Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Tingkatan Waliyullah Menurut Kitab Kasyf Al-Mahjub

Syaikh Abu Hasan Ali Hujwiri dalam kitabnya yang berjudul Kasyf Al-Mahjub, mengatakan bahwa wali Akhyar sebanyak 300 orang, wali Abdal sebanyak 40 orang, wali Abrar sebanyak 7 orang, wali Autad sebanyak 4 orang, wali Nuqaba sebanyak 3 orang dan wali Quthub atau Ghauts sebanyak 1 orang. Sedangkan menurut Syaikhul Akbar Muhyiddin ibnu `Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah membuat pembagian tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:

1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts adalah wali yang memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.

2. Wali Aimmah Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Rabbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.

3. Wali Autad Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kaabah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.

4. Wali Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu ‘Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.Pada tahun 586. Di Spanyol, Muhyiddin ibnu ‘Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Sahabat Muhyiddin ibnu ‘Arabi yang bernama Abdul Majid bin Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Muâ’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

5. Wali Nuqabaa jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqaba melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

6. Wali Nujabaa Jumlah mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

7. Wali Hawariyyun Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.

8. Wali Rajabiyyun Dinamakan demikian, karena karamahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.

9. Wali Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd SAW. Jumlah para Aulia yang berada dalam beberapa tempat ada 356 sosok, yang mereka itu ada dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu ‘Arabi (menurut beliau muncul dari mukasyafah) maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah disebut diatas, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada satu orang yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammadi, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammadi pada zaman ini (zaman Muhyiddin ibnu ‘Arabi), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya, yaitu para Wali: Ummahat, Aqthab, A’immah, Autad, Abdal, Nuqaba dan Nujaba.


Bolehkah mencambuk pemain PUBG ?




Imam As-suyuthi : Maulid Bid’ah Hasanah

Muncul suatu pertanyaan seputar amaliah maulid Nabi di bulan Rabi'ul Awal, apa hukumnya dalam pandangan agama, apakah hal itu terpuji atau tercela, dan apakah pelakunya mendapatkan pahala atau tidak?

Imam As-suyuthi menjawab menjawab:

Menurut saya bahwa substansi dari maulid Nabi yang berupa berkumpulnya orang banyak, mereka membaca Al Quran, membaca kisah-perjalanan Nabi SAW baik saat diutusnya menjadi Rasul sampai hal-hal yang terjadi saat kelahirannya yang terdiri dari tanda-tanda kenabian, dilanjut dengan suguhan hidangan untuk makan bersama dan selesai tanpa ada tambahan lagi, maka hal ini tergolong bid’ah hasanah (hal baru yang baik), dimana pelakunya mendapatkan pahala karena ia mengagungkan Nabi Besar Muhammad SAW, menampakkan rasa gembira dan kebahagiaannya atas kelahiran Nabi SAW yang mulia.

Jawaban ini diperkuat oleh pernyataan Ibnu Taimiyah:

“Mengagungkan Maulid Nabi dan menjadikannya perayaan musiman
telah dilakukan oleh sebagian ulama, dan dia mendapatkan pahala
yang agung karena memiliki tujuan yang baik dan mengagungkan
kepada Rasulullah SAW"

Rujukan :

- Husnul maqashid fi a'mali maulid Hal 3
- Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim juz 2 Hal 126

Mubazir Saat Maulid? Simak Penjelasan Abu MUDI...



Amalan Terhindar Dari Buta Mata

Sungguh betapa besar nikmat yang Allah SWT anugerahkan pada kita, salah satu nikmat tersebut ialah nikmat penglihatan. Mungkin karena kita yang tidak dilahirkan dalam keadaan buta, maka amat sukar bagi kita untuk merasakan dan menyadarinya. Tentang masalah buta ada orang yang memang buta sejak lahir dan adapula yang butanya sesudah lahir bahkan sesudah ia dewasa sekalipun. Dalam hal ini para Ulama terdahulu memberikan satu  amalan  dalam bentuk syair yang  jika dibaca kedua syair ini atas izin Allah matanya tidak akan buta. Kedua syair tersebut adalah:

يَا نَظَرِيَّ بِيَعْقُوْبَ اُعِيْذُ كَمَا       *         بِمَا اسْتَعَاذَ بِهِ اِذْ مَسَّهُ الْكَمَدُ
 قمِيْسُ يُوْسُفَ اِذْ جَاءَ الْبَشِيْرُ بِهِ     *       بِحَقِّ يَعْقُوْبَ اِذْهَبْ اَيُّهَا الرَّمَادَ

Wahai  yang maha memandangku ,aku berdoa dengan sesuatu yang telah berdoa  nabi Ya'kub diketika nabi Ya'kub di sentuh kesedihan

Baju nabi yusuf (yang berlumuran dengan darah ) ketika datang berita gembira ( nabi yusuf masih hidup ) terhadap nabi Ya'kub, dengan hak nabi  Ya'kub, Hilangkanlah penyakit buta

- Bajuri  Hal 176 Juz 2 Cet, haramain

Cara Allah mengabulkan doa hambnya, simak penjelasan Abu MUDI




4 Tips Memadamkan Marah

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW nabi bersabda:

الغضب جمرة تتوقد في قلب ابن ادم

“Marah adalah bara api yg menyala di dalam hati anak adam”

Ketika seseorang marah urat lehernya kembung dua matanya akan memerah, Rasulullah SAW melarang mengumbarkan kemarahan jika bukan karena Allah. Hal ini  seperti sabda beliau لا تغضب "janganlah kamu marah" Didalam kitab Majalisussaniyah disebutkan ada 4 tips yang bisa dilakukan agar bisa memadamkan rasa marah, keempat tips tersebut adalah:

1. Tauhid Haqiqi

Sebab yang paling efektif untuk menahan kemarahan adalah Tauhid haqiqi, yaitu menganggap bahwa yang datang itu dari Allah, sedangkan makhluk hanya sebagai alat dan perantara. Dengan tauhid hakiki ini seseorang akan terhalang dari sifat marah terhadap hal yang dibenci datang menimpanya. Orang ini berangggapan Ketika ada  yang mencaci atau memukul, lalu kita marah kepadanya sama dengan kita marah akan Allah karena semuanya itu tak terlepas dari kehendak Allah SWT sedangkan manusia hanya sebagai perantan.

2. Berlindung dari syaitan

Sebagian dari obat marah juga berlindung kpd Allah dari gangguan syaitan karena  kemarahan itu timbul tak terlepas dari campur tangan syaitan.

3. Berwudhu’

Dalam sebuah hadist Nabi Muhammad SAW bersabda "sesungguhnya marah itu dari syaithan, dan syaithan itu di ciptakan dari api, yang dapat memadamkan api hanyalah air, maka jika salah seorang kamu marah,maka hendaknya ia berwuzuk”

4. Berpindah ke tempat lain.

Termasuk diantara penghilang marah yaitu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hal ini kebiaasaanya karena kita akan tetap marah jika masih terlihat orang yang kita marahi.

-Al Majalis As saniyyah Hal 46 Cet, Haramain

* Haruskah mencuci Telur? Simak Penjelasan Abu MUDI dibawah ini




4 Surat Al Quran Pembuka Rizki

Al Imam As Syaikh Nawawi Al Bantani (1813 M -1897 M) menyebutkan didalam sebuah karyanya Maraqil ‘Ubudiyyah agar seyogiyanya seseorang  membaca secara konsisten 4 surat pada waktu sore (sebelum terbenam matahari). Barang siapa yang konsisten membaca keempat itu akan memperoleh rizki layaknya air hujan (tidak terputus-putus). Keempat ayat tersebut adalah Surat Wassyamsi wa Dhuhaahaa, wallaili idzaa yaghsyaa, dan Surat Ma’uzataini (surat Al Falaq & An Naas).

Adapun faedah dari keempat surat tersebut adalah :

• Barang siapa  membaca surat  " وَالشَّمْسِ "  Allah SWT memberikan rizqi berupa pemahaman yang unggul dan kecerdasan didalam semua perkara.

• Barang siapa membaca surat " وَاللَّيْلِ "  Allah akan menjaga seseorang dari terbuka aib

• Barang siapa yang membaca surat " الفَلَقِ " , akan dipelihara dari keburukan.

• Barang siapa membaca surat " النَّاسِ " ,  akan dijaga dari berbagai macam bencana dan dilindungi dari gangguan syaitan


-Maraqil ‘Ubudiyyah Syarah Bidayatil Hidayah, Hal 38 Cet, Haramain

( وَاقْرَأْ قَبْلَ غُرْوْبِ الشَّمْسِ ) أَرْبَعَ سُوَرٍ ( وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَالمُعَوِّذَتَيْنِ ) بِكَسْرِ الوَاوِ كَمَا قَالَهُ القُسْطَلَّانِيْ ، فَمَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ " وَالشَّمْسِ " رَزَقَهُ اللّٰهُ الفَهْمَ الذَّكِيَّ وَالفَطَنَةَ فِيْ جَمِيْعِ الْأَشْيَاءِ ، وَمَنْ تَلَا سُوْرَةَ " وَاللَّيْلِ " حُفِظَ مِنْ هَتِكِ السَّتْرِ ، وَمَنْ تَلَا سُوْرَةَ " الفَلَقِ " وُقِيَ السُّوْءَ وَمَنْ تَلَا سُوْرَةَ " النَّاسِ " عُصِمَ مِنَ البَلَايَا وَأُعِيْذَ مِنَ الشَّيْطَانِ ، وَمَنْ دَاوَمَ عَلَي قِرَاءَتِهَا كَانَ رِزْقُهُ كَالْمَطَرِ


?,,Bagaimana niat yang benar dalam shalat






Fatwa Ulama: Bolehkah Anak Kecil Sebagai Mahram Haji?

Masalah :

Pernah ditanyakan tentang kondisi seorang perempuan yang memiliki anak kecil berusia lima tahun, apakah dengan didampingi anak tersebut bisa melakukan perjalanan untuk haji fardhu?

Jawaban:

Dalam hal ini Abu Zur’ah Ahmad bin ‘Abdul Rahim menjawab : Anak  kecil tidak bisa dijadilan mahram haji dikarenakan perempuan tidak aman melakukan safir didampingi si anak tersebut, maka hal ini dihukumi seperti perempuan yang tidak ada mahram. Walaupun para ulama tidak memperjelas adanya persyaratan Baligh dalam masalah mahram, akan tetapi Baligh dan keamanan saat berjalan merupakan sebuah keharusan. Sekalipun demikian, jika anak kecil itu sudah murahiq (aman melakukan safir dengannya) maka sepantasnya memadai dengan kondisi itu.

-Fatawa al-‘Iraqi Abu Zur’ah Ahmad bin ‘Abdul Rahim bin al-Husain al-‘Iraqi (762-826H) Hal 177 Cet, Darl Fata

مسألة [ 14 ] : سئلت عن امرأة لها ابن صغير عمره خمس سنين ، هل يكتفى به في سفرها معه لحج الفرض ؟ فأجبت : بأن المذكور لا تأمن معه على نفسها ، فهو كالمعدوم ، وإن كانوا لم يصرحوا باشتراط البلوغ في المحرم ، لكن ما ذكرته لا بد منه ، والمعنى يدل عليه ، نعم إن كان مراهقاً ذا وجاهة بحيث تأمن معه على نفسها لاحترامه فينبغي أن يُكتفى به ، والله أعلم


Simak Penjelasan Abu MUDI  dipengajian TASTAFI Mereudu (kitab Al-Mahalli jilid 1 pada bagian Muqaddimah) Pidie Jaya :



Perbedaan Ayat Makkiyyah Dan Madaniyyah

Al Quran diturunkan dalam dua masa, yakni masa sebelum nabi hijrah ke Madinah (ketika nabi menetap di Mekkah) ini yang dinamakan dengan ayat Al makki karena nisbatnya kepada mekkah. Adapun yang kedua masa disaat nabi sudah hijrah ke Madinah dimana ayat ayat Allah yang turun disaat itu dinamakan ayat Al madani karena nisbatnya kepada kota Madinah. Ayat Makki dalam Alquran jika dikalkulasikan sekitar 19/30 nya Al Quran, sedangkan ayat Madani sekitar 11/10 nya Al Quran.

Jumlah surat Makki dan Madani 

Adapun surat-surat Madani dalam Al Quran adalah : Surah Al Baqarah, Ali Imran, Annisa’, Al Ma’idah, Al Anfal, At-Taunah, Al Hajj, An Nur, AL Ahzab, Al Qital, AL Fath, Al hujurat, Al Hadid, Al Mujadalah, Al Hasyr, Al Mumtahinah, As-shaf, Al Jumu’ah, Al Munafiqun, At Taghabun, At Thalaq, At Tahrim dan surah Iza Jaa Nashrullahi Wal Fath (An Nashr). Selain surat-surat ini semuanya tegolong dalam surat Makki.

Perbedaan Makki dan Madani

Secara Umum ayat Makki dan Madani itu bisa dibedakan dengan 3 hal :

1. Ayat-ayat Makki secara global lebih pendek-pendek dibandingkan ayat Madani, hal itu terbukti surat Madani itu bahwa surat Madani yang lebih dari 11/30 nya Al Quran, jumlah ayat-ayatnya hanya 1456, yang mana ayat-ayat itu seperempatlebih sedkit dari seluruh ayat Al Quran.

2. Khitab (pembicaraan) terhadap orang banyak pada ayat-ayat madani biasanya dikhitabkan dengan ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) sangat sedikit dengan khitab (يَا أَيُّهَا النَّاسُ). Adapun ayat-ayat Makki sebalik demikian dan tidak pernah dijumpai dalam surat-surat Makki yang dimulai dengan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا). Adapun dalam surat Madani ada dijumpai (يَا أَيُّهَا النَّاسُ) sebanyak tujuh kali.

3. Ayat-ayat Makki tidak dirincikan pembinaan hukum akan tetapi pad ayat-ayat itu di bahas tentang maksud awal agama yaitu mengesakan Allah SWT, dalil-dalil wujud Allah dan memberi kabar takut tentang azab, kondisi hari kiamat dan mengajak ummat agar berakhlak yang baik.


Anjuran Berprasangka Baik Bagi Orang Meninggal

Deskripsi Masalah:

Setiap jiwa pasti merasakan kematian, Al Qur’an surat Ali Imran ayat 185 jelas menyatakan hal ini. Dalam sajak Aceh disebutkan “Haros ta udep Wajeb Ta matee” (Hidup hal yang jaiz sedangkan kematian hal yang wajib). Seseorang yang telah berpulang kepada Allah SWT, tidak ada seorangpun yang mengetahui keadaanya (baik atau tidak) selain Allah SWT.

Petanyaan:

Bagaimana anjuran sikap (prasangka) seorang mukmin terhadap mukmin lainnya yang meninggal?

Jawaban:

Islam menganjurkan untuk berprasangka baik (dengan menganggap pengampunan dan rahmat Allah) terhadap orang meninggal dunia. Hal ini seperti yang tersebut dalam sebuah hadist Rasulullah SAW :

لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله تعالى

“Tidak meninggal salah satu kalian  kecuali kalian perbagus
 sangkaan dengan Allah ta’ala” (HR.Muslim)

-Mahalli Juz 1 Hal 374 Cet, Haramain


(وليحسن ظنه بربه سبحانه وتعالى) روى مسلم عن جابر قال: سمعت النبي - صلى الله عليه وسلم - يقول قبل موته بثلاث: «لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله تعالى» أي يظن أنه يرحمه ويعفو عنه.
ويستحب لمن عنده تحسين ظنه وتطميعه في رحمة الله تعالى.


Paha Termasuk Aurat?

A. Menutup aurat di depan khalayak ramai hukumnya wajib, karena beberapa dalil yaitu :

1. Firman Allah SWT dalam surah al-A’raf 28 :


وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا 

2. Hadits Ibnu Abbas :

(كانوا يطوفون البيت عراة فهي فاحشة)

3. Hadits Sy. Ali bin Abi Thalib :

(لا تبرز فخذك ولا تنظر الى فخذ حى ولا ميت)

B. Menurut pendapat kuat, menutup aurat ketika sendiri hukumnya wajib, karena hadits Sy. Ali diatas. Pendapat lain menyatakan tidak wajib karena alasan bahwa kewajiban menutup aurat supaya terhindar dari pandangan manusia. Dalam kondisi sendirian maka aurat tidak wajib ditutupi ketika tidak ada yang melihat.

C. Menutup aurat  didalam shalat hukumnya juga wajib karena hadits

لا يقبل الله الصلاة حائض الا بخمار

“Allah tidak akan menerima shalat orang yang baligh kecuali dengan adanya penutup”

Hadits ini diriwayat oleh Abu Daud dan Tirmidzi. Menurut beliau status hadits ini adalah hasan sahih. Imam al-Hakim juga meriwayat hadits ini dalam al-Mustadrak dan beliau berkata hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim.

Maksud حائض disini adalah orang yang telah baligh. Interpretasi ini karena alasan bahwa seseorang biasanya memasuki masa baligh ketika sampai batasan usia haidh.
Menutup aurat merupakan salah satu syarat shalat, bila aurat terbuka walaupun sedikit maka shalat menjadi batal. Baik shalat dikerjakan ditempat sunyi maupun dihadapan orang banyak. Bila seseorang telah selesai shalat, lalu menyadari bahwa ada bagian aurat yang terbuka, maka wajib mengulang kembali shalat yang telah dikerjakan berdasarkan pendapat mazhab. Namun, bila ada probabilitas bahwa auratnya terbuka ketika selesai shalat maka tidak wajib lagi di replay dengan tanpa khilaf.

D. Batasan aurat dalam shalat

Batasan aurat laki-laki terdapat 5 pendapat :

1. Shahih manshus : aurat laki-laki adalah bagian tubuh yang terletak antara pusat dan lutut. Syeikh Abu Hamid berkata, Imam Syafi’i menyebutkan bahwa aurat laki-laki yang merdeka dan budak adalah antara pusat dan lutut. Sedangkan bagian pusar dan lutut sendiri bukanlah merupakan aurat seperti keterangan dalam al-Um dan al-Imla’.

2. قيل : keduanya adalah aurat
3. قيل : pusat adalah aurat, sedangkan lutut bukan aurat
4. قيل : sebalik pendapat ketiga
5. قيل : yang menjadi aurat hanya qubul dan dubur seperti  di-hikayah oleh Imam Rafi’i dari Abi Sa’id al-Ishthikhary. Ini adalah pendapat syadz lagi mungkar.

Batasan aurat perempuan dalam shalat adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan sampai pergelangan.

E. Menjawab Kesalahpahaman Interpretasi Hadits Aisyah Ra

Dalam hadits Aisyah disebutkan :

حَدَّثَنَا يَحْيَي بْنُ يَحْيَي، وَيَحْيَي بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ، وَابْنُ حُجْرٍ، قَالَ يَحْيَي بْنُ يَحْيَي: أَخْبَرَنَا، وقَالَ الْآخَرُونَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي حَرْمَلَةَ، عَنْ عَطَاءٍ، وَسُلَيْمَانَ ابني يسار، وأبي سلمة بن عبد الرحمن، أن عائشة، قَالَتْ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي، كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ، فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ، فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ، فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ، فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَوَّى ثِيَابَهُ، قَالَ مُحَمَّدٌ: وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ، قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ، فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ... أخرجه مسلم فى باب فضائل عثمان

Sebagian kalangan, seperti Malikiyyah dll, berpendapat bahwa paha tidak termasuk bagian aurat karena dasar ini hadits. Imam Nawawi berkata : Hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah batasan aurat, karena didalamnya masih ada keraguan disisi perawi bagian tubuh mana yang terbuka, apakah paha atau betis.

Referensi : Al-Majmu’ Syarah Muhazzab Juz 4 Halaman 186-193 Dar Kutub al-Ilmiyyah
Shahih Muslim Juz 8 Halaman 181 Dar al-Hadits al-Qahirah


Doa Terhindar Sakit Mata


Sebagian objek yang sangat  menaruh perhatian dalam islam adalah terhadap dunia kesehatan. Hal ini dikarenakan sehat merupakan modal utama untuk bekerja, beribadah dan melaksanakan aktivitas lainnya. Anjuran dalam Islam yang selalu menekankan agar setiap orang memakan makanan yang baik dan halal di situ membuktikan Islam begitu menjaga setiap pemeluknya. Salah satu organ tubuh  yang sangat penting di dalam tubuh manusia adalah mata Karena itu banyak orang yang berusaha untuk selalu menjaga kesehatan mata, Akan tetapi nampaknya masih banyak orang yang belum sanggup menjaga keutuhan matanya, hal ini Terbukti dari banyaknya korban yang harus menggunakan alat pembantu lainnya untuk melihat.

Usaha selalu dilakukan dengan maksimal, doa juga harus selalu dilangitkan. Mengenai  hasil merupakan hak prerogatif  dari Allah SWT, oleh karena itu nabi Muhammad SAW memberikan  amalan agar mata selalu terjaga, yaitu dengan membaca  disaat  muadzin  membaca “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”  :

مَرْحَبًا بِحَبِيبِي وَقُرَّةِ عَيْنِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
“Selamat datang kekasih dan penyejuk mataku, Muhammad bin Abdullah"

lalu mengecup dua jari jempolnya dan diletakkan (diusapkan) ke kedua matanya,

Nabi Muhammad SAW bersabda :

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ مَرْحَبًا بِحَبِيبِي وَقُرَّةِ عَيْنِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يُقَبِّلُ إبْهَامَيْهِ ، وَيَجْعَلُهُمَا عَلَى عَيْنَيْهِ لَمْ يَعْمَ ، وَلَمْ يَرْمَدْ أَبَدًا

“Barangsiapa yang mendengar bacaan muadzin “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, lalu ia berdoa “Marhaban bihabibiy waqurrati ainiy Muhammadibni Abdillah Saw.”, lalu mengecup dua jari jempolnya dan diletakkan (diusapkan) ke kedua matanya, maka ia tidak akan mengalami buta dan sakit mata selamanya.”

Sumber : Ianatutthalibin Juz 2 Hal 234 Cet, Haramain

Baca Juga :

- Azan ketika mengubur mayat

 http://lbm.mudimesra.com/2012/07/azan-ketika-mengubur-mayat.html

- Asal usul Tashwib

http://lbm.mudimesra.com/2018/12/asal-usul-tashwib-saat-azan.html

Kewajiban Memandikan Mayat Tenggelam

Deskripsi Masalah:

Pada dasarnya setiap muslim memiliki kewajiban terhadap saudara sesama muslim yang meninggal dunia. Kewajiban yang harus segera dilaksanakan adalah mengurus jenazahnya. Termasuk diantara hal yang pelu di tajhiz dari mayat adalah memandikannya. Maksud dari memandikan jenazah adalah membersihkan badan mayat dari kotoran dan najis. Namun dalam suatu kondisi, terkadang mayat diperdapatkan dalam kondisi sudah bersih dengan air seperti halnya mayat tenggelam.

Pertanyaan:

Bagaimanakah status jenazah yang tenggelam dan ditemukan dalam keadaan sudah bersih, apakah masih berkewajiban terhadap ummat muslim untuk memandikannya kembali?

Jawaban:

Menurut pendapat Shahih berkewajiban terhadap ummat muslim untuk memandikan jenazah tenggelam seperti kasus diatas, walaupun didapatkan dalam keadaan bersih. Karena memandikan jenazah itu diperintahkan diatas yang ditinggalkan. Jadi, kewajiban baru akan gugur bila proses memandikan dilaksanakan dengan perbuatan al ghasil (orang yang memandikan).

- Al Mahalli Juz 1 Hal 376 Cet, Haramain


(ولا تجب نية الغاسل) أي لا تشترط في صحة الغسل (في الأصح) لأن القصد بغسل الميت النظافة، وهي لا تتوقف على نية. والثاني يجب لأنه غسل واجب كغسل الجنابة فينوي عند إفاضة الماء القراح الغسل الواجب أو غسل الميت ذكره في شرح المهذب (فيكفي) على الأصح (غرقه) عن الغسل (أو غسل كافر) له (قلت:) كما قال الرافعي في الشرح (الصحيح المنصوص وجوب غسل الغريق، والله أعلم) لأنا مأمورون بغسل الميت فلا يسقط الفرض عنا إلا بفعلنا.

                



Buku Biografi ABON ABDUL AZIZ (GURU BESAR ULAMA ACEH)

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja