Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Ketika Imam Syafi’i Lupa Hafalan



Imam Syafi’i adalah salah seorang pemilik IQ tertinggi didunia dan dikenal memiliki daya hafalan yang luar biasa. Setiap suara yang pernah masuk ke telinganya akan mudah beliau ingat dan tak jarang terhafal dengan sendirinya. Penulis pernah mendengar Habib Ali Zainal Abidin bercerita bahwa setiap Imam Syafi’i berangkat dari rumah menuju mesjid, beliau selalu menutup telinganya. Hingga pada suatu hari, salah seorang sahabatnya mempertanyakan hal tersebut kepada Imam Syafi”i.


”Ya Syaikh, kenapa engkau selalu menutup telingamu setiap menempuh perjalanan dari rumah ke mesjid?”. Imam Syafi’i menjawab, “Wahai sahabaku, ketahuilah! seandainya aku membuka telingaku, niscaya aku akan menghafal semua suara yang pernah aku dengar sepanjang perjalanan dari rumah kesini (mesjid)”.
Dikisahkan, suatu ketika Imam Syafi’i pergi ke pasar untuk berbelanja buah kurma demi kepentingan keluarganya. Disaat sedang melakukan transaksi dengan penjual, beliau mengambil sebutir untuk dicicipi demi memastikan kurma yang akan dibeli manis atau tidak. Setelahnya barulah beliau melakukan pembayaran.


Ternyata, “hal kecil” yang beliau lakukan tersebut sangat berimplikasi dan berpengaruh terhadap daya hafalan Imam Syafi’i. Bila sebelumnya beliau memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa, setelah kejadian tersebut daya hafal Imam Syafi’i sedikit terganggu dan mengalami penurunan.
Kemudian Imam Syafi’i beranjak untuk menjumpai salah seorang gurunya, yaitu al-Waki’ untuk mencari solusi dan mengadukan persoalan yang sedang beliau hadapi.
Kejadian ini beliau abadikan dalam salah satu syairnya:


شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي


“Aku pernah mengadu kepada guruku al-Waki’ tentang buruknya hafalanku. Kemudian beliau memberi pengarahan kepadaku untuk meninggalkan maksiat. Dan juga mengabarkan bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat”.

Ibrah


Dari kisah diatas kita dapat belajar bahwa sekecil apapun maksiat yang kita lakukan akan memiliki implikasi dan berpengaruh besar terhadap hafalan yang kita miliki. Dilihat dari neraca fiqh, bisa saja perbuatan yang dilakukan oleh Imam Syafi’i tidak dapat dikatakan maksiat, karena beliau mengambil kurma tersebut atas persetujuan penjual dan kemudian juga melakukan pembayaran. Tapi ternyata hal kecil tersebut berefek terhadap daya hafal beliau.


Barangkali cerita ini dapat menjadi jawaban dari problema yang sering kita hadapi, yakni lupa. Mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga kita semua dari berbagai macam perkara yang dapat mengerus ilmu yang sudah tertanam dalam dada. Amien..(al-Faqeer)




Hikmah Para Rasul Tidak Mewariskan Harta

Deskripsi masalah:

Harta warisan adalah harta peninggalan dari orang yang sudah meninggal dan diberikan kepada anak cucu dan kerabatnya. Pembagian harta warisan dalam islam sudah begitu jelas diatur dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surat An-Nisa’. Al Qur’an telah menjadi pedoman dalam mengarahkan manusia dalam hal pembagian harta warisan. Pembagian tersebut bertujuan agar diantara ahli waris yang ditinggalkan tidak menimbulkan perselisihan dalam pembagian harta di kemudian hari.
Dalam ranah hukum mawaris, keadaan seseorang yang berhubungan dengan harta warisan terbagi kepada empat golongan. Salah satunya adalah golongan yang bisa menerima warisan namun tidak bisa mewariskan harta yaitu para Nabi . Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW.

 نحن معاشر الأنبياء لا نورث ما تركناه صدقة

Kami para Nabi tidaklah mewariskan. Segala apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.( H.R. Bukhari dan Muslim).

Pertanyaan:

Apa hikmah yang terkandung dibalik pernyataan Rasul dalam hadits tersebut tentang para Nabi tidak mewariskan harta kepada ahli waris mereka?

Jawaban:

Hikmah dibalik pernyataan tersebut adalah supaya ahli waris tidak mengharapkan mereka wafat karena ingin memperoleh harta warisan dan supaya ahli waris Nabi tidak disangka bahwa mereka adalah golongan yang cinta terhadap dunia (harta).

Referensi :

Hasyiyah Al Bajuri Juz 2 Hal 71 Cet. Haramain

والحكمة فيه أن لا يتمنى أحد من الورثة موتهم لاجل الارث فيهلك، وأن لا يظن بهم الرغبة في الدنيا لاجل ورثتهم وأن يكون مالهم صدقة بعد وفاتهم توفيرا لأجورهم


Mengapa disunatkan menanam pohon di atas kubur

Deskripsi masalah:

Kuburan merupakan tempat singgahan akhir setiap manusia, di setiap pemakaman orang islam khususnya banyak hal-hal yang dilakukan seperti halnya menanam pohon dikaki dan kepala simayit dan menanam tumbuhan-tumbuhan lainnya, yang katanya sunnah dan dapat memberi rahmat bagi simayit.

Pertanyaan:

Mengapa disunnahkan menanam pohon dikubur ?

Jawaban:

Karena Itba’ (mengikuti nabi Muhammad saw) berdasarkam hadis yang diriwayatkan Ibnu Hibban yang diambil dari Ibnu Hajar
Pada suatu hari Rasulullah saw berjalan dengan dua orang sahabat, mereka melewati dua kuburan, tiba-tiba dua kuburan tersebut mengeluarkan suara, kemudian dua orang sahabat tersebut bertanya pada Rasulullah ‘’Ya Rasulullah apakah engkau mendengar apa yang kami dengar’’? Rasul menjawab Ya, ‘’kenapa kuburan itu ya Rasul’’? Tanya sahabat, rasulullah bersabda ‘’kuburan ini yang satu adalah orang yang tidak menyucikan kencingnnya pada masa hidup di dunia dan satu lagi orang yang menyakiti manusia dengan lisannya.
Lalu Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menaman dua pelepah kurma yang masih muda pada kuburan tersebut, ‘’Ya Rasulullah apakah ini akan bermamfaat’’?
Sabda Rasul saw :

نعم يخفف عنهما ما دامتا رطبتين
‘’Ya Ini akan meringankan bagi ahli kubur selama masih basah’’

Kitab Fathul Mu’in Juz II hal.119 ( Cet. Haramain)

(مهمة) يسن وضع جريدة خضراء على القبر للاتباع ولأنه يخفف عنه ببركة تسبيحها وقيس بها ما اعتيد من طرح نحو الريحان الرطب

Kitab Ianah al Thalibin Juz II hal.119 (Cet. Haramain)

(قوله للاتباع) هو ما رواه ابن حبان عن أبي هريرة رضي الله عنه قال كنا نمشي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فمررنا على قبرين فقام فقمنا معه فجعل لونه يتغير حتى رعد كم قميصه فقلنا مالك يا رسول الله فقال أما تسمعون ما أسمع فقلنا وما ذاك يا نبي الله قال هذان رجلان يعذبان في قبورهما عذابا شديدا في ذنب هين أي في ظنهما أو هين عليهما اجتنابه قلنا فبم ذاك قال كان أحدهما لا يتنزه من البول وكان الآخر يؤذي الناس بلسانه ويمشي بينهم بالنميمة فدعا بجريدتين من جرائد النخل فجعل في كل قبر واحدة قلنا يا رسول الله وهل ينفعهم ذلك قال نعم يخفف عنهما ما دامتا رطبتين




Keberkahan Uang Yang Dibacakan Zikir Maulid

Deskripsi masalah:

Nabi Muhammad SAW merupakan figur terbaik yang menjadi utusan terakhir di muka bumi ini. Adalah keagungan yang tak terhingga sebagai bentuk kegembiraan yang hadir tatkala bulan kelahiran beliau kembali datang menyapa lewat hilal Rabi’ul awal yang nampak di ufuk barat akhir sore bulan safar. Lantunan shalawat pun sambung-menyambung menggema menghiasi malam yang menjadi saksi kecintaan kita kepada sang pembawa syari’at nan agung. 

Berbagai macam perayaan ikut menyemarakkan hari-hari di berbagai penjuru dunia dengan tradisi dan adat istiadat yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bersatu menjadi keseragaman dalam bingkai ukhuwah islamiyyah untuk mencari cinta, kasih sayang dan syafa’at Beliau kelak di hari yang tidak ada lagi penyelamat selain Beliau. Perayaan yang bukan hanya berdasarkan fanatisme ini justru menjadikan umat islam semakin semangat untuk ikut serta dalam dalam ceremonial ini dengan berlandaskan dalil-dalil naqli yang menjadi pijakan dasar hukum kesunahan merayakan maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Karena menjadi tradisi dalam merayakan maulid, diantara umat islam ada yang meletakkan beberapa uang pecahan ketika di hadapan orang yang sedang membaca zikir barzanji karena mengharap keberkahan dari uang yang telah dibacakan zikir maulid tersebut. 

Pertanyaan:

Bagaimana status meletakkan uang dihadapan bacaan zikir tersebut dengan harapan mengalirnya keberkahan bagi orang tersebut. Apakah berdasarkan dalil atau Cuma inisiatif pribadi semata?

Jawab:

Perbuatan tersebut dianjurkan demi mendapatkan keberkahan pada harta seseorang tersebut.

Referensi
I’anatut Thalibin 3 : 364 cet. Haramain

ومن قرأ مولد الرسول - صلى الله عليه وسلم - على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا وخلط تلك الدراهم مع دراهم أخر وقعت فيها البركة ولا يفتقر صاحبها ولا تفرغ يده ببركة

“Barang siapa membaca maulid Nabi pada uang logam dari perak atau emas, kemudian uang tersebut dicampurkan dengan uang yang lain, maka semuanya akan menjadi berkah, tidak akan fakir dan tidak akan putus uang ditangannya karena maulid Nabi Muhammad SAW”.

Mutiara Rezeki Permata Sedekah

Dalam perjalanan waktu yang tak diketahui kapan akhirnya, manusia memulai langkah kehidupan dengan cara mencari rezeki agar bertahan hidup. langkah kehidupan yang dimulai ini, dimulai dari kesusahan dengan tujuan menemukan kerberhasilan hidup. tentu saja keberhasilan yang bersifat duniawi dan ukhrawi. keberhasilan yang bersifat duniawi seperti harta untuk kebutuhan belanja sehari-hari di dunia ini, sedangkan keberhasilan bersifat ukhrawi seperti pahala dari amalan-amalan kebaikan semasa hidup di dunia ini.

Rezeki yang didapatkan dalam hidup ini, adalah menurut kadar kesusahan dan seberapa kuatnya perjuangan yang dilakukan seseorang untuk berkerja. semakin besar perjuangan dan kerja kerasnya maka hasilnya pun akan semakin besar. Namun demikian, hal ini tidak akan menentang dengan apa yang telah tertulis di Lauhul Mahfud. karena bisa saja yang tertulis di Lauhul Mahfud adalah berupa seberapa besar kadar usaha maka seperti itulah hasilnya. misalnya seseorang mau bekerja hari ini maka ia mendapatkan beberapa hasil. bila ia tidak mau bekerja di hari ini maka ia tidak mendapatkan apa-apa. 

Karena itu pula, rezeki seorang hamba itu, bisa bertambah banyak bisa juga mengurang. Hal ini karena kebaikan seseorang itu mempengaruhinya, seperti kebaikan dari ibadah bersedekah. 

Ada banyak kelebihan dari bersedekah, diantaranya sedekah menjadi faktor yang dapat menambahkan kadar rezeki yang kita dapatkan. selain itu, sedekah juga memudahkan urusan keberkahan umur dan dapat menolak bala serta bencana juga menutup keburukan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Saba ayat 39: “Apapun harta yang kalian infakkan maka Allah pasti akan menggantikannya, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi rezeki“.
Nabi Muhammad SAW bersabda: 

“Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan“.(tanqihul qaul ; 27)
“Sedekah mampu menolak bala dan memanjangkan umur” (tanqihul qaul ; 28)

Di akhirat nanti, sedekah dibalas dengan gandaan pahala yang banyak. Bahkan tersebut dalam hadits bahwa sedekah seseorang akan dilipat gandakan hingga 700 kali lipat gandaan. Namun demikian, setiap amalan itu semestinya disertai dengan rasa ikhlas. karena tanpa rasa ikhlas setiap amalan akan sia-sia, seperti tidak pernah dikerjakan sama sekali. Begitu pula amalan sedekah, sepatutnya disertai rasa ikhlas, agar sedekah kita tidak sia-sia.

Setiap orang yang berhafas di dunia ini, semuanya membutuhkan rezeki untuk kebutuhan hidup. Rezeki merupakan permata yang semua orang mendambakannya. permata itu indah, demikian pula dengan rezeki. Karena dengan adanya permata, seseorang akan memandang kita dengan pemandangan yang disertai rasa kagum. Apalagi bila permata itu besar dan bermakna. Tak hanya manusia yang akan kagum padanya, namun seluruh makhluk jagat raya akan mewarisi rasa kagum itu. namanya disebut-sebut dengan gembira karena kedermanan serta perangainya itu.

Rezeki akan berpengaruh dengan adanya sedekah. Ada beberapa hal yang menjadi kelebihan dari bersedekah untuk seseorang, yaitu:

1. Bankir pribadi, karena dengan adanya sedekah, akan memudahkan keuangan kita.
2. Dokter pribadi, karena sedekah itu akan memelihara kesehatan kita.
3. Bodyguard pribadi, karena memelihara dari bala.
4. Asisten pribadi, memudahkan urusan kita.

Dari sisi lain, disetiap kita bersedekah, akan mendorong roda ekonomi untuk berputar lebih produktif, bahkan membuka pintu rezeki banyak orang. Mudah-mudahan, itu semua kembali pada kita.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja