Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Fatwa Syaikh Ali Jum'ah Besalaman dengan selain Mahram

Deskripsi Masalah
Dalam keseharian kita tak terlepas dari interaksi dengan sesama jenis maupun beda jenis, dan tanpa kita sadari dalam berinteraksi dengan lain jenis tidak hanya melalui kata-kata dan sikap juga termasuk dalm sentuhan, baik dalam bentuk salaman ataupun lainnya.
Pertanyaan
Apa hukumnya bersalaman dengan wanita ditempat kerja dalam keadaan wudhu’?
Ada dua pertanyaan pada masalah tersebut

  1. Batalkah wudhu’ jika bersalaman dengan wanita?
  2. Bolehkah bersalaman dengan wanita ditempat kerja?

Jawaban

  1. Ulama Hanafiah berpendapat tidak membatalkan wudhu jika bersalaman dengan wanita. Dan Ulama Mutaakhirin dari mazhab Syafi'i berpendapat bersalaman dengan wanita membatalkan wudhu’
  2. Dan pada masalah bersalaman dengan wanita ajnabi adalah haram, yang dimaksud dengan wanita ajnabi adalah wanita yang bukan mahram, wanita yang dikategorikan mahram adalah yang tidak boleh untuk dinikahi oleh muslim lakki-laki dalam keadaan apapun seperti ibu, saudara perempuan, anaka perempuan, bibi dari pihak ayah dan ibu, nenek, cucu, mertua wanita, menantu wanita, keponakan perempuan, ibu sepersusuan dan anak tiri, mereka yang telah disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 23.

Tidak boleh bersalaman dengan wanita ajnabi ditempat kerja dan dimanapun serta kapanpun. Wanita ajnabi seperti rekan kerja, teman belajar, tetangga, sepupu perempuan dll yang tidak termasuk mahram seperti yang telah dijelaskan diatas.
Siapa saja yang bersalaman dengan wanita ajnabi maka dia telah melakukan perbuatan haram dan meyalahi sunnah nabi cucu adnan, karena nabi tidak pernah bersalaman dengan wanita ajnabi sekalipun, dan ketika Nabi bermuamalah dengan wanita, Nabi bermuamalah dengan mengisyarahkan dengan tangannya.
Nabi SAW bersabda berkenaan dengan bersalaman dengan ajnabi
“Hendak dipaku kepalamu dengan jarum dari besi lebih baik daripada engakau bersentuhan dengan wanita yang tidak halal bagimu”
Refrensi:
Al-Kalamu At-Thayib Fatawa 'Ashriyyah. Hal 17-18
مس يد المرأة
السؤال: ما حكم مصافحة النساء فى العمل وأنا على وضوء واقوم بالصلاة فهل مصافحة النساء تبطل الوضوء؟
الجواب: هنا قضيتان, القضية الاولى: مصافحة النساء هل تبطل الوضوء ام لا؟
ذهب جماعة منهم أبو حنيفة الى أنها لا تبطل الوضوء.
وذهب آخرون منهم الشافعية إلى انها تبطل الوضوء
وخروجا من الخلاف إذا حدث من اللمس بالمصافحة او غيرها, فإننا نتوضأ.
القضية الثانية: هل يجوز مصافحة النساء الأجنبيات فى العمل؟ لاتجوز مصافحة النساء الأجنبيات- وهن من لسن بمحارم, والنساء المحارم هن من لا يجوز للمسلم التزوج بهن مطلقا كالام والأخت والبنت والعمة والخالة والجدة والأحفاد من البنات وأم الزوجة وزوجة الإبن, وبنت الأخ و بنت الأخت والأم من الرضاع وبنت الزوجة ون مذكورات فى اية النساء رقم 23
لاتجوز مصاحة الأجنبيات فى العمل او فى أي مكان أو زمان والأجنبيات كالزميلة فى العمل او الدراسة أو الجارة أو إبنة العم أو العمة أو الخال أو الخالة وغيرهن ممن لسن بمحارم كما أسلفنا.
ومن صلفح هؤلاء الأجنبيات فقد وقع فى الحرام, وخالف سنة النبي العدنان, لأن النبي صلي الله عليه وسلم ما صافح إمرأة قط, وعندما كان يبايع النساء كان يبايعهن بالإشارة بيده الشريفة صلي الله عليه وسلم.
ويقول صلي الله عليه وسلم محذرا وحاظرا من هذه المصافحة:
لأن يطعن فى رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لاتحل له.

Waktu-waktu Membayar Fitrah

Deskripsi Masalah

Zakat Fitrah merupakan salah satu kewajiban yang mesti ditunaikan oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan setelah melalui bulan yang penuh berkah yaitu Ramadhan Mubarak dengan menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa.

Dinamakan dengan zakat fitrah karena zakat ini wajib ditunaikan pada hari terakhir berbuka puasa di bulan Ramadhan atau yang biasa di sebut dengan malam hari Raya Fitri.

Zakat fitrah merupakan penempel bagi kekurangan puasa, sama halnya dengan sujud sahwi yang ada dalam shalat yaitu sebagai penempel sesuatu yang lupa. Demikian yang telah di jelaskan oleh guru dari imam Syafi’i’ Syaikh Waqi’ .

Pertanyaan

Kapankah Zakat Fitrah ini ditunaikan ?

Jawaban


  1. Boleh ditunaikan di hari pertama Ramadhan
  2. Wajib menunaikan Zakat Fitrah setelah terbenam matahari akhir bulan Ramadhan hingga sebelum terbenam matahari esoknya (hari raya pertama)
  3. Adapun yang lebih baik ditunaikan sebelum keluar untuk melaksanakan shalat 'ied
  4. Makruh bila ditunaikan setelah shalat 'ied, kecuali karena ozor seperti menunggu kerabat yang berhak menerima zakat atau seseorang yang lebih membutuhkan
  5. Haram jika menunda zakat fitrah melewati hari raya pertama.


Referensi

Kitab I’anatuth Thalibin, Cetakan Haramain, Juzuk 2, Halaman 174


(قوله: نعم، يسن الخ) استدراك على كراهة التأخير (والحاصل) أن للفطرة خمسة أوقات: وقت جواز، ووقت وجوب، ووقت فضيلة، ووقت كراهة، ووقت حرمة.
فوقت الجواز أول الشهر.
ووقت الوجوب إذا غربت الشمس.
ووقت فضيلة قبل الخروج إلى الصلاة.
ووقت كراهة إذا أخرها عن صلاة العيد إلا لعذر من انتظار قريب،
أو أحوج ووقت حرمة إذا أخرها عن يوم العيد بلا عذر .

Nama Simayit dalam Shalat ghaib (salah)

Deskripsi Masalah:

Shalat jenazah merupakan amalan fardhu kifayah yang mesti dilakukan di saat meninggalnya insan yang beriman,kadang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk shalat secara hadhir (di hadapan mayit) maka dalam kondisi ini syara' membolehkan untuk shalat jenazah ghaib.

Pertanyaan:
apakah dalam shalat jenazah ghaib di haruskan untuk menyebutkan nama si mayit?

Jawaban:
Dalam shalat jenazah ghaib wajib kepada si mushalli (orang yang shalat jenazah) untuk mengkhususkan nama si mayit, dan tidak diwajibkan untuk mengenalnya, berbeda halnya dalam mengerjakan shalat jenazah hadhir yang tidak mewajibkan niat nama simayit dan tidak pula disyaratkan mengenalnya.


Mughni Muhtaj juz 2 hal 21

(ولا يجب تعيين الميت) الحاضر باسمه كزيد وعمرو ولا معرفته كما في المحرر
وأما تعيينه الذي يتميز به عن غيره كأصلي على هذا، أو الحاضر، أو على من يصلي عليه الإمام فلا بد منه
أما الغائب فيجب تعيينه في الصلاة عليه بالقلب كما قاله ابن عجيل اليمني

Tuhfatul Muhtaj juz 3 hal 133

(ولا يجب تعيين الميت) ولا معرفته بل يكفي أدنى مميز كعلى هذا أو من صلى عليه الإمام
واستثناء جمع الغائب فلا بد من تعيينه بالقلب أي باسمه ونسبه وإلا كان استثناؤهم فاسدا يرده تصريح البغوي الذي جزم به الأنوا
ر وغيره بأنه يكفي فيه أن يقول على من صلى عليه الإمام وإن لم يعرفه



Kisah Inspiratif “Abu Dujanah”

Alkisah, Ada salah satu sahabat Rasul yang bernama Abu Dujanah, ia dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Rasullullah SAW. Namun, Abu Dujanah tidak terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh kebanyak sahabat, jika selesai Sholat subuh ia tidak menunggu sampai selesai dibacakan doa, tapi selalu bergegas pulang.
Dan dalam sebuah kesempatan Nabi menegurnya,
“Wahai Abu Dujanah, kenapa engkau tidak menunggu sampai dibacakannya doa?, tidakkah kau memiliki permintaan dan kebutuhan kepada Allah?”
Abu Dujanah menjawab “iya Rasul ada!” ,
Rasul berkata “lalu jika ada, mengapa engkau segera pulang?”.
Abu Dujanah pun akhirnya menjelaskan “Bukannya aku tidak mau mendengarkan dan mengamini doamu ya Rasul!, namun aku ini memiliki keluarga yang sangat miskin, tidak satupun makanan ada di rumahku, bahkan tidak jarang kami seharian menahan lapar. Sedangkan aku memiliki tetangga yang memiliki pohon korma yang batangnya condong ke rumahku, maka jika malam angin bertiup kencang, pasti buah-buahnya jatuh ke halaman rumahku!”.
Rasul berkata lagi “lalu apa masalahmu?” ,
Abu Dujanah meneruskan “ begini Ya Rasul, bahwa setiap malam anak-anakku menangis karena belum makan sepanjang hari”, pernah suatu hari usai shalat subuh ku menunggu engkau, sampai mendengarkan engkau membacakan doa, namun yang terjadi ketika aku sampai di rumah aku lihat korma tetanggaku yang ada di halaman rumahku telah masuk ke dalam mulut anakku, maka segera aku ambil korma yang sedang dikunyahnya itu dengan jari ku, aku tidak mau mereka memakan yang bukan haknya, aku katakan kepada mereka “nak jangan kau permalukan ayahmu di akhirat nanti, lantaran perbuatanmu ini, tidak akan kubiarkan nyawamu keluar dari jasadmu dalam keadaan membawa barang haram di dalam tubuhmu”. Si anakpun menangis karena sangat kelaparan, serta Abu Dujanah membawa kembali kurma tersebut kepada pemiliknya.

Mendengar kisah Abu Dujanah, Rasul dan para sahabat meneteskan air mata, sambil menangis Rasul memerintahkan Umar untuk mengumpulkan tetangga Abu Dujanah. Setelah terkumpul, Rasul berkata “Wahai kau pemilik pohon yang batangnya sampai ke rumah tetanggamu Abu Dujanah, kini aku beli pohon mu itu dengan 10 pohon korma di surga, yang akarnya dari permata hijau, pohonnya dari emas, dan dahannya dari mutiara,dan dipohon itu terdapat bidadari sebanyak buah kurma yang ada di pohon tersebut!”. Sipemilik pohon yang belakangan diketahui sebagai seorang yang munafik ternyata menolaknya “saya tidak ingin menjualnya dengan harga yang kau janjikan di akhirat, tapi jika kau ingin membelinya maka saya menjualnya dengan harga tunai!”.
Mendengar perkataan si munafik ini, Abu Bakar langsung maju ke hadapannnya “Hai fulan, ku beli pohon kormamu dengan 10 pohon korma terbaikku yang tidak ada bandingannya di kota Madinah.!”. Mendengar perkataan Abu Bakar maka senanglah simunafik tersebut dan setujulah si munafik itu dengan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar menghadiahkan pohon kurma tersebut untuk Abu Dujanah. Maka Rasul mengatakan kepada Abu Bakar “Hai! Abu Bakar, Allah akan mengantikan kebaikanmu di akhirat nanti”. Maka senanglah Abu bakar, bahagialah Abu Dujanah, dan gembiralah simunafik.

Si munafikpun pulang, sesampainya di rumah sang munafik yang berhasil mendapatkan 10 pohon korma terbaik di kota madinah berkata kepada istrinya “Wahai istriku, aku mendapatkan keuntungan yang banyak hari ini, aku telah menjual pohon korma kepada Abu bakar untuk Abu Dujanah dengan 10 pohon korma terbaik di kota ini, namun ingatlah wahai istriku! pohon yang kita jual itu tetap dalam kebun kita yang kita makan buahnya, dan tidak akan ada satu buahpun akan kuberikan kepada Abu Dujanah,” dengan sombongnya dan jahatnya sang suami dan istri ini mengingkari perjanjian dengan Nabi dan sahabat, pohon yang dijanjikan akan diberikan kepada Abu Dujanah tidak mau diberikan sepenuhnya.

Allah berkehendak lain, setelah mereka tidur keesokan harinya pohon korma yang ada di rumah si munafik telah berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah dengan qudrah dan kekuasaan Allah, seolah-olah pohon itu tidak pernah ada di kebun si munafik sehingga tak ada bekas tanda-tanda dulu ada pohon kurma pada tempat itu hinnga heranlah si munafik. sungguh sangat luar biasa.

Kisah ini membuktikan pohon berpindah sebagai salah satu bagian dari Mu’jizat Rasulullah SAW. Dijelaskan oleh para ulama bahwa pohon saja mau beriman dengan Rasul, maka sungguh amat sangat aneh mereka yang dengan akalnya tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW.

Dari kitab ‘Ianah al-Thalibin bab Luqatah.hal 252 dengan beberapa perubahan

Hukum Wishal puasa; Berpuasa Tanpa Berbuka

Berpuasa adalah menahan diri semenjak terbit fajar hingga terbenamnya fajar. Ketika fajar terbenam, biasanya orang yang berpuasa berbuka. Namun bagaimana kalo seandainya kita masih tetap berpuasa hingga malam hari dan berlanjut dengan tiada makan dan minum hingga esok hari? Apakah hal ini dibolehkan atau bahkan akan lebih bagus?

Berpuasa hingga malam hari dan berlanjut hingga esok hari atau lebih lama dengan tanpa makan dan minum ini disebut dalam istilah fiqh dengan wishal. Imam Nawawi dalam kitabnya Raudhah Thalibin mendefiniskan widhal;

حقيقة الوصال: أن يصوم يومين فصاعدا ولا يتناول شيئا بالليل

Hakikat wishal adalah berpuasa dua hari atau lebih dan tidak makan/minum sedikitpun di malam hari.

Jika di malam hari ada makan atau minum sedikit saja maka bukan lagi dinamakan wishal. Lalu bagaimana hukumnya wishal puasa?
Hukum wishal dalam berpuasa adalah makruh. Namun para ashabil wujuh berbeda pendapat tentang status makruh tersebut, pendapat pertama mengatakan bahwa makruh wishal tersebut adalah makruh tahrim karena adanya larangan Rasulullah SAW, sedangkan larangan (nahi) berfaedah haram. Ini adalah yang dhahir dari nash Imam Syafii, karena Imam Syafii dalam kitab al-Mukhtashar menyebutkan bahwa Allah membedakan Rasulullah SAW dan umatnya dalam beberapa hal yang dibolehkan kepada Rasulullah SAW tetapi dilarang kepada umatnya, kemudian beliau menyebutkan salah satunya adalah wishal puasa. Sedangkan pendapat lain mengatakan adalah makruh tanzih, hal ini karena larangan tersebut tidak lain karena suapaya tidak lemas badan, sehingga larangan tersebut tidak adanya kaitannya dengan dosa. Wishal tidak membatalkan puasa.

Hikmah dari larangan melakukan wishal ini adalah untuk menghindari lemasnya badan sehingga kadang bisa berefek tidak sanggup menjalankan kewajiban biasa, bahkan kadang bisa berefek merusak badan dan bila berlangsung lama bisa berefek menyebabkan kematian. Ini merupakan pendapat mayoritas para mujtahid.

Namun Rasulullah SAW sendiri pernah melakukan wishal dalam berpuasa, sehingga para shahabat bertanya, Rasulullah menjawab bahwa beliau tidak sama halnya dengan mereka, beliau Allah berikan makanan dan minuman yang tidak diberikan kepada manusia biasa.

Dalil yang menjadi landasan makruhnya wishal adalah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabada:

إياكم والوصال ,إياكم والوصال قالوا إنك تواصل يا رسول الله قال إنى لست كهيئتكم إنى ابيت عند ربي يطعمنى ويسقين

Jauhilah wishal, jauhilah wishal, para shahabat berkata; Ya Rasulullah, engkau melakukan wishal! Beliau menjawab; Sungguh saya tidaklah seperti kalian, saya bermalam di sisi Tuhanku, Dia memberiku makan dan minum (H.R. Imam Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain riwayat Imam Bukhari, dari Abdullah bin Umar, beliau berkata;

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الوصال قالوا إنك تواصل قال إنى لست مثلكم إنى اطعم واسقى

Rasulullah SAW melarang melakukan wishal, para shahabat berkata “sungguhnya engkau melakukan wishal, Rasulullah SAW berkata “sungguh saya tidaklah seperti kalian, saya diberikan makan dan minum”. (H.R Imam Bukhari)

Dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim;

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الوصال رحمة لهم الوصال قالوا إنك تواصل قال إنى لست كهيئتكم يطعمنى ربي ويسقينى

Rasulullah SAW melarang melakukan wishal sebagai rahmat bagi mereka, para shahabat berkata “sungguhnya engkau melakukan wishal, Rasulullah SAW berkata “sungguh saya tidaklah seperti kalian, saya diberikan makan oleh Tuhanku dan diberi minum”. (H.R Imam Bukhari dan Muslim)

Referensi;
Kitab Fiqh Shiyam, Syeikh Muhammad Hasan Hitu, hal 105 Dar Bisyarah Islamiyah,


Menelan Dahak Ketika Berpuasa, Batalkah?

Dalam menjalankan ibadah puasa, salah satu hal yang harus kita jaga suapaya puasa kitab tidak batal adalah masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka. Salah satu rongga terbuka tersebut adalah kerongkongan. Satu hal yang sering tertelan dalam puasa adalah dahak. Namun kadang dahak tersebut masih berada dalam kerongkongan, belum keluar ke batasan dhahir atau kadang juga sulit dikeluarkan walaupun sudah berada di luar kerongkongan.

Pertanyaan;
Bagaimana hukumnya menelan dahak ketika berpuasa, apakah bisa membatalkan puasa?

Jawaban;
Dahak ada juga jenis, yaitu Dahak yang turun dari kepala dan dahak yang keluar dari dada.
Rincian hukum kedua jenis dahak ini adalah sama, yaitu;
  1. Dahak tidak sampai pada batasan dhahir pada mulut, dari kepala langsung turun ke kerongkongan, tidak melalui batasan dhahir, atau bila dahak dari dada, masih berada dalam kerongkongan, belum sapai batasan dhahir, ini tidak membatalkan puasa.
  2. Dahak telah sampai pada batasan dhahir dalam mulut, maka bila telah sampai batasan dhahir, adakalanya ia sanggup meludahnya dan adakala tidak sanggup. Bila tidak sanggup dikeluarkan dengan cara meludahnya maka bila turun kembali ke dalam kerongkongan, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa. Sedangkan jika mampu dikeluarkan maka wajib di keluarkan dengan cara meludahnya dan dibuang, jika tidak dikeluarkan hingga tertelan maka dapat membatalkan puasa.
Dhabit batasan dhahir yang telah disebutkan oleh para ulama adalah batasan makhraj Ha ( ح ).

Sedangkan hukum menarik/mengeluarkan dahak dari dalam dada adalah boleh dan tidak membatalkan puasa karena dahak ini tidak disamakan dengan muntah. Muntah secara sengaja bisa membatalkan puasa, sedangkan mengeluarkan dahak secara sengaja tidak membatalkan puasa.
Referensi;
Kitab Fiqh Shiyam Syeikh Hasan Hitu, hal 78

ابتلاع النخامة
ومما يؤدى الى الفطر ويجب الاحتراز عنه النخامة سواء أكانت نازلة من الرأس او خارجة من الصدر ولها حالتان :
الحالة الاولى ان لا تصل ألى حد الظاهر من الفم وإنما تنزل من الرأس إلى الحلق دون أن تخرج إلى حد الظاهر من الفم وهذه لا تضر بالاتفاق
والحالة الثانية أن تصل ألى حد الظاهر من الفم وقد ضبطه الفقهاء بكخرج الحاء فإن وصلت حد الظاهر وهو مخرج الحاء فإما أن يقدر على قطعها ومجها وإما أن لا يقدر.
فإن لام يقدر على قطعها ومجها حتى نزلت إلى جوفه لم تضر لعدم تقصيره . وإن قدر على قطعها ومجها إلا أنه إبتلعها فإنه يفطر على ما ذهب إليه الجمهور

Benarkah Rasulullah SAW Lahir Bukan Dari Jalur Biasa ?

Deskripsi Masalah :

Wanita melahirkan seorang bayi melalui farjinya, namun kadang ada timbul pertanyaan tentang cara melahirkan ibunda Nabi SAW yaitu siti Aminah.

Pertanyaan:
Apakah Siti Aminah melahirkan Nabi Muhammad melalui farjinya?

Jawaban:
Bukan, Siti Aminah melahirkan bayi mulia Nabi akhir zaman melalui lobang diatas farji dibawah pusar, dan ada juga yang mengatakan melalui lobang di pinggang kiri dibawah tulang rusuk.

Sumber : Nihayatuzzain Hal 17 Cet Dar Kutub

نقل بعض الأفاضل عن القليوبي وعن جمع من المحققين أنه صلى الله عليه وسلم لم يولد من الفرج بل من محل فتح فوق الفرج وتحت السرة والتأم في ساعته

ونقل عن القاضي عياض أن مثله صلى الله عليه وسلم في ذلك جميع الأنبياء والمرسلين لكن قال العلامة التلمساني وكل من الأنبياء غير نبينا مولودون من فوق الفرج وتحت السرة وأما نبينا فمولود من الخاصرة اليسرى تحت الضلوع ثم التأم لوقته خصوصية له فتحصل لك من هذه أنه لم يصح نقل بولادته من الفرج وكذا غيره من الأنبياء ولهذا أفتى المالكية بقتل من قال إن نبينا ولد من مجرى البول اه


Hukum Meragukan Kekufuran Kaum Nashrani/Kristen

Di zaman ini semakin banyak terjadi hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama yang benar. Penyimpangan tersebut juga terjadi hingga merembes ke masalah-masalah pokok dalam agama yang sebenarnya merupakan hal yang dhadhuri dan tsabit dalam agama. Salah satu fitnah kaum liberal yang makin berkembang saat ini adalah toleransi yang sangat berlebihan untuk agama lain bahkan hingga menabrak batasan-batasan agama Islam sendiri. Saat ini bahkan sudah banyak mulai berkembang pemikiran bahwa ada agama lain selain Islam yang bukan kafir, misalnya kaum Nashrani dan Yahudi. Sebagian golongan dengan terang-terangan mengatakan bahwa kaum Nashrani bukanlah kafir, bahkan ada yang lebih parah lagi, yang mengatakan bahwa memvonis kafir bagi kaum nashrani bisa menyebabkan ia termasuk dalam golongan musyrik! Pemikiran ini bahkan telah masuk hati sebagian para dosen di lembaga-lembaga pendidikan Islam terkenal di dunia.

Baca; Beberapa hal-hal yang mengkafirkan. 

Pertanyaan;

Bagaimana hukumnya terhadap golongan yang menyatakan bahwa kaum nashrani bukanlah kaum kafir atau menimal meragukan kekafiran kaum nashrani?

Jawab;

Kafirnya agama selain Agama Islam merupakan hal yang dharuri dalam agama, maka mengingkari kufurnya agama lain atau meragukan kafirnya agama lain termasuk agama nashrani bisa menyebabkan pelakunya murtad keluar dari agama Islam.
Dalam surat al-Maidah ayat 17, Allah dengan tegas menyatakan kafirnya kaum nashrani;

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata bahwa Allah adalah al-Masih bin Maryam”.

dan dalam al-Maidah ayat 73 ;

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

“Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga".

Dalam ayat 73 ini, Allah bersumpah bahwa kaum yang mengatakan ada tiga tuhan adalah kaum kafir. Kaum yang Allah maksud dalam ayat ini adalah kaum Nashrani.
Imam Qadhi Iyadh menyebutkan beberapa contoh kaum kafir; [1]

أن كل مقالة صرحت بنفي الربوبية أو الوحدانية أو عبادة أحد غير الله أو مع الله فهي كفر كمقالة الدهرية وسائر فرق أصحاب الاثنين من الديصانية والمانوية وأشباههم من الصابئين والنصارى والمجوس


“setiap perkataan yang tegas menolak ketuhanan atau keesaan Allah, atau menyembah selain Allah atau bersama Allah maka dia kufur seperti keyakinan kaum dahriyin, dan segala golongan pengikut Isnaini yaitu kaum Dishaniyah, al-Manawiyah, dan seumpama mereka seperti kaum Shabiin, Nashrani dan Majusi”.

Selain itu, kaum Nashrani juga kafir dengan sebab tidak menerima dakwah Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir karena salah satu hal yang mengkafirkan adalah menolak nubuwah Nabi Muhammad SAW  [2], jadi kalaupun seandainya mereka tidak menyekutukan Allah, maka mereka tetap dihukumkan sebagai kaum kafir karena menolak dakwah dan risalah yang dibawa oleh Rasulullah sebagai penutup semua rasulNya.
Maka mengatakan bahwa kaum Nashrani bukanlah kaum kafir berarti mengingkari ayat al-Quran, hadits Rasulullah dan juga ijmak yang sudah dharuri dalam agama, maka pelakunya menjadi murtad dan keluar dari Islam. Wajib segera diperintahkan untuk bertaubat. Bila tidak bertaubat maka berlaku baginya hukum kaum murtad lainnya.

Qadhi Iyadh, asy-Syifa bi huquqil musthafa, jilid 2 hal 286 Dar Fikr tahun 1988

وكذلك وقع الإجماع على تكفير كل من دافع نص الكتاب أو خص حديثا مجمعا على نقله مقطوعا به مجمعا على حمله على ظاهره كتكفير الخوارج بإبطال الرجم ولهذا نكفر من لم يكفر من دان بغير ملة المسلمين من الملل أو وقف فيهم أو شك أو صحح مذهبهم وإن أظهر مع ذلك الإسلام واعتقده واعتقد إبطال كل مذهب سواه فهو كافر


“Dan juga telah ijmak para ulama atas kafirnya setiap orang yang menolak nash al-Quran atau mentakhsish hadits yang sudah ijmak naqalnya atau mengtakhsish hadits yang telah ijmak para ulama atas riwayatnya dan juga ijmak para ulama bahwa hadits tersebut berlaku sebagaimana dhahirnya (umum tidak berlaku takhshish) seperti kafir kaum khawarij dengan sebab membatalkan hukum rajam, karena ini maka kami kafirkan orang-orang yang tidak mengkafirkan orang yang beragama dengan selain agama umat islam atau tawaquf atau ragu atau membenarkan aliran mereka, walaupun ia masih tetap menampakkan keislaman dan meyakininya dan meyakini batil aliran selainnya maka dia tetap kafir”.

Qadhi Iyadh, asy-Syifa bi Huquqil Musthafa, jilid 2 hal 281 Dar Fikr tahun 1988

بالإجماع على كفر من لم يكفر أحدا من النصارى واليهود وكل من فارق دين المسلمين أو وقف في تكفير هم أوشك قال القاضي أبو بكر لأن التوقيف والإجماع على كفرهم فمن وقف في ذلك فقد كذب النص والتوقيف أو شك فيه والتكذيب أو الشك فيه لا يقع إلا من كافر


“Ijmak para ulama atas kafirnya orang-orang yang tidak mengkafirkan seseorang dari kaum nashrani dan Yahudi dan semua golongan yang berbeda dengan agama islam, ataupun tawaquf pada mengkafirkan mereka atau ragu. Berkata Qadhi Abu Bakar alasan kufurnya kaum yang meragukan kafirnya kaum nashrani karena tawaquf tersebut - sedangkan ulama sudah ijmak terhadap kafirnya mereka - tidak sah, maka orang yang tawaquf pada hal tersebut berarti mendustakan, tawaquf dan meragukan nash, sedangkan mentawaqufkan atau meragukan nash tidak terjadi kecuali dari kaum kafir. “

Imam Nawawi dalam kitab beliau, Raudhah Thalibin dengan tegas menyatakan [3]:

وأن من لم يكفر من دان بغير الإسلام كالنصارى، أو شك في تكفيرهم، أو صحح مذهبهم، فهو كافر، وإن أظهر مع ذلك الإسلام واعتقده


“Dan orang yang tidak mengkafirkan orang yang beragama dengan selain Islam seperti kaum nashrani, atau ragu tentang kafirnya mereka, atau membenarkan aliran mereka maka dia kafir walaupun ia mendhahirkan Islam dan meyakini kebenaran Islam”.

Keterangan yang sama juga disebutkan oleh Imam Ibnu Muqri al-Yamani dalam kitabnya Raudh Thalib yang merupakan ringkasan dari Raudhah [4] :

أو شك في تكفير اليهود والنصارى


“(termasuk hal yang mengkafirkan) meragukan kafirnya kaum Yahudi dan Nashrani”.

Imam Qadhi Husen dalam kitab asy-Syifa tersebut juga menyebutkan bahwa Imam Abu Bakar al-Baqilani menjelaskan kenapa meragukan kafirnya kaum nashrani bisa menyebabkan seseorang murtad, karena kafirnya kaum nashrani merupakan hal yang suah jelas dalam nash al-quran, maka mengingkarinya, meragukan atau hanya tawaquf saja berarti mengingkari, meragukan atau mentawaqufkan kebenaran al-quran, sedangkan yang meragukan kebenaran al-quran hanyalah kaum kafir, maka orang yang meragukan kafirnya kaum nashrani juga menjadi murtad dan keluar dari Islam.
Qadhi Iyadh juga mengatakan bahwa mereka kafir, walaupun mereka masih menjalankan hukum islam, berkeyakinan dengan keyakinan Islam.

Kesimpulan; 

mengatakan bahwa kaum nashrani/yahudi bukan kafir, atau meragukan kekufuran kaum nashrani dan yahudi bisa menyebabkan pelakunya murtad dan keluar dari Islam, apalagi orang yang memusyrikkan umat Islam yang mengkafirkan kaum nasharni dan yahudi.
---------------------------------------------------------------------

  1.   Qadhi Iyadh, asy-Syifa bi Ta’rif Huquq Mustafa, jld 2 hal 282 cet. 
  2.   Qadhi Iyadh, asy-Syifa bi Ta’rif bi huquq Musthafa, jilid 2 hal 284 Dar Fikr 
  3.   Imam Nawawi, Raudhah Thalibin, Jld 10 hal 70 Cetakan. Maktab Islami, thn 1991
  4.   Ibnu Muqri, Raudh Thalib, jilid 2 hal 208 Dar Dhiya` thn 2013

Niat Satu Malam untuk Sebulan Ramadhan.

Deskripsi masalah:

Niat berfunggsi untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain atau untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan, selain itu niat merupakan perkara yang sangat penting dalam mengerjakan suatu amalan sehingga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengatakan bahwa segala amal perbuatan itu tergatung pada niat orang yang melakukan amalan tersebut dan seseorang akan mendapatkan pahala dari amalannya sesuai dengan niat dalam hatinya.

Pertanyaan:
Bolehkah niat satu malam dibulan Ramadhan untuk sebulan penuh .?

Jawaban:
Niat puasa sebulan penuh pada malam pertama bulan Ramadhan hukumya sunnah namun niat tersebut dalam Mazhab kita (Syafi’iyyah) hanya mencukupi untuk satu malam saja sehingga kita diwajibkan niat setiap malam untuk berpuasa dihari-hari selanjutnya seandainya kita tidak berniat di malam selanjutnya maka puasa kita tidak sah.

Referensi:
Hasyiah jamal juz 2, hal 311, cet Darul fikri

فصل) في أركان الصوم (أركانه) ثلاثة وعبر عنها الأصل بالشروط فتسميتي لها أركانا كنظائره الآتية في غير الحج، والعمرة من زيادتي أحدها (نية لكل يوم) كغيره من العبادات)
(قوله: لكل يوم) أي عندنا كالحنابلة، والحنفية وإن اكتفى الحنفية بالنية نهارا وهو وإن كان تركا لكنه كف قصد لقمع الشهوة فالتحق بالفعل فلو نوى ليلة أول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الأول لكن ينبغي له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذي نسي النية فيه عند الإمام مالك - رضي الله عنه - كما يسن له أن ينوي أول اليوم الذي نسيها فيه ليحصل له صومه عند الإمام أبي حنيفة - رضي الله عنه - وواضح أن محله إذا قلد وإلا كان متلبسا بعبادة فاسدة في اعتقاده وهو حرام اهـ. برماوي.

Iaanatuttalibin juz 2, hal 250, cet Darul fikri.

(وفرضه) أي الصوم (نية) بالقلب، ولا يشترط التلفظ بها، بل يندب، ولا يجزئ عنها التسحر)
وإن قصد به التقوي على الصوم - ولا الامتناع من تناول مفطر، خوف الفجر، ما لم يخطر بباله الصوم بالصفات التي يجب التعرض له في النية (لكل يوم): فلو نوى أول ليلة رمضان صوم جميعه: لم يكف لغير اليوم
الاول.
قال شيخنا: لكن ينبغي ذلك، ليحصل له صوم اليوم الذي نسي النية فيه عند مالك، كما تسن له أول اليوم الذي نسيها فيه، ليحصل له صومه عند أبي حنيفة.
وواضح أن محله: إن قلد، وإلا كان متلبسا بعبادةفاسدة في اعتقاده


Download Kitab-kitab Tentang Puasa

Insya Allah beberapa hari lagi bulan suci Ramadhan akan tiba. Maka sudah selayaknya kita mempersiapakan diri untuk melakukan berbagai ibadah di bulan mulia tersebut. Salah satu persiapan yang tak kalah penting adalah mempersiapkan pengetahuan kita tentang hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan bulan Ramadhan. Hal yang berkaitan dengan puasa telah dibahas oleh para ulama dalam berbagai kitab mereka pada bab puasa. Namun ada juga beberapa kitab yang dikarang oleh para ulama secara khusus membahas masalah puasa. Beberapa diantaranya telah ada versi pdfnya. Berikut ini kami tampilkan beberapa kitab khusus masalah puasa khusus dalam Mazhab Syafii, beserta link donwloadnya.

1.إتحاف أهل الإسلام بخصوصيات الصيام /Ittihaf Ahl Islam bi Khusus ash-Shiyam (Hadiah ahli Islam tentang keistemewaan Puasa) karangan Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Haitami (wafat 995 H ). Dalam kitab ini Syaikhul Islam Ibnu Hajar menjelaskan tentang kelebihan puasa, hukum-hukum tentang puasa, keringanan dalam ibadah puasa dan hukum-hukum puasa sunat. Terdiri dari satu jilid dan 392 halaman, terbitan Muassisah Kutub Tsaqafiyah, Madinah Munawwarah, cetakan I, tahun 1990.  DOWNLOAD 

2. فقهُ الصيامِ  للشيخ الدكتور محمد حسن هيتو  . Kitab Fiqh Shiyam karangan ulama Syafii zaman ini, Syeikh Muhammad Hasan Hitu, ulama asal Suriah, pendiri STAI Imam Syafii Cianjur. Membahas hukum fiqh yang berkaitan dengan puasa. Cetakan Darul Bisyarah Islamiyah, cetakan I tahun 1988. DOWNLOAD 

3.  مَقاصدُ الصومِ  للإمام شيخ الإسلام سلطان العلماء عز الدين بن عبدالسلام الشافعي. Kitab Maqasid as-Shaum karangan Syaikhul Islam Izzuddin bin Abdissalam asy-Syafii. Menerangkan fadhilah dari berpuasa, adab-adab berpuasa, malam lailatul qadar, puasa-puasa sunat dan hari-hari yang dilarang berpuasa. Kitab cetakan ke 2, Dar Fikr tahun 1992. Jumlah halaman 64. DOWNLOAD 

4.   الصومُ : فقهُه - أسرارهُ  للشيخ الدكتور محيي الدين ديب مستو. Shaum- Fiqhuhu- Asraruh (Puasa-Fiqhnya dan rahasianya) karangan Syeikh DR. Muhyiddin Daib Mastu. Berisi tentang puasa dalam al-quran, puasa dalam sunnah syariat, kedudukan puasa dalam Islam, faedah puasa, syarat puasa, rukun puasa, hal yang membukakan, hal yang membatalkan puasa, qadha Ramadhan, shalat taraweh, iktikaf, lailatul qadar, zakat fitrah, puasa Rasulullah, jihad Rasulullah dalam Ramadan. cetakan ke 4 tahun 1979. Cetakan Darul Qalam, Damaskus-Beirut. Jumlah halaman  158.  DOWNLOAD

5.  إسعافُ أهلِ الإيمان بوظائف شهر رمضان  للعلامة الشيخ حسن محمد المشاط . Is'af Ahli al-Iman bi Wadhaif Syahri Ramadhan karangan ulama besar Ahlussunnah di Makkah, Al-Allamah Syeikh Hasan Muhammad Masyath. Berisi  kumpulan hadits yang warid berkenaan dengan puasa, doa ketika hilal Ramadhan, tabyit niat, kelebihan puasa, perintah memelihara lisan dan anggota badan lain, ta'jil berbuka, memberi makanan berbuka puasa orang lain, zakat fithrah, kelebihan umrah di bulan Ramadhan, lailatul qadar, zakat fithrah, menghidupkan malam hari raya dll. Hadits-hadits tersebut juga disertai dengan syarahan sehingga akan memudahkan kita untuk memahami maksud setiap hadits. Cetakan ke 4, tahun 1972 M. Jumlah halaman 127 halaman. DOWNLOAD 

6.  شهرُ رمضان  للشيخ الدكتور عبدالحليم محمود الأزهري . Syahru Ramadhan karangan Syeikh DR. Abdul Halim Mahmud al-Azhari. Berisi tentang bulan Ramadhan dan lailatul qadar, bulan Ramadhan dan puasa, syarat-syarat puasa, kewajiban, larangan, sunnah dan mubah dalam berpuasa, cara ulama shalihin berpuasa, zikir dan doa dalam bulan Ramadhan. Cetakan ke 4, Darul Ma'rifahJumlah halaman 136 halaman. DOWNLOAD 

7.  إتحافُ الأنام بأحكام الصيام للدكتور زين بن محمد بن حسين العيدروس . Ittihaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam karangan DR. Zain bin Muhammad bin Hasan Aidarus. Berisi tentang perbedaan mathali', puasa, rukun dan syaratnya, hal yang membatalkan, yang membolehkan berbuka puasa, juga disebutkan hukum obat tetes dalam telinga dan mata, hukum suntik, menelan dahak, hukum siwak, hukum berobat, iktikaf dalam puasa, dan beberapa masalah lain yang berhubungan dengan puasa, juga disebutkan puasa-puasa sunat, shalat taraweh. Kitab ini juga disertai dengan empat risalah lain tentang Ramadhan. Taammulat fi Ayat Shiyam, Durar Hissan min Fawaid Khatam al-Quran, Do'a fi Ramadhan dan Asma' Syarh Ramadhan, yang juga merupakan karangan DR. Zainuddin bin Muhammad bin Husen Aidarus al-Ba'alawi. Cetakan Mujallad Arabi. Cetakan ke 3 tahun 2016. jumlah halaman 329. DOWNLOAD

8.  الصيامُ : آدابهُ - مطالبهُ - فوائدهُ - فضائلهُ  للمحدث الشيخ الإمام عبدِالله سراج الدين الحسيني (Puasa-Adabnya-Faedahnya dan Kelebihannya, karangan Syeikh Abdullah Sirajuddin al-Husaini. seperti dari judulnya, kitab ini berisi tentang puasa meliputi dalil kewajiban puasa, larangan berbuka bagi orang berbuka tanpa ada keozoran, adab-adab dalam berpuasa, keadaan puasa para ulama shalihin, faedah dari berpuasa, kelebihan berpuasa, kelebihan bulan Ramadhan, kelebihan lailatul qadar, shalat taraweh, dalil dan kelebihannya, zakat fithrah, shalat hari raya dan puasa enam hari di bulan syawal. cetakan Maktabah I, Dar Falah-Kairo, tahun 2004, jumlah halaman 65. DOWNLOAD 

9.  البضائعُ الغاليةُ الأثمانِ فى التزودِ لشهر رمضان  جمع وترتيب وتعليق الشيخ سقاف بن علي العيدروس . Badai' al-Ghayah al-Asman fi Tazaud li Syahr Ramadhan, karangan Syeikh Yusuf Saqqaf bin Ali al-Aidarus. Teridiri dari tujuh risalah. 1. Arbain Ramadhaniyah, 2. Ittihaf al-Ikhwan bi ba'dh sunan ash-Shaum wa Ramadhan. 3. Khawathir Ramadhaniyah 4. Kasyfu Ghitha 'an Badh ma Yaqa'u fi Ramadhan min Khata'. 5. Kaifa Takunu Mujtahidan fi Syarh Ramadhan 6. Tanbih al-Maghrur ila Mahal Istibhab Ta'jil dan Takhir Sahur 7. Khutab Juma'i Syahri Ramadhan al-Arba'. DOWNLOAD 

10من نفحات رمضان - السيد علوي بن عباس المالكي  Min Nufahat Ramadhan karangan Saiyid Alawi bin Abbas al-Maliki, ayahanda dari Saiyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, ulama Makkah yang terkenal. Berisi hadits-hadits yang berkaitan dengan puasa dan beberapa nasehat dalam menjalankan ibadah puasa.  DOWNLOAD

11.  النفحات الرمضانية , Nafahat ar-Ramadhaniyah karangan Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, berisi sedikit tentang kelebihan Ramadhan, peringatan tentang beberapa hal yang melalaikan Ramadhan di zaman ini, doa-doa yang bisa di amalkan di bulan Ramadhan, doa setelah Taraweh, doa asmaul husna, dan beberapa qashidah para ulama tentang Ramadhan. Cetakan Dar Alim wa Da'wah, Tarim, Yaman, jumlah halaman 150, DOWNLOAD

12. فضائل شهر رمضان , kitab Fadhail Syahr Ramadhan karangan Imam Abi bin Ahmad al-Ajhuri, berisi tentang puasa, masalah iman dan Islam tentang hilal, beberapa kelebihan beberapa ibadah dalam bulan Ramadhan, keadaan para aimmah dalam bulan Ramadhan, kelebihan membaca al-quran, peringatan terhadap bahaya banyak makan di bulan Ramadhan, masalah lailatul qadar, malam hari raya, kisah wafatnya beberapa ulama, doa yang dibaca ketika berhadap dengan orang yang ditakuti, dll. Cetakan Dar Fadhilah, jumlah halaman 256 . DOWNLOAD 

13أحكام الصيام وفلسفته في ضوء القرآن والسنة, Ahkam ash-Shiyam wa falsafatuhu fi dhaui al-Quran wa Sunnah karangan Syeikh DR. Syeikh Mustafa Siba'i, Hadits dan ayat tentang puasa, hadits tentang hari raya, petunjuk Rasulullah tentang puasa dan dua hari raya, hukum puasa, zakat fithrah, dan beberapa filsafat Ramadhan, israk mi'raj, dan nisfu sya'ban, jumlah halaman 144, cetakan e 3, Maktabah Islami. DOWNLOAD 

14.  فقه الصيام في الإسلام, Kitab Fiqh Shiyam fil Islam karangan Syeikh Ahmad Mustafa Sulaiman, Berisi tentang hilal Ramadhan, pendapat beberapa mazhab tentang hilal Ramadhan, syarat-syarat puasa, kelebihan puasa, adab-adab dalam puasa, hukum fiqh tentang beberapa masalah puasa seperti suntik, qublah, bekam, kifarah, cara qadha puasa, puasa sunnah, shalat taraweh, dll. Cetakan I, 1985 , Mathba'ah Zahrah, Mosul, Iraq. jumlah halaman 222. DOWNLOAD 

15. بغية الإنسان في وظائف رمضان  , Bughyatul al-Insan fi Wadhaif Ramadhan, karangan Imam Abdurrahman Ibnu Rajab al-Hanbali. Kitab ini merupakan bagian dari kitab Lathaif Ma'arif fi ma lil mawasim min Wadhaif, yang menjelaskan wadhifah dua belas bulan hijraiyah. Kitab Bughyah al-Insan ini merupakan bagian khusus tentang wadhifah dalam bulan Ramadhan. Kitab ini cocok untuk para penceramah, karena banyak berisi mau'idhah-mau'idhah hasanah dan kalam mutiara-mutiara yang sangat bagus untuk bahan ceramah. Jumlah halaman 104, cetakan Maktab al-islami, tahun 1985. DOWNLOAD 

16. وضوح البطلان فى الحكم بعد الفطر بالحقن بالابرة Kitab Wudhuh al-Buthlan fi Hukmi bi 'adami al-fithri bi hukni bin abrah fi nahari Ramadhan karangan Syeikh Salim bin Said Bakir Baghisan al-Hadhrami at-Tarimi asy-Syafii. Seperti namanya, kitab ini menerangkan dan menolak pendapat yang mengatakan bahwa suntik dalam keadaan berpuasa tidak membatalkan puasa. Kitab beliau ini merupakan penolakan (radd) atas fatwa Syeikh Abdullah bin Audh Bakir yang mengatakan bahwa suntik ketika puasa tidak membatalkan puasa. Namun kemudian kitab Syeikh Salim ini juga di tolak oleh ulama Yaman lain. Baca tulisan kami tentang hukum suntik dalam keadaan berpuasa, batalkah atau tidak? dan Infus nutrisi, batalkan puasa?  Cetakan tahun 1962/ 1382 H, jumlah halaman 35 halaman.  DOWNLOAD  

17. سطوح البرهان فى عدم الفطر بالابرة الطبية فى نهار رمضان Suthu' al-Burhan fi 'adam al-fithr bil Abrah ath-Thabiyah karangan Syeikh Thayib Abdurrahman Bamakhramah, kitab ini merupakan jawaban dan bantahan terhadap kitab Syeikh Salim Baghisan yang mengatakan bahwa suntik bisa membatalkan puasa. Tanpa nama penerbit dan tahun terbit, jumlah halaman 21. Baca tulisan kami tentang hukum suntik dalam keadaan berpuasa, batalkah atau tidak? dan Infus nutrisi, batalkan puasa?DOWNLOAD  

18. 

Utang Piutang Yang Membawa Mamfaat Adalah Riba [Abu Syaikh Hasanoel Basri HG]



Tentang Keputihan Yang Wajib Diketahui Setiap Perempuan

Deskripsi Masalah :

Kesuburan wanita bisa ditandai dengan datangnya bulan dan keputihan, namun kadang sebagian wanita tidak mengetahui bahwa keputihan itu ada yang bernajis dan ada yang suci.

Pertanyaan :

Bagaimanakan ciri-ciri keputihan yang bernajis dan yang suci ?

Jawaban :

Keputihan ada tiga kondisi :

1. Keputihan yang keluar dari dhahir farji ( tempat yang wajib cuci sesudah buang air kecil ), keputihan ini hukumnya suci.

2. Keputihan yang keluar dari belakang batin farji ( tempat yang tidak sampai zakar saat berjimak dengan suami dan tidak wajib cuci sesudah buang air kecil ), keputihan ini hukumnya najis.

3. Keputihan yang keluar dari batin farji ( tempat yang tidak wajib cuci sesudah buang air kecil, tetapi sampai zakar ketempat ini saat berjimak dg suami ) keputihan ini terjadi khilaf ulama, sebagian mengatakan suci dan sebagian mengatakan najis, sedangkan pendapat yang kuat mengatakan suci.

Syekh al-Kurdi mengatakan keputihan yang keluar dari batin farji itu bernajis, sama seperti pendapat dalam kitab syarah al-‘ubab. 

Namun menurut kami untuk lebih menjaga kesucian ( ihtiyat ) maka setiap keputihan yang keluar dari batin dihukum najis, harus dicuci.

Sumber : Kitab Ianatuthalibin Juz 1 hal 104 Cet Dar al-Fikr

وحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام: طاهرة قطعا، وهي ما تخرج مما يجب غسله في الاستنجاء، وهو ما يظهر عند جلوسها ونجسة قطعا، وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج، وهو ما لا يصله ذكر المجامع. وطاهرة على الأصح، وهي ما تخرج مما لا يجب غسله ويصله ذكر المجامع. وهذا التفصيل هو ملخص ما في التحفة.
وقال العلامة الكردي: أطلق في شرحي الإرشاد نجاسة ما تحقق خروجه من الباطن، وفي شرح العباب بعد كلام طويل. والحاصل أن الأوجه ما دل عليه كلام المجموع: أنها متى خرجت مما لا يجب غسله كانت نجسة.

Bersalaman dengan Wanita, Haramkah?

Deskripsi
Dewasa ini berkembangnya peradaban dikalangan kita dengan berbagai macam ragam corak dan model dengan berbagai alasan dan paradigma masing-masing sehingga melunturkan nilai-nilai keislaman yang mesti dijaga dalam kehidupan sehari-hari. salah satunya dalam hal berinteraksi dengan lawan jenis.
Dalam hubungan dengan lawan jenis, agama telah membuat batasan-batasan yang mencover segala tingkah laku kita dengan lawan jenis, baik ditempat kerja atau dimanapun dan kapanpun.

Pertanyaan

Apa hukumnya bersalaman dengan wanita di tempat kerja dalam keadaan wudhu’?

Jawaban
Ada dua pertanyaan pada masalah tersebut:

1. Batalkah wudhu’ jika bersalaman dengan wanita?
2. Bolehkah bersalaman dengan wanita ditempat kerja?

Jawaban:

1. Membatalkan wudhu’menurut mazhab syafi'i,
2. Dan pada masalah bersalaman dengan wanita ajnabi adalah haram, yang dimaksud dengan wanita ajnabi adalah wanita yang bukan mahram, wanita yang dikategorikan mahram adalah yang tidak boleh untuk dinikahi oleh muslim laki-laki dalam keadaan apapun seperti ibu, saudara perempuan, anak perempuan, bibi dari pihak ayah dan ibu, nenek, cucu, mertua wanita, menantu wanita, keponakan perempuan, ibu sepersusuan dan anak tiri, mereka yang telah disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 23.
Tidak boleh bersalaman dengan wanita ajnabi ditempat kerja dan dimanapun serta kapanpun, wanita ajnabi seperti rekan kerja, teman belajar, tetangga, sepupu perempuan dll yang tidak termasuk mahram seperti yang telah dijelaskan diatas.
Siapa saja yang bersalaman dengan wanita ajnabi maka dia telah melakukan perbuatan haram dan meyalahi sunnah nabi Muhammad, karena nabi tidak pernah bersalaman dengan wanita ajnabi sekalipun, dan ketika nabi bermuamalah dengan wanita, nabi bermuamalah dengan mengisyarahkan dengan tanganNya.

Nabi SAW bersabda berkenaan dengan bersalaman dengan ajnabi:

“Hendak dipaku kepalamu dengan jarum dari besi lebih baik daripada engkau bersentuhan dengan wanita yang tidak halal bagimu”.
Refrensi:

Al-kalamu At-Thayib Fatawa “ashriyyah. Hal 17-18

مس يد المرأة
السؤال: ما حكم مصافحة النساء فى العمل وأنا على وضوء واقوم بالصلاة فهل مصافحة النساء تبطل الوضوء؟
الجواب: هنا قضيتان, القضية الاولى: مصافحة النساء هل تبطل الوضوء ام لا؟
ذهب جماعة منهم أبو حنيفة الى أنها لا تبطل الوضوء. وذهب آخرون منهم الشافعية إلى انها تبطل الوضوء
وخروجا من الخلاف إذا حدث من اللمس بالمصافحة او غيرها, فإننا نتوضأ
القضية الثانية: هل يجوز مصافحة النساء الأجنبيات فى العمل؟ لاتجوز مصافحة النساء الأجنبيات- وهن من لسن بمحارم, والنساء المحارم هن من لا يجوز للمسلم التزوج بهن مطلقا كالام والأخت والبنت والعمة والخالة والجدة والأحفاد من البنات وأم الزوجة وزوجة الإبن, وبنت الأخ و بنت الأخت والأم من الرضاع وبنت الزوجة ون مذكورات فى اية النساء رقم 23
لاتجوز مصاحة الأجنبيات فى العمل او فى أي مكان أو زمان والأجنبيات كالزميلة فى العمل او الدراسة أو الجارة أو إبنة العم أو العمة أو الخال أو الخالة وغيرهن ممن لسن بمحارم كما أسلفنا.
ومن صلفح هؤلاء الأجنبيات فقد وقع فى الحرام, وخالف سنة النبي العدنان, لأن النبي صلي الله عليه وسلم ما صافح إمرأة قط, وعندما كان يبايع النساء كان يبايعهن بالإشارة بيده الشريفة صلي الله عليه وسلم.
ويقول صلي الله عليه وسلم محذرا وحاظرا من هذه المصافحة:
لأن يطعن فى رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لاتحل له
.


Shalat Jamak Qasar Bagi Sopir

Deskripsi Masalah:

Islam selalu mengajarkan yang terbaik bagi seseorang hamba, baik berupa yang wajib maupun menjahui segala yang haram. Otoritasnya, dikala syar'i mewajibkan dan melarang sesuatu, itu pertanda bahwa hal tersebut adalah yang terbaik bagi hamba. Dalam menjalani agama islam sangatlah ringan, karena ketika hamba tidak bisa menjalani sebuah kewajiban maka diberikan keringanan untuk menggantikannya dengan yang lebih ringan dari hal tersebut. Termasuk sebuah kewajiban yang diringankan adalah shalat yang jumlahnya 4 rakaat, maka ketika kita bermushafir yang panjang dengan kadar 2 marhalah, maka syar'i membolehkan untuk menjamak serta mengqasar shalat tersebut.

Pertanyaan:

Bolehkah selalu melakukan jamak qasar bagi seorang yang selalu musafir alias jabatan sebagai sopir motor ?

Jawaban:

Terhadap orang yang selalu musafir maka disunnahkan baginya untuk menyempurnakan shalatnya dan agar tidak melakukan jama' qasar. Karena keluar dari khilaf Imam Ahmad Radhiallahu 'anhu yang mewajibkan untuk menyempurnakan shalatnya. Adapun jika ia berpuasa akan menimbul kemudharatan baginya maka diperbolehkan untuk berbuka.

Referensi:


Al-Iqnaq Fi Alfadhil Abi Syuja’ Jilid 1 Halaman 178 Cetakan Makatabah Darul Khair


تَنْبِيه( الصَّوْم لمسافر سفر قصر أفضل من الْفطر إِن لم يضرّهُ لما فِيهِ من بَرَاءَة الذِّمَّة وَالْقصر لَهُ أفضل من الْإِتْمَام إِن بلغ سَفَره ثَلَاث مراحل وَلم يخْتَلف فِي جَوَاز قصره فَإِن لم يبلغهَا فالإتمام أفضل خُرُوجًا من خلاف أبي
حنيفَة أما لَو اخْتلف فِيهِ كملاح يُسَافر فِي الْبَحْر وَمَعَهُ عِيَاله فِي سفينته وَمن يديم السّفر مُطلقًا فالإتمام لَهُ أفضل لِلْخُرُوجِ من خلاف من أوجبه كَالْإِمَامِ أَحْمد

Artinya: Berpuasa bagi musafir yang pendek lebih afdhal ketimbang untuk berbuka, jika tidak menimbul kemudharatan baginya. Dan mengqasar shalat lebih baik daripada menyempurnakan, jika telah sampai batasan 3 marhalah, Dan tiada khilaf pendapat padanya. Maka jika tidak sampai tiga marhalah niscaya justru lebih diutamakan itmam (menyempurnakan) karena keluar dari khilaf Abu Hanifah. Adapaun pada pembahasan yang menjadi kontra versi ulama seperti pelayar yang mushafir dalam laut bersama keluarganya dalam kapal itu dan orang yang selalu musafir mutlaq seperti sa’i maka untuk menyempurnakan lebih baik ketimbang mengqasar, karena keluar dari khilaf yang berpendapat wajib itmam seperti Imam Ahmad Radhiallahu a’nhu.

Wallahu a’lam


Adakah Surga bagi Kafir...


Diceritakan bahwa Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani pada suatu hari pernah melewati sebuah pasar yang penuh dengan keramaian. Ibnu Hajar datang dengan pakaian yang bagus dan mewah. Kemudian seorang Yahudi datang menyergapnya. Yahudi tersebut adalah penjual minyak panas, tentu saja pakaiannya penuh dengan kotoran minyak sehingga penampilannya sungguh sangat memprihatinkan.
Sambil memegang kekang kuda, yahudi tersebut berkata pada Ibnu Hajar, “Wahai Syaikhul Islam (Ibnu Hajar) engkau menyatakan bahwa Nabi kalian (Nabi Muhammad) bersabda:
الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر
“Dunia itu penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang orang kafir”.

Bagaimana keadaanmu saat ini bisa disebut penjara, lalu keadaanku di dunia seperti ini disebut surga?. Ibnu Hajar kemudian menjawab “Aku dilihat dari berbagai nikmat yang Allah janjikan untukku di akhirat, seolah-olah aku sedang di penjara. Sedangkan engkau (wahai Yahudi) dilihat dari balasan siksa yang pedih yang Allah berikan untukmu di akhirat, seolah-olah engkau berada di surga.”. Akhirnya Yahudi tersebut pun masuk Islam.

Referensi:

Tuhfatul Murid ‘ala Jauhar Tauhid hal 73 cet. Al Haramain

وحكي أن الحافظ ابن حجرمر يوما بالسوق في موكب عظيم وهيئة جميلة فهجم عليه يهودي يبيع الزيت الحار وأثوابه ملطخة بالزيت وهو في غاية الرثاثة والشناعة فقبض على لجام بغلته وقال يا شيخ الإسلام تزعم أن نبيكم قال الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر فأي سجن أنت فيه وأي جنة أنا فيها فقال أنا بالنسبة لما أعد الله لي في الآخرة من النعيم كأني الآن في السجن وأنت بالنسبة لما أعده الله لك في الآخرة من العذاب الأليم كأنك في جنة فأسلم اليهودي

Hukum Menggerak-Gerak Telunjuk Jari Dalam Shalat

Deskripsi Masalah

Rukun shalat salah satunya adalah duduk tasyahhud akhir dan membaca tasyahhud. pada saat membaca tasyahud akhir yaitu tepatnya ketika sampai pada lafadz أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ الله orang yang shalat (mushalli) disunnahkan mengangkat jari telunjuk tangan kanan.
Namun dalam praktiknya, banyak dijumpai perbedaan cara di masyarakat, ada yang cukup mengangkat jari telunjuk dengan lurus tanpa menggerak-gerakkannya, dan ada pula yang mengangkat sekaligus menggerakkannya dengan berbagai gerakan, seperti memutar jari telunjuk dan jari telunjuk digerakkan naik turun.
Pertanyaan:
 
Menurut pandangan fiqih, bolehkah menggerakkan jari telunjuk dengan berbagai model gerakan ketika tasyahhud, dan apakah pergerakan jari telunjuk tersebut bisa membatalkan shalat?
Jawaban:
 
Para Ulama berbeda tanggapan tentang menggerak-gerak telunjuk jari tersebut:
1. Batal shalat, jika pergerakan jari telunjuk diikuti dengan bergeraknya telapak tangan serta melebihi tiga kali gerakan.
    Referensi:
    Hasyiah Bujairimi A’la Syarah Minhaj Jilid 1 Halaman 248 Cet Matbaah Habli


    فَإِنْ حَرَّكَ كَفَّهُ فِيهَا ثَلَاثًا وَلَاءً بَطَلَتْ صَلَاتُهُ أَوْ اشْتَدَّ جَرَبٌ) بِأَنْ لَا يَقْدِرَ مَعَهُ عَلَى عَدَمِ الْحَكِّ فَلَا تَبْطُلُ بِتَحْرِيكِ كَفَّهُ لِلْحَكِّ ثَلَاثًا وَلَاءً لِلضَّرُورَةِ، وَهَذِهِ مِنْ زِيَادَتِي، وَبِهَا صَرَّحَ الْقَاضِي، وَغَيْرُهُ.
    2. Tidak membatalkan shalat, apabila yang bergerak hanya jarinya saja, karena pergerakan jari telunjuk termasuk gerakan yang sedikit. Dan hukum pergerakan ini adalah makruh namun shalat tetap sah.

      Mahalli Hal 190 Jilid 1 Cet Toha Putra

      والكثرة)والقلة (بالعرف فالخطوتان أو الضربتان قليل والثلاث) من ذلك (كثير إن توالت) لا إن تفرقت بأن تمد الثانية مثلا منقطعة عن الأولى عادة . (وتبطل بالوثبة الفاحشة) قطعا كما قال في أصل الروضة إلحاقا لها بالكثير (لا الحركات الخفيفة المتوالية كتحريك أصابعه في سبحة أو حك في الأصح) إلحاقا لها بالقليل والثاني ينظر إلى كثرتها

      Dan banyak dan sedikit itu tinjau pada 'uruf (adat/kebiasan), maka dua langkah dan dua tepukan adalah sedikit, sedangkan tiga dari demikian maka di anggap banyak jika beriringan, tidak dianggap banyak jika berhenti seperti panjang pada yang kedua yang terpisah dari yang pertama pada adat. Dan batal shalat dengan loncat yang keras, hal ini telah disepakati oleh ulama (qat’i), sebagaimana dikemukakan dalam asal raudhah, karena itu dihubungkan dengan yang banyak. Dan tidak batal disebabkan dengan gerakan yang ringan dan terus menerus, seperti gerakan jari telunjuk atau menggaruk dasar pendapat yang kuat, karena demikian dihubungkan dengan yang sedikit. Pendapat yang kedua ditinjau dari segi banyaknya bergerak.
      Wallahu alam



      Sahkah Wasiat untuk Membangun Gereja ?

      Deskripsi Masalah:
      Di suatu daerah minoritas muslim hiduplah seorang pengusaha besar yang di kenal dengan kepemurahannya, beliau selalu melalukan kebaikan (tabarru') adakala dengan menghibbahkan hartanya bersedekah dan berwasiat baik untuk pihak individu dan kepentingan umum tanpa melihat tempat itu maksiat atau tidak.

      Pertanyaan:
      Bolehlah berwasiat untuk membangun tempat umum namun itu tempat maksiat seumpama gereja ?

      Jawaban:
      Di bolehkan untuk berwasiat kepada tempat umum dengan syarat bila tempat itu bukan tempat maksiat seperti halnya gereja ,dan berwasiat untuk menulis At-taurat/injil begitu juga berwasiat untuk menulis kitab-kitab filsafat dan segala ilmu yang di haramkan.

      Refrensi:
      Mughni muhtaj juz 4 hal 68 cet darul kutub islamiah.
      (وإذا أوصى لجهة عامة، فالشرط) في الصحة (أن لا تكون) الجهة (معصية كعمارة كنيسة) للتعبد فيها ولو ترميما، وكتابة التوراة والإنجيل وقراءتهما، وكتابة كتب الفلسفة والنجوم وسائر العلوم المحرمة، ومن ذلك الوصية لدهن سراج الكنيسة تعظيما لها.
      Mahalli juz 3 hal 158 cet beirut.
      (وإذا أوصى لجهة عامة فالشرط أن لا تكون معصية كعمارة كنيسة) من كافر أو غيره فلا تصح الوصية لها، وتصح لغيرها من قربه، وجائز كعمارة مسجد، وفك أسرى الكفار من أيدي المسلمين

      Manfaat Air Hujan : Thibbun Nabawi

      Diriwayatkan bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda: Jibril mengajariku sebuah obat yang dengannya saya tidak lagi butuh pada obat lain dan dokter.
      Kemudian Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, bertanya Apa itu wahai Rasulullah? Sesungguhnya kami membutuhkan obat tersebut.
      Lalu Nabi Muhammad SAW bersabda:

      “Ambillah air hujan secukupnya, dan bacakanlah atasnya surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas, dan ayat Al-Kursiy. Masing-masing dibaca sebanyak 70 kali dan diminum pada waktu pagi dan sore selama 7 hari.”Demi Dzat yang telah mengutusku dengan hak sebagai seorang Nabi, sungguh Jibril telah berkata kepadaku.

      ” Sesungguhnya, barang siapa minum air tersebut, maka Allah akan menghilangkan segala penyakit dari tubuhnya. Dan Allah akan menyembuhkannya dari segala macam sakit. Dan barang siapa meminumkan air tersebut pada istrinya, lalu tidur bersama (bersenggama), maka istrinya akan bisa hamil dengan izin Allah SWT. Dan air tersebut juga bisa menyembuhkan mata yang sakit, menghilangkan sihir, menghilangkan dahak, menyembuhkan sakit dada, sakit gigi, gangguan pencernaan, dahaga, dan kecing tidak lancar. Sehingga tidak perlu lagi membekam. Dan manfaat-manfaat lain sangat banyak jumlahnya namun hanya Allah yang mengetahui.

      Referensi

      An-Nawadir hal : 194



      فائدة   روي أنه صلى الله عليه وسلم قال علمني جبريل دواء لا أحتاج معه إلى دواء ولا طبيب  فقال أبو بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم   وما هو يا رسول الله ؟ إن بنا حاجة إلى هذا الدواء  فقال   يؤخذ شيئ من ماء المطر وتتلى عليه فاتحة الكتاب  وسورة الإخلاص  والفلق  والناس  وآية الكرسي  كل واحدة سبعين مرة ويشرب غدوة وعشية سبعة أيام  فو الذي بعثني بالحق نبيا  لقد قال لي جبريل   إنه من شرب من هذا الماء رفع الله عن جسده كل داء وعافاه من جميع الأمراض والأوجاع  ومن سقي منه امرأته ونام معها حملت بإذن الله تعالى
      ويشفي العينين  ويزيل السحر  يقطع البلغم  ويزيل وجع الصدر والأسنان والتخم العطش وحصر البول  ولا يحتاج إلى حجامة ولا يحصى ما فيه من المنافع إلا الله تعالى  وله ترجمة كبيرة اختصرناها  والله أعلم
       

      Hukum Mempublikasi Nama-Nama Penjahat [Abu Syaikh Hasanoel Basri HG]


      donasi
      donasi

      selengkapnyaAMALAN SUNAT

      selengkapnyaDownload

      selengkapnyaDOA

      selengkapnyaAswaja