Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Amalan Shalat Sunat Awwabin di Malam Nisfu Sya'ban


Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada mala Nisfu Sya’ban adalah Shalat Sunat Awwabin. Sebenarnya shalat awwabin tidak hanya disunatkan pada malam nisfu sya’ban, tapi pada setiap malam, namun di malam nisfu sya’ban, kesunahannya berliapat ganda. Berhubung nanti malam adalah malam nisfu sya’ban, kami akan sedikit berbagi tentang penjelasan sunat awwabin, berupa waktu, metode pelaksanaan dan kelebihannya. Shalat sunat Awwabin adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu antara Magrib dan Isya. Lafaz “awwabin” merupakan lafad isim fa’il yang bermakna orang-orang yang kembali. Shalat ini dinamakan dengan Awwabin karena orang yang melakukannya dianggap sebagai orang yang kembali kepada Allah SWT di saat orang-orang lalai dengan hal yang lain.

Sekurang-kurang raka’at shalat Awwabin adalah dua raka’at, kemudian empat raka’at dan selanjutnya enam raka’at. Adapun bilangan yang paling baik lagi dua puluh raka’at sama seperti raka’at bilangan tarawih. Mengqadha shalat fardhu atau mengerjakan shalat sunat apa saja pada waktu antara magrib dan inya secara otomatis akan menghasilkan pahala Awwabin pula menurut satu pendapat. Metode pelaksanaan Awwabin sama seperti mengerjakan shalat yang lain, yaitu dua rakaat dengan sekali salam. lafad niatnya adalah 

أُصَلِّي سُنَّةَ الأَوَّبِيْنَ رَكَعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءٍ لِلَّهِ تعالى


 "sahaja aku shalat sunat awwabin dua rakaat menghadap kiblat karena allah Swt"

satu hal yang perlu diingat adalah tidak boleh meniatkan shalat hifdhil iman pada shalat awwabin, walau salah satu fadhilahnya adalah memelihara iman. Pada setiap rakaat dibaca surat al-Fatihah dan al-Ikhlash sebanyak enam kali. Bila telah selesai shalat hendaklah mengangkat tangan dan berdo’a dengan penuh harap dengan do’a dibawah ini sebanyak tiga kali: 

اَلّلَهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَوْدِعُكَ إِيْمَانِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَعِنْدَ مَمَاتِيْ وَبَعْدَ مَمَاتِيْ، فَاحْفَظْهُ عَلَيَّ إِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Artinya: Ya Allah sesungguhnya aku simpankan imanku pada-Mu dalam hidupku, ketika kematianku dan sesudah matiku. Maka peliharalah iman itu padaku. Engkau maha kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Yasin, kemudian membaca doa nishfu Sya’ban yang masyhur. Pada pembacaan surat Yasin kali pertama, diniatkan supaya Allah SWT memberikan keberkahan umur. Pada kali kedua, meminta keberkahan rezeki, dan pada kali ketiga berdoa agar diberikan husnul-khatimah.


Rasulullah SAW memberi kabar gembira tentang kelebihan Shalat Sunat Awwabin dengan beberapa hadis bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:"مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ سِتَّ رَكْعَاتٍ، لَمْ يَتَكَلَّمْ بَيْنَهُنَّ بِشَيْءٍ، عُدِلْنَ لَهُ عِبَادَةَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً

“ Dari Abi Hurairah, Beliau berkata: berkata Rasulullah SAW, ‘’Siapa saja yang mengerjakan enam raka’at sembahyang setelah shalat magrib dan tidak berbicara sedikitpun diantara raka’at-raka’atnya maka akan dibalaskan kepadanya pahala dua belas tahun”.

مَنْ صَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ عِشْرِينَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.

“Siapa saja yang mengerjakan dua puluh raka’at sembahyang di antara shalat magrib dan isya maka Allah  mendirikan satu satu rumah dalam syurga untuknya”.

Rasulullah juga SAW pernah bersabda, “siapa saja yang menginginkan agar Allah memelihara imannya, maka hendaklah ia shalat dua raka’at sesudah ba’diyah maghrib kemudian membaca al-Fatihah pada tiap raka’at dan membaca al-Ikhlas 11 kali, dan al-Ma’uzataini (al-nas dan al-Falaq) satu kali”

Demikianlah sedikit penjelasan tentang Shalat sunat Awwabin. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam Bi al-Shawab.
 
Sumber : Beberapa kitab Figh Syafiiyyah.





10 Faktor Hawa yang Mengajak kepada Maksiat (Lanjutan)

tips melawan hawa nafsu


Beberapa Hari yang lalu kami telah membahas 10 faktor Nafsu dan perbedaanya dengan Hawa, 10 perkara yang menorong atau mengajak seseorang melakukan maksiat, Bagi yang belum tahu bisa membacanya di sini, sekarang kami akan melanjutkan dengan 10 Faktor Hawa, yang juga mengajak seseorang kepada kemaksiatan. Berikut ini rinciannya:

 الحسد
Kedengkian atau iri hati, dengan iri atau dengki kita ingin nikmat yang ada pada orang lain berpindah kepada kita, atau sekurang-kurangnya hilang dari orang tersebut, sehingga timbullah rasa ingin merealisasikan. Yang mana pastinya dengan berbuat zalim kepadanya.

  التجبر

Bertindak sewenang-wenang tanpa memikirkan perasaan, nasib atau hak orang lain dan tidak mau peduli terhadap keadaan.

العجب
Kagum kepada diri sendiri atau kepada apa yang telah dilakukan, terus melakukan sesuatu untuk  mendapat pujian orang lain. bagaimana tidak? kita sendiri dibuat heran, apalagi orang lain.

الكبر
Takabbur atau menolak kebenaran, merasa bangga dan juga tidak pernah mau menerima pendapat orang lain walau pendapat itu benar sekalipun.

 الغل
Dendam, perkara ini tentunya bisa membuat kita memikirkan untuk melakukan hal-hal buruk untuk membalaskan dendam tersebut.

المكر
Tipu daya muslihat, kita tentu mengetahui jika menipu untuk kali pertama  akan diikuti dengan kembali menipu untuk kali kedua yang menutupi kebohongan pertama dan begitu juga seterusnya.

 الوسوسة
Menghasud dan mengajak berbuat jahat seseorang agar mau mengikuti perbuatan yang tidak berguna dan dilarang agama, kita akan selalu berusaha untuk melakukannya walaupun dengan metode yang tidak baik.

 المخالفة في الأمر
 Menentang semua perintah agama yang seharusnya dilaksanakan, dipatuhi dan ditaati.

 سوء الظن
Selalu berburuk sangka terhadap apa saja dan siapa saja. Hal ini dengan sendirinya akan mengundang pikiran-pikiran negatif untuk perbuatan yang negatif pula tentunya.

 الجدال
Suka bertengkar dan berbantah-bantah, yang demikian juga akan menimbulkan dendam dan marah karena pertengkaran tersebut,  yang kemudian akan dilanjutkan dengan permusuhan.

Demikianlah 10 faktor Hawa yang selalu mengajak kita agar selalu melakukan hal-hal yang dilarang agama. Maka sudah sepantasnya untuk dijahui dengan cara mengetahui perkara-perkara tersebut, sehingga kita akan selamat dari Kemurkaan Sang Penguasa Hati, di dunia dan akhirat. Wallahua’lam.

Hukum Air Dua Qullah yang Terkena Najis


Salah satu pembahasan pada masalah air adalah kadar. Kadar air dapat mempengaruhi status kesucian air tersebut. Air yang mencapai kadar dua qullah (216 liter) di kategorikan sebagai air yang tidak akan bernajis ketika terkena najis. Namun, hal tersebut tidak berlaku secara mutlaq. Artinya, air yang mencapai dua qullah bisa saja bernajis bila sifat air tersebut berubah, seperti warna, bau dan rasa. Dan perubahan tersebut bukan hanya perubahan yang bersifat konkrit (bisa di tangkap oleh panca indera), tetapi juga perubahan yang bersifat abstrak. Misalnya, air dua qullah yang dituangkan ke dalamnya urine yang banyak tetapi urine tersebut tidak lagi berwarna, berasa dan berbau.

Pada contoh kasus di atas, jika seandainya urine tersebut tetap pada sifat aslinya, yaitu berwarna, berbau dan berasa, dan ia dapat merubah sifat-sifat air dua qullah tersebut, maka air dua qullah tersebut di anggap bernajis. Dan jika urine tidak dapat merubah air dua qullah tersebut, maka air dua qullah tersebut tidaklah bernajis.

Referensi:
1. Al-hawy kabir, juz. 1, hal. 325 (dar kutub al-‘ilmiyyah)

وَلِلنَّجَاسَةِ إِذَا وَقَعَتْ فِي الْمَاءِ حَالَانِ. حَالٌ تُغَيِّرُ أَحَدَ أَوْصَافِ الْمَاءِ مِنْ لَوْنٍ أَوْ طَعْمٍ أَوْ رَائِحَةٍ، فَيَصِيرُ الْمَاءُ بِهَا نَجِسًا، قَلِيلًا كَانَ أَوْ كَثِيرًا وَهُوَ إِجْمَاعٌ

Artinya: dan untuk penentuan najisnya air, apabila terkena najis ada dua keadaan. Pertama, najis yang dapat merubah salah satu sifat air, seperti warna, rasa atau bau. Maka jadilah air tersebut bernajis, baik air tersebut sedikit atau banyak (mencapai dua qullah). Hal ini berdasarkan ijma’.

2. I’anatut thalibin, juz.1, hal. 42 (dar fikr)

فإن تغير به تنجس، ولا فرق في التغير بين أن يكون حسيا أو تقديريا، بأن وقع في الماء نجس يوافقه في صفاته - كالبول المنقطع الرائحة واللون والطعم - فيقدر مخالفا أشد، الطعم طعم الخل واللون لون الحبر والريح ريح المسك. فلو كان الواقع قدر رطل من البول المذكور مثلا، نقدر ونقول: لو كان الواقع قدر رطل من الخل هل يغير طعم الماء أو لا؟ فإن قالوا: يغيره حكمنا بنجاسته

Artinya: maka jika berubahlah (sifat) air dengan sebabnya (najis), maka air tersebut bernajis. Dan tidak ada perbedaan pada masalah perubahan, apakah perubahan tersebut konkrit (bisa dicapai oleh panca indera), atau abstrak. Misalnya terkena najis yang sifatnya sama dengan sifat air, seperti urin yang tidak lagi berwarna, berasa da berbau. Maka dibuat sebuah pengandaian dengan mengandaikan rasanya dengan rasa cuka, warnanya dengan warna tinta, dan baunya dengan bau miski. Maka jika urin yang tertuang ke dalam air sebanyak satu rithal, maka kita andaikan jika cuka tumpah kedalam air sebanyak satu rithal apakah dapat mengubah rasa air? Jika iya, maka air tersebut bernajis.

Demikianlah hukum air dua qullah yang terkena najis. Semoga bermanfaat. Wallahua'lam.

Download Kitab Tentang Nisfu Sya'ban

Salah satu bulan yang memeiliki kelebihan adalah bulan yang sedang kita lalui saat ini yaitu bulan Sya'ban. Dalam satu hadits Rasulullah bersabad:

شعبان شهرى ورمضان شهر الله وشعبان المطهر ورمضان المكفر .الديلمى عن عائشة

Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa” (HR. Imam al-Dailami)

Bulan sya'ban adalah blan di angkatnya amalan manusia, bulan diturunkan ayat perintah bershalawat kepada Rasulullah SAW, bulan sya'ban adalah bulan al-quran, sehingga para ulama salaf ketika datangnya bulan Sya'ban meninggalkan semua kegiatan mereka dan menyibukkan dirinya dengan membaca al-quran. Selain itu dalam bulan sya'ban ada satu malam yang memiliki kelebihan yang besar yaitu malam Nisfu Sya'ban. Sedikit tentang kelebihan bulan Sya'ban dan Nisfu Sya'ban telah kami uraikan dalam postingan kami di Kemulian Bulan Sya`ban dan Keutamaan Nisfu Sya`ban Serta Amalan-Amalannya
Banyak para ulama yang telah menyusun kitab khusus yang membahas tentang bulan sya'ban dan Nisfu Sya'ban, baik secara khusus ataupun dibahas bersama kelebihan bulan-bulan yang lain.

Nah bagi yang ingin memiliki file kitab-kitab yang membahas tentang bulan sya'ban dan Nisfu Sya'ban silahkan di donwload di bawah ini beberapa koleksi yang kami ketahui link donwloadnya.


  1. Tuhfah al-Ikhwan fi qira`ah al-mi'ad fi Rajab wa Sya'ban wa Ramadhan karangan Syeikh Syihabuddin Ahmad al-Hijazi, pengarang kitab Majalis Saniyah syarah Arba'in Nawawiyah. Membahasa kelebihan tiga bulan mulia, Rajab, Sya'ban dan Ramadhan. Kitab ini menjadi salah satu rujukan berbagai ulama lain yang membahas masalah kelebihan tiga bulan mulia tersebut. Bagi yang ingin mendownload file pdfnya silahkan menuju ke postingan kami sebelumnya di download kitab Tuhfatul Ikhwan.
  2. Lailah an-Nisf min Sya'ban fi Mizan al-Inshaf al-'ilmy wa Simahah al-
    Islam, karangan Syeikh Muhammad Zaki Ibrahim (w. 1998), seorang ulama sufi lulusan al-Azhar yang lahir di Kairo tahun 1916 M dan nasab ayah dan ibu beliau bersambung ke Saidina Husen. Beliau merupakan Syeikh Thariqat Syaziliyah Muhammadiyah. Beliau banyak meninggalkan karangan.Untuk file pdf bisa di download di SINI sedangkan file word bisa di download di SINI
  3. Lailah Nishf Sya'ban karangan DR. Mahmud as-Sayyid Shabih, salah seorang ulama shufi
    Mesir, pengarang kitab Akhtha` Ibn at-Taimiyah, sebuah kitab yang membongkar keburukan pemikiran Ibnu Taimiyah yang berkenaan dengan hak Rasulullah dan keluarga beliau. Kitab beliau tersebut bisa di download di SINI terdiri dari 240 halaman, atau bisa download beserta kitab-kitab beliau yang lain langsung di website pribadi beliau di http://www.msobieh.com/books.html 
  4. Husnul al-Bayan fi Lailah an-Nishf min Sya'ban, karangan Syeikh Abdullah in Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari cetakan kedua tahun 1405 H/1985 M, terdiri 40 halaman. Silahkan di download DI SINI
  5. Maza fi Sya'ban, karangan Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, seorang ulama besar Ahlus sunnah wal jamaah yang gigih mempertahankan aqidah ahlus sunnah di tengah-tengah kekuasaan kaum wahabi Arab Saudi. Beliau banyak meninggalkan berbagai kitab yang berfaedah. Beberapa kitab beliau pernah kami posting link donwloadnya di Download Kitab Sayyid Muhammad Alawi . Kitab Maza Fi Sya`ban ini belum kami temukan file pdfnya, namun bisa di download di SINI 
  6. Hal Mu`min fi Sya'ban, karangan DR. Muhammad ad-Dabisi, cetakan ke 5 tahun 2013. Filenya bisa di download di SINI 
  7. Kanzu Najah wa Surur Fi Ad’iyyah al-lati Tasyrah ash-Shudur, karangan ulama keturunan asal Nusantara, Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Qudus al-Makki asy-Syafii (wafat 1335 H),
    pengarang kitab Lathaif al-Isyarat Syarah Nadham Waraqat. Kitab Kanz Najah ini membicarakan kelebihan setiap bulan dan berbagai macam amalan. Kitab tersebut telah kami posting dalam postingan kami sebelumnya. Dalam format pdf di SINI, sedangkan dalam format box (syamela) di SINI
  8. Dalil lailah al-Khairat fi ma warada 'an lailah an-Nisf min Sya'ban, karangan al-Habib Abu Bakar al-'Adani bin Ali al-Masyahur, seorang ulama Aden, Yaman yang aktif berdakwah lewat media. Videoa tausiah beliau banyak di internet. Kitab tersebut bisa di download di SINI. Selain kitab di atas beliau juga mengarang sebuah nadham tentang kelebihan nisfu Sya'ban dengan nama Mandhumah an-Nafhah ar-Rahmaniyah fi al-Khashaish asy-Sya'baniyah. Nadham tersebut bisa di download di SINI
  9. Lathaif al-Ma’arif fima li Mawasim al-Ami min al-Wadhaif, Karangan Ibnu Rajab al-Hanbali. Kitab ini menerangkan kelebihan setiap bulan. Kitab ini sudah ada link downloadnya baik untuk file pdf maupun box dalam postingan kami Download Kitab Lathaif al-Ma'arif.
Selain kitab-kitab di atas, sebenarnya masih banyak kitab para ulama yang membahasa seputar Sya'ban dan Nisfu Sya'ban, seperti al-Arb'un Fi Fadhli Lailah an-Nishf min Sya'ban larangan Syeikh Suwaidan Shaghir, Nubzah fi Fadhail an-Nishf min Sya'ban karangan Alaiddin Abu Bakar al-Hasan al-Bakri ash-Shiddiqy al-Mishry asy-Syafii, Mawahib al-Manan fi Kalam 'ala Awail Surah ad-Dukhan wa Fadhail Lailah Nisf min Sya'ban karangan Najmuddin al-Ghaithy, Ma Ja`a fi Syahr Sy'aban karangan al-Hafidh Khattab ibn Dahyah al-Andalusi, al-Idhah wa al-Bayan lima Ja`a fi Lailah an-Nisshf fi Sya'ban karangan Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami, Lailah an-Nishf Sya'ban karangan al-'Allamah al-Ajhuri al-Maliky, Bahjah al-Ikhwan fi Fadhail Nishf min Sya'ban karangan Syeikh Ibrahim al-Imam, al-Bayan fi Ara`i 'ulama asy-Syari'ah fi du'ai Lailah an-Nishf min Sya'ban karangan Hasan al-Hadi Husain, dan al-Kamalah al-Hasan fi fadhail lailah an-Nishf min Sya'ban karangan Syeikh Husain Muhammad Ali Makhluf al-'adawi. Namun semua kitab-kitab tersebut belum kami temukan filenya, kecuali kitab Idhah Bayan karangan Ibnu Hajar al-Haitami, bisa di download manuskripnya di SINI

1O Perbedaan Ilmu dengan Harta

Perbedaan Ilmu dengan Harta
  1. Ilmu merupakan warisan dari para Nabiyullah. Sedangkan Harta merupakan peninggalan Qarun, Fir’un dan Haman.
  2. Ilmu memelihara pemiliknya, sedangkan harta pemilik yang harus memliharanya.
  3. Orang yang berilmu punya  banyak teman, sedangkan orang yang punya  harta mempunyai banyak musuh.
  4. Ilmu apabila diamalkan/dipergunakan  akan bertambah, Sedangkan harta apabila digunakan akan berkurang.
  5. Orang mempunyai ilmu akan dimuliakan, Orang yang mempunyai harta akan  bakhil dan dicela orang.
  6. Ilmu tidak akan pernah bisa dicuri, sedangkan harta bisa dicuri.
  7. Ilmu akan bermanfa’at di hari akhirat. sedangkan harta akan diminta-pertanggungjawabkan pada hari akhirat.
  8. Ilmu tidak akan binasa. Harta akan mudah binasa.
  9. Ilmu membersihkan hati, sedangkan Harta mengeraskan hati.
  10. Orang yang mempunyai ilmu ingin menjadi hamba, sedangkan orang yang punya harta ingin  menjadi penguasa.
Demikianlah kelebihan Ilmu dibandingkan harta mengutip jawaban Sayyidina Ali Karramallahu Wajhahu  menjawab pertanyaan 10 orang golongan Khawarij. Setiap dari meraka bertanya dengan 1 pertanyaan yang sama, " manakah yang lebih baik antara ilmu dan harta" ? Namun beliau menjawab dengan  10 jawaban yang berbeda. Subhanallah. Semoga Bermanfaat. Wallahua'lam.

Sumber:
(Hamisy kitab Sirus Salikin Hal 27, 28, 29 juz I)

Beberapa Faktor (Hawa dan Nafsu) Dorongan Melakukan Maksiat



Nafsu adalah sesuatu yang mengajak atau mendorong kita untuk melakukan maksiat, ajakan atau dorongan yang timbul dari diri sendiri. Berbeda dengan Hawa, karena Hawa adalah dorongan untuk melakukan maksiat, baik yang timbul dari sendiri atau dari luar. Setiap Nafsu adalah Hawa, tidak sebaliknya.

Dikutip dari kitab Muraqi Ubudiah pada halaman 61, Menurut Imam Hamdani beberapa faktor Nafsu yang mendorong seseorang melakukan maksiat ada 10, yaitu :

 الحرص

Rakus atau tama’ adalah salah satu foktor utama maksiat karena berkeinginan lebih menjadikan kita ingin selalu lebih dibandingkan orang lain. Rakus atau Tamak  yang dilarang adalah tamak untuk urusan dunia , sedangkan untuk masalah akhirat adalah sangat dianjurkan.

الشهوة .

Syahwat atau keinginan mengikuti kehendak yang tidak dibolehkan agama juga menjadi perkara yang menyebabkan maksiat.

الشح

Kikir atau pelit dalam memberi bantuan kepada orang lain, ini juga merupakan salah satu faktor yang menjadikan seseorang akan terjerumus ke dalam maksiat.


الرغبة

Gemar pada bukan haknya, misalnya gemar kepada milik orang lain atau atau bahkan gemar terhadap orang-orang maksiat

الزيغ
Menyeleweng dari tanggung jawab, seperti mengunakan harta anak yatim bukan tempatnya.

القسوة
Keras hati, yang menyebabkan seseorang tidak akan mudah mendengarkan dan menerima nasehat sehingga selalu pada kemaksiatan

سوء الخلق
Punya Akhlak yang tidak baik, ini akan sangat sangat berpengaruh karena akan menimbulkan hal-hal buruk lainya

الأمل

Berangan-angan atau bercita-cita untuk melakukan perkara-perkara yang tidak diizinkan agama.

التلمع

Merampas hak-hak orang lain. Karena perkara yang haram biasanya tetap akan digunakan pada perkara haram/ maksiat.


الكسل
Malas, kemalasan akan membuat waktu sia-sia dan membuat pikiran kosong. Saat itulah syitan masuk ke dalam hati untuk mengajak kepada maksiat.

Demikianlah 10 Faktor Nafsu yang mendorong seseorang melakukan maksiat, pada kesempatan lain kami akan membahas Faktor-faktor yang timbul dari Hawa, yang juga mendorong kepada maksiat. Insyaallah. Semoga Bermanfaat. Wallahua'lam.

Cara Taubat dari Durhaka kepada Orang Tua yang telah Meninggal

Taubat dari Durhaka kepada Orang TuaSeorang anak yang durhaka terhadap ibu bapaknya, membuat marah mereka atau sejenisnya, namun tidak sempat minta maaf karena orang tua telah meninggal.

Bagaimanakah cara anak ini agar bisa dimaafkan oleh orang tuanya yang telah tiada dan tidak dituntut di hari akhirat kelak?

Tuntutan kepada anak yang durhaka kepada orang tuanya pada hari akhirat tidak bisa dibatalkan, maksudnya si anak akan tetap diminta pertanggung jawabannya pada hari akhirat. Tetapi, cara itu tidak sepenuhnya tertutup, karena seandainya si anak telah menyesali perbuatannya dan ingin bertobat meminta maaf kepada sorang tua, maka dia harus memperbanyak membaca istighfar dan berdoa untuk mereka, ditambah dengan bersedekah dan meniatkan pahalanya kepada mereka. Lalu memuliakan, memghormati dan menyenangkan orang-orang yang dicintai oleh kedua orang tua, baik teman, saudara, keluarga atau siapa saja yang pernah dicintai oleh mereka. Dilanjutkan dengan melunasi utang piutang keduanya (jika masih ada) atau apa saja yang mudah dan mungkin dilakukan untuk menyenangi mereka di akhirat dengan cara mengirim pahala kepada mereka walau bagaimanapun caranya. Semoga dengan melakukan ini, si anak tersebut akan mendapat keridhaan dan kemaafan dari kedua orang tuanya kelak dan terbebas dari tuntutan kedurhakaannya. Amin. Wallahua’lam.

Sumber :
fatawa imam Nawawi hal 67 Darul Kutub Ilmiyyah.

اذا كان الانسان عاقا لوالديه وماتا ساخطين عليه فما طريقه الي ازالة ذلك واسقاط مطالبتهما له في الاخرة
اما مطالبتهما له في الاخرة فلا طريق الي ابطالها, ولكن ينبغي له بعد الندم علي ذلك ان يكثر من الاستغفار لهما و الدعاء, و ان يتصدق عنهما ان امكن, و ان يكرم من كانا يحبان اكرامه: من صديق لهما و نحوه وان يصل رحمهما , وان يقضي دينهما او ما تيسر له من ذلك

Jenis-jenis Isim yang Musnad dan Musnad ilaih



Beberapa jenis Musnad ilaih adalah fa’il, naib fa’il, mubatada, isim fi’il naqisah, isim huruf-huruf yang beramal amalan laisa, isim inna dan saudara-saudaranya, dan isim laa yang menafikan jenis.

a. Fa’il
Contoh:

جاء الحق وزحق الباطل

b. Naib fa’il
Contoh:

يعاقب العاصون ويثاب الطاعون

c. Mubtada
Contoh:

الصبر مفتاح الفرج

d. Isim fi’il naqisah

Contoh:

وكان الله عليما حكيما ; النساء: 92

e. Isem huruf-huruf yang beramal amlan laisa
Contoh:

إنْ أحد خيرا من أحد إلاّ بالعلم والعمل الصالح

f. Isim inna dan saudara-saudaranya
Contoh:

إنّ الله عليم بذات الصدور ;آل عمران: 119

g. Isim laa yang menafikan jenis
Contoh:

لا اله إلا الله




Sedangkan beberapa jenis Musnad adalah fi’il, isem fi’il, khabar mubtada, khabar fi’il naqisah, khabar huruf yang beramal amalan laisa, dan khabar inna dan saudara-saudaranya inna.

Musnad ada yang berbentuk fi’il, contoh:
قد أفلح المؤمنون

Ada yang berbentuk sifat yang di musytaq dari fi’il, contoh:
الحق أبلج

Ada yang berbentuk isim jamed yang mengandung makna sifat musytaqqah, contoh:
الحق نور والقائم به أسد

Demikianlah beberapa jenis musnad dan musnad ilaih, semoga bermanfaat.

Pembagian Hadis Dari Aspek Bersambungnya Sanad

Dari aspek Bersambungnya Sanad, hadis terbagi kepada muttasil dan musnad.
Dan penjelasannya sebagai berikut:
  1. Muttasil
    Hadis muttasil adalah hadis yang bersambung sanadnya dari awal sampai akhir, maksudnya mulai sari perawi terakhir hingga kepada Nabi (marfu’) ataupun sahabat (mauquf) tidak ada satupun yang digugurkan.
    Dari definisi ini dapat dipahami bahwa hadis yang terhenti pada tabi’in (maqthu’) maksudnya hadis yang di nisbahkan pada tabi'in tidak dinamakan muttasil meskipun sanadnya bersambung. Untuk definisi masing-masing dari ketiganya, bisa dilihat di sini.
  2. Musnad
    Hadis musnad adalah hadis yang bersambung sanadnya dari awal sampai akhir khusus kepada Nabi (marfu’).

Kesimpulannya, Perbedaan antara hadis muttasil dan hadis musnad menurut pembagian diatas  adalah hadis muttasil lebih umum dibandingkan dengan hadis musnad, karena hadis muttasil persambungan sanadnya tidak terkhusus terhenti pada Nabi Saw, tetapi juga termasuk persambungan sanad yang terhenti pada sahabat, sedangkan hadis musnad persambungan sanadnya terkhusus terhenti pada Nabi Saw. Dengan demikian setiap musnad pasti muttasil, dan setiapa muttasil belum tentu musnad.

Berkaitan dengan kedua hadis tersebut, apakah shahih, hasan ataupun dha’if, maka tergantung kepada kelengkapan atau tidaknya syarat-syarat qabul. Semoga bermanfaat.Wallahua’lam.
Referensi;
Al-Zarkani, Syarh Manzhumah al-Bayquniyyah…, h. 37-38.

Menikahi Anak Biologis Hasil Perzinahan


 Seorang pria yang telah berzina dengan seorang wanita, kemudian lahirlah anak perempuan dari hasil zinanya. Saat anak perempuan itu sudah beranjak dewasa, si ayah biologis ini menikahinya, setelah disetubuhi, kemudian pria mengakui bahwa isterinya itu adalah anak biologisnya sendiri hasil dari perzinahannya dahulu dengan seorang wanita yang merupakan ibu si perempuan yang telah jadi istrinya sekarang. Bagaimanakah status pernikahan pria tadi dengan anak biologisnya? Sah atau tidak ? Bolehkah pria itu meneruskan perkawinannya? Dan adakah ganjaran kepada si lelaki itu yang telah mengawini anak biologisnya?

Dengan sebab perzinahan, anak perempuan yang lahir dari wanita yang dizinahi oleh laki-laki tersebut tidak diharamkan kepada ayah biologisnya, karena anak perempuan tersebut tidak dihubungkan dengan laki-laki tersebut melalui jalur syara’. Status pernikahan keduanya adalah sah. Pernikahan tersebut masih bisa dilanjutkan. Kepada laki-laki tersebut tidak dikenakan sanksi apa-apa. Ini berpijak atas pendapat yang kuat dikalangan ulama syafi’iyyah.

رجل زنا بامرأة واستولدها بنتا من الزنا فلما بلغت البنت تزوجها ودخل بها ثم بعد الدخول اعترف أنها ابنته من الزنا, فهل تزوجه البنت المذكورة صحيح أم لا؟ وهل له إمساكها بالتزويج المذكور؟ وهل يترتب عليه شيء فى ذلك؟
أجاب: مجرد الزنا لا تحرم به المولودة مذكورة اذا لم يظهر نسبها إليه بطريق شرعي وحينئذ فتزويجه صحيح, لأنها ليست بنته شرعا وله إمساكها, ولا يترتب عليه شيئ على المعتمد عند الشافعية

Fatawa Bulqini, Juz.II, Cet. Dar ibnu Affan, hal.213.

Kisah Syaikh Barshishah, Seorang Abid yang Kufur



Syaikh Barshisah merupakan seorang ahli ibadah yang punya 6000 murid dan seluruh muridnya itu bisa berjalan di udara dengan keberkahan Barshisah (dalam suatu riwayat yang lain menyatakan bahwa dengan menyebut nama Barshisah, semua muridnya bisa berjalan di udara). Namun sayangnya dia meninggal dalam keadaan kufur. Nau’zubillah. 

Para malaikat dibuat ta’ajub olehnya, karena ibadahnya kepada Allah Swt, sehingga turunlah firman Allah kepada malaikat,’’ kenapa kalian mesti ta’ajub kepada Barshisah sesungguhnya aku lebih mengetahui dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, sesungguhnya telah sebut dalam ilmuku, bahwa ia akan kufur dan akan masuk neraka selama-lamanya’’ 

Iblis pun yang suka mencuri rahasia di langit mendengar dan tahu kalau Barshisah akan binasa di tangannya. Maka pergilah Iblis ke tempat di mana Barshisah beribadah, dan iblis pun beribadah layaknya orang ‘abid, kemudian Iblis menyapa Barshisah, “siapa kamu dan apa tujuanmu?” Tanya Barshisah ,” aku merupakan ‘abid yang ingin menolongmu dalam urusan ibadah kepada Allah” jawab Iblis.

Setelah kejadian itu Iblis langsung beribadah selama tiga hari dan tiga malam tanpa tidur, makan dan minum sehingga tercenganglah Barshisah. Kemudian Barshishah menjumpai Iblis, dia bertanya “selama 220 tahun aku beribadah, belum pernah aku melihat orang yang sanggup beribada sepertimu, beri tahu aku bagaimana caranya agar bisa melakukan hal yang sepertimu?”. Iblis menjawab “ berbuatlah maksiat kepada Allah, kemudian bertaubatlah, Allah akan mengampuni dosamu sehingga engkau akan mendapatkan kamanisan dalam beribadah karena dosa yang pernah engkau lakukan”!
“Kalau benar begitu, maksiat apa yang harus aku lakukan ? tolong beri tahu aku !!!” minta Barshisah , “kamu bisa membunuh ataupun berzina’’ jawab Iblis, “kalau yang demikian aku tidak sanggup melakukannya” bantah Barshisah, “ kalau begitu minumlah arak karena itu perbuatan yang paling mudah” Iblis menyarankan.

Akhirnya Barshisah pun merealisasikan bujukan Iblis dengan minum arak yang dibelinya dari seorang perempuan, setelah Barshisah mabuk, dia kemudian berzina dengan perempuan penjual arak tersebut, kemudian membunuh perempuan tersebut. Setelah kejadian itu datanglah suami dari si perempuan yang berencana untuk membunuh Barshisah, namun ditahan oleh Iblis yang pada saat itu menyamar jadi manusia biasa, Iblis menyarankan supaya Barshisah dibawa kepada sultan saja sehingga dihukumlah Barshisah oleh sultan sesuai kesalahannya yaitu dipukuli sebanyak 80 kali jilid karena minum arak dan 100 kali karena berzina, kemudian Barshisah pun disula diikat untuk di qisas karena telah membunuh.

Kemudian Iblis kembali datang menemui Barshisah sambil berkata “bagaimana keadaan kamu sekarang ??”, “beginilah aku sekarang karena telah berteman dengan yang orang yang salah” jawab Barshisah

“Taukah engkau Barshisah, aku telah menggodamu selama 220 tahun sehingga engkau diikat seperti sekarang, jika engkau mau menuruti kemaukanku, sungguh aku akan melepaskanmu” bujuk Iblis

“Aku akan menuruti kemauanmu dan juga akan melakukan apa saja yang bisa kulakukan”, jawab Barshisah yang telah terpengaruhi rayuan iblis, “sujudlah kepadaku” kata Iblis “bagaimana caranya aku sujud, sedangkan aku dalam keadaan terikat seperti ini” jawab Barshisah “kalau begitu sujudlah dengan cara isyarah saja” saran Iblis. Kemudian Barshisah sujud kepada Iblis dengan isyarah kepalanya, sehingga saat itu juga jadilah Barshisah orang kufur.

Di saat Barshisah telah menjadi kufur iblis berkata kepada Barshisah “wahai Barshisah sesungguhnya aku telah melepaskanmu dan sesungguhnya aku takut kepada Allah pemilik sekalian alam”
 

Referensi:
Kitab Siarus Salikin juz I halaman 132-135

Abu Mudi: Iddah Perempuan Hamil Yang Sengaja Digugurkan

Iddah Perempuan HamilPertanyaan kepada Abu Mudi saat pengajian TASTAFI:
Seorang perempuan hamil yang telah ditalak apakah sudah dianggap habis iddahnya dengan sebab digugurkan kehamilannya?

Jawaban Abu Mudi:
Tujuan daripada iddah adalah baraah rahim, perempuan yang hamil maka iddahnya adalah melahirkan, baik itu digugurkan atau lahir normal, sudah habis iddah perempuan yang menggugurkan kehamilannya, perbandingannya seperti perempuan minum obat untuk tertahan haid maka sah puasanya dengan tidak keluarnya haid sebab obat tersebut, dan perempuan yg minum obat untuk keluarnya haid maka saat keluarnya haid dengan sebab obat maka shalatnya tetap tidak wajib lagi, sesuatu yg terhenti hukumnya kepada keluar atau tidak keluar maka sama hukumnya baik disengaja atau tidak disengaja untuk keluar atau tidak.

:لغة العربية

سئل أبو شيخ حسن البصر رحمة الله عليه عن عدة الحامل المطلقة التى كان وضع حملها باسقاط الحمل أوالاجهاد, هل تنقضى عدتها أو لا بسبب ذلك ؟

قال أبو شيخ حسن البصر رحمة الله عليه كان مقصود العدة براءة الرحم وعدة الحامل بوضعه سواء كان باسقاط الحمل والاجهاد أم لا فتنقضى عدة الحامل باسقاط الحمل أوالاجهاد كما كانت المرأة التى تستعمل الدواء لمنع الحيض يصح صومها بهذا الفعل و كانت المرأة التى تستعمل الدواء لخروج الحيض لا تجب الصلاة عليها بهذا الفعل والمعلوم عندنا أن كل ما يتوقف الحكم على خروج الشئ فلا فرق بين الإخراج والخروج وكذلك عكسعه انتهى أبو شيخ حسن البصر رحمة الله عليه

:تحقيق

قوله عدة الحامل ) أى الحرة والأمة عن فراق حي أو ميت كما قاله شيخنا العلامة ابن حجر الهيتمى وقال الشرواني قوله عن فراق حي أى بطلاق رجعي أو بائن انتهى ( قوله بوضعه ) أي الحمل وقد علمنا فى كتاب المغنى الذى صنفه الخطيب الشربيني أن ذلك لقوله تعالى وأولات الأحمال أجلهن أن يضعن حملهن, فهو مخصص لقوله تعالى والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء، ولأن المعتبر من العدة براءة الرحم، وهي حاصلة بالوضع انتهى ( قوله بهذا الفعل ) أى استعمال الدواء ( قوله وكذلك عكسعه ) أى كل ما يتوقف الحكم بلا خروج الشئ فلا فرق بين منع الخروج وغير منع الخروج أى لايخرج بنفسه ( قوله الإخراج والخروج ) الفرق بينهما واضح انتهى لجنة بحث المسائل




Pembagian Hadis dari Aspek Sanad yang sampai kepada Nabi atau Tidak



Yang dimaksudkan dengan terhentinya sanad adalah apakah sanad hadis tersebut sampai kepada Nabi, hanya kepada sahabat atau hanya pada para tabi’in. Dengan kata lain, isi dalam sebuah hadis tersebut apakah merupakan hal yg berkaitan dgn Nabi, baik meliputi perkataan, perbuatan, persetujuan Beliau, atau hal yg berkaitan dgn sahabat maupun tabi’in.

Dari aspek ini, hadis dibagi kepda tiga bagian, yaitu marfu’,mauquf, dan maqthu’.

A. Hadis Marfu'
Hadis marfu’ adalah hadis yg disandarkan kpd Nabi, baik oleh sahabat, tabi’in, maupun orang-orang setelah generasi mereka, apakah sanad-nya tersambung atau terputus. Dari pengertian ini, maka hadis marfu’ bias saja statusnya sahih atau hasan, dan bias saja dha’if yg disebabkan oleh putusnya sanad. Hadis marfu’ terbagi dua macam, yaitu marfu’ sharih (jelas), marfu’ hukmi(dihukum marfu’). Marfu’ sharih adalah hadis marfu’ yang disandarkan langsung kepada nabi oleh sahabat melalui kata-kata yg tegas seperti kata-kata “saya mendengar Rasulullah berkata’’ atau seperti “saya melihat Rasulullah mengerjakan”, dan lain-lainnya, sedangkan marfu’ hukmi adalah hadis yg disandarkan oleh seseorang kepada sahabat, tetapi terdapat indikasi (qarinah) bahwa hadis tersebut bersumber dari Nabi, dan indikasi tersebut akan dijelaskan pada hadis mauquf

B. Hadis Mauquf
Hadis Mauquf adalah Hadis yg disandarkan oleh tabi’in atau orang-orang setelah mereka kepada sahabat Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan atau pengakuan, maksudnya berita dalam hadis ini berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuan sahabat, oleh karena itu hadis ini disebut mauquf karena terhenti sanad-nya pada sahabat dan tidak sampai kepada Nabi, baik sanad yang sampai kepada sahabat itu bersambung-sambung atau terputus.

Berkenaan dengan statusnya sebagai dalil, pada dasarnya hadis mauquf tidak dapat dijadikan sebagai dalil kecuali sudah ada indikasi (qarinah) yg menunjukkan kalau status hadis tersebut sudah naik kepada hadis marfu’ atau disebut juga dengan marfu’ hukmi, ditambah lagi harus memenuhi syarat qabul yg telah ditetapakan.
Adapun qarinah yang mengangkat hadis mauquf kepada hadis marfu’ hukmi adalah;
  1.  Berita atau isi dari Hadis tersebut tidak di ambil dari cerita isra’iliyah (periwayatan dari rahib-rahib nabi terdahulu yang mengambil dari nabi-nabi mereka)
  2.  Berita di dalamnya bukan merupakan penafsiran, baik terhadap kata-kata tertentu atau makna dari kata-kata yg jarang dipakai, kecuali kalau penafsiran tersebut tertuju kepada latar belakang turunnya sebuah ayat Al-qur’an, maka penafsiran ini dibolehkan .
  3. Perkataan sahabat sendiri, seperti “ini sebahagian dari sunnah, kami diperintahkan untuk    melakukannya, kami dilarang untuk mengerjakannya, atau kami pernah mengerjakannya bersama Rasulullahh.” Dan kata-kata lain dari sahabat, selama tidak mengindikasikan kepada hadis tersebut dari mereka.
  4. Berita atau isi dalam hadis tersebut bukan hasil ijtihat dari sahabat, adapun kriteria sebuah hadis yang bukan hasil ijtihat sahabat adalah;
  • berisi tentang permasalahan yg terjadi pada masa lalu seperti kisah penciptaan makhluk.
  • berisi tentang kejadian yang akan datang seperti kiamat, dan lain-lain.
  • berisi tentang pahala dan siksaan terhadap melakukan sesuatu.
  • berisi tentang batasan dalam melaksanakan ibadat seperti batasan perjalanan yg membolehkan jamak dan qasar shalat.
     
C. Maqthu’
Hadis Maqthu’ adalah Hadis yang yg disandarkan oleh orang-orang dibawah tabi’in kepada tabi’in, baik perkataan atau perbuatan mereka tabi’in.

Tentang bisa dan tidak-nya hadis maqthu’ dijadikan sebagai Dalil, maka batasannya sama dengan hadis mauquf. Wallahua’lam.

Referensi;
Ibn al-shalah, Abu ‘Amr’usman ibn, muqaddimah ibn al-shalah fi ‘ulum al-hadis… h, 71
Ibn Hajar al-‘Asqalani, Taudhih al-Nazhr…h, 132-139
Athiyah al-hajhuri, hasyiyah ‘ala syarh…, h, 53
Abdul majid khan, Ulumul hadis…, h, 231-232
Az-Zarqani, syarah manzhumah al-Bayquniah…, h, 36 dan h, 53

Hukum Menerima Pemberian dari Harta yang tidak Jelas Statusnya

Menerima Pemberian dari Harta yang tidak Jelas
Menerima sedekah/hibah (pemberian)/hadiah pada dasarnya adalah sunat.
Namun, hukum tersebut tidak baku statusnya, karena bisa berubah, tergantung kondisi si pemberi, seperti misalnya menerima sedekah dari orang yang tidak jelas hartanya (bercampur antara halal dan haram).

Bagaimana Hukum menerima pemberian dari orang yang hartanya tidak jelas?
Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ menjelaskan Makruh hukumnya menerima sedekah dari orang yang hartanya syubhat (tidak jelas kehalalan dan keharamannya) seperti menerima dari pemimpin yang zalim. Begitu juga dari orang yang  mayoritas hartanya adalah Riba. Sedikit dan banyaknya syubhat, maka hukum makruhnya adalah relatif. Bila hartanya mayoritas dari barang haram maka hukum menerima sedekah tersebut adalah makruh yang diberatkan dan bila harta haramnya lebih sedikit dari harta halalnya maka menerima harta tersebut adalah makruh biasa.

Kesimpulannya, menerima pemberian dari seseorang selama tidak diyakini kalau pemberian tersebut berasal dari harta haram, hukum menerimanya adalah Makruh. Sedangkan bila diyakini pemberian tersebut berasal dari harta haram (walau harta haramnya hanya minoritas dari keseluruhan hartanya) maka hukumnya adalah Haram.

Adapun menurut Iman Al-Ghazali: menerima shadaqah atau bertransaksi dengan orang yang mayoritas hartanya dari  barang haram, adalah haram. Pendapat Imam Ghazali tersebut adalah pendapat yang Syadz (berlawanan dengan pendapat kuat dalam mazhab) dalam mazhab Syafi’i.

Referensi: Fathul Mu’in, Cet. Toha Putra, Juz. II, h. 214.

فائدة: قال في المجموع: يكره الاخذ ممن بيده حلال وحرام  كالسلطان الجائر
وتختلف الكراهة بقلة الشبهة وكثرتها، ولا يحرم إلا إن تيقن أن هذا من الحرام
وقول الغزالي: يحرم الأخذ ممن أكثر ماله حرام وكذا معاملته: شاذ

Hukum Asap dari Najis

Asap dari NajisSalah satu hal penting yang berkaitan dengan masalah thaharah (bersuci) adalah menyucikan badan dan pakaian dari najis.
Berbicara tentang najis, banyak hal yang harus dibahas dan di tinjau dari berbagai aspek. Salah satunya adalah dari aspek besar kecilnya ‘ain (zat) najis, dan aspek inilah yang menjadi fokus pembahasan kita pada postingan kali ini.

Asap najis adalah asap yang hasil dari pembakaran najis. Misalnya membakar sampah yang didalamnya terdapat kotoran hewan. Nah, bagaimana hukumnya jika badan atau pakaian kita terkena asap tersebut? Apakah kita harus mencuci badan atau pakaian kita? Atau bagaimana jika asap tersebut mengenai makanan kita, apakah kita harus mencuci makanan tersebut sebelum memakannya?

Ada ulama yang berpendapat jika ‘ain (zat) najis itu sangat kecil, misalnya seukuran debu atau asap, maka tidak mengapa bila mengenai badan dan pakaian kita. Artinya bila kita shalat dengan pakaian tersebut, maka shalat kita dianggap sah. Atau bila menempel di makanan, maka boleh memakan makanan tersebut. Dengan syarat asapnya hanya sedikit.

Referensi:

1. Tuhfatul muhtaj, juz. 1, hal. 96 (dar ihya al-turats)

 وَكَغُبَارِ سِرْجِينٍ اتَّصَلَ بِطَعَامٍ أَوْ دَخَلَ الْفَمَ لَا يَحْرُمُ ابْتِلَاعُهُ، وَكَذَا قَلِيلُ دُخَانِ النَّجَاسَةِ انْتَهَى سم

Artinya: Dan seperti debu yang hasil dari kotoran sapi (kotoran sapi yang sudah menjadi debu) yang menempel pada makanan atau masuk ke dalam mulut, tidak haram menelannya, dan begitu pula dengan asap najis yang kadarnya sedikit.

2. Tuhfatul muhtaj, juz. 1, hal. 97 (dar ihya al-turats)

وَيُعْفَى عَنْ قَلِيلِ دُخَانِ النَّجَاسَةِ حَيْثُ لَمْ يَكُنْ وُصُولُهُ لِلْمَاءِ وَنَحْوِهِ بِفِعْلِهِ

Artinya: Dan dimaafkan sedikit asap najis, sekira-kira sampainya asap tersebut kepada air dan seumpamanya (seperti pakaian dan makanan) bukan karna perbuatan manusia (seperti meniupnya, dsb)

3. Mughni muhtaj, juz. 1, hal. 236 (dar kutub al-‘ilmiyyah)

فُرُوعٌ: دُخَانُ النَّجَاسَةِ نَجِسٌ يُعْفَى عَنْ قَلِيلِهِ وَعَنْ يَسِيرِهِ عُرْفًا

Artinya: (Beberapa cabang): asap najis adalah najis, dimaafkan sedikitnya pada ‘urf.

Dari ketiga referensi diatas, dapat kita tarik beberapa benang merah, yaitu:
  1. Asap najis juga digolongkan kedalam najis, bukan mutanajjis, dan
  2. Bila asap tersebut kadarnya sedikit, maka dimaafkan bila terkena air, pakaian, atau makanan. Dengan syarat tidak sengaja meniupkan asap tersebut ke makanan, pakaian atau ke air.
  3. Sedangkan asap yang kadarnya Banyak (pada ‘urf), maka tetap dihukumi najis.
Demikianlah sedikit penjelasan tentang asap yang timbul dari najis, hal-hal yang kurang dipahami, bisa ditanyakan di kolom komentar. Semoga Bermanfaat. Wallahu’alam.

Fi’il dan Pembagiannya


Pada kesempatan kali ini kami akan sedikit membahas tentang ilmu nahu, khususnya tentang pembagian Fi'il. Ditinjau dari Aspek kandungan Zamannya, Fi'il terbagi kepada 3, yaitu:

  •  Fi’il Madhi
الماضي: ما دل على معنى في نفسه مقترن بالزمان الماضي

Fi’il Madhi adalah fi'il yang menunjukkan makna kepada dirinya sendiri dan   disertai dengan zaman madhi ( zaman yang telah lalu)

Contoh:

جاء, اجتهد, تعلّم

Tanda fi’il Madhi:
    a. Menerima taa ta'nis sakin, seperti;                                                             كتبتْ
b. Menerima taa dhamir, seperti; .كتبتَ, كتبتِ, كتبتما, كتبتم, كتبتنّ, كتبتُ
  •  Fi’il Mudhari’
المضارع: ما دل على معنى في نفسه مقترن بزمان يحتمل الحال والاستقبال

Fi’il Mudhari’ adalah  Fi'il yang menunjukkan makna pada dirinya dan disertai dengan zaman yang kadang-kadang boleh jadi  hal (zaman sekarang) dan Mustaqbal (zaman yang akan datang)

Contoh:
يجئ, يجتهد, يتعلم

Tanda fi’il Mudhari’ :
a. Menerima السين, seperti; سيقول
b. Menerima سوف, seperti; سوف نجيء
c. Menerima لم, seperti; لم أكسلْ
d. Menerima لن, seperti; لن أتأخر


  • Fi’il Amar
الامر: ما دل على طلب وقوع الفعل من الفاعل المخاطب بغير لام الأمر

Fi’il Amar adalah Fi'il yang menunjukkan kepada tuntutan terjadi perbuatan dari fa’il yang dikhitabkan dengan selain lam amar.

Contoh:
جيء, اِجتهدْ, تعلمْ


Tanda fi’il Amar adalah  menunjukkan kepada tuntutan dengan shighat (lafad), kemudian menerima yaa muannats yang mukhatabah, seperti; .  اجتهدي

Abu Mudi: Awaluddin Ma'rifatullah

Abu MudiPada malam tanggal 07 Mei 2007 ba’da Isya pengajian TASTAFI (Tasawuf Tauhid Fiqih) asuhan Abu Mudi diadakan di Mesjid Bujang Salim Krueng Geukuh Aceh Utara,
dalam pengajian tersebut Abu Mudi menjelaskan tentang Awaluddin Ma’rifatullah (Awal Agama adalah mengenal Allah ).

Intisari dari pengajian tersebut adalah:
  1. Kata AWALUDDIN ada dua pengertian,
    pengertian yang pertama adalah ditinjau kepada Wali, maka maksud Awaluddin Ma’rifatullah adalah seorang wali berkewajiban untuk mengajari tauhid kepada anaknya yang berumur 6 tahun, paling kurang tentang adanya Allah sebagai tuhan yang kita sembah, karena saat si anak berumur 7 tahun wajib bagi wali untuk memerintahkan kepada anaknya yang berumur 7 tahun sampai baligh untuk shalat.
    Pengertian yang kedua adalah ditinjau kepada anak yang sudah baligh, maka maksud Awaluddin Ma’rifatullah adalah tugas pertama bagi orang yang sudah baligh itulah mengenal Allah.
  2. Kata Ma’rifah pada Awaluddin Ma’rifatullah adalah bermakna Iman, yaitu beriman tentang adanya Allah SWT sebagaimana yang telah diartikan dalam kitab Ihya Ulumiddin oleh Imam Al-Ghazali.
    Orang yang sudah baligh kewajiban pertama baginya ialah beriman tentang adanya Allah SWT karena saat sesorang sudah baligh maka wajib baginya melaksanakan shalat lima waktu yang sudah barang tentu harus diawali oleh tauhid.
Dan seiring berjalannya waktu kita terus belajar Tauhid, Fiqh dan Tasawuf yang berdasar pada Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-maturidi ( Ilmu Tauhid ), Imam Mazhab yang empat ( Ilmu Fiqh ) dan Abu Junaid Al-Bagdadi/Imam Al-Ghazali ( Ilmu Taswuf ).



Terjemah Alfiyyah Bab Isim Alam (عَلَم)




اسْمٌ يُعَيِّنُ الْمُسَمَّى مُطْلَقَا - عَلَمُهُ كَجَعْفَرٍ وَخِرْنِقَا
Isim takyen simusamma geukhuen alam
Lage jakfar dan khirnika meunan nadham

وَقَرَنٍ وَعَدَنٍ وَلاَحِقٍ- وَشَذْقَمٍ وَهَيْلَةٍ وَوَاشِقِ

Dan qaranen dan adanin dan lahiqi
Dan hailatin lom syadara qamin dan wasyiqi


وَاسْمَاً أَتَى وَكُنْيَةً وَلَقَبَا- وَأَخِّرَنْ ذَا إِنْ سِوَاهُ صَحِبَا
Teuma ‘alam bak hakikat geubagi 3
Nan, kuniah teuma lakab meunan teunte
Nan yang meusyen meunyo hana kiban tatem
Nyee meusapat ban lhe boh nyan wahe kawom
Fon kuniah nan ngoen laqab nyan geususon



وَإِنْ يَكُوْنَا مُفْرَدَيْنِ فَأَضِفْ- حَتْمَاً وَإِلاَّ أَتْبِعِ الذي رَدِف
meunyo mufrad nan ngoen lakab jeu idhafah
Seulaen nyan wajeb tabhe’ bek na bantah



وَمِنْهُ مَنْقُولٌ كَفَضْلٍ وَأَسَدْ- وَذُو ارْتِجَال كَسُعَاد وَأُدَد
teuma ‘alam na yang mangkul dan murtajal
Lage fadhal deungon su’ad meunan naqal ا

وَجُمْلَةٌ وَمَا بِمَزْجٍ رُكِّبَ- ذَا إنْ بِغَيْرِ وَيْهِ تَمَّ أُعْرِبَ

Lom pih jumlah nyan geukira cit keu alam
Isnadiyi qama zaidun (قام زيد) meunan rakan
Murakkab majazi isim alam jih geu ikrab
Selain waihin yang geubina ingat sahbat


وَشَاعَ فِي الأَعْلاَمِ ذُو الإِضَافَهْ- كَعَبْدِ شَمْسٍ وَأَبِي قُحَافَهْ
lom geukira isim ‘alam yang idhafi
‘abdu syamsin abi quhafah ulon rawi

وَوَضَعُوَا لِبَعْضِ الأجْنَاسِ عَلَمْ- كَعَلَم الأَشْخَاصِ لَفْظَاً وَهْوَ عَمْ
isim ‘alam na terbagi pada jinsi
Alam syahsyi yang ke dua lafal ‘amni


مِنْ ذَاكَ أمُّ عِرْيَطٍ لِلْعَقْرَبِ- وَهكَذَا ثُعَالَةٌ لِلْثَّعْلَبِ
Lage contoh ummu ‘iryath (ام عريط) bagi kala
Stu’alaton (ثعا لة) keu peulandok contoh lon ba


وَمِثْلُهُ بَرَّةُ لِلْمَبَرَّهْ- كَذَا فَجَارِ عَلَمٌ لِلْفَجرَة
Lom misel jih barratun (برة) but kebajikan
Di fajaron ( فجار) ureung fasek keunan ‘alam

Kesunahan Membaca Doa Iftitah

Kesunahan Membaca Doa Iftitah
Ada beberapa hal yang disunatkan di dalam mengerjakan shalat, salah satunya yaitu membaca doa iftitah.
Dinamakan doa iftitah (membuka) karena ia merupakan pembuka bagi shalat.
Kesunnahan membaca doa iftitah berlaku dengan adanya 4 syarat :
  1. Bukan pada shalat jenazah. Adapun dalam shalat jenazah tidak disunatkan membaca iftitah meskipun shalat jenazah ghaib atau shalatnya langsung dihadapan kubur.
  2. Waktu shalatnya masih normal. Adapun jika waktu shalatnya hanya tersisa beberapa saat lagi maka tidak disunatkan membaca doa iftitah bahkan haram membacanya.
  3. Bila ia seorang makmum yang masbuq (terlambat) disyaratkan adanya dugaan kuat baginya bahwa ia sempat melakukan ruku’ bersama imam. Berbeda halnya jika ia sudah terlalu jauh dengan imamnya yang menurut sangkaannya tidak sempat lagi melakukan ruku’ bersama imam jika ia tetap membaca iftitah, maka dalam hal ini tidak disunatkan membaca doa iftitah.
  4. Bagi makmum yang masbuk (terlambat) melihat imamnya masih sedang berdiri. Adapun jika imamnya sedang iktidal, sujud atau semacamnya maka makmum tersebut tidak dibenarkan lagi untuk membaca iftitah karena ia mesti mengikuti gerakan imamnya dengan segera setelah takbiratul ihram

Doa iftitah dibaca sebelum fatihah pada rakaat pertama shalat, tidak dianjurkan pada rakaat selainnya meskipun lupa dibaca pada rakaat pertama. Bentuk doa iftitah lebih diutamakan dengan yang ma’tsur meskipun dibolehkan dengan selainnya. Doa iftitah yang ma’tsur adalah bacaan iftitah yang bersumber dari Rasulullah SAW. Banyak sekali bacaan doa iftitah, antara lain:
 
 وَجَّهْت وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَبِذَلِكَ أُمِرْت ، وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ
 اَلْحَمدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
 اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَّالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَّسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً
 اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَاي كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَاي كَمَا يُنَقِّى الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ غَسِّلْنِي مِنْ خَطَايَاي بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
 اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَه إِلَّا أَنْت أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنا بِكَ وَإِلَيْك تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ


Di antara doa-doa di atas, yang paling utama dibaca adalah doa yang pertama. Namun sangat dianjurkan menggabungkan doa-doa iftitah tersebut bagi orang yang shalatnya sendirian atau bagi imam yang jamaahnya mahsurin yang ridha dengan doanya yang panjang.

Referensi :
a. Hasyiah Qulyuby wa ‘Amirah Juz I hal. 167-168 Dar al-Fikr Beirut.
b. Nihayat Zain hal. 62 Dar al-Fikr Beirut.
c. Hasyiah Syarwany wa Ibn Qasim Hal. 29-30 Dar Ihya Beirut.


Download Kitab al-Mutasyaddidun Manhajuhum Syeikh Ali Jum'ah

al-Mutasyaddidun Manhajuhum
المتشددون منهجهم ومناقشة أهم قضاياهم 
Salah satu fitnah yang terbesar dalam umat Islam saat ini adalah fitnah kaum wahabi yang kini lebih di kenal dengan salafi. Para ulama menyatakan bahwa mereka merupakan kaum khawarij zaman ini.
Ciri-ciri mereka adalah suka dan dengan mudahnya memvonis golongan lain sebagai pelaku bid’ah, kurafat, syirik dan sesat dan bahkan tak segan-segan menghalalkan darah kaum muslimin dengan terlebih dahulu mengkafirkan mereka.
Mereka tidak menghargai khilafiyah para ulama dalam masalah fiqih, bahkan mereka juga tidak menghargai ulama-ulama terdahulu kecuali ulama panutan mereka saja yang ternyata hidup bukan di awal zaman Islam.

Dalam hal aqidah, mereka lebih dekat kepada kaum mujassimah yang menisbahkan sifat-sifat makhluk kepada Allah hanya karena berpegang kepada dhahir nash saja. Mereka juga mencela kaum muslimin yang lain yang berpegang kepada hadits-hadits dhaif dalam masalah-masalah fadhail a’mal, namun mereka sendiri malah berpegang kepada hadits-hadits dhaif dalam masalag aqidah.

Menjawab Dakwah Kaum Salafi
Banyak ulama yang telah mengarang kitab menerangkan keburukan dan menolak fitnah mereka. Diantara ulama yang menuliskan kitab khusus tentang topik ini adalah Syeikh Ali Jum’ah, mantan Mufti Negri Mesir. Beliau merupakan salah satu murid dari Musnid Dunya Syeikh Yasin al-Fadani, ulama tekenal asal Padang yang tinggal di Makkah.
Kitab tersebut adalah al-Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaqasyah ahammi Qadhayahum.

Beberapa masalah yang Syeikh Ali Jumah bahas dalam kitab ini adalah pengertian Salafiyah, masalah-masalah yang sering menjadi bahan perbincangan dengan kaum salafi seperti Mazhab Asya’irah, mengikuti mazhab empat, bid’ah, tawasol, shalat dalam mesjid yang ada kuburan di dalamnya, tabarok, perayaan maulid Nabi, safar untuk ziarah kubur Nabi, keadaan ayah bunda Nabi, mengingkari zikir dan wirid, penggunaan buah tasbih dll.

Kitab ini sudah di terjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Menjawab Dakwah Kaum Salafi yang di terbitkan oleh Penerbit Bina Aswaja. Bagi yang berminat dengan terjemahannya bisa segera menghubungi FB Penerbit Bina Aswaja
Bagi yang berminat dengan file kitab ini silahkan mendonwloadnya di SINI.

Adab-adab Sebelum Tidur ala Rasulullah SAW

Pada kesempatan kali ini kami akan sedikit berbagi tentang Adab-adab tidur sehat ala Rasulullah yang kami kutib dari kitab “Muraqi Ubudiyyah” karangan Syaikh Muhammad Nawawi Al-jaawi pada halaman 41 cetakan haramain. Demikian Adab-adab tersebut :

  • فابسط فراشك مستقبل القبلة

Tidur dalam posisi menghadap kiblat

Semua kegiatan wajib, sunat, dan mubah disunatkan untuk menghadap kiblat, karena dengan menghadap kiblat kita bisa lebih fokus dalam akan Allah.

  • ونم على يمينك كما يضجع الميت في لحده

Tidur kesamping kanan seperti pembaringan mayat di dalam kubur

Manfaat tidur dalam bentuk ini dalah untuk membantu kita dalam mengingat mati dan bangunnya kita di ibaratkan seperti bangkitnya kita dari kubur, karena dengan mengingat mati dan hari kebangkitan  akan sedikit terbantu dalam menjauhi maksiat. Manfaat kesehatan juga sangat luar biasa jika tidur dalam keadaan ini, tidur kesamping kanan dapat menghindarkan kita dari hal-hal berikut:
  1. Tidur berdengkur dan jadi pelupa yang biasa di sebabkan oleh tidur terlentang, kenapa demikian? karena disaat kita tidur terlentang membuat lidah kita menghambat jalur pernafasan yang membuat geteran sehingga bersuara, dan juga karena saat kita tidur terlentang otak hafazah kita yang terhimpit yang lama kelamaan dapat membuat kita sering lupa.
  2. Serangan jantung yang biasa di sebabkan oleh tidur kesamping kiri, karena dengan tidur dalam posisi ini (kesamping kiri) jantung kita tidak leluasa di dalam memompa darah karena tertindih atau terhimpit dengan berat badan, yang membuat jantung tidak leluasa dalam memompa darah yang menyebabkan aliran darah keseluruh tubuh ikut tidak normal, bahkan dengan tidak normalnya aliran darah keseluruh tubuh dapat mengundang penyakit-penyakit lain. 
  3. Sesak nafas dan gangguan pada paru-paru yang biasanya di sebabkan oleh tidur  terlungkup. Bahkan kita disunatkan untuk tidur diatas tangan kanan sebagai pengganti bantal dan juga sebagai ganti jam weker, karena disaat kita tidur diatas tangan kanan selama kurang lebih 2 atau 3 jam dapat menghambat aliran darah ketangan sehingga menyebabkan kebas. yang membuat kita cepat terbangun, kenapa harus cepat bangun? karena tidur banyak tidak baik bukan!


  • تنام على طهارة

Tidur dalam keadaan suci dari hadas kecil atau hadas besar

Manfaat tidur dalam keadaan suci agar kita terhindar dari godaan syaitan dan juga terhidar dari mimpi-mimpi buruk atau hal-hal yang tidak baik yang ada dalam tidur.

  • تكون وصيتك مكتوبة تحت وسادتك
Menuliskan pesan atau wasiat sebelum tidur dan meletakkannya di bawah bantal.

Menuliskan wasiat sebelum tidur sangat dianggap penting karena kita tidak tahu kapan nyawa akan dicabut, sehingga kelurga kita bisa tahu kepada siapa kita pernah berutang dan berbuat kesalahan, ada sebagian ulama berkata, "orang mati tanpa wasiat tidak akan pernah dibicarakan orang setelah matinya".


  • تنام تائباً من الذنوب مستغفراً عازماً على أن لا تعود إلى معصية

Bertaubat dari semua dosa dan kesalahan serta bertekat bulat untuk tidak lagi melakukannya. 

Bertaubat sebenarnya dianjurkan bukan hanya disaat kita ingin tidur tapi disetiap saat, Tentunya taubat yang dimaksudkan disini cara dan syarat-syaratnya seperti taubat yang telah dijelaskan pada tempat-tempat lain, karena siapa tahu kita meninggal saat tidur maka paling tidak kita meninggal dalam keadaan tanpa dosa.

  • لا تستجلب النوم تكلفاً

Jangan tidur sebelum benar-benar ngantuk

Salah satu pembodohan paling buruk di dunia adalah mengistirahatkan (tidur) pikiran yang cemerlang dan tubuh yang kuat sebelum benar-benar butuh kepada demikian.


  •  أعد عند النوم سواكك وطهورك

Membesihkan diri yang mencakupi dari bersugi, mencuci kaki, tangan dan mulut

Mencuci mulut, tangan, dan kaki sangat dianjurkan sebelum tidur karena kuman saat kita tidur dua kali lebih aktif dari saat kita terjaga lebih-lebih lagi kuman pada kulit.

  • وقل عند نومك الدعاء

Membaca doa tidur

Membaca doa–doa yang telah masyhur, sebenarnya doa dianjurkan kapan saja tapi setiap kali khatamah (penutup sesuatu) dari sesuatu pekerjaan sangat dianjurkan, salah satu khatamah adalah tidur, karena tidur adalah akhir atau penutup dari semua aktivitas kita. 

Demikianlah Adab-adab tidur yang diajarkan oleh Rasulullah. Pengalaman mengamalkan sunnah nabi dalam kehidupan sehari-hari selain menjadi “Ibadat” juga akan membuat kita “sehat”. Semoga Bermanfaat. Wallahua'lam.



Mengenal Ahli Waris dan Hal-hal yang Berkaitan Dengannya

Definisi Faraid secara bahasa adalah Jatah/bahagian. Sedangkan makna faraid secara istilah adalah Jatah/bahagian dari harta pusaka yang telah ditentukan dalam agama bagi ahli warits.

Adapun dalil-dalil faraid sangat banyak . Diantaranya firman Allah :

 فَإِنْ كُنَّ نِساءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثا مَا تَرَكَ

Artinya : Jika jumlah anak perempuan lebih dari dua maka bahagian mereka 2/3 dari harta pusaka . (Qs Annisa’ ayat 11)

Dan Hadits Nabi :

أَعْطِ ابْنَتَيْ سَعْدٍ الثُّلُثَيْنِ، وَأَعْطِ أُمَّهُمَا الثُّمُنَ وَلَكَ مَا بَقِيَ

Artinya : Berikanlah untuk kedua anak perempuan sai’d 2/3 untuk istrinya 1/8 dan sisanya untukmu.(Hadits Riwayat Baihqi)

Sebab – sebab mendapatkan harta pusaka ada empat:

  1. Hubungan kerabat ( persaudaraan)
  2. Pernikahan
  3. Memerdekakan sahaya
    Seorang mantan sahaya bila meniggal dunia dan tidak memiliki ahli waris maka harta pusakanya diberikan kepada orang yang memerdekannya.
  4. Islam
  5. Seorang muslim meniggal dunia dan tidak memiliki ahli waris yang khas ataupun ada tetapi tidak mendapat jatah dari seluruh harta warisan maka harta sisa tersebut diserahkan untuk baitul mal atas dasar pusaka bagi kaum muslimin.

Faktor penghalang seseorang mendapatkan harta pusaka ada enam:

  1. Sahaya
  2. Murtad
  3. Pembunuh
  4. Beda agama
    Seorang non muslim yang masuk islam tidak akan mendapatkan harta pusaka dari kerabatnya yang masih non muslim.
  5. Beda kondisi non muslim
    Dua orang non muslim yang memiliki hubungan kerabat tetapi yang satu statusnya harbi(boleh diperangi) dan yang satunya lagi statusnya Zimmi(dilindungi) bila salah satunya meninggal dunia maka bagi karabatnya tidak akan mendapat harta warisan.
  6. Dur hukmi (kembali kepada hukum dasar yang megindikasikan kontradiksi hukum)
    Seorang muwaris (mayat) memiliki saudara laki-laki kandung, kemudian sudaranya tersebut mengaku bahwa muwarisnya memiliki anak laki-laki maka anak laki-laki tersebut dihukumkan memiliki hubungan nasab dengan muwaris tetapi tidak mendapatkan harta pusaka, karna bila anak tersebut mendapat harta pusaka maka tidak akan terilhak(terhubung) nasab lantaran syarat sah ilhak nasab, orang yang mengaku harus waris yang haiz (mendapat jatah asabah).

Ahli waris dari kalangan laki-laki ada sepuluh:

  1. Anak laki-laki
  2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki
  3. Ayah
  4. Kakek dari jalur Ayah
  5. Saudara Laki-laki(Abang/Adik laki-laki)
  6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki se Ayah-seibu atau se Ayah
  7. Abang/Adik laki-laki Ayah yang se Ayah-seibu atau se Ayah
  8. Anak laki-laki Abang/Adik laki-laki Ayah yang se Ayah-seibu atau se Ayah
  9. Suami
  10. Laki-laki yang memiliki hak wilak(hak memerdekakan sahaya)

Ahli waris dari kalangan Wanita ada tujuh:

  1. Anak Perempuan
  2. Cucu Perempuan dari anak laki-laki
  3. Ibu
  4. Nenek
  5. Saudara Perempuan (kakak/adik perempuan)
  6. Istri
  7. Wanita yang memerdekakan sahaya

A’sabah

A’sabah adalah Cara pengambilan harta pusaka tanpa kadar/jatah yang pasti, maka mendapat seluruh harta pusaka bila tidak ada waris kadar atau seluruh sisa dari waris kadar.
A’sabah terbagi tiga :
  1. 'Asabah binnafsih:
    Adalah A’sabah dasar, mendapat a’sabah bukan karna di a’sabahi oleh ahli waris yang lain. Seperti anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, Saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah dll.
  2. 'Asabah bighairih:
    Adalah Mendapat 'asabah karna di a’sabahi oleh ahli waris yang lain dan  pemilik 'asabah juga mendapat harta pusaka dari jalur ' asabah. Seperti Anak wanita bersama anak laki-laki, cucu wanita dari anak laki-laki bersama cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara perempuan kandung bersama saudara laki-laki kandung dan saudara perempuan se ayah bersama saudara laki-laki seayah. Namun, pada proses pembahagiannya bagi laki-laki diberikan dua kali lipat dari jatah perempuan (lizzakari mislu haddil unsayayni).
  3. 'Asabah maa’ ghairih:
    Adalah Mendapat 'asabah di sebabkan wujud ahli waris yang lain dan pemilik a’sabah tidak memperoleh harta pusaka dari jalur a’sabah. Seperti Saudara perempuan kandung atau atau saudara perempuan seayah muwaris bersama anak perempuan muwaris atau cucu perempuan dari anak laki-laki muwaris maka disini saudara perempuan kandung atau seayah bagi muwaris mendapat 'asabah sedangkan anak perempuan dan cucu perempuan dari anak laki-laki muwarits memperoleh harta pusaka bukan atas jalur 'asabah tapi atas jalur mukaddarah (jatah yang jelas yang telah ditetepkan dalam agama).
    Demikianlah sedikit pengantar/pengenalan tentang Faraid, hal-hal yang tidak jelas boleh ditanyakan di kolom komentar, atau menghubungi fb kami di Lajnah Bahsul Masail Mudi Mesra. Semoga Bermanfaat. Wallahua'lam.

Hukum Berwudhu Bagi Orang yang Telah Mandi Junub

Hukum Berwudhu Bagi Orang yang Telah Mandi Junub
Salah satu hal yang dapat meruntuhkan wudhu adalah keluar sesuatu dari salah satu dua jalan (kemaluan/anus), Walaupun benda tersebut adalah benda yang suci, seperti batu, kayu, dll. Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk mani. Artinya keluar mani tidak menyebabkan runtuhnya wudhu. Sehingga seseorang yang telah mengambil wudhu kemudian ia berjunub, maka hanya wajib mandi junub saja, tanpa harus berwudhu lagi.
Alasan tidak wajib wudhu Bagi Orang yang Telah Mandi Junub adalah berdasarkan qaidah :

ما أوجب أعظم الأمرين بخصوصه لا يوجب أدونهما معه بعمومه

Artinya: “Sesuatu yang mewajibkan perkara yang besar (mandi) di antara dua perkara (mandi dan wudhu) karena hal yang khusus (keluar mani), tidak mewajibkan perkara yang kecil (wudhu) disebabkan karena hal yang umum (keluar sesuatu dari kemaluan)”

Dengan sebab berjunub, kita diwajibkan untuk mandi junub. Mandi janabah merupakan perkara yang besar bila kita komparasikan dengan wudhu, salah satu buktinya adalah mandi junub mewajibkan kita untuk meratakan air ke seluruh tubuh, sementara wudhu tidak demikian. Jadi, berdasarkan qaidah diatas, dengan sebab mandi junub , kita tidak dibebankan lagi untuk berwudhu. Dengan syarat tidak melakukan hal-hal lain yang menyebabkan runtuhnya wudhu, seperti memegang kemaluan, buang air, dsb.

Referensi :
1. Hasyiah qulyubi wa ‘umairah, juz. 1, hal. 34 (dar fikr)

إلا المني) فلا ينقض الوضوء كأن احتلم النائم قاعدا على وضوء لأنه يوجب الغسل الأعم من الوضوء

Artinya : “(kecuali mani), maka tidak runtuh wudhu. Seperti ihtilam (bermimpi yang menyebabkan keluar mani) nya orang yang tertidur sambil duduk dan ia telah memiliki wudhu. Alasan tidak runtuh wudhu adalah karena junub mewajibkan mandi yang notabenenya lebih umum daripada wudhu.”

2. Mughni muhtaj, juz. 1, hal. 141 ( dr kutub al-‘ilmiyyah)

   إلَّا الْمَنِيَّ) أَيْ مَنِيَّ الشَّخْصِ نَفْسِهِ الْخَارِجَ مِنْهُ أَوَّلًا كَأَنْ أَمْنَى بِمُجَرَّدِ نَظَرٍ أَوْ احْتِلَامٍ مُمَكِّنًا مَقْعَدُهُ فَلَا يُنْقَضُ الْوُضُوءُ؛ لِأَنَّهُ أَوْجَبَ أَعْظَمَ الْأَمْرَيْنِ

Artinya: “(kecuali mani), maksudnya mani milik sendiri yang keluar pertama kali. Seperti keluar mani karna melihat sesuatu atau karena bermimpi dalam kondisi duduk dan tidak bergerak-gerak. Maka tidak meruntuhkan wudhu. Karna keluar mani mewajibkan hal besar (mandi) dari dua hal (wudhu dan mandi).”

Demikianlah sedikit pembahasan tentang wudhu bagi orang mandi junub. Semoga Bermanfaat. Wallahua'lam.

Nama-Nama Syaitan yang ada di Langit

Nama-Nama Syaitan yang ada di Langit
Ka’ab Ahbar Mengatakan: Iblis laknatullah menjadi penjaga syurga selama 4000 tahun, duduk beserta malaikat 8000 tahun, bertawaf pada sekeliling arasy 14000 tahun, sebelum akhirnya di usir Allah SWT ke Bumi karena tidak mau sujud kepada nabi adam AS, sebelumnya mereka berada di tiap-tiap langit,
berikut nama-nama Syaitan:
  1. pada langit pertama:
      عابد
  2. ( 'abid)
  3. Pada langit kedua:
    الزاهد
  4. (zahid)
  5. Pada langit ketiga:
    العارف
  6. ('arif)
  7. Pada langit keempat:
    الوا لي
  8. (waly)
  9. Pada langit kelima:
    التقي
  10. ( at-taqa)
  11. Pada langit keenam:
    الخاز ب
  12. ( al- khazib)
  13. Pada langit ketujuh:
    عزازيل
  14. ('azazil)
  15. Pada lauhul mahfud:
    ابليس
  16. (iblis)

(Tafsir jalalain juzu' I hal.42)

Adapun makna iblis menurut Abu Ja’far menggunakan pola if’iil dari kata al iblaas yaitu putus asa dari kebaikan, penyesalan dan kesedihan.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata,”Iblis berarti yang telah Allah jadikan dirinya berputus asa dari seluruh kebaikan dan menjadikannya setan yang terkutuk dan mendapatkan siksa dikarenakan kemaksiatannya.”

 (Tafsir Ath Thobari juz I hal 509)



Perbedaan Hadis Qudsi dengan Hadis Nabawi dan Al quran

Perbedaan Hadis Qudsi dengan Hadis Nabawi dan Al quranPada Postingan terdahulu, kami sudah membahas tentang pembagian hadis dari segi penyandaran berita, yaitu terbagi kepada Hadis Nabawi dan Hadis Qudsi, kali ini kami akan menjelaskan perbedaan di antara keduanya, ditambah perbedaan antara hadis Qudsi dan Al Quran, semoga Bermanfaat.

Berikut ini Perbedaan antara Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi:

  1. Hadis nabawi sumbernya adalah Nabi SAW, sedangkan sumber dari Hadis Qudsi adalah Allah SWT.
  2. Bentuk Hadis Nabawi terdiri dari Perkataan, Perbuatan, Persetujuan, dan Sifat Nabi, sedangkan Hadis Qudsi hanya berbentuk Perkataan.
  3. Hadis Nabawi bisa wahyu langsung dari Allah adakala wahyu tidak langsung yaitu hasil ijtihad dari Nabi, sedangkan Hadis Qudsi hanya berbentuk wahyu langsung dari Allah.
  4. Hadis Nabawi membahaskan tentang perintah Allah dan larangannya, dan menjelaskan tentang hukum halal dan haram, sedangkan Hadis Qudsi menjelaskan sifat-sifat dan kekuasaan Allah.

Sedangkan Perbedaan Hadis Qudsi dan Al Quran adalah:

  1. Al Qur’an merupakan mu’jizat sedangkan Hadis Qudsi bukan merupakan mu’jizat.
  2. Al qur’an diriwayatkan secara Mutawatir, sedangkan Hadis Qudsi tidak harus demikian
  3. Meriwayatkan Al qur’an dengan makna, diharamkan, sedangkan meriwayatkan Hadis qudsi dengan makna, tidak diharamkan.
  4. Lafad dan makna Al qur’an semuanya diturunkan dari Allah melalui jibril, sedangkan Hadis Qudsi maknanya saja diturunkan dari Allah sedangkan lafadnya merupakan ungkapan Nabi Saw.
  5. Al qur’an diharamkan membaca bagi orang yang berhadas besar sedangkan Hadis Qudsi tidak diharamkan.
  6. Al Qur’an diturunkan adalah untuk I’jaz ( Penampakan kebenaran kerasulan Nabi Muhammad SAW. dalam ketidakmampuan orang Arab untuk menandingi mukjizat nabi yang abadi, yaitu Al-Qur’an), sedangkan Hadis Qudsi bukan untuk I’jaz.

Sumber:
Beberapa Kitab Mustalah Hadis.

Hukum Melihat Wajah Calon Isteri

Hukum Melihat Wajah Calon IsteriDeskripsi masalah:
Kodrat manusia memang mencintai lawan jenis dan ingin hidup bersama, namun dalam islam ada norma khusus untuk bisa hidup bersama yaitu NIKAH, dan tentunya sebelum menikah alangkah senangnya bila kita mengenal lebih dahulu calon isteri kita.

Pertanyaan:
Apa hukum bagi calon suami untuk melihat wajah calon isteri saat melamar?

Jawaban:
Sunnah bagi lelaki untuk melihat wajah perempuan yang ingin dijadikan isterinya dan sunnah juga melihat kedua telapak tangannya,
hikmah dibatasi hanya melihat wajah dan telapak tangannya adalah pada wajah perempuan akan tercermin kecantikannya sementara pada telapak tangan akan tercermin kesuburan tubuhnya.

Namun perlu di ingat, bahwa yang di bolehkan hanyalah melihat saja. Adapun berkhalwat, menyentuh, dan jalan-jalan berdua-duaan dengan tunangan (seperti yang sering terjadidi saat ini) hukumnya adalah HARAM. Tunangan belumlah menjadi istri, sehingga berdua-duaan dengannya masih haram hukumnya.


Referensi:
Fathul Mu'in Jilid 3 hal 257 cet haramain.

وسن نظر كل من الزوجين بعد العزم على النكاح وقبل الخطبة الآخر غير عورة مقررة في شروط الصلاة
فينظر من الحرة وجهها ليعرف جمالها وكفيها ظهرا وبطنا ليعرف خصوبة بدنها


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja