal (global) tak jauh halnya pada hal-hal yang dapat membatalkan sholat, salah satunya yaitu keluar dua huruf dari mulut termasuk di antaranya tertawa, menangis dan sebagainya.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukumnya tersenyum dalam sholat ?

Jawaban:

Senyum dalam sholat tidak dapat membatalkan sholat karena tidak mengeluarkan huruf-huruf yang dapat membatalkan sholat. Alasan kedua karena nabi sallallahua'laihi wasallam pernah senyum ketika malaikat melewati di depannya pada saat baginda sholat.


وقوله وضحك خرج به التبسم فلا يبطل الصلاةلانه لا يظهرمعه حروف ولان النبى صلى الله علىه وسلم تبسم فىهافلماسلم قال مربى مىكاىىل فضحك لى فتبسمت له

Referensi: Ianatuttalibin juz 1 hal 218 cet. Haramain

Rukun Shalat: Tasyahud

Deskripsi masalah:

Dalam mengerjakan shalat, perlu diketahui bagaimana cara melaksanakan shalat yang benar, setiap rukun tentu mempunyai ketentuan sendiri, yang berakibat pada sah atau tidaknya shalat seseorang, berikut ini kami akan menguraikan sedikit penjelasan tentang tasyahud yaitu:

Tasyahud terbagi dua:
1. Bacaan dan duduk tasyahud yang diiringi dengan salam merupakan rukun dalam shalat, atau yang biasa kita sebut dengan nama tasyahud akhir.
2. Sedangkan yang tidak diiringi dengan salam merupakan sunat dalam shalat, atau nama lainnya adalah tasyahud awal.

Duduk pada dua tasyahud ini sebenarnya boleh bagaimana pun bentuknya, asalkan sesuai dengan cara duduk yang telah ditentukan dalam sembahyang. Namun, disunatkan pada tasyahud awal yaitu duduk iftirasy, dan pada tasyahud akhir disunatkan duduk tawaruk.

1. Tasyahud akhir
Membaca dan duduk tasyahud akhir adalah rukun yang ke Sembilan dan ke sepuluh dalam shalat, duduk ini disunatkan dalam posisi tawaruk, yaitu tata caranya sama seperti duduk iftirasy, hanya saja kaki kirinya dikeluarkan dari bawah kaki kanannya, sedangkan pinggulnya dilengketkan ke lantai.
2. Tasyahud Awal
Duduk dan membaca tasyahud awal merupakan sebagian dari sunat ab’ad dalam shalat. Adapun posisi duduk yang disunatkan dalam tasyahud awal adalah duduk iftirasy.
Duduk iftirasy yaitu posisi seseorang duduk di atas mata kakinya, sedangka
n bagian belakang telapak kakinya menempel ke lantai, dan kaki kanannya ditegakkan dengan seluruh jari-jarinya di hadapkan ke arah kiblat.

Adapun bacaan tasyahud minimalnya yaitu seperti yang telah di jelaskan dalam kitab kanzul ar-raghibin(al mahalli), cet. Darul fikri, juz. 1, hal. 189:

وَأَقَلُّهُ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ سَلَامٌ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Dan bacaan yang paling sempurnanya ialah:

وَأَكْمَلُ التَّشَهُّدِ مَشْهُورٌ وَرَدَ فِيهِ أَحَادِيثُ اخْتَارَ الشَّافِعِيُّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - مِنْهَا حَدِيثَ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ فَكَانَ يَقُولُ: «التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ


Kisah Orang Yang Mengatakan Bahwa Maulid Nabi Bid’ah Sayyi`ah



(Diceritakan oleh Sayyid Alawi Al-Maliki dari abahnya, Sayyid Abbas Al-Maliki Rahimahumallaahu ta'aalaa)


Sayyid Alawi Al-Maliki menceritakan bahwasanya abah beliau, Sayyid Abbas Al-Maliki memberi khabar kepada beliau sesungguhnya abah beliau (sayyid Abbas Al-Maliki) berada di Baitul Maqdis untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi pada malam ‘ied Milad An-Nabawi, di mana saat itu dibacakan Maulid Al-Barzanji.
Saat itulah beliau melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat penuh adab mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu, yaitu berdiri sementara usianya sudah tua.

Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia tidak mau berdiri pada acara peringatan Maulid Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa perbuatan itu adalah bid'ah sayyi'ah (bid'ah yang jelek).
Suatu malam ia bermimpi dalam tidurnya. Dia bersama sekelompok orang yg bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka saat cahaya wajah beliau yang bagaikan bulan purnama muncul, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri menyambut kehadiran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Namun hanya ia saja seorang diri yang tidak mampu bangkit untuk berdiri. Lalu Rasullullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Kamu tidak akan bisa berdiri" Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan tidak mampu berdiri. Hal ini ia alami selama 1 (satu) tahun.

Kemudian ia pun bernadzar jika Allah menyembuhkan sakitnya ini, ia akan berdiri mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan, kemudian Allah menyembuhkannya.
Ia pun selalu berdiri (mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan) untuk memenuhi nadzarnya karena ta’zhim (mengagungkan) beliau Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Referensi:

Kitab Al-Hadyuttaamm fii Mawaaridil Maulidinnabawiyyi Wa Maa I’tiida Fiihi Minal Qiyaam, hal 50-51, karya Sayyid Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki Al-Makki (1287 H – 1367 H)


تَنْبِيْهٌ

Peringatan

حَكَى السَّيِّدُ عَلَوِي اَلْمَالِكِيُّ أَنَّ وَالِدَهُ اَلْمَرْحُوْمَ السَّيِّدَ عَبَّاسْ اَلْمَالِكِيَّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ حَضَرَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ اِحْتِفَالًا نَبَوِيًّا لَيْلَةَ عِيْدِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ تُلِيَ فِيْهِ مَوْلِدُ الْبَرْزَنْجِيِّ فَإِذَا رَجٌلٌ أَشْيَبُ قَامَ بِغَايَةِ الْأَدَبِ مِنْ أَوَّلِ الْمَوْلِدِ إِلَى نِهَايَتِهِ وَأَفَادَهُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنْ سَبَبِ وُقُوْفِهِ مَعَ كِبَرِ سِنِّهِ بِأَنَّه كَانَ لَا يَقُوْمُ عِنْدَ ذِكْرِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ فَرَأَى فِيْ نَوْمِهِ أَنَّهُ مَعَ جَمَاعَةٍ مُتَهَيِّئِيْنَ لِاسْتِقْبَالِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا طَلَعَ لَهُمْ بَدْرُ مُحَيَّاهُ وَنَهَضَ الْجَمِيْعُ لِاسْتِقْبَالِهِ لَمْ يَسْتَطِعْ هُوَ الْقِيَامَ لِذَلِكَ وَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ لَا تَسْتَطِيْعُ الْقِيَامَ فَمَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَهُوَ مُقْعَدٌ وَبَقِيَ عَلَى هَذَا الْحَالِ عَامًا فَنَذَرَ إِنْ شَفَاهُ اللهُ مِنْ مَرَضِهِ هَذَا يَقُوْمُ مِنْ أَوَّلِ قِرَاءَةِ الْمَوْلِدِ إِلَى غَايَتِهِ (نِهَايَتِهِ) فَعَافَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا بِوَفَاءِ نَذْرِهِ تَعْظِيْمًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ



Wallaahu A'lam


Abu Dujanah

Alkisah, Ada salah satu sahabat Rasul yang bernama Abu Dujanah, ia dikenal sebagi orang yang sangat dekat dengan Rasul lullah SAW. Namun, Abu Dujanah tidak terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh kebanyak sahabat, jika selesai Sholat subuh ia tidak menunggu sampai selesai dibacakan doa , tapi selalu bergegas pulang. Dan dalam sebuah kesempatan Nabi menegurnya, “Wahai Abu Dujanah, kenapa engkau tidak menunggu sampai dibacakannya doa?, tidakkah kau memiliki permintaan dan kebutuhan kepada Allah?” Abu Dujanah menjawab “iya Rasul ada,!” , Rasul berkata “lalu jika ada,mengapa engkau segera pulang?”. Abu Dujanahpun akhirnya menjelaskan “Bukannya aku tidak mau mendengarkan dan mengamini doamu ya rasul!, namun aku ini memiliki keluarga yang sangat miskin, tidak satupun makanan ada di rumahku, bahkan tidak jarang kami seharian menahan lapar. Sedangkan aku memiliki tetangga yang memiliki pohon korma yang batangnya condong ke rumahku, maka jika malam angin bertiup kencang, pasti buah-buahnya jatuh ke halaman rumahku!”.

Rasul berkata lagi “lalu apa masalahmu?” , Abu Dujanah meneruskan “ begini Ya Rasul, bahwa setiap malam anak-anakku menangis karena belum makan sepanjang hari”, pernah suatu hari usai solat subuh ku menunggu engkau, sampai mendengarkan engkau membacakan doa, namun yang terjadi ketika aku sampai di rumah aku lihat korma tetanggaku yang ada di halaman rumahku telah masuk ke dalam mulut anakku, maka segera aku ambil korma yang sedang dikunyahnya itu dengan jari ku, aku tidak mau mereka memakan yang bukan haknya, aku katakan kepada mereka “nak jangan kau permalukan ayahmu di akherat nanti, lantaran perbuatanmu ini, tidak akan kubiarkan nyawamu keluar dari jasadmu dalam keadaan memmbawa barang haram di dalam tubuhmu”. Si anakpun menangis karena sangat kelaparan, serta Abu Dujanah membawa kembali kurma tersebut kepada pemiliknya.

Mendengar kisah Abu Dujanah, Rasul dan para sahabat meneteskan air mata, sambil menangis Rasul memerintahkan Umar untuk mengumpulkan tetangga Abu Dujanah. Setelah terkumpul, Rasul berkata “Wahai kau pemilik pohon yang batangnya sampai ke rumah tetanggamu Abu Dujanah, kini aku beli pohon mu itu dengan 10 pohon korma di surga, yang akarnya dari permata hijau, pohonnya dari emas, dan dahannya darimutiara,dan di pohon itu terdapat bidadari sebanyak buah kuma yang ada di pohon tersebut!”. Si pemilik pohon yang belakangan diketahui sebagai seorang yang munafik ternyata menolaknya “saya tidak ingin menjualnya dengan harga yang kau janjikan di akhirat,tapi jika kau ingin membelinya maka saya menjualnya dengan harga tunai!”. Mendengar perkataan si munafik ini, Abu Bakar langsung maju ke hadapannnya “Hai fulan, ku beli pohon kormamu dengan 10 pohon korma terbaikku yang tidak ada bandingannya di kota Madinah.!”. Mendengar perkataan Abu Bakar maka senanglah si munafik tersebut Dan setujulah si munafik itu dengan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar menghadiahkan pohon kurma tersebut untuk Abu Dujanah. Maka Rasul mengatakan kepada Abu Bakar “Hai! Abu Bakar, Allah akan mengantikan kebaikanmu di akhirat nanti”. Maka senanglah Abu bakar, bahagilah Abu Dujanah, dan gembiralah si munafik.

Si munafikpun pulang, sesampainya di rumah sang munafik yang berhasil mendapatkan 10 pohon korma terbaik di kota madinah berkata kepada istrinya “:Wahai istriku, aku mendapatkan keuntungan yang banyak hari ini, ku telah menjual pohon korma kepada Abu bakar untuk Abu Dujanah dengan 10 pohon korma terbaik di kota ini, namun ingatlah wahai istriku!pohon yang kita jual itu tetap dalam kebun kita yang kita makan buahnya,dan tidak akan ada satu buahpun akan kuberikan kepada Abu Dujanah,” dengan sombongnya dan jahatnya sang suami dan istri ini mengingkari perjanjian dengan Nabi dan sahabat, pohon yang dijanjikan akan diberikan kepada Abu Dujanah tidak mau diberikan sepenuhnya.

Allah berkehendak lain, setelah mereka tidur keesokan harinya pohon korma yang ada di rumah si munafik telah berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah dengan kudrah dan kekuasaan Allah, seolah-olah pohon itu tidak pernah ada di kebun si munafik sehingga tak ada bekas tanda-tanda dulu ada pohon kurma pada tempat itu hinnga heranlah si munafik. sungguh sangat luar biasa. Kisah ini membuktikan pohon berpindah sebagai salah satu bagian dari Mu’jizat Rasulullah SAW. Dijelaskan oleh para ulama bahwa pohon saja mau beriman dengan Rasul, maka sungguh amat sangat aneh mereka yang dengan akalnya tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW.

Referensi: ‘Ianah al-Tholobin bab Luqatah.hal 252 dengan beberapa perubahan


Adab - Adab Pada Saat Qadha Hajat

Deskripsi Masalah:

Islam merupakan agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik dalam hal ibadah, muamalah hingga qadha hajat diatur dalam islam, qadha hajat mempunyai adab adab dan etika tertentu, yang hukumnya sunnah untuk dikerjakan, dan mendapat pahala bagi pelakunya.

Pertanyaan:

 Bagaimanakah adab-adab dalam melakukan qadha hajat ?

Jawab:

Hal Yang diwajibkan Pada saat qadha hajat (kencing dan berak) adalah istinjak atau membersihkan semua bagian yang terkena najis baik dengan air maupun dengan tiga batu yang akan membersihkan najis tersebut namun jika seseorang memilih antara batu atau air maka air terlebih baik karena air bisa membersihkan i’n najis. Dan yang terlebih afdhal lagi jika seseorang memakai tiga batu kemudian dilajutkan dengan memakai air.

1. Masuk ke jamban dengan kaki kiri
2. Membaca doa masuk jamban:


اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

Artinya : Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan pada MU dari-pada setan laki-laki dan setan perempuan.
3. Membaca doa keluar jamban:

اَلَّلهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِي مِنَ اْلفَوَاحِشِ

Artinya : Ya Allah sucikanlah hatiku dari kemunafikan dan lindungi kemaluanku dari keburukan (Zina).

4. Tidak memasukkan lafaz yang mulia seperti quran dan nama Allah
5. Haram Menghadap kiblat dan membelakanginya pada tempat terbuka jika tidak ada penghalang yang tingginya 2/3 hasta (Sekitar 15 Cm).
6. Tidak berbicara pada qada hajat kecuali jika ada hajat.
7. Tidak qadha hajat di dalam air yang tenang.
8. Tidak qadha hajat di bawah pohon berbuah walaupun belum berbuah.
9. Tidak menghadap dan membelakangi bulan maupun matahari.
10. Tidak qadha hajat pada tempat perkumpulan manusia.
11. Tidak qadha hajat pada tempat naungan atau tempat berteduh manusia.
12. Tidak qadha hajat pada jalan tempat lalu-lalang manusia.
13. Tidak melihat kepada najis yang sedang keluar.
14. Tidak melihat kemaluan.
15. Tidak melihat ke arah atas.
16. Tidak melihat ke kanan dan kiri.
17. Tidak mengerak-gerak tangannya.
18. Menjahui dari manusia supaya tidak terdengar suara keluarnya najis.
19. Menutup hidung supaya tidak mencium bau najis.
20. Tidak nampak dilihat oleh manusia maupun hewan seperti kucing.
21. Tidak qadha hajat pada tempat yang kencang tiupan angin karena menyebabkan was-was.
22. Tidak kencing sambil berdiri.
23. Tidak membuka kepala.
24. Mengangkat pakaiannya supaya tidak terkena najis.
25. Sunnah duduk di atas kaki kiri supaya mudah keluar kotoran.
26. Dan masih banyak lagi adab-adab yang lain terdapat dalam kitab-kitab mu’tabar.

Referensi : Kitab Fathul Mui’n Juz 1 hal. 110-111 Dan Kitab Fathul Qarib Juz 1 hal 60-66 (Haramain).



Fungsi Ilmu


Ilmu pengetahuan merupakan salah satu sarana bagi kita umat manusia untuk bisa menjalani kehidupan di permukaan bumi ini. Ilmu pengetahuan ditinjau dari kegunaannya terbagi dua, ada yang berguna hanya di dunia saja, dan ada ilmu selain berguna di dunia juga bermanfa’at di kehidupan selanjutnya yaitu negeri akhirat yang kekal.


Nah, oleh karena itu perlu bagi kita untuk mempelajari apa saja yang berkaitan dengan cara kita menjalani kehidupan atau dalam istilah dayah dikatakan dengan ilmu hal, baik ilmu hal tersebut berdasarkan berdasarkan pembagian ilmu yang pertama atau pun yang kedua yaitu ilmu yang menuntun kita ke tujuan yang sebenarnya.

Namun dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa ilmu yang kita butuhkan sebagai bekal untuk pulang ke negeri yang kekal mesti tetap dalam hati kita masing-masing agar dapat kita amalkan dengan tulus dan ikhlas. Karena ilmu agama hanya akan bertempat dan tetap di dalam hati yang kosong dari keburukan, karena hati yang kosong dari sifat tercela dan kehinaan akan memudahkan proses masuk dan menetapnya ilmu dalam hati seseorang. Maka sepintar apapun seseorang jika dalam hatinya dipenuhi dengan kebencian dan sifat-sifat tercela, tidak akan bersarang dan akan mudah hilang ilmu agama dari hatinya.

Referensi: Kitab Al-Jauhar Al-Maknun, Cetakan Al-Haramain, Halaman 11:

انّ العلم لا يستقرّ ولا يثبت الاّ في القلب تخلى عن الرذائل لمصادفته قلب خاليّا فيتمكّن, فانّ الحكمة اذا لم تجد القلب كذالك فانّها ترجع من حيث اتتْ.


Bolehkah Mengambil Upah Mengaji Al-Quran ?

Deskripsi Masalah:

Salah satu kebiasaan Nahdhiyyin ketika saudaranya meninggal adalah membaca al-Quran di kuburan, orang yang membacanya biasanya adalah orang yang berasal bukan dari sanak famili, sehingga diberikan sedikit upah sebagai imbalan kepadanya.

Pertanyaan:

Hukum mengupah orang yang mengaji maqbarah(kuburan) bolehkah? dan bolehkah mengambil ongkos ?

Jawab:

Hukum mengaji di kuburan boleh,dan berhak mengambil ujrah(ongkos)

Dalam kitab ia'natuttalibin menguraikan seseorang yang menyewa orang lain maka orang tersebut berhak mendapatkan ongkos dari orang yang disewa apabila pekerjaan tersebut ada kepayahan untuk melakukannya,sebagaimana orang yang menyewa seseorang untuk belajar ilmu agama dan mengajar Al-Qur'an baik seluruhnya atau sebagiannya, karena hadits:

 ان احق ما اخذتم اجرا كتاب الله

dan hadis boleh qiraah qur'an di kubur:

عن ابن عباس رضي الله عنه قال:ضرب بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم خباءه على قبر وهو لا يحسب أنه قبر,فإذا فيه إنسان يقرأ سورة الملك حتى ختمها.فأتى النبي صلي الله عليه وسلم فأخبره,فقال رسول الله صلي الله عليه وسلم:"هي المانعة,هي المنجية,تنجيه من عذاب القبر".(رواه الترميذى وحسنه).

Nah pada permasalahan mengaji di kuburan biasanya dilakukan dalam masa 7 hari/malam atau kurang dari 7 hari yang pastinya ada kepayahan dan kelelahan maka lebih layak untuk menerima ujrah , namun menyewa / mengupah seseorang untuk membaca alqur'an yang pahala dihadiah pada orang yang meninggal hukumnya sah dan orang yang disewa berhaq mendapatkan upah / ongkos. bila memenuhi salah satu diantara 4 :

  1. Dibaca di samping kuburannya
  2. Tidak dibaca di samping kuburan akan tetapi disertai do'a setelah membacanya bahwa pahalanya dihadiahkan pada mayit tersebut.
  3. Dibaca di samping orang yang menyewa
  4. Atau dibaca serta disebut / diniatkan dalam hati. :


.قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الإستئجار لقرأة القرأن عند القبر أو مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها عين زمانا أو مكانا أولا ونية الثواب له من غير دعاء له لغو خلافا لجمع أى قالوا أنه ليس بلغو فعليه تصح الإجارة ويستحق الأجرة وان اختار السبكي ما قالوه عبارة شرح الروض بعد كلام قال السبكي تبعا لابن الرفعة بعد حمله كلامهم على ما اذا نوى القارئ أن يكون ثواب قرأته للميت بغير دعاء على أن الذي دل عليه الخبر بالإستنباط أن بعض القرأن اذا قصد به نفع الميت نفعه إذ قد ثبت أن القارئ لما قصد بقرأته الملدوع نفعه.حاصل ما ذكره أربع صور إن كان قوله الأتي ومع ذكره في القلب صورة مستقلة وهي القرأة عند القبر والقرأة لا عنده لكن مع الدعاء عقبها والقرأة بحضرة المستأجر والقرأة مع ذكره في القلب وخرج بذلك القرأة لا مع أحد هذه الأربعة فلا يصح الإستئجار لها.إعانة الطالبين ٣/١١٢-١١٣

Hukum Memegang Dan Berduaan Dengan Wanita Pinangan Saat Meminang

Deskripsi Masalah :

Syari’at Islam telah menyuruh untuk menundukkan pandangan dan mengharamkan memandang wanita yang bukan mahram, untuk menjaga kesucian jiwa dan harga diri manusia, namun syari’at telah memberikan pengecualian dan membolehkan untuk melihat wanita yang bukan mahramnya pada kondisi darurat dan karena hajat (kebutuhan) yang penting, di antaranya adalah peminang melihat calon pinangannya, karena dengan melihat itulah yang akan menjadi tolak ukur untuk memutuskan perkara yang rawan.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum berduaan dan menyentuh wanita pinangan saat meminang ?

Jawaban:

Berduaan dengan wanita pinangan saat meminang hukumnya haram karana berduaan dengan wanita ajnabi sangat dikhawatirkan terjadi hal-hal yang diharamkan dan dalam agama, yang dibolehkan bagi lelaki yang meminang hanyalah melihat wajah dan dua telapak tangan wanita pinangannya, demikian juga hukum memegang wanita pinangan saat meminang adalah haram walau hanya telapak tangan dan wajahnya walaupun kita meyakini tidak akan menimbulkan hal-hal yang lebih parah, karena tidak alasan atau darurat sehingga kita boleh memegangnya.

Referensi:

مَسُّ مَا يَنْظُرُ:
 لاَ يَجُوزُ لِلْخَاطِبِ أَنْ يَمَسَّ وَجْهَ الْمَخْطُوبَةِ وَلاَ كَفَّيْهَا وَإِنْ أَمِنَ الشَّهْوَةَ؛ لِمَا فِي الْمَسِّ مِنْ زِيَادَةِ الْمُبَاشَرَةِ؛ وَلِوُجُودِ الْحُرْمَةِ وَانْعِدَامِ الضَّرُورَةِ وَالْبَلْوَى

الْخَلْوَةُ بِالْمَخْطُوبَةِ:
 لاَ يَجُوزُ خَلْوَةُ الْخَاطِبِ بِالْمَخْطُوبَةِ لِلنَّظَرِ وَلاَ لِغَيْرِهِ لأَِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ وَلَمْ يَرِدِ الشَّرْعُ بِغَيْرِ النّ وَجْهَ الْمَخْطُوبَةِ َظَرِ فَبَقِيَتْ عَلَى التَّحْرِيمِ؛ وَلأَِنَّهُ لاَ يُؤْمَنُ مِنَ الْخَلْوَةِ الْوُقُوعُ فِي الْمَحْظُورِ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
Hal 201, juz 19, cet wizaratul Auqaf

Uwais Al Qarni Sosok Yang Dikenal Di Langit Dan Tak Dikenal Di Bumi

Dikisahkan oleh Ibnu Ibbad Ar Rundi dalam kitab Syarah Al Hikam seorang manusia yang bermana Uwais Al Qarni beliau adalah sebaik-baik aulia pada masa tabi’in.

Seorang sangat hina didepan manusia yang berambut pirang dan terdapat dua lingkaran putih dibadannya sebesar dirham. ejekan serta hinaan dari manusia kerab ia dapatkan dalam kesehariannya, karena ia seorang yatim dan miskin hidup sebatang kara dengan bundanya yang tercinta, pada suatu hari ia mendapatkan hadiah dua pakaian dari ulama Kufah Karena Uwais sering mengahadiri majelis ilmu sebelum manusia mengenalnya, maka pada waktu itu mereka menuduh Uwais dengan tuduhan pencuri, menurut mereka Uwais sangatlah tidak mungkin ia mempunyai pakaian hingga dua lembar karena ia sangat miskin kecuali dengan cara mencuri. Kemudian setelah itu ia tidak lagi menghadiri majlis ilmu lebih-lebih setelah kalifah Umar bin Khatab menyerukan di mimbar pidatonya dengan menanyakan siapa di antara mereka yang bernama Uwais Al Qarni dengan menyebutkan beberapa ciri-ciri yang pernah diucapkan Rasulullah saw.

Uwais Al Qarni anak yang yatim menjalani kehidupan bersama ibundanya, ia sangat taat dan berbakti kepada ibunya, pada hari kiamat nanti ketika hamba-hamba Allah masuk surga sedangkan Uwais Al qarni diperintahkah untuk berhenti supaya ia memberi syafaat bagi manusia yang belum masuk surga ,maka manusia masuk surga atas syafaat Uwais Al Qarni sebanyak kabilah muzar terutama bagi mereka yang berbakti kepada dua orang tuanya.

Rasulullah saw telah berpesan kepada sahabat Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib tentang kemuliaan Uwais Al Qarni serta Rasulullah SAW menyebut ciri-cirinya, bahwa Uwais seorang lelaki berkulit sawo matang dibadan tepat dibahu bawah sebelah kiri terdapat dua bintik putih sebesar uang dirham yang merupakan bekasan dari penyakit lepra yang ia derita dan setelah ia berdoa kepada Allah swt, lalu Allah menyembuhkannya. Diantara ciri-cirinya juga ia berambut perang, bermata biru, dada mempunyai bidang yang lebar, kepalanya selalu menunduk ke bawah dan selalu meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya ketika berjalan, ibadahnya sangat khusyuk dengan memanjangkan sujudnya dan membaca Al Quran dengan meneteskan air mata, jika bersumpah maka Allah akan menampakkan sumpahnya. ‘’Wahai Umar dan Ali jika kalian berjumpa dengan Uwais Al qarni mintalah ampun supaya Allah mengampuni kedua kalian’’ Sabda Rasulullah saw.Hal ini merupakan alahkah mulianya sosok Uwais Al Qarni.

Berdasarkan pesan baginda Rasulullah saw, sahabat Umar dan Ali mencari sosok yang mulia Uwaisy Al Qarni tersebut. Umar bin Khatab selalu memberi aba-aba ketika musim haji siapakah diantara mereka yang bernama Uwais Al Qarni?, pada waktu itu tiba-tiba diantara mereka ada yang memberi kabar tentang Uwais, bahwa ia adalah pengembala yang sedang menjaga ternak jamaah haji yang berada di perbatasan kota Mekah, maka dengan segera Umar dan Ali pergi menuju ke tempat tersebut, sesampai pada tempat yang telah dikabarkan tersebut, mereka melihat seseorang yang sedang mengembala kambing dengan ciri-ciri yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw, maka tidak lain itulah sosok Uwais Al Qarni majhul (tidak dikenal) di bumi dan ma’ruf (terkenal) di langit. 

Kemudian terjadi perbincangan panjang antara Umar, Ali dan Uwais Al qarni.
Umar dan Ali : ‘’wahai fulan sipakah namamu ?
Uwais : Saya Abdullah (hamba Allah).
Umar dan Ali : ya memang kita semua hambanya Allah, akan tetapi siapakah namamu yang telah yang diberikan ibumu ?
Uwais : (Tidak menjawab)
Umar dan Ali : Rasulullah semasa hidupnya pernah berpesan kepada kami tentang ciri-ciri seseorang yang mulia bernama Uwais Al Qarni.
Uwais : Mudah-mudahan itu bukan aku wahai khalifah
Umar dan Ali : wahai fulan kami ingin membuktikan sabda Rasulullah saw padamu sudikah engkau menyebutkannya, sedangkan ini adalah perbuatan yang wajib kita lakukan
Uwais : Jika demikian aku menjawab ‘’ya memang saya Uwais Al Qarni sebagai bukti ini pesan Rasulullah saw yang wajib kita buktikan.
Umar dan Ali : wahai Uwais doakan keampunan bagi kami dan setelah ini kapan kita boleh bertemu kembali ?
Uwais : Baiklah, tetapi Wahai Umar dan Ali aku tidak akan membuat perjanjian antara kalian untuk bertemu lagi, sebaiknya kita berpisah saja supaya aku tidak dikenal oleh seorangpun setelah ini ( lalu ia menyerahkan binatang ternak pada pemiliknya dan pergi ).

Maka itulah perbincangan anatar Umar,Ali dan Uwais Al Qarni seorang aulia pada tabi’in yang tidak ingin dikenal oleh manusia walaupun sekaliber khalifah Umar dan Ali. Dalam riwayat disebutkan ketika Uwais Al Qarni meninggal dunia tiba-tiba saja sudah banyak manusia yang tidak dikenal telah melayatkannya dan melakukan fardhu kifayah sehingga orang-orang setempat pulang dengan harapan keesokan harinya mereka menziarahi kuburnya. Tetapi yang terjadi sebaliknya yaitu kuburnya menghilang tidak ada dari mereka mengetahuinya.

Kitab Syarh Al hikam Hal.14, Syarah Ibnu ibbad Arundi
Berikut pidato Abiya Muhammad tentang  Uwais Qarni


Orang Kafir Memandikan Jenazah Muslim

Diskripsi masalah:

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, namun kita tidak mengetahui kapan dan dimana akan menemui ajal, kadangkala ajal menjemput kita ketika sedang berada di kampung halaman, namun tidak tertutup kemungkinan kita meninggal di perantauan, bagaimanakah jika kita meninggal di lingkungan mayoritas non muslim dan dimandikan oleh mereka ?

Pertanyaan:

Bolehkah yang memandikan mayit itu dari kalangan non muslim ?

Jawaban:

Memandikan mayit tujuannya adalah untuk membersihkan si mayit (nadhafah) sekalipun yang memandikan bukan ahli bagi niat (nonmuslim) karena berdasarkan pendapat kuat tidak disyaratkan niat dari orang yang memandikan sehingga boleh dimandikan oleh non muslim.

Referensi:

(قوله وىكفى غسل كافر) اى للمىت وذلك لحصول المقصودمن غسله وهوالنظافةوان لم ىكن اهلاللنىةلان نىةالغاسل لاتشترط على الاصح
Ianatuttalibin hal 109 juz 2 cetakan haramain.


(ولاتجب نىةالغاسل)اى لاتشترط فى صحةالغسل(فى الاصح)لان القصدبغسل المىت النظافة وهى لا تتوقف على نىة.والثانى يجب لانه غسل واجب كغسل الجنابة فينوى عندافاضةالماءالقراح الغسل الواجب او غسل المىت ذكره فى شرح المهذب
Kitab Al mahalli hal 376 juz 1 cet Darul fikri.

Hikmah Basuhan Setiap Anggota Wudhu

Deskripsi masalah:

Wudhu merupakan ibadah wajib sebelum shalat, juga merupakan syarat bagi shalat, setiap perbuatan wudhu, mempunyai beberapa faedah tersendiri, Antara Lain:

1.Basuh dua tangan,memasukkan air ke dalam hidung(mazmazah),memasukkan air ke hidung(istunsyaq) hikmahnya adalah untuk mengetahui sifat sifat air apakah masih bisa di gunakan atau tidak baik segi warna nya atau rasa dan bau.Sebahagian ulama mengatakan di syariatkan membasuh ke dua tangan untuk makan makanan dari surga nantinya,begitu pula mazmazah(memasukkan air ke hidung) bertujuan untuk bisa berkalam dengan Allah azza wajalla,Instinsyaq di syariatkan juga karena dengannya akan dapat mencium bau bau surga.

2.membasuh muka,hikmahnya untuk melihat zat Allah swt di akhirat kelak,

3.membasuh dua tangan untuk bisa memakai pernak pernik surga berupa gelang dan sebagainya.

4.menyapu kepala agar bisa memakai mahkota esok di akhirat.

5.membasuh telinga untuk bisa mendengar kalamullah

6.membasuk kaki,hikmahnya untuk bisa berjalan ke syurganya .

Referensi: Al Bajuri Juz 1 Hal 55.

(فاىدة) الحكمة فى ندب غسل الكفىن والمضمضة الخ...

Thalaq Adalah Perbuatan Yang Dibenci Allah

Deskripsi masalah

Talaq(perceraian) secara etimologi adalah melepaskan ikatan nikah dengan lafad-lafad yang bisa menjatuhkan talaq.
Talak merupakan pekerjaan yang boleh tapi mendapat kemarahan dari Allah SWT.

Pertanyaan

Apa alasannya sehingga Allah begitu marah terhadap perceraian ?

Jawaban

Kita ketahui bersama tujuan utama (maksud a'zam ) dari pernikahan adalah menyambung keturunan ,nah dengan melakukan talak ini seseorang telah memutuskan tali keturunan kedua karena dengan perceraian dapat menyakiti hati istri dan anak yang ditinggalkannya.

Referensi :Ianatuttalibin hal 4 jilid 4 cet haramain:

والطلاق اشد بغضا الى الله من غىره لما فىه من قطع النسل الذى هوالمقصودالاعظم من النكاح ولما فىه من اىذاءالزوجة واهلها واولادها.

Donwload Kitab Bid’ah Idhafiyah DR. Ali Saif Ashry

Salah satu topik yang selalu diperdebatkan  kaum wahabi adalah masalah bid’ah. Kaum wahabi berusaha membid’ahkan beberapa amalan umat muslim yang telah direkomendasikan oleh ulama semenjak dahulu. Mereka mengatakan bahwa amalan yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang dasarnya dibolehkan seperti tahlilan, yasinan dll merupakan bid’ah idhafiyah. Banyak para ulama yang telah menuliskan kitab yang membahasa masalah bid’ah, menolak bid’ah ala kaum wahabi salafi. Salah satu karya yang baik yang khusus membahas bid’ah idhafiyah adalah Kitab Bi’dah Idhafiyah karya DR. Syeikh Shaif Ashry. Kitab ini pada dasarnya merupakan disertasi beliau untuk mendapatkan gelar Doktor. Beliau telah melahirkan beberapa karangan yang berisi pembelaan terhadap aqidah Ahlussunnah W al Jamaah. Selain itu beliau juga aktif di media sosial fb yaitu https://www.fb/saif.alasri  . Video pengajian dan ceramah beliau juga banyak di youtube.Beliau juga menjadi salah satu nara sumber dalam muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah beberapa waktu lalu di Chehnya.

Bagi yang berminat dengan file pdf kitab ini silahkan donwload DI SINI

Doa-Doa Yang Dianjurkan Ketika Musibah Datang


Musibah adalah cobaan Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam bentuk perkara yang tidak disukai hamba namun Rida terhadap keputusan Allah tersebut karena mereka yakin kalau apa yang Allah berikan adalah yang terbaik buat mereka.


Terlepas dari kepada siapa Allah memberikan musibah tersebut, tentu sebagai orang beriman yakin terhadap apa yang telah diajarkan Rasulullah kepada kita semua untuk bersabar terhadap musibah yang sedang menimpa. Berikut sedikit ulasan tentang anjuran do'a bagi orang-orang yang sedang tertimpa musibah berdasarkan hadits Rasulullah.

Dianjurkan bagi seseorang yang sedang ditimpa musibah, musibah pada dirinya sendiri, keluarga atau hartanya meskipun musibahnya ringan untuk memperbanyak membaca:

إنا لله وإنا إليه راجعون أللهم أجرني في مصيبتي واخلف علي خيرًا منها

Artinya : "sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali. Ya Allah, berikanlah fahala (kesabaran) kepadaku terhadap musibah yang sedang menimpa diriku dan gantikanlah kebaikan kepadaku daripada musibah ini".

Karena Allah berjanji kepada siapa saja yang mau membaca do'a tersebut dikala musibah datang, bahwa rahmat dan kasih sayang senantiasa tercurah kepada mereka dan sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan karena hadits riwayat Imam Muslim pun mengatakan bahwa siapa saja yang membaca do'a tersebut bahwa Allah pasti memberikan fahala dan menggantikannya dengan kebaikan.

Ibn Khubair berpendapat bahwa khusus kepada umat ini (umat Muhammad) diberikan sesuatu ketika musibah yang tak pernah diberikan kepada umat sebelumnya yaitu "Innalillah wa Inna Ilaihi raji'un". Bila memang do'a tersebut pernah diberikan kepada umat sebelumnya, sungguh Nabi Ya'qub AS akan mengucapkannya dan beliau tidak akan mengatakan:

يآسفى على يوسف

"Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf". (QS 12: 84)


Semoga Allah senantiasa menjadikan kita dalam golongan orang-orang yang bersabar dalam keadaan sempit dan menjadi orang-orang yang bersyukur dalam kesenangan dan kebahagiaan. amin ya rabbal 'alamin.

Referensi: I'anah al Thalibin Juz 2, Hal 147

ويتأكد لمن ابتلي بمصيبة - بميت، أو في نفسه، أو أهله، أو ماله، وإن خفت  أن يكثر إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم أجرني في مصيبتي، واخلف علي خيرا منها


Hukum Shalat Jenazah Bagi Orang Yang Terlambat Hadir

Deskripsi masalah:

Shalat Jenazah adalah shalat yg dikerjakan sebanyak 4 kali takbir waktu mengerjakannya saat ada seorang muslim yang meninggal dunia. Hukum melakukan shalat jenazah adalah fardhu kifayah atau kewajiban yg dituntut kepada orang banyak (muslim) tetapi bila sebagian orang sudah melaksanakannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya.

Pertantanyaan:

Bolehkah kita menshalati jenazah yang sudah di shalatkan orang karena kita terlambat hadir ?

Bagaimanakah hukum mengulangi (i'adah) shalat jenazah ?

Jawaban:

Boleh (sunnah), jenazah yang sudah di shalatkan bila ada orang yang terlambat datang maka sunnah bagi orang tersebut untuk menshalatinya bahkan bila ada orang yang datang lagi juga disunnahkan untuk menyalatinya lagi, orang yang melakukan shalat jenazah pada kali kedua dan ketiga harus meniatkan shalat fadhu dan mendapatkan fahala shalat fardhu (kifayah) sebagaimana yang didapatkan oleh orang yang melakukannya pada kali pertama, namun yang terlebih afdhal (bagi orang yang terlambat datang) melakukannya di kuburan (sesudah jenazah dimakamkan) karena mengikuti Nabi.

Adapun bagi orang yang sudah melakukan shalat jenazah tidak disunnahkan mengulanginya lagi walau secara berjamaah, bila diulangi lagi akan mendapatkan fahala sunnah sebagian ulama berpendapat hukumnya khilaf aula (makruh).

Referensi:

Tuhfatul Muhtaj, Juz 3, Hal 228.

وَإِذَا صَلَّى عَلَيْهِ فَحَضَرَ مَنْ لَمْ يُصَلِّ صَلَّى) نَدْبًا لِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «صَلَّى عَلَى قُبُورٍ جَمَاعَةً وَمَعْلُومٌ أَنَّهُمْ إنَّمَا دُفِنُوا بَعْدَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِمْ» وَمِنْ هَذَا أَخَذَ جَمْعٌ أَنَّهُ يُسَنُّ تَأْخِيرُهَا عَلَيْهِ إلَى بَعْدَ الدَّفْنِ وَتَقَعُ فَرْضًا فَيَنْوِيهِ وَيُثَابُ ثَوَابُهُ وَإِنْ سَقَطَ الْحَرَجُ بِالْأَوَّلِينَ لِبَقَاءِ الْخِطَابِ بِهِ نَدْبًا وَقَدْ يَكُونُ ابْتِدَاءُ الشَّيْءِ سُنَّةً وَإِذَا وَقَعَ وَقَعَ وَاجِبًا كَحَجِّ فِرْقَةٍ تَأَخَّرُوا عَمَّنْ وَقَعَ بِإِحْرَامِهِمْ الْإِحْيَاءُ الْآتِي (وَمَنْ صَلَّى) نُدِبَ لَهُ أَنَّهُ (لَا يُعِيدُ عَلَى الصَّحِيحِ) وَإِنْ صَلَّى مُنْفَرِدًا لِأَنَّ صَلَاةَ الْجِنَازَةِ لَا يَنْتَفِلُ بِهَا

(قَوْلُهُ وَتَقَعُ فَرْضًا) أَيْ تَقَعُ صَلَاةُ مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَرْضًا كَالْأُولَى نِهَايَةٌ وَمُغْنِي (قَوْلُهُ سَقَطَ إلَخْ) عِبَارَةُ النِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي لَا يُقَالُ سَقَطَ الْفَرْضُ بِالْأُولَى فَامْتُنِعَ وُقُوعُ الثَّانِيَةِ فَرْضًا لِأَنَّا نَقُولُ السَّاقِطُ بِالْأُولَى حَرَجُ الْفَرْضِ لَا هُوَ وَأَوْضَحَ ذَلِكَ السُّبْكِيُّ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - فَقَالَ فَرْضُ الْكِفَايَةِ إذَا لَمْ يَتِمَّ بِهِ الْمَقْصُودُ بَلْ تَجَدَّدَ مَصْلَحَتُهُ بِتَكَرُّرِ الْفَاعِلَيْنِ كَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَحِفْظِ الْقُرْآنِ وَصَلَاةِ الْجِنَازَةِ إذْ مَقْصُودُهَا الشَّفَاعَةُ لَا يَسْقُطُ بِفِعْلِ الْبَعْضِ وَإِنْ سَقَطَ الْحَرَجُ وَلَيْسَ كُلُّ فَرْضٍ يَأْثَمُ بِتَرْكِهِ مُطْلَقًا اهـ.

Mahalli juz 1,hal 348, Cet Darul Ihya Al Kutub

((وَإِذَا صَلَّى عَلَيْهِ فَحَضَرَ مَنْ لَمْ يُصَلِّ صَلَّى) «لِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - صَلَّى بَعْدَ الدَّفْنِ» كَمَا تَقَدَّمَ، وَمَعْلُومٌ أَنَّ الدَّفْنَ إنَّمَا كَانَ بَعْدَ صَلَاةٍ، وَتَقَعُ الصَّلَاةُ الثَّانِيَةُ فَرْضًا كَالْأُولَى وَسَوَاءٌ كَانَتْ قَبْلَ الدَّفْنِ أَمْ بَعْدَهُ جَزَمَ بِهِ فِي الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا فَيَنْوِي بِهَا الْفَرْضَ كَمَا ذَكَرَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ عَنْ الْمُتَوَلِّي (وَمَنْ صَلَّى لَا يُعِيدُ) أَيْ لَا تُسْتَحَبُّ لَهُ الْإِعَادَةُ. (عَلَى الصَّحِيحِ) وَالثَّانِي تُسْتَحَبُّ فِي جَمَاعَةٍ لِمَنْ صَلَّى مُنْفَرِدًا، كَذَا فِي الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا، وَفِيهِ تَوْجِيهُ النَّفْيِ بِأَنَّ الْمُعَادَةَ تَكُونُ تَطَوُّعًا، وَهَذِهِ الصَّلَاةُ لَا تَطَوُّعَ فِيهَا، وَنَقَضَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ بِصَلَاةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ عَلَى الْجِنَازَةِ فَإِنَّهَا تَقَعُ نَافِلَةً فِي حَقِّهِنَّ، وَهِيَ صَحِيحَةٌ، وَقَالَ فِيهِ عَلَى الصَّحِيحِ لَوْ صَلَّى ثَانِيًا صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ مُسْتَحَبَّةٍ وَتَقَعُ نَفْلًا.

Bahaya Seorang Perempuan Yang Murka Kepada Suami

Dikisahkan ada seseorang pemuda pada masa Bani Israil yang tertimpa sakit yang parah namun dia mempunyai seorang ibu yang sangat sayang kepadanya, melihat anaknya dalam kondisi sakit parah tersebut,sehingga dia menazar: Jika Allah memberi kesembuhan terhadapnya maka ia akan keluar dari dunia selama 7 hari dan malam, ternyata sesudah ibunya menazar Allah SWT memberikan kesembuhan kepada pemuda tersebut (anaknya), padahal ketika itu ibunya belum menyempurnakan nazarnya,maka tatkala pada suatu malam ia bermimpi bahwa ada orang yang mendatanginya dan berkata: sempurnakanlah nazarmu supaya Allah tidak menimpakanmu dengan musibah yang berat. 

Maka manakala tiba di pagi harinya dia langsung memanggil anaknya dan bercerita tentang kejadian mimpi yang semalam, kemudian memerintahkan anaknya agar menggalikan kubur di tempat pengakaman umum supaya dikuburkan dalam kubur tersebut karena menunai hak nazarnya,maka di saat anak telah melakukan hal tersebut, kemudian turunlah ibunya kedalam kubur itu seraya ia berkata: wahai tuhanku,penghuluku, dan yang menguasai daku telah saya lakukan kepayahan dan kesanggupanku ini serta telah saya sempurnakan nazarku maka jagalah aku dari segala mara-bahayamu, maka setelah itu anak menguburkan ibunya dan kemudian dia pulang. tiba-tiba ibunya sedang di dalam kubur ternyata dia melihat dari sisi kepalanya ada lobang dan cahaya yang terbentang. manakala ia meneliti kedalam lobang tersebut nampaklah sebuah taman yang di dalamnya ada 2 perempuan, lalu kedua perempuan itu memanggilnya: wahai perempuan kemarilah, maka diapun mendatangi tempat ke dua perempuan itu yang sedang duduk di kolam yang lapang, kemudian dia memberi salam kepada keduanya, malah mereka tidak menjawab salam, kemudian dia ”bertanya: kenapa kalian tidak menjawab salamku?
keduanya menjawab: sesungguhnya salam adalah ta’at namun kami terhalang menjawabnya.
Di saat dia sedang duduk di sisi keduanya, terbanglah 2 ekor burung yang 1 mengibas sayap diatas kepala salah satu keduanya, sedangkan burung lain mematuk yang lain dengan paruhnya.
“Kemudian dia bertanya kepada perempuan pertama, dengan apa kamu peroleh karomah ini?
Perempuan pertama menjawab: di saat aku bersama suamiku di dalam dunia aku selalu mematuhinya dan dikala aku meninggal dunia ia meridhaiku, oleh sebab itu Allah SWT memuliakanku dengan ini karamah.

Kemudian ia bertanya kepada perempuan yang kedua:apa sebabnya kamu terkena dengan musibah ini?
Perempuan kedua menjawab: sebenarnya aku adalah seorang perempuan yang solehah selama di dalam dunia,namun aku memiliki seorang yang selalu berbuat maksiat terhadapnya dan saat aku meninggal dunia dia marah kepadaku ,akibat kemarahan suamiku maka Allah menyiksaku dengan ini siksaan, maka aku sangat berharap apabila kamu kembali kedalam dunia agar menjumpai suamiku untuk meminta maaf dari segala kesalahanku yang pernah aku lakukan di dalam dunia, supaya ia memaafkan dan meridhai aku. ketika telah sampai 7 hari berkata oleh kedua perempuan tersebut: berdirilah dan kembalilah kedalam kubur mu karena anakmu telah datang untuk mencarimu, tatkala ia memasuki kuburnya diketika itu anaknya sedang menggalikan kubur, kemudian dia mengeluarkan ibunya dan membawa pulang kepada rumahnya.

Maka tersebarlah berita dia telah menyempurnakan nazarnya kemudian datanglah manusia termasuk suami si perempuan yang disiksa dalam kubur untuk menziarahinya,lalu dia menceritakan kepada suami perempuan itu tentang hal istrinya, dengan mendengar cerita tersebut sehingga suaminya memaafkan atas kesalahan dosa istrinya. maka ketika tiba pada waktu malam seorang perempuan yang menazar tersebut bermimpi bertemu dengan istri pemuda itu, dia berkata aku sudah terlepas dari pada siksa kubur dengan sebab engkau, semoga Allah membalas kebaikan kepadamu dan memaafkan segala dosamu.


Referensi: Kitab An-Nawadir halaman (17-18)

Hukuman Liwat

Ulama berbeda pendapat mengenai efek jera yang diberikan kepada orang yang melakukan liwat (berhubungan sesama jenis). Sebahagian ulama berpendapat: hukuman kepada pelaku liwat seperti hukum zina. Jika pelaku muhsan maka dirajam dan jika bukan muhsan dicambuk seratus kali. pendapat ini dikemukakan oleh Sa’id bin Musayyab, ‘Atak bin Abi Rubah, Hasan, Kutadah dan Nakh’i, Imam suri, Auza’i dan Imam Syafi’I berpendapat seperti demikian. Dihikayahkan pula dari Abi Yusuf, Muhammad bin hasan hukuman kepada korban liwat dicambuk seratus kali. Dan diisolasi (diusir) dari balad setahun laki-laki atau perempuan, muhsan atau bukan.

Sebahagian ulama berpendapat: hukuman liwat dirajam baik si muhsan atau bukan. Pendapat lain Imam Syafi’i: pelaku dan korban liwat dibunuh mati. Menurut al-Hafiz: Empat khalifah islam (Abu Bakar, Ali, Abdullah bin Zubir dan Hisyam bin Abdul Malik) membakar orang berbuat liwat.

قال البغوي: اختلف أهل العلم في حد اللوطي، فذهب إلى أن حد الفاعل حدُّ الزنا: إن كان محصنًا يرجم، وإن لم يكن محصنًا يجلد مائة. وهو قول: سعيد بن المسيب، وعطاء بن أبي رباح، والحسن، وقتادة، والنخعي. وبه قال الثوري؛ والأوزاعي؛ وهو قول الشافعي. ويحكى أيضًا عن أبي يوسف، ومحمد بن الحسن. وعلى المفعول به عند الشافعي على هذا القول جلد مائة، وتغريب عام رجلًا كان أو امرأة، محصنًا كان أو غير محصن. وذهب بعضهم إلى أن اللوطي يرجم محصنًا كان أو غير محصن. والقول الآخر للشافعي أنه يقتل الفاعل والمفعول به وقال الحافظ: حَرَقَ اللوطيةَ بالنار، أربعة من الخلفاء: أبو بكر، وعلي، وعبد الله بن الزبير، وهشام بن عبد الملك

Referensi: Tahqiq fatawa An-Nawawi, Juz. 1, hal. 184

Azab Dan Nikmat Kubur Bagi Jenazah Yang Tenggelam Di Laut.

Deskripsi masalah:

Nikmat kubur merupakan karunia yang diberikan Allah bagi hamba-hambanya yang patuh terhadapNya, begitu juga dengan azab yang akan diberikan Allah bagi hamba-hamba yang melanggar perintah-Nya.

Pertanyaan:

Bagaimanakah Allah menyiksa atau memberi nikmat jenazah yang tidak dimakamkan..?

Nikmat dan azab kubur akan Allah berikan kepada roh namun demikian Allah akan memberi nikmat kepada si mayit walau badannya telah hancur lebur atau tenggelam dalam laut, juga Allah akan memberi nikmat kepada si manyit walau tubuhnya telah hancur atau dimakan serigala karna hal tersebut secara logika merupakan sesuatu yang mungkin dan wajib dipercaya dan dipatuhi.
Adapun yang sering kita dengar-dengar ‘’azab kubur dan nikmat kubur’’ itu karena dilihat kebiasaan, namun secara hakikat setiap manyit yang disiksa oleh Allah atau yang diberikan nikmat maka dimanapun mayit itu berada tetap akan tersiksa atau mendapatkan nikmat walau tidak dimakamkan.

و عذاب القبر للروح والبدن ولا يمنع من ذالك كون الميت قد تفرقت أجزاؤه أو أكلته السباع أو حيتان البحر أو نحو ذالك، فإن ذلك أمر ممكن عقلا وقد ورد به الشرع فوجب إعتقاده وقبوله—-(تنبيه) إنما أضيف العذاب والنعيم إلى القبر لأنه الغالب وإلا فكل ميت أراد الله تعالى عذابه أو نعيمه ناله ما أراده له قبر أو لم يقبر أو يقال قبر كل ميت بحسبه.

Tanwirul Qulub, hal 59 Cet Al-hidayah.

Tuhfatul Murid (syarah jauharah tauhid), hal 100 cet Toha Putra.


Tabligh Di Belakang Imam

Deskripsi Masalah:

Shalat jamaah merupakan suatu ibadah yang sangat besar pahalanya di sisi Allah, bahkan dalam sebagian mazhab, hukum shalat jamaah adalah fardhu 'ain, jamaah shalat fardhu terkadang mencapai jumlah yang sangat banyak, sehingga tidak lagi sampai suara imam kepada makmum, maka  dibutuhkan seorang muballigh, yaitu orang yang meneruskan takbir intiqal imam, sehingga makmum mengetahui perbuatan shalat imam.

Apa hukumnya tabligh di belakang imam dan hukum salat si muballigh?

Jawab:

Imam dianjurkan menjihar takbir ihram, tasmi’ dan salam dan i’lam (memberi tau) kepada makmum. Imam yang suaranya sampai kepada makmum yang berada di dalam mesjid maka hukum tabligh makruh. Adapun suara imam yang tidak terjangkau kepada orang-orang shalat maka disunnatkan tabligh dengan ketentuan si muballigh itu tidak meniatkan takbir ihramnya sebagai iblagh saja, jika diniatkan, maka salatnya menjadi batal.

Referensi: Muhammad Mutawalli as-syakrawi, Al-Fatawa, Cet Maktabah Tauqifiyyah, Hal 210.

على الإمام أن يجهر بالتكبير والتسميع والسلام والإعلام من خلفه فمن كان صوته يصل إلى من في المسجد, فالتبليغ مكروه وأما إن كان صوت الإمام لايصل الى المصلين فيستحب التبليغ على ألا يقصد المبلغ بتكبيرة الإحرام الإبلاغ فقط وإلا فسدت صلاته



Bolehkan Wanita haid Menulis Al-Quran Atau Mushaf ?

Deskripsi Masalah:

Al Quran adalah kitab suci ummat Islam, yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk membacanya dengan menjaga adap dan kesopanan supaya Al Quran menjadi syafaat pada hari kiamat bagi pembacanya, namun jika tidak menjaga kesopanan maka Al Quran akan melaknat pembacanya kemudian ia akan mendapatkan siksa pada kiamat nanti.

Pertanyaan:

Namun bolehkan menulis Al Quran bagi seseorang yang sedang junub atau berhadas kecil ?

Jawaban:

Menurut pendapat yang Shahih Boleh menulis Al-Quran baik seseorang dalam keadaan berhadas besar (Seperti Haid) atau berhadas kecil dengan tidak mengangkatnya, tetapi jika ia mengangkat tulisan tersebut maka hukumnya haram.

Kitab Tibyanul Fi Adabi Hamlatil Quran Hal 105 (Cet: darul Kutub Islamiyah):
اذا كتب الحنب او المحدث مصحافا, ان كان يحمل الورقة اويسمها حال الكتابة فحرام, وان لم يحملها ففيه ثلاث اوجه , الصحيح : جوازه والثاني تحريمه والثالث يجوز للمحدث ويحرم على الحنب

Hukum Nikah


Secara fitrah laki-laki suka kepada perempuan sebagaimana perempuan suka kepada laki-laki. Suka sama suka tersebut kadang-kadang berujung kepada pernikahan dan tidak sedikit pula yang gagal kepelaminan dengan bermacam-macam faktor, seperti: faktor ekonomi, tidak ada restu orang tua.


Pertanyaan:

Apakah nikah masuk kategori amalan akhirat atau amalan dunia?

Jawab:

jika nikah diniatkan mengikuti rasulullah SAW atau memperoleh keturunan yang shalih, iffah jiwa, menjaga kemaluan, mata, menjaga hati dan lain seumpamanya maka dia itu masuk amalan akhirat dan mendapat pahala. Dan jika tidak diniatkan demikian, hukumnya mubah dan masuk kategori amalan dunya, tidak memperoleh pahala bagi yang melakukannya dan tidak pula berdosa.



Referensi: Fatawa An-Nawawi, Jld. I, Hal 179.

ان قصد به شيئًا من الطاعات، بأن قصد الاقتداء برسول الله - صلى الله عليه وسلم -، أو تحصيلَ ولد صالح، أو إعفافَ نفسه، وصيانةَ فرجه، وعينه، وقلبه، ونحو ذلك، فهو من أعمال الآخرة وُيثابُ عليه، وإن لم يقصد به شيئًا من ذلك فهو مباح من أعمال الدنيا وحظوظ النفس، ولا ثواب فيه، ولا إِثم (٢)، والله أعلم.

Cara Mudah Menghitung Haidh

Deskripsi Masalah :

Haid adalah darah yang keluar dari rahim perempuan melalui vagina, minimal umur seorang wanita yang sudah mengeluarkan darah haid adalah 9 tahun ( Tahun Qamariah ). Haidh yang keluar kadang -kadang sehari 3 jam misalnya, lalu keluar lagi dihari berikutnya.

Pertanyaan :

Bagaimana cara mengetahui batas minimal dan maksimal keluar darah yang dikategorikan dalam darah haidh ?

Jawaban :

1. Batas Minimal Haidh

Minimal waktu haid adalah sehari semalam ( 24 Jam ) dengan ketentuan darah tersebut keluar secara ittisal ( terus menerus ), maksud ittisal disini jika seandainya dimasukkan kapas kedalam vagina maka kapas itu akan kotor dengan darah, bukan maksud ittisal disini adalah darah tersebut mesti keluar banyak sehingga perlu dicuci.

2. Batas Maksimal Haidh

Maksimal waktu haid adalah 15 hari dan 15 malam ( 360 jam ), tidak ada ketentuan harus ittisal pada poin ini , boleh ittisal boleh tidak, akan tetapi jika darah tersebut keluar tidak ittisal maka masa yang keluar haid dalam jangka 360 jam harus ada minimal 24 jam saat dijumlahkan.

Misalnya : Keluar darah tanggal 1 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 6 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 11 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 14 adalah 9 jam lalu bersih, maka ini adalah darah haid karena saat dijumlahkan hasilnya 24 jam darah keluar dalam kurun waktu 15 hari.

jika darah yang keluar tidak ittisal ( dalam jangka 360 jam ) tidak mencapai batas minimal ( 24 jam )maka ini bukan darah haid tetapi darah fasid.

Misalnya : Keluar darah tanggal 1 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 6 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 11 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 15 adalah 5 jam lalu bersih, maka ini bukan darah haid karena saat dijumlahkan hasilnya 20 jam darah keluar dalam kurun waktu 15 hari.

Referensi :


(باب الحيض) وما يذكر معه من الاستحاضة والنفاس (أقل سنه تسع سنين) قمرية تقريبا، فلو رأت الدم قبل تمام التسع بما لا يسع
حيضا وطهرا فهو حيض، أو بما يسعهما فلا. (وأقله) زمنا (يوم وليلة) أي قدر ذلك متصلا كما يؤخذ ذلك من مسألة تأتي آخر الباب. (وأكثره خمسة عشر) يوما (بلياليها) وإن لم يتصل أخذا من المسألة الآتية، وغالبه ستة أو سبعة كل ذلك بالاستقراء من الإمام الشافعي - رضي الله عنه - (وأقل طهر بين الحيضتين) زمنا (خمسة عشر) يوما لأن الشهر لا يخلو عادة عن حيض وطهر، وإذا كان أكثر الحيض خمسة عشر يوما لزم أن يكون أقل الطهر كذلك

Kanzu al-Raghibin syarah Minhaj Hal 99 Juz 1 Cet Dar Ihya.


(قوله: وأقله) أي الحيض.
وقوله: يوم وليلة أي قدرهما مع اتصال الحيض، وهو أربع وعشرون ساعة.
والمراد بالاتصال أن يكون نحو القطنة بحيث لو أدخل تلوث، وإن لم يخرج الدم إلى ما يجب غسله في الاستنجاء.
(قوله: وأكثره) أي الحيض.
وقوله: خمسة عشر يوما أي بلياليها، وإن لم يتصل، لكن بشرط أن تكون أوقات الدماء مجموعها أربع وعشرون ساعة فإن لم يبلغ مجموعها ما ذكر كأن دم فساد، وهو مع نقاء تخلله حيض،

Ianatutthalibin Hasyiah Fathul Muin Hal 72 Juz 1 Cet Haramain.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja