Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Menulis dan membaca Al-Quran selain dengan bahasa Arab (Abu Mudi)

Assalamualaikum...
Abu, saya ingin sedikit bertanya tentang Alquran, apakah boleh Al-quran ditulis dengan Bahasa
selain Arab, bahasa indonesia misalnya, atau dibaca pada tulisan yang bukan bahasa arab, mohon
penjelasan Abu, atas jawabannya kami ucapkan terimakasih.

Wa’alaikumsalam....
Hukum Menulis Al-quran dengan selain bahasa Arab menurut kebanyakan Ulama adalah Makruh, kecuali Ibnu Hajar Al-haitami, menurut beliau Haram menulis Alquran dengan selain Bahasa Arab. Status Al quran yang ditulis dengan bahasa selain Arab adalah sama dengan Alquran dalam bahasa Arab, maksudnya tidak boleh disentuh atau dihamal (diangkat) dalam keadaan tidak suci. Adapun Membaca Alquran pada tulisan yang bukan Bahasa Arab adalah Haram. Wallahua’lam.

Referensi:
Hasyiah syarwani `ala Tuhfatul Muhtaj jilid 1 hal 164. (Darul Fikr)
Hasyiah Qalyuby `ala Mahally juz 1 hal.36 (Toha putra)


Tanya Jawab Masalah Nahu-Saraf

1. Mengapa pada kalimat taknis digunakan taa taknis?

Jawab:
Karena taa merupakan makharijul huruf yang kedua sedangkan perempuan (taknis) merupakan makhluk yang kedua diciptakan oleh Allah SWT sesudah Adam.
(Mathlub 44)

2. Mengapa pada isem maf’ul terdapat وذاك sedangkan Isim fail terdapat فهو ?
Jawab:
  •  Karena isem fail marfu’, maka yang menandakan kemarfukan isim fail adalah هو.
  •  Karena isim maf’ul mansub, maka yang menandakan kemansubannya adalah وذاك.
  • Karena untuk membedakan pada sulasi mazid, karena pada sulasi mazid bentuk huruf isim fail dan isem maf’ul adalah sama.

(Mathlub 48)

3. Mengapa tasrif fi’il madhi lebih didahulukan dari yang lain?
Jawab:
Karena wujud fi’il madhi itu pasti dan shighatnya pun mujarrad.
(Mathlub 40-41)

4. Mengapa tasrif fi’il mudhdari’ lebih terdahulu dari fi’il amar dan nahi?
Jawab:
Karena zaman mustaqbal itu asal dari amar dan nahi dari segi keduanya di musytaq dari mudhari’.
(Mathlub 40-41)

5. Mengapa amar didahulukan dari nahi?
Jawab:

  • Karena pemakaian amar adalah untuk tuntut sedangkan nahi untuk tegah, tuntut merupakan asal dari tegah.
  • Karena mafhum amar adalah wujudi sedangkan nahi adalah ‘adami. Wujud didahulukan dari ‘adam seperti ; hidup dan mati.

(Mathlub 40-41)

6. Mengapa tasrif ma’ruf terdahulu dari tasrif majhul?
Jawab:
Karena yang maklum lebih aula (baik) didahulukan, karena sighatnya ma’qulat (diketahui) dengan sebab ma’qulat maknanya, yaitu isnad fi’il kepada fail. Berbeda dengan majhul, majhul shigatnya tidak ma’qulat dengan sebab tidak ma’qulat ma’nanya, yaitu isnad fi’il kepada maf’ul.

(Mathlub 40-41)

7. Mengapa huruf halq hanya ada 6?
Jawab:
Karena ketika dikatakan/itlak kata-kata halq (makhrajul hurf halq), maka akan tertuju kepada 3; Aqsal halq, Wasthal halq, dan Adnal halq.
Pada Aqsal halq terdapat huruf ء dan هـ.
Pada wasthal halq terdapat huruf ع dan ح.
Pada adnal halq terdapat huruf غ dan خ.

(Mathlub 14)

Hakikat Asya’irah (Sayid Muhammad bin Alawi Al Makki Al Hasani)

Kaum wahabi salafi selalu menuduh sesat, bid’ah dan syirik bagi umat Nabi Muhammad yang lain. Bahkan para umat Nabi yang terkemuka juga tidak luput dari tembakan sesat mereka. Para ulama Asya’irah yang merupakan pemuka umat ini yang terdiri dari empat mazhab fiqh juga menjadi sasaran tembak sesat kaum khawarij ini. Tak henti-hentinya mereka mendakwahkan bahwa golongan Asya’irah adalah golongan sesat.

Menanggapi hal ini, Sayyid Muhammad Alawi al-Hasani yang merupakan salah satu keturunan Rasulullah yang merupakan ulama rujukan dan panutan umat Islam di zaman ini, menjawab kebodohan mereka dalam beberapa karya beliau. Berikut komentar beliau tentang hakikat Asya’irah yang kami terjemahkan dari kitab beliau Huwallah. 

Banyak generasi muda Islam tidak mengetahui mazhab Asy’ari, mereka juga tidak mengenal siapakah asya’irah itu, dan bagaimana pemahaman Asya’irah dalam bidang aqidah, bahkan mereka tidak segan-segan menggolongkan mazhab Asya’irah dalam golongan sesat dan keluar dari agama serta menyimpang dalam memahami sifat-sifat Allah.

Kebodohan tentang mazhab Asya’irah ini merupakan sebab perpecahan persatuan “ahlussunnah” dan hancurnya persatuan mereka sehingga sebagian orang jahil menjadikan Asya’irah termasuk dalam kelompok sesat. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka menyetarakan antara orang yang beriman dan orang yang sesat? Dan antara ahlussunnah dan kaum ekstrim muktazilah yaitu kaum jahmiyyah ?

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ . مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ :سورة القلم 35-36

Maka Apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir). Ada apa dengan kamu. Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (Q.S. al-Qalam 35-36) 

Golongan Asya’irah adalah para imam yang terpetunjuk dari kalangan ulama kaum muslimin, ilmu mereka memenuhi timur dan barat, dan manusia sepakat tentang kelebihan, ilmu dan agama mereka, mereka adalah pemuka ulama Ahlussunnah yang mempunyai kelebihan dan merepakan orang orang yang menentang kesesatan kaum muktazilah.

Golongan Asya’irah adalah golongan yang mana Ibnu Taimiyyah sendiri pernah memberikan komentar “ulama adalah penolong ilmu agama dan Asya’irah adalah penolong ilmu ushuluddin (ilmu akidah)” (lihat Fatawa Ibnu Taimiyah, jlid 4)

Golongan Asya’irah adalah kumpulan para ulama terkemukan dalam bidang ilmu hadist, fiqh, tafsir, seperti Syaikhul Islam Ibn Hajar Asqalani, seorang ulama hadist yang tiada diragukan dan juga. pengarang kitab Fathul Bari syarah Bukhari, bermazhab Asy’ari, kitab beliau merupakan kitab yang dibutuhkan oleh seluruh ulama.

Imam Nawawi, guru dari para ulama Ahlussunnah dan pemilik Syarah Shahih Muslim, dan berbagai kitab yang terkenal juga bermazhab asy’ari. Imam Qurthubi, imam dari para ulama tafsir, dan pemilik kitab Jamik li Ahkam al-Quran juga bermazhab Asy’ari. Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami, pemilik kitab az-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kabair juga bermazhab Asy’ari. Ulama fiqh dan hadist, Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari juga bermazhab Asy’ari. Imam Abu Bakar al-Baqilani, Imam Qasthalani, Imam Nasafn, Imam Syarbini, Abu Hayyan an-Nahwi, pemilik tafsir Bahrul Muhidh, Imam Ibnu Jazzi, pemilik tafsir at-Tashil Fi ‘Ulumil Tanzil dan lain-lainnya, mereka semua juga merupakan para pemuka Asya’irah.

Dan jikalau kita ingin menghitung jumlah mereka dari kalangan ulama hadist, ahli tafsir, dan fuqaha` yang termasuk dalam pemuka mazhab Asya’irah, sungguh tidak cukup waktu untuk melakukannya dan akan menghabiskan beberapa jilid untuk menyebut nama-nama mereka. Mereka adalah orang yang memiliki kelebihan dan ilmu mereka memenuhi bumi di timur dan barat. Sudah kewajiban kita untuk mengembalikan kelebihan kepada pemiliknya dan kita mengenal kelebihan dan keutamaan para ulama terkemuka yang merupakan ahli ilmu yang telah mengkhadam syariat Rasullullah SAW. Lalu kebaikan apa yang yang diharapkan pada kita, jika ulama yang merupakan pemuka dan pendahulu kita yang shalih kita tuduh sebagai orang yang menyimpang dan sesat ?

Bagaimana Allah akan membukakan hati kita untuk mengambil manfaat dari ilmu mereka jika kita meyakini bahwa mereka telah menyimpang dan tersesat jauh dari jalan Islam. Sungguh aku akan berkata: apakah ada dari golongan ulama sekarang yang bertitel doktor dan profesor satu orang saja yang sebanding dengan Ibnu Hajar al-Asqalani atau Imam Nawawi dalam mengkhadam sunnah Nabi yang suci, sebagaimana yang telah dilakukan kedua ulama ini.? Semoga Allah selalu memenuhi mereka dengan rahmat dan keridhaanNya.

Bagaimana kita akan menuduh keduanya dan juga ulama Asya’irah yang lain dengan sesat, sedangkan kita sangat membutuhkan ilmu mereka ? Bagaimana kita akan mengambil ilmu mereka bila mereka orang yang sesat ? Imam Ibnu Sirin pernah berkomentar: sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka kamu hendak memperhatikan dari siapa kamu akan mengambil agama mu ?

Tidakkah orang yang menentang dengan Asya’irah cukup berkata saja “sesungguhnya mereka yang dirahmati Allah telah berijtihad, maka mereka tersalah dalam mentakwil sifat-sifat Allah, dan yang lebih baik mereka tidak menempuh jalan ini”, sebagai ganti dari menuduh mereka sebagai golongan menyimpang dan marah kepada orang yang menganggap mereka sebagai golongan Ahlusunnah wal Jamaah.

Dan jika Imam Nawawi, Imam Asqalani, Imam Qurthubi, Imam al-Baqilani, Imam Fakhrurrazi, Ibnu Hajar al-Haitami, Syaikhul islam Zakaria al-Ansyari dan para pemuka ulama lainnya tidak termasuk dalam golongan Ahlussunnah wal Jamaah, maka siapa lagi Ahlussunnah itu ?

Sungguh aku menyeru dengan tulus ikhlas kepada setiap penda’i dan orang yang bekerja di ladang dakwah agar takut kepada Allah tentang umat Nabi Muhammad SAW, terlebih khusus pada kemuliaan ulamanya dan orang orang terpilih dari orang fiqh, karena umat Nabi Muhammad merupakan umat terbaik hingga datang kiamat, dan tiada kebaikan bagi kita tanpa mengenal kelebihan dan keagungan para ulama. Wallahua'lam.

Sayyid Muhammad ‘alawi al-Hasani, Kitab HuwAllah, hal 112-115.




10 Tempat yang Disunatkan Azan beserta Faidahnya


  1. Sebelum shalat fardhu, Faidah Azan di sini adalah untuk memperingatkan orang tentang masuknya waktu shalat.
  2. Pada telinga orang yang gundah, tujuannya adalah untuk menghilangkan kegundahan tersebut.
  3. Pada telinga orang yang marah, faidahnya adalah untuk meredakan marah tersebut, karena marah adalah api, dan azan adalah air.
  4. Pada telinga orang yang sifatnya tercela, bahkan kalau yang tercela itu adalah binatang. untuk memperbaiki sifat tercela tersebut, 
  5. Ketika kebakaran, Faidahnya untuk meredakan api.
  6. Pada telinga orang yang masru’ ( keserupan ), faidahnya adalah untuk mengusir apa yang ada dalam tubuh orang masru’ dari apa yang dirasukinya.
  7. Pada telinga bayi sebelah kanan, supaya apa yang didengarnya apa pertama kali saat hadir ke dunia adalah nama Allah swt.
  8. Saat orang bermusafir, supaya perjalanannya mendapat keberkahan dan keselamatan.
  9. Saat Berkecamuk peperangan, faidahnya adalah untuk meredakan perang dan mendapat pertolongan dari Allah swt.
  10. Saat Setan atau Jin jahat merubah diri untuk mengganggu manusia dengan bentuk yang berbeda-beda. Tujuannya, dengan menyebutkan nama-nama yang dikenal baik oleh jin dan setan tersebut (Nama Allah), akan meredakan keburukan mereka.
Sumber : Hasyiyah Al-Bajury hal 161, Haramain.

15 Siksaan Meninggalkan Shalat

Siksaan Meninggalkan Shalat
6 Siksaan didapatkan di Dunia:
  1. Tidak ada keberkahan pada umurnya.
  2.  Hilang wajah keshalihan pada mukanya.
  3. Tidak akan mendapat pahala dari amalan yang dikerjakannya.
  4. Doanya tidak akan dinaikkan ke langit oleh Allah swt.
  5. Dibenci oleh manusia di dalam dunia.
  6. Tidak termasuk di dalam doa orang-orang yang mukmin.
3 Siksaan didapatkan pada saat Sakaratul Maut
  1. Mati dalam kehinaan.
  2.  Mati dalam keadaan sangat lapar.
  3.  Mati dalam keadaan sangat haus.
3 Siksaan Didapatkan pada saat didalam kubur.
  1. Disempitkan kuburannya oleh Allah.
  2. Menyala api dalam kuburnya siang dan malam.
  3. Ditemani oleh ular yang besar yaitu Suja’ul Aqra
3 Siksaan Didapatkan pada hari Kiamat
  1. Allah meniliknya dengan tilikan murka
  2. Dihisab dalam waktu yang sangat lama dan kemudian dimasukkan ke dalam neraka.
  3. Diaazab oleh malaikat dalam neraka jahanam.

(Sirus Salikin hal. 80 juz II)



Pekerjaan yang Bermanfaat di Akhirat

عن ابي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلي الله عليه و سلم قال اذا مات العبد انقتع عمله الا من ثلاث : صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له . رواه مسلم.

Sayyid Walid imam Malawi Abbas Al-maliki Al-husni, semoga Allah merahmatinya, dalam syarahannya terhadap hadis ini mengatakan kalau sebenarnya masalah terputusnya amalan seorang hamba ketika ia meninggal adalah urusan yang dhahir, karena orang mati tidak bisa beramal dan tidak pula ditaklif. Hanya saja, ada sebagian amalan orang yang sudah mati yang pernah dikerjakan semasa hidupnya akan terus mengalir pahalanya walau tidak dikerjakan lagi, karena demikianlah nabi membuat pengecualian dalam tiga perkara, pertama : Sedekah Jariyyah, maksudnya sedekah yang kekal manfaatnya dan tidak terputus bahkan sampai hari kiamat, seperti menggali sumur, wakaf mashaf, wasiat, membangun mesjid, balai pengajian dan lain sebgainya. Kedua: Ilmu yang bermanfaat, maksudnya ilmu syar’i yang dengan sebabnya mendapat nikmat yang berkepanjangan dan selamat dari pedihnya azab akhirat, ilmu syariat yang pernah dibagikan kepada orang lain. Termasuk pula kepada ilmu yang bermanfaat yaitu mengarang kitab atau mewakafkannya, karena maksud dari ilmu yang bermanfaat adalah Mutlak manfaat baik manfaat langsung atau sebab yang mendatangkan manfaat. Ketiga: Anak shalih yang selalu berdoa kepada dua ibu bapaknya, karena anak tersebut adalah hasil usaha dari dua ibu bapaknya, oleh karena demikian Allah memberikan karunia kepada dua ibu bapaknya berupa dituliskan kepada dua ibu bapaknya semua kebaikan yang pernah dikerjakan oleh anak shalih tersebut, dan bukan keburukan yang dikerjakan oleh anak tersebut.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa amalan yang tidak terputus pahalanya tidak terkusus kepada tiga perkara, karena Mafhum (pemahaman) yang dipahami dari bilangan tidak bisa dijadikan hujjah. Pada saat itu Nabi Saw mengetahui tiga perkara, kemudian Allah memberitau Nabi kalau perkara tersebut bukan hanya tiga, tapi lebih banyak. Seperti yang telah disebutkan dalam sebuah hadis yang merawi oleh ibnu majah dari Abi Hurairah, bahwa sesungguhnya Nabi Saw bersabda: “ Beberapa perkara yang layak didapatkan oleh seorang hamba dari amalan dan kebaikan sesudah matinya adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, anak shalih yang ditinggalkannya, mashaf yang diwariskan, mesjid yang dibangun, rumah bagi ibnu sabil, sungai yang disewanya, sedekah yang dikeluarkan pada masa sehat dan sakitnya dan tetap terhubung sesudah matinya”.

Ibnu Abi Izzi dalam kitab Syarah Aqidah Thahawiyyah mengatakan kalau dalam hadis dikhabarkan bahwa sesungguhnya amalan seseorang akan terputus ketika ia telah meninggal, amalan orang lain pada dasarnya adalah untuk dirinya sendiri, dan jika dia menghibahkan kepada orang lain termasuk kepada mayit, maka pahala itu akan sampai seperti pahala orang yang mengerjakannya, bukan yang sampai diri pahala tapi bagian lain yang sama dengan pahala dasarnya.

Pada sebagian kitab juga disebutkan kalau penyebutan anak yang shalih pada perkara yang ketiga itu adalah karena Ghalib (kebiasaan) yang akan berdoa kepada orang tua adalah anaknya, dengan demikian tidak menafikan kalau doa orang lain yang bukan anaknya juga akan sampai. Wallahua’lam.

Sumber : Manhajus Shalah fi Fahmin Nusus baina Nadhariyyah wa Tathbiki, Sayyid Walid imam Malawi Abbas Al-maliki Al-husni, khadim Ilmus Syarif fi baladil haram.

Pembagian Najis dan Cara Menyucikannya

Air bersuci
Secara bahasa najis merupakan sesuatu yang dianggap kotor. Sedangkan secara syara’, najis adalah tiap-tiap benda yang tidak boleh dikonsumsi baik itu untuk makan, minum atau lainnya serta mudah dibedakan dan keharamannya bukan karena memudharatkan pada badan atau akal dan bukan pula karena kotornya.
Dari uraian tersebut dapat diketahui kalau batu yang jika dimakan akan memudharatkan dan ingus yang dinggap kotor tidaklah dihukumi najis, karena batu dan ingus bukanlah najis pada syara’.
Berikut pembagian najis dan cara menyucikannya :
  1. Najis mukhaffafah (ringan)

    Najis ini adalah kencing bayi lelaki yang belum makan atau minum apapun untuk mengenyangkan selain dari air susu ibunya. Benda yang menimpa najis mukhaffah dapat disucikan dengan cara memercikkan air menyeluruh ke atas bekasan najis yang telah dihilangkan (warna, rasa bau), walau air itu tidak mengalir, dan tidak boleh hanya dengan hanya memercik sedikit air yang tidak mengumumi kepada seluruh bagian najis sebagaimana praktek kebanyakan orang awam. 
  2. Najis mughallazah (berat)

    Najis mughallazah hanya terbagi kepada dua macam yaitu najis yang bersumber dari babi dan anjing, baik itu air liur, darah, atau pun basahan pada badan kedua biantang itu, atau basahan tempat yang terkena najis tersebut.
    Metode untuk menyucikan benda yang terkena najis mughallazah adalah dengan menyamak sebanyak enam kali dengan air dan ditambah satu kali dengan air yang dicampur dengan tanah. Tanah dan air sebagai alat samak mesti mengumumi kepada tempat yang terkena najis. 
  3. Najis mutawassitah (pertengahan)

    Najis ini adalah selain dari contoh-contoh yang telah kami sebutkan dalam dua pembagian diatas. Imam Abu Suja’ dalam kitabnya mengatakan bahwa tiap-tiap benda cair yang keluar dari qubul dan dubur adalah najis kecuali mani baik itu dari manusia ataupun binatang. Jadi dapat kita simpulkan bahwa segala cairan yang keluar dari qubul atau dubur dianggap najis selain dari mani. Seperti kencing, taik, mazi, wazi dan cairan-cairan yang lain. Termasuk juga dalam najis mutawassitah, seluruh benda cair yang memabukkan, darah dan lain-lain.
    Metode penyuciannya adalah dengan cara menghilangkan seluruh i’n najis, menghilangkan tiga sifatnya (warna, rasa dan bau) dan sesudahnya baru dialirkan air yang suci menyucikan secara menyeluruh dan air tersebut dihukumi suci. hal yang perlu diingat adalah tidak boleh mencelupkan benda yang terkena najis dalam air yang ukurannya kurang dari dua qulah. wallahua'lam.
Sumber : Fathul Qarib h. 102, jilid 1.


Metode 'Irab Kalimat سواء , لا سيما , ايضا, فصاعدا, اللهم,


• سواء
1. Di’irab kepada khabar muqaddam sedangkan fi’il sesudahnya ditakwil kepada masdar dan jatuh sebagai mubtada.
2. Sah pula sebagai khabar dari mubtada yang dibuangkan.

(Hasyiyah Dusuki hal : 26 )

• لا سيما
Kalimat ini digunakan yang menyatakan kalimat yang ada di depannya lebih aula hukumnya daripada yang dibelakangnya. Kalimat ini biasanya dibacakan dengan tasydid yaa/takhfif.
Adapun لا adalah لا nafi lil jinsi.
سيّا : Isim yang bermakna مثل dan khabarnya dibuangkan.
ما : ziadah.
(Qulyubi juz 2 hal 63 dan I’anah juz 2 hal 256)

• ايضا
Kalimat ini digunakan pada 2 kalimat yang memiliki persamaan pada makna, salah satu dari 2 kalimat tidak membutuhkan pada yang lain. Dan ايضا merupakan kalimat masdar dari اضى (رجع) dan di’irab sebagai maf’ul dari fi’il yang sudah dibuangkan yaitu : ارجع رجعا.
(Matammimah jld I hal 5 dan Khasyiah al-Banna 1, jam’ul jawami’ 10)

• لابد
لابد adalah تفرق diambil dari بد امر adapula ma’na بد adalah فرق بينهما, karena pengertian demikian maka setelah dinafikan dengan لا, ma’nanya لا فرق. Maka kalimat tersebut harus diartikan wajib, harus, dan tidak boleh tidak.
(Sirajut Thalibin 1 hal 23)

• فصاعدا
فصاعدا mansub, sedangkan ‘amilnya wajib dibuang menurut kaidah bahasa arab. Huruf ف tidak boleh diganti dengan و dan boleh dengan ثم karena و tidak memberi makna yang sesuai dengan فا. takdirnya:

فذهب العدد صاعدا من الاثنين الى ما فوقهما

(Bajuri juz 2 hal 79)

• اللهم
اللهم artinya yaa Allah, kata ini digunakan untuk do’a sama dengan yaa Allah. Kata اللهم berasal dari يا الله tetapi sudah di’ilat bentuknya. Caranya dengan membuang yaa nida’ kemudian yaa tersebut diganti dengan م yang diletaqkkan pada akhir.

(Bajuri juz 1 hal 234)

Ciri-Ciri Surat Makkiyah dan Madaniyyah

Surah Makkiyah
1. Diawali dengan  ياايها الناس , يابني ادم
2. Surat yang di dalamnya terdapat lafad   كلا
3. Diawali dengan huruf hijaiyah seperti  ن , ق
4. Dalam surat tersebut terdapat kisah nabi Adam as, Iblis, selain pada surat Al-Baqarah.
5. Dalam surat tersebut terdapat kisah umat terdahulu.
6. Surat yang di dalamnya terdapat ayat sujud tilawah.
7. Surat yang setengah kedua dari seluruh ayat-ayatnya memberi peringatan keras bagi penduduk Mekkah yang berwatak keras.

Surah Madaniyyah
1. Diawali dengan   ياايها الذين امن
2. Surat yang di dalamnya terdapat perintah – perintah Fardhu.
3. Surat yang di dalamnya terdapat hukum Had.
4. Surat yang menceritakan tentang orang-orang munafik.
5. Surat yang setengah pertama dari keseluruhan ayatnya memberi peringatan kepada yang Yahudi tentang lemahnya kekuatan mereka.

Sumber : Itqan Fi Ulumil Quran Hal.14

Perbedaan Antara Talaq dan Fasakh

Bila kita tinjau dari makna yang terkandung secara bahasa, maka kita akan mendapati adanya persamaan antara fasakh dan talaq, yaitu sama-sama berfungsi untuk memutuskan hubungan suami istri. Namun, perlu kita ketahui bahwa terdapat beberapa hal yang membedakan keduanya. Bila kita tinjau dari segi kepemilikan, maka talak dimiiki oleh suami, sementara fasakh dimiliki oleh keduanya. Artinya, talak hanya sah dilakukan oleh suami, sementara fasakh boleh dilakukan oleh keduanya.
Di sisi lain, juga terdapat empat perbedaan yang membedakan keduanya, yaitu:
1. Fasakh tidak mengurangi bilangan talaq, sementara talaq mengurangi bilangannya.
2. Fasakh sebelum bersetubuh (karena aib), tidak mewajibkan mahar, sementara talak sebelum bersetubuh mewajibkan setengah mahar.
3. Fasakh sesudah bersetubuh mewajibkan mahar misil, sementara talak sesudah bersetubuh mewajibkan mahar musamma ( mahar yang disebutkan dalam aqad nikah).
4. Fasakh yang terjadi disebabkan karena aib yang beriringan dengan aqad nikah tidak mewajibkan nafakah, walaupun istri hamil. Sementara talak yang terjadi disebabkan karena aib yang beriringan dengan aqad, maka mewajibkan nafakah.

Referensi:
1. I’anatut thalibin, juz. 3, hal. 383 (darul fikri)
(اعلم) أن الفسخ يفارق الطلاق في أربعة أمور:
الأول أنه لا ينقص عدد الطلاق فلو فسخ مرة ثم جدد العقد ثم فسخ ثانيا وهكذا لم تحرم عليه الحرمة الكبرى، بخلاف ما إذا طلق ثلاثا فإنها تحرم عليه الحرمة المذكورة ولا تحل له إلا بمحلل.
الثاني إذا فسخ قبل الدخول فلا شئ عليه، بخلاف ما إذا طلق فإن عليه نصف المهر.
الثالث إذا فسخ لتبين العيب بعد الوطئ لزمه مهر المثل، بخلاف ما إذا طلق حينئذ فإن عليه المسمى.
الرابع إذا فسخ بمقارن للعقد فلا نفقه لها وإن كانت حاملا، بخلاف ما إذا طلق في الحالة المذكورة فتجب النفقة.

Syeikh Hasan Hito; Pertanyaan apakah Asya'irah Ahlussunnah? adalah pertanyaan aneh.

Salah satu fitnah yang gencar dilancarkan oleh kaum wahabi salafi adalah tuduhan mereka kepada golongan Asya'irah sebagai golongan sesat. Di Saudi, pernyataan bahwa Asya'irah termasuk golongan sesat mereka tulis dalam buku-buku anak-anak dasar. Dalam website-website mereka, golongan Asya'irah juga dimasukkan dalam golongan sesat, sehingga banyak website donwload kitab mereka menyediakan menu khusus download kitab radd 'ala Asya'irah (bantahan terhadap golongan Asya'irah) sama dengan kaum syiah dan kaum sesat lainnya.

Para ulama Ahlussunnah tidak tinggal diam melihat fitnah meraka. Semenjak kemunculan wahabi salafi, para ulama bahu membahu menolak mereka. Ada yang mengarang kitab penolak syubhat mereka dan ada juga yang membentengi masyarakat dan murid-muridnya dari kesesatan wahabi dengan menanamkan kebencian kepada golongan sesat ini.
Syeikh DR. Hasan Hitu, salah satu ulama asal Suriah yang banyak mendirikan lembaga pendidikan didunia (termasuk di Indonesia, STAI Imam Syafii di Cianjur) juga ambil bagian dalam membela Ahlussunnah Asya'irah, dalam kata-kata sambutan beliau terhadap kitab Ahlussunnah Asya'irah Syahadah Ummah wa Adillatuhum karangan Hamd Sinan dan Fauzi al-'Anjari, mengatakan bahwa pertanyaan "Apakah Asya'irah Ahlussunnah?" adalah pertanyaan yang paling aneuh. Berikut terjemahan kata pengantar beliau.

Sesungguhnya pertanyaan yang paling aneh yang pernah ditujukan kepadaku selama hidupku adalah “apakah golongan Asy’ariyah termasuk dalam golongan ahlussunnah wal jamaah ?.
Sungguh pertanyaan ini membuatku tercengang dalam waktu yang lama, karena aku dapati pertanyaan ini kosong dari makna ilmiyah yang benar dan juga menunjuki dangkal dan bodohnya penanya tentang pengetahuan dan sejarah aqidah Islam.
Hal ini dikarenakan sesungguhnya apa yang diketahui oleh setiap orang yang mencium bau ilmu dalam sepanjang masa adalah sesungguhnya golongan Asy’ariyah merupakan ahlussunnah wal jamaah, dan apabila disebutkan kalimat “ahlussunnah wal jamaah” dalam berbagai jenis kitab-kitab ilmiyah maka yang dimaksudkan adalah mazhab Asya’irah.

Kaum Asya’irahlah yang disebutkan perbedaan pendapat mereka dengan mu’tazilah, atau golongan Islam yang lain dalam kitab-kitab aqidah (tauhid), fiqh, usul fiqh, tafsir, dan hadist bahkan hingga dalam kitab loghat (bahasa) dan kitab-kitab yang membahas perbedaan aqidah didalamnya.
Hal ini karena Asya’irah adalah golongan yang berdiri dihadapan mu’tazilah secara terang-terangan, dengan merendahkan pendapat mereka, membongkar syubhat-syubhat mereka dan mengembalikan kebenaran pada sumbernya yaitu jalan dan metode ulama-ulama terdahulu umat ini.

Imam Abu Hasan al-Asy’ari tidak membentuk mazhab baru dalam bidang aqidah Islam yang berbeda dengan para ulama terdahulu, tetapi ia hanya mendapat petunjuk dari Allah untuk memeluk mazhab Ahlussunnah wal Jamaah setelah melalui empat puluh tahun dalam hidupnya dalam mazhab mu’tazilah. Selama berada dikalangan mereka, beliau mengetahui hakikat mazhab mereka, dan menguasai berbagai macam ilmu metode mereka dalam berdebat, berbantah dan berpikir dan hal lainnya yang memungkinkan beliau untuk menolak pendapat mereka dan mengungkapkan syubhat mereka.
Kemudian golongan Ahlussunnah menemukan beliau sebagai barang hilang yang telah lama mereka cari maka kemudian Ahlussunnah mengikuti beliau dan berjalan atas metode beliau, karena Ahlussunnah melihat beliau punya kemampuan untuk mengalahkan lawan dan menolong Ahlussunnah dan mengokohkan mazhab Ahlussunnah.

Sedangkan aqidah yang dianut oleh Iman Asy’ari adalah juga aqidah yang dianut oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Abi Hanifah serta sahabat beliau, yaitu aqidah salafussalih sebagaimana telah diterangkan oleh imam-imam ahli ilmu yang berjalan dalam aqidah ini sepanjang masa.
Oleh karena itu, seharusnya pertanyaan yang benar: siapa saja yang masuk dalam Ahlussunnah wal Jamaah bersama Asya’irah?
Dan jawabannya adalah: masuk bersama Asya’irah (dalam Ahlussunnah) semua golongan yang sejalan dengan metode mereka dan menempuh jalur mereka, walaupun terjadi sedikit perbedaan pada sebagian masalah diantara mereka.

Maka Maturidiyyah juga Ahlussunnah, dan Atsariyun juga Ahlussunnah, tetapi yang muncul dan tampil sebagai Ahlussunnah dalam berbagai kitab-kitab ilmu adalah golongan Asya’irah dan karena itulah kalimat “Ahlussunnah” jika sebutkan, umumnya akan tertuju pada golongan Asya’irah. Apalagi mayoritas Ahlussunnah adalah dari golongan Asya’irah. Penganut Mazhab Maliki seluruhnya adalah Asya’irah, penganut Mazhab Syafii seluruhnya adalah Asya’irah, seluruh penganut Mazhab Hanafi adalah Asya’irah atau Maturidiyyah dan tidak terjadi perbedaan diantara mereka dan sejumlah besar dari Imam-imam terdahulu dari Mazhab Hanbali adalah Asya’irah. Ini adalah perhitungan secara garis besar. Adapun secara rinci, maka ulama pembesar dari umat Nabi Muhammad adalah dari golongan Asya’irah seperti Al-Baqilani, Al-Qusyairi, Abi Ishaq Asy-Syairazi, Abi Wafa Ibn ‘Aqil Al-Hanbali, Abi Muhammad Al-Juwaini, dan anaknya Abi Al-Ma’ali yaitu Imam Haramain, dan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, dan Qadhi Abu Bakar Ibn ‘Arabi, dan Fahkruddin ar-Razi, Ibnu ‘Asakir, ‘Izz Ibn Abdissalam, Ibnu Atsir, Imam ar-Rafi’i, Imam an-Nawawi, Imam Subki dan putra-putranya, al-Mizzy, al-‘Iraqi, Ibn Hajar al-Asqalani, Ibn Hajar al-Haitami, Imam Suyuthi dan masih banyak lagi yang tak terhingga dan terputus nafas untuk menyebutnya satu persatu dan akan menghabiskan kertas untuk menghitungnya.

Jika mereka yang telah kami disebutkan dan beberapa yang lain yang belum kami sebutkan bukan Ahlussunnah, maka siapalagi yang dikatakan sebagai Ahlussunnah dalam sejarah ?

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan setelah itu kecuali: sesungguhnya mereka (Ahlussunnah) hanya khayalan yang dibuat oleh kebodohan zaman modern. Begitulah hakikat berbalik pada akhir zaman. Orang alim dituduh sebagai orang jahil dan ditinggalkan, dan sebaliknya, orang jahil dianggap berilmu dan mereka bertanya kepadanya, supaya ia sesat dan menyesatkan dan meruntuhkan sendi-sendi Islam satu persatu.

Kata pengantar Syeikh DR. Hasan Hitu untuk Kitab Ahlussunnah Asya'irah Syahadah Ummah wa Adillatuhum karangan Hamd Sinan dan Fauzi al-'Anjari, hal 5-8 Dar Dhiya` Kitab ini bisa di download di SINI

34 Sebab yang Mempusakai Fakir-Miskin

1. Tidur dalam keadaan telajang
2. Kencing dalam keadaan telanjang
3. Makan dalam keadaan berjunub
4. Makan sambil tiduran
5. Membiarkan berserakannya sisa makanan.
6. Membakar kulit bawang merah dan bawang      putih.
7. Menyapu lantai dengan sapu tangan.
8. Menyapu rumah di malam hari
9. Membiarkan sampah mengotori rumah.
10. Memanggil orangtua dengan nama keduanya.
11. Mencongkel gigi dengan benda kasar.
12. Mencuci tangan dengan lumpur dan debu.
13. Duduk di beranda pintu.
14. Besandar pada kaki gawang pintu.
15. Berwudhu’ di tempat Qada hajat (Buang air besar dan kecil).
16. Menjahit pakaian yang sedang dipakai.
17. Mengelap wajah dengan kain.
18. Membiarkan sarang laba-laba dirumah.
19. Meremehkan shalat.
20. Bersegera keluar dari mesjid sesudah shalat subuh.
21. Pergi ke pasar di pagi buta.
22. Berlama-lama di pasar.
23. Membeli potongan makanan dari fakir yang meminta (mengemis).
24. Berdoa keburukan kepada anak.
25. Mematikan lampu (lilin) dengan cara meniup.
26. Menulis dengan pena rusak.
27. Menyisir rambut dengan sisir rusak.
28. Tidak mau berdoa dengan kebagusan bagi orang tua.
29. Memakai sorban sambil duduk.
30. Memakai celana sambil berdiri.
31. Bersikap kikir.
32. Terlalu hemat.
33. Berlebihan dalam kehidupan.
34. Suka menunda  dan meremehkan pekerjaan.


Sumber : kitab Ta’lim Muta'alim hal.43-44

Kenapa Harus Memulai Kitab pada Hari Rabu ?

Syaikhul Islam Burhanuddin memulai belajar tepat Pada hari rabu. Dalam hal ini beliau telah meriwayatkan sebuah hadis sebagai dasarnya, yaitu : " tidak ada segala sesuatu yang di mulai pada
hari rabu, kecuali akan menjadi sempurna."Ini pula yang dikerjakan oleh Abu Hanifah. Mengenai hadis di atas, beliau juga meriwayatkannya dari guru beliau Syaikhul Imam Qawamuddin Ahmad bin Abdur RasyiKenapa hari Rabu ? karena pada hari rabu itu Allah menciptakan cahaya, dan hari rabu juga merupakan hari sial bagi orang kafir dan hari yang berkah bagi orang mukmin. Wallahua’lam.

كان أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمه الله يوقف بداية السبق على يوم الأربعاء، وكان يروى فى ذلك حديثا ويستدل به ويقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من شيئ بدئ يوم الأربعاء إلا وقد تم
وهكذا كان يفعل أبى. وكان يروى هذا الحديث عن أستاذه الشيخ الإمام الأجل قوام الدين أحمد بن عبد الرشيد رحمه الله
وسمعت ممن أثق به، أن الشيخ يوسف الهمذانى رحمه الله، كان يوقف كل عمل من الخير على يوم الأربعاء
وهذا لأن يوم الأربعاء يوم خلق فيه النور، وهو يوم نحس فى حق 
الكفار فيكون مباركا للمؤمنين

Sumber : Ta'lim Muta'allim

11 Perkara yang Membatalkan Shalat

Perkara yang Membatalkan ShalatHal-hal yang dapat Membatalkan Shalat:
  1. Berbicara dengan sengaja
  2. Bergerak yang banyak melebihi tiga kali secara beriringan seperti melangkah tiga langkah baik sengaja maupun lupa.
  3. Berhadas kecil mapun besar.
  4. Terkena najis yang tidak dimaafkan.
  5. Terbuka aurat, sedangkan jika terbuka oleh angin kemudian segera menutup maka tidak membatalkan shalat.
  6. Berobah niat atau niat keluar dari shalat.
  7. Membelakangi kiblat.
  8. Makan, kecuali sedikit jika seseorang tidak mengerti Haram hukumnya
  9. Minum, kecuali sedikit jika seseorang tidak mengerti Haram hukumnya.
  10. Tertawa terbahak-bahak.
  11.  Murtad, keluar dari agama Islam baik dengan perbuatan, perkataan dan niat.

Not : Seseorang yang dimaafkan karena tidak mengerti hukum cuma ada dua, yaitu:
  1. Seseorang yang baru masuk islam, dan
  2. Seseorang yang hidupnya jauh dari para Ulama.

Sumber ; kitab Fathul Qarib hal.176-180

5 Perkara yang Membatalkan Wudhu'


  1. Keluar sesuatu dari salah satu dua jalan yakni qubul dan dubur, baik yang beradat seperti kencing dan berak maupun yang jarang seperti darah dan batu.
  2. Tidur dengan tidak tetap duburnya dengan bumi (tempat meletakkan pinggang) baik dalam keadaan berdiri maupun duduk.
  3.  Hilang akal baik dengan sebab mabuk, sakit, gila, pitam dan lainnya.
  4. Tersentuh kulit laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya dengan tiada lapisan, dan bukan mahram baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.
  5.  Menyentuh kemaluan dan pergelangan dubur (halqah dubur) anak Adam (manusia) dengan telapak tangan.


Sumber : Kitab Fathul Qarib  hal. 66-81

12 Golongan yang Dibangkit dari Kubur

(Versi Mu'az Bin Jabal)

  1. Tidak mempunyai tangan dan kaki yaitu orang yang menyakiti jiran.
  2. Berbentuk dabbah (dikatakan bentuk babi) yaitu orang meremehkan shalat.
  3. Mempunyai perut sebesar gunung yang di penuhi dengan ulat dan kalajengkig (berbentuk bigal atau keledai) yaitu orang menegah zakat.
  4. Orang yang mengalir darah dari mulut dan perutnya yang mengenai bumi dan keluar api dari mulutya, yaitu orang yang berdusta pada transaksi jual-beli.
  5. Orang yang berbau busuk melebihi bangkai, yaitu orang yang menyembunyikan maksiat dan tidak takut kepada Allah swt.
  6. Orang yang dipotongkan lehernya, yaitu orang yang bersaksi dengan dusta
  7. Golongan yang tidak mempunyai lidah, mengalir darah dan nanah dari mulutnya, yaitu orang yang menegah tegaknya kebaikan.
  8. Golongan yang menundukkan kepalanya dan kaki mereka di atas kepalanya, mengalir api dari kemaluan, nanah dan lendir yaitu para pezina.
  9. Golongan yang hitam wajah, biru mata dan perutnya dipenuhi api, yaitu orang yang memakan harta anak yatim secara zalim.
  10. Golongan yang berpenyakit kusta dan supak, yaitu orang durhaka kepada orang tua
  11.  Golongan yang buta hati, giginya seperti tanduk lembu dengan bibir terhampar ke dada dan lidahya menjulur ke perut, perutnya mengalir ke paha, keluar kotoran dari perutnya, yaitu peminum arak dan yang memabukkan.
  12.  Golongan yang wajahnya seperti bulan purnama kemudian melewati siratil mustaqim seperti kilat yang menyambar, itulah orang-orang yang beramal shalih, menegah maksiat dan memelihara shalat 5 waktu beserta jama’ah.


Sumber : Daqaiqul Akhbar hal. 24-26

Jika Dahi Terhijab saat Sujud

Salah satu rukun dalam salat adalah sujud. Ada bebarapa hal yang musti kita perhatikan dengan baik ketika melaksanakan sujud. Diantaranya adalah anggota tujuh yang harus merapat (mubasyarah) ke lantai (tidak boleh menggantung). Salah satu dari anggota tujuh adalah dahi.

Ada pembahasan spesifik menyangkut masalah dahi, yang apabila tidak kita perhatikan dengan baik dapat menyebabkan batalnya shalat. Pada saat melaksanakan sujud, bahagian dahi harus menyentuh tempat sujud, walaupun tidak semua bahagian dahi disyaratkan harus menyentuh tempat sujud.

Apabila seseorang meletakkan dahinya di atas kain yang bersambung dengan dirinya, maka terdapat dua tafsilan hukum. Pertama, jika kain tersebut bergerak dengan sebab bergeraknya mushalli (orang shalat), maka tidak boleh. Semisal sapu tangan atau ridak yang di letakkan di atas bahu. Otomatis ketika mushalli (orang shalat) bergerak, maka sapu tangan atau ridak tersebut pasti bergerak. Jika seseorang tahu hukumnya maka dapat membatalkan shalat, adapun jika tidak tahu, maka harus mengulang sujudnya (jika ada orang yang memperingatkannya dalam shalatnya). Kedua, jika tidak demikian, seperti seseorang shalat memakai jubah yang sangat panjang sehingga bagian bawahnya tidak bergerak ketika ia bergerak dan ketika sujud meletakkan dahinya di atas jubah tersebut, maka tidak mengapa karena ketika itu jubah tersebut dianggap sama seperti sesuatu yang terpisah darinya.

Referensi:
1. Mughny al-muhtaj, juz.1, hal. 371 (dar kutub al-‘ilmiyyah)
(وَ) شَرْعًا (أَقَلُّهُ مُبَاشَرَةُ بَعْضِ جَبْهَتِهِ مُصَلَّاهُ) أَيْ مَا يُصَلِّي عَلَيْهِ مِنْ أَرْضٍ أَوْ غَيْرِهَا لِخَبَرِ «إذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ جَبْهَتَكَ وَلَا تَنْقِرْ نَقْرًا» رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ، وَلِخَبَرِ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ «شَكَوْنَا إلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حَرَّ الرَّمْضَاءِ فِي جِبَاهِنَا وَأَكُفِّنَا فَلَمْ يُشْكِنَا: أَيْ لَمْ يُزِلْ شَكْوَانَا» رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ، وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ بِغَيْرِ جِبَاهِنَا وَأَكُفِّنَا، فَلَوْ لَمْ تَجِبْ مُبَاشَرَةُ الْمُصَلِّي بِالْجَبْهَةِ لَأَرْشَدَهُمْ إلَى سَتْرِهَا



2. Mughny al-muhtaj, juz.1, hal. 372 (dar kutub al-‘ilmiyyah)
(فَإِنْ سَجَدَ عَلَى مُتَّصِلٍ بِهِ) كَطَرَفِ كُمِّهِ الطَّوِيلِ أَوْ عِمَامَتِهِ (جَازَ إنْ لَمْ يَتَحَرَّكْ بِحَرَكَتِهِ) لِأَنَّهُ فِي حُكْمِ الْمُنْفَصِلِ عَنْهُ، إنْ تَحَرَّكَ بِحَرَكَتِهِ فِي قِيَامٍ أَوْ قُعُودٍ أَوْ غَيْرِهِمَا كَمِنْدِيلٍ عَلَى عَاتِقِهِ لَمْ يَجُزْ، فَإِنْ كَانَ مُتَعَمِّدًا عَالِمًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ أَوْ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا لَمْ تَبْطُلْ وَأَعَادَ السُّجُودَ

Adab-adab Dalam Musafir

1. Mengembalikan barang seseorang yang pernah dizalimi kepada pemiliknya
2. Henda memilih kawan musafir yang dapat membantunya alam ibadah.
3. Di saat berjumpa sanak saudara di tempat yang dikunjungi, hendak membaca doa:
اَسْتَوْدِعُكَ اللهَ الَّذِيْ لَا تُضِيْعُ وَدَائِعَهُ
Dan disunatkan bagi orang yang ditingalkan untuk membaca doa:
اَسْتَوْدِعُ اللهَ تَعَالَى دِيْنَكَ وَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ وَزَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَوَجَّهَكَ لِلْخَيْرِ حَيْثُ تَوَجَّهْتَ وَاَيْنَمَا كُنْتَ
4. Sunat sebelum melakukan safir mengerjakan shalat istikharah, kemuddian dilanjutkan dengan melakukan shalat sunat di rumah sebelum keluar rumah.
Imam Al-Ghazali berkata:
“Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, “aku telah menulis wasdiatku wahai Rasulullah, lalu kepada sdiapa yang paling baik aku serahkat wasdiat ini ya Rasulullah ddiantara tiga orang ini: kepada ayahku, saudaraku atau kepada anakku?” Maka nabi SAW bersabda: “Tidak satu pun yang ditinggalkan seseorang pada ahlinya yang terlebih Allah cintai selain 4 rakaat shalat yang dilakukan di dalam rumahnya”. Apa bila dia akan mengikat kain/memasukkan baju ke dalam tas yang akan di bawa dalam perjalanannya itu, maka hendaklah dia membaca:
a. Surat al-Fatihah 1 kali
b. Surat al-Ikhlash 1 kali
c. Dan membaca doa dibawah ini:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَتَقَرَّبُ بِهِنَّ اِلَيْكَ فَاخْلُفْنِيْ بِهِنَّ فِى أَهْلِيْ وَماَلِيْ

5. Apabila dia telah sampai pada pintu rumahnya ketika hendak keluar musafir, atau pintu desanya maka sunat untuk membaca:
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا باِللهِ رَبِّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ أَنْ أَضِلَّ وَأُضِلَّ وَأَزِلَّ أَوْ أُزِلَّ أَوْ أَظْلِمَ وَ أُظْلِمَ أَوْ أَجْهِلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ.

Dan apabila berjalan, hendaklah dia membaca:
االلَّهُمَّ بِكَ اِنْتَشَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَلَكَ إِعْتَصَمْتُ وَإِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ أَللَّهُمَّ أَنْتَ ثِقَتِيْ وَأَنْتَ رَجَائِىْ فَاكْفِنِيْ مَا أَهَمَّنِي وَلَا مَا أَهِمُّ بِهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنّيِ عَزَّ جَارُكَ وَجَلَّ ثَناَؤُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ اَللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِى وَوَجِّهْنِيْ لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجّهْتُ

Dan hendaklah dia selalu membaca doa-doa di atas pada tiap-tiap berhenti dari perjalanan. Lalu apa 
bila dia hendak berangkat maka bacalah doa dibawah ini:

بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا باِللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّا إِلَىى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

Dan apabila dia sedang berada dalam kendaraan itu, maka hendakalh membaca doa:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ هَدَاناَ لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لَا اَنْ هَدَانَا اللهُ اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْحَامِلُ عَلَى الظَّهْرِ وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ عَلَى الْأُمُوْرِ

6. Sunat berjalan dari tempat berhenti pada waktu pagi. Dan sunat melakukan safir pada pagi hari kamis, karena mengikuti apa yang Rasulullah kerjakan.
Diriwayatkan dari Jabir R.a bahwasanya Nabi kita Muhammad SAW berangkat safir pada hari kamis, padahal dia hendak menuju ke negeri Tabuk. Dia berangkat pada waktu pagi dan membaca do’a: “ Yaa Allah limpahkanlah rahmatMu kepada umatku di waktu pagi”

Disunatkan pula mengantar orang yang bermusafir, sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW:
لَأَنْ أَشِيْعَ مُجَاهِدًا فِى سَبِيْلِ اللهِ فَاكْتَنِفْهُ عَلىَ رَحِلِهِ غُدْوَةً أَوْ رَوْحَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
Artinya: seseungguhnya aku mengantarkan orang yang pergi perang sabilillah, aku mengelilinginya, sedangkan dia di atas kendaraannya pada setiap pagi dan pada petang, yang demikian terlebih aku cinta dari pada dunia dan isinya.
7. Disunatkan untuk tidak berhenti dari perjalanannya malainkan karena halangan terik panas matahari. Dan disunatkan pula melakukan perjalanan pada malam hari. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
Dan apabila sampai pada tempat berhenti, maka sunat membaca doa:
اَللَّهُمَّ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَرَبِّ الْأَرَضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ وَرَبِّ الشَّيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَّبِ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ وَرَبِّ الْبِحَارِ وَمَا جَرَيْنَ أَسْئَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْمَنْزِلِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ هَذَا الْمَنْزِلِ وَشَرِّ مَا فِيْهَا اِصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَرَارِهِمْ
Dan apabila sampai pada tempat berhenti, maka disunatkan melakukan shalat 2 rakaat dan membaca doa:
اَللَّهُمَّ إِنّيِ أَعُوْذُ بِكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَاتِ الَّذِيْ لَا يُجَاوِزُهُنَّ بِرٌّ وَلَا فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خُلِقَ

Apabila memasuki malam, maka disunnatkan membaca:
ياَ أَرْضَ رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكَ وَمِنْ شَرِّ مَا فِيْكَ وَشَرِّ مَا دَبَّ عَلَيْكَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ كُلِّ أَسَدٍ وَأَسْوَدٍ وَحَيَّةٍ وَعَقْرَبٍ وَمِنْ شَرِّ سَاكِنِيْ الْبَلَدِ وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ وَلَهُ مَا سَكَنَ فِى الْلَيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Dan apabila melalui tempat yang tinggi maka disunatkan membaca doa:
اَللَّهُمَّ لَكَ الشَّرَفُ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ وَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى كُلِّ حَالٍ
Apabila melalui tempat yang rendah maka sunat membaca tasbih, dan manakala takut dalam musafirnya maka sunat membaca:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ جَلَّتِ السّمَوَاتِ بِالْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ
8. Hendaklah memelihara diri pada siang hari, maka janganlah berjalan seorang diri di luar kafilah yaitu diluar perhimpunan orang banyak karena ditakutkan akan terjadi hal-hal yan tidak diinginkan seperti perampokan misalnya.
Selain itu disunatkan pula pada malam hari, berganti-ganti tidur untuk memelihara barang bawaan dari pencurian.

Lalu apabila dalam perjalanan terdapat suatu rintangan, misalnya ancaman seseorang atau binatang buas maka hendaklah membaca ayat kursi, ayat شهد الله hingga akhir, surat al-ikhlash, surat al-falaq, dan surat an-naas. Disunatkan pula meambahkan bacaan doa berikut:
بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ حَسْبِيَ اللهُ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَأْتِي بِالْخَيْرِ إِلَّا اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إِلَّا اللهُ حَسْبِيَ اللهُ وَكَفَى سَمْعُ اللهُ لِمَنْ دَعَا لَيْسَ وَرَاءَ اللهِ مُنْتَهَى وَلَا دُوْنَ اللهِ مَلْجَأَ كَتَبَ اللهُ لِأَغْلَبَنَّ أَنَا وَرُسُلِيْ إِنَّ اللهَ قَوِيٌ عَزِيْزٌ تَحَصَّنْتُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَاسْتَعَنْتُ بِاللهِ الْحَيِّ الْقَّيُّوْمِ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ اَللَّهُمَّ احْرِسْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِى لَا تَنَامُ وَاْكفِنَا بِرُكْنِكَ الَّذِي لَا يُرَامُ أٍَللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِقُدْرَتـِكَ عَلَيْنَا وَأَنْتَ ثِقَتُنَا وَرَجَاَؤُنَا اللَّهُمَّ اعْطِفْ عَلَيْنَا قُلُوْبَ عِبَادِكَ وَإِمَائِكَ بِرَأْفَةٍ وَرَحْمَةٍ إِنَّكَ أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
9. Menyayangi binatang/ kendaraan yang ditumpanginya itu, jangan menaikkan barang yang tidak sanggup di bawa oleh kendaraan tersebut, karena yang demikian itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Kemudian seseorang tidak boleh banyak tidur di atas kendaraan karena akan menambah beban yang ditanggung oleh kendaraan. Dilarang pula menaikkan barang bawaan bila melebihi kapasitas yang dimilikinya. Karena berpotensi menimbulkan bahaya.
10. Hendaknya membawa 5 perkara pada saat melakukan safir, sebagaimana yang tersebut dalam hadits riwayat ‘Aisyah:
Yaitu: cermin, tempat celak, sisir (terbuat dari besi), sugi dan sisir.

Berkata Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitabnya Ghaniyah:
“Disunatkan bagi orang yang melakukan safir atau hadir (Mukim) untuk tidak mengosongkan dirinya dari 7 macam perkara setelah takut kepda Allah dan percaya kepadaNya, yaitu:
a. Menyucikan diri, pakadian dan menghiias diri.
b. Menyiapakan tempat celak mata
c. Menyiapakan sisir rambut, yaitu bagi yang memiliki rambut
d. Menyiapakan sugi
e. Menyiapakan gunting
f. Menyiapakan midra, yaitu semacam kayu kecil yang dijadikan sebagai alat untuk membunuh kutu pada bagian kepala atau boleh juga digunakan untuk membunuh binatang-binatang kecil yang mengganggu badannya sehingga tidak langsung membunuhnya dengan tangan kosong.
g. Qarurah/ botol tempat minyak.
Karena diriwayatkan dalam hadis Aisyah bahwasanya Nabi Muhammad SAW tidak pernah meniggalkan yang demikdian, baik pada waktu hadir atau safir.
11. Adalah nabi Muhammad SAW pada saat kembali dari perang sabilillah, kembali dari haji atau kembali dari pada safir lainnya, maka Beliau mengucapkan takbir sebanyak 3 kali pada saat melalui tempat yang tinggi atau pada saat melihat tempat yang tinggi. Dan disunnatkan pula membaca:

لَا إِلَهَ اِلَّا اللهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَاَبَ وَحْدَهُ

Dan apabila melihat negeri tempat kembalinya, maka disunatkan membaca:
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا
Dan disunatkan pula untuk menyuruh seseorang untuk mengabarkan kepulangannya tersebut kepada keluarga agar kepulangannya tidak mengejutkan mereka.
Disunatkan pula jangan mengetuk pintu rumahnya, untuk memberitahu kepulangannya pada malam hari.


Dari berbagai sumber.




Waktu-Waktu yang Di Haramkan Shalat


Shalat merupakan ibadah badaniyyah yang paling banyak mendapatkan pahala di bandingkan dengan ibadah-ibadah badaniyyah lainya. Ibadah badaniyyah baik itu shalat ataupun lainya tentu memerlukan waktu melakukannya. Shalat yang merupakan salah satu ibadah badaniyyah ada yang sudah ditentukan waktu khusus untuk mengerjakannya dan ada juga yang boleh dilakukan kapan saja. Namun pada kesempatan ini kami mencoba untuk menjelaskan tentang waktu-waktu yang tidak boleh melaksanakan shalat. Maka kami mulaii dengan sedikit menyertakan nukilan kitab I’anah jilid I, halaman 121 sebagai berikut:

يكره تحريما صلاة لا سبب لها، كالنفل المطلق ومنه صلاة التسابيح، أو لها سبب متأخر كركعتي استخارة وإحرام بعد أداء صبح حتى ترتفع الشمس كرمح، وعصر حتى تغرب، وعند استواء غير يوم الجمعة لا ما له سبب متقدم كركعتي وضوء
.
Artinya: Makruh tahrim melakukan shalat yang tidak ada sebab, seperti sunat mutlak, sebagiannya adalah shalat sunat tasbih, atau melakukan shalat yang sebabnya terta’khir seperti dua raka’at istakharah dan dua raka’at ihram, sesudah shalat subuh hingga sampailah matahari kadar satu galah, sesudah ashar sehingga terbenam matahari dan ketika istiwa selain hari jum’at. Tidak haram melakukan shalat yang mempunyai sebab yang terdahulu seperti dua raka’at wudhu.

Dari teks di atas dapat kita simpulkan bahwa ada tiga waktu yang dilarang melakukan shalat yang telah disebutkan di atas:
1. Sesudah shalat subuh
2. Sesudah shalat Ashar
3. Ketika istiwa’ (matahari pada pertengahan langit)

Kesimpulannya :  Shalat yang dilarang hanyalah shalat yang tidak ada sebab seperti sunat mutlak dan sunat tasbih, di tambah shalat yang mempunyai sebab yang terta'khir seperti seperti dua raka’at ihram dan dua raka’at istikharah. Adapun shalat sunat yang sebabnya terdahulu maka dibolehkan seperti dua raka’at wudhu’, dua raka’at thawaf, dua raka’at tahiyyat masjid, shalat janazah dan lain-lain maka dibolehkan dengan ketentuan tidak sengaja menunggu tiga waktu tersebut untuk melakukan shalat di dalamnya. Bila sengaja menunggu tiga waktu itu untuk melakukan shalat maka hukumnya haram dan tidak sah shalat meskipun shalat yang mempunyai sebab terdahulu.

NOT: Makruh tahrim adalah makruh yang sebutnya dengan dalil yang kemungkinan bisa takwil, sedangkan haram hukum yang sebut dengan dalil pasti dan tidak ada kemungkinan takwil.
Wallahu a’lamu.


10 Faidah Menahan Lapar

Setelah pada kesempatan sebelumnya kita sudah mengetahui 10 Efek Negatif dari Banyak Makan, pada kesempatan kali ini kami akan menyebutkan 10 perkara pula faidah dari menahan lapar, berikut rinciannya:

  1. Menyucikan dan menerangi hati serta membuka pintu hati.
  2. Melembutkan hati sehingga merasa lezat bermunajah dan beribadah kepada Allah.
  3. Dengan menahan lapar, akan menghilangkan rasa cinta terhadap dunia dan menghilangkan sifat takabur dari dalam jiwa.
  4. Hati bisa merasakan bagaimana keadaan orang-orang fakir dan miskin yang tidak punya makanan.
  5. Memecah dan mengurangi syahwat untuk melakukan maksiat, menerima bisikan setan dan mampu mengontrol amarah.
  6. Menghilangkan rasa ngantuk dan sanggup menghidupkan malam untuk beribadah kepada Allah.
  7. Sanggup Istiqamah dalam beribadah.
  8. Sehat badan dan tertegah dari segala penyakit sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam : “Perut yang dipenuhi dengan makanan adalah asal dari segala penyakit dan Perut yang kosong dari makanan adalah asal dari segala obat”
  9. Meringankan belanja dan mencukupi segala kebutuhan dengan harta yang sedikit.
  10.  Bisa memberikan sedekah dari harta yang lebih kepada yang membutuhkan, sehingga bertambahlah amalan kebaikan.


Sumber :
Kitab Sirus Salikin juz 3 hal. 59-62

10 Efek Negatif dari Banyak Makan

  1. Kerasnya hati dan hilang cahaya hati, karena Rasulullah Saw. bersabda : “jangan matikan hatimu dengan banyak makan dan minum, karena banyak makan dan minum membuat hatimu menjadi mati seperti tanaman yang terendam air.
  2.  Menimbulkan fitnah baginya.
  3. Lemah daya berpikir baik dalam memahami sesuatu maupun dalam menerima ilmu sebab perut yang kenyang akan menghilangkan kecerdasan
  4. Mengurangi/Membuat malas dalam ibadah.
  5. Menghilangkan kemanisan dalam beribadah atau Bermunajah kepada Allah Swt.
  6. Dikhawatirkan terjerumus dalam syubhat dan haram
  7. Menimbulkan kesibukan pada hati dan anggotamu, karena engkau akan sibuk mencari harta untuk memperoleh makanan, sibuk untuk menyiapkannya dan mengahabiskannya.
  8. Susah payah  pada saat Sakaratul Maut.
  9. Berkurangnya pahala akhirat.
  10.  Menimbulkan hisab yang panjang, karena berlebih-lebihan dalam hal yang halal.


Sumber : kitab Sirajut Thalibin
Juz I hal. 484-498

Jadwal Streaming Radio Mudi Mesra

Radio Streaming Mudi Mesra, setelah beberapa waktu lalu vakum dalam aktifitas dakwahnya, kini kembali akan hadir untuk para pendengar setia. Radio yang mulai aktif tahun lalu (2014) dalam mengawal aktifitas akidah Aswaja tersebut langsung disiarkan dari Kantor Lajnah Bahsul Masail Mudi Mesra, desa Mideun Jok, Kecamatan Samalnga, Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh. Kami akan memutarkan pengajian Kitab-kitab Tuhfatul Muhtaj karangan Syaikul Islam Ibnu Hajar Al-haitami, Kanzur Raghibin Syarah Matan Minhaj (Al-Mahalli), Ayyuhal Walad dan Ihya Ulumuddin karangan Syaikhul Islam Imam Ghazali, Al Hikam karangan Syaikh Ibnu Ataillah, Syarah Jauhar Maknun karangan Syaikh Ahmad Damanhuri, Ghayah Wusul karangan Syaikhul Islam Zakaria Al Ansari, Syamsiah karangan Khatib Qazawaini, Fawaid Janiyyah karangan Syaikh Yasin Al fadani dan Al Itsqan Fi Ulumul Quran karangan Imam Jalalus Sayuti, yang diasuh oleh Abu Mudi, Abi Zahrul dan Waled Tarmizi. Selain jadwal yang telah tetap, kami juga akan memutarkan pengajian kitab-kitab lainnya dan akan disesuaikan dengan waktu-waktu tertentu yang juga diasuh oleh anggota Lajnah Bahsul Masail, Berikut Rinciannya:

  1. Malam Kamis dan Jumat : Pengajian Kitab Ihya Ulumiddin asuhan Abu Mudi pukul 23:40 Wib.
  2. Malam Sabtu : Pengajian Ktab Tuhfah asuhan Abu Mudi pukul 23:40 wib dan dilanjutkan dengan pengajian kitab Syarah Ayyuhal Walad.
  3. Malam Minggu : Pengajian kitab Al-Mahalli asuhan Abi Zahrul pukul 23:40 Wib dan dilanjutkan pengajian Kitab Syarah Jauhar Maknun asuhan Waled Tarmizi Al-Yusufi.
  4. Malam Senin : Pengajian Kitab Al-Hikam asuhan Abi Zahrul pukul 23:40 Wib dan dilanjutkan pengajian Kitab Mantiq Syamsiyah Asuhan Waled Tarmizi Al-Yusufi
  5. Malam Selasa : Pengajian Kitab Fawaid Janiyyah asuhan Abi Zahrul pukul 23:40 wib Wib dan dilanjutkan pengajian kitab Ghayah Wusul asuhan Waled Tarmizi Al-Yusufi
  6. Malam Rabu : Pengajian Kitab Al Itsqan Fi Ulumil Quran asuhan Abi Zahrul pukul 23:40 Wib

Radio.mudimesra.com

Lajnah Bahtsul Masail Pesantren MUDI Mesra (lbm MUDI mesra) Samalanga merupakan suatu lembaga resmi di LPI MUDI Mesra Samalanga yang lahir sebagai tindakan lanjut dari pelaksanaan Mubahatsah ‘Ulama yang diikuti oleh para alumni dan para ulama lain yang biasanya diadakan setiap tahun bertepatan dg acara haul Tgk.H.‘Abdul ‘Aziz,
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.